Articles
9 Documents
Search results for
, issue
"Vol 10, No 1 (2009)"
:
9 Documents
clear
ANALISA FRAKTAL DAN RASIO SLIP DAERAH BALI-NTB BERDASARKAN PEMETAAN VARIASI PARAMETER TEKTONIK
Bambang Sunardi
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 10, No 1 (2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (786.843 KB)
|
DOI: 10.31172/jmg.v10i1.33
Distribusi gempabumi secara tidak langsung dapat dianggap sebagai fraktal dan parameter skalanya biasa dinamakan dimensi fraktal (D). Kegempaan dicirikan oleh parameter tektonik (nilai-b) dan dimensi fraktal (D). Dimensi fraktal berkaitan erat dengan parameter tektonik (nilai-b) dari relasi Gutenberg-Richter : log N =-bM+a. Berdasarkan pemetaan nilai-b, dimensi fraktal dan rasio slip daerah Bali-NTB telah dihitung pada penelitian ini menggunakan katalog NEIC 1973-2008. Nilai-b pada daerah yang terletak antara 6°-12°LS dan 114°-121°BT bervariasi antara 0,7-2.Nilai-b yang rendah terletak disebelah selatan pulau Sumbawa-Sumba dan sebelah utara pulau Lombok-Sumbawa. Dimensi fraktal pada kluster I dan II mendekati 2 yang mengindikasikan bahwa distribusi sumber 2D. Dimensi fraktal pada kluster III mendekati nilai 3 yang mengindikasikan bahwa distribusi sumber 3D. Rasio slip pada kluster I dan II mendekati nilai 0,5 yang mengindikasikan bahwa sekitar 50 % total slip terjadi pada patahan utama. Rasio slip pada kluster III mendekati nilai 0 yang mengindikasikan semua slip terjadi pada patahan-patahan kecil. Earthquake distributions are indirectly considered fractal, and the scaling parameter is called fractal dimension (D). Seismicity is characterized by tectonic parameter (b-value) and fractal dimension (D). Fractal dimension is related to the tectonic parameter (b-value) of the Gutenberg-Richter relation : log N =-bM+a. Based on b-value mapping, fractal dimension and slip ratio of Bali-NTB region has been calculated in this research using NEIC catalogue 1973-2008. b-values in those regions which are located between latitudes 6° -12° S and longitudes 114°-121°E vary between 0.7-2. b-values are low in southern Sumbawa-Sumba islands and northern Lombok-Sumbawa islands. Fractal dimensions at cluster I and II are close to 2 which indicate that source distribution was in 2D space. Fractal dimension at cluster III is close to 3 which indicates that source distribution was in 3D space. Slip ratios at cluster I and II are close to 0.5 which reveals that about 50 % of the total slip has occurred on primary fault. Slip ratio at cluster III was close to 0 which reveals that all the slips occur on the smaller faults.
