cover
Contact Name
Reiza Miftah Wirakusuma
Contact Email
jithor@upi.edu
Phone
-
Journal Mail Official
jithor@upi.edu
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation
ISSN : 26543893     EISSN : 26544687     DOI : -
Journal of Indonesian Tourism, Hospitality, and Recreation (Jurnal Pariwisata, Perhotelan dan Rekreasi Indonesia) merupakan jurnal ilmiah yang diterbitkan dua keluaran (issues) dalam setahun pada bulan April dan Oktober. Redaksi juga turut mengundang para peneliti dan praktisi untuk dapat mengirimkan artikel berupa laporan hasil penelitian, pemikiran-pemikiran, maupun tulisan akademik, khususnya yang berkaitan dengan kepariwisataan, perhotelan dan rekreasi luar ruang. Perlu dipahami sebelumnya, artikel yang hendak dikirimkan merupakan artikel yang belum pernah dimuat atau dipublikasikan di jurnal berkala ilmiah lainnya.
Arjuna Subject : -
Articles 150 Documents
Investigating the influence of attractiveness and value for money on revisit intention for Toraja-Londa’s cultural sustainability
Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation Vol 9, No 1 (2026): April
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jithor.v9i1.90224

Abstract

AbstractThis study examines the factors influencing revisit intention to cultural heritage sites, specifically focusing on the roles of perceived attractiveness and perceived value for money, with customer satisfaction serving as a mediating factor. The proposed conceptual model is empirically tested using data collected from 130 tourists who visited Toraja-Londa, a prominent cultural heritage destination. Employing Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM), the analysis reveals a strong correlation between the antecedents of customer behavioral practices and revisit intention. The findings indicate that both perceived attractiveness and perceived value for money significantly enhance customer satisfaction, which in turn plays a crucial moderating role in shaping revisit intention. This research provides valuable insights for both theoretical and managerial perspectives, highlighting the importance of fostering a positive relationship between perceived attractiveness, value for money, satisfaction, and revisit intention. The study's findings offer practical implications for policymakers and stakeholders, enabling them to make informed decisions that enhance the sustainability and appeal of cultural heritage tourism destinations. By understanding the drivers of revisit intention, destination managers can develop targeted strategies to improve visitor experiences and encourage repeat visits. AbstrakStudi ini mengkaji faktor-faktor yang memengaruhi niat kunjungan ulang ke situs warisan budaya, khususnya berfokus pada peran persepsi daya tarik dan persepsi nilai uang, dengan kepuasan pelanggan sebagai faktor mediasi. Model konseptual yang diusulkan diuji secara empiris menggunakan data yang dikumpulkan dari 130 wisatawan yang mengunjungi Toraja-Londa, sebuah destinasi warisan budaya terkemuka. Dengan menggunakan Pemodelan Persamaan Struktural Kuadrat Terkecil Parsial (PLS-SEM), analisis ini mengungkapkan korelasi yang kuat antara anteseden praktik perilaku pelanggan dan niat kunjungan ulang. Temuan menunjukkan bahwa persepsi daya tarik dan persepsi nilai uang secara signifikan meningkatkan kepuasan pelanggan, yang pada gilirannya memainkan peran moderasi krusial dalam membentuk niat kunjungan ulang. Penelitian ini memberikan wawasan berharga bagi perspektif teoretis dan manajerial, menyoroti pentingnya membina hubungan positif antara persepsi daya tarik, nilai uang, kepuasan, dan niat kunjungan ulang. Temuan studi ini menawarkan implikasi praktis bagi para pembuat kebijakan dan pemangku kepentingan, memungkinkan mereka untuk membuat keputusan yang tepat yang meningkatkan keberlanjutan dan daya tarik destinasi wisata warisan budaya. Dengan memahami faktor pendorong minat berkunjung kembali, pengelola destinasi dapat mengembangkan strategi yang tepat guna meningkatkan pengalaman pengunjung dan mendorong kunjungan berulang. 
Pelaksanaan Tugas dan Kerja sama Pramusaji Dalam Melayani Tamu di Cavinton Hotel Yogyakarta
Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation Vol 7, No 1 (2024): Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation (April)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jithor.v7i1.57471

