cover
Contact Name
Pendidikan Sosiologi
Contact Email
sosiologi@untirta.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
yustikairfani@untirta.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. serang,
Banten
INDONESIA
Hermeneutika : Jurnal Hermeneutika
ISSN : 24773514     EISSN : 26140055     DOI : -
Core Subject : Social,
“Hermeneutika”memuat hasil penelitian yang berkaitan dengan pengembangan sains dan teknologi dalam bidang sosiologi.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 1 (2023)" : 6 Documents clear
Eksistensi Identitas Homoseksualitas (Studi Fenomenologi Eksistensialisme Ala Geng Kentir) Gratia Wing Artha
Hermeneutika : Jurnal Hermeneutika Vol 9, No 1 (2023)
Publisher : Pendidikan Sosiologi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/hermeneutika.v9i1.19868

Abstract

Kelompok homoseksual merupakan kelompok yang sering kali mengalami stigma dan diskriminasi dari masyarakat. Dalam hal ini kelompok homoseksual mengalami keterpasungan eksistensi identitas. Dimana masyarakat menghendaki heteronormatitas sebagai kebenaran dan kenormalan tunggal dan homoseksualitas dianggap sebagai penyimpangan perilaku. Dari sini Geng Kentir yang merupakan kelompok homoseksual (gay) yang para anggotanya berusia muda rata - rata berusia 20 tahunan. Dengan usia muda para anggota Geng Kentir memiliki keberanian untuk mengungkapkan eksistensi identitas homoseksualitas dan membebaskan diri dari pasungan heteronormatifitas serta mencoba untuk melawan homofobia. Maka, Geng Kentir dapat dikatakan sebagai kelompok homoseksual (gay) yang revolusioner dan memiliki kepercayaan tinggi akan eksistensi identitas homoseksualitas. Melalui keberanian mengungkapkan eksistensi identitas sebagai homoseksual (gay) para anggota Geng Kentir mengalami diskriminasi dalam keluarga, kelompok pertemanan heteroseksual dan masyarakat. Namun para anggota Geng kentir tetap berdiri kukuh dengan eksistensi identitasnya tanpa takut akan diskriminasi dan stigma dari lingkungan sosial. Dimana dengan kepercayaan akan eksistensi identitas para anggota Geng Kentir bertekad untuk bebas dari penjara heteronormatifitas yang selama ini sangat menyiksa eksistensi mereka. Tentunya hal ini tidaklah mudah karena masyarakat yang masih sangat mendewakan heteronormatifitas dan negara yang seolah - olah mereproduksi kulltur heteronormatifitas dan menanamkan kesadaran homofobia pada masyarakat. Sejatinya para anggota Geng Kentir berupaya untuk menjadi diri sendiri dengan eksistensi tanpa terikat pada norma heteronormatif. Disini eksistensi para Geng Kentir adalah sarana perlawanan pada sistem sosial heteronormatif dan wacana homofobia.
RELEVANSI PENERAPAN HUKUM ADAT BADUY TERHADAP KEBIJAKAN PEMBATASAN SOSIAL BERSKALA BESAR (PSBB) DI MASA PANDEMIC COVID 19 Kafurta Sutaarga; Widi Januar Ghafur
Hermeneutika : Jurnal Hermeneutika Vol 9, No 1 (2023)
Publisher : Pendidikan Sosiologi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/hermeneutika.v9i1.19861