PRAKIRAAN CURAH HUJAN TAHUN 2008 MENGGUNAKAN TEKNIK NEURAL NETWORK DENGAN PREDIKTOR SEA SURFACE TEMPERATURE (SST) DI STASIUN MOPAH MERAUKE
Robi Muharsyah
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 10, No 1 (2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (743.949 KB)
|
DOI: 10.31172/jmg.v10i1.29
Banyak faktor yang memepengaruhi terjadinya hujan, salah satunya adalah Suhu Muka Laut atau Sea Surface Temperature (SST). Dibuat suatu hubungan bahwa SST bulan ke-n-1 mempengaruhi curah hujan bulan ke-n. Data SST kemudian dikorelasikan dengan data curah hujan, sehigga diperoleh SST Terpilih yang berpengaruh banyak terhadap besarnya curah hujan di suatu wilayah. Besarnya curah hujan dapat diprediksi dengan teknik neural network. Pada teknik ini digunakan data masa lampau untuk mempelajari sifat hubungan antara SST dan curah hujan sehingga nanti dapat digunakan untuk memprediksi curah hujan di masa yang akan datang. Teknik neural network terdapat pada Add-In Forecaster X. Dengan Add-In Forecaster XL ini akan diprediksi besarnya curah hujan pada tahun 2008 di Stasiun Meteorologi Mopah Merauke. Data curah hujan selama 10 tahun (1998 – 2007) digunakan sebagai data target dan data SST Terpilih selama 10 tahun (1998-2007) digunakan sebagai data input. Untuk mendapatkan prediksi curah hujan tahun 2008 digunakan data SST Terpilih untuk tahun 2008 sebagai data input. Validasi dilakukan terhadap hasil prediksi dengan data observasi tahun 2008 untuk menguji keakuratan Add-In forecaster XL dalam memprediksi curah hujan bulanan. Many factors can make rainfall, such as sea surface temperature (SST). We made a relationship that SST in this month will influence the rainfall in the next month. SST data and rainfall data will make a correlation. It makes a preference SST and it influences to rainfall at an area. An immensity rainfall can make a prediction by neural network technique. We used the last data to know the relationship trait between SST and rainfall for this technique. It will be use to make a rainfall prediction in the next time. Neural network technique obtains in Add –In Forecaster XL. It can make a rainfall prediction in 2008 at Meteorology Station of Merauke. Rainfall data used by data target and preference SST used by data input since 10 years (1998-2007). A preference SST in 2008 as a data input used to get a rainfall prediction in 2008. A validation made by prediction process with observation data in 2008 to try an Add-In forecaster XL accuracies when make rainfall prediction in the next time.
APLIKASI SENSOR SHT11 PADA PENGUKURAN SUHU TANAH
Adi Bagus Putranto;
Bayu Imbang Laksono;
Boko Nurdiyanto
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 10, No 1 (2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (418.016 KB)
|
DOI: 10.31172/jmg.v10i1.34
Penelitian tentang prekursor gempa bumi skala besar sedang dilakukan. Salah satu parameter yang diteliti adalah suhu tanah. Pengukuran suhu tanah secara elektronik dapat menggunakan sensor SHT11 yang merupakan sensor suhu dan kelembaban yang cukup akurat pada rentang suhu 20-30 °C. Sensor ini telah dilengkapi dengan ADC 14 bit dan hanya menggunakan 2 kabel untuk transmisi data digital dan 2 kabel untuk catu daya. Kajian ini menjelaskan aplikasi sensor SHT 11 untuk pengukuran suhu tanah yang dilakukan pada kedalaman 1 m 3 m dan 5 m. Hasilnya didapat data suhu yang cukup baik, meskipun belum terukur tingkat kehandalan dan ketahanan alat ini pada masa pengukuran yang lama secara terus-menerus. Large scale earthquake precursors have being in research. Soil temperature is one of many earthquake precursors being investigated. SHT11 is relative humidity and temperature sensor as used in this electronically soil temperature measurement apparatus. The sensor temperature property in 20-30 °C range has good accuracy with it’s integrated 14 bit ADC. We need 4 wire connection, 2 for digital data transmission and another 2 for power supply. . This paper describes SHT11 application for soil temperature’s sensor. The soil temperature measurement will do in 1 m, 3 m and 5 m depth. This device got good temperature data, although reliability and durability is unknown for long and continuously measurement time.
