cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota jayapura,
P a p u a
INDONESIA
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat
ISSN : 20859767     EISSN : 25809237     DOI : -
Core Subject : Art,
Journal of Papua is published twice a year in June and November by the Balai Arkeologi Papua. The Papua Journal contains the results of research, conceptual ideas, studies and the application of theory relating to archeology.
Arjuna Subject : -
Articles 410 Documents
TINGGALAN TRADISI MEGALITIK Dl KAMPUNG KOKAS, KOMBIF, SUN WABAN KABUPATEN MAYBRAT (Megalithic Tradition in Village of Kokas, Kombi Sun-Waban, Maybrat Regency) Klementin Fairyo
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 8 No. 1 (2016): Juni 2016
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3985.007 KB) | DOI: 10.24832/papua.v8i1.9

Abstract

The remains of the megalithic tradition in Papua since prehistoric times. Megalithic relics are not only found in coastal areas, but also found in the interior. This paper aims to describe and analyze the relic, the function and role of the remains of the megalithic tradition for the community supporters. The method used is a literature study, observation, and interviews. The results of field observations are megalithic structures and totor. Processing data includes identification and archaeological data description and ethnoarchaeology. AbstrakTinggalan tradisi megaiitik di Papua sejak masa prasejarah. Peninggalan megailitik tidak hanya ditemukan di daerah pesisir saja, tatapi juga ditemukan di pedalaman. Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan dan mengkaji bentuk peninggalan, fungsi dan peran tinggalan tradisi megailitik tersebut bagi masyarakat pendukungnya. Metode peneiitian yang digunakan adalah stud I kepustakaan, observasi lapangan, dan wawancara. Hasil observasi lapangan adalah struktur bangunan megaiitik dan totor. Pengolahan data meliputi pengindentifikasian dan pendeskripsian data arkeologi dan etnoarkeoiogi. 
LINGKUNGAN VEGETASI SEKITAR 1250 TAHUN YANG LALU Dl SITUS LOLO GEDANG KABUPATEN KERINCI JAMBI {The Environment vegetation in Lolo Gedang Site in 1250 Years Ago) No First Name Vita
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 8 No. 1 (2016): Juni 2016
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6844.94 KB) | DOI: 10.24832/papua.v8i1.10

Abstract

Lolo Gedang is one of prehistoric sites in Kerinci Regency, Jambi Province. Prehistoric megalith evidences such as batu belah and batu patah, relief stones and large urns were found either complete or fragmentary In Lolo Gedang. Such findings indicated Lolo Gedang was occupied In the past, especially during the megalithic peroid. The preference to occupy Lolo Gedang in the past was due to natural resources that support the survival of the inhabitant. With Regard to such hypothesis, a question arose: how was the environment then. The objective of this paper is identification of the edible flora in Lolo Gedang. Proxies for pollen analysis were collected by boring and excanation. The result analysis pollen tube identify that vegetation in Lolo Gedang and Kerinci changed since approximately 1250 years ago. The vegetation during the occupation of Lolo Gedang was grassland. Such environment was different from the current one, environment, which is a transition ecosystem from grassland to a mix of Dipterocarpaceae forest. AbstrakLolo Gedang adalah salah satu situs pasejarah di daerah Kerinci, Provinsi Jambi. Bukti prasejarah berupa tinggalan megalitik seperti, batu belah dan batu patah, batu ukiran dan guci besar ditemukan baik dalam kondisi utuh ataupun berupa fragmen ditemukan di Lolo Gedang. Penemuan tersebut mengindikasikan bahwa Lolo Gedang ditempati pada masa lampau, khususnya pada masa periode megalitik. Alasan untuk menempati Lolo gedang pada masa lampau dikarenakan sumber daya alam yang dapat mendukung kelangsungan hidup. Berdasarkan hipotesa tersebut, timbullah pertanyaan bagaimana lingkungan pada masa lalu. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengidentifikasi tumbuhan yang dapat dimakan di Lolo Gedang. Serbuk polen dikumpulkan dengan cara pengeboran dan ekskavasi. Hasil dari analisa polen mengidentifikasikan bahwa vegetasi pada Lolo Gedang dan Kerinci berubah sejak sekitar 1250 tahun yang lalu. Vegetasi lingkungan selama penghunian masalalu merupakan daerah padang rumput. Lingkungan tersebut berbeda dengan lingkungan sekarang. Dimana transisi dari ekosistem padang rumput hingga hutan Dipterocarpaceae campuran
ARTEFAK MANIK-MANIK DALAM PERSPEKTIF ARKEOLOGI (Beads Artifact on Archaeology Perspective) No First Name Nasruddin
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 8 No. 1 (2016): Juni 2016
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6346.258 KB) | DOI: 10.24832/papua.v8i1.11