Abstract

ABSTRACTThis study aims to determine the implementation of waiters' duties, and to determine Waiter's cooperation with other departments at Cavinton Hotel Yogyakarta. The research method carried out is a qualitative method with the method of collecting data on interviews, observations and literature studies. The result of this study is that the implementation of waiter and waitress duties at Cavinton Hotel Yogyakarta is carried out in accordance with the steps taken by the waiter / waitress when serving the Table D'hote or Buffet menu at Shambhala All Day Dinning, namely Greeting the Guest, Escorting and sitting the guest, Presenting the menu, Taking beverage order, Clear up, Crumbing down, Presenting the bill (if there is additional breakfast) and Table setting. Taking orders at Cavinton Hotel Yogyakarta are Taking Orders to receive and record all food and beverage orders, which are then forwarded to relevant departments, such as kitchen, bar, pastry. FB Service collaboration with other departments in Cavinton Hotel Yogyakarta, namely with Front Office, Housekeeping, Steward, Laundry, Purchasing, Accounting, and Human Resources Department.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan tugas waiters, dan untuk mengetahui kerja sama waiter dengan departemen lain di Cavinton Hotel Yogyakarta. Metode penelitian yang dilakukan yaitu metode kualitatif dengan metode pengumpulan data wawancara, observasi dan studi Pustaka. Hasil dari penelitian ini yaitu pelaksanaan tugas waiter dan waitress di Cavinton Hotel Yogyakarta dijalankan sesuai dengan langkah-langkah yang dilakukan oleh Waiter/s pada saat melayani menu Table D’hote atau Buffet di Shambhala All Day Dinning yaitu greeting the guest, escourting and sitting the guest, presenting the menu, taking beverage order, clear up, crumbing down, presenting the bill (jika ada additional breakfast) dan table setting. taking order di Cavinton Hotel Yogyakarta yaitu taking order menerima dan mencatat segala pesanan makanan dan minuman, yang selanjutnya diteruskan ke departemen terkait, seperti kitchen, bar, pastry. Kerjasama FB service dengan departemen lain di Cavinton Hotel Yogyakarta yaitu dengan front office, housekeeping, steward, laundry, purchasing, accounting, dan human reseources departement.
Analisa Pengembangan Wisata Alam dan Budaya Lokal: Studi Kasus di Kecamatan Siberut Selatan, Kepulauan Mentawai
Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation Vol 8, No 1 (2025): April
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jithor.v8i1.76947

Abstract

AbstractWest Sumatra, especially the Mentawai Islands, is a tourist destination that many foreign tourists visit, especially for marine tourism such as surfing. However, the number of archipelago tourist visits solely for traveling is still relatively low. In fact, the Mentawai Islands have the potential for natural and cultural tourism which includes interesting traditional architecture for ecotourism. This study aims to identify the potential of natural attractions, buildings, and local culture in South Siberut sub-district and analyze the tourism development design. The research used qualitative methods through in-depth interviews, focus group discussions (FGDs), field observations, and secondary data analysis. The results showed that the three villages, namely Madobag, Muntei, and Matotonan, have great potential but face challenges in the form of inadequate accessibility, attractions that have not been well managed, limited supporting facilities, and weak Pokdarwis institutions. The design of tourism development in Siberut Sub-district aims to create sustainable tourism that not only increases tourist visits, but also provides economic, social and environmental benefits for local communities AbstrakSumatera Barat, khususnya Kepulauan Mentawai, merupakan destinasi wisata yang banyak dikunjungi wisatawan mancanegara, terutama untuk wisata bahari seperti surfing, tetapi, masih rendah jumlah kunjungan wisatawan nusantara. Padahal, Kepulauan Mentawai memiliki potensi wisata alam dan budaya yang meliputi arsitektur tradisional yang menarik untuk ekowisata. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi objek wisata alam, bangunan, dan budaya lokal di Kecamatan Siberut Selatan serta menganalisis rancang bangun pengembangan wisatanya. Penelitian menggunakan metode kualitatif melalui wawancara mendalam, diskusi kelompok terfokus (FGD), observasi lapangan, dan analisis data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga desa, yaitu Madobag, Muntei, dan Matotonan, memiliki potensi besar dengan sejumlah tantangan berupa aksesibilitas yang kurang memadai, atraksi yang belum dikelola dengan baik, fasilitas pendukung yang terbatas, serta kelembagaan Pokdarwis yang masih lemah. Rancang bangun pengembangan wisata di Kecamatan Siberut bertujuan untuk menciptakan pariwisata berkelanjutan yang tetapi juga memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan bagi masyarakat lokal.
Unveiling the leisure essence of mindful tourism: A hermeneutic phenomenology approach to Generation Z visitor experience in Tahura Bandung
Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation Vol 8, No 2 (2025): October
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jithor.v8i2.90217

