cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Masyarakat dan Budaya
ISSN : 14104830     EISSN : 25021966     DOI : -
Core Subject :
Jurnal Masyarakat dan Budaya (JMB) or Journal of Society and Culture is a peer-reviewed journal that aims to be an authoritative academic source on the study of society and culture. We publish original research papers, review articles, case studies, and book reviews focusing on Indonesian society, cultural phenomena, and other related topics. A manuscript describing society and culture outside Indonesia is expected to be analyzed comparatively with the issues and context in Indonesia. All papers will be reviewed rigorously at least by two referees. JMB is published three times a year, in April, August , and December.
Arjuna Subject : -
Articles 869 Documents
PENELITIAN ETNOGRAFI DIBALIK PENCEGAHAN KONFLIK DAN AFFIRMATIVE ACTION PERLINDUNGAN KEKAYAAN BUDAYA: Memahami Sebuah Hibriditas Kebudayaan Muhammad Alie Humaedi
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 19 No. 3 (2017)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v19i3.544

Abstract

Konflik suku dan agama menjadi isu hangat dunia penelitian. Beragam pendekatan digunakan untuk memotret masalah, aktor, dan penyebab yang bisa diuraikan untuk meredam konflik. Sayangnya, banyak penelitian yang hanya menampilkan aspek permukaan, sehingga penyelesaiannya bersifat artifisial dan tidak kontekstual. Aspek kebudayaan dan kebahasaan terkait konflik, dan menjadikannya sebagai modal terpenting dalam penyelesaian konflik kurang dilihat komperehensif. Di sisi lain, bahasa dan budaya daerah hanya dimaknai sebagai khazanah kebudayaan yang berorientasi pengembangan pariwisata saja. Belum ada upaya maksimal dalam mendorong budaya dan bahasa beserta proses hibriditasnya sebagai strategi terpenting mitigasi konflik. Penelitian yang mampu mengungkap nilai dan praktik kebudayaan berbagai kelompok sukubangsa belum banyak menjadi media langkah strategis itu. Pertanyaannya, bagaimana penelitian dan perspektif etnografi dapat berperan dalam upaya peredaman konflik dan affirmasi bagi upaya perlindungan kekayaan budaya daerah? Tulisan ini refleksi berbagai penelitian terkait bahasa dan budaya yang dilakukan LIPI dan lembaga lain. Keterlibatan penulis dalam dunia penelitian etnografi bahasa dan budaya menjadi aspek penting refleksinya. Penelitian ini telah menjelaskan perkembangan dan kecenderungan penelitian kebudayaan di LIPI dan lembaga lain. Selain itu, penelitian etnografi budaya dan bahasa tidak hanya berdampak pada upaya perlindungan kekayaan budaya berbagai sukubangsa, tetapi juga menjadi upaya strategis dalam peredaman konflik dan peneguhan kebangsaan. Tribal and religious conflicts are becoming a hot issue of the research world. Various approaches are used to describe problems, actors, and causes that can be deciphered to quell conflicts. Unfortunately, many studies show only surface aspects, so the solution is artificial and non-contextual. The cultural and linguistic aspects of the conflict, the most important capital in conflict resolution, are less than comprehensive. On the other hand, the local language and culture is only interpreted as a cultural treasure for tourism development only. There has been no maximum effort in encouraging culture and language along with its hybridity process as the most important strategy of conflict mitigation. Research which able to reveal the values and cultural practices of various ethnic groups has not been a major medium for the strategic paradigm. The question is, how can ethnographic research and perspectives play a role in the efforts to conflicts mitigation and affirmations for the protection of local cultural wealth? This paper reflects the various researches related to language and culture conducted by LIPI and other institutions. The involvement of writers in the world of ethnographic research of language and culture becomes an important aspect of his reflection. This writing explained the development and tendency of cultural research in LIPI and other institutions. In addition, cultural and linguistic ethnographic research viewed not only affects the protection of cultural wealth of various ethnic groups, but also a strategic effort in the reduction of conflict and affirmation of nationality.
Pemertahanan Bahasa Ibu tentang Tempat-Tempat Sakral dan Tantangan Perubahan Sosial Budaya Orang Marori dan Kanum di Kabupaten Merauke, Papua I Ngurah Suryawan
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 19 No. 3 (2017)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v19i3.545

