cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota jayapura,
P a p u a
INDONESIA
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat
ISSN : 20859767     EISSN : 25809237     DOI : -
Core Subject : Art,
Journal of Papua is published twice a year in June and November by the Balai Arkeologi Papua. The Papua Journal contains the results of research, conceptual ideas, studies and the application of theory relating to archeology.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol. 12 No. 2 (2020): November 2020" : 10 Documents clear
GAMBAR CADAS PRASEJARAH DI TELUK WONDAMA SEBARAN DAN CERITA RAKYATNYA
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 12 No. 2 (2020): November 2020
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/papua.v12i2.233

Abstract

ABSTRAKKeberadaan  gambar cadas di Teluk Wondama ditulis oleh Galis tahun 1948.  Balai Arkeologi Papua tahun 2016 di Pulau Roon. Hasilnya bersifat eksplorasi, belum terfokus pada  tipologi gambar cadas. Tahun 2019 Balai Arkeologi Papua melakukan penelitian Tipologi gambar cadas prasejarah di kawasan Teluk Wondama.  Selain mengkaji tipologi  gambar cadas,  juga mengungkap cerita rakyatnya. Tujuan penulisan adalah mengetahui tipologi gambar cadas, seperti apa sebarannya dan  apa saja cerita rakyat  terkait gambar cadas. Metode penelitian eksploratif dan deskriptif kualitatif. Tahapan penelitian adalah  studi kepustakaan, penelitian lapangan, tahap pengolahan data. Dalam pengolahan data menggunakan juga software plugin Dstretch pada aplikasi  imajiJ untuk memperjelas gambar.   Hasil penelitian  menemukan tujuh situs gambar cadas yaitu  situs Suanggini, Ambesibui 1, Ambesibui 2, Ambesibui 3,  Sanepa, situs Pulau Nuasa dan situs Inuri Kiari. Motif gambar berupa gambar manusia, kadal, ikan, penyu, lingkaran, penanda arah, segitiga,  garis, dan gambar tidak teridentifikasi. Kata kunci : Penelitian, Situs, Gambar, Cadas,  Pulau. ABSTRACTThe existence rock images in Wondama Bay was written by Galis in 1948. Papua Archaeological in 2016 on Roon Island. The results  exploratory, not focused typology rock images. In 2019 Papua Archaeological  conducted a typology study rock images prehistoric  in Wondama Bay area. In addition to studying  typology of rock images,  also reveals folklore. The purpose writing is know typology rock images, what are their distribution and what are the folklore related to rock images. Explorative and descriptive qualitative research methods. The stages of  research literature study, field research, data processing stage. In processing data also use  dstretch plugin software on  imageJ application to clarify  image. The results found seven rock image sites,   Suanggini site, Ambesibui 1, Ambesibui 2, Ambesibui 3, Sanepa, Nuasa Island site and  Inuri Kiari site. Image motifs  form  images humans, lizards, fish, turtles, circles, direction markers, triangles, lines, and images are not identified. Keywords: Research, Site, Image, Cadas, Island.
TIPOLOGI BENTUK DAN JENIS RAGAM HIAS GERABAH DI SITUS TANJUNG LEWORAJA, KECAMATAN WULANDONI, LEMBATA hamdan hamado
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 12 No. 2 (2020): November 2020
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/papua.v12i2.275

Abstract

Tanjung Leworaja merupakan salah satu situs bekas pemukiman masa lalu yang terletak di Desa Pantai Harapan, Kecamatan Wulandoni, Kabupaten Lembata. Situs ini mengandung sejumlah besar tinggalan arkeologis di dalamnya, salah satunya adalah tinggalan fragmen gerabah atau tembikar yang menarik untuk dikaji. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tipologi bentuk dan jenis ragam hias gerabah yang ditemukan di situs Tanjung Leworaja. Metode pengumpulan data dilakukan melalui survei lapangan. Analisis temuan gerabah dilakukan dengan menggunakan model analisis visual yang meliputi analisis morfologi, teknologi dan ragam hias. Hasil penelitian menunjukan bahwa temuan gerabah di situs Tanjung Leworaja merupakan gerabah jenis wadah, mewakili bentuk periuk, tempayan dan pasu. Gerabah periuk terdiri dari 3 tipe yaitu tipe A, tipe B dan tipe C. Tempayan terbagi menjadi tempayan tipe A dan tipe B. Bentuk dasar ragam hias adalah bentuk garis, geometris dan lingkaran dengan pola ragam hias tipe A, tipe B, tipe C dan tipe D.
IDENTIFIKASI ARKEOLOGI SARANA DAN PRASARANA MAHAVIHARA MUARAJAMBI SEBAGAI PUSAT PENDIDIKAN DI ASIA TENGGARA PADA MASA MELAYU KUNO ABAD VII-XII: Identification of Archeology Mahavihara Muarajambi Facilities and Infrastructures As a Central Education In Southeast Asia In Malay Ancient Time of The VII-XII Century Asyhadi Mufsi Sadzali
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 12 No. 2 (2020): November 2020
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/papua.v12i2.281

