Bambang Sunardi
Badan Meteorologi Klimatologi Dan Geofisika (BMKG)

Published : 13 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

ANALISA FRAKTAL DAN RASIO SLIP DAERAH BALI-NTB BERDASARKAN PEMETAAN VARIASI PARAMETER TEKTONIK Bambang Sunardi
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 10, No 1 (2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (786.843 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v10i1.33

Abstract

Distribusi gempabumi secara tidak langsung dapat dianggap sebagai fraktal dan parameter skalanya biasa dinamakan dimensi fraktal (D). Kegempaan dicirikan oleh parameter tektonik (nilai-b) dan dimensi fraktal (D). Dimensi fraktal berkaitan erat dengan parameter tektonik (nilai-b) dari relasi Gutenberg-Richter : log N =-bM+a. Berdasarkan pemetaan nilai-b,  dimensi fraktal dan rasio slip daerah Bali-NTB telah dihitung pada penelitian ini menggunakan katalog NEIC 1973-2008. Nilai-b pada daerah yang terletak antara  6°-12°LS  dan 114°-121°BT bervariasi antara 0,7-2.Nilai-b yang rendah terletak disebelah selatan pulau Sumbawa-Sumba dan  sebelah utara pulau Lombok-Sumbawa. Dimensi fraktal pada kluster I dan II mendekati 2 yang mengindikasikan bahwa distribusi sumber 2D. Dimensi fraktal pada kluster III mendekati nilai 3 yang mengindikasikan bahwa distribusi sumber 3D. Rasio slip pada kluster I dan II mendekati nilai 0,5 yang mengindikasikan bahwa sekitar 50 % total slip terjadi pada patahan utama. Rasio slip pada kluster III mendekati nilai 0 yang mengindikasikan  semua slip terjadi pada patahan-patahan kecil. Earthquake distributions are indirectly considered fractal, and the scaling parameter is called fractal dimension (D). Seismicity is characterized by tectonic parameter (b-value) and fractal dimension (D). Fractal dimension is related to the tectonic parameter (b-value) of the Gutenberg-Richter relation : log N =-bM+a. Based on b-value mapping, fractal dimension and slip ratio of Bali-NTB region has been calculated in this research using NEIC catalogue 1973-2008. b-values in those regions which are located between latitudes 6° -12° S  and longitudes 114°-121°E vary between 0.7-2. b-values are low in southern Sumbawa-Sumba islands and northern Lombok-Sumbawa islands. Fractal dimensions at cluster I and II are close to 2 which indicate that source distribution was in 2D space. Fractal dimension at cluster III is close to 3 which indicates that source distribution was in 3D space. Slip ratios at cluster I and II are close to 0.5 which reveals that about 50 % of the total slip has occurred on primary fault. Slip ratio at cluster III was close to 0 which reveals that all the slips occur on the smaller faults.
KAJIAN POTENSI BAHAYA GEMPABUMI DAERAH SUMBAWA BERDASARKAN EFEK TAPAK LOKAL Bambang Sunardi; Daryono Daryono; Januar Arifin; Pupung Susilanto; Drajat Ngadmanto; Boko Nurdiyanto; Sulastri Sulastri
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 13, No 2 (2012)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.171 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v13i2.127

