cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Masyarakat dan Budaya
ISSN : 14104830     EISSN : 25021966     DOI : -
Core Subject :
Jurnal Masyarakat dan Budaya (JMB) or Journal of Society and Culture is a peer-reviewed journal that aims to be an authoritative academic source on the study of society and culture. We publish original research papers, review articles, case studies, and book reviews focusing on Indonesian society, cultural phenomena, and other related topics. A manuscript describing society and culture outside Indonesia is expected to be analyzed comparatively with the issues and context in Indonesia. All papers will be reviewed rigorously at least by two referees. JMB is published three times a year, in April, August , and December.
Arjuna Subject : -
Articles 869 Documents
KEPERCAYAAN TERHADAP PETTA ALE’E DI MATA MASYARAKAT DESA PALIPPU KEC.TANA SITOLO Sitti Arafah
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 20 No. 2 (2018)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v20i2.589

Abstract

Kepercayaan animisme beserta emosi dan ritual kepercayaannya masih berkembang di masyarakat yang sudah beragama monoteisme. Praktik-praktik animismenya didorong oleh adanya anggapan bahwa kekuatan yang disucikan itu memberikan banyak manfaat bagi kehidupannya. Hal ini juga terlihat pada kepercayaan Petta Ale’e bagi masyarakat Palippu. Penelitian ini mendeskripsikan kepercayan terhadap Petta Ale’a di mata masyarakat Desa Palippu. Sebagai penelitian kualitatif maka teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan makam Petta Ale’e yang berada di tengah hutan, hingga kini masih memberi pengaruh kuat bagi kehidupan sosial keagamaan masyarakat di sekitarnya bahkan masyarakat dari luar. Petta Ale’e diyakini memiliki kelebihan dan kekeramatan sehingga masyarakat senantiasa memberikan persembahan kepadanya sebagai ucapan terima kasih karena dipercaya telah melindungi dari malapetaka, memberikan rejeki dan sebagainya. Kepercayaan initelah mentradisi secara turun temurun, jika dilanggar dipercayai akan memberikan kesengsaraan, walaupun masyarakatnya juga melaksanakan ajaran Islam dengan baik sehingga sebahagian besar masyarakat menganggap bahwa kepercayaan terhadap Petta Ale’e dinilai sangat bertentangan dengan aqidah Islam. This research aims to describe to the beliefs of Petta Ale'e the community's to the in Palippu Village. As a qualitative research, data collection techniques use observation, interview and documentation. The results show that Petta Ale'e, is a tomb that is in the middle of the forest, until now still give a strong influence for the religious social life of the surrounding community and even the community from outside. Petta Ale'e is believed to have advantages and sanstutyso that people always give offerings to him as a thank you for protecting from calamity, giving fortune and so forth. This belief has traditionally, if violated is believed to bring misery, although the people also practice Islam well so that most of the people consider that belief in Petta Ale'e is considered very contrary to Islamic aqidah.
“De Particuliere Sadja”: Kelas Menengah Kota dan Politik Kewargaan di Kota Kolonial Surabaya Akhir Abad ke-19 Andi Achdian; Erna E. Chotin
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 20 No. 1 (2018)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v20i1.590

