cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan Jl. Dr. Junjunan No. 236 Bandung-40174
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Geologi Kelautan: Media Hasil Penelitian Geologi Kelautan
ISSN : 16934415     EISSN : 25278851     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geologi Kelautan (JGK), merupakan jurnal ilmiah di bidang Ilmu Kebumian yang berkaitan dengan geologi kelautan yang diterbitkan secara elektronik (e-ISSN: 2527-8851) dan cetak (ISSN: 1693-4415) serta berkala sebanyak 2 kali dalam setahun (Juni dan Nopember) oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 2 (2008)" : 6 Documents clear
GUNUNGAPI DAN KEGIATAN HIDROTERMAL BAWAHLAUT DI PERAIRAN SULAWESI UTARA: MINERALISASI DAN IMPLIKASI TEKTONIK Haryadi Permana; Pirlo M.
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 6, No 2 (2008)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1670.708 KB) | DOI: 10.32693/jgk.6.2.2008.151

Abstract

Ekspedisi kelautan IASSHA (Indonesia Australia Survey for Submarine Hydrothermal Activity) 2003 di kawasan perairan kepulauan Sangihe, Sulawesi utara telah mengidentifikasi Kawio Barat sebagai gunungapi bawahlaut dan indikasi kegiatan hidrotermal bawahlaut antara lain di Roa, Naung dan Banua Wuhu. Kegiatan gunungapi Kawio Barat dicirikan oleh anomali transmisi cahaya akibat adanya influk fluida (plume) pada airlaut dan tingginya kandungan gas metan dalam airlaut yang berhubungan dengan tingginya kandungan mangan. Kamera bawahlaut merekam koloni dari polychaete (“tube worms”) yang tumbuh pada batuan dimana gas metan muncul. Gejala mineralisasi pada batuan dicirikan adanya diseminasi pirit dan markasit pada batuan. Indikasi hidrotermal gunung Roa dicirikan adanya tingginya kandungan gas metan dalam airlaut sekitar puncak bukit sedangkan gejala aktivitas hidrotermal gunungapi Naung teridentifikasi berdasarkan tingginya kandungan gas metan dalam airlaut. Batuan penutup perbukitan Naung berupa andesit, batuapung dan breksi andesit. Perbukitan bawahlaut Banua Wuhu kemungkinan sebagai kawah parasit bawahlaut, terletak dilereng barat pulau gunung tidak aktif Mahengetang. Aktivitasnya ditunjukan oleh anomali lemah kekeruhan airlaut. Mineral ubahan berupa lempung, karbonat, klorit dan opak. Batuan terubah mengandung mineral halus pirit dan noda-noda kalkopirit. Kata Kunci: Gunungapi bawahlaut; hidrotermal, transmisi cahaya, influk fluida, gas metan, mangan, koloni dari polychaete, diseminasi pirit dan markasit, kawah parasit. The 2003 IASSHA (Indonesia Australia Survey for Submarine Hydrothermal Activity) expedition at Sangihe islands waters, North Sulawesi has identified the submarine volcano of Kawio Barat and also observed hydrothermal activities at Roa, Naung and Banua Wuhu. The activity of Kawio Barat volcano is characterized by light transmission anomaly with correlated to fluids influx (plume) and higher methane gas in sea waters correlates to higher manganese content. A submarine camera grab recorded a polychaete (“tube worms”) colony that growth on the rock where a methane gas seep. The pyrite disemination and marcasite indicates rocks mineralization. The Roa and Naung hydrothermal activities indicated by higher content of methane gas in sea water. The Naung volcano is covered by andesite, pumice and andesite breccia. The Banua Wuhu hill is possibly as a parasitic cone of active Mahengetang volcano. The weak anomaly transmissometer of sea water indicates a hydrothermal activity. The alteration mineral are clay, carbonate, chlorite and opaq mineral with fine mineral of pyrite and chalcopyrite. Keywords: Submarine volcano, hydrothermal, light transmission, fluids influx, methane gas, manganese, polychaete colony, pyrite dissemination and marcasite, parasitic cone.
KONTRIBUSI PENTARIKHAN RADIOKARBON PERCONTOH TERUMBU KARANG PADA BATUGAMPING DI PANTAI SELATAN KABUPATEN WONOGIRI, JAWA TENGAH, TERHADAP NEOTEKTONIK KUARTER Prijantono Astjario; D.A. Siregar
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 6, No 2 (2008)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (629.63 KB) | DOI: 10.32693/jgk.6.2.2008.156

