cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota jayapura,
P a p u a
INDONESIA
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat
ISSN : 20859767     EISSN : 25809237     DOI : -
Core Subject : Art,
Journal of Papua is published twice a year in June and November by the Balai Arkeologi Papua. The Papua Journal contains the results of research, conceptual ideas, studies and the application of theory relating to archeology.
Arjuna Subject : -
Articles 410 Documents
RUMAH TRADISIONAL TENGGER dan STRUKTUR KOMUNITAS TENGGER: : ANALISIS STRUKTURALISME LEVI-STRAUSS Putri Novita Taniardi
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 12 No. 2 (2020): November 2020
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/papua.v12i2.294

Abstract

Tulisan ini merupakan pengembangan dari hasil penelitian Balai Arkeologi Daerah Istimewa Yogyakarta di wilayah Tengger. Selama ini, penelitian di wilayah Tengger memfokuskan pada aspek permukiman dan latar belakang kepercayaan Orang Tengger. Tulisan ini mencoba mengungkap aspek lain dari komunitas Tengger yang dapat diketahui dari rumah tradisionalnya. Melalui tulisan ini, dapat diketahui struktur komunitas Tengger yang ditunjukkan pada arsitektur rumah tradisional Tengger. Untuk menguraikan struktur komunitas Tengger melalui struktur rumah tradisionalnya, penulis menggunakan metode analisis strukturalisme Levi-Strauss melalui sudut pandang Heddy Shri Ahimsa-Putra. Penulis menguraikan terlebih dulu struktur rumah tradisional Tengger kemudian dianalogikan dengan struktur sosialnya. Dari analisis ini kemudian diketahui bahwa struktur komunitas Tengger dapat dilihat secara vertikal dan horisontal. Komunