cover
Contact Name
Reiza Miftah Wirakusuma
Contact Email
jithor@upi.edu
Phone
-
Journal Mail Official
jithor@upi.edu
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation
ISSN : 26543893     EISSN : 26544687     DOI : -
Journal of Indonesian Tourism, Hospitality, and Recreation (Jurnal Pariwisata, Perhotelan dan Rekreasi Indonesia) merupakan jurnal ilmiah yang diterbitkan dua keluaran (issues) dalam setahun pada bulan April dan Oktober. Redaksi juga turut mengundang para peneliti dan praktisi untuk dapat mengirimkan artikel berupa laporan hasil penelitian, pemikiran-pemikiran, maupun tulisan akademik, khususnya yang berkaitan dengan kepariwisataan, perhotelan dan rekreasi luar ruang. Perlu dipahami sebelumnya, artikel yang hendak dikirimkan merupakan artikel yang belum pernah dimuat atau dipublikasikan di jurnal berkala ilmiah lainnya.
Arjuna Subject : -
Articles 150 Documents
Desa Borobudur sebagai Pendukung Kawasan Destinasi Pariwisata Super Prioritas Candi Borobudur: Sebuah Analisis Komponen Wisata
Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation Vol 7, No 1 (2024): Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation (April)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jithor.v7i1.67817

Abstract

ABSTRACTOne of the policies taken by the Indonesian government to encourage tourism is to establish Super Priority Tourism Destinations, of which Borobudur Temple is one of them. To support this, villages around Borobudur Temple are also encouraged to develop their respective tourism potential, especially Borobudur Village. This is because administratively Borobudur Temple is in the administrative area of Borobudur Village. The aim of this research is to analyze the components of tourist destinations in Borobudur Village. This research uses qualitative methods by collecting data through focus group discussions, in-depth interviews, observation and literature study. The research results show that the attraction components are complete from natural, cultural and artificial attractions. Accessibility is still constrained by the width of the entrance roads to several tourist attractions, the availability of parking spaces and the optimization of directions to the Tourism Village. In the amenities component, supporting facilities are available ranging from accommodation, shopping, health services, banking, but the quantity and quality still need to be improved. In the ansillery component, the parties involved in tourism activities in Borobudur Village are quite diverse, both at the central and village levels. BUMDes Graha Mandala and the Borobudur Tourism Village Team have shown positive contributions in developing tourism in Borobudur Village. It's just that communication between tourism actors at all levels needs to be improved so that stakeholder aspirations can be accommodated optimally.ABSTRAKSalah satu kebijakan yang diambil pemerintah Indonesia untuk mendorong pariwisata adalah menetapkan Destinasi Pariwisata Super Prioritas dimana Candi Borobudur menjadi salah satunya. Untuk mendukung hal tersebut, desa-desa yang berada di sekitar Candi Borobudur pun didorong untuk mengembangkan potensi wisatanya masing-masing terutama Desa Borobudur. Hal ini dikarenakan secara administratif Candi Borobudur berada dalam kawasan administratif Desa Borobudur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis komponen destinasi wisata yang ada di Desa Borobudur. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pengumpulan data melalui focus group discussion, wawancara mendalam, observasi dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan komponen atraksi sudah lengkap dari atraksi alam, budaya dan buatan. Untuk aksesibilitas masih terkendala pada lebar jalan masuk ke beberapa tempat wisata, ketersediaan lahan parkir serta optimalisasi penunjuk arah ke Kampung Wisata. Pada komponen amenitas, fasilitas pendukung sudah tersedia dari mulai penginapan, tempat belanja, layanan kesehatan, perbankan namun secara kuantitas dan kualitas masih perlu ditingkatkan. Dalam komponen ansileri, pihak yang terlibat dalam kegiatan wisata di Desa Borobudur cukup beragam baik level pusat maupun desa. BUMDes Graha Mandala dan Tim Desa Wisata Borobudur telah menunjukkan kontribusi positif dalam pengembangan wisata di Desa Borobudur. Hanya saja komunikasi antarpelaku wisata di semua level perlu ditingkatkan sehingga aspirasi stakeholders dapat diakomodir dengan maksimal.
Profile of The Visitors' Knowledge Related to Disasters at Kuta Mandalika Beach, Central Lombok Regency
Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation Vol 8, No 1 (2025): April
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jithor.v8i1.76238

