cover
Contact Name
Muhammad Najib Habibie
Contact Email
najib.habibie@gmail.com
Phone
+6285693191211
Journal Mail Official
jurnal.mg@gmail.com
Editorial Address
Jl. Angkasa 1 No. 2 Kemayoran, Jakarta Pusat 10720
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL METEOROLOGI DAN GEOFISIKA
ISSN : 14113082     EISSN : 25275372     DOI : https://www.doi.org/10.31172/jmg
Core Subject : Science,
Jurnal Meteorologi dan Geofisika (JMG) is a scientific research journal published by the Research and Development Center of the Meteorology, Climatology and Geophysics Agency (BMKG) as a means to publish research and development achievements in Meteorology, Climatology, Air Quality and Geophysics.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 3 (2011)" : 10 Documents clear
ANALISIS PEMANTAUAN KUALITAS UDARA PADA SAAT ARUS MUDIK DAN BALIK LEBARAN DI GERBANG TOL CIKAMPEK TAHUN 2009 Radyan Putra Pradana; Eko Heriyanto
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 12, No 3 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (491.386 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v12i3.108

Abstract

Analisa pemantauan kualitas udara pada saat arus balik/mudik lebaran tahun 2009 di Gerbang tol Cikampek telah dilakukan dengan melakukan observasi parameter polusi udara dan meteorologi. Dari uji deret waktu data dan uji beda rata-rata menunjukkan bahwa saat arus mudik, rata-rata suhu udara yang paling tinggi terjadi tanggal 18 September 2009 pada pukul 15.00 WIB (32 °C) dan kelembaban udara tertinggi pada pukul 19.00 WIB (83,27 %) dan konsentrasi rata-rata polutan paling tinggi yang terukur untuk SO2 dan NO2 masing-masing terdapat pada pukul 17.00 WIB (1,277 ppm) dan 16.00 WIB (0,022 ppm). Saat arus balik, rata-rata suhu udara paling tinggi yang terjadi pada tanggal 25 September 2009 adalah pukul 15.00 WIB (30,31 °C), sedangkan untuk rata-rata suhu udara paling tinggi yang terjadi pada tanggal 26 September 2009 adalah pukul 16.00 WIB (28,7 °C) dan kelembaban udara tertinggi pada tanggal 25th dan 26th September 2009 masing-masing adalah (77,92 % dan 83,4 %) yang terjadi pada pukul 20.00 WIB, hal ini dikarenakan keadaan cuaca di lokasi pengamatan dalam keadaan mendung dan angin berhembus cukup kencang. Untuk konsentrasi rata-rata polutan paling tinggi yang terukur untuk SO2 terjadi di sore hari antara pukul 17.00 dan 18.00 WIB (1,277 ppm) dan NO2 terjadi pada pukul 17.00 WIB (0.019 ppm) yang diduga karena gas buang yang dihasilkan melalui pembakaran yang tidak sempurna dari kendaraan yang melintas.  Analysis of air quality monitoring at the time of back and forth traffic flow during eid on Cikampek highway gate in 2009 has been done by observing air pollution and meteorological parameters. Time series data test and mean different test show that during the forth flow time (September 18th, 2009), the maximum mean air temperature occurred at 15.00 WIT (32 °C), the highest mean relative humidity occurred at 19.00 WIT (83.27%) and the highest mean pollutant concentration of SO2 and NO2 were at 17.00 WIT (1.277 ppm) and 16.00 WIT (0.022 ppm), respectively. During the back flow time (September 25th and 26th 2009), the maximum mean air temperature occurred at 15.00 WIT and 16.00 WIT, respectively. While, the highest mean relative humidity occurred at 20.00 WIT (77.92% and 83.4%). This might be caused by cloudy condition and high wind speed during those days. In addition, the highest mean pollutant concentration of SO2 occurred between 17:00 WIT and 18:00 WIT (1.227 ppm), and NO2 occurred at 17:00 WIT (0,019 ppm). This might be caused by exhaust gas produced by imperfect combustion from passing vehicles.
VARIASI BULANAN GELOMBANG LAUT DI INDONESIA Roni Kurniawan; Muhammad Najib Habibie; Suratno Suratno
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 12, No 3 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (693.78 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v12i3.104