Abstract

Telah dilakukan pengukuran mikrotremor di 71 titik di Sumbawa. Daerah penelitian dibatasi pada koordinat 117.21250°-117.22750°BT dan 8.7850°-8.8150°LS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dinamis kondisi geologi lokal diantaranya frekuensi resonansi (fo) dan indeks kerentanan seismik (Kg) serta nilai percepatan getaran tanah (PGA) menurut formulasi Kannai. Pengukuran mikrotremor dilakukan pada masing-masing titik pengukuran selama 30 menit dengan menggunakan Digital Portable Seismograph. Dari analisa data diperoleh nilai frekuensi resonansi (fo) yang relatif tinggi berkisar antara 24,4 hingga 48,14 Hz dan nilai indeks kerentanan seismik (Kg) yang relatif rendah berkisar antara 0,1 hingga 4,8. Hal ini berkaitan erat dengan kondisi geologi lokal berupa batuan yang masif, sehingga daerah dengan frekuensi resonansi tinggi dan indeks kerentanan yang rendah relatif stabil secara seismik. Nilai PGA di daerah kajian berkisar antara 0,25 hingga 0,36 g. Nilai PGA di daerah kajian menunjukkan variasi yang tidak terlalu mencolok yang menunjukkan nilai PGA lebih banyak dipengaruhi oleh input nilai periode dominan di daerah kajian. Microtremor measurements have been done at 71 points in Sumbawa. The research area is restricted to the coordinate 117.22750°-117.21250°E and 8.7850°-8.8150°S. This study aims to determine the local dynamic characteristics including the resonance frequency (fo), seismic vulnerability index (Kg) and peak ground acceleration (PGA) according to Kannai formulation. Microtremor measurements carried out at each point for 30 minutes using Digital Portable Seismograph. From the data analysis obtained the resonance frequency (fo) value are relatively high ranging from 24.4 to 48.14 Hz and seismic vulnerability index (Kg) values are relatively low ranging from 0.1 to 4.8. It is closely related to local geological conditions in the form of a massive rock, so that area with a high resonance frequency and relatively low vulnerability index is seismically stable. PGA values in the study area ranged from 0.25 to 0.36 g. PGA values showed a less variations that indicate PGA value is more influenced by the input value of the dominant period in the study area.
TOMOGRAFI GEOLISTRIK UNTUK IDENTIFIKASI LITOLOGI PADA LOKASI RENCANA BENDUNG DAN TEROWONGAN DI SULAWESI UTARA Boko Nurdiyanto; Imam Suyanto; Bambang Sunardi; Pupung Susilanto
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 17, No 1 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5160.423 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v17i1.373

Abstract

Pengukuran geolistrik telah dilakukan untuk mengidentifikasi litologi dan akuifer berdasarkan resistivitas batuan pada lokasi rencana pembangunan bendung dan terowongan di daerah Sulawesi Utara. Survei tiga lintasan menggunakan konfigurasi dipole-dipole dengan 32 elektroda (a = 5,5 m) dan kabel ekstensi 9 elektroda (a = 20 m). Analisa tomografi resistivitas menunjukan daerah survei tersusun oleh tanah berupa lempung pasiran (resistivitas rendah di permukaaan), breksi Tondano (30 –1000 Ωm), lapukan tufa Tondano (30 – 80 Ωm) dan tufa Tondano (< 30 Ωm). Di area bendung pada bagian tepi sungai terdapat tanahtipis, breksi Tondano danlapisan tufa Tondano. Lapisan Tondano daerah terowongan telah mengalami pelapukan menjadi lempung pasiran dengan ketebalan hingga 15 m, sedangkan lapisan dibawahnya berupa breksi tondano yang telah lapuk menjadi pasir kelempungan dengan fragmen kerikil (40 – 125 Ωm) hingga bongkah (200 – 2000 Ωm) dengan ketebalan 10 – 35 meter. Pada kedalaman 50 m ditemukan intrusi andesit, kekar-kekar pada andesit diisi oleh air. Terdapat setidaknya ada lima akuifer dengan kedalaman sekitar 50 meter diantara lokasi rencana surgetank sampai powerhouse. Geoelectric measurements have been conducted to identify the lithology and aquifers based on rock resistivity at a dam and tunnel site plan in North Celebes using three-lines survey with 32 electrodes (a= 5,5 m) dipole-dipole configuration and 9 electrode extension cables (a=20 m). Based on electrical resistivity tomography (ERT), it can be interpreted that the survey area is composed of soil in the form of sandy clay (low resistivity), breccia Tondano (30-1000 Ωm), weathered of Tondano tuff (30-80 Ωm) and tondano tuff(<30 Ωm). In the area of the dam, there are thin soil, a layer of tuff and breccia tondano on the river banks. Tondano layer in the tunnel area has experienced weathering into sandy clay with a thickness of up to 15 m, while layers below it has took the form of breccia, which has weathered into sandy loam with fragments of gravel (40-125 Ωm) to boulder (200-2000 Ωm) with a thickness of 10 - 35 meters. Andesite intrusion was found at a depth of 50 m, with cracks on andesite filled by water. There are at least five of the aquifers at a depth of about 50 meters between the location of surgetank to the powerhouse plan.
ANALISIS SUMBER GEMPABUMI PADA SEGMEN MENTAWAI (STUDI KASUS: GEMPABUMI 25 OKTOBER 2010) Wiko Setyonegoro; Bambang Sunardi; Sulastri Sulastri; Jimmi Nugraha; Pupung Susilanto
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 13, No 2 (2012)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (676.027 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v13i2.128