PROYEKSI POTENSI ENERGI SURYA SEBAGAI ENERGI TERBARUKAN (STUDI WILAYAH AMBON DAN SEKITARNYA)
Deni Septiadi;
Pieldrie Nanlohy;
M. Souissa;
Francis Y. Rumlawang
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 10, No 1 (2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (634.518 KB)
|
DOI: 10.31172/jmg.v10i1.30
Indonesia merupakan negara yang melimpah akan energi surya dilihat dari letak yang potensial migrasi tahunan matahari. Pemanfaatan energi fosil sampai saat ini cukup mengkhwatirkan karena semakin menipisnya sumber energi disamping efek negatif yang ditimbulkannya akibat meningkatnya konsentrasi Gas Rumah Kaca (GRK). Peningkatan GRK akan memicu meningkatnya suhu permukaan dan menciptakan lingkungan tidak kondusif. Matahari sebagai sumber energi terbesar seharusnya dapat dimanfaatkan secara optimal untuk wilayah Indonesia. Diversifikasi energi merupakan langkah yang harus ditempuh untuk mendapatkan sumber lain sehingga mengurangi ketergantungan akan sumber fosil. Untuk mendapatkan gambaran riil akan energi surya tersebut perlu dilakukan analisis spasial distribusi potensi energi matahari untuk wilayah Indonesia keseluruhan dan Ambon secara khusus. Dengan melakukan kombinasi antara teknik Kriging dan metode iterasi Point Successive Over-Relaxation (PSOR) diharapkan memperlihatkan proyeksi pemetaan dengan resolusi yang lebih baik. Sebelumnya dilakukan optimalisasi data sekunder dengan model Curve Fitting. Indonesia is a country which excessive energy resources of solar showed by potential position of solar annual migration. Until this time fossil energy consumption so apprehensively, its because decreasing of energy resources besides negative effect of increasing Greenhouse Gases concentrate, that is increasing of surface temperature and creates inconducive environment. Sun as the biggest energy resource should be use optimally for Indonesia area. Diversification of energy is a final step to get another resources so release us of dependently fossil resources. For real description of solar energy, it needs spatial analysis of potential distribution of solar energy for Indonesia area particularly Ambon. By using combination between Kriging technique and iteration methods, Point Successive Over-Relaxation (PSOR), hoped indicates mapping projection with better resolution. Early by optimalisize secondary data using Curve Fitting models.
Sampul Jurnal MG
JMG BMKG
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 10, No 1 (2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (211.98 KB)
Sampul Jurnal Meteorologi dan Geofisika
ANALISIS CURAH HUJAN PANTAI BARAT SUMATERA BAGIAN UTARA PERIODE 1994-2007
Indra Gustari
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 10, No 1 (2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (682.146 KB)
|
DOI: 10.31172/jmg.v10i1.31
Dari data curah hujan di pantai barat Sumatera bagian utara dilakukan analisis spektrum daya untuk mengetahui pola curah hujan di daerah tersebut, selanjut dilihat hubungannya dengan intensitas monsun, Indian Ocean Dipole Mode (IODM) dan El-Nino Southern Oscillation (ENSO). Hasil analisis menunjukkan bahwa pola curah hujan di pantai barat Sumatera bagian utara memiliki dua puncak dan sangat dipengaruhi oleh faktor cuaca dengan dengan osilasi satu tahunan (annual oscillation), dan setengah tahunan (semi-annual oscillation) dan ditemukan hubungan yang kuat antara variabilitas monsun dan IODM. Pola hujan didaerah ini tidak memperlihatkan pengaruh ENSO. The data of Rainfall in the west coast of northern Sumatera were analyzed through power spectrum analyzer to find out the rainfall pattern in that area and to look at the relationship between rainfall pattern and monsoon intensity, Indian Ocean Dipole Mode (IODM) and El-Nino Southern Oscillation (ENSO). The result of this analysis shows that the main rainfall pattern in the west coast of northern Sumatera has two peaks and is very much influenced by the factor of weather with annual oscillation and semi-annual oscillation, there is a strong relationship between monsoon variability and IODM, and the influence of ENSO on the rainfall in this region is not significant.