Abstract

Dalam kepustakaan kontemporer di Indonesia, konsepsi tentang masyarakat sipil dan politik kewargaan telah menjadi tema penting yang mengisi kepustakaan ilmu sosial dan politik di Indonesia sejak dekade 1990an dalam menghadapi dominasi kekuasaan pemerintahan otoriter Orde Baru. Bagaimanapun, terdapat kelemahan dalam perkembangan konsep tersebut dengan ketiadaan rujukan historis dalam pengalaman sejarah Indonesia. Dengan menguraikan bagaimana perkembangan kehidupan masyarakat kota kolonial Surabaya pada paruh kedua abad ke-19 dan awal abad ke-20, artikel ini menunjukkan dimensi penting ruang kota dan praktek politik yang muncul di dalamnya sebagai landasan penting bagi kemunculan masyarakat sipil yang kuat untuk mewujudkan konsepsi ideal politik kewargaan dalam kehidupan sehari-hari warga. Tema yang muncul dalam tulisan ini dengan diharapkan dapat merangsang pembicaraan dan debat akademis di Indonesia terkait konsepsi tersebut seiring konteks perkembangan masyarakat Indonesia yang secara demografis berkembang menjadi masyarakat kota dalam waktu satu dekade ke depan. In the last three decades, civil society and citizenships has become key terms that entered the debates and dicussions about the prospects of democtratization in Indonesian society under the New Order regime in 1990s. However, due to the lack of historical perspectives and evidences, the debates and discussions about civil society and citizenships tems in the academic discourse in Indonesia has increasingly been left behind in the literatures. By focusing its analyses to the development of colonial city of Surabaya in the late nineteenth to the early twentieth century under the Dutch colonialism, this article seeks to highlight an interesting aspects that was neglected in the debates. This article presented the idea that the spatial aspect of the city and the dynamic development of city politics has become a crucial aspect in the development of strong civil society and the politics of citizenships in the Dutch colony at the time.
LANGUAGE AND RELIGION: THE USE OF LANGUAGE IN CHRISTIAN LITURGY ON SOME BORDER AREAS OF INDONESIA Fanny Henry Tondo
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 20 No. 3 (2018)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v20i3.593

Abstract

In sociolinguistic perspective, the language use could be studied in various domains. One of them is religious domain. The use of language in religious practice, in this case Protestant Christianity in areas where the research location is relatively uniform from one place to another. Bahasa Indonesia (BI) is the dominant language in all liturgy elements. In six areas studied Indonesian hegemony is very strong, not only on state activities and education, but also on religious activities, especially Protestant Christianity. Meanwhile, local languages or local languages fill only a few liturgical elements within a limited scope, ie at 'sermons' and 'chants and choirs'. In some cases, however, the use of local languages can occur during most of these religious occasions, for example in the ceremony of thanksgiving (new gratefulness of the rice). This paper aims to explain the language use in Christianity, especially in some churches in some border areas of Indonesia namely in Alor (East Nusa Tenggara), South Sorong (West Papua), Halmahera (North Maluku), Nunukan-Sebatik (North Kalimantan), Enggano (Bengkulu), and Banda Aceh (Aceh). The data provided is based on the field researches during 2005 – 2014 (for the areas of Alor, South Sorong, Halmahera, dan Nunukan-Sebatik) and it has been enriched by related current secondary data. Meanwhile, on Enggano and Banda Aceh use respectively the data collected in 2015 and 2016. Dalam perspektif sosiolinguistik, pemakaian bahasa dapat dikaji dalam berbagai ranah. Salah satu ranah di antaranya yaitu agama. Pemakaian bahasa dalam praktik keagamaan, dalam hal ini Kristen Protestan di daerah-daerah yang menjadi lokasi penelitian relatif seragam dari satu tempat ke tempat yang lain. Bahasa Indonesia (BI) merupakan bahasa dominan dalam semua elemen liturgy. Pada enam daerah yang diteliti hegemoni bahasa Indonesia sangatlah kuat, tidak hanya pada kegiatan-kegiatan kenegaraan dan pendidikan, tetapi juga pada kegiatan-kegiatan keagamaan, khususnya agama Kristen Protestan. Sementara itu, bahasa daerah atau bahasa lokal hanya mengisi beberapa elemen liturgi saja dalam lingkup terbatas, yakni pada saat ‘khotbah’ dan ‘nyanyian dan koor’. Kendatipun demikian, pada beberapa kasus tertentu pemakaian bahasa lokal dapat terjadi pada hampir sepanjang acara keagamaan tadi, misalnya dalam acara ibadah pengucapan syukur (syukuran padi baru). Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan pemakaian bahasa dalam liturgi Kristen khususnya pada beberapa gereja di wilayah perbatasan Indonesia yakni di Alor (Provinsi Nusa Tenggara Timur), Sorong Selatan (Provinsi Papua Barat), Halmahera (Provinsi Maluku Utara), Nunukan-Sebatik (Provinsi Kalimantan Utara), Enggano (Provinsi Bengkulu) dan Banda Aceh (Provinsi Aceh). Data yang digunakan didasarkan pada penelitian yang dilaksanakan selang tahun 2005 – 2014 (untuk wilayah Alor, Sorong Selatan, Halmahera, dan Nunukan-Sebatik) dan dilengkapi juga dengan data sekunder terkini. Sementara itu wilayah Enggano dan Aceh masing-masing menggunakan data 2015 dan 2016.
STATUS DAN PERAN PEREMPUAN JAWA DALAM TEKS SASTRA INDONESIA DAN DUNIA NYATA The Status and the Roles of Javanese Women in Indonesian Literary Texts and in the Reality Esti Ismawati
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 20 No. 2 (2018)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v20i2.612

