cover
Contact Name
Reiza Miftah Wirakusuma
Contact Email
jithor@upi.edu
Phone
-
Journal Mail Official
jithor@upi.edu
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation
ISSN : 26543893     EISSN : 26544687     DOI : -
Journal of Indonesian Tourism, Hospitality, and Recreation (Jurnal Pariwisata, Perhotelan dan Rekreasi Indonesia) merupakan jurnal ilmiah yang diterbitkan dua keluaran (issues) dalam setahun pada bulan April dan Oktober. Redaksi juga turut mengundang para peneliti dan praktisi untuk dapat mengirimkan artikel berupa laporan hasil penelitian, pemikiran-pemikiran, maupun tulisan akademik, khususnya yang berkaitan dengan kepariwisataan, perhotelan dan rekreasi luar ruang. Perlu dipahami sebelumnya, artikel yang hendak dikirimkan merupakan artikel yang belum pernah dimuat atau dipublikasikan di jurnal berkala ilmiah lainnya.
Arjuna Subject : -
Articles 150 Documents
Private schools’ athletic association national games as sports tourism in the Philippines
Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation Vol 9, No 1 (2026): April
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jithor.v9i1.90718

Abstract

AbstractSports tourism is an emerging segment of the tourism industry, yet limited research in the Philippines explores the motivations of student-athletes in national sports events. This study examined athletes from De La Salle University–Dasmariñas (DLSU-D) who joined the Private Schools Athletic Association (PRISAA) National Games from 2019 to 2025, focusing on their personal and social reasons for participation. Guided by the concept of motivation, the research analyzed how these factors influence athlete involvement in sports tourism. A quantitative descriptive design was employed. Using purposive sampling, 127 respondents completed a structured adaptive survey via Google Forms. The questionnaire was validated by three experts and tested for reliability through Cronbach’s alpha. Data were analyzed using weighted mean, standard deviation, and Spearman’s correlation. Results revealed that DLSU-D athletes were highly motivated to participate in the PRISAA National Games. Among personal motivations, self-enhancement ranked highest, while social bonding was the strongest social motivation. The study concluded that student-athletes view the PRISAA National Games as sports tourism opportunities for personal and social growth. Findings suggest that national sports events can promote tourism and support youth development in the Philippines.AbstrakPariwisata olahraga merupakan segmen yang terus berkembang dalam industri pariwisata, namun penelitian mengenai motivasi mahasiswa-atlet dalam mengikuti ajang olahraga nasional di Filipina masih terbatas. Studi ini meneliti motivasi atlet De La Salle University–Dasmariñas (DLSU-D) yang berpartisipasi dalam Private Schools Athletic Association (PRISAA) National Games dari 2019 hingga 2025. Penelitian berfokus pada alasan personal dan sosial yang mendorong keterlibatan mereka dalam pariwisata olahraga.Menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif, sebanyak 127 responden dipilih melalui purposive sampling dan mengisi survei adaptif terstruktur via Google Forms. Instrumen divalidasi oleh tiga ahli dan diuji reliabilitasnya menggunakan Cronbach’s alpha. Analisis data dilakukan melalui nilai rata-rata tertimbang, simpangan baku, dan korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa atlet DLSU-D sangat termotivasi untuk mengikuti PRISAA National Games. Di antara motivasi personal, peningkatan diri menjadi faktor paling dominan, sementara pada motivasi sosial, pembentukan ikatan sosial merupakan pendorong terbesar. Studi ini menyimpulkan bahwa mahasiswa-atlet memandang PRISAA National Games sebagai bentuk pariwisata olahraga yang mendukung pengembangan personal dan sosial. Temuan ini menegaskan bahwa ajang olahraga nasional dapat berkontribusi pada promosi pariwisata sekaligus mendukung pembangunan generasi muda di Filipina.
Muslim-friendly tourism development through community-based entrepreneurship: A conceptual framework of Global Gotong Royong (G2R) Tetrapreneur
Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation Vol 9, No 1 (2026): April
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jithor.v9i1.91129

