cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan Jl. Dr. Junjunan No. 236 Bandung-40174
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Geologi Kelautan: Media Hasil Penelitian Geologi Kelautan
ISSN : 16934415     EISSN : 25278851     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geologi Kelautan (JGK), merupakan jurnal ilmiah di bidang Ilmu Kebumian yang berkaitan dengan geologi kelautan yang diterbitkan secara elektronik (e-ISSN: 2527-8851) dan cetak (ISSN: 1693-4415) serta berkala sebanyak 2 kali dalam setahun (Juni dan Nopember) oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 3 (2010)" : 5 Documents clear
STRUKTUR GEOLOGI DI PERAIRAN PASANG KAYU, SULAWESI BARAT Mustafa Hanafi; Lukman Arifin
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 8, No 3 (2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (841.417 KB) | DOI: 10.32693/jgk.8.3.2010.192

Abstract

Daerah penelitian dicirikan oleh morfologi dasar laut yang terjal dan bergelombang dengan kedalaman bervariasi dari 40 meter di bagian timur hingga 2150 meter di bagian utara. Berdasarkan data rekaman seismik pantul dapat diidentifikasi adanya struktur geologi berupa sesar, lipatan, dan diapir. Kenampakan struktur-struktur tersebut ditandai dengan adanya lapisan yang patah, bergelombang, dan bentuk kubah. Sesar umumnya berarah timurlaut-baratdaya, dimana perkembangannya diduga sangat dipengaruhi tektonik regional terutama sesar utama Palu-Koro yang ada di daratan Pulau Sulawesi dan menerus ke laut sekitar lokasi penelitian. Kata kunci: morfologi, struktur geologi, sesar Palu-Koro, Pasangkayu The study area is characterized by the steep sea floor morphology with the depth from 40 metres in the east to 2150 metres in the north. On the basis of reflection seismic records, the geological structures such as faults, folds, and diapirs can be recognized. The appearance of such structures is signed by the faulted, wavy and domed layers. The faults in general have NE –SW direction, where it development possibly influenced by the regional Palu-Koro Fault present in Sulawesi island that continue to the study area. Keywords: morphology, geological structures, Palu –Koro Fault, Pasangkayu
PEMBENTUKAN UNDAK BATUGAMPING DAN HUBUNGANNYA DENGAN STRUKTUR DIAPIR DI PERAIRAN TANJUNG AWAR-AWAR PACIRAN JAWA TIMUR Lili Sarmili; GM. Hermansyah
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 8, No 3 (2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1243.7 KB) | DOI: 10.32693/jgk.8.3.2010.193

Abstract

Batuan yang mendominasi di daerah penyelidikan adalah batugamping koral Formasi Paciran zona Rembang. Batugamping koral inilah membentuk undak pantai di Tanjung Awar-awar dan di pantai Tuban dan sekitarnya. Terdapatnya undak batugamping ini, menandakan adanya pengangkatan secara vertikal pada satuan batuan ini. Batimetri daerah penyelidikan secara umum merupakan dataran dimana bagian yang dangkal terdapat di bagian baratdaya (ke arah pantai) dengan kedalaman 2 meter dan terdalam ke arah timurlaut dengan kedalaman 9 meter. Sebanyak 7 lintasan seismik berarah timurlaut-baratdaya dan 15 lintasan berarah barat laut – tenggara telah dilakukan dan beberapa titik bor untuk memperkuat penafsiran jenis batuan di setiap lapisan penampang seismik. Struktur geologi yang ditafsirkan dari seismik pantul ini adalah adanya suatu blok batuan yang seperti tersesarkan dan terdorong ke atas sebagai struktur diapir. Struktur diapir ini berkembang sangat baik di penampang seismik ke arah barat daya atau ke arah daratan dimana di sekitar pantainya batugamping ini membentuk undak batugamping. Munculnya struktur diapir ini kemungkinannya dikarenakan bagian selatan dari zona Rembang ini terdapat suatu zona yang mempunyai anomali gaya berat negatif dan karena batugampingnya banyak terpatahkan sehingga sangat mudah diintrusi oleh sedimen yang mempunyai berat jenis kecil. Kata kunci : undak pantai, batugamping koral, struktur diapir, Tanjung Awar-Awar Jawa Timur The study area is dominated by coral reef limestone of Paciran Formation of Rembang Zone. This coral reef limestone is responsible to form the beach terraces along the Tanjung Awar-Awar and Tuban beach and its surrounded. The formation of this coral reef limestone terraces closely related to vertical movement of these rocks units. The study area is bathymetrically flat where the shallow part is on southwest (towards the beach) with 2 meters depth and the deeper part is to northeast part with 9 meters depth. There are 7 seismic reflection lines of NE-SW and 15 lines of NW-SE have been done and some rocks drilling to emphasize the seismic sequences. The interpretation of geological structure from seismic reflection shows a feature of rocks unit was faulted and intruded as diapiric structures. These features are well developed towards the beach where the terrace of coral reef limestone can be found on the beaches. The formation of these diapiric structures are interpreted where on southward of the Rembang Zone there is a gravity negative anomalies and also due to the limestone were faulted and it seems to be easy intruded by a sediment with low density. Keywords : beach terraces, coral reef limestone, diapiric structure, Tanjung Awar- Awar East Java
PENELITIAN POTENSI ENERGI ARUS LAUT SEBAGAI SUMBER ENERGI BARU TERBARUKAN DI PERAIRAN TOYAPAKEH NUSA PENIDA BALI Ai Yuningsih; Ahmad Masduki
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 8, No 3 (2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1243.7 KB) | DOI: 10.32693/jgk.8.3.2010.194