Abstract

Indonesia merupakan negara kepulauan yang sebagian besar wilayahnya adalah perairan, maka segala aktivitas di laut menjadi bagian penting bagi kehidupan masyarakat Indonesia. Fenomena laut yang sangat mempengaruhi efisiensi dan keselamatan di laut adalah gelombang tinggi, oleh karena itu diperlukan informasi tentang variasi dan karakteristik tinggi gelombang di perairan Indonesia. Gelombang laut yang paling dominan diakibatkan oleh faktor angin, maka perhitungan tinggi gelombang laut dalam kajian ini menggunakan model gelombang Windwaves-05, dimana model ini menghitung tinggi gelombang berdasarkan energi dari angin permukaan. Hasil dari kajian ini menunjukkan bahwa, variasi gelombang di perairan Indonesia berkaitan erat dengan pola angin musiman yang terjadi di wilayah Indonesia. Pada saat monsun Asia dan Australia (DJF dan JJA), rata-rata tinggi gelombang lebih tinggi dibanding pada masa peralihan (MAM dan SON) dan puncak rata-rata gelombang tertinggi terjadi pada bulan Januari dan Juli. Rata-rata tinggi gelombang di wilayah perairan terbuka lebih tinggi dibandingkan dengan perairan antar pulau, kondisi ini terjadi karena adanya perbedaan panjang fetch yang terbentuk di wilayah perairan tersebut.Indonesia archipelago mostly consists of waters. All activities in the oceans become an important part of Indonesian society. One of the phenomena affects the efficiency and safety on the oceans is ocean wave heights, therefore, information about characteristics and variations of wave height is crucial to be studied. Wind wave is the most dominant factor on the ocean, so this study utilized Windwaves-05 model to produce the wave height value based on the surface wind energy. The results of this study indicate that the ocean wave variations are closely related to seasonal wind patterns over Indonesia. During the Asian and Australia monsoon (DJF and JJA), mean of wave height is higher than during the transition period (MAM and SON). Mean of the highest ocean waves occurrs on February and July. Mean of wave height on the offshore waters is higher than on the inter-islands waters, this condition caused by different fetch length.
PEMANFAATAN SUHU UDARA DAN KELEMBAPAN UDARA DALAM PERSAMAAN REGRESI UNTUK SIMULASI PREDIKSI TOTAL HUJAN BULANAN DI BANDAR LAMPUNG Yunus Subagyo Swarinoto; Sugiyono Sugiyono
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 12, No 3 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.218 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v12i3.109

Abstract

Simulasi prediksi curah hujan bulanan (RR) dengan menggunakan prediktor suhu udara (T) dan kelembapan udara (RH) telah dicoba dilakukan di Stasiun Meteorologi Radin Inten II Bandar Lampung. Evaluasi dilakukan dengan membandingkan dan menghitung besarnya penyimpangan prediksi total hujan bulanan terhadap total hujan aktualnya. Simulasi prediksi total hujan bulanan ini digunakan dua metode regresi, yaitu regresi linier sederhana dan regresi linier berganda. Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa simulasi prediksi total hujan bulanan tahun 2009 di daerah studi didapatkan rerata RMSE = 98 mm/bulan menggunakan prediktor suhu udara, RMSE = 7 mm/bulan menggunakan prediktor kelembapan udara, dan RMSE = 69 mm/bulan menggunakan prediktor suhu udara dan kelembapan udara sekaligus.  Monthly rainfall prediction simulation (RR) using air temperature (T) and relative humidity (RH) as predictors, has been done at Meteorological Station Radin Inten II Bandar Lampung. Evaluation of prediction was examined by comparing and computing between the prediction output and observation values. Both linear and multi-linear regression methods were used in data processing. Results show the monthly rainfall prediction simulation of 2009 having the mean of   RMSE = 98 mm/month using air temperature data as predictor, RMSE = 7 mm/month using relative humidity data as predictor, and RMSE = 69 mm/month using both air temperature and relative humidity data as predictors at onces.
PREDIKSI GEMPABUMI JEPANG 11 MARET 2011 OLEH DETEKTOR ATROPATENA-ID (STASIUN YOGYAKARTA) Wahyudi Wahyudi
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 12, No 3 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (345.394 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v12i3.105