Abstract

AbstractThis study explores the travel experiences of Generation Z within the context of mindful tourism. Using a qualitative method with a hermeneutic phenomenological approach, the research aims to deeply understand how Gen Z spends their leisure time through reflective and conscious forms of tourism. Ten informants aged 18–27 were interviewed to uncover the meanings, feelings, situations, emotions, and intentions underlying their travel activities. The hermeneutic approach enables the researcher to view tourism experiences more openly and holistically, allowing the perceptual structure of each individual to be identified in a comprehensive manner.The findings indicate that Gen Z travelers seek meaningful and mindful tourism experiences, particularly during their visits to Tahura. They use these journeys to restore their life energy, reconnect with nature, and find tranquility amidst their fast-paced routines and the overwhelming flow of information from social media. Hermeneutic phenomenology helps frame tourism not merely as an activity, but as an emotional and situational process filled with deeper significance. The implications of this study are expected to reach a wider range of travelers and offer recommendations for various stakeholders to respond to emerging social phenomena more effectively and thoughtfully.AbstrakStudi ini mendeskripsikan pengalaman perjalanan wisatawan Generation Z dalam pengalaman wisata penuh kesadaran. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi hermeneutik untuk memahami aktivitas berwisata Generation Z dalam menghabiskan waktu luangnya dengan pengalaman mindful tourism. Informan yang terlibat dalam penelitian ini sejumlah 12 orang informan dengan rentang usia 18 – 27 tahun. Lebih lanjut, peneliti mencoba mengeksplorasi pengalaman perjalanan wisatawan Generation Z melalui interpretasi dengan pemaknaan yang mendalam, sehingga setiap pengalaman wisatawan dapat dilihat dari sudut perspektif yang lebih terbuka dan nyata. Hal ini sesuai dengan bentuk konsep hermeneutic dalam menemukenali pada struktur persepsi dari pengalaman wisatawan sebagai individu seutuhnya. Interpretasi yang tersirat dari bentuk rasa, situasi, emosi, tindakan dan tujuan dibalik aktivitas wisata pada waktu luang. Temuan dari studi ini menunjukkan bahwa wisatawan Generation Z mencari makna mendalam pada perjalanan mindful tourism ke Tahura untuk mendapatkan kembali energi hidup, menyatu pada alam dan mendapat ketenangan dari rutinitas keseharian yang serba cepat, serta paparan informasi sosial media yang membuat lelah. Studi hermeneutic fenomenologi melihat dari perspektif berwisata yang tidak hanya pada sisi aktivitas di daya tarik saja, melainkan juga pemaknaan dari bentuk emosi dan situasi di balik perjalanan tersebut.
Model Pentahelix dalam Pengembangan Ekowisata Kearifan Lokal Tradisi Nyelamaq di Lauq Desa Tanjung Luar
Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation Vol 7, No 2 (2024): Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation (October)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jithor.v7i2.75081