Abstract

AbstractKuta Mandalika Beach in West Nusa Tenggara Province, as one of the tourist destinations vulnerable to disasters, requires a good level of disaster preparedness among its visitors. This study aims to determine the disaster knowledge of visitors to Kuta Mandalika Beach. The data collection technique was conducted through a survey using an instrument in the form of a questionnaire. The population of this study is an infinite population. The sampling technique was carried out by convenience with a total of 487 respondents. Respondents in this study were aged between 17 and 55 years who had visited Kuta Mandalika Beach in the last five years. The research instrument was a questionnaire consisting of 46 questions based on a Guttman dichotomous scale, which measured general knowledge about disasters, recognition of disaster signs, and appropriate emergency response actions. The results showed that most visitors had a high level of disaster knowledge, especially regarding types of disasters and identification of natural warning signs. Nonetheless, some respondents showed moderate to low awareness, especially in determining appropriate actions in the event of a disaster. The study also revealed that education level and age were found to correlate with visitors' disaster knowledge.AbstrakPantai Kuta Mandalika di Provinsi Nusa Tenggara Barat, sebagai salah satu destinasi wisata yang rentan terhadap bencana, memerlukan tingkat kesiapsiagaan bencana yang baik di kalangan pengunjungnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan kebencanaan para pengunjung Pantai Kuta Mandalika. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui survei dengan menggunakan instrumen berupa angket. Populasi penelitian ini adalah populasi infinite. Teknik penentuan sampel dilakukan secara convenience dengan total responden sebanyak 487. Responden dalam penelitian ini berusia antara 17 hingga 55 tahun yang pernah berkunjung ke Pantai Kuta Mandalika dalam lima tahun terakhir. Instrumen penelitian berupa angket yang terdiri dari 46 pertanyaan berdasarkan skala dikotomi Guttman, yang mengukur pengetahuan umum tentang bencana, pengenalan tanda-tanda bencana, dan tindakan tanggap darurat yang tepat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pengunjung memiliki tingkat pengetahuan bencana yang tinggi, terutama mengenai jenis-jenis bencana dan identifikasi tanda-tanda peringatan alam. Meskipun demikian, sebagian responden menunjukkan kesadaran yang sedang hingga rendah, terutama dalam menentukan tindakan yang tepat saat terjadi bencana. Temuan ini juga mengungkapkan bahwa tingkat pendidikan dan usia ternyata berkorelasi dengan pengetahuan kebencanaan pengunjung.
The emotional pathways of tourism video ads: How speed and activity type shape visit intentions
Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation Vol 8, No 2 (2025): October
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jithor.v8i2.86941

Abstract

AbstractSocial media increasingly shapes travel decision-making, video advertising has emerged as a critical medium for influencing tourist behavior. This study examines the interaction between video speed (slow vs. fast) and tourism activity type (relaxing vs. challenging) in shaping visit intention, with a particular focus on the mediating roles of peacefulness and excitement. Anchored in Optimal Arousal Theory, the research hypothesizes that emotional congruence between the pacing of video content and the arousal level of the depicted activity enhances viewers’ emotional engagement and behavioral responses. A quantitative experimental design employing manipulated video stimuli was conducted among 121 participants selected through purposive sampling, focusing on individuals familiar with tourism video content from Bangka Belitung and Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Utilizing PLS-SEM analysis, the findings reveal that slow-paced videos paired with relaxing activities significantly increase feelings of peacefulness, while fast-paced videos combined with challenging activities elicit greater excitement. Both emotional responses positively influence visit intention and mediate the effects of video characteristics on behavioral outcomes. These results contribute to the theoretical advancement of emotion-based tourism marketing and offer practical implications for crafting emotionally resonant video content that strategically aligns message form and content to optimize promotional impact.AbstrakMeningkatnya peran media sosial dalam memengaruhi keputusan wisatawan, iklan video menjadi media yang krusial dalam strategi pemasaran destinasi. Studi ini mengkaji interaksi antara kecepatan video (lambat vs. cepat) dan jenis aktivitas wisata (relaksasi vs. tantangan) dalam memengaruhi niat berkunjung, dengan fokus khusus pada peran mediasi dari emosi ketenangan dan kegembiraan. Berlandaskan pada Optimal Arousal Theory, penelitian ini berasumsi bahwa kesesuaian emosional antara gaya penyajian video dan tingkat rangsangan dari aktivitas wisata dapat meningkatkan keterlibatan emosional dan respons perilaku audiens. Penelitian ini menggunakan desain eksperimen kuantitatif dengan manipulasi video yang dilakukan pada 121 partisipan yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling, yaitu individu yang memiliki pengalaman terhadap konten video wisata di Provinsi Bangka Belitung dan Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Hasil analisis menggunakan PLS-SEM menunjukkan bahwa video berkecepatan lambat dengan aktivitas relaksasi secara signifikan meningkatkan perasaan ketenangan, sedangkan video cepat dengan aktivitas menantang memicu kegembiraan. Kedua emosi positif ini berpengaruh signifikan terhadap niat berkunjung dan memediasi hubungan antara karakteristik video dan respons perilaku. Temuan ini memberikan kontribusi teoritis terhadap literatur pemasaran wisata berbasis emosi, sekaligus menawarkan implikasi praktis bagi pengembang konten untuk merancang video promosi yang lebih efektif melalui penyelarasan bentuk penyampaian dan isi pesan secara emosional.
Identifying Local Challenges of Sustainable Tourism Development in Tongging Village
Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation Vol 9, No 1 (2026): April
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jithor.v9i1.92358