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan status dan peran perempuan Jawa dalam teks sastra Indonesia dari masa penjajahan, masa kemerdekaan, masa sekarang dan perempuan Jawa dalam dunia nyata. Permasalahan yang akan dijawab adalah, bagaimana status dan peran perempuan Jawa dalam teks sastra dan dalam dunia nyata?. Adakah perubahan yang signifikan dari masa ke masa?. Adakah perbedaan antara status dan peran perempuan Jawa dalam teks sastra dan dalam dunia nyata?. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dan survai. Deskriptif untuk perempuan Jawa dalam teks sastra. Survai untuk perempuan Jawa di dunia nyata. Teknik yang digunakan adalah teknik pustaka dan angket. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa status dan peran perempuan Jawa dalam teks sastra dan dalam dunia nyata mengalami perubahan dari masa ke masa. Perubahan tersebut meliputi pola pikir dan pola hidup. Dalam teks sastra ada tokoh bu Bei dalam Canting yang buta huruf dan bekerja di rumah, dan tokoh Dr. Larasati yang menamatkan S3 dan bekerja sebagai kepala kantor pemerintah. Keduanya memiliki status yang sama, yakni sebagai isteri, tetapi mempunyai peran yang tidak sama. Penelitian juga menyimpulkan tidak ada perbedaan antara status dan peran perempuan Jawa dalam teks sastra dan dalam dunia nyata karena sastra merupakan cermin masyarakat yang melingkupinya. This research aims to describe the status and roles of Javanese women in Indonesian literary texts from the colonial era, independence era, today’s era, and Javanese women in reality. The problems that need to be answered are the status and roles of Javanese women in Indonesian literary texts and in the reality, the significant change from an era to the others, and the differences between the status and roles of Javanese women in Indonesian literary texts and in the reality. The methods used in this research are descriptive method and survey. The descriptive method is for the Javanese women in literary texts, while the survey is for the Javanese women in the reality. The techniques used are bibliography technic and questionnaire. From the research result, it can be concluded that the status and roles of Javanese women in Indonesian literary texts and in the reality change from era to era. The changes consist of mindset and lifestyle. In literary text, there is Bu Bei from Canting who is an illiterate housewife and Dr. Larasati who has doctorate degree who works as the head of a government office. Both have the same status, which is as a wife, but they have different roles. This research’s conclusion is that there is no difference between the status and roles of Javanese women in Indonesian literary texts and in the reality because the literary texts are the reflection of the society
Refleksi Kepercayaan Masyarakat Pesisir Pantai Prigi dalam Sajen Slametan Njangkar (Kajian Etnolinguistik) Ayunda Riska Puspita
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 20 No. 2 (2018)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v20i2.614