Abstract

Metode penelitian potensi energi arus yang diterapkan adalah pengukuran arus, pengamatan pasang surut, pengamatan parameter meteorologi dan kondisi morfologi pesisir dan dasar laut daerah penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lokasi penempatan turbin arus laut cukup memenuhi syarat dengan morfologi relatif landai pada kedalaman ± 20 meter dan dekat dari pemukiman penduduk. Kecepatan arus rata-rata di perairan Toyapakeh mencapai kecepatan 2,5 – 3,0 m/detik dengan durasi 9 – 18 jam/hari untuk kecepatan diatas 0,5 m/detik. Dengan demikian, perairan di Toyapakeh merupakan lokasi yang cukup potensial untuk dimanfaatkan sebagai sumber energi baru terbarukan, khususnya pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut (PLTAL). Kata Kunci : energi arus laut, turbin arus laut, energi baru terbarukan, Selat Toyapakeh The methods of current energy potential study are current measurements, tidal and meteorological parameter observations, condition of coastal morphology and seafloor of the study area. The results show that, the location for turbine position is in area with relatively gentle slope morphology at a 20 meters water depth and it is close to local community. Based on the analysis of flow water conditions at Toyapakeh Strait, the average current velocity is about 2,5m/s to 3,0 m/s and within 24 hours, the flow velocity is greater than 0.5 m/s occurs for approximately 9 to 18 hours. Therefore, the results of the ocean current energy analysis indicate that the study area is very potential for using reneawable energy resource as a power plant location. Keywords: ocean currents energy, Sea Current Turbin, renewable energy, Toyapakeh Strait.
KAJIAN FISIK LINGKUNGAN GEOLOGI UNTUK PENGEMBANGAN KAWASAN PANTAI UTARA DI KABUPATEN/KOTA CIREBON JAWA BARAT Purnomo Raharjo; Lukman Arifin
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 8, No 3 (2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (604.169 KB) | DOI: 10.32693/jgk.8.3.2010.195