Abstract

Untuk menentukan desain parameter sumber gempabumi dilakukan melalui pendekatan analisis kondisi geologi area penelitian di segmen Mentawai. Data historis yang dijadikan acuan dalam penelitian ini adalah gempabumi Mentawai 25 Oktober 2010. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pemodelan sumber gempabumi sebagai pembangkit tsunami pada segmen Mentawai yang difokuskan pada kejadian gempabumi dan tsunami Mentawai 25 Oktober 2010. Pemodelan tersebut berdasarkan pada empat skenario sumber gempabumi. Skenario pertama dan kedua menggunakan data USGS, sedangkan skenario ketiga dan keempat menggunakan data BMKG. Metode yang digunakan adalah metode Wells and coppersmith dan distribusi gempabumi susulan (aftershock). Setelah diakukan pengolahan data sumber gempabumi dengan software Tsunami L-2008, diperoleh hasil berupa run-up tsunami yang memiliki nilai dengan pola distribusi yang mendekati hasil survei lapangan dari BMKG dan Atsushi Koresawa (JICA, Japan), yaitu distribusi run-up yang tinggi di P. Pagai Selatan dan menurun di P. Pagai Utara. Hasil dari pemodelan yang paling mendekati hasil survei yaitu pemodelan sumber gempabumi berdasarkan mekanisme dari CMT USGS dan mengacu pada distribusi gempabumi susulan dengan mekanisme strike: 319, dip : 7, slip: 7 m, luas sesar: 180 m x 110 m, depth: 12 m. To determine design of earthquake source parameters, it is done by analysis of geological conditions approach of research area in Mentawai segment. Refference of historical data in this study is Mentawai earthquake October 25th, 2010. This research aims to earthquake source modeling as a tsunami triggering in Mentawai segment that is focused on the earthquakes and tsunami event of Mentawai October 25, 2010. This modeling is based on four scenarios of earthquake sources. The first and second scenario uses USGS data, while the third and fourth scenarios uses BMKG data. The used method is Wells and coppersmith method and aftershock earthquakes distribution. After the earthquake sources data processing is done by using Tsunami L-2008 software, it is obtained results as tsunami run-up having  values close to the distribution patterns of the BMKG and Atsushi Koresawa (JICA, Japan) field surveis, that is the distribution of high run-up in Pagai island and decrease in North Pagai island. The modeling results that is closest to the survei result is the earthquake sources modeling based on CMT USGS mechanisms and refers to aftershocks distribution with strike mechanism: 319, dip:7, slip: 7 m wide fault: 180 mx 110 m, depth: 12 m.
RELOKASI HIPOSENTER GEMPABUMI WILAYAH JAWA MENGGUNAKAN TEKNIK DOUBLE DIFFERENCE Bambang Sunardi; Supriyanto Rohadi; Masturyono Masturyono; Sri Widiyantoro; Sulastri Sulastri; Pupung Susilanto; Thomas Hardy; Wiko Setyonegoro
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 13, No 3 (2012)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (638.777 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v13i3.133

Abstract

Relokasi hiposenter gempabumi penting dilakukan untuk mendapatkan lokasi gempabumi dengan ketelitian yang tinggi, diperlukan untuk pemetaan kerawanan gempabumi, studi struktur kecepatan, analisis seismisitas untuk studi global maupun studi lokal dan dalam analisis struktur detail seperti halnya identifikasi zona patahan dan sebaran serta orientasi patahan mikro. Salah satu teknik yang sekarang ini digunakan untuk merelokasi gempabumi adalah algoritma double difference (perbedaan ganda). Relokasi dilakukan terhadap data gempabumi BMKG yang terjadi di wilayah Jawa yang terletak pada 105°-115°BT dan 4°–12°LS. Jumlah gempabumi sebanyak 1352 kejadian. Jaringan stasiun  pencatat yang dipergunakan sebanyak 47 buah. Hasil relokasi menunjukkan pergeseran hiposenter lebih dari 50 km sebanyak 7 gempabumi. Pergeseran hiposenter menyebar ke segala arah dan tidak memiliki kecenderungan ke arah tertentu, namun demikian perubahan hiposenter terbanyak ke arah barat. Relokasi gempabumi dengan kedalaman awal 10 km menunjukkan pergeseran yang random. Relokasi menggunakan hypoDD menunjukkan peningkatan kualitas bila dilihat dari distribusi residual.  Relocation of earthquake hypocenter is important for obtaining an very accurate earthquake location which is needed for mapping of earthquakes vulnerability, velocity structure study, global and local studies of seismicity analysis and detail structural analysis as well as identification of the fault zone, distribution and orientation of microfracture. One technique currently used to relocate earthquakes is double difference algorithm. Relocation performed on BMKG earthquake data that occurred on Java region, located on 105°-115°E and 4°-12°S. The total number of earthquakes are 1352 events. We used 47 recording station networks. Hypocenter relocation results showed 7 earthquakes shift more than 50 km. Shift in hypocenter spread in all directions and do not have a tendency, however, most hypocenter changes to west. Relocation of initial depth 10 km earthquakes showed random shifst. Relocation using hypoDD showed an increase in quality when viewed from the residual distribution.
PEAK GROUND ACCELERATION AT SURFACE AND SPECTRAL ACCELERATION FOR MAKASSAR CITY BASED ON A PROBABILISTIC APPROACH Bambang Sunardi; Jimmi Nugraha
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 17, No 1 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8929.937 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v17i1.380