Abstract

Perubahan medan gravitasi frekuensi rendah yang timbul sebelum terjadinya gempabumi kuat dapat dideteksi dengan alat Atropatena. Prinsip kerja Atropatena mirip dengan Torsion Balance pada Eksperimen Cavendish. Detektor Atropatena mencatat secara simultan dan kontinu variasi medan gravitasi dalam tiga komponen, yaitu satu komponen vertikal (Z) dan dua komponen horizontal (X dan Y). Pada bulan AgustuS 2009, stasiun Atropatena-ID telah dipasang di Yogyakarta. Stasiun Atropatena bekerja dalam bentuk jaringan, di bawah koordinasi GNFE (Global Network for the Forecasting of Earthquakes) yang berpusat di Istanbul, Turki. Pada saat ini di seluruh dunia terdapat 5 stasiun Atropatena, yaitu di Azerbaijan, Pakistan, Turki, Indonesia, dan Ukraina. Sampai dengan saat ini, jaringan stasiun Atropatena telah berhasil memprediksi lebih dari 50% gempabumi kuat di seluruh dunia, termasuk gempabumi Jepang (8,9 SR) yang terjadi pada tanggal 11 Maret 2011. The low frequency three-dimensional changes of gravitational field before strong earthquakes are detected by a device called Atropatena. Atropatena uses the physical principle of Cavendish Torsion Balance. Detector Atropatena simultaneously registered time variations of gravitational field in two mutually perpendicular  directions  (horizontal  components,  X  and  Y)  and  variations  of  gravity Dg (vertical component, Z). The atropatena-ID has been installed in Yogyakarta since August 2009. Atropatena works under the world wide station network which are coordinated by GNFE (Global Network for the Forecasting of Earthquakes), based in Istanbul, Turkey. Five stations of Atropatena are now established in Azerbaijan, Pakistan, Turkey, Indonesia, and Ukraine. Up to now, Atropatena station network has successfully predicted more than 50% of strong earthquakes around the world, including Japan earthquake (8.9 magnitude) that occurred on March 11, 2011.
DESAIN SISTEM PERINGATAN DINI ZONA RAWAN LONGSOR DENGAN PENERAPAN SENSOR KELEMBABAN DAN GETARAN PADA TANAH Adi Susilo; Didik R. Santoso; Arief Rachmansyah; Yulvi Zaika
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 12, No 3 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (873.488 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v12i3.110

