cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Masyarakat dan Budaya
ISSN : 14104830     EISSN : 25021966     DOI : -
Core Subject :
Jurnal Masyarakat dan Budaya (JMB) or Journal of Society and Culture is a peer-reviewed journal that aims to be an authoritative academic source on the study of society and culture. We publish original research papers, review articles, case studies, and book reviews focusing on Indonesian society, cultural phenomena, and other related topics. A manuscript describing society and culture outside Indonesia is expected to be analyzed comparatively with the issues and context in Indonesia. All papers will be reviewed rigorously at least by two referees. JMB is published three times a year, in April, August , and December.
Arjuna Subject : -
Articles 869 Documents
Preface JMB Vol 20 No 1 2018 Anggy Denok Sukmawati, MA
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 20 No. 1 (2018)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v20i1.638

Abstract

-
PRAKTIK-PRAKTIK KEBENARAN AGAMA ANALISIS KONTESTASI KOMUNITAS MUSLIM DI HADAPAN KATOLIK DI PONOROGO THE PRACTICES OF RELIGIOUS TRUTH CONTESTATION ANALYSIS OF MUSLIM COMMUNITY BEFORE CATHOLICS IN PONOROGO Ahmad Lutfi
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 21 No. 1 (2019)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v21i1.641

Abstract

Pasca tragedi yang muncul dari kubu Dewan Dakwah Islam pada tahun 2008 muncul fenomena baru dalam sejarah agama di desa Klepu, yakni terbentuknya forum masjid. Forum ini menandai babak baru munculnya agama publik di Umat Islam. Namun justru di sini letak persoalannya, yakni agama yang awalnya bersifat privat berubah menjadi bersifat publik. Tulisan ini akan mendekati persoalan terbentuknya agama publik tersebut dengan pendekatan sosiologi. Teori yang akan digunakan adalah teori kontestasinya Pierre Bourdieu. Fokus yang akan dianalisis adalah masalah kontestasi muslim dihadapan Katolik. Ada dua persoalan yang akan dibahas, pertama bagaimana habitus forum masjid yang telah mengubah agama dari privat menjadi publik. Kedua, bagaimana forum masjid memainkan kapital hingga menjadikan agama berubah menjadi ruang publik. Kesimpulan, perubahan itu diawali dari bersatunya antara “yang agama” dan “yang politik”. Kedua kapital ekonomi dan simbol. Habitus dan capital ini merupakan modus bagi beralihnya agama privat menjadi publik.
Menancapkan Tiang-Tiang “Kayu Besi”: Adat dan Strategi Para Elit di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat I Ngurah Suryawan
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 20 No. 3 (2018)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v20i3.644

Abstract

Memperkuat adat bisa bermata dua jika hanya terfokus pada romantisasi “ideologi harmoni” tanpa memeriksa relasi produksi dan kelas dalam masyarakat adat kontemporer. Merespon kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh negara dan investasi, gerakan masyarakat adat di Tanah Papua harus mampu merefleksikan diri dalam hubungan dengan perubahan di internal diri mereka merespon perubahan yang diangkut oleh pembangunan dan investasi. Hanya dengan memahami konteks inilah masyarakat adat di Papua akan mampu untuk mengambil langkah-langkah aksi dalam menegakkan martabatnya.
Ambiguous Neutrality: Kompas’ Position Amid the Wave of Political Polarization During the Presidential Election 2014 Wijayanto Wijayanto
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 20 No. 2 (2018)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v20i2.651

Abstract

This study aims to examine the position of Kompas daily newspaper amid the wave political polarization during Indonesian presidential election 2014 and explain the underlying reason behind it. Based on six months on site observation within the daily’s newsroom as well as content analysis to 278 of Kompas’ article during the presidential campaign, this study found that the actual position of the daily has been ambiguous. On one hand, it claimed to be neutral in its editorial policy, but on the other hand, most of its editorial elites as well as its reporters had personally supported Jokowi. Furthermore, even though the daily has managed to be in a relative balance in term of space in its coverage, it has favored Jokowi in term of tone. This study argues there are political, economy as well as cultural reasons underlying this ambiguous position. Politically, Kompas took position to be neutral to stay close, and to avoid conflict, with whoever might win the election. Economically, this position was taken to maximize its economic interest to maintain its readers whose supports were also divided to the two pairs of candidates and to keep the chance to get advertising revenue from both candidates. Finally, this position has been justified by the shared cultural values among the journalists that this is important to remain neutral to avoid direct confrontation with either Presidential candidate. This values has been embodied as part of the habitus of the journalists which its development primarily took place under the previous authoritarian era. This situation is surprisingly similar with the case in the post authoritarian South American countries, in which the legacy of the authoritarian past still takes hold to the current state of its journalism.
Cover Vol 20 No 1 2018 Anggy Denok Sukmawati, MA
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 20 No. 1 (2018)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v20i1.663