Abstract

An Identification of Archeology Mahavihara Muarajambi Facilities and Infrastructures As a Central Education In Southeast Asia In Malay Ancient Time Of The VII-XII CenturyBy;Asyhadi Mufsi Sadzali, Yundi Fitrah Abstract: The development of Buddhism in Sumatra, especially in Jambi, has been going on since at least the 7th century, as evidenced by archaeological remains in the form of the distribution of temple structures in an area of ??3,900 hectares. Reconstruction efforts have been carried out since 1975, until now, but the interpretation of the functions of the buildings in the MuaraJambi temple area has not been studied much, so it is always associated with religious worship buildings. These assumptions will be expressed through two research questions; 1. What were the kinds of archaeological data supporting the MuaraJambi temple as an educational centre 2. How were the educational support facilities found in the Muarajambi Temple in the 7th-12th century AD. Disclosure of research questions using archaeological methods, through systematic stages including; collecting data, processing data in the form of identification and classification, and interpreting data. In the final section, it would discuss the function of each temple building and other supporting structures, namely as a means of educational infrastructure in Southeast Asia1in VII-XII AD century.Keywords: Mahavihara, Temple, Muarajambi IDENTIFIKASI ARKEOLOGI SARANA DAN PRASARANA MAHAVIHARA MUARAJAMBI SEBAGAI PUSAT PENDIDIKAN DI ASIA TENGGARA PADA MASA MELAYU KUNO ABAD VII-XII Oleh; Asyhadi Mufsi Sadzali, Yundi Fitrah abstrak: perkembangan ajaran Buddha di Sumatera, khususnya di Jambi telah berlangsung setidaknya sejak abad ke-7, dibuktikan dengan tinggalan arkeologi berupa sebaran struktur candi di kawasan Percandian Muarajambi seluas 3.900 Ha. Upaya rekonstruksi telah dilakukan sejak tahun 1975, namun interpretasi fungsi bangunan belum banyak diteliti, sehingga hanya dikaitkan dengan bangunan peribadatan agama Buddha. Akantetapi perkembangan data penelitian menunjukkan hal berbeda, ada kemungkinan fungsi lain, yakni sebagai pusat pendidikan. Asumsi tersebut diungkapkan melalui dua pertanyaan penelitian; Apa saja ragam data arkeologi pendukung percandian Muarajambi sebagai pusat pendidikan? Bagaimana sarana-prasarana pendukung pendidikan di Percandian Muarajambi pada abad ke-7 -12 M? Untuk menjawab pertanyaan penelitian digunakan metode arkeologi, melalui tahapan sistimatis meliputi; pengumpulan data, pengolahan data dalam betuk identifikasi dan klasifikasi, serta interpretasi data. Pada bagian ahir diambil kesimpulan terkait fungsi masing-masing bangunan candi serta struktur pendukung lain sebagai sarana prasarana pendidikan di Asia Tenggara pada abad ke-7 – 12 M. Kata kunci: Mahavihara, Candi, Muarajambi
TIFA DI TANAH PAPUA DALAM PERSPEKTIF ETNOMUSIKOLOGI I Wayan Rai S
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 12 No. 2 (2020): November 2020
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/papua.v12i2.290