Abstract

AbstrakPenelitian ini memiliki fokus telaah pada suatu hal yang sudah melanda negara-negara di dunia, seperti Covid-19. Wabah pandemi yang melanda negara-negara secara global ini, termasuk Indonesia telah meciptakan suatu kondisi yang baru. Sebab, interaksi sosial juga dibatasi. Hal ini terkonfirmasi dari keputusan pemerintah Indonesia, yakni, Peraturan Pemerintah RI Nomor 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar dalam Rangka Percepatan Penanganan Covid-19. Di samping itu, kebijakan ini tentu berlaku secara holistik, termasuk kepada masyarakat adat, terutama penerapan hukum ini di wilayah Adat Baduy. Dalam hal ini, metode yang digunakan untuk menelaah persoalan ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Secara praksis riil, selama wabah pandemi ini melanda, tak satu pun warga Adat Baduy yang terkena kasus ini. Dengan kata lain, warga Adat Baduy tidak terkena wabah virus yang mematikan ini. Hal ini menunjukkan adanya komunikasi dan komitmen bersama yang sudah dilaksanakan oleh warga Adat Baduy. Komunikasi ini terafirmasi dari warga Adat Baduy yang perlu mematuhi aturan adat yang berlaku di satu sisi, dan kebijakan pemerintah di sisi yang lain. Ketaatan dan kepatuhan ini tampaknya menjadi salah satu kunci yang sangat esensial. Akibatnya, tidak tercatat warga Adat Baduy yang terkonfirmasi positif Covid-19 alias tidak terkena. Kata-kata Kunci: Relevansi, Baduy, PSBB
Peran orang tua terhadap vaksinasi anak di Desa Rejai Kabupaten Lingga Kana Mardiyana; Rahma Syafitri; Sri Wahyuni
Hermeneutika : Jurnal Hermeneutika Vol 9, No 1 (2023)
Publisher : Pendidikan Sosiologi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/hermeneutika.v9i1.18895

Abstract

Pemberian vaksinasi kepada anak khususnya anak usia SD yaitu 6-11 tahun tidak akan pernah terlepas dari peran orang tua dalam mensukseskan vaksinasi Covid-19 di Desa Rejai karena terdapat sejumlah anak yang tidak mau di vaksin serta pandangan negative orang tua terhadap efek vaksin bagi anak juga bermunculan pada sebagian orang tua di Desa Rejai. Adapun tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana peran orang tua dalam vaksinasi Covid-19 pada anak usia 6-11 tahun di Desa Rejai Kecamatan Bakung Serumpun Kabupaten Lingga. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif  deskriptif. Adapun hasil penelitian tentang peran orang tua dalam vaksinisasi Covid-19 pada anak usia 6-11 tahun di Desa Rejai dapat dilihat dari  peran orang tua dalam memberikan teladan kepada anak dengan melakukan vaksin terlebih dahulu mengarahkan anggota keluarga untuk melakukan vaksinisasi, membujuk anak agar mau di vaksin,  memberikan semangat yaitu dengan memberikan anak hadiah, menyemangati anak dengan kata kata semangat. Peran dalam memberikan bimbingan yaitu mengarahkan anak ketika pergi vaksin agar bersama teman-teman yang mempunyai keberanian untuk di vaksin serta meminta bantuan kepada keluarga yang dekat sama anak untuk menemani anak saat vaksin. Juga peran dalam sosialisasi yang dilakukan yaitu orang tua menjelaskan terlebih dahulu kepada anak-anak tentang manfaat  dari vaksin. Peran yang paling dominan yang sering dilakukan dan yang paling mempengaruhi anak-anak agar mau divaksin yaitu memberikan semngat kepada anak dengan memberikan anak hadiah sehingga secara keselurahan peran orang tua dalam vaksinisasi Covid-19 telah terlaksana dengan baik. Adapun saran dalam penelitian ini bagi orang tua diharapkan dapat lebih protective terhadap anak, hususnya terhadap kesehatan anak dengan cara mendukung sepenuhnya program kesehatan yang telah dibuat oleh pemerintah. Kata-kata Kunci: Peran; Orang tua; Vaksinisasi.
ANAK MISKIN BOLEH SEKOLAH Mintarti Mintarti; Tri Rini Widyastuti; Ignatius Suksmadi Sutoyo
Hermeneutika : Jurnal Hermeneutika Vol 9, No 1 (2023)
Publisher : Pendidikan Sosiologi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/hermeneutika.v9i1.19171