Abstract

The December 12, 2010 earthquakes (M 5.9) has drawn attention on the importance of knowledge of peak ground acceleration at surface (PGAM) and spectral acceleration for Makassar City. The PGAM and spectral acceleration play an important role in seismic design regulations. The purpose of this paper is to present the PGAM and spectral acceleration for Makassar City based on a probabilistic approach. The analysis involved determination of peak ground acceleration at bedrock using Probabilistic Seismic Hazard Analysis (PSHA), the average shear wave velocity at 30 m depth (Vs30), and site classification. Results of the analysis showed that the values of PGAM for Makassar City were varied from 0.177 – 0.21 g. Meanwhile, the spectral acceleration values at T = 0.2 and T = 1 second were varied from 0.459 – 0.541 g and 0.277 – 0.369 g respectively. From these results, the values of PGAM and spectral acceleration are relatively higher at Tamalanrea and Biringkanaya districts and relatively lower at Tamalate district in comparison to other districts in Makassar City. This condition is associated with the location of those areas which are relatively closer to the  earthquake source (Walanae fault), and is geologically dominated by stiff soil (SD).Gempa 12 Desember 2010 (M5.9) menarik perhatian kita akan pentingnya pengetahuan tentang percepatan tanah maksimum di permukaan (PGAM) dan spektra percepatan untuk Kota Makassar. PGAM dan spektra percepatan memegang peranan penting dalam peraturan desain gempa. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan PGAM dan percepatan spektra untuk Kota Makassar berdasarkan pendekatan probabilistik. Analisis yang dilakukan meliputi penentuan percepatan tanah maksimum di batuan dasar menggunakan Probabilistic Seismic Hazard Analysis (PSHA), rata-rata kecepatan gelombang geser pada kedalaman 30 m (Vs30), dan klasifikasi site. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai PGAM untuk Kota Makassar bervariasi dari 0.177 – 0.21 g. Sementaraitu, nilai spektra percepatan pada T=0.2 dan T=1 detik berturut-turut bervariasi dari 0.459 – 0.541 g dan 0.277 – 0.369 g. Nilai PGAM dan spektra percepatan relatif lebih tinggi di Kecamatan Tamalanrea dan Biringkanaya serta relatif lebih rendah di Kecamatan Tamalate dibandingkan dengan Kecamatan lainnya di Kota Makassar. Hal tersebut dikarenakan lokasinya yang relatif lebih dekat dengan sumber gempa (patahan Walanae), dan secara geologi di dominasi oleh jenis tanah sedang (SD).
ANALISIS RESPON IONOSFER TERHADAP GERHANA MATAHARI 9 MARET 2016 DARI DATA GPS PALU Bambang Sunardi; Buldan Muslim; Untung Merdijanto; Damianus Tri Heryanto; Joni Efendi; Yoga Andrian
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 17, No 3 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v17i3.328