Abstract

Masyarakat Jawa masih sangat mempertahankan budaya dan adat peninggalan nenek moyangnya. Salah satu adat yang masih dipertahankan sampai saat ini adalah kegiatan upacara selamatan (slametan) yang di dalamnya terdapat sajen yang melambagkan atau menyimbolkan pesan tertentu. Di pesisir Pantai Prigi upaca slametan yang masih dilaksaskan sampai saat ini adalah slametan njangkar. Slametan njangkar ini berhubungan erat dengan kepercayaan masyarakat pesisir Pantai Prigi terhadap Nyi Roro Kidul, Sang Penguasa Laut Selatan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan sajen-sajen yang terdapat dalam upacara slametan njangkar untuk mengetahui refleksi kepercayaan masyarakat pesisir Pantai Prigi dalam upacara tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian etnolinguistik dengan pendekatan kualitatif dan metode deskripsi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penamaan sajen merefleksikan kepercayaan masyarakat pesisir Pantai Prigi terhadap Allah swt. dan makhluk ciptaan-Nya yang tidak dapat dilihat secara kasat mata atau makhluk ghaib yang merupakan penguasa wilayah tertentu seperti Nyi Roro Kidul. Hal tersebut menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat pesisir Pantai Prigi termasuk ke dalam sinkretisme karena terjadi akulturasi budaya Jawa dengan budaya Islam. Tujuan utama slametan njangkar adalah untuk memohon keselamatan kepada Yang Maha Kuasa dan meminta izin kepada penguasa laut selatan untuk memasuki wilayahnya dan mengambil sebagian harta yang dimiliki oleh Nyi Roro Kidul The Javanese people still preserve their culture and custom passed down by theiranchestors. One of the heritage that is still preserved till this day is in the form of ceremony or selamatan (slametan). In slametan there is a sajen that symbolize a particular message. In coastal Prigi beach the ceremony or slametan called slametan njangkar. This slametan is closely related to the beliefs of the coastal community in Prigi Beach toward Nyi Roro Kidul as the queen of the South Sea. This study aims to describe the sajen-sajen contained in the slametan njangkarin order to know the reflection of Coastal Coast Prigi people’s beliefthrough the ceremony. This ethnolinguistics research used qualitative approach and descriptive method. The results of this study then indicate that the naming of sajen reflects the belief of the coastal community in Prigi towards Allah swt and His invisible creatures that cannot be seen by the bare eye or supernatural beings who rules certain regions named Nyi Roro Kidul. It shows that the belief of the coastal community in Prigi Coast involved in the syncretism due to the acculturation of Javanese culture with Islamic culture. The main goal of slametan is to bega salvation to the Almighty and ask permission to the queen of the sea to enter her territory to take her resources.
EKSPLOITASI PEKERJA ANAK PENAMBANG TIMAH OLEH ORANG TUA DI DESA KACE, KECAMATAN MENDO BARAT, KABUPATEN BANGKA, PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG, INDONESIA Putra Pratama Saputra
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 20 No. 1 (2018)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v20i1.620

Abstract

Salah satu permasalahan yang dihadapi oleh pekerja anak adalah rawan terjadinya eksploitasi. Eksploitasi yang diterima akan mengganggu perkembangan secara fisik, psikologis, maupun sosial. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran secara mendalam tentang eksploitasi pekerja anak penambang timah oleh orang tua. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Tempat penelitian dilakukan di Desa Kace, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka. Penentuan informan menggunakan purposive sampling dengan jumlah informan utama sebanyak 6 orang (pekerja anak dan orang tua/keluarga), serta informan pendukung sebanyak 3 orang. Program yang direkomendasikan dalam bentuk Penyuluhan Sosial tentang Perlindungan dan Hak-hak Pekerja Anak Penambang Timah. Hasil penelitian menunjukkan pekerja anak di pertambangan timah Desa Kace mengalami eksploitasi. Anak disuruh bekerja oleh orang tuanya dikarenakan untuk membantu perekonomian keluarga. Pekerja anak akan mengalami resiko kehilangan waktu belajar, bermain, dan beresiko terhadap kesehatannya. Pengelolaan penghasilan dilakukan oleh pekerja anak dan orang tua pekerja anak, biasanya digunakan untuk keperluan pribadi maupun untuk membantu pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Pekerja anak sangat mengharapkan pekerjaan lain yang menghasilkan lebih banyak uang dan berhenti bekerja di pertambangan timah serta bisa melanjutkan sekolahnya.
Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung Bayu Teguh Pambudi
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 20 No. 1 (2018)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v20i1.621