Abstract

Salah satu bentuk upaya mitigasi bencana alam adalah pemasangan peralatan untuk peringatan dini. Penelitian ini bertujuan untuk merancang sistem peringatan dini longsoran atau gerakan tanah. Untuk keperluan tersebut dirancang perangkatt elektronik  berupa gabungan sensor getaran dan kandungan air tanah. Sensor getaran dibuat dari accelerometer komersial jenis MMA 7260 QT dengan sensitivitas maksimum 800 mV/g. Sensor kedua dirancang berdasarkan prinsip kapasitif yakni pengukuran luaran tegangan yang dihasilkan dari perubahan kandungan air pada suatu obyek. Model longsoran dibuat pada suatu box dari bahan mika, dan material tanah dibuat dari campuran  kaolin dan pasir dengan kadar air bervariasi. Tanah dipadatkan dan membentuk lereng dengan kemiringan 75°, 65°, 60° dan 45°. Box yang berisi tanah diletakkan di atas suatu vibrator dengan skala tertentu. Untuk merekam longsoran yang terjadi dipasang video camera. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makin tinggi kemiringan suatu lapisan tanah (batuan), makin kecil skala getaran dan makin cepat pula waktu yang diperlukan untuk terjadinya longsoran dan sebaliknya.  One of mitigation effort for natural disaster is installing of early warning system in the high risk zone. The aim of this research is to develop an electronic device based on   vibration and water content sensors. Vibration sensor was made of a commercial accelerometer sensor MMA QT 7260. This sensor has four options sensitivity and the maximum sensitivity could reach 800 mV/g. The second sensor is designed based on the principle of capacitive, that work to measure the output voltage resulting from changes in water content. Landslide model was made in a plexyglass box and made of mixing between kaolinit and volcanic sand with different water content. The soil is compacted and like a escarpment with slope of 75°, 65°, 60°, and 45°. The box is placed on a vibrator, where 1 was the lowest and vice versa. To record the landslide process a video camera was set up. The result show that the higher the slope of the sediment, the lower of the scale of the vibrator and the smaller time to be used in occurring of the landslide, and vice versa
SKENARIO TENGGANG WAKTU SST NINO 3.4 TERHADAP CURAH HUJAN UNTUK MENINGKATKAN AKURASI PREDIKSI KALMAN FILTER Restu Tresnawati; Kurnia Endah Komalasari
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 12, No 3 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (384.425 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v12i3.106

Abstract

Prediksi curah hujan bulanan menggunakan prediktor SST (Sea Surface Temperature) Nino 3.4 harus diketahui apakah secara langsung dalam waktu bersamaan mempengaruhi curah hujan. Pada penelitian ini, skenario tenggang waktu (time lag) diujicobakan untuk meningkatkan akurasi prediksi curah hujan bulanan dengan Kalman Filter. Pada tahap pertama, SST Nino 3.4 pada lag 0, lag 1, lag 2 diprediksi menggunakan ARIMA. Kemudian hasil ini digunakan sebagai salah satu prediktor dalam Kalman Filter. Penelitian diujicobakan terhadap validasi prediksi curah hujan bulanan di daerah Purbalingga selama periode tiga tahun kebelakang (hindcast) 2006, 2007, 2008. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa tenggang waktu diperlukan dalam prediksi. Monthly rainfall forecasting using Sea Surface Temperature (SST) Nino 3.4 as predictor must be known of how directly effect on rainfall. In this paper, time lag scenarios are proposed for increase prediction accurately of Kalman Filter. First, SST Nino 3.4 on lag 0, lag 1, and lag 2 are predicted by ARIMA. Then, this result is used as one of predictor in the Kalman Filter Prediction. This method is attempted for validation of monthly rainfall forecasting in Purbalingga by three-year period (2006,2007,2009) of hind cast. Experimental results show that time lag are needed in Monthly rainfall forecasting.
PERINGATAN DINI DAN DIAGNOSIS MUNCULNYA TURBULENSI CUACA CERAH DAN DAMPAKNYA PADA PESAWAT Achmad Sasmito
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 12, No 3 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.342 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v12i3.111