Abstract

Artikel ini memfokuskan pada upaya bersama-sama yang dilakukan penulis dengan generasi muda di dua suku yaitu Marori dan Kanum di Kabupaten Merauke, Papua untuk melakukan dokumentasi bahasa dan nilai-nilai budaya mengenai hubungan mereka dengan lingkungannya. Kondisi perubahan sosial budaya menghimpit mereka dan pondasi pengetahuan lokal dalam pemanfaatan lingkunga menjadi tergoyahkan. Masyarakat lokal memiliki pengetahuan kaya yang menunjukkan relasi panjang dengan lingkungan alam sekitarnya. Dari perspektif masyarakat terdapat pemetaan ruang-ruang hidup yang mencakup wilayah perkampungan, perkebunan, dan leluhur (pamali). Masyarakat juga menamai wilayah-wilayah tersebut dengan bahasa lokal yang biasanya mengacu kepada nama-nama tumbuhan, hewan, atau peristiwa sejarah penting di lokasi tersebut. Bahasa-bahasa tersebut memiliki makna yang luas dan menjadi cermin ekspresi kebudayaan orang Marori dan Kanum. Dokumentasi bahasa dan makna budaya yang menyertainya sangat penting untuk dilakukan sebagai penanda pengetahuan lokal yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Usaha tersebut tidak mudah di tengah mulai tercerabutnya akar budaya dan hilangnya pengetahuan bahasa lokal. Penghargaan terhadap lingkungan menjadi terabaikan dan perusakan berlangsung terus-menerus untuk kepentingan uang. This article focuses on exploring the use of mother tongue on sacred places for the Marori and Kanum People in Merauke District, Papua. The mother tongue for sacred places contains the meaning that links people's relationship with their environment. Local people have rich knowledge that shows long relationships with the surrounding natural environment. There are mapping of living spaces covering the village area, plantations, and ancestors (pamali) from their perspective of society. The community also names these areas in their mother tongue, which usually refers to the names of important plants, animals, or historical events at the site. These mother tounge have a wide meaning and mirror the cultural expressions of Marori and Kanum people. The condition of socio-cultural change hinders them and, moreover, the foundation of their local knowledge in the utilization of the environment becomes unsteady. This article explores the meaning behind the mother tongues in the living spaces of Marori and Kanum people. Mother tongue translation becomes very urgen amid socio-cultural changes that cause damage to the environment. The effort is not easy amid the loss process of culture and knowledge of local languages. The efforts to protect the environment have been abandoned and the process of destruction has occurred continuously for the sake of economic interests.
NELAYAN BRONDONG DALAM KONSTRUKSI KEBERAGAMAAN (STUDI FENOMENOLOGI PADA MASYARAKAT NELAYAN DI KECAMATAN BRONDONG, KABUPATEN LAMONGAN) nike kusumawanti
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 19 No. 3 (2017)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v19i3.546