Abstract

PAPUA DALAM MEDIA (Analisis Framing Media Lokal Radar Sorong dan Antara Papua Barat Terhadap Pemberitaan Otonomi Khusus di Papua Barat) Efa Rubawati
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 20 No. 3 (2018)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v20i3.671

Abstract

Konstruksi realitas masyarakat Papua dalam media menghadirkan sebuah realitas baru di tengah masyarakat yang dianggap sebagai realitas sebenaranya. Realitas media tersebut tidak sepenuhnya relevan dengan realitas sesungguhnya yang terjadi pada masyarakat Papua. Framing setiap media tentu berbeda meskipun memberitakan permasalahan yang sama, yakni mengenai otonomi khusus di Papua Barat. Menggunakan metode deskriptif kualitatif, tulisan ini berupaya untuk memaparkan alasan dibalik konstruksi realitas yang dilakukan oleh media serta melakukan analisis terhadap framing yang dilakukan oleh media lokal Radar Sorong dan Antara Papua Barat terhadap pemberitaan otonomi khusus. Teori konstruksi sosial dan metode analisis framing milik Robert N. Entman menjadi pisau analisis dalam tulisan ini. Hasilnya menunjukkan bahwa framing Radar Sorong menekankan otonomi khusus di Papua Barat perlu dievaluasi, sementara itu berbanding terbalik dengan framing Antara Papua Barat yang justu mendukung penerapan otonomi khusus, meskipun dengan penekanan pada skema baru. Selain itu, terjadinya konstruksi realitas Papua dalam media serta framing terhadap pemberitaan otonomi khusus terjadi karena beberapa faktor yang mempengaruhi, yaitu kepentingan ekonomi dan politik, adanya hegemoni media dan rezim representasi juga pengaruh strukturasi dalam sebuah institusi media.
Globalization and The Cultural Politics of Tradition Some Lessons from Developing Countries Fadjar I. Thufail
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol 1, No.1 (1997)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v1i1.676

Abstract

Globalization in this time is popular discourse specially in economic actors. Though, development of globalization theory just has taken its first step. Both in popular discourse and economic theory relate with economic aspect and social globalization inter-nation. Then, for this time rarely to see the relation between globalization and cultural-political process in local level. This article try to offer another approach for analysing of globalization process that focus on social and cultural context in development country. In this type of analysing, research for “vernacularization” process like forms of global culture is very important as global community forming process. The relation for this article, anthropology offer an critical view to analyze global process that happen in daily life in the world.
ANOMIE DI TENGAH PERUBAHAN SOSIAL Rusyi Syahra
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol 3, No.1 (2000)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v3i1.678

Abstract

It has become an awareness to many that in addition the visible economic and monetm~y crisis on the surface, Indonesia is currently undergoing a multidimensional crisis that has resulted in social discontent and intergroup conflicts in various parts oft he country. It is widely held that the main cause of all the crises is the disruption of moral authority on the part of government officials and the military due to the widespread mismanagement of the past government. This article is devoted to explain the current multidimensional crisis and its destabilizing impact on the society fi'om the sociological concept of anomie. The concept, first introduced in the turn of the I 9th century by Emile Durkheim, a grand theorist of sociology, seeks to explain the nature of normlessless or anomie on the part of individuals and the whole society as the result of a tremendous and sudden social change. Further, a brief account is provided 011 how the concept has heen developed and used until recentlv by a number of social scientists in explaining the impacts of political turmoil and profound economic changes on national security and societal living condition of many countries oft he world. The article finally suggests a method that could be developed to detect and prevent social conflicts and unrests that may take place in the future.
LOCAL KNOWLEDGE FOR A SUSTAINABLE DEVELOPMENT Haryo S Martodihardjo
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol 3, No.1 (2000)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v3i1.680

Abstract

Inti pelaksanaan pembangunan berkelanjutan berwawasan lingkungan yang semakin marak dewasa ini terletak pada pendekatan "grass-root participation" yang tentunya diharapkan dapat lebih menjamin kelangsungan kepentingan dan ukuran subyektif masyarakat dalam mengikuti tarikan pembangunan nasional. Modal utama pendekatan "grass-root participation" adalah adanya perhatian dan penerapan "local knowledge". Hubungan antara pengetahuan lokal dan pembangunan berkelanjutan ini di dasarkan pada fenornena konseptual tentang adanya konjlik peta mental dan konjlik legalitas dalam kehidupan masyarakat yang sedang membangun. Kasus pada masyarakat Minahasa di Sulawesi Utara diangkat dari hasil penelitian yang dilaksanakan di sembilan desa di wilayah Kabupaten Minahasa pada tahun 199511996. Lokasi penelitian dipilih berdasarkan kriteria pokok : karakteristik geografi, latar belakang etniklsub-etnik, dan sikap kosmopolitan masyarakat. Terungkap sejumlah aturan adat dalam kehidupan masyarakat Minahasa dewasa ini yang mengandung kearifan lingkungan, yang bertumpu pada anggapan dasar bahwa tanah dan air beserta seluruh isinya merupakan sumber kehidupan yang harus selalu · dijaga keberadaan dan kesinambungan perkembangannya. Nilai-nilai tradisional yang tetap hidup tersebut temyata tidak selalu bertentangan dengan nilai-nilai baru yang masuk melalui program-program pembangunan. Penerapan pengetahuan lokal justru dapat menjadi mediator penting bagi masyarakat dalam proses adaptasi sosial dan budaya terhadap kehidupan dunia modern melalui pelaksanaan pembangunan yang berkelanjutan.
Menjadi “Tamu Istimewa” di Rumah Orang Lain: Identitas Sosial dan Etnosentrisme Jamaah Suluk Asal Malaysia di Tarekat Naqsyabandiyah-Khalidiyah Babussalam (TNKB) Muzakkir Muzakkir; Abdullah AS
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 21 No. 2 (2019)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v21i2.685