Abstract

AbstractThe rapid growth of Muslim-friendly tourism highlights the need for a sustainable framework that goes beyond the mere provision of halal facilities and services. Despite increasing scholarly attention, limited studies have integrated community-based entrepreneurship as a central driver of Muslim-friendly tourism development. This study aims to propose a conceptual framework that combines community-based entrepreneurship with the G2R Tetrapreneur model to strengthen sustainable Muslim-friendly tourism practices. Adopting a conceptual approach, this paper synthesizes relevant literature on Muslim-friendly tourism, community-based enterprises, and entrepreneurial innovation. The proposed framework integrates four dimensions of the G2R Tetrapreneur—chainpreneur, marketpreneur, qualitypreneur, and brandpreneur—as strategic tools to empower local communities, ensure market responsiveness, maintain halal service quality, and enhance destination branding. The findings suggest that Muslim-friendly tourism development requires active community involvement and systemic entrepreneurial innovation to achieve inclusivity, competitiveness, and sustainability. The implications are twofold: theoretically, the study enriches the discourse on Muslim-friendly tourism by connecting it with community entrepreneurship and innovation models; practically, it offers policymakers, industry actors, and local communities a structured framework to design strategies for sustainable Muslim-friendly destinations. Future research is encouraged to empirically validate this framework across different socio-cultural contexts and explore its integration with digital entrepreneurship and policy governance. AbstrakPertumbuhan pariwisata ramah Muslim yang sangat pesat menuntut adanya kerangka pembangunan berkelanjutan yang tidak hanya berfokus pada penyediaan fasilitas dan layanan halal. Namun, kajian akademis masih terbatas dalam mengintegrasikan kewirausahaan berbasis komunitas sebagai penggerak utama dalam pengembangan pariwisata ramah Muslim. Penelitian ini bertujuan untuk menawarkan sebuah kerangka konseptual yang menggabungkan kewirausahaan berbasis komunitas dengan model G2R Tetrapreneur guna memperkuat praktik pariwisata ramah muslim yang berkelanjutan. Dengan menggunakan pendekatan konseptual, penelitian ini mensintesis literatur terkait pariwisata halal, kewirausahaan komunitas, dan inovasi kewirausahaan. Kerangka yang diusulkan mengintegrasikan empat dimensi G2R Tetrapreneur—chainpreneur, marketpreneur, qualitypreneur, dan brandpreneur—sebagai instrumen strategis untuk memberdayakan komunitas lokal, meningkatkan orientasi pasar, menjaga kualitas layanan halal, serta memperkuat citra destinasi. Temuan menunjukkan bahwa pengembangan pariwisata ramah Muslim membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat dan inovasi kewirausahaan yang sistematis untuk mencapai inklusivitas, daya saing, dan keberlanjutan. Secara teoretis, penelitian ini memperkaya literatur pariwisata ramah muslim dengan menghubungkannya pada kewirausahaan komunitas dan model inovasi. Secara praktis, kerangka ini dapat menjadi panduan bagi pembuat kebijakan, pelaku industri, dan komunitas lokal dalam merancang strategi pengembangan destinasi halal yang berkelanjutan. Penelitian lanjutan direkomendasikan untuk menguji secara empiris kerangka ini dalam berbagai konteks sosial-budaya serta mengeksplorasi integrasinya dengan kewirausahaan digital dan tata kelola kebijakan. 
Pengembangan Wisata Berkelanjutan dan Konservasi Ekosistem Darat di Taman Nasional Komodo
Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation Vol 8, No 1 (2025): April
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jithor.v8i1.79010