Abstract

Studi ini bertujuan untuk memahami esensi keberagamaan nelayan dengan cara: 1) Menjelaskan transformasi ideologi dan agama yang terjadi di Brondong dari masa ke masa, 2) Memahami secara mendalam proses konstruksi sosial masyarakat nelayan Brondong dalam memaknai agama. Kedua permasalahan tersebut akan didekati dengan perspektif Konstruksi Sosial Peter.L.Berger dan Thomas Luckmann dan Praktik Sosial Pierre Bourdieu, dengan pendekatan fenomenologi. Dari hasil analisis diperoleh kesimpulan sebagai berikut, pertama, bahwa transformasi ideologi dan agama yang terjadi pada masa Kerajaan Mataram hingga pergerakan sosial pada tahun 1965 berpengaruh pada dinamika ideologi dan keagamaan masyarakat nelayan Brondong. Kedua, konstruksi sosial atas religisutas nelayan menunjukkan adanya perbedaan keberagamaan di level struktural dan kultural karena terjadi kompetisi kekuatan modal sosial dan modal simbolik yang dipertarungkan dalam ranah masyarakat nelayan Brondong. This study aims to understand the religious essence of fishermen by: (1) Explaining the ideological and religious transformations that occurred in Brondong from time to time, (2) Understanding the social construction process of the Brondong fishermen community in interpreting religion. Both issues will be approached with the perspective of PeterL.Berger and Thomas Luckmann’s Social Construction and Pierre Bourdieu's Social Practice, with a phenomenological approach.From the analysis results obtained the following conclusion. First, the transformation of ideology and religion that occurred during the Mataram Kingdom until the social movement in 1965 influenced the ideological and religious dynamics of the fishing community Brondong. Second, the social construction of the religiosity of fishermen shows the existence of religious differences in the structural and cultural levels due to competition of social capital and symbolic capital which is fought in the realm of fishing society of Brondong.
Peran Pemerintah, Kapitalis, dan Netters dalam Mengontrol Media (Analisis terhadap Studi Media di LIPI) Nina Widyawati
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 19 No. 3 (2017)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v19i3.547

Abstract

Studi media di LIPI berjalan seiring dengan isu-isu yang hangat di jamannya. Dimulai tahun 1976 ketika pemerintah Orde Baru ingin menggunakan televisi sebagai alat pembangunan. Pemerintah memutuskan untuk memiliki Sistem Komunikasi Satelit Domestik agar siaran televisi bisa diakses oleh seluruh masyarakat Indonesia. Akses televisi yang luas dirancang untuk mempertahankan status quo dengan cara menyiarkan keberhasilan pemerintah. Kenyataannya televisi tidak hanya memiliki dampak positif, tetapi juga menimbulkan dampak negatif. Oleh karena itu, sejak akhir pemerintahan Orde Baru sampai awal runtuhnya Orde Baru, LIPI banyak melakukan studi media effect menggunakan pendekatan kuantitatif. Setelah Orde Baru runtuh, sistem pemerintahan juga berubah dari sentralistis menjadi desentralistis. Media juga tumbuh menjadi institusi yang lebih demokratis. Pada saat yang sama, kapitalisasi media berkembang pesat. Industri media dikusasi oleh kapitalis dan hal ini kemudian berpengaruh kepada kebijakan dalam menentukan konten. Berkembanglah studi-studi kritis seperti ekonomi politik media dan analisis wacana kritis. Ketika TIK berkembang, peran kapitalis dalam mengontrol konten mulai digeser oleh netters. Pada era ini, LIPI melakukan studi tentang masyarakat jaringan. Dengan demikian, pola perkembangan studi media di LIPI tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di Amerika dan Eropa. Perubahan suatu rezim berpengaruh terhadap peran media yang pada akhirnya mempengaruhi tema studi. Bedanya, studi di LIPI lebih lambat antara 10-20 tahun dari perkembangan studi di Amerika dan Eropa.ngontrol konten mulai digeser oleh netters. Pada era ini LIPI melakukan studi tentang masyarakat jaringan. Dengan demikian pola perkembangan studi media di LIPI tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di Amerika dan Eropa. Perubahan suatu rejim berpengaruh terhadap peran media yang pada akhirnya mempengaruhi tema studi. Bedanya studi di LIPI lebih lambat antara 10-20 tahun dengan perkembangan studi di Amerika dan Eropa. Research about Media at LIPI goes hand in hand with the important issues of the era. Started in 1976 when the New Order Government wanted to use television for development tools. The government built Sistem Komunikasi Satelit Domestik (Domestic Satellite Communications System) for television to be able to be accessed by all Indonesian. On the one hand, television access is designed to maintain the status quo by broadcasting the success of the government, but on the other hand, there are negative impact. Therefore, started from the end of the New Order Government until the beginning of the fall, LIPI conducted media effect studies with quantitative approach. The fall of New Order has changed the system from centralized to decentralized, consequently, the media has also grown into a more democratic one. At that time, capitalization of media industry begins to flourish, as an effect the media industry is exploited by the capitalist which able to influence the policy by determining the content. This era, media research at LIPI employs critical approach such as the political economy of media and critical discourse analysis. When ICT develops the role of capitalist in controlling content, began to be shifted by netters, LIPI conducts studies about network society. Thus, the pattern of media research in Indonesia is not much different from that occurred in America and Europe. The change of a regime influences the role of the media that ultimately affects the theme of the study. The difference of media study in LIPI is 10 to 20 years slower in comparison with similar study in America and Europe.
THE ROLE OF VIRAL VIDEO IN INDONESIAN POLITICS Pratiwi Utami
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 19 No. 3 (2017)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v19i3.548