Abstract

Penelitian ini bertujuan menunjukkan pengalaman bersekolah siswa miskin di sekolah alternatif. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif berdasar data lapangan. Penelitian dilakukan di sebuah sekolah alternatif setingkat SMP, yaitu MTs PAKIS, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Partisipan penelitian berjumlah 10 orang, terdiri atas siswa, orang tua, dan pengelola sekolah. Pengumpulan data dilakukan saat pandemi Covid-19 sedang mencapai puncaknya. Oleh karena itu, wawancara dilakukan secara daring melalui Google-Meet dan dilanjutkan secara langsung ke lapangan dengan menerapkan protokol kesehatan. Data dianalisis melalui tahap sajian data berupa restatement kutipan hasil wawancara, diinterpretasikan, lalu ditarik kesimpulan sementara. Proses ini bersifat ongoing sampai didapatkan kesimpulan akhir.            Hasil penelitian menunjukkan, pengabaian hak atas pendidikan mewujud dalam berbagai problem kompleks yang muncul di masyarakat yang telah dicoba atasi dengan mendirikan sekolah berbasis agroforestry tidak berbayar setingkat SMP. Keberadaan sekolah ini memungkinkan anak-anak miskin dapat mengakses pendidikan tanpa tercerabut dari lingkungannya serta memberi mereka pengalaman bersekolah. Pengalaman itu menumbuhkan semangat dan motivasi belajar tanpa kehilangan keceriaan dan kegembiraan sebagai anak-anak. Hal itu juga menumbuhkan rasa percaya diri, berani bercita-cita dan membayangkan masa depan yang lebih baik yang merupakan modal awal untuk keluar dari kemiskinan. Temuan penelitian ini dapat mengisi celah kekosongan dalam kajian sosiologi pendidikan khususnya mengenai praktik pendidikan alternatif sebagai bagian dari pendidikan berparadigma kritis, terutama yang bersumber dari gagasan Paulo Freire tentang pendidikan hadap masalah. Model pendidikan ini bersifat emansipatoris yang menjadikan siswa sebagai subjek belajar, tidak sekadar sebagai objek sebagaimana dalam model pendidikan konvensional yang oleh Freire disebut sebagai pendidikan “gaya bank”.Kata Kunci: akses pendidikan; hak pendidikan; pengalaman bersekolah; siswa miskin.
SOLIDARITAS SOSIAL DALAM TRADISI RITUAL ADANG PADA MASYARAKAT SERANG Farid Ibnu Wahid; Subhan Widiansyah; Endin Saparudin
Hermeneutika : Jurnal Hermeneutika Vol 9, No 1 (2023)
Publisher : Pendidikan Sosiologi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/hermeneutika.v9i1.19862