Abstract

ABSTRACTIndonesia has a variety of maritime cultures, one of which is the Nyelamaq di lauq tradition carried out by the Sulawesi Tribe who inhabit the coast of Tanjung Luar Village. As a maritime cultural heritage of Indonesia, Nyelamaq di lauq has the potential to be developed as a cultural and environmental-based ecotourism. However, currently this potential cannot be managed optimally due to the lack of synergy from various parties in the introduction and management of this tradition. This study aims to analyze and synergize the pentahelix model in the development of ecotourism based on local wisdom of the Nyelamaq di lauq tradition. The method used is exploratory qualitative through a descriptive approach with data analysis using SWOT analysis so that an optimal strategy can be determined to overcome the problems of each stakeholder involved in the pentahelix model. The results of the research conducted show that the pentahelix model has not been fully implemented in the development of ecotourism based on the Nyelamaq di lauq tradition, so that in its development and management each stakeholder involved should optimize their role and synergize between components in the pentahelix model.ABSTRAKIndonesia memiliki beragam budaya maritim, salah satunya yaitu tradisi Nyelamaq di lauq yang dilakukan oleh Suku Sulawesi yang mendiami pesisir Desa Tanjung Luar. Sebagai warisan budaya maritim Indonesia, Nyelamaq di lauq memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai ekowisata berbasis budaya dan lingkungan. Namun, saat ini potensi tersebut belum dapat dikelola secara optimal dikarenakan kurangnya sinergi dari berbagai pihak dalam pengenalan dan pengelolaan tradisi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mensinergikan model pentahelix dalam pengembangan ekowisata berbasis kearifan lokal tradisi Nyelamaq di lauq. Metode yang digunakan yaitu kualitatif eksploratif melalui pendekatan deskriptif dengan analisis data menggunakan analisis SWOT sehingga dapat ditentukan strategi yang optimal untuk mengatasi permasalahan dari setiap stakeholder yang terlibat dalam model pentahelix. Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa model pentahelix belum sepenuhnya diterapkan dalam pengembangan ekowisata berbasis tradisi Nyelamaq di lauq, sehingga dalam pengembangan dan pengelolaannya setiap stakeholder yang terlibat hendaknya mengoptimalisasi peran dan mensinergikannya antar komponen dalam model pentahelix tersebut.
Analisis sentimen ulasan Google Maps pada daya tarik wisata Belitung Timur: Pemanfaatan Big Data untuk rekomendasi pengembangan pariwisata daerah
Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation Vol 9, No 1 (2026): April
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jithor.v9i1.90635