Abstract

Tifa adalah salah satu jenis alat musik tradisi di Tanah Papua. Sampai saat ini studi tentang Tifa masih sangat terbatas, walaupun ada beberapa artikel tentang alat musik ini, namun tulisan-tulisan tersebut masih sangat ringkas dan tidak lengkap. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui secara lebih mendalam tentang musik Tifa di Tanah Papua. Tifa dipandang sebagai instrumen musik penting bagi masyarakat Papua yang telah diwarisi sejak masa yang lampau. Selain itu juga untuk mengetahui konteks sosial-budaya tifa itu pada masyarakat pendukungnya di Tanah Papua. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif. Sumber data penelitian ini adalah musik Tifa itu sendiri, para informan terpilih antara lain kepala suku, para pemain, dan budayawan daerah setempat. Seluruh data yang telah dikumpulkan melalui observasi partisipasi, wawancara, dan rekaman, dianalisis dengan menggunakan teori musik dan teori fungsional struktural. Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa: (1) Tifa adalah instrumen musik tradisi di Tanah Papua yang terbuat dari kayu dengan membrane dari kulit binatang dan tergolong single-headed frame drum. Asal usul Tifa terkait erat dengan foklor. Badan Tifa dihiasi dengan motif-motif tertentu sesuai kepercayaan masyarakat pendukungnya Alat musik ini dimainkan oleh seorang pemain dengan jalan memukul bagian membrane nya dengan basis empat pola ritme. (2) Dalam konteks sosisal budaya, tifa memiliki fungsi sebagai atribut kebesaran Ondoafi (kepala suku), sebagai sarana komunikasi, sarana penghubung kepada Tuhan, leluhur, serta kekuatan alam lainnya. Sebagai hasil kebudayaan ekspresif, alat musik ini dipergunakan sebagai pengiring nyanyian wor dan pengiring tari. Masyarakat Papua memaknai tifa sebagai karya budaya yang dijadikan simbol jati diri, pemberi identitas, dan sarana penguat ikatan relasi sosial.
PENGUBURAN CERUK DI KAWASAN TELUK WONDAMA
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 12 No. 2 (2020): November 2020
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/papua.v12i2.291

Abstract

Kawasan Teluk Wondama kaya akan tinggalan arkeologi khususnya ceruk-ceruk yang digunakan sebagai tempat penguburan. Penguburan sudah dikenal sejak jaman prasejarah. Penelitian bertujuan untuk mengetahui bentuk-bentuk penguburan yang terdapat di kabupaten Teluk Wondama, khususnya Distrik Roon. Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah deskriktif-eksplanatif. Hasil penelitian yang telah dilakukan diperoleh temuan berupa tengkorak dan tulang - tulang yang terdapat pada ceruk-ceruk. Temuan tulang-tulang dan tengkorak dalam ceruk menggambarkan bahwa penguburan yang dilakukan pada masa lampau pada masyarakat Kabupaten Teluk Wandama khususnya yang tinggal di Pulau Roon melakukan penguburan pada ceruk-ceruk karang yang terdapat di lingkungan sekitar mereka.. Penguburan dalam ceruk dimaksud disini adalah penguburan sekunder dengan cara meletakkan tulang-tulang dan tengkorak berjejer. menghadap ke mulut ceruk. Sistem penguburan ceruk di Kabupaten Teluk Wondama dilakukan secara tidak langsung (sekunder), dimana tulang-tulang dan tengkorak sebelum dimasukkan dalam ceruk sebelumnya mayat diletakkan diatas para-para yang agak jauh dari rumah setelah tinggal tulang kemudian dibawa ke ceruk-ceruk yang terdapat pada lingkungan sekitar tempat tinggal.
TIPOLOGI GAMBAR CADAS di KAWASAN DANAU KAMAKA dan ESROTNAMBA, KAIMANA
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 12 No. 2 (2020): November 2020
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/papua.v12i2.292

Abstract

Gambar cadas di kawasan Danau Kamaka dan Esrotnamba berada di dinding tebing kars. Penggambarannya dengan teknik gores dan penggunaan warna merah dan kuning. Tipologi gambar cadas berkaitan dengan manusia dan binatang serta nenek moyang. Metode yang digunakan dengan mengumpulkan hasil penelitian gambar cadas di kawasan Danau Kamaka dan Esrotnamba termasuk lingkungannya. Melakukan klasifikasi dan identifikasi gambar cadas melalui foto dokumentasi dengan aplikasi DStretch. Hasil penelitian ini memberikan informasi tentang tipologi gambar cadas yang erat kaitannya dengan lingkungan. Penggambarannya mencerminkan tanda sebagai jejak sumberdaya dan pengetahuan. Di Kawasan Danau Kamaka dan Esrotnamba masyarakat sangat menjaga dan menghormati lingkungan melalui aturan yang tidak tertulis dan menjadi kesepahaman bersama.
MANUSIA PRA-SRIWIJAYA DARI PANTAI TIMUR SUMATRA Mohammad Ruly Fauzi; Nurhadi Rangkuti
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 12 No. 2 (2020): November 2020
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/papua.v12i2.293