Abstract

Knowledge about objects beads ss cultural works, mainly because it is used for clothing and jewelry of the human body. Since when made and used, is a question that requires a search through research. Small objects is one of the many artifacts of human cultural objects can be studied through the field of archeology. Beads of all types, materials and co/ora, thought to have been present to accompany the man, from prehistoric times to the modem era. From archaeological research report states that the findings bead old age, among other things found in the cave sites such as Sulawesi, Mangkulirang East Kutai, Kalimantan and East Java and the surrounding environment Is in the karst region. This research aims to understand the early history of the presence of beads for human life is based on archaeological evidence that is already known. Through the identification of artifacts beads diversity, ranging from the type, shape up the material element, it can put forward a variety of beads found in Indonesia starting from stone material, glass, metal to organic materials. Beads that can be identified include stone beads, glass, and only a small amount of organic materials and metals. Beads, mainly dominated glass beads, particularly the type of monochrome and polychrome. In connection with the scientific effort, the methods and ways of working that are used to understand the data artifacts beads that am completely limited, by using the method; contextual analysis, analysis of typology, analogy, arid interpretation. AbstrakPengetahuan mengenai benda manik-manlk sebagai karya budaya, temtama karana digunakan untuk pakaian dan pertiiasan tubuh manusla. Sejak kapan dibuat dan dipakai, adalah suatu psrtanyaan yang meroerlukan penelusuran melalui penelitian. Benda kecil ini merupakan salah satu artefak dan sekian banyak benda budaya mantissa yang dapat dikaji melalui bidang artceoiogi. Manik-manlk dengan berbagaijenls, bahan dan wama, dlperkirakan telah hadir menemani manusia, sejak masa prasejarah hingga di jaman modern ini. Dari iaporan penelitian arkeologl menyebutkan bahwa temuan manik-manik yang berumur tua, antara lain ditemukan di situs-situs gua saperti Sulawesi, Mangkulirang, Kutal Timur, Kalimantan, dan di Jawa Timur dan sekitarnya yang berada di lingkungan kawasan karat. Penulisan Ini bertujuan untuk memahami sejanah awai kehadiran manik-manik bagi kehidupan manusia bendasarkan bukti-bukti arkeoiogi yang sudah diketahui. Melalui identifikasi keragaman artefak manik-manik, mulai dari sisl Jenis, bentuk hingga pada unsur bahan, maka dapat dikemukakan anaka ragam manik-manik yang ditemukan di Indonesia mulai dari bahan batu, kaca, logam hingga bahan organik. Manik-manik yang dapat di identifikasi meliputi manik-manik batu, kaca, dan hanya sedikit jumlahnya daribahan organik dan logam. Manik-manik itu, terutama dkJomlnasl manik-manik kaca, khususnya tips monokrom dan poiikrom. Sehubungan dengan upaya iimiah, maka metode dan cara keija yang digunakan untuk memahami data artefak manik-manik yang sifatnya serba terbatas itu, yaitu dengan menggunakan metode; anal Isis kontektual, analisis tipologi, analog!, dan penafeiran.
ARTEFAK PERHIASAN MANIK-MANIK ORANG HUAULU Dl PULAU SERAM {Artefact Jewelry Beads of Huaulu People, Seram Island) Lucas Wattimena
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 8 No. 1 (2016): Juni 2016
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2761.027 KB) | DOI: 10.24832/papua.v8i1.12