Abstract

Respon ionosfer terhadap gerhana matahari total 9 Maret 2016 telah diteliti menggunakan data Global Positioning System (GPS) stasiun PALP di Palu. Slant Total Electron Content (STEC) diturunkan dari data jarak kode yang diukur dari satelit GPS dengan PRN 24 pada dua frekuensi yang berbeda. STEC pada tanggal 8 Maret 2016 digunakan sebagai nilai referensi STEC pada kondisi normal atau tidak terpengaruh oleh gerhana matahari. Pengurangan STEC tanggal 9 Maret 2016 saat gerhana terhadap STEC 8 Maret 2016 menunjukkan respon ionosfer terhadap gerhana matahari berupa penurunan STEC sekitar -12 TECU. Selama gerhana matahari terdapat histeresis ionosfer. Laju penurunan STEC saat radiasi matahari berkurang sebelum mencapai gerhana matahari total lebih lambat jika dibandingkan dengan laju kenaikan STEC selama proses kenaikan radiasi matahari dari gerhana matahari total mulai berakhir hingga selesainya gerhana matahari. Setelah gerhana matahari selesai, nilai STEC tidak kembali ke keadaan awal sebelum gerhana matahari terjadi. Hasil penelitian ini mengkorfirmasi hasil penelitian sebelumnya dan melengkapi dengan tambahan adanya histeresis respon ionosfer terhadap gerhana matahari total 9 Maret 2016
ANALISIS HAZARD GEMPA DAN ISOSEISMAL UNTUK WILAYAH JAWA-BALI-NTB Jimmi Nugraha; Guntur Pasau; Bambang Sunardi; Sri Widiyantoro
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 15, No 1 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v15i1.168

Abstract

Jawa, Bali dan NTB merupakan wilayah rawan bencana gempa. Untuk meminimalisasi dampak bencana tersebut, upaya mitigasi perlu dilakukan secara optimal. Salah satunya melalui penelitian hazard kegempaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hazard gempa dan isoseismal daerah penelitian. Tahapan penelitian meliputi studi literatur, pengumpulan dan pengolahan data gempa, pemodelan dan karakterisasi sumber gempa serta analisis hazard gempa dan isoseismal. Analisis hazard gempa dilakukan dengan menggunakan teori probabilitas total dan pemodelan sumber gempa tiga dimensi. Penelitian ini menggunakan katalog BMKG tahun 1903 – 2010, kedalaman 0 – 300 km dan Mw ≥5 serta data PGA yang tercatat di jaringan BMKG. Hasil analisis hazard gempa menunjukkan nilai percepatan tanah maksimum (PGA) di batuan dasar Pulau Jawa, Bali dan NTB  bervariasi dari 0,05 g - 0,5 g. Secara umum, rentang nilai percepatan tersebut relatif hampir sama dengan Peta Gempa Indonesia 2010. Kurva hazard gempa di beberapa kota besar di Pulau Jawa menunjukkan gempa dalam sangat berpengaruh di Kota Serang, Jakarta dan Surabaya. Sumber gempa sesar dominan mempengaruhi hazard di Kota Bandung, Yogyakarta dan Semarang. Analisis isoseismal gempa Tasikmalaya 2 September 2009 dan 26 Juni 2010 menunjukkan daerah di selatan Pulau Jawa bagian barat mengalami guncangan yang cukup kuat sekitar VII – VIII MMI (0,25 g – 0,3 g) yang bersesuaian dengan peta hazard hasil combine source.Java, Bali, and NTB are earthquake-prone areas. One mitigation efforts to minimize the disaster impact is carried out through seismic hazard research. The purpose of this study is to analyze the earthquake hazard and isoseismal for the study area. The stages of the research include the literature study, collecting and processing seismic data, seismic sources modeling and characterization, earthquake hazard and isoseismal analysis. Seismic hazard analysis for the 10% probability of exceedance in 50 years was carried out using the total probability theory and three-dimensional earthquake source modeling. This study used the BMKG catalog from 1903 – 2010, 0-300 km depth, Mw ≥ 5 and PGA data recorded at the BMKG network. The results of this study show the PGA values varied from 0.05 to 0.5 g. In general, the acceleration ranges relatively close to the Indonesian Earthquake Map 2010. Seismic hazard curves in some big cities in Java showed that the deep earthquake was very influential in Serang, Jakarta, and Surabaya. The fault source dominant influence in Bandung, Yogyakarta, and Semarang. Isoseismal analysis of Tasikmalaya earthquakes on September 2, 2009, and June 26, 2010, shows the area in the southwestern part of Java experience strong shocks around VII - VIII MMI (0.25 - 0.3 g) which corresponds to the hazard maps result of combine source.
PENENTUAN TINGKAT KEKERASAN BATUAN MENGGUNAKAN METODE SEISMIK REFRAKSI Boko Nurdiyanto; Eddy Hartanto; Drajat Ngadmanto; Bambang Sunardi; Pupung Susilanto
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 12, No 3 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v12i3.103