Abstract

AbstractSustainable tourism development plays a crucial role in biodiversity conservation areas that also function as tourist attractions, such as Komodo National Park. The use of these areas for tourism must continue to provide benefits to local communities while preserving ecological balance. However, increasing tourist numbers have begun to impact the ecosystem negatively. This study aims to examine tourism activities in Komodo National Park and assess how well sustainable tourism policies are implemented by stakeholders. It also offers recommendations for managing the park as both a conservation area and a sustainable tourism destination. Using an exploratory qualitative approach and the Miles and Huberman analysis technique, data were collected through interviews, field observations, and literature reviews. The study presents a development model for sustainable tourism in Komodo National Park, focusing on four key aspects of terrestrial ecosystem conservation: (1) protection of sensitive environments, (2) visitor management at natural sites, (3) interaction with wildlife, and (4) exploitation of species and animal welfare. The findings emphasize the need for integrated policy implementation and responsible tourism practices to maintain the park’s dual function as a conservation area and a source of local economic benefit.AbstrakPembangunan pariwisata berkelanjutan menjadi elemen penting dalam kawasan konservasi keanekaragaman hayati yang juga berfungsi sebagai atraksi wisata, seperti Taman Nasional Komodo. Kawasan ini memiliki potensi sumber daya alam yang dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal. Namun, meningkatnya kunjungan wisatawan mulai menimbulkan gangguan terhadap keseimbangan ekosistem. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji aktivitas pariwisata di Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo, serta menilai penerapan kebijakan wisata berkelanjutan oleh pengelola dan pelaku wisata. Selain itu, penelitian ini juga memberikan rekomendasi model pengelolaan atraksi wisata berkelanjutan yang ideal bagi kawasan tersebut. Metode yang digunakan adalah kualitatif eksploratif dengan teknik analisis Miles dan Huberman. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi langsung di lapangan, dan studi literatur. Hasil penelitian menghasilkan model pengembangan pengelolaan wisata berkelanjutan untuk Taman Nasional Komodo yang mempertimbangkan empat aspek utama konservasi ekosistem darat: (1) perlindungan terhadap lingkungan sensitif, (2) pengelolaan pengunjung di situs alam, (3) interaksi yang bertanggung jawab dengan satwa liar, dan (4) pengendalian eksploitasi spesies serta peningkatan kesejahteraan satwa. 
Analisis sistem kepariwisataan Kota Tua Jakarta berbasis Model Mill dan Morrison dalam konteks Urban Heritage
Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation Vol 9, No 1 (2026): April
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jithor.v9i1.87640

Abstract

AbstractKota Tua Jakarta is an urban heritage area that has significant potential as a historical tourism destination within an urban area. However, fluctuations in tourist visitation indicate existing challenges in managing the area. Therefore, this study aims to analyze the tourism system in Jakarta Old Town using the tourism system model proposed by Mill and Morrison, which consists of four main elements: demand, travel, destination, and marketing. This research employs a mixed-method approach through a combination of tourist surveys, interviews with site managers, field observations, and literature review. The results indicate that visitors to Jakarta Old Town are predominantly young domestic tourists characterized by short-duration visits and high accessibility through public transportation. The area offers diverse cultural and historical attractions that serve as its primary appeal. However, several challenges remain, including the quality of facilities, spatial integration of the area, and the development of tourism experience. Digital and community-based marketing strategies have been implemented to enhance the attractiveness of the destination, although strengthening the heritage narrative and developing deeper tourism experiences are still required. This study highlights the importance of integrating the elements of the tourism system to support the sustainable management of urban heritage destinations.AbstrakKota Tua Jakarta merupakan kawasan urban heritage yang memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata sejarah di kawasan perkotaan. Namun, dinamika jumlah kunjungan wisatawan yang mengalami fluktuasi menunjukkan adanya tantangan dalam pengelolaan kawasan tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sistem kepariwisataan di Kota Tua Jakarta dengan menggunakan model sistem pariwisata Mill dan Morrison yang mencakup empat elemen utama, yaitu permintaan, perjalanan, tujuan wisata, dan pemasaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan campuran melalui kombinasi survei wisatawan, wawancara dengan pengelola kawasan, observasi lapangan, serta studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kota Tua Jakarta didominasi oleh wisatawan domestik usia muda dengan karakteristik kunjungan jangka pendek dan aksesibilitas tinggi melalui transportasi publik. Kawasan ini memiliki keberagaman atraksi budaya dan sejarah yang menjadi daya tarik utama, namun masih menghadapi tantangan dalam kualitas fasilitas, integrasi spasial kawasan, serta pengalaman wisata. Strategi pemasaran berbasis digital dan komunitas telah diterapkan untuk meningkatkan daya tarik kawasan, meskipun masih diperlukan penguatan narasi heritage dan pengembangan pengalaman wisata yang lebih mendalam. Penelitian ini menekankan pentingnya integrasi antar elemen sistem kepariwisataan dalam mendukung pengelolaan kawasan yang berkelanjutan.
Barriers in Digitalization for Tourism Village: Case of Tegaren’s Demographic and Geographic Constraints
Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation Vol 7, No 1 (2024): Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation (April)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jithor.v7i1.66615