Abstract

AbstractTourism plays an important role in economic growth, cultural identity, and community welfare. East Belitung Regency has diverse tourism potential; however, data from 2020–2024 indicate fluctuations in visitor numbers due to the COVID-19 pandemic and management issues related to tourism attractions. This study analyzes tourist perceptions of nine major tourism attractions through Google Maps reviews, utilizing big data to generate regional tourism policy recommendations. Data were collected through SerpAPI scraping for the 2020–2025 period, yielding 1,933 valid reviews analyzed using a lexicon-based sentiment analysis and word cloud visualization in Jupyter Notebook. The results show that neutral sentiment dominates (50.23%), followed by positive (44.07%) and negative (5.7%). Vihara Dewi Kwan Im and Pantai Serdang emerge as leading tourism attractions, while Kampoeng Fifi and the Replika SD Laskar Pelangi are dominated by neutral reviews, indicating the need for attraction innovation. Meanwhile, the Museum Andrea Hirata and Pantai Nyiur Melambai record relatively higher negative reviews related to pricing, facilities, and cleanliness. Word cloud analysis confirms that natural beauty, spiritual value, and cultural icons are the main strengths, while cleanliness and facility management remain key challenges. These findings highlight the importance of online review big data as an early warning system for adaptive and sustainable tourism policy. AbstrakPariwisata berperan penting dalam pertumbuhan ekonomi, identitas budaya, dan kesejahteraan masyarakat. Kabupaten Belitung Timur memiliki potensi wisata beragam, tetapi data 2020–2024 menunjukkan fluktuasi kunjungan akibat pandemi COVID-19 dan masalah pengelolaan daya tarik wisata. Penelitian ini menganalisis persepsi wisatawan terhadap sembilan daya tarik wisata utama melalui ulasan Google Maps, dengan memanfaatkan big data untuk rekomendasi kebijakan pariwisata daerah. Data diperoleh melalui scraping SerpAPI periode 2020–2025, menghasilkan 1.933 ulasan valid yang dianalisis menggunakan sentiment analysis berbasis kamus dan visualisasi word cloud pada Jupyter Notebook. Hasil menunjukkan sentimen netral mendominasi (50,23%), diikuti positif (44,07%) dan negatif (5,7%). Vihara Dewi Kwan Im dan Pantai Serdang menjadi daya tarik wisata unggulan, sedangkan Kampoeng Fifi dan Replika SD Laskar Pelangi didominasi ulasan netral sehingga memerlukan inovasi atraksi. Museum Andrea Hirata dan Pantai Nyiur Melambai mencatat ulasan negatif lebih tinggi terkait harga, fasilitas, dan kebersihan. Analisis word cloud menegaskan keindahan alam, nilai spiritual, dan ikon budaya sebagai kekuatan utama, sementara kebersihan dan manajemen fasilitas tetap menjadi tantangan. Temuan ini menekankan pentingnya big data ulasan daring sebagai early warning system untuk kebijakan pariwisata adaptif dan berkelanjutan. 
Tipologi dan Karakteristik Desa-Desa Wisata di Provinsi Bangka Belitung
Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation Vol 8, No 1 (2025): April
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jithor.v8i1.78374

Abstract

AbstractThe purpose of this study is to identify the typology and characteristics of rural tourism development in Bangka Belitung Province. The data collection method is carried out by collecting primary data, which consists of the level of development of rural tourism, conditions of tourist attractions, and supporting tourism infrastructure. The data was obtained through an in-depth interview. In addition, data on the potential conditions and problems of each tourist village was sought by conducting observations. The objectives of the study were answered using a descriptive analysis method with a spatial and statistical approach. The results of the analysis show that the development of rural tourism in Bangka Belitung Province includes pioneering, developing, and advanced rural tourism. The characteristics of tourist villages are dominated by coastal and cultural tourism. Accessibility is quite good, with access to most of the land roads, and there is public transportation for rural tourism. The facilities in rural tourism are quite good, starting from the availability of electricity, clean water, telephone and internet networks, homestays, places to eat, and souvenir shops. This study offers a macro-level description of the characteristics of rural tourism in Bangka Belitung Province, thus serving as a basis for broader policy formulation.AbstrakTujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi tipologi dan karakteristik pengembangan desa wisata di Provinsi Banga Belitung. Metode pengumpulan data dilakukan dengan mengumpulkan data primer berupa data tingkat perkembangan desa wisata, kondisi daya tarik wisata serta infrastruktur penunjang pariwisata. Data tersebut diperoleh dengan metode wawancara mendalam. Selain itu dicari data kondisi potensi dan masalah yang dimiliki oleh setiap desa wisata dengan melakukan observasi. Tujuan penelitian tersebut dijawab menggunakan metode analisis deskriptif dengan pendekatan spasial dan statistik. Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa perkembangan desa wisata yang ada di Provinsi Bangka Belitung dikategorikan kedalam desa wisata rintisan, berkembang dan maju. Karakteristik atraksi desa-desa wisata didominasi oleh wisata pantai dan budaya. Aksesibilitas cukup baik dengan akses mayoritas jalan darat dan terdapat angkutan umum menuju desa-desa wisata tersebut. Amenitas desa-desa wisata cukup baik mulai dari ketersediaan listrik, air bersih, jaringan telepon dan internet, homestay, tempat makan serta toko oleh-oleh. Penelitian ini memberikan gambaran karakteristik desa wisata secara makro dalam wilayah Provinsi Bangka Belitung sehingga dapat digunakan sebagai dasar pembuatan kebijakan.
The Effect of Products and Services on The Intention to Revisit Coastal Tourism Destinations in Madura Island
Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation Vol 7, No 1 (2024): Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation (April)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jithor.v7i1.62932