Abstract

This paper discuss about value consist in material culture artefact beaded jewelary. The purpose of this paper is too know and understanding the value consist in material culture beaded jewelry. Method of this paper used a etnoarcheology, with technique interview, survey/observation, and literature study Results shows that’s shape and function of artefact beaded jewelry of Huaulu people used for initiation ceremonial for adult men. Beaded jewelry artefact has a kindship value. The value it’s seeing in the structure of kindship it self, which function, role and position just for men only, woman can’t used this beaded jewelary artefacts. It is also prove that mens role dominated (patrilineal) in cycle of Huaulu people. AbstrakTulisan ini membahas tentang unsur-unsur nilai yang terkandung dalam budaya bendawi artefak perhiasan manik-manik. Tujuannya adalah untuk mengetahui dan memahami unsur-unsur nilai apa saja yang terkandung dalam budaya bendawi perhiasaan manik-manik. Metode penelitian menggunakan pendekatan etnoarkeologi, dengan teknik pengumpulan data wawancara, survei dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukan bahwa bentuk dan fungsi perhiasan manik-manik orang Huaulu sebagai media untuk pelaksanaan upacara adat inisiasi laki-laki dewasa. Perhiasan manik-manik mengandung unsur-unsur nilai kekerabatan. Nilai kekerabatan perhiasan manik-manik dapat dilihat pada struktur kekerabatan. Dimana struktur peran, fungsi dan kedudukan perhiasan dimaksud, hanya garis laki-laki (bapak) yang menggunakan perhiasan, perempuan tidak menggunakan perhiasan. Hal ini membuktikan bahwa peran laki-laki (patrilineal) dominasi dalam siklus hidup orang Huaulu. 
TEMUAN GERABAH Dl GROGOLAN WETAN, SEBUAH BUKTI PENGHUNIAN SITUS SANGIRAN PASCA PLESTOSEN (Pottery from Grogol Wetan Site, Sangiran Settlement Post Pleistocene) Metta Adityas Permata Sari
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 8 No. 1 (2016): Juni 2016
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3611.656 KB) | DOI: 10.24832/papua.v8i1.13

Abstract

The life of Eary Man at Post-Pleistocene in Sangiran site has not much indicated by evidences. Sangiran has know as Early Man site, and the findings of pottery indicate the activity of Post-Pleistocene human. Pottery can be regarded as one of evidance of Post-Pleistocene site. Data being analyzed are the potteries found by Indonesian National Center for Archaeological Research in 2013 and Sangiran Conservation Offie in 2015. Which is identified as pot (periuk) from Indonesian National Center for Archaeological Research and jar (klenting) from Sangiran Conservation Offie. Base on those findings, can be assumed that Early Man at Post-Pleistocene farmer. AbstrakKehidupan manusia purba pasca plestosen di Situs Sangiran terbilang belum cukup terbukti. Selama ini Situs Sangiran dikenal sebagai situs manusia purba, keberadaan fragmen tembikar menunjukkan adanya aktivitas sekelompok manusia (masyarakat) pasca plestosen di Situs Sangiran. Tembikar dijadikan salah satu bukti kehidupan pasca plestosen. Data yang digunakan adalah tembikar temuan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional tahun 2013 dan temuan BPSMP Sangiran tahun 2015. Hasil analisis temuan tembikar dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional berupa periuk, sedangkan analisis temuan dari BPSMP Sangiran berupa alat untuk mengambil air yaitu klenting. Berdasarkan temuan termbikar tersebut, dapat diasumsikan bahwa masyarakat kemungkinan pada pasca plestosen bermata pencaharian sebagai petani.
Front Cover Vol. 7 Edisi No. 2 Desember- 2015 Redaksi Papua Jurnal Penelitian Arkeologi
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 7 No. 2 (2015): November 2015
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/papua.v7i2.15

Abstract

Redaksi, Kata Pengantar, Daftar Isi dan Abstrak Redaksi Papua Jurnal Penelitian Arkeologi
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 7 No. 2 (2015): November 2015
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1582.712 KB) | DOI: 10.24832/papua.v7i2.16

Abstract

BENTUK MATA PENCAHARIAN MASYARAKAT PENDUKUNG SITUS GUNUNG SROBU [Prehistory Livelihood in the Srobu Site] Erlin Novita Idje Djami
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 7 No. 2 (2015): November 2015
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1097.719 KB) | DOI: 10.24832/papua.v7i2.18