Abstract

ABSTRACTThis article is one of the scientific publications that summarizes field research in Tegaren, a tourism village in Trenggalek, East Java. The research team seeks to provide a discourse on tourism village digitalization from a different perspective. This article examines Tegaren's barriers to increasing digital telecommunications penetration and adapting their digital technology after becoming a tourism village. The four factors are 1) the dominance of the low productive age generation in Tegaren, 2) youths who migrate out of Tegaren, 3) Tegaren's agrarian life and ecosystem, and 4) Tegaren's geographical location which is not close to the main transportation modes. Using a theoretical framework that consists of participatory rural appraisal method, asset-based community development method, community-based tourism, and digital culture literacy of rural communities, this article provides an explanation of the demographic and geographical factors that have become obstacles for Tegaren to increase the digitalization utility for tourism village. All the data presented was obtained by means of in-depth interviews and participatory observation by team researchers. All respondents are from stakeholders in the village, such as village officials, Pokdarwis members, BUMDes members, besek farmers, and village youths. ABSTRAKArtikel ini merupakan salah satu publikasi ilmiah yang merangkum penelitian lapangan di Tegaren, sebuah desa wisata di Trenggalek, Jawa Timur. Tim peneliti berupaya memberikan diskursus tentang digitalisasi desa wisata dari sudut pandang yang berbeda. Artikel ini mengkaji hambatan Tegaren dalam meningkatkan penetrasi telekomunikasi digital dan mengadaptasi teknologi digital mereka setelah menjadi desa wisata. Keempat faktor tersebut adalah 1) dominasi generasi usia produktif rendah di Tegaren, 2) pemuda yang merantau keluar Tegaren, 3) kehidupan agraris dan ekosistem Tegaren, dan 4) letak geografis Tegaren yang tidak dekat dengan moda transportasi utama. Dengan menggunakan kerangka teori yang terdiri dari metode participatory rural appraisal, metode asset-based community development, community-based tourism, dan budaya digital literasi digital masyarakat pedesaan, artikel ini memberikan penjelasan mengenai faktor demografi dan geografis yang menjadi kendala Tegaren untuk meningkatkan utilitas digitalisasi desa wisata. Semua data yang disajikan diperoleh melalui wawancara mendalam dan observasi partisipatif oleh tim peneliti. Semua responden berasal dari pemangku kepentingan di desa, seperti perangkat desa, anggota Pokdarwis, anggota BUMDes, petani besek, dan pemuda desa.
Instagram vs. TikTok: Which Digital Platform is More Effective for Restaurant Industry Marketing?
Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation Vol 8, No 1 (2025): April
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jithor.v8i1.76136

Abstract

AbstractThe emergence of Karen’s Diner restaurant in Jakarta has garnered significant attention and gone viral on social media due to its distinctive presentation style. This study aims to examine the differences in the effectiveness of Instagram and TikTok for digital marketing at Karen’s Diner. Differences in marketing content are analyzed based on five parameters, among others attention, information search, interest, uniqueness of content, and interesting content.  Employing a quantitative research methodology, the study utilizes a survey approach. The sampling technique is purposive sampling. Data analysis is conducted through descriptive statistics and paired sample t-tests. The findings reveal no significant difference in the effectiveness of Instagram and TikTok as digital marketing tools for Karen’s Diner. Both platforms are equally effective in attracting visitors seeking further information and influencing their decision to visit. This study yields significant theoretical and practical contributions, underscoring the undeniable efficacy of digital marketing as a transformative force in modern marketing paradigms. Furthermore, the research provides actionable recommendations for crafting and refining digital marketing strategies, positioning them as indispensable tools for navigating the complexities of today’s dynamic landscape. Digital platforms can be relied upon to build awareness and promote products and services, including those of cafés and restaurants.AbstrakKemunculan Karen’s Diner di Jakarta sangat menarik perhatian dan viral di media sosial karena memiliki karakteristik penyajian yang unik. Banyak konsumen yang berkunjung untuk merasakan pengalaman berkunjung ke Karen’s Diner. Penggunaan Instagram dan Tiktok dalam pemasaran digital menjadi menarik untuk diteliti.  Penelitian ini bertujuan untuk dapat melihat perbedaan efektifitas penggunaan Instagram dan Tiktok dalam pemasaran digital di Karen’s Diner. Perbedaan efektifitas dilihat dari lima parameter antara lain, attention, information search, interest, uniqueness of content, and interesting content. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan metode survey. Teknik sampling menggunakan purposive sampling  yaitu pengunjung Karen’s Diner sebanyak 100 orang. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif dan uji paired sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan efektifitas Instagram dan Tiktok dalam pemasaran digital di Karen’s Diner. Keduanya sama-sama efektif menarik pengunjung untuk mencari informasi lebih lanjut dan menjadi pertimbangan untuk berkunjung ke Karen’s Diner. Penelitian ini memberikan implikasi teoritis maupun praktis sebagai saran rekomendasi untuk menyusun strategi pemasaran digital sebagai alat pemasaran yang sangat efektif di saat ini. Penggunaan Instagram, Tiktok, ataupun keduanya dapat diandalkan untuk membangun awareness dan memasarkan produk dan jasa, termasuk  café dan restoran.
Customer repurchase intention in The Duolos Phos Hotel Bintan
Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation Vol 8, No 2 (2025): October
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jithor.v8i2.84457

