cover
Contact Name
Reiza Miftah Wirakusuma
Contact Email
jithor@upi.edu
Phone
-
Journal Mail Official
jithor@upi.edu
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation
ISSN : 26543893     EISSN : 26544687     DOI : -
Journal of Indonesian Tourism, Hospitality, and Recreation (Jurnal Pariwisata, Perhotelan dan Rekreasi Indonesia) merupakan jurnal ilmiah yang diterbitkan dua keluaran (issues) dalam setahun pada bulan April dan Oktober. Redaksi juga turut mengundang para peneliti dan praktisi untuk dapat mengirimkan artikel berupa laporan hasil penelitian, pemikiran-pemikiran, maupun tulisan akademik, khususnya yang berkaitan dengan kepariwisataan, perhotelan dan rekreasi luar ruang. Perlu dipahami sebelumnya, artikel yang hendak dikirimkan merupakan artikel yang belum pernah dimuat atau dipublikasikan di jurnal berkala ilmiah lainnya.
Arjuna Subject : -
Articles 120 Documents
Analisis faktor Community-Based Participatory Framework untuk pengembangan Urban Village Tourism: Studi Kasus kampung tematik di Kota Sukabumi Novianti, Syifaa; Susanto, Eko; Septyandi, Chandra Budhi
Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation Vol 7, No 1 (2024): Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation (April)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jithor.v7i1.62930

Abstract

Pemerintah Kota Sukabumi, melalui Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) telah mencanangkan 7 Kampung Tematik pada tahun 2021 dengan pertimbangan sumber daya wisata dan ekonomi kreatif di wilayah tersebut. Penetapan kampung tematik merupakan upaya Pemerintah Kota Sukabumi untuk memberikan nilai tambah ekonomis dari sisi ekonomi kreatif dan pariwisata untuk kesejahteraan masyarakat yang lebih luas. Konsep kampung tematik tidak hanya pembentukan kegiatan pariwisata dan ekonomi yang berbasis masyarakat, tetapi juga penciptaan ruang kampung berciri khas yang berkelanjutan Namun, meskipun manfaatnya sangat besar, dalam perencanaan dan praktiknya kampung tematik sebagai bagian dari CBT ini mempunyai banyak tantangan. Membangun partisipasi masyarakat dalam kegiatan pariwisata dapat terhalang oleh adanya konflik antar kepentingan dalam masyarakat, kurangnya kepercayaan, dan bahkan minimnya kapabilitas masyarakat itu sendiri dalam mengelola sumber daya. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor dalam merumuskan model kerangka kerja partisipasi masyarakat (community-based participatory framework) untuk kampung tematik dalam mewujudkan pengelolaan destinasi wisata partisipatif. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan metode deskriptif verifikatif. Variable partisipasi masyarakat dan determinannya (community attachment dan involvement, perceived benefits dan costs) dalam konteks CBT diadopsi dan kajian pustaka terkait. Survei dengan berbasis instrument kuesioner dilakukan kepada masyarakat dan pengelola pada Kampung Tematik di Kota Sukabumi. Validitas dan reliabilitas variable konstruk serta analisis karakteritik masyarakat akan dilakukan dengan uji deskriptif analisis dengan SPSS. Sedangkan pengujian model dianalisis dengan menggunakan Structural Equation Modelling (SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan masyarakat terhadap pengembangan pariwisata sangat dipengaruhi oleh manfaat dan biaya yang dirasakan oleh masyarakat (perceived benefit and cost). Lebih lanjut, faktor manfaat dan biaya dirasakan oleh masyarakat ini juga memainkan peran penting sebagai katalisator hubungan antara keterikatan dan keterlibatan masyarakat (community attachment and involvement) dengan dukungan mereka terhadap pengembangan pariwisata di Kampung Tematik Kota Sukabumi. Pengaruh faktor-faktor tersebut pada dukungan pengembangan kepariwisataan menekankan bahwa dalam merumuskan kerangka kerja partisipasi masyarakat (community-based participatory framework) perlu menitikberatkan perencanaan partisipatif, di mana anggota masyarakat terlibat aktif dalam mengidentifikasi sumber daya pariwisata, memetakan aset, dan menetapkan tujuan lingkungan. Hal ini juga berfokus pada menghasilkan pendapatan tambahan bagi masyarakat dalam jangka panjang. Secara keseluruhan, hasil dari penelitian ini mendukung bahwa kerangka partisipatif berbasis masyarakat dalam pariwisata diharapkan dapat mendorong pendekatan kolaboratif dan inklusif yang memberdayakan masyarakat lokal dan menjamin keberlanjutan inisiatif pariwisata dalam jangka panjang.  
Work-Life Balance as the Outcome of Boundary Management among Hotel Employees: The Moderating Role of Goal-Self Concordance Shu, Efin; Edward, Yusuf Ronny
Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation Vol 6, No 2 (2023): Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation (October)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jithor.v6i2.58238