Abstract

Research on the form of the people’s livelihood support Gunung Srobu sites is very important. This research aims to determine the extent of the development of human knowledge and ability to face the challenges of the natural environment to maintain the existence of the community, as well as expertise in generating technology equipment. Since the public support for culture Gunung Srobu Site does not exist any longer, so the study of forms of livelihood can be done through cultural material remnants preserved their activities. This study uses a qualitative approach to the form of inductive reasoning, while strategies are applied through literature and field observations. All the data collected in this study is then processed by indentifying by type and analyzed qualitative description that aims to know the meaning or interpret the empirical reality that the objects contained in the study. The results of this study are in the form of various types of artifacts such as pottery, stone tools, tool shells, animal bone remains, and shells litter. Culture material is closely related to the public livelihood support form Gunung Srobu site namely horticulture, hunting, gathering, fishing, farming, and industry. AbstrakPenelitian tentang bentuk matapencaharian masyarakat pendukung situs Gunung Srobu sangat penting dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan pengetahuan manusia dan kemampuannya dalam menghadapi tantangan lingkungan alam demi mempertahankan eksistensi komunitasnya, serta kemahirannya dalam menghasilkan teknologi peralatan hidup. Karena masyarakat pendukung budaya situs Gunung Srobu sudah tidak ada, maka kajian tentang bentuk matapencahariannya dapat dilakukan melalui kajian terhadap materi budaya sisa-sisa aktivitasnya yang terawetkan. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif dengan bentuk penalaran induktif, sedangkan strategi pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka dan observasi di lapangan. Semua data yang berhasil dihimpun dalam penelitian ini kemudian diolah dengan mengidentifikasi berdasarkan jenisnya dan kemudian dianalisis deskriptif kualitatif untuk memahami makna atau menafsirkan realitas empiris yang terkandung pada objek-objek kajian. Penelitian ini berhasil menemukan beragam jenis artefak seperti tembikar, alat batu, alat kerang, sisa tulang binatang, dan sampah kerang. Materi-materi budaya tersebut berkaitan erat dengan bentuk matapencaharian masyarakat pendukung situs Gunung Srobu yaitu bercocoktanam, berburu, meramu, nelayan, beternak, dan industri.
DOMESTIKASI DI DAERAH PEGUNUNGAN PAPUA MELALUI PEMBUDIDAYAAN TANAMAN: STUDI ETNOARKEOLOGI [Domesticated landscape in the highland of Papua through agricultural practices: ethnoarchaeological study] Marlin Tolla
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 7 No. 2 (2015): November 2015
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/papua.v7i2.19

Abstract

In the highland of Papua, various kinds of archaeological evidence has been used to argue the appearance of agricultural activities. Though assessing the evidence in different ways, the more relevant interpretation mostly leads to the changes of technology and economical reason. The presence or exploitation of three of the major plants such as taro, yam and bananas have brought the interpretation towards to domestication practices. The purpose of this paper is to explore the domestication practices of plants in the highland of Papua particularly to analyze the possibility of other plants that have become part of the domestication besides taro, yams and bananas. Data collections in this paper consists of literature study and also through etnoarchaeological data. The result shown that Casuarinas and some species of bean are expected has been introduced in the highland of Papua through domestication practices. AbstrakSelama ini praktek pertanian di dataran tinggi Papua telah menjadi topik yang hangat dalam sejumlah penelitian arkeologi. Hasil dari penelitian tersebut telah menghadirkan beberapa macam interpretasi, diantaranya praktek pertanian tumbuh karena adanya pengembangan teknologi serta kebutuhan ekonomi. Kehadiran beberapa jenis tumbuhan seperti talas (taro), ubi jalar (yams) dan tumbuhan pisang diperkirakan telah menjadi bagian dari praktek budidaya di masa lalu. Tujuan dari tulisan ini yaitu untuk menelusuri praktek domestikasi tumbuhan di daerah dataran tinggi Papua terutama untuk menganalisis kemungkinan adanya tumbuhan lain yang telah menjadi bagian dari praktek domestikasi dimasa lalu selain talas, pisang, dan ubi jalar. Tulisan ini menggunakan metode pengumpulan data melalui studi pustaka dan juga menggunakan data etnoarkeologi. Berdasarkan hasil yang diperoleh, domestikasi tumbuhan di wilayah pegunungan Papua pada masa lalu diperkirakan juga telah membudidayakan jenis-jenis tumbuhan lain seperti Casuarina dan beberapa jenis kacang-kacangan.
RUMAH POHON SUKU MOMUNA, YAHUKIMO [The Tree House of Momuna Tribe in Yahukimo] Rini Maryone
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 7 No. 2 (2015): November 2015
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1394.57 KB) | DOI: 10.24832/papua.v7i2.20