Abstract

Data yang digunakan untuk kajian ini adalah : kecepatan sedimentasi, daya dukung tanah, dan analisis besar butir. Kecepatan sedimentasi secara vertikal berkisar antara 1.023 sampai 3.835 cm/tahun dan pertumbuhan pantai dari tahun 1999 hingga tahun 2000 adalah 7,287 cm. Volume sedimen yang terendapkan selama tiga tahun adalah 266.621.000 m2 x 0,07287 meter = 19.428.672,27 m3. Daya dukung tanah diketahui dari hasil uji Standart Penetration Test (SPT) dari 0 m hingga kedalaman 24,45 m memiliki kepadatannya relatif agak kaku (stiff) yang merupakan endapan pantai. Kedalaman 24,00 sampai 41,00 meter memiliki kepadatannya relatif sangat kaku (very stiff) hingga keras (hard). Dari nilai indeks plastisitasnya dapat dikatakan bahwa semua jenis tanah lempung (CH) di daerah penelitian memiliki sifat plastisitas tinggi dan kohesif. Hasil analisis besar butir menunjukkan bahwa secara umum jenis tanah/sedimen di daerah penelitian terdiri dari sedimen yang memiliki fraksi halus berupa persentasi pasir sangat halus terbesar kemudian fraksi lanau. Berdasarkan uji konsolidasi dari contoh pemboran memperlihatkan pada tanah/sedimen di daerah penelitian yang berfraksi halus memiliki tingkat kompresibilitas tanah sedang hingga tinggi. Kata kunci : kecepatan sedimentasi, standard penetration test, besar butir, Cirebon Data used for this study are sedimentation rate, soil bearing capacity, and grain size analysis. Rate of sedimentation in vertical is among 1.023 to 3.835 cm/year and beach growth from years 1999 until year 2000 about 7,287 cm. Sediment are deposited to reach volume up to three year about 266.621.000 m 2 x 0,07287 m = 19.428.672,27 m 3 . Bearing capacity of soil from Standard Penetration Test (SPT) to the depth of 24,45 meters shows a stiff densities and constitute of beach sediment. From the depth of 24,00 to 41,00 meters shows densities a very stiff until hard densities. Their plasticity index of all clay in the study area are hingh plasticity (CH) and cohesive. From the grainsize analysis shows that all the soil/sediments in the study area are fine sediment which are very fine sand and silt. The fine sand are more dominant than the silt. Based on consolidation test from drilling samples those are also soil/sediments of fine fraction show a compressibility value from medium to high. Keywords: sedimentation rate, standard penetration test, grain size, Cirebon
STUDI AWAL POLA STRUKTUR BUSUR MUKA ACEH, SUMATRA BAGIAN UTARA (INDONESIA): Penafsiran dan Analisis Peta Batimetri Haryadi Permana; L. Handayani
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 8, No 3 (2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (975.864 KB) | DOI: 10.32693/jgk.8.3.2010.191

Abstract

Analisis morfostruktur daerah penelitian menunjukan tiga unit struktur geologi yang berbeda, antara lain zona penunjaman, zona deformasi aktif dan busur muka termasuk didalamnya tinggian busur muka dan cekungan busur muka. Struktur geologi zona penunjaman lempeng teramati sepanjang Palung Sunda paralel dengan zona deformasi aktif. Struktur geologi pada Tinggian Busur Muka membentuk sistim prisma akresi yang disusun oleh sesar anjak, sesar geser, perlipatan dan perlipatan naik. Pola kelurusan struktur umumnya berarah berarah utara baratlaut-selatan tenggara di sebelah utara lintang 5°U, arah baratlaut-tenggara pada posisi 3°-5°U, kelurusan kemudian berbelok hampir barat-timur di sekitar 2°-3°U. Perubahan arah pola kelurusan struktur tersebut ditafsirkan sebagai jawaban terhadap naiknya tingkat kemiringan penunjaman lempeng dari daerah Simeulue ke arah Lintang 5°U -7°U atau secara umum dari selatan Sumatra ke arah utara Sumatra. Di bagian tengah daerah telitian berkembang kelurusan patahan berarah utara-selatan yang memotong kelurusan berarah baratlaut-tenggara. Kelurusan tersebut ditafsirkan sebagai patahan geser dekstral dan kemungkinan masih aktif. Kata Kunci: Analisis morfostruktur, zona penunjaman, zona deformasi aktif, busur muka, kelurusan, sesar anjak, sesar geser, perlipatan, perlipatan naik, kemiringan penunjaman lempeng Morphostructure analyses of study area demonstrate three different units of geological structures: subduction zone, active deformation zone and fore-arc region, which include Fore Arc High and Fore Arc Basin. The plate subduction zone observes along Sunda Trench parallel with active deformation zone. Structure geology in Fore Arc High builds an accretionary prism system. It was composed by thrust fault, strike slip fault, folding and thrust fold. General trend of structural pattern is NNE-SSE at the north of 5°N, NW-SE direction at around 3°-5°N and changed in direction relative to E-W at about 2°-3°N. This direction variation of structural pattern trend was interpreted as a response to increase of obliquity degree of subducted plate from Simeulue area to 5° -7°N, or in general, from southern of Sumatra to north of Sumatra. NS trend lineament has developed in the middle part of study area that also sliced the NW-SE main structural direction. These structural lineaments interpreted as dextral strike slip fault and it is possibly still active. Keywords: morphostructure analyses, subduction zone, active deformation zone, fore-arc lineament, thrust fault, strike slip, folding, thrust fold, plat, plate subduction obliquity

Page 1 of 1 | Total Record : 5