Abstract

Social media offers the wide availability and facility to exchange information. It provides space for people to aggregate around common interests and narratives. At given situations, content can spread rapidly across networks and go viral. This paper attempts to reveal the meaning and the role of viral video in Indonesia’s contemporary politics, using Al-Maida 51 viral video as the case study. To achieve that, this paper utilises an archival analysis of videos and documents to investigate what components constitute virality. Basing on the theory and the logic of “virality”, this paper examines the key factors that allow a video to go viral generally and in the specific context of Indonesia. This article also provides a comparison between viral political video with documentary video and news video viewed from production, distribution, and consumption perspectives. The comparison suggests that viral video is not just a message or product, but a medium for other messages. Viral videos are platforms of ideas and they open the opportunities for new values and interpretations as well as different forms of political participation. The study concludes that user’s intervention in media-making process is important; in the case of the Al-Maida 51 viral video, a user’s specific intervention can lead a shift from a documentary work to a piece of video with political impact. Furthermore, users’ contribution in spreading a video and adding their personal comment about it in their post is indicative to the role of the users as intermediaries who might not create the virality, but can stimulate it. Media sosial daring menawarkan fasilitas dan kemudahan dalam proses pertukaran informasi, orang-orang dengan kesamaan minat dan nilai dapat berkumpul dan berinteraksi. Dalam beberapa situasi, informasi dapat beredar dengan cepat dan lintas jejaring, sehingga menjadi viral. Tulisan ini ingin menelisik makna dan peran video viral dalam praktik politik kontemporer di Indonesia, dengan menggunakan kasus video viral “Al-Maidah 51”sebagai contoh kasus. Tulisan ini menggunakan teori dan logika “virality” milik Nahon dan Hemsley (2013) dan menganalisis video viral di internet untuk melihat faktor-faktor kunci yang menentukan sebuah video dapat menjadi viral, baik secara umum maupun dalam konteks spesifik di Indonesia. Tulisan ini juga menyajikan perbandingan antara video politik viral dengan video dokumenter dan video berita dari perspektif produksi, distribusi, dan konsumsi. Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa video viral bukan sekadar pesan atau produk media sosial, tetapi juga merupakan medium itu sendiri. Ia merupakan platform gagasan yang membuka peluang atas hadirnya nilai-nilai dan interpretasi baru atas sebuah pesan, serta menunjukkan adanya partisipasi politik dalam wujud yang lain. Dapat disimpulkan bahwa intervensi pengguna media sosial dalam proses produksi, distribusi, dan konsumsi pesan dapat dipandang sebagai partisipasi politik dan karenanya menjadi penting. Dalam kasus video Al-Maidah 51, intervensi tertentu dari pengguna dapat mengubah peran sebuah video dari yang semata produk dokumentasi menjadi potongan video pendek yang memiliki dampak politis. Lebih lanjut, kontribusi pengguna dalam menyebarkan video sambil menambahkan komentar di akun pribadi media sosial mereka mengindikasikan adanya fungsi intermediasi yang dijalankan oleh para pengguna. Artinya, pengguna media sosial daring mungkin tidak selalu bisa menciptakan viralitas, tetapi bisa menstimulasi terjadinya konten yang beredar viral.
TINJAUAN BUKU: PEMBANGUNAN SOSIAL DI WILAYAH PERBATASAN KAPUAS HULU, KALIMANTAN BARAT luis feneteruma
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 19 No. 3 (2017)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v19i3.549