Abstract

AbstractTourism and hotel industries position themselves to grow on after the pandemic. As the Hotel industry has entered the recovery stage, the management is back to experiencing some classic human resources issues such as long working hours, shift duties, etc. This results in a lack of Work-Life Balance (WLB) among most hotel employees. This research aims to find out if boundary management influences work-life balance moderated by goal-self concordance. This research uses Structural Equation Modeling (SEM) with Partial Least Square (PLS) version 4.0 software as the analysis tool. With the convenience sampling method, the number of samples collected is 99 employees. Data collection is conducted by distributing Google Forms to hotel employees. The data has passed all criteria of the outer model test. For the result of the inner model test, Boundary Management has a moderate level of influence on WLB by 58.6%. The result of the effect size f2 shows that Boundary Management influences WLB by 0.283. The two-tail test also shows that Boundary Management influences WLB. However, the Goal-Self Concordance does not moderate between Boundary Management and WLB. Theoretically, employees need to develop their personal goals to achieve this Balance. Practically, the hotel is recommended to improve their employees’ WLB by giving them autonomy to choose their work schedule and discuss about setting boundaries between work and family.AbstrakIndustri pariwisata dan perhotelan memposisikan diri untuk terus tumbuh setelah pandemi. Ketika industri Perhotelan telah memasuki tahap pemulihan, pihak manajemen kembali mengalami beberapa permasalahan klasik sumber daya manusia seperti jam kerja yang panjang, tugas shift, dan lain-lain. Hal ini mengakibatkan kurangnya Work-Life Balance (WLB) di antara sebagian besar karyawan hotel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah manajemen batasan berpengaruh terhadap work-life balance yang dimoderatori oleh goal-self concordance. Penelitian ini menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) dengan software Partial Least Square (PLS) versi 4.0 sebagai alat analisisnya. Adanya metode convenience sampling, jumlah sampel yang dikumpulkan adalah 99 karyawan. Pengumpulan data dilakukan dengan cara menyebarkan Google Form kepada karyawan hotel. Data telah lolos seluruh kriteria uji model luar. Untuk hasil uji inner model, Manajemen Batas mempunyai tingkat pengaruh sedang terhadap WLB sebesar 58,6%. Hasil effect size f2 menunjukkan Manajemen Batas mempengaruhi WLB sebesar 0,283. Uji dua sisi juga menunjukkan bahwa Manajemen Batas berpengaruh terhadap WLB. Namun, Goal-Self Concordance tidak memoderasi antara Manajemen Batas dan WLB. Secara teoritis, karyawan perlu mengembangkan tujuan pribadi mereka untuk mencapai Keseimbangan ini. Praktisnya, pihak hotel disarankan untuk meningkatkan WLB karyawannya dengan memberikan kebebasan memilih jadwal kerja dan mendiskusikan batasan antara pekerjaan dan keluarga.
Pariwisata dan SDG8 di Pasar Terapung Lok Baintan, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan Wibowo DC, Yesi Pandu Pratama; Ayu, Jati Paras; Hamdani, Ayu Rakhmi Tiara
Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation Vol 7, No 1 (2024): Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation (April)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jithor.v7i1.68241

Abstract

Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB/SDGs) yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menjadi agenda global untuk mencapai pembangunan berkelanjutan hingga tahun 2030. Befokus pada Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Indonesia, yang telah mengadopsi SDGs dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi Pasar Terapung Lok Baintan, sebagai destinasi wisata unggulan di Kalimantan Selatan, dalam upaya pencapaian pariwisata berkelanjutan khususnya pada SDGs tujuan 8, yaitu pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, dan mengidentifikasi hambatan serta tantangan yang dihadapi. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melibatkan wawancara, observasi, dan studi literatur, dengan informan kunci dari pemerintah daerah, kelompok sadar wisata, masyarakat lokal, dan pihak swasta yang terlibat. Hasil penelitian menunjukan bahwa meskipun pariwisata Pasar Terapung Lok Baintan memberi peluang kerja yang layak sesuai dengan SDGs tujuan 8, tantangan yang dihadapi seperti kurangnya diversifikasi pelaku pariwisata dan partisipasi masyarakat yang masih pasif, memerlukan upaya lebih lanjut untuk mencapai pembangunan pariwisata yang berkelanjutan di Lok Baintan. Oleh karena itu, pengembangan kompetensi SDM pariwisata, diversifikasi pelaku pariwisata, monitoring program pelatihan, dan kesempatan partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci dalam menciptakan lapangan kerja yang layak dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di Pasar Terapung Lok Baintan.
Keterlibatan Perempuan dalam Pengelolaan Aktivitas Wisata Studi Kasus Desa Ekowisata Pancoh, Yogyakarta Mulyasari, Runavia; Maizida, Karlina
Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation Vol 7, No 2 (2024): Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation (October)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jithor.v7i2.71362