Abstract

Salah satu informasi meteorologi yang sulit diprakirakan diantaranya yaitu terjadinya turbulensi pada saat cuaca cerah (TCC), sedangkan metoda yang lazim digunakan untuk mengetahui daerah TCC yaitu dengan menghitung bilangan Richardson (Ri).Untuk menduga lokasi terjadinya TCC yang  dialami oleh pesawat China Air Line, pada tanggal 20 September 2008 sekitar pukul 12.50 WIB yang terbang dari Taipe menuju Bali digunakan analisis data udara atas, satelit cuaca, dan prakiraan cuaca numerik model JMA (Numerical Weather Prediction/NWP). Hasil analisis data meteorologi tanggal 20 September 2008, pukul 11.00-13.00 WIB bahwa pesawat China Air Line diduga mengalami TCC lokasinya di sekitar Pulau Lulbu (Philipina/ posisi 7 - 15° LU, 115° - 120° BT), pada paras 300 - 400 mb, nilai bilangan Ri yaitu sekitar 200-290, ditengarai berada di daerah pertemuan dua (2) masa udara yaitu bagian bawah berasal dari barat kecepatan angin 10-15 knot, sedang bagian atas berasal dari timur kecepatan angin 15-25 knot, suhu puncak awan -70° C, sedang disebelahnya suhu + 10° C. Keadaan cuaca tersebut berkaitan dengan munculnya siklon tropis Hagupit di Philipina. One of the difficult forecasted meteorological information such as the occurrence of Clear air turbulence (TCC). The methods commonly used to determine the TCC region that is by calculating the Richardson number (Ri). To infer the location of the TCC aircraft experienced by China Air Line, on 20 September 2008 at around 04:00 to 06:00 UTC flying from Taipei to Bali used the analysis of upper air data, weather satellites and numerical weather Prediction JMA model (Numerical Weather Prediction/NWP). The results of the analysis of meteorological data on September 20, 2008, at 04:00 to 06:00 UTC show that China Air Line occurred TCC loTCCion around the Lulbu island (Philipine), positions 7°-15° N, 115°-120° E, at 300-400 mb, the Ri number is about 200-290, which are loTCCed in areas suspected to be the confluence of two (2) the air mass, is coming from the bottom of the west wind speed 10-15 knots, while the top comes from the east 15-25 knots wind speed, cloud top temperature of -70° C, on the other side the air temperature of + 10° C. The weather conditions associated with the emergence of a tropical cyclone Hagupit in Philipine island.
DESAIN DAN PEMBUATAN ALAT UKUR GEOFISIKA BERBASIS SENSOR FLUXGATE DAN SENSOR MEDAN LISTRIK I Made Astra; Widyaningrum Indrasari; Umiatin Umiatin; Mitra Djamal
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 12, No 3 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v12i3.107

Abstract

Telah dilakukan pembuatan alat dengan menggunakan metoda "EM survei geofisika" dalam bentuk sensor fluxgate, sensor potensial listrik, dan unit injector flow. Elemen sensor "fluxgate" dibentuk dengan menggunakan kumparan sekunder ganda. konfigurasi elemen sensor "fluxgate" terdiri dari variasi lilitan primer 4 x 40 dan lilitan sekunder 2 x 60. Kumparan primer akan membangkitkan sebuah medan magnet internal yang berfungsi sebagai medan magnet acuan ketika kumparan sekunder digunakan untuk mengukur medan magnet eksternal (mendeteksi) sehingga sensitivitas sensor fluxgate ditentukan dengan bentuk kumparan sekunder. Berdasarkan analisa data, diperoleh sensitivitas sebesar 283.02 mV/mT dan dapat mendeteksi medan magnet hingga 3:53 nT. Sebuah sensor potensial listrik memiliki rentang pengukuran  yang diperoleh dari masukkan sensor sebesar 0-13 mV dan menghasilkan tegangan keluaran 0-5 volt. Ketika keluaran dari IGBT yang berfungsi sebagai saklar dan belum diatur menggunakan  unit antarmuka, dapat menghasilkan 50% siklus sinyal yang cukup baik, sehingga masih diperlukan perbaikan pada unit interface circuit flow transmitter. The research done supporting the manufacture of devices based on the method of EM geophysical survey in the form of fluxgate magnetic sensors, electric potential sensors, and interface unit injector flow. Fluxgate sensor element designed using a secondary coil (pick-up) double. The composition of fluxgate sensor element consists of two primary coils (excitation coil(4x40), two secondary coils (2x60). Primary coil will generate an internal magnetic field that serves as a reference magnetic field while the secondary coil serves to measure the external magnetic field (sensing) so that the sensitivity of fluxgate sensor is determined by the secondary coil design. Based on analysis of data obtained sensitivity 283.02 mV/mT, and can detect magnetic fields up to 3:53 nT. An electric potential sensor have a range of measurements obtained by sensor inputs 0-13 mV and produces a voltage output 0-5 volts. While the output of the IGBT which functions as a switch and have not be set using the interface unit can generate 50% duty cycle signal that is good enough, so it is still need for improvement in the unit interface circuit flow transmitter.
Sampul Jurnal MG JMG BMKG
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 12, No 3 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sampul Jurnal MG Volume 12 No. 3 Tahun 2011
PENENTUAN TINGKAT KEKERASAN BATUAN MENGGUNAKAN METODE SEISMIK REFRAKSI Boko Nurdiyanto; Eddy Hartanto; Drajat Ngadmanto; Bambang Sunardi; Pupung Susilanto
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 12, No 3 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v12i3.103