Abstract

AbstractThis study identifies the challenges of developing sustainable tourism in Tongging Village based on the analysis of local community perceptions. The study employs a qualitative descriptive approach, combining literature reviews, field observations, and in-depth interviews with 12 key informants, namely local residents and the local government. The study found that the challenges faced by the community in Tongging Village include a lack of promotion and cultural preservation, as well as low and unsustainable environmental quality. This study contributes to the development of sustainable tourism villages in Indonesia, particularly Tongging Village, by providing recommendations to stakeholders to improve the quality of the village.AbstrakPenelitian ini mengidentifikasi tantangan pengembangan pariwisata berkelanjutan di Desa Tongging berdasarkan hasil analisa persepsi masyarakat lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang menggabungkan hasil tinjauan pustaka, observasi lapangan, dan wawancara mendalam dengan 12 informan kunci, yaitu masyarakat lokal dan pemerintah setempat. Hasil penelitian menemukan bahwa tantangan yang dihadapi masyakarat di Desa Tongging adalah kurangnya promosi dan pelestarian budaya, serta kualitas lingkungan yang rendah dan tidak berkelanjutan. Penelitian ini berkontribusi terhadap pengembangan desa wisata yang berkelanjutan di Indonesia, khususnya Desa Tongging, melalui pemberian rekomendasi bagi pemangku kepentingan untuk meningkatkan kualitas desa.
Iklim Organisasi Sebagai Senjata Rahasia untuk Meningkatkan Kinerja Pegawai Secara Spektakuler di Industri Perhotelan
Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation Vol 8, No 1 (2025): April
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jithor.v8i1.80497

Abstract

AbstractThe hospitality industry is currently faced with the challenge of creating a supportive work environment to improve employee performance amidst intense competition. A conducive organizational climate is proven to play a role in driving productivity, job satisfaction, and loyalty, thus strengthening the competitiveness of hotels. However, the results of research on the contribution of organizational climate to employee performance still show differences, so further studies are needed. This study used a quantitative approach through a survey to all employees of Hotel X Bandung. Simple linear regression analysis yielded a coefficient of 0.616 with R² of 77.4%, indicating that organizational climate explained most of the variation in employee performance. Support factors and work standards are the main components of a positive climate, while the responsibility aspect still needs strengthening. Employees who feel a good working atmosphere tend to show higher work quality, quantity and effectiveness. These findings reinforce the importance of management's role in developing a supportive organizational climate to sustainably drive employee performance in the hospitality sector.AbstrakIndustri perhotelan saat ini dihadapkan pada tantangan menciptakan lingkungan kerja yang mendukung untuk meningkatkan kinerja pegawai di tengah persaingan yang ketat. Iklim organisasi yang kondusif terbukti berperan dalam mendorong produktivitas, kepuasan kerja, dan loyalitas, sehingga memperkuat daya saing hotel. Meski demikian, hasil penelitian mengenai kontribusi iklim organisasi terhadap kinerja pegawai masih menunjukkan perbedaan, sehingga diperlukan studi lanjutan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif melalui survei kepada seluruh pegawai Hotel X Bandung. Analisis regresi linier sederhana menghasilkan koefisien 0,616 dengan R² sebesar 77,4%, menunjukkan bahwa iklim organisasi menjelaskan sebagian besar variasi kinerja pegawai. Faktor dukungan dan standar kerja menjadi komponen utama pembentuk iklim positif, sementara aspek tanggung jawab masih perlu penguatan. Pegawai yang merasakan suasana kerja yang baik cenderung menunjukkan kualitas, kuantitas, dan efektivitas kerja yang lebih tinggi. Temuan ini mempertegas pentingnya peran manajemen dalam mengembangkan iklim organisasi yang mendukung guna mendorong kinerja pegawai secara berkelanjutan di sektor perhotelan 
Strategi pengembangan wisata trekking Bukit Premium Pasuruan
Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation Vol 9, No 1 (2026): April
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jithor.v9i1.89613