Abstract

ABSTRACTThis study explores women's participation in managing community-based tourism in Pancoh Ecotourism Village. Strengthening women’s roles as innovators, leaders, and decision-makers is crucial for tourism recovery post-pandemic. Using a qualitative approach, data were collected through semi-structured interviews and focus group discussions (FGD) with 35 participants, including tourism actors, business managers, youth communities, women activists, and academics. Over 12 months, interviews, FGDs, and seminars were conducted to assess the level of female involvement in tourism management. The findings reveal that although women actively participate in tourism activities, only a few hold leadership positions or serve as decision-makers.Women's participation is categorized into two main groups:older women who manage accommodations (homestays) and younger women involved in guiding tours. Socio-cultural values, particularly the perception that women are primarily responsible for domestic duties, limit their involvement in higher-level management. This research highlights the need for more inclusive tourism planning that involves women and youth in leadership roles, contributing to a more equitable development of tourism.ABSTRAKPenelitian ini mengeksplorasi partisipasi perempuan dalam pengelolaan pariwisata di Desa Ekowisata Pancoh. Penguatan peran perempuan sebagai inovator, pemimpin, dan pengambil keputusan menjadi penting dalam pemulihan pariwisata pasca pandemi. Dengan pendekatan kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan diskusi kelompok terarah yang melibatkan 35 peserta, termasuk pelaku pariwisata, pengelola bisnis, kelompok pemuda, aktivis, dan akademisi. Hasil penelitian yang dilakukan selama 12 bulan menunjukkan bahwa meskipun perempuan aktif dalam kegiatan pariwisata, hanya sedikit yang menduduki posisi kepemimpinan atau pengambil keputusan. Partisipasi perempuan dibagi menjadi dua kelompok utama: pengelola homestay dan pemandu wisata. Nilai-nilai sosial-budaya, terutama anggapan bahwa perempuan memiliki tanggung jawab utama di ranah domestik, membatasi keterlibatan mereka dalam manajemen tingkat atas sehingga, diperlukan adanya perencanana pariwisata yang lebih inklusif.
Perspektif Overtourism di Kawasan Wisata Canggu: Indentifikasi Canggu diantara Euphoria dan Annoyance Putra, Dewa Putu Kiskenda Erwanda; Trimandala, Nyoman Agus
Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation Vol 7, No 2 (2024): Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation (October)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jithor.v7i2.75762