Abstract

ABSTRACTTourism is a strategic sector that has a multiplier effect on other sectors, including reducing poverty and increasing the income of residents around the destination. This is evidenced by the increase in the country's foreign exchange. Its potential must be maximized by making destinations friendly and comfortable for tourists, to create satisfaction and good experiences that lead to revisit. There is a strong hypothesis about the role of tourist destination products and services in increasing tourist satisfaction. Therefore, this research aims to explore the effect of destination products and services on tourists' intention to revisit. Using convenience sampling techniques, 89 tourists from Batu Kerbuy Beach, Pamekasan and Telaga Biru Beach, Bangkalan were interviewed. We found that tourists were dissatisfied with 4 types of products and services, namely service; cleanliness of service employees; courtesy of service employees; and availability of public transportation. Meanwhile, perception of accommodation and food and drink quality varied (there was no dominant perception). This needs to be resolved because ordered probit regression analysis shows that products and services (facilities) were found to have a positive effect on tourists' intention to revisit. In addition, age, income, fulfillment of needs, and assessment of destinations that are worth it have a positive effect on tourist intentions. This study can be a scientific consideration for local governments to make policies. ABSTRAKPariwisata adalah sektor strategis yang memberikan multiplier efek pada sektor lainnya, diantaranya mengurangi kemiskinan dan meningkatkan pendapatan penduduk sekitar destinasi. Hal itu dibuktikan oleh peningkatan devisa negara. Potensinya harus dimaksimalkan dengan cara membuat destinasi yang ramah dan nyaman bagi wisatawan, supaya menciptakan kepuasan dan pengalaman yang baik sehingga berujung pada kunjungan kembali. Ada hipotesis yang kuat terhadap peran produk dan jasa destinasi wisata terhadap peningkatan kepuasan wisatawan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi efek produk dan jasa destinasi terhadap niat wisatawan untuk berkunjung kembali. Wawancara dengan teknik convenience sampling dilakukan kepada 89 wisatawan Pantai Batu Kerbuy, Pamekasan dan Pantai Telaga Biru, dan Bangkalan. Kami menemukan bahwa wisatawan tidak puas terhadap 4 jenis produk dan jasa, yakni pelayanan; kerapian petugas pelayanan; kesopanan petugas pelayanan; dan transportasi umum. Sedangkan persepsi terhadap akomodasi dan kualitas makanan dan minuman bervariasi (tidak ada persepsi yang dominan). Hal ini perlu diselesaikan karena analisis regresi ordered probit menunjukkan bahwa produk dan jasa (fasilitas) ditemukan memiliki efek positif terhadap niat wisatawan untuk berkunjung kembali. Selain itu, usia, pendapatan, pemenuhan kebutuhan, dan penilaian destinasi yang worth it ditemukan memiliki efek positif terhadap niat wisatawan. studi ini bisa menjadi pertimbangan ilmiah bagi pemerintah daerah untuk membuat kebijakan.
Muslim-Friendly Tourism attributes: A summary of studies from 2014 to 2024
Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation Vol 7, No 2 (2024): Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation (October)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jithor.v7i2.75953