Abstract

Artikel ini tentang jamaah asal Malaysia yang terlibat dalam aktivitas spiritual di Tarekat Naqsyabandiyah-Khalidiyah Babussalam (TNKB). Jamaah asal Malaysia ini berbeda dan membedaan diri dengan jamaah lokal, atau masyarakat Kampung Besilam. Untuk memahami eksistensi jamaah asal Malaysia ini diajukan pertanyaan apa identitas sosial dan bagaimana etnosentrisme jamaah asal Malaysia di TNKB. Menjawab pertanyaan diajukan digunakan pendekatan kualitatif untuk menganalisis data ditemukan. Penelitian ini menemukan bahwa identitas sosial jamaah asal Malaysia dibentuk berdasarkan struktur sosial-ekonomi menempatkan kelompok tersebut sebagai kelompok menengah-atas karena memiliki profesi sebagai pegawai pemerintah, dan sebagian ada juga sebagai pejabat negara. Identitas sosial ditandai dengan penggunaan bahasa Melayu khas Malaysia, dan kecenderungan selalu berkelompok antar sesama dalam aktivitas spiritual dan sosial. Sedangkan etnosentrisme jamaah asal Malaysia dibentuk berdasarkan pandangan bahwa Malaysia lebih maju dari Indonesia, serta didukung stereotip pengalaman yang memposisikan masyarakat Indonesia sebagai kelompok pekerja kelas rendah di Malaysia. Stereotip mempengaruhi pandangan jamaah asal Malaysia tentang jamaah lokal, dan masyarakat Kampung Besilam masih terbelakang dan sulit untuk dipercayai.

Filter by Year

1997 2023


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 3 (2023): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 25 No. 2 (2023): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 25 No. 1 (2023): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 24 No. 3 (2022): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 24 No. 2 (2022): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 24 No. 1 (2022): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 23 No. 3 (2021): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 23 No. 2 (2021): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 23 No. 1 (2021) Vol. 22 No. 3 (2020) Vol. 22 No. 2 (2020) Vol. 22 No. 1 (2020) Vol. 21 No. 3 (2019) Vol. 21 No. 2 (2019) Vol. 21 No. 1 (2019) Vol. 20 No. 3 (2018) Vol. 20 No. 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol. 20 No. 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol. 20 No. 1 (2018) Vol 19, No 3 (2017) Vol. 19 No. 3 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol. 19 No. 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol. 19 No. 1 (2017) Vol. 18 No. 3 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol. 18 No. 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol. 18 No. 1 (2016) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol. 17 No. 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol. 17 No. 1 (2015) Vol. 16 No. 3 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol. 16 No. 2 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol. 16 No. 1 (2014) Vol. 15 No. 3 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol. 15 No. 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol. 15 No. 1 (2013) Vol. 14 No. 3 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol. 14 No. 2 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol. 14 No. 1 (2012) Vol. 13 No. 2 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol. 13 No. 1 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol. 12 No. 3 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol. 12 No. 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol. 12 No. 1 (2010) Vol. 11 No. 2 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol. 11 No. 1 (2009) Vol. 10 No. 2 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol. 10 No. 1 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol. 9 No. 1 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol. 8 No. 2 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol. 8 No. 1 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 2 (2005) Vol. 7 No. 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol. 7 No. 1 (2005) Vol. 6 No. 2 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol. 6 No. 1 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 2 (2003) Vol. 5 No. 2 (2003) Vol. 5 No. 1 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 3, No.1 (2000) Vol 3, No.1 (2000) Vol 2, No.2 (1999) Vol 2, No.2 (1999) Vol 2, No.1 (1998) Vol 2, No.1 (1998) Vol 1, No.2 (1998) Vol 1, No.2 (1998) Vol 1, No.1 (1997) Vol 1, No.1 (1997) More Issue