Abstract

Ekskavasi Situs Purwo Agung yang berlokasi di pantai timur Sumatra memberikan data baru berupa sisa-sisa elemen rangka dan gigi-geligi manusia dalam konteks kubur. Penemuan tersebut sangat penting karena profil demografi dan aspek biokultural dari manusia Pra-Sriwijaya di area rawa pasang surut tersebut belum pernah terungkap sebelumnya. Kajian bioarkeologi pada temuan manusia dari situs ini berhasil mengungkap adanya dua individu dewasa dengan afinitas dari populasi Monggolid. Dijumpai pula jejak penyakit berupa lesi karies yang mencerminkan diet dari masyarakat Pra-Sriwijaya masa lalu. Kehadiran individu dewasa lanjut menjadi bukti bahwasannya kawasan rawa pasang-surut di Sumatra mampu menyokong kehidupan manusia Pra-Sriwijaya hingga usia lanjut. Kajian ini sekaligus memperkuat pendapat sejarah hunian manusia di pantai timur Sumatra telah berlangsung lama, setidaknya sejak periode Pra-Sriwijaya berlangsung.
RUMAH TRADISIONAL TENGGER dan STRUKTUR KOMUNITAS TENGGER: : ANALISIS STRUKTURALISME LEVI-STRAUSS Putri Novita Taniardi
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 12 No. 2 (2020): November 2020
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/papua.v12i2.294

Abstract

Tulisan ini merupakan pengembangan dari hasil penelitian Balai Arkeologi Daerah Istimewa Yogyakarta di wilayah Tengger. Selama ini, penelitian di wilayah Tengger memfokuskan pada aspek permukiman dan latar belakang kepercayaan Orang Tengger. Tulisan ini mencoba mengungkap aspek lain dari komunitas Tengger yang dapat diketahui dari rumah tradisionalnya. Melalui tulisan ini, dapat diketahui struktur komunitas Tengger yang ditunjukkan pada arsitektur rumah tradisional Tengger. Untuk menguraikan struktur komunitas Tengger melalui struktur rumah tradisionalnya, penulis menggunakan metode analisis strukturalisme Levi-Strauss melalui sudut pandang Heddy Shri Ahimsa-Putra. Penulis menguraikan terlebih dulu struktur rumah tradisional Tengger kemudian dianalogikan dengan struktur sosialnya. Dari analisis ini kemudian diketahui bahwa struktur komunitas Tengger dapat dilihat secara vertikal dan horisontal. Komunitas Tengger juga mengenal konsep “antara”, yaitu penengah di antara dua aspek, baik secara sakral maupun profan. Rumah tradisional Tengger menyimpan informasi yang diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Proses pendirian rumah tradisional ini melalui serangkain ritual dengan makna-makna tertentu. Bagian dari rumah tradisional pun menyimbolkan aspek-aspek sakral yang merepresentasikan struktur komunitas Tengger. Simbol ini tidak dapat dibaca secara langsung, tetapi harus dianalisis terlebih dahulu dengan metode analisis strukturalisme. Hal ini dikarenakan pengetahuan komunitas Tengger akan simbol-simbol tersebut sebatas apa yang dapat dilihat langsung. Penulis kemudian mencoba untuk mengungkapkan makna simbol tersebut yang bersifat “nirsadar” melalui tulisan ini.
BUDAYA TATO di PEGUNUNGAN PAPUA Rini Maryone
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 12 No. 2 (2020): November 2020
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/papua.v12i2.295