Abstract

AbstractThis study aimed to analyze the influence of service quality, menu variation, and restaurant promotion on the customer repurchase intention at Duolos Phos The Ship Hotel Bintan. Hence, this study explored the importance of maintaining customer loyalty in the hospitality industry, especially in maintaining the service quality in the restaurant, attractive menu variation, and effective promotional strategies. The method used in this research was a quantitative approach while the data were collected using questionnaires. The population of the study was the customers of the hotel restaurant, and the samples were decided through purposive sampling techniques. Using a quantitative approach with primary data from 100 respondents analyzed through PLS-SEM, the results show that restaurant promotion has the strongest influence on repurchase intention (t = 8.566), followed by menu variation (t = 5.075) and service quality (t = 3.953). The findings revealed that menu variation, restaurant promotion, and service quality simultaneously had a significant influence on customer repurchase intention. On the other hand, menu variety and restaurant promotion had a significant influence, while service quality showed a lower but still relevant effect. These findings indicated that by improving the preparation of menu variation according to customer preferences and the strength of promotion in restaurants, they become the main strategies in increasing customer repurchase intention. Therefore, the management must pay attention to these three aspects in an integrated manner to increase customer loyalty.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kualitas layanan, variasi menu, dan promosi restoran terhadap niat pembelian ulang pelanggan di Duolos Phos The Ship Hotel Bintan. Oleh karena itu, penelitian ini mengeksplorasi pentingnya menjaga loyalitas pelanggan dalam industri perhotelan, terutama dalam menjaga kualitas layanan di restoran, variasi menu yang menarik, dan strategi promosi yang efektif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif sementara data dikumpulkan menggunakan kuesioner. Populasi penelitian ini adalah pelanggan restoran hotel, dan sampel ditentukan melalui teknik purposive sampling. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data primer dari 100 responden yang dianalisis melalui PLS-SEM, hasilnya menunjukkan bahwa promosi restoran memiliki pengaruh paling kuat terhadap niat pembelian ulang (t = 8,566), diikuti oleh variasi menu (t = 5,075) dan kualitas layanan (t = 3,953). Temuan tersebut mengungkapkan bahwa variasi menu, promosi restoran, dan kualitas layanan secara simultan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap niat pembelian ulang pelanggan. Di sisi lain, variasi menu dan promosi restoran memiliki pengaruh yang signifikan, sementara kualitas layanan menunjukkan efek yang lebih rendah tetapi masih relevan. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan penyajian variasi menu sesuai preferensi pelanggan dan kekuatan promosi di restoran menjadi strategi utama dalam meningkatkan niat pembelian ulang pelanggan. Oleh karena itu, manajemen harus memperhatikan ketiga aspek ini secara terintegrasi untuk meningkatkan loyalitas pelanggan.
The glamping experience through Generation Z’s eyes: A study in Pancasari Tourism Village
Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation Vol 9, No 1 (2026): April
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jithor.v9i1.91700

