cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan Jl. Dr. Junjunan No. 236 Bandung-40174
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Geologi Kelautan: Media Hasil Penelitian Geologi Kelautan
ISSN : 16934415     EISSN : 25278851     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geologi Kelautan (JGK), merupakan jurnal ilmiah di bidang Ilmu Kebumian yang berkaitan dengan geologi kelautan yang diterbitkan secara elektronik (e-ISSN: 2527-8851) dan cetak (ISSN: 1693-4415) serta berkala sebanyak 2 kali dalam setahun (Juni dan Nopember) oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan.
Arjuna Subject : -
Articles 3 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 3 (2005)" : 3 Documents clear
REKONSTRUKSI PROSES SEDIMENTASI PERAIRAN "LAGOON SAGARA ANAKAN" Ediar Usman; Lili Sarmili
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 3, No 3 (2005)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (750.932 KB) | DOI: 10.32693/jgk.3.3.2005.128

Abstract

Proses sedimentasi di Laguna Sagara Anakan tidak terlepas dari proses transportasi oleh S. Citanduy. Tetapi jauh sebelum tahun 1944, sebelum sungai-sungai yang lebih muda terbentuk, proses transportasi dan sedimentasi oleh S. Citanduy dengan Daerah Aliran Sungai mencapai bagian utara hingga ke Kabupaten Kuningan - Jawa Barat. DAS Citanduy mencapai 1.675.000 ha (167,5 km2). Perkembangan garis pantai Laguna Sagara Anakan sejak tahun 1944 hingga 2002 menunjukkan pertumbuhan seluas 64,73 ha per-tahun. Berdasarkan perkembangan tersebut dapat dilakukan prediksi dan rekonstruksi tahapan kedudukan garis pantai hingga stadia terakhir. Jika pada tahun 2002, luas kolam air Laguna Sagara Anakan sebesar 1.596,11 ha dan pada saat stadia akhir proses sedimentasi tinggal 1.065,05 ha maka pertumbuhan daratan mencapai luas 531,06 ha. Bila laju sedimentasi per-tahunnya 64,73 ha, maka stadia akhir sedimentasi Sagara Anakan akan terjadi 8,20 tahun kemudian atau 8 tahun 2,4 bulan sejak tahun 2002. Dengan demikian dapat diprediksi stadia akhir sedimentasi di Sagara Anakan akan terjadi pada tahun 2010. Sedimentation process in Lagoon Sagara Anakan is not quit of transportation process by S. Citanduy. But far before year 1944, before more formed young rivers, transportation process and sedimentation by S. Citanduy with Catchment Area till to Kuningan District - West Java. Catchments Area of S. Citanduy is 1.675.000 ha (167,5 km2). Coastline Lagoon Sagara Anakan growth since year 1944 till 2002 showing growth for the width of 64,73 ha per-year. Pursuant to the growth can be predicted and reconstructed step domicile coastline till last stadia. If on 2002, wide of Lagoon Sagara Anakan basin equal to 1.596,11 ha and at the time of final stadia of sedimentation process remain 1.065,05 ha hence growth of coastline 531,06 ha. If accelerateing its sedimentation per-year 64,73 ha, the final stadia of Lagoon Sagara Anakan sedimentation will happened 8,20 year later (8 years 2,4 months) since year 2002. The final stadia of sedimentation can be predicted in Sagara Anakan will happened in the year 2010.
KETERDAPATAN BEBERAPA MINERAL BERAT DI PERAIRAN PULAU BINTAN DAN SEKITARNYA SEBAGAI HASIL ROMBAKAN DARI SEDIMEN HOLOSEN ASAL PAPARAN SUNDA Deny Setiady; Lili Sarmili
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 3, No 3 (2005)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.588 KB) | DOI: 10.32693/jgk.3.3.2005.126