Abstract

Judul : Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung Penulis : Mohamad Sobary Penerbit : Kepustakaan Popular Gramedia Tahun : 2016 ISBN : 978-602-424-075-2
Dakwah dan Kesalehan: Studi tentang Gerakan Teras Dakwah di Kalangan Remaja Yogyakarta Dony Arung Triantoro
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 20 No. 2 (2018)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v20i2.624

Abstract

Abstrak Lembaga Sosial Teras Dakwah (TD) didirikan pada tahun 2011 melalui sepetak teras rumah berukuran 2, 2 x 12 meter di kampung Nitikan Yogyakarta. Tujuan utama lembaga ini adalah sebagai wadah pemersatu ummat Islam lintas harakah. Selanjutnya penelitian ini ingin menjelaskan tentang konsep dakwah dan kesalehan di era kontemporer melalui teknologi komunikasi baru. Data penelitian diperoleh melalui wawancara, observasi dan didukung dengan literatur yang relevan. Penelitian ini menunjukkan bahwa gerakan Teras Dakwah mengindikasikan ketidakpuasan gerakan Islam kontemporer dengan praktik kesalehan yang diajarkan oleh otoritas lama, serta tidak mampu menyesuaikan dengan kehidupan kontemporer. Kemudian melalui program hapus tato, Teras Dakwah menunjukkan bahwa organisasi membuka ruang kesalehan bagi muslim yang sedang dalam proses hijrah. Di samping itu, Teras Dakwah mendiskusikan konsep dakwah dengan budaya populer untuk memberikan kenyamanan bagi mereka yang sedang mencari kesalehan seperti, mendesain halaman rumah layaknya sebuah kafe, mengonsep tema dakwah yang menarik dan membuat video tematik berdurasi singkat yang menjelaskan tentang jadwal pengajian yang akan berlangsung. Sehingga fenomena ini membuka ruang diskusi tentang dakwah dan kesalehan dalam gerakan Islam kontemporer. Di samping itu, fenomena kemunculan Teras Dakwah menunjukkan bahwa Islam tidak sekedar sebagai agama masjid. Kata Kunci: Gerakan Islam Kontemporer, Kesalehan dan Budaya Populer
REPRESENTASI PEREMPUAN DALAM LEMBAGA POLITIK DI INDONESIA budi rajab
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 20 No. 2 (2018)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v20i2.626

Abstract

Jumlah perempuan yang menjadi anggota parlemen pusat dan daerah selalu tidak representatif sejak Republik Indonesia berdaulat. Bahkan dengan diberlakukannya sistem kuota untuk perempuan dalam undang-undang politik agar ketimpangan gender di parlemen bisa berkurang, tetap saja secara kuantitas anggota parlemen perempuan tidak proporsional dibandingkan dengan jumlah anggota parlemen laki-laki. Penyebabnya bukan karena melulu terletak pada faktor internal perempuan sendiri, tetapi ada pada lembaga dan proses politik yang cenderung masih menonjolkan ciri-ciri politik yang maskulin dan patriarkhis. Selama sistem kuota tidak mengandung sanksi tegas, hanya sekedar himbauan seperti yang tertera pada undang-undang Pemilu, jumlah perempuan di parlemen tidak akan dapat bertambah secara berarti. Meski demikian, sistem kuota masih menjadi persoalan, anggota parlemen perempuan yang jumlahnya sedikit itu perlu bekerja sama untuk menelorkan kebijaksanaan yang pro-perempuan dan rakyat kebanyakan, karena kinerja mereka akan memperoleh dukungan yang kian luas dari masyarakat atas pentingnya posisi perempuan di parlemen.
OJEK PANGKALAN VERSUS OJEK ONLINE (PEMBERDAYAAN BERBASIS KOMUNITAS DAN KETAHANAN EKONOMI OJEK PANGKALAN) Rusydan Fathy
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 20 No. 2 (2018)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v20i2.635