Abstract

AbstractThe phenomenon of Bukit Premium, which suddenly went viral by offering trekking tourism activities, indicates a significant potential as a tourist destination but demands a well-planned development strategy to ensure sustainable growth. This study aims to formulate development strategies for Bukit Premium by considering its strengths, weaknesses, opportunities, and threats. The research method employs the 7P analysis to understand aspects of product, price, promotion, place, people, process, and physical evidence, as well as PEST analysis to evaluate political, economic, social, and technological factors. Based on SWOT analysis, Bukit Premium achieved an internal score of 1 and an external score of 0.9, positioning it strategically for rapid growth. The destination development employs an integrated approach that encompasses leveraging strategic location advantages, strengthening community-based management, building organizational capacity, and implementing comprehensive governance improvements. This strategy is designed to optimize Bukit Premium's development in a sustainable manner while delivering significant economic, social, and cultural benefits to the surrounding communities. Practically, these findings provide a useful reference for destination managers and local governments in designing adaptive, participatory, and sustainable tourism policies and development programs.AbstrakPenelitian Fenomena Bukit Premium yang menawarkan aktivitas wisata trekking mendadak viral menunjukkan potensi besar sebagai destinasi wisata, namun menuntut strategi pengembangan yang terencana agar pertumbuhan dapat berlangsung berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi pengembangan Bukit Premium dengan mempertimbangkan kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang ada. Metode penelitian menggunakan analisis 7P untuk memahami aspek produk, harga, promosi, tempat, orang, proses, dan bukti fisik, serta analisis PEST untuk mengevaluasi faktor politik, ekonomi, sosial, dan teknologi. Hasil analisis kemudian diintegrasikan ke dalam matriks SWOT untuk menentukan arah strategi yang tepat. Berdasarkan analisis SWOT, Bukit Premium memperoleh skor internal 1 dan eksternal 0,9 yang menempatkannya pada posisi strategis untuk pertumbuhan cepat. Pengembangan destinasi ini menerapkan pendekatan terintegrasi yang mencakup pemanfaatan keunggulan lokasi strategis, penguatan pengelolaan berbasis komunitas, pembangunan kapasitas organisasi, dan perbaikan tata kelola secara menyeluruh. Strategi ini dirancang untuk mengoptimalkan pengembangan Bukit Premium secara berkelanjutan sambil memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan budaya yang signifikan bagi masyarakat sekitar. Secara praktis, hasil penelitian ini dapat menjadi acuan bagi pengelola destinasi dan pemerintah daerah dalam merancang kebijakan serta program pengembangan wisata yang adaptif, partisipatif, dan berkelanjutan.
Exploring Generation Z Hospitality Students' Perceptions of Hotel Information Systems Using the Technological Acceptance Model
Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation Vol 7, No 1 (2024): Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation (April)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jithor.v7i1.69070