Abstract

ABSTRACTThe Canggu paradigm leads to overtourism by (a) Traffic in Canggu (b) competition for human resources; (c) waste disposal that hasn’t handled properly; (d) crime and violence often occur between tourists and local people in Canggu. A disharmonious relationship between guests and hosts as an accumulation of Canggu tourism development. This aims to identify the position Canggu tourism area in the perspective of overtourism by the irritation index. This research uses descriptive statistical techniques with likert on the perception between hosts and guests with 6 measuring aspects. The location is centered in (1) Batu Bolong Beach area, (2) Batu Mejan and (3) Berawa Village. The interactions formed are (1) The host who receive benefits will certainly provide a positive response and support the development of tourism in Canggu. Although there are still people who don’t get any benefits and tend to oppose and be apathetic about the development of Canggu tourism. Likewise, (2) the perception of guests on average gives a fairly good perception of the development of Canggu including the social interactions formed within it. So this pattern indicates that there is an apathetic relationship between guests and hosts as an accumulation of the turmoil of the development of Canggu tourism. ABSTRAKParadigma Canggu mengarah pada terjadinya overtourism ditandai dengan (a) kepadatan dan kesan macet pada citra Canggu (b) perebutan dan persaingan SDM; (c) pembuangan limbah yang belum diatasi dengan baik; (d) isu kriminalitas dan kekerasan kerap terjadi diantara wisatawan dan masyarakat lokal di Canggu. Ini menandakan terjadinya hubungan tidak harmonis diantara guest dan host atas gejolak perkembangan pariwisata Canggu. Ini bertujuan mengidentifikasi posisi kawasan wisata Canggu dalam prespektif overtourism diukur dengan indeks iritasi. Riset ini menggunakan teknik statistik deskriptif dengan skala likert pada persepsi antara masyarakat lokal (Host) dan wisatawan (guest) dengan 6 aspek pengukur. Lokasi penelitian dipusatkan pada 3 lokasi kawasan wisata Canggu yaitu (1) kawasan Pantai Batu Bolong, (2) Desa Batu Mejan, serta (3) Desa Berawa. Interaksi yang terbentuk adalah (1) masyarakat Canggu memperoleh manfaat akan memberikan tanggapan positif dan mendukung pengembangan pariwisata di Canggu. Walaupun tetap ada masyarakat yang kurang mendapatkan manfaat cenderung menentang dan bersikap apatis (acuh tak acuh) tentang pengembangan pariwisata Canggu. Demikian halnya pada (2) persepsi wisatawatan (guest) rata rata memberikan persepsi yang cukup baik terhadap perkembangan Canggu termasuk interaksi sosial yang terbentuk. Pola ini menandakan bahwa terjadinya hubungan yang apatis diantara wisatawan (guest) dan tuan rumah (host) sebagai akumulasi atas gejolak perkembangan pariwisata Canggu.
Pengaruh Tingkat Keamanan, Kenyamanan dan Produk Wisata terhadap Sustainable Tourism di Ponorogo Wijianto, Wijianto; Ulfah, Ika Farida; Mustoffa, Ardyan Firdausi
Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation Vol 7, No 2 (2024): Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation (October)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jithor.v7i2.71828

Abstract

ABSTRACTPonorogo Regency has 21 sub-districts with a population of 949,320 people, and also has quite a lot of tourism potential. In 2022, there will be 312 tourist locations spread across 21 sub-districts. This tourism potential is certainly a potential that must be developed to encourage economic growth in the community. The aim of this research is to test and analyze the influence of the level of security, comfort and tourism products on sustainable tourism in Ponorogo. The population of this study were tourists visiting the Ponorogo area, with a sample size of 100 people. The analysis technique used in this research is multiple linear regression analysis with the help of SPSS software. These results prove that sustainable tourism in Ponorogo Regency is significantly influenced by the level of security, comfort and tourism products.ABSTRAKKabupaten Ponorogo memiliki 21 kecamatan dengan jumlah penduduk 949.320 jiwa, dan juga memiliki potensi pariwisata yang cukup banyak. Pada tahun 2022 nanti akan terdapat 312 lokasi wisata yang tersebar di 21 kecamatan. Potensi pariwisata tersebut tentunya menjadi potensi yang harus dikembangkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji dan menganalisis pengaruh tingkat keamanan, kenyamanan dan produk wisata terhadap pariwisata berkelanjutan di Ponorogo. Populasi penelitian ini adalah wisatawan yang berkunjung ke daerah Ponorogo, dengan jumlah sampel sebanyak 100 orang. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linier berganda dengan bantuan software SPSS. Hasil tersebut membuktikan bahwa pariwisata berkelanjutan di Kabupaten Ponorogo dipengaruhi secara signifikan oleh tingkat keamanan, kenyamanan dan produk wisata.
Assessing Indigenous Community Sustainability Aspects in The Development of Coastal Tourism Areas Dabamona, Samsudin Arifin; Salim, Mursalam
Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation Vol 7, No 2 (2024): Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation (October)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jithor.v7i2.75865