Abstract

Daratan Sunda sebagai kerak benua Erasia yang terdiri dari gabungan pulau-pulau Sumatera, Kalimantan dan Jawa, biasa disebut Paparan Sunda, yang diperkirakan terjadi pada waktu zaman Es. Dalam zaman es tersebut aktifitas sungai mendominasi, mengalir dan mengerosi batuan serta mengendapkan sedimen beserta mineral ikutannya di bagian yang lebih dalam. Pada waktu es mencair, daratan Sunda mulai tenggelam dan terjadilah laut Jawa yang memisahkan pulau Sumatera, Kalimantan dan Jawa. Sungai-sungai yang dulunya mengalir dan memanjang di antara pulau-pulau tersebut sekarang berada di bawah laut Jawa dan lainnya. Beberapa mineral berat ditemukan di perairan dan pantai pulau Batam, Bintan dan sekitarnya, seperti: magnetit, kasiterit, zirkon, monasit, hornblenda, turmalin, pirit, ilmenit, hematit, leokosen, augit, dan diopsid. Terdapatnya kandungan mineral magnetit dan kasiterit yang tinggi di tengah-tengah selat Batam-Bintan menunjukkan bahwa sumber mineral tersebut diduga dari sedimen P. Batam dan P. Bintan bukan dari tempat yang jauh. Kandungan mineral magnetit dan kasiterit dalam sedimen pasir kerikilan tersebar dari pulau Batam ke timur kandungan mineral beratnya semakin rendah sehingga sumbernya diduga berasal dari Pulau Batam, sedangkan dalam sedimen kerikil pasiran (dekat pulau Batam) penyebarannya semakin ke timur semakin besar, maka sumbernya diduga berasal dari P. Bintan. Ke dua pulau ini merupakan tinggian di daratan Sunda pada waktu itu yang terbentuk oleh batuan terobosan Granit yang mengalami erosi sejak zaman es hingga saat ini dan sebagai sumber terdapatnya mineral kasiterit dan magnetit. Sunda Land of the Eurasian continental crust is composed of reunited islands of Sumatera, Java, and Kalimantan, usually called as Sunda Platform, which was formed in the glacial time. In that time, all rivers activities were dominated to flow, eroded and deposited the sediment included their placer deposits into the deeper part. In the interglacial time, the Sunda land was changed into seawater and separated the island of Sumatera, Kalimantan and Java. All early rivers which were flowed and elongated is now located under the Java sea. Some heavy minerals are found on the beach or in surfacial sediments of Batam, Bintan and its surroundings, such as: magnetite, cassiterite, zircon, monazite, tourmaline, pyrite, ilmenite, leucosen, augite and diopside. The high contents of magnetite and cassiterite minerals on the bay of Batam-Bintan show their occurences are not from far distance but they are from Batam and Bintan sediments. The magnetite and cassiterite contents in gravelly sands of Batam Island from west to east are decreasing in their distribution. They are interpreted come from the Batam Island. On the other hand, these minerals distribute to the east are increasing in sandy gravels and they are seemly from Bintan Island. These two islands were acts as platform of granitic intrusions and were eroded since the glacial-interglacial time and they were as the origin of cassiterite and magnetite minerals.
SEISMIK STRATIGRAFI PERAIRAN LOMBOK LEMBAR PETA 1807, NUSA TENGGARA BARAT Nyoman Astawa; Delyuzar Ilahude; Dida Kusnida
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 3, No 3 (2005)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5029.308 KB) | DOI: 10.32693/jgk.3.3.2005.127

Abstract

Hasil studi seismik stratigrafi di perairan Lombok Lembar Peta 1807 menghasilkan empat runtunan stratigrafi A, B, C, D dan intrusi batuan volkanik. Kontak antara runtunan A dengan runtunan B adalah kontak onlap yang terletak di bagian barat laut dan utara daerah telitian. Kontak antara kedua runtunan tersebut di atas dengan runtunan C dibatasi oleh suatu reflektor yang kuat dan menerus, serta sudah mengalami perlipatan seperti terlihat di bagian baratlaut daerah telitian, tepatnya di bagian atas Pulau Bali bagian timur. Pola gambaran pantulan runtunan ini adalah paralel, diduga runtunan ini tidak terpengaruh tektonik yang terjadi di daerah telitian. Result of seismic stratigraphy study in Lombok Waters Map Sheet 1807 yielded four A, B, C, D and Volcanic rock intrusion. Contact between sequence A and sequence B is onlap, which is located in the northwestern and northerm part of the study area. Contact between both sequences mentioned above with sequence C is limited by strong continous reflector that have also underwent of fold like found in the northwestern part of the study area, precisely in eastern part of Bali. Internal reflector pattern of this sequence is parallel, which is guessed because this sequence this sequence does not influenced by tectonic activity in the study area.

Page 1 of 1 | Total Record : 3