Abstract

AbstractGlamping (glamorous camping) has emerged as a growing tourism trend that combines the comfort of modern amenities with the beauty of natural surroundings. In Bali, Pancasari Tourism Village in Buleleng Regency is developing glamping as a community-based tourism product to attract new market segments. Understanding Generation Z’s perceptions is crucial, as this generation born between 1997 and 2012 values authenticity, digital connectivity, and personalized experiences. However, limited research has examined their views on glamping within community-based tourism settings. This study explores Generation Z’s perceptions of glamping services in Pancasari Tourism Village, focusing on service quality, hospitality experiences, and lifestyle alignment. Using a qualitative phenomenological approach supported by sentiment analysis of survey data, findings reveal that while the site effectively delivers aesthetic appeal through its atmosphere, cool climate, and scenic views, it falls short in providing reliable infrastructure. Negative sentiments are dominated by issues related to facilities, Wi-Fi, and toilets, indicating critical maintenance and utility shortcomings. The overall positive sentiment of only 60% suggests that visual appeal alone cannot compensate for functional deficiencies. To enhance guest satisfaction and sustain growth, Pancasari Tourism Village must prioritize improvements in infrastructure and service reliability to align the physical experience with its strong brand image.AbstrakGlamping (glamorous camping) telah menjadi tren pariwisata yang semakin berkembang, menggabungkan kenyamanan modern dengan keindahan alam. Di Bali, Desa Wisata Pancasari yang terletak di Kabupaten Buleleng tengah mengembangkan glamping sebagai produk pariwisata berbasis masyarakat untuk menarik segmen pasar baru. Memahami persepsi Generasi Z menjadi hal yang penting, karena generasi yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012 ini menghargai keaslian, konektivitas digital, dan pengalaman yang bersifat personal. Namun, penelitian mengenai pandangan mereka terhadap glamping dalam konteks pariwisata berbasis masyarakat masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi persepsi Generasi Z terhadap layanan glamping di Desa Wisata Pancasari, dengan fokus pada kualitas layanan, pengalaman keramahtamahan, dan kesesuaian dengan gaya hidup. Pendekatan kualitatif fenomenologis digunakan, didukung oleh analisis sentimen dari data survei. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun destinasi ini berhasil menghadirkan daya tarik estetika melalui suasana, iklim sejuk, dan pemandangan indah, namun masih lemah dalam penyediaan infrastruktur yang memadai. Sentimen negatif banyak muncul terkait fasilitas, Wi-Fi, dan toilet, yang mengindikasikan adanya permasalahan pemeliharaan dan utilitas dasar. Dengan tingkat sentimen positif hanya sebesar 60%, daya tarik visual belum mampu menutupi kekurangan fungsional. Untuk meningkatkan kepuasan wisatawan dan menjaga keberlanjutan, Desa Wisata Pancasari perlu memprioritaskan perbaikan infrastruktur dan keandalan layanan agar pengalaman wisata sesuai dengan citra merek yang kuat.
Strategy for Developing Lake Toba Tourism Potential
Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation Vol 8, No 1 (2025): April
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jithor.v8i1.79612