Pengantar dan Daftar Isi
JMG BMKG
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 10, No 1 (2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Pengantar dan Daftar Isi Jurnal Meteorologi dan Geofisika
ANALISA PERBANDINGAN ANOMALI GRAVITASI DENGAN PERSEBARAN INTRUSI AIR ASIN (STUDI KASUS JAKARTA 2006-2007)
Litanya Octonovrilna;
I Putu Pudja
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 10, No 1 (2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31172/jmg.v10i1.32
Aplikasi pada bidang geofisika, berupa pengukuran gravitasi dilakukan di lapangan dalam jangka waktu tertentu, dengan tujuan untuk mendeteksi perubahan kondisi bawah permukaan bumi. Dalam hal ini dilakukan pengukuran gravitasi di wilayah Jakarta untuk mendeteksi perubahan kondisi hidrologi Jakarta dalam kaitannya dengan fenomena intrusi air asin. Secara geografis daerah penelitian berada pada -6.35158 s.d -6.08655 LS dan 106.689 s.d. 106.955 BT. Pengolahan data gravitasi wilayah Jakarta dilakukan dalam 2 periode, yaitu periode I (September 2006) dan periode II (November–Desember 2007). Anomali gravitasi tertinggi terdapat pada bagian pusat dan barat Jakarta ini mengindikasikan terjadinya fenomena subsidensi dan kekosongan massa akibat eksploitasi air tanah serta tekanan dari sejumlah gedung tinggi yang berpusat pada daerah tersebut. Anomali gravitasi terendah terdapat di bagian barat laut Jakarta yang bersesuaian konsentrasi nilai kepayauan tertinggi, mengindikasikan adanya intrusi air asin yang diakibatkan oleh adanya fenomena Conate Water yang menyusup pada aquifer air tanah akibat eksplotasi air tanah berlebih. Hubungan pola aliran sungai dengan nilai kepayauan air, membuktikan adanya pengaruh sungai aquifer air tanah, namun dampaknya tidak terlalu berpengaruh terlebih pada aquifer dalam. Gravity measurements are conducted in the field within a certain period in order to detect changes in the earth's surface conditions. We conducted gravity measurements in Jakarta to detect changes in hydrologic conditions in connection to salt water intrusion phenomena. The data processing performed in the two periods, the first period is September 2006 and the second one is November-December 2007. The highest gravity anomalies are in central and western parts of Jakarta. This implies the occurrence of mass subsidence and void due to the exploitation of ground water and the pressure from a number of high buildings based on the area. The lowest gravity anomaly takes place in the northwest of Jakarta. This condition is corresponding to the highest concentrations and show that there is salt water intrusion. The intrusion caused by Connate water that infiltrated the groundwater aquifer due to ground water overexploitation. The relationship between river flow patterns and salt concentration show that there is influence of groundwater aquifer of the river, but the influence is insignificant to deep aquifer.
NUMERICAL SIMULATION OF FLOW OVER TWO-DIMENSIONAL MOUNTAIN RIDGE USING SIMPLE ISENTROPIC MODEL
Siswanto Siswanto
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 10, No 1 (2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31172/jmg.v10i1.28
Model sederhana isentropis telah diaplikasikan untuk mengidentifikasi perilaku aliran masa udara melewati topografi sebuah gunung. Dalam model isentropis, temperature potensial θ digunakan sebagai koordinat vertikal dalam rezim aliran adiabatis. Medan angin dalam arah vertikal dihilangkan dalam koordinat isentropis sehingga mereduksi sistim tiga dimensi menjadi sistim dua dimensi lapisan θ. Skema komputasi beda hingga tengah telah digunakan untuk memformulasikan model adveksi. Paper ini membahas aplikasi sederhana dari model isentropis untuk mempelajari gelombang gravitasi dan fenomena angin gunung dengan desain komputasi periodik dan kondisi batas lateral serta simulasi dengan topografi yang berbeda. The aim of this work is to study turbulent flow over two-dimensional hill using a simple isentropic model. The isentropic model is represented by applying the potential temperature θ, as the vertical coordinate and is conversed in adiabatic flow regimes. This implies a vanishing vertical wind in isentropic coordinates which reduces the three dimensional system to a stack of two dimensional θ–layers. The equations for each isentropic layer are formally identical with the shallow water equation. A computational scheme of centered finite differences is used to formulate an advective model. This work reviews a simple isentropic model application to investigate gravity wave and mountain wave phenomena regard to different experimental design of computation and topographic height.