Abstract

Wilayah pantai Ngungap, kawasan pesisir selatan Wonogiri, Jawa Tengah merupakan daerah jalur anjak dimana terumbu karang Kuarter tersingkap dari garis pantai hingga pebukitan tinggi. Enam undak laut terbentuk sejajar dengan garis pantai hingga mencapai ketinggian lebih dari 300 meter di atas muka laut. Hasil pentarikhan Radiokarbon tiga fosil terumbu karang dari undak laut termuda yang dapat berkontribusi terhadap perhitungan proses pengangkatan kawasan pantai Ngungap. Undak laut termuda menunjukan bahwa rata-rata aktivitas tektonik pengangkatan diwilayah pantai Ngungap, kawasan pesisir selatan Wonogiri adalah 5 mm/tahun. Pengangkatan rata-rata pesisir selatan Wonogiri jauh berbeda dengan kecepatan kawasan pantai-pantai tektonik aktif lainnya di Indonesia. Kata kunci : anjak, terumbu karang, undak laut, pentarikhan, pantai Ngungap Jawa Tengah The Ngungap coast of the southern coastal zone of Wonogiri, Central Jawa, situated in the central portion of the arcuate thrustbelt where Quaternary reefs show maximal elevation from coastline up to high hinterland. Six terraces have been formed parallel to the coast line and extensively exposed up to more than 300 meters above mean sea level. Three Radiocarbon dating of coral reef derived from the lowest terraces can be contributed to the uplift calculation in the Ngungap area. The lowest terrace alows uplifting tectonic activity in the coast of Ngungap in the order of 5 mm/years. The uplift rate of southern coast of Wonogiri is different to the rate of active tectonic coastal areas in the eastern Indonesian region. Keywords: thrustbelt, reef, terrace, dating, Ngungap coast of Central Java
KARAKTER ENDAPAN KUARTER DI LEPAS PANTAI TEPIAN CEKUNGAN SUMATERA TENGAH - P. KUNDUR Suyatman Hidayat; Indyo Pratomo
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 6, No 2 (2008)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.044 KB) | DOI: 10.32693/jgk.6.2.2008.152

Abstract

Studi yang dilakukan pada karakter endapan Kuarter di lepas pantai tepian cekungan Sumatera Tengah-P. Kundur mencakup analisis sedimentologi dan stratigrafi terhadap lima belas hasil pemboran yang dilakukan di sepanjang lintasan yang berarah barat - timur di baratlaut P. Kundur. Kedalaman pemboran berkisar antara 8,00 hingga 27,00 m. Studi ini, menunjukkan terdapatnya enam lingkungan pengendapan. Keenam lingkungan pengendapan itu ialah: endapan-endapan material rombakan (Mr), alur sungai (F), limpah banjir (Fp), cekungan banjir (Fb), pantai (Br), dan dekat pantai sampai lepas pantai. Berdasarkan korelasi perubahan lingkungan pengendapan secara lateral dan vertikal, diketahui pula bahwa runtunan stratigrafi tersebut dicirikan oleh berubahnya lingkungan pengendapan yang dikendalikan oleh perubahan iklim dan muka laut, dan mungkin juga oleh tektonik. Selama proses pengendapan, aktifitas perubahan iklim terekam dalam 4 fasa kejadian ialah: (1) minimum, (2)minimum menuju maksimum, (3)maksimum menuju minimum, dan (4)minimum. Kata kunci: Endapan Kuarter, iklim, muka-laut, tektonik The study of the Quaternary sediment characters on offshore of the Central Sumatera basin margin-Kundur Island was based on the analyses of sedimentology of fiveteen boreholes information obtained along the West to East at the northwest of Kundur Island. The penetration of the bore head varied from 8.00 to 27.00 m. This study revealed six deposition environments. These are: mass flow (Mr), river channel (F), floodplain (Fp), floodbasin (Fb), beach (Br), and nearshore to offshore (M) deposits . Based on the correlation of the lateral and vertical variation of the depositional environments, the stratigraphy successions/characterized by the variation of the depositional environments which is controlled by climatic and sea level changes, and also probably by tectonic. During the deposition processes, the activity of climatic changes were recorded in four stages episodes: (1)minimum, (2)minimum to optimum, (3)optimum to minimum, and (4)minimum. Keywords: Quaternary sediments, climate, sea-level, tectonic
POTENSI OBJEK WISATA PANTAI DAN BAHARI DI PERAIRAN UTARA LOMBOK DITINJAU DARI ASPEK GEOLOGI KELAUTAN Wayan Lugra; Lukman Arifin
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 6, No 2 (2008)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (440.727 KB) | DOI: 10.32693/jgk.6.2.2008.153