Abstract

ABSTRACTThe objective of this study is to gain insight into the perspectives of indigenous communities residing in three traditional villages regarding the growth of coastal tourism in Hamadi-Holtekamp Jayapura, Papua. Additionally, the study attempts to identify the elements contributing to the sustainability of these communities as a consequence of the tourism development. The study employed a theme analysis approach, combining two primary methods for data collection: individual semi-structured interviews and observation. The results reveal three main themes: coastal tourism and social responsibility, coastal tourism and environmental exploitation, and loss of cultural values. This study reveals the ways in which coastal tourism, although still offering beneficial prospects, can also pose obstacles to the long-term viability of indigenous communities. Various measures are proposed, such as actively considering and giving priority to the sustainable future of indigenous communities as a collective and fostering increased engagement and collaboration with them. Furthermore, the tourism industry and local governments need to position them as equal partners in the tourism industry and establish a tourism development concept that maintains the sustainability of the socio-cultural environment and establishes positive relationships with various parties to avoid conflicts within indigenous communities or outside indigenous communities.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk memahami persepsi masyarakat adat di tiga desa di Hamadi-Holtekamp, Jayapura, Papua, terhadap pertumbuhan pariwisata pesisir. Selain itu, penelitian ini mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi keberlanjutan masyarakat adat dalam konteks pengembangan pariwisata. Melalui pendekatan analisis tematik dan pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan observasi, penelitian ini mengungkap tiga tema utama: tanggung jawab sosial dalam pariwisata, eksploitasi lingkungan, dan pengikisan nilai-nilai budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pariwisata pesisir, meski membawa peluang ekonomi, juga menimbulkan tantangan bagi kelangsungan hidup masyarakat adat. Oleh karena itu, penelitian ini menyarankan pentingnya mempertimbangkan masa depan masyarakat adat secara berkelanjutan, meningkatkan partisipasi mereka dalam perencanaan pariwisata, serta membangun kemitraan yang setara antara industri pariwisata, pemerintah, dan masyarakat adat. Pendekatan ini diharapkan dapat mendorong pengembangan pariwisata yang berkelanjutan secara sosial, budaya, dan lingkungan, serta mencegah konflik di dalam dan luar komunitas adat.
Application of the Two-Step Cluster Method in Menu Engineering Analysis at The Alts Hotel Restaurant Palembang, South Sumatra Lesmana, Andhika Chandra; Setiawan, Agus
Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation Vol 7, No 2 (2024): Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation (October)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jithor.v7i2.72135

Abstract

ABSTRACTThis research elucidate interm of Hospitality Industry Business especially in Hotel Business, hence restaurants and food businesses as the ones of profit center in hotel often face the challenge of developing menus that are attractive to customers, but also efficient in terms of costs and resources. Effective menu development using the menu engineering method (Menu-Engineering) can increase revenue while achieving customer satisfaction. Therefore, this research uses the menu engineering method as the main basis which aims to identify and analyze existing menus. Furthermore researchers see that selecting a method using Menu-Engineering alone is not enough, especially for determining restaurant management strategy steps to reach the optimal point. Therefore, researchers conducted an in-depth study using the Two-Step Cluster method which is expected to be able to design a menu engineering strategy that can help restaurants increase sales and operational efficiency optimaly. The research object was 5 Stars Hotel in City of Palembang namely “The Alts Hotel”.ABSTRAKPenelitian ini menjelaskan bahwa dalam Industri Perhotelan khususnya Bisnis Hotel, maka Restoran dan bisnis makanan sebagai salah satu “profit center” di hotel seringkali menghadapi tantangan dalam mengembangkan menu yang menarik bagi pelanggan, namun juga efisien dari segi biaya dan sumber daya. Pengembangan menu yang efektif dengan metode rekayasa menu (Menu-Engineering) dapat meningkatkan pendapatan sekaligus mencapai kepuasan pelanggan. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan metode rekayasa menu sebagai landasan utama yang bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis menu-menu yang ada. Lebih lanjut Peneliti melihat bahwa pemilihan metode dengan menggunakan Menu-Engineering saja tidak cukup, terutama untuk menentukan langkah-langkah strategi pengelolaan restoran hingga mencapai titik optimal. Oleh karena itu, peneliti melakukan kajian mendalam dengan menggunakan metode Two-Step Cluster yang diharapkan mampu merancang strategi rekayasa menu yang dapat membantu restoran meningkatkan penjualan dan efisiensi operasional secara optimal. Objek penelitiannya adalah Hotel Bintang 5 di Kota Palembang yaitu “The Alts Hotel”.
Tourism Village Digitalization Strategy to Increase the Diversification of Tourist Attractions in Lebakmuncang Village, Ciwidey District Pratama, Armandha Redo; Sukriah, Erry; Hindayani, Purna; Ihsan, Haikal Muhammad; Marhanah, Sri
Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation Vol 7, No 2 (2024): Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation (October)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jithor.v7i2.75846