Abstract

ABSTRACTThis research addresses the challenges Generation Z hospitality students face in adapting to the use of Hotel Information Systems (HIS) through the Technology Acceptance Model (TAM). The dynamic hospitality industry presents opportunities for businesses to innovate and enhance guest experiences through integrating technology, including HIS. This study utilizes a quantitative approach and a questionnaire to collect data from 212 students at the Bandung Tourism Academy who are currently taking or have completed HIS courses. The minimum representative sample size was 137 respondents based on proportional random sampling. The findings demonstrate that learning new technology, such as HIS, can significantly influence Generation Z hospitality students' perceptions, attitudes, and behaviors toward technology adoption within the TAM framework. This study explores how perceived usefulness and ease of use impact students' attitudes and behavioral intention to use HIS. Technological innovation in learning HIS catalyzes shaping students' acceptance and utilization of technology, supporting their proficiency in hotel operations. This research provides valuable insights for educators and industry professionals to enhance training and integration strategies by examining the relationship between Generation Z hospitality students and HIS. The study's outcomes contribute to the broader understanding of TAM's application in the hospitality industry, offering practical implications for improving technology adoption and operational efficiency.ABSTRAKPenelitian ini menjawab tantangan yang dihadapi mahasiswa perhotelan generasi Z dalam beradaptasi dengan penggunaan Sistem Informasi Hotel (SIH) melalui Technology Acceptance Model (TAM). Industri perhotelan yang dinamis memberikan peluang bagi bisnis untuk berinovasi dan meningkatkan pengalaman tamu melalui integrasi teknologi, termasuk SIH. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan kuesioner untuk mengumpulkan data dari 212 mahasiswa Akademi Pariwisata Bandung yang sedang atau telah menyelesaikan mata kuliah ini. Jumlah sampel minimal yang representatif adalah 137 responden berdasarkan proporsional random sampling. Temuan ini menunjukkan bahwa mempelajari teknologi baru, seperti HIS, dapat secara signifikan mempengaruhi persepsi, sikap, dan perilaku siswa perhotelan Generasi Z terhadap adopsi teknologi dalam kerangka TAM. Studi ini mengeksplorasi bagaimana persepsi kegunaan dan kemudahan penggunaan berdampak pada sikap dan niat perilaku siswa untuk menggunakan SIH. Inovasi teknologi dalam pembelajaran HIS menjadi katalis pembentukan penerimaan dan pemanfaatan teknologi oleh siswa, mendukung kemahiran mereka dalam operasional hotel. Penelitian ini memberikan wawasan berharga bagi para pendidik dan profesional industri untuk meningkatkan strategi pelatihan dan integrasi dengan mengkaji hubungan antara mahasiswa perhotelan Generasi Z dan HIS. Hasil penelitian ini berkontribusi pada pemahaman yang lebih luas mengenai penerapan TAM di industri perhotelan, menawarkan implikasi praktis untuk meningkatkan adopsi teknologi dan efisiensi operasional.
Analyzing Domestic and Foreign Visitors’ Needs to Create Engaging Museum Experience for Young Generation
Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation Vol 8, No 1 (2025): April
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jithor.v8i1.80095

Abstract

AbstractThe younger generation has a huge influence and is considered to be the key agent who will popularize the museum. However, the young generation perceives museums as boring places. Museums are seen as places that tend to be rigid and are only visited if they want to do an assignment or dig up the history of something. Therefore, museums need to be able to change this perception so that the younger generation becomes more interested in visiting museums. This study aims to analyze the current generations’ perspectives on their ideal pictures of engaging museum activities and museum tour guides.  Questionnaire distribution and Focus Group Discussion were conducted to collect the data. The findings suggest several engaging activities to enhance visitors’ experience and  describe the ideal character of museum tour guides in the young generation’s eyes.   AbstrakGenerasi muda memiliki pengaruh besar dan dianggap sebagai agen kunci yang akan mempopulerkan museum. Namun, generasi muda memandang museum sebagai tempat yang membosankan. Museum sering kali dianggap sebagai tempat yang cenderung kaku dan hanya dikunjungi jika ada tugas atau untuk menggali sejarah sesuatu. Oleh karena itu, museum perlu mengubah persepsi ini agar generasi muda lebih tertarik untuk mengunjungi museum. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pandangan generasi saat ini tentang gambaran ideal mereka terkait aktivitas museum yang menarik dan pemandu tur museum. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner dan Focus Group Discussion. Temuan penelitian menyarankan beberapa aktivitas menarik untuk meningkatkan pengalaman pengunjung serta mendeskripsikan karakter ideal pemandu tur museum di mata generasi muda.
Gender-based analysis of factors contributing to post-vacation blues: A case study of young generation tourists in West Java
Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation Vol 8, No 2 (2025): October
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jithor.v8i2.91482