Abstract

Menurut para peneliti-peneliti terdahulu dalam tulisan-tulisan mereka bahwa budaya tradisional tato di Papua hanya menyentuh pada budaya pesisir saja, yang merupakan budaya Austronesia. Berdasarkan hal tersebut tidak terbukti, sebab budaya tato ini juga dikenal oleh suku Momuna yang berada di daerah Pegunungan Tengah Papua. Dalam mengunggkapkan budaya tato pada suku Momuna menggunakan metode pendekatan etnoarkeologi yang dilakukan dengan dua tahap yaitu pengumpulan data dan pengolahan data. Pengumpulan data dilakukan dengan beberapa cara yaitu: survey, wawancara dan melakukan studi pustaka. Hasil dari penelitian ini dapat mengetahui cara pembuatan tato, alat yang digunakan, dan mengetahui fungsi dan makna tato dalam kehidupan suku Mumuna.
TRADISI RATAPAN (HELAEHILI) MASYARAKAT SENTANI, PAPUA Wigati Yektiningtyas
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 12 No. 2 (2020): November 2020
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/papua.v12i2.296

Abstract

Tradisi ratapan (helaehili) adalah kebiasaan masyarakat Sentani meratapi orang yang meninggal dalam perkabungan. Helaehili ini dilantunkan secara spontan dalam bahasa Sentani. Akan tetapi, ratapan ini sudah tidak dipraktikkan lagi seiring dengan hilangnya para pelantun heleahili dan tidak ada pewarisannya. Studi ini membahas (1) mengapa ada tradisi ratapan? (2) cara pelantunan ratapan (3) pentingnya pewarisan tradisi ratapan. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan kelompok diskusi terfokus dengan para informan, yaitu para pemangku adat, tua-tua adat dan para sesepuh Sentani di wilayah Sentani Timur dan Sentani Tengah pada tahun 2019. Studi menggunakan pendekatan sosial budaya dan menyimpulkan bahwa (1) ratapan (helaehili) dilantunkan sebagai ungkapan duka masyarakat Sentani yang “menolak” adanya kematian, rasa kehilangan dan hormat kepada yang meninggal, (2) lantunan dilakukan oleh orang tertentu, spontan, menggunakan bahasa Sentani tinggi, dan formula tertentu, (3) pewarisan helaehili penting karena lantunan ini sarat akan filosofi, pengetahuan tradisional, sejarah, nilai sosial-budaya, dan berbagai pesan moral sebagai identitas masyarakat Sentani.

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2020 2020


Filter By Issues
All Issue Vol. 13 No. 2 (2021): November 2021 Vol. 13 No. 1 (2021): Juni 2021 Vol. 12 No. 2 (2020): November 2020 Vol. 12 No. 1 (2020): Juni 2020 Vol. 11 No. 2 (2019): November 2019 Vol. 11 No. 1 (2019): Juni 2019 Vol. 10 No. 2 (2018): November 2018 Vol. 10 No. 1 (2018): Juni 2018 Vol 9, No 2 (2017): November 2017 Vol. 9 No. 2 (2017): November 2017 Vol. 9 No. 1 (2017): Juni 2017 Vol 9, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 8, No 2 (2016): November 2016 Vol. 8 No. 2 (2016): November 2016 Vol. 8 No. 1 (2016): Juni 2016 Vol 8, No 1 (2016): Juni 2016 Vol. 7 No. 2 (2015): November 2015 Vol 7, No 2 (2015): November 2015 Vol 7, No 1 (2015): Juni 2015 Vol. 7 No. 1 (2015): Juni 2015 Vol 6, No 2 (2014): November 2014 Vol. 6 No. 2 (2014): November 2014 Vol. 6 No. 1 (2014): Juni 2014 Vol 6, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 5, No 2 (2013): November 2013 Vol. 5 No. 2 (2013): November 2013 Vol 5, No 1 (2013): Juni 2013 Vol. 5 No. 1 (2013): Juni 2013 Vol 4, No 2 (2012): November 2012 Vol. 4 No. 2 (2012): November 2012 Vol 4, No 1 (2012): Juni 2012 Vol. 4 No. 1 (2012): Juni 2012 Vol. 3 No. 2 (2011): November 2011 Vol 3, No 2 (2011): November 2011 Vol 3, No 2 (2011): November 2011 Vol 3, No 1 (2011): Juni 2011 Vol. 3 No. 1 (2011): Juni 2011 Vol 2, No 2 (2010): November 2010 Vol. 2 No. 2 (2010): November 2010 Vol. 2 No. 1 (2010): Juni 2010 Vol 2, No 1 (2010): Juni 2010 Vol. 1 No. 2 (2009): November 2009 Vol 1, No 2 (2009): November 2009 Vol. 1 No. 1 (2009): Juni 2009 Vol 1, No 1 (2009): Juni 2009 More Issue