Abstract

Judul : Pembangunan Sosial di Wilayah Perbatasan Kapuas Hulu, Kalimantan Barat Penulis : Henny Warsilah dan Dede Wardiat Penerbit : Yayasan Pustaka Obor Indonesia Cetakan : Pertama Juli Tahun : 2017 Tebal : 190 Halaman
KARAKTERISTIK NELAYAN KECIL DALAM KETAHANAN PANGAN IKAN: KASUS DI KOTA KENDARI, SULAWESI TENGGARA Drs. Ary Wahyono, M.Si
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 18 No. 3 (2016)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v18i3.550

Abstract

Stigma nelayan kecil tidak memiliki konstribusi pada ketahanan pangan tidak selalu benar. Nelayan kecil adalah satu-satunya kelompok sosial yang memberikan asupan makanan dengan mudah untuk penyediaan kebutuhan ikan konsumsi. Paling tidak kebutuhan ikan konsumsi untuk keluarganya terpenuhi. Hal ini tidak terjadi pada perikanan tangkap skala besar yang lebih ditujukan untuk memenuhi kebutuhan ekspor ikan. Pemerintah Indonesia tampaknya lebih memilih meningkatkan ekspor hasil perikanan dibandingkan dengan memikirkan kebutuhan konsumsi ikan dalam negeri. Tulisan ini merupakan hasil penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif dengan menyebar kuesioner kepada rumah tanggal nelayan kecil secara terbatas di kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Dari Hasil penelitian menunjukan bahwa kontribusi nelayan kecil untuk kebutuhan konsumsi ikan lokal terpengaruh sejak adanya kebijakan moratorium perikanan tangkap karena sebagian nelayan kecil mulai tertarik untuk memasok kebutuhan industri pengolahan hasil ikan. Hal ini tentu saja mempengaruhi pasokan kebutuhan ikan konsumsi lokal. Stigma against small scale fishery as poor fisherman who doesn’t contribute toward country still often happens. Stigma against that small fisherman is not always true. Fishermans are the only social group that gives food intake for people provision of food. In developed country, including Indonesia, Government’s awareness against food security is so low. Government prefer to increase fish export product than food security. This article is written from research result in Kendari, which shows that small scale fishery contribution is large enough, which is more than the local fish consumption. Problem comes with the decrease of fish supply for local consumption because so many small scale fisheries begin to supply fishery industry need as the impact of government policy. This actions greatly affects the local food security.
POLA KONSUMSI IKAN OLEH MASYARAKAT DI DESA HITUMESING, KABUPATEN MALUKU TENGAH Ratna Indrawasih
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 18 No. 3 (2016)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v18i3.551