Abstract

ABSTRACTLebakmuncang Tourism Village, Ciwidey District requires an adaptation in increasing the diversification of tourist attractions. Comprehensive and attractive digitalization needs to be carried out to maximize the promotion of Tourism Villages. This research aims to analyze digitalization strategies that are suitable for implementation in the Lebakmuncang Tourism Village with a diversification approach to tourist attractions. The method used in this research is descriptive qualitative with the variable diversification of tourist attractions which has indicators of Tourist Village Structure, potential for tourist attractions, Sapta Pesona, homestay management, digital marketing and digitalization of virtual tours. Based on the analysis, it was found that the challenges faced by the Lebakmuncang Tourism Village are based on minimal management knowledge and the lack of development of existing information media, apart from that the management has not been optimal in improving the branding image of the tourist village through the use of technology. You can diversify tourist attractions in the Lebakmuncang Tourism Village by creating a 360 virtual tour scheme. Virtual tour technology using a 360 camera can be a solution for digitizing tourist attractions in the Lebakmuncang tourist village. Six indicators of the diversification variable of tourist attractions can be created into a 360 virtual tour scheme, which offers authenticity and virtual experience of tourist attraction locations.ABSTRAKDesa Wisata Lebakmuncang, Kecamatan Ciwidey membutuhkan suatu adaptasi dalam peningkatan diversifikasi atraksi wisata. Digitalisasi secara komprehensif dan menarik perlu dilakukan untuk memaksimalkan promosi Desa Wisata. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi digitalisasi yang cocok di terapkan di Desa Wisata Lebakmuncang dengan pendekatan diversifikasi atraksi wisata. Metode yang dilakukan pada penelitian ini yaitu kualitatif deskriptif dengan variabel diversifikasi atraksi wisata yang memiliki indikator strukur Desa Wisata, potensi atraksi wisata, sapta pesona, pengelolaan homestay, pemasaran digital dan digitalisasi virtual tour. Berdasarkan analisis ditemukan bahwa tantangan yang dihadapi pada Desa Wisata Lebakmuncang berporos pada pengetahuan tatakelola yang minim dan belum berkembangnya media informasi yang ada, selain itu juga pengelola belum optimal dalam meningkatkan branding image desa wisata melalui pemanfaatan teknologi. Teknologi virtual tour menggunakan kamera 360 dapat menjadi solusi untuk digitalisasi atraksi wisata di Desa Wisata Lebakmuncang. Enam indikator dari variabel diversifikasi atraksi wisata dapat dibuat skema virtual tour 360, yang dimana menawarkan keaslian serta pengalaman secara virtual lokasi atraksi wisata.
Analysis of The Application of Ecotourism Principles In Indonesian Natural Tourism Destinations: A Literature Review Mokodongan, Trisagia
Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation Vol 7, No 2 (2024): Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation (October)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jithor.v7i2.73637

Abstract

ABSTRACTEcotourism proliferates in many countries worldwide and is considered an attractive solution to meet the needs of the environment and tourism development. Ecotourism development faces various challenges and maintains consistent application of ecotourism principles. Therefore, this paper seeks to analyse the application of ecotourism principles in natural tourism destinations in Indonesia. The principles studied in this paper are the element of conservation, the element of local community involvement, and the element of interpretation according to the definition of The International Ecotourism Society. This paper uses the literature review method to explore data. The literature search database used is Google Scholar. The results showed that not all ecotourism destinations apply the principles of ecotourism. All ecotourism destinations utilise natural and cultural resources. The principle of conservation that is maintained is only found in national parks. Interpretation is the principle that is most often not applied in ecotourism destinations.ABSTRAKEkowisata berkembang di banyak negara di seluruh dunia dan dianggap sebagai solusi yang menarik untuk memenuhi kebutuhan lingkungan dan pengembangan pariwisata. Pengembangan ekowisata menghadapi berbagai tantangan untuk mempertahankan penerapan prinsip-prinsip ekowisata secara konsisten. Oleh karena itu, tulisan ini berusaha menganalisis penerapan prinsip-prinsip ekowisata di destinasi wisata alam di Indonesia. Prinsip-prinsip yang dikaji dalam tulisan ini adalah unsur konservasi, unsur pelibatan masyarakat lokal, dan unsur interpretasi sesuai dengan definisi The International Ecotourism Society. Artikel ini menggunakan metode tinjauan literatur untuk menggali data. Basis data pencarian literatur yang digunakan adalah Google Scholar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak semua destinasi ekowisata menerapkan prinsip-prinsip ekowisata. Semua destinasi ekowisata memanfaatkan sumber daya alam dan budaya. Prinsip konservasi yang dipertahankan hanya terdapat pada taman nasional. Interpretasi merupakan prinsip yang paling sering tidak diterapkan di destinasi ekowisata.

Page 11 of 12 | Total Record : 120