Abstract

Technology has penetrated into the transportation services sector in Indonesia. The existence of application-based ojek is a manifestation of technology adaptation into the transportation services sector. Its emergence replacing the ojek pangkalan’s existence as an alternative transportation. For members of ojek pangkalan who are able to adapt, they choose to become ojek online’s driver, while those who do not, choose to survive. However, the inability to adapt is getting worse with weakening the quality of their social capital. Ojek pangkalan’s entity as a community currently has a negative image in society because of their poor quality management system. This paper exploring community-based empowerment of ojek pangkalan and their economic resilience. This paper was conducted using qualitative approach. Data analyzed through the three-stage data encryption technique: open code, axial code and selective code. Arguments are formulated through analysis using social capital theory as a main theoretical framework. The opening of this article placing ojek pangkalan’s entity into the macro domain of urban studies. Ojek pangkalan will be drawn into the context discussion of a community. The main part of this article is exploring the social capital that Ojek Pangkalan Salemba have, which is the process of the establishment and how its role in making of economic resilience. Besides that, for the closing part, this article describe the constellation of ojek pangkalan’s existence in context of community-based empowerment.

Filter by Year

1997 2023


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 3 (2023): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 25 No. 2 (2023): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 25 No. 1 (2023): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 24 No. 3 (2022): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 24 No. 2 (2022): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 24 No. 1 (2022): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 23 No. 3 (2021): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 23 No. 2 (2021): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 23 No. 1 (2021) Vol. 22 No. 3 (2020) Vol. 22 No. 2 (2020) Vol. 22 No. 1 (2020) Vol. 21 No. 3 (2019) Vol. 21 No. 2 (2019) Vol. 21 No. 1 (2019) Vol. 20 No. 3 (2018) Vol. 20 No. 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol. 20 No. 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol. 20 No. 1 (2018) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol. 19 No. 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol. 19 No. 2 (2017) Vol. 19 No. 1 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol. 18 No. 3 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol. 18 No. 2 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol. 18 No. 1 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol. 17 No. 2 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol. 17 No. 1 (2015) Vol. 16 No. 3 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol. 16 No. 2 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol. 16 No. 1 (2014) Vol 15, No 3 (2013) Vol. 15 No. 3 (2013) Vol. 15 No. 2 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol. 15 No. 1 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 3 (2012) Vol. 14 No. 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol. 14 No. 2 (2012) Vol. 14 No. 1 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 2 (2011) Vol. 13 No. 2 (2011) Vol. 13 No. 1 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 3 (2010) Vol. 12 No. 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol. 12 No. 2 (2010) Vol. 12 No. 1 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 2 (2009) Vol. 11 No. 2 (2009) Vol. 11 No. 1 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 2 (2008) Vol. 10 No. 2 (2008) Vol. 10 No. 1 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 1 (2007) Vol. 9 No. 1 (2007) Vol. 8 No. 2 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol. 8 No. 1 (2006) Vol 7, No 2 (2005) Vol. 7 No. 2 (2005) Vol. 7 No. 1 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 2 (2004) Vol. 6 No. 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol. 6 No. 1 (2004) Vol. 5 No. 2 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol. 5 No. 1 (2003) Vol 3, No.1 (2000) Vol 3, No.1 (2000) Vol 2, No.2 (1999) Vol 2, No.2 (1999) Vol 2, No.1 (1998) Vol 2, No.1 (1998) Vol 1, No.2 (1998) Vol 1, No.2 (1998) Vol 1, No.1 (1997) Vol 1, No.1 (1997) More Issue