Abstract

Abstrak  Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis kualitatif karena akan memperoleh gambaran tentang bagaimana Solidaritas Sosial dalam tradisi ritual Adang berjalan dimasyarakat. Setiap penelitian tentu memiliki masalah tertentu yang menjadi bahan kajiannya. Pada penelitian ini ingin melihat bagaimana Solidaritas Sosial dalam Tradisi Ritual Adang pada masyarakat Kabupaten Serang. Untuk meringankan dan membantu dalam pelaksanaan upacara hajat pernikahan masyarakat harus saling bekerjasama. Adang adalah realisasi dari bentuk kerjasama/gotong royong; dalam keadaan perasaan social yang tinggi; tidak ada pembedaan antara status social, suku dan ras. Oleh karena itu perlu dipahami tradisi-tradisi yang ada di masyarakat Serang saat ini guna mendorong terbangunnya rasa kebersamaan diantara masyarakat, dan jika ditelaah dari tahapan kegiatannya, jenis solidaritas yang ada pada tradisi ritual Adang ini ditinjau dari teori solidaritas social. Tradisi ritual Adang sebagai tradisi social keagamaan turun temurun dan terus dilakukan sampai dengan saat ini sebagai syarat akan solidaritas. Tingkat partisipasi masyarakat dalam membantu mensukseskan tradisi Adang dengan mengesampingkan keperluan pribadi mereka menunjukkan eksistensi Solidaritas Sosial dalam tradisi tersebut. Rasa saling percaya anggota komunitas dengan anggota lainnya. Solidaritas ditandai dengan persatuan, persahabatan, dan rasa saling percaya yang berkembang sebagai hasil dari tugas bersama dan kepentingan bersama diantara orang-orang yang menjadi point pokok dari fundamental solidaritas yang ditemukan pada Tradisi Adang. Selain itu, aspek keseragaman pemahaman agama juga hadir; mereka menganut agama yang sama dan berbagai pemahaman yang sama, umumnya sebagai alasan utama dalam pelaksanaan tradisi yang ada. Semangat gotong royong dan pembagian kerja berdasarkan fungsi dan kemampuan yang ditemukan dalam tradisi ini menunjukkan wujud bentuk-bentuk solidaritas yang akhirnya turut memperkokoh ikatan silaturahmi dan kerjasama antar masyarakat muslim di Serang. Kata-kata Kunci: Solidaritas Sosial, Tradisi Ritual Adang,
Pentas Seni Sekolah Sebagai Konstruksi Keterampilan 4C (Creativity, Critical Thinking, Communication, & Collaboration) Nugraha, Aji Satria; Komariah, Siti; Nurbayani, Siti
Hermeneutika : Jurnal Hermeneutika Vol 9, No 1 (2023)
Publisher : Pendidikan Sosiologi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/hermeneutika.v9i2.22719

Abstract

Era industri 4.0 menuntut masyarakat untuk memiliki keterampilan abad ke-21 salah satunya keterampilan 4C (Creativity, Critical Thinking, Communication, & Collaboration) demi menghadapi persaingan kerja. Untuk itu penelitian bertujuan untuk mengkaji pengembangan keterampilan 4C di sekolah terkhusus pada siswa sebagai panitia pentas seni. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dalam pendekatan fenomenologi. Penelitian ini menggunakan teori konstruksi sosial karya Peter L. Berger dan Thomas Luckmann. Hasil yang didapat dari penelitian ini yaitu konstruksi keterampilan 4C  terjadi melalui tiga fase dialektika konstruksi sosial (internalisasi, eksternalisasi, dan objektivasi). Fase pertama, siswa menginternalisasi keterampilan 4C yang diwujudkan melalui beragam ide dan pandangan yang didapat perihal penyelenggaraan pentas seni. Pada fase selanjutnya, siswa mengeksternalisasi Keterampilan 4C dalam wujud berbagai pengembangan ide diantaranya pengembangan ide konsep acara, penyelesaian masalah dalam acara, menyampaikan ide, promosi acara, dan menjalin kerjasama antar panitia hingga berbagai pihak terkait dalam acara. Fase objektivasi diwujudkan dalam bentuk berbagai dampak penyelenggaraan acara pada kehidupan sehari-hari siswa. Kesimpulan yang didapat adalah terjadinya konstruksi keterampilan 4C pada siswa ini menjadi bukti bahwa keterampilan abad ke-21 mampu dikembangkan melalui penyelenggaraan pentas seni sekolah. Berdasarkan penelitian ini dapat ditindaklanjuti oleh berbagai pemangku kebijakan dalam bidang pendidikan untuk menjadikan pentas seni sebagai kegiatan rutin demi mengimplementasikan peningkatan keterampilan abad ke-21 secara nyata. Penelitian ini pula menjadi referensi pada penelitian selanjutnya untuk mengkaji dampak penyelenggaraan pentas seni pada persaingan kerja di masa mendatang.

Page 1 of 1 | Total Record : 6