Abstract

ABSTRACTThis research examines MFT-related publications from 2014 to 2024 by systematically identifying attributes relevant to Muslim-friendly tourism. The purpose of this study is to develop a classification of Muslim Friendly Tourism attributes using qualitative methods. The findings of this research show an adaptation of general tourism attributes into Muslim-friendly consisting of appearance, accessibility, attraction, amenities, accommodation, available package, activities, and appraisal (8As of MFT Attributes). These findings are derived from the analysis of 20 previous research publications, comprising 44 items of Muslim tourists' needs during their travels. These unique needs are categorized into three priority scales: high, medium, and low. The implications of this research enable the development of more effective and efficient strategies in destination management. Furthermore, the industry can adapt to the globally evolving preferences and specific needs of Muslim tourists.ABSTRAKPenelitian ini mengkaji publikasi terkait MFT dari tahun 2014 hingga 2024 dengan mengidentifikasi secara sistematis atribut-atribut yang relevan dengan pariwisata ramah Muslim. Tujuan dari penelitian ini adalah menyusun klasifikasi atribut Muslim Friendly Tourism dengan metode kualitatif. Temuan dari penelitian ini adalah hasil adaptasi atribut pariwisata umum ke dalam ramah muslim yang terdiri dari appearance, accesibility, attraction, amenities, accommodation, available package, activities dan appraisal (8A of MFT Attributes). Temuan tersebut hasil dari analisis 20 literatur penelitian terdahulu yang terdiri dari 44 item kebutuhan wisatawan Muslim selama perjalanan wisata.  Kebutuhan unik tersebut dikategorikan ke dalam tiga skala prioritas yakni: tinggi, sedang, dan rendah. Implikasi dari penelitian ini memungkinkan penyusunan strategi yang lebih efektif dan efisien dalam pengelolaan destinasi. Selain itu, industri dapat beradaptasi dengan preferensi dan kebutuhan khusus wisatawan Muslim yang berkembang secara global.
An elderly-friendly tourism management model in Berastagi
Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation Vol 8, No 2 (2025): October
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jithor.v8i2.81482

Abstract

AbstractElderly-friendly tourism is becoming increasingly important as the elderly population increases, but many tourist destinations do not yet provide accessibility and services that meet the needs of this group. Previous studies have placed more emphasis on the development of theoretical frameworks, while implementation in the field is still limited and often does not take into account the social realities of tourist destinations. This study analyzes the elderly-friendly tourism management model in Berastagi by identifying obstacles in terms of accessibility, facilities, services, and safety based on the direct experience of elderly tourists. A mixed method  approach is used to obtain layered data, but this study consciously emphasizes more on a qualitative approach because the main focus is to explore the meanings, perceptions, and subjective experiences of the elderly as the basis for the formulation of management models. The survey of 100 elderly tourists only serves as a comparison to enrich qualitative analysis, in-depth interviews and participatory observations. The findings show that there is a gap between the availability of facilities and real access felt by the elderly, especially related to transportation, health services, and training of tourism workers. Based on these findings, this study offers a management model based on universal design and inclusive tourism that emphasizes policy integration, adaptive infrastructure, and improving service quality as a strategy towards sustainable elderly-friendly destinations.AbstrakPariwisata ramah lansia menjadi semakin penting seiring dengan meningkatnya populasi lanjut usia, namun banyak destinasi wisata belum menyediakan aksesibilitas dan layanan yang sesuai dengan kebutuhan kelompok ini. Studi sebelumnya lebih banyak menekankan pada pengembangan kerangka teoritis, sementara implementasi di lapangan masih terbatas dan sering tidak mempertimbangkan realitas sosial di destinasi wisata. Penelitian ini menganalisis model pengelolaan wisata ramah lansia di Berastagi dengan mengidentifikasi hambatan pada aspek aksesibilitas, fasilitas, layanan, dan keselamatan berdasarkan pengalaman langsung wisatawan lanjut usia. Pendekatan metode campuran digunakan untuk memperoleh data yang berlapis, namun penelitian ini secara sadar memberikan penekanan lebih kuat pada pendekatan kualitatif karena fokus utama adalah menggali makna, persepsi, dan pengalaman subjektif lansia sebagai dasar perumusan model pengelolaan. Survei terhadap 100 wisatawan lansia hanya berfungsi sebagai pembanding untuk memperkaya analisis kualitatif dari wawancara mendalam dan observasi partisipatif. Temuan menunjukkan adanya kesenjangan antara ketersediaan fasilitas dan akses nyata yang dirasakan oleh lansia, khususnya terkait transportasi, layanan kesehatan, dan pelatihan staf wisata. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini menawarkan model pengelolaan berbasis desain universal dan pariwisata inklusif yang menekankan integrasi kebijakan, infrastruktur