Abstract

Besarnya potensi sumber daya ikan di Provinsi Maluku menjadikan Maluku sebagai lumbung ikan nasional, yang menunjang kebutuhan pangan ikan penduduk Indonesia. Hal itu menjadikan konsumsi ikan perkapita penduduk Maluku tinggi secara nasional. Tulisan ini bertujuan mendiskusikan bagaimana hubungan antara jumlah produksi ikan yang tersedia dengan konsumsi perkapita penduduknya dan bagaimana pula pola konsumsi ikan masyarakat Hitumesing. Tulisan ini merupakan hasil penelitian lapangan di Kabupaten Maluku Tengah. Data diperoleh melalui kuesioner dan pedoman wawancara. Selain itu, juga dengan diskusi kelompok terfokus dan observasi juga dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jika membandingkan produksi ikan di Kabupaten Maluku Tengah yang dikonsumsi dengan jumlah penduduknya, hasil yang diperoleh menunjukkan angka yang cukup tinggi. Hasil tersebut di atas rata-rata konsumsi perkapita penduduk Desa Hitumesing. Padahal, Desa Hitumesing merupakan desa pesisir yang mempunyai kemudahan akses sumber daya ikan. Hal itu disebabkan oleh perilaku nelayan Desa Hitumesing yang cenderung berorientasi pasar atau ekonomi dan bukan mengonsumsi ikan itu sendiri. The great potential of fish resources makes Maluku Province as the national fish center supporting the fish need all over Indonesia. At the national rate, it encourages high fish consumption per capita of Mollucan. This papers draws the relationships between the availability of fish production and the inhabitants consumption inhabitans per capita as well as the fish comsumption pattern of the Hitumesing People. This paper was based on field research in Central Maluku, in which data were gathered from questionnaire and interview guideline. Moreover, focus group discussion (FGD) and observation were also conducted. Results show the production of fish in Central Maluku is much higher than the number of fish consumption. It is even much greater than the average of fish consumption per capita of Hitumesing people. Alhough Hitumessing Village is a coastal village with easy access to the fish resources, the fishermen tend to sell the fish rather than to consume it.
Dinamika Implementasi Kebijakan Keagamaan di Indonesia Muhammad Saifullah Rohman
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 20 No. 2 (2018)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v20i2.555

Abstract

Judul : Religion and Regulation in Indonesia Penulis : Ismatu Ropi Penerbit : Palgrave Macmillan-Springer Nature Cetakan : I Tahun : 2017 Tebal : 263 halaman
Preface JMB Vol 19 No 1 Anggy Denok Sukmawati, MA
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 19 No. 1 (2017)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v19i1.561

Abstract


Filter by Year

1997 2023


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 3 (2023): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 25 No. 2 (2023): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 25 No. 1 (2023): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 24 No. 3 (2022): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 24 No. 2 (2022): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 24 No. 1 (2022): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 23 No. 3 (2021): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 23 No. 2 (2021): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 23 No. 1 (2021) Vol. 22 No. 3 (2020) Vol. 22 No. 2 (2020) Vol. 22 No. 1 (2020) Vol. 21 No. 3 (2019) Vol. 21 No. 2 (2019) Vol. 21 No. 1 (2019) Vol. 20 No. 3 (2018) Vol. 20 No. 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol. 20 No. 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol. 20 No. 1 (2018) Vol 19, No 3 (2017) Vol. 19 No. 3 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol. 19 No. 2 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol. 19 No. 1 (2017) Vol. 18 No. 3 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol. 18 No. 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol. 18 No. 1 (2016) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol. 17 No. 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol. 17 No. 1 (2015) Vol 16, No 3 (2014) Vol. 16 No. 3 (2014) Vol. 16 No. 2 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol. 16 No. 1 (2014) Vol. 15 No. 3 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol. 15 No. 2 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol. 15 No. 1 (2013) Vol. 14 No. 3 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol. 14 No. 2 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol. 14 No. 1 (2012) Vol 13, No 2 (2011) Vol. 13 No. 2 (2011) Vol. 13 No. 1 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol. 12 No. 3 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol. 12 No. 2 (2010) Vol. 12 No. 1 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol. 11 No. 2 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol. 11 No. 1 (2009) Vol. 10 No. 2 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol. 10 No. 1 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 1 (2007) Vol. 9 No. 1 (2007) Vol. 8 No. 2 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol. 8 No. 1 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 2 (2005) Vol. 7 No. 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol. 7 No. 1 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 2 (2004) Vol. 6 No. 2 (2004) Vol. 6 No. 1 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 2 (2003) Vol. 5 No. 2 (2003) Vol. 5 No. 1 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 3, No.1 (2000) Vol 3, No.1 (2000) Vol 2, No.2 (1999) Vol 2, No.2 (1999) Vol 2, No.1 (1998) Vol 2, No.1 (1998) Vol 1, No.2 (1998) Vol 1, No.2 (1998) Vol 1, No.1 (1997) Vol 1, No.1 (1997) More Issue