Abstract

This paper examines about the traditional house of Momuna Tribe in Yahukimo, Papua. The purpose of this paper is to determine the shape of the tree house, knowing the concept and philosophy and cultural values of Momuna's tree houses. Etnoarchaeology approach used to reconstruct the meaning of the culture in the past. The result of this research has shown some elemental concept of Southeast Asian architecture, showing by conception of house without room where the main family living. The representation of this concept towards to philosophical meaning especially as a protection from some kind of the treathness.This paper heading to gain knowledge about the traditional house in Papua as well in Indonesia as a big part. AbstrakTulisan ini mengkaji rumah tradisional suku Momuna di Yahukimo, Papua. Tujuannya, untuk mengetahui bentuk, konsep, filosofi serta nilai budaya rumah tradisional suku Momuna. Dengan metode kualitatif dan penalaran induktif, pokok masalah yang akan dibahas berkaitan dengan bentuk rumah tradisional suku Momuna, konsep dan filosofinya, serta nilai budayanya. Dengan pendekatan etnoarkeologi diharapkan budaya masa lampau dapat direkontruksi lewat data etnografi dari tradisi masyarakat yang masih hidup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumah tradisional suku Momuna memiliki bentuk dasar arsitektur Asia Tenggara dengan konsep tanpa kamar yang dihuni keluarga inti dan menegaskan filosofi dasar aman dari ancaman. Tulisan ini diharapkan dapat menambah referensi rumah suku yang ada di Papua khususnya dan di Indonesia umumnya.

Filter by Year

2009 2021


Filter By Issues
All Issue Vol. 13 No. 2 (2021): November 2021 Vol. 13 No. 1 (2021): Juni 2021 Vol. 12 No. 2 (2020): November 2020 Vol. 12 No. 1 (2020): Juni 2020 Vol. 11 No. 2 (2019): November 2019 Vol. 11 No. 1 (2019): Juni 2019 Vol. 10 No. 2 (2018): November 2018 Vol. 10 No. 1 (2018): Juni 2018 Vol 9, No 2 (2017): November 2017 Vol. 9 No. 2 (2017): November 2017 Vol. 9 No. 1 (2017): Juni 2017 Vol 9, No 1 (2017): Juni 2017 Vol. 8 No. 2 (2016): November 2016 Vol 8, No 2 (2016): November 2016 Vol. 8 No. 1 (2016): Juni 2016 Vol 8, No 1 (2016): Juni 2016 Vol. 7 No. 2 (2015): November 2015 Vol 7, No 2 (2015): November 2015 Vol 7, No 1 (2015): Juni 2015 Vol. 7 No. 1 (2015): Juni 2015 Vol. 6 No. 2 (2014): November 2014 Vol 6, No 2 (2014): November 2014 Vol 6, No 1 (2014): Juni 2014 Vol. 6 No. 1 (2014): Juni 2014 Vol 5, No 2 (2013): November 2013 Vol. 5 No. 2 (2013): November 2013 Vol 5, No 1 (2013): Juni 2013 Vol. 5 No. 1 (2013): Juni 2013 Vol 4, No 2 (2012): November 2012 Vol. 4 No. 2 (2012): November 2012 Vol. 4 No. 1 (2012): Juni 2012 Vol 4, No 1 (2012): Juni 2012 Vol 3, No 2 (2011): November 2011 Vol. 3 No. 2 (2011): November 2011 Vol 3, No 2 (2011): November 2011 Vol 3, No 1 (2011): Juni 2011 Vol. 3 No. 1 (2011): Juni 2011 Vol 2, No 2 (2010): November 2010 Vol. 2 No. 2 (2010): November 2010 Vol 2, No 1 (2010): Juni 2010 Vol. 2 No. 1 (2010): Juni 2010 Vol. 1 No. 2 (2009): November 2009 Vol 1, No 2 (2009): November 2009 Vol 1, No 1 (2009): Juni 2009 Vol. 1 No. 1 (2009): Juni 2009 More Issue