Abstract

Daerah penelitian dengan latar belakang Gunung Rinjani yang indah, memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata pantai seperti Karang Bedil, Sesait, Desa Salangan, Sukadana, Tanjung Batu, Sungian, Labuhan Pandan, serta pantai timur Pulau Gili Sulat dan Gili Lawang. Untuk kegiatan wisata snorkling, diving dan surfing tempat yang baik adalah di Tanjung Awar-awar, Tanjung Menangis dan Tanjung Batu. Olah raga surfing (selancar air) disarankan sebaiknya dilakukan antara Bulan Oktober – Mei. Dalam membangun sarana penunjang di kawasan wisata pantai dan bahari faktor yang penting adalah memberikan perhatian khusus dalam menjaga kelestarian lingkungan daerah tujuan wisata, agar keaslian alam yang ditawarkan kepada wisatawan tetap asli. Kata kunci: Karakteristik pantai, sebaran sedimen permukaan dasar laut, batimetri, dan perubahan garis pantai. The study area, with the background of the beautiful Mount Rinjani, has a potency to develop as a coastal tourism such as Karang Bedil, Sesait, Desa Salangan, Sukadana, Tanjung Batu, Sungian, Labuhan Pandan, and the east coast of Gili Sulat and Gili Lawang Islands. For snorkling, diving and surfing the nice place is in Tanjung Awar-awar, Tanjung Menangis and Tanjung Batu. The right time for snorkling sport should be conducted between October - May. To build the supporting facilities in the coastal and venerable tourism objects, the important factor is to pay a special attention for keeping the everlasting environment of the tourism object destination, so that the original of nature which is offering to the tourists is still pristine. Keywords: coastal characteristic, sea floor surficial sediment, bathymetry and coastline chnges
PETROGENESA ENDAPAN PASIR BESI DI PANTAI PANGGUL, TRENGGALEK Harry Utoyo; Lili Sarmili
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 6, No 2 (2008)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2893.069 KB) | DOI: 10.32693/jgk.6.2.2008.154

Abstract

Endapan pasir besi di Pantai Panggul Trenggalek didominasi oleh mineral-mineral berat yang terdiri dari magnetit (> 70 %), ilmenit, piroksen, horenblenda, zirkon, apatit dan feldspar. Batuan sumber diduga berasal dari batupasir magnetit bagian dari Formasi Jaten serta batuan gunung api Tersier yang banyak tersebar di daerah Trenggalek. Terbentuknya magnetit diduga berasal dari mineralisasi magnetit dari batuan gunung api Formasi Mandalika, seperti yang dijumpai di Ngadipuro, Kecamatan Munjungan. Batuan gunung api Tersier daerah Trenggalek, Jawa-Timur umumnya dibentuk oleh batuan berkomposisi andesitik hingga dasitik, yang berbentuk dyke, stock dan sill, serta berstruktur lava bantal. Analisis petrografi umumnya memperlihatkan tekstur porfiritik, berstruktur aliran dan teralterasi pada tingkatan yang rendah menjadi klorit, karbonat serisit dan epidot. Kata kunci: pasir besi, batuan gunung api, mineralisasi, pantai Panggul Trenggalek. Iron sand deposit in Panggul coast Trenggalek is dominated by heavy minerals, consist of magnetite (> 70 %), ilmenite, pyroxene, hornblende, zircon, apatite and feldspar. The source rock is estimated from magnetite sandstone of Jaten Formation and Tertiary volcanic rocks which are widely distribute in Trenggalek area. The formation of magnetite is interpreted from volcanic rock of Mandalika Formation, which crop out in Ngadipuro, Munjungan. Tertiary volcanic rocks in The Trenggalek area, East Java are mainly formed by andesitic to dacitic composition which are in the form of dyke, stock, sill and pillow lava structures. Petrographic analysis generally shows porphiritic, flow structure in textures and low alteration to chlorite, carbonate, sericite and epidot minerals. Keywords: iron sand, volcanic rocks, mineralization, Panggul coast Trenggalek.
KELURUSAN ANOMALI MAGNET BENDA X DI DAERAH Y DARI HASIL REDUKSI KE KUTUB Ketut Gede Aryawan; Subarsyah Subarsyah
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 6, No 2 (2008)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (398.3 KB) | DOI: 10.32693/jgk.6.2.2008.155

Abstract

Kita mengalami kesulitan untuk mendeteksi anomali secara langsung dari data medan magnet karena mempunyai polaritas positif dan negatif. Untuk itu diperlukan teknik pemrosesan data magnet untuk memperoleh delineasi pipa yang lebih baik. Pada kasus delineasi pipa gas di laut daerah X, diterapkan teknik reduksi ke kutub (RTP) untuk mengolah data magnet total. Fast Fourier Transform (FFT) diterapkan pada proses transformasi RTP dalam 2-dimensi dan 3-dimensi menggunakan perangkat lunak Matlab dan Magpick. Hasilnya menunjukkan arah dari pipa utara-selatan dan memperlihatkan posisi dari pipa semakin jelas yang diperkirakan tepat berada di bawah puncak kurva anomali. Kata kunci: anomali magnet total, delineasi, reduksi ke kutub, transformasi fourier, klosur. We have the problem to detect anomaly directly from the magnetic field data because it have two polarities, positive and negative. We need a technique of data processing to detect magnetic anomaly better. In the case of gas pipeline delineation in X-area, Reduce to Pole (RTP) technique was applied to process total magnetic data. Fast Fourier Transform (FFT) was applied on RTP transformation process in 2-Dimension and 3-Dimension using Matlab and Magpick softwares. The result indicate that the gas pipeline is north-south direction and the position is under the peak of anomaly curve. Keywords: total magnetic anomaly, delineation, reduce to pole, fast fourier transform, closur.

Page 1 of 1 | Total Record : 6