Abstract

AbstractLake Toba has great potential as a national leading tourist destination with extraordinary natural and cultural wealth. However, tourism development in the region still faces various challenges, such as limited infrastructure, lack of empowerment of local communities, and low utilization of digital technology in promotion. This study aims to evaluate the strategy for developing the tourism potential of Lake Toba with a focus on improving the quality of local stakeholders. The approach used was qualitative with a case study method, involving in-depth interviews, participatory observations, and documentation studies of 25 participants. The results of the study show that collaboration between the government, local communities, and the private sector is the key to sustainable tourism development. Infrastructure needs to be improved, cultural preservation must be strengthened, and destination promotion must rely more on digital media. In addition, human resource training and environmental management are important aspects to realize an inclusive and sustainable tourism ecosystem. This study recommends a holistic approach based on cross-sector collaboration to optimize the tourism potential of Lake Toba.AbstrakDanau Toba memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata unggulan nasional dengan kekayaan alam dan budaya yang luar biasa. Namun, pengembangan pariwisata di kawasan masih menghadapi berbagai tantangan, seperti infrastruktur yang terbatas, kurangnya pemberdayaan masyarakat lokal, dan rendahnya pemanfaatan teknologi digital dalam promosi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi strategi pengembangan potensi pariwisata Danau Toba dengan fokus pada peningkatan kualitas pemangku kepentingan lokal. Pendekatan yang digunakan bersifat kualitatif dengan metode studi kasus, melibatkan wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi terhadap 25 peserta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kolaborasi antara pemerintah, masyarakat lokal, dan sektor swasta merupakan kunci pengembangan pariwisata berkelanjutan. Infrastruktur perlu ditingkatkan, pelestarian budaya harus diperkuat, dan promosi destinasi harus lebih mengandalkan media digital. Selain itu, pelatihan sumber daya manusia dan pengelolaan lingkungan menjadi aspek penting untuk mewujudkan ekosistem pariwisata yang inklusif dan berkelanjutan. Penelitian ini merekomendasikan pendekatan holistik berbasis kolaborasi lintas sektor untuk mengoptimalkan potensi pariwisata Danau Toba.
Analisis Journey-Based Assessment pengunjung dan implementasi Green Tourism di Kabupaten Garut
Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation Vol 9, No 1 (2026): April
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jithor.v9i1.88164

Abstract

AbstractTourism can accelerate regional economic growth but may produce environmental and sociocultural pressures when destination management is not aligned with sustainability. In Garut Regency, developing tourism while protecting natural assets requires a clear understanding of visitor experiences across all trip stages. This study aims to map key touchpoints in the visitor journey and to identify priority green tourism interventions that can improve visitor satisfactionwhilesupportingenvironmentalpreservation.Aconceptual qualitative case study was conducted by synthesizing scholarly literature, localpolicy documents, and tourism activity reportsto build a journey-based assessment map and an opportunity matrix for green tourism initiatives. The analysis indicates three journey phases (pre- visit, during-visit, post-visit) and highlights recurring pain points, including fragmented information, limited wayfinding and access constraints, inadequate public facilities, and insufficient waste management in tourism sites. Opportunities are concentrated in integrated digital information services, waste segregation and community-based recycling programs, resource-efficiency measures (energy and water), low-carbon mobility options, and continuous environmental education for visitors and local stakeholders. These findings provide a practical framework to align visitor-centric destination management with green tourism development in Garut Regency.AbstrakPariwisata dapat mendorong pertumbuhan ekonomi regional, tetapi juga dapat menimbulkan tekanan lingkungan dan sosial-budaya apabila pengelolaannya tidak selaras dengan prinsip keberlanjutan. Di Kabupaten Garut, pengembangan destinasi yang menjaga aset alam memerlukan pemahaman menyeluruh atas pengalaman pengunjung pada setiap tahap perjalanan. Penelitian ini bertujuan memetakan titik sentuh utama perjalanan pengunjung dan mengidentifikasi prioritas intervensi pariwisata hijau yang berpotensi meningkatkan kepuasan pengunjung sekaligus mendukung pelestarian lingkungan. Studi kasus kualitatif-konseptual ini disusun melalui sintesis literatur ilmiah, dokumen kebijakan daerah, dan laporan kegiatan pariwisata untuk membangun peta penilaian berbasis perjalanan serta matriks peluang inisiatif pariwisata hijau. Hasil analisis menunjukkan tiga fase perjalanan (pra-kunjungan, saat kunjungan, pasca-kunjungan) dan mengungkap pain point berulang, seperti informasi yang terfragmentasi, keterbatasan penunjuk arah dan aksesibilitas, fasilitas umum yang belum memadai, serta pengelolaan sampah di Kawasan wisata. Peluang perbaikan terkonsentrasi pada layanan digital terintegrasi, pemilahan sampah dan daur ulang berbasis komunitas, efisiensi sumber daya (energi dan air), opsi mobilitas rendah emisi, serta edukasi lingkungan berkelanjutan bagi wisatawan dan pemangku kepentingan lokal. Temuan ini menyediakan kerangka praktis untuk menyelaraskan pengelolaan destinasi berpusat pada pengunjung dengan pengembangan pariwisata hijau di Kabupaten Garut.