Abstract

Telah dilakukan penelitian menggunakan metode seismik refraksi di daerah Sumbawa yang bertujuan untuk menentukan tingkat kekerasan batuan. Pengambilan data lapangan dalam bentuk lintasan dan dibagi tiga bagian, yaitu menggunakan end-off spread di kedua ujung dan mid-spread. Tahapan pengolahan data diawali dengan melengkapi informasi posisi dari masing-masing geophone dan sumber seismiknya dengan mengedit geometri, sehingga dapat dikenali oleh komputer sebagai satu kesatuan data base. Untuk menghilangkan noise yang menenggelamkan sinyal firstbreak, dilakukan proses BPFB (Band Pass Filter Butterworth) sebesar 10-100 Hz. Proses inversi yang digunakan adalah refraction tomography, dengan pendekatan non linier least square inversion dan perhitungan pemodelan maju untuk menghitung nilai Vp menggunakan forward refraction raytracing. Penentuan densitas batuan menggunakan rumus empiris Gardner's relationship. Hasil interpretasi data menunjukkan empat lapisan batuan dengan kecepatan rambat gelombang P adalah 200-1800 m/sec dan densitasnya 1.17-2.05 gr/cc. Pengelompokan lapisan berdasarkan kecepatan rambat gelombang P adalah lapisan pertama (200-700 m/sec), lapisan kedua (700-1100 m/sec), lapisan ketiga (1100-1700 m/sec) dan lapisan keempat (>1700 m/sec). Litologi batuan bawah permukaan terdiri dari soil (1.17-1.59 g/cc), granodiorit lapuk kuat (1.59-1.78 gr/cc), granodiorit lapuk lemah (1.78-1.99 gr/cc) dan granodiorit segar (>1.99 gr/cc). Batuan keras terdapat dari permukaan hingga kedalaman 30 meter. Seismic refraction research have been done in Sumbawa to determine the level of rocks density. Field data acquisition in lines and are divided into three parts that are end-off spreads at both ends and mid-spreads. The first step of the processing was to identified positions of each geophone and its shot by editing the geometry, so it can be recognized by computer as a single unified database. Bandpass Filter Butterworth process at 10-100 Hz has been done to eliminate noise that drowned the firstbreak signal. Inversion process using the refraction tomography with non-linear least squares inversion approach and the forward modeling for calculate Vp value using forward refraction raytracing. While the rock density determination used empirical formula from Gardner's relationship. Results of the  interpretation shows four layers of rock with the P-wave propagation velocity are 200-1800 m/sec and density are 1.17-2.05 g/cc. Grouping layers based on the P-wave propagation velocity are the first layer (200-700 m/sec), second layer (700-1100 m/sec), third layer (1100-1700 m/sec) and fourth layer (>1700 m/sec). Sub-surface lithology consists of soil (1.17-1.59 g/cc), strong weathered layer of granodiorite (1.59-1.78 g/cc), weak weathered layer of granodiorite (1.78-1.99 g/cc) and fresh granodiorite (>1.99 g/cc). Hard rock layer found from surface to 30 meters depth.

Page 1 of 1 | Total Record : 10