Abstract

AbstrakThis study aims to analyze the factors contributing to the symptoms of post-vacation blues based on gender among domestic travelers in Java. This phenomenon refers to a psychological condition characterized by feelings of sadness, loss of motivation, and difficulty readjusting to daily routines after returning from a vacation. In dealing with daily routines, tourists also experience difficulties in managing time, especially sleep and rest time, decreased focus on work, and slowed speed in carrying out daily tasks. The research employs a quantitative approach and utilizes Exploratory Factor Analysis (EFA), involving 250 respondents residing in Java. The results of the analysis reveal significant differences between genders. For male tourists, the primary factors identified are memorable trip, mental pressure, body condition, emotional ties, and travel fatigue. In contrast, among female tourists, in addition to the five aforementioned factors, there is also the factor of emotional response, which indicates emotional sensitivity and complex expectations, as well as money matters related to financial issues. This finding suggests that female travelers are more vulnerable to experiencing post-vacation blues.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang menjadi gejala terjadinya post-vacation blues berdasarkan gender pada kalangan domestik di Pulau Jawa. Fenomena ini merujuk pada kondisi psikologis yang ditandai dengan perasaan sedih, kehilangan motivasi, dan kesulitan beradaptasi kembali ke rutinitas sehari-hari setelah berlibur. Dalam menghadapi rutinitas sehari-hari, wisatawan juga mengalami kesulitan mengatur waktu terutama waktu tidur dan istirahat, turunnya fokus pada pekerjaan, serta kecepatan mengerjakan tugas sehari-hari yang melambat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan teknik analisis Exploratory Factor Analysis (EFA) dengan melibatkan 250 responden yang berdomisili di Pulau Jawa. Hasil analisis menunjukan adanya perbedaan signifikan pada gender yang berbeda. Pada wisatawan laki-laki faktor utama yang menentukan ialah memorable trip, mental pressure, body condition, emotional ties, dan travel fatigue. Sedangkan pada wisatawan perempuan selain 5 faktor sebelumnya juga terdapat faktor emotional response yang menunjukan sensitivitas emosional dan ekspektasi yang kompleks, serta money mater yang berkaitan dengan masalah keuangan.Hal ini menunjukan bahwa wisatawan wanita akan lebih rentan mengalami post vacation blues.
Sustainable tourism goals for Life Below Water in Labuan Bajo and Komodo National Park
Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation Vol 9, No 1 (2026): April
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jithor.v9i1.97193

Abstract

AbstractThis study aims to examine the extent to which Sustainable Development Goal 14 (Life Below Water) is implemented in the marine tourism area of Komodo National Park (KNP), Labuan Bajo, Indonesia. A descriptive qualitative approach was employed, using semi-structured interviews with key stakeholders, including the Komodo National Park Authority (BTNK), local communities, the West Manggarai Tourism Office, and phinisi tourism operators. The findings indicate that despite the existence of national policies derived from SDG 14 covering sensitive environmental protection, visitor management, wildlife interaction, and species protection, their implementation at the destination level remains limited. Environmental issues such as marine waste accumulation, anchor-related coral damage, and vessel-related pollution persist due to weak enforcement and fragmented stakeholder coordination. This study highlights a gap between policy frameworks and practical implementation, emphasizing the need for stronger governance integration and collaborative marine conservation in KNP.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji sejauh mana Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goal/SDG) 14 (Life Below Water) diimplementasikan pada kawasan pariwisata bahari Taman Nasional Komodo (TNK), Labuan Bajo, Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara semi-terstruktur terhadap para pemangku kepentingan utama, yaitu Balai Taman Nasional Komodo (BTNK), masyarakat lokal, Dinas Pariwisata Kabupaten Manggarai Barat, serta pelaku usaha pariwisata kapal phinisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun telah terdapat kebijakan nasional yang diturunkan dari SDG 14 yang mencakup perlindungan lingkungan sensitif, pengelolaan pengunjung, interaksi dengan satwa liar, dan perlindungan spesies, implementasinya di tingkat destinasi masih belum optimal. Permasalahan lingkungan seperti akumulasi sampah laut, kerusakan terumbu karang akibat jangkar kapal, serta pencemaran dari aktivitas kapal wisata masih terus terjadi akibat lemahnya penegakan aturan dan belum optimalnya koordinasi antar pemangku kepentingan. Penelitian ini menegaskan adanya kesenjangan antara kerangka kebijakan dan implementasi di lapangan, serta menekankan pentingnya penguatan tata kelola dan kolaborasi antar pihak dalam upaya konservasi laut yang berkelanjutan di kawasan Taman Nasional Komodo.