Abstract

Telah dilakukan penelitian menggunakan metode seismik refraksi di daerah Sumbawa yang bertujuan untuk menentukan tingkat kekerasan batuan. Pengambilan data lapangan dalam bentuk lintasan dan dibagi tiga bagian, yaitu menggunakan end-off spread di kedua ujung dan mid-spread. Tahapan pengolahan data diawali dengan melengkapi informasi posisi dari masing-masing geophone dan sumber seismiknya dengan mengedit geometri, sehingga dapat dikenali oleh komputer sebagai satu kesatuan data base. Untuk menghilangkan noise yang menenggelamkan sinyal firstbreak, dilakukan proses BPFB (Band Pass Filter Butterworth) sebesar 10-100 Hz. Proses inversi yang digunakan adalah refraction tomography, dengan pendekatan non linier least square inversion dan perhitungan pemodelan maju untuk menghitung nilai Vp menggunakan forward refraction raytracing. Penentuan densitas batuan menggunakan rumus empiris Gardner's relationship. Hasil interpretasi data menunjukkan empat lapisan batuan dengan kecepatan rambat gelombang P adalah 200-1800 m/sec dan densitasnya 1.17-2.05 gr/cc. Pengelompokan lapisan berdasarkan kecepatan rambat gelombang P adalah lapisan pertama (200-700 m/sec), lapisan kedua (700-1100 m/sec), lapisan ketiga (1100-1700 m/sec) dan lapisan keempat (>1700 m/sec). Litologi batuan bawah permukaan terdiri dari soil (1.17-1.59 g/cc), granodiorit lapuk kuat (1.59-1.78 gr/cc), granodiorit lapuk lemah (1.78-1.99 gr/cc) dan granodiorit segar (>1.99 gr/cc). Batuan keras terdapat dari permukaan hingga kedalaman 30 meter. Seismic refraction research have been done in Sumbawa to determine the level of rocks density. Field data acquisition in lines and are divided into three parts that are end-off spreads at both ends and mid-spreads. The first step of the processing was to identified positions of each geophone and its shot by editing the geometry, so it can be recognized by computer as a single unified database. Bandpass Filter Butterworth process at 10-100 Hz has been done to eliminate noise that drowned the firstbreak signal. Inversion process using the refraction tomography with non-linear least squares inversion approach and the forward modeling for calculate Vp value using forward refraction raytracing. While the rock density determination used empirical formula from Gardner's relationship. Results of the  interpretation shows four layers of rock with the P-wave propagation velocity are 200-1800 m/sec and density are 1.17-2.05 g/cc. Grouping layers based on the P-wave propagation velocity are the first layer (200-700 m/sec), second layer (700-1100 m/sec), third layer (1100-1700 m/sec) and fourth layer (>1700 m/sec). Sub-surface lithology consists of soil (1.17-1.59 g/cc), strong weathered layer of granodiorite (1.59-1.78 g/cc), weak weathered layer of granodiorite (1.78-1.99 g/cc) and fresh granodiorite (>1.99 g/cc). Hard rock layer found from surface to 30 meters depth.
Studi Awal Mikrozonasi dan Klasifikasi Site Wilayah Jakarta Selatan Rifa Salma Salsabila; Bambang Sunardi; Setyoajie Prayoedhie
Jurnal Stasiun Geofisika Sleman Vol. 1 No. 1 (2023): Jurnal Stasiun Geofisika Sleman (JSGS)
Publisher : Stasiun Geofisika Kelas I Sleman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Microzonation mapping is very necessary in the south Jakarta area because the effects of earthquakes are often felt. This region also has a very high population density. Microzonation is needed to reduce the risk if an earthquake occurs. Another effort to support earthquake microzonation is by conducting site classification. One of the data that can be used is microtremors which are then processed using the Horizontal to Vertical Spectral Ratio (HVSR) method. Furthermore, the HVSR inversion process can be used to obtain the value of the shear wave velocity (Vs). In this research, the creation of a microzonation map includes a dominant frequency map, amplification factor, seismic vulnerability index, and site classification map. The research results show that in the South Jakarta area, especially the Pesangrahan, Kebayoran Lama, Kebayoran Baru, Setiabudi and Tebet districts, the dominant frequency (fo) is relatively low, the amplification factor is relatively high, and the dominant site is classified as medium soil (SD). Based on this, in general the South Jakarta area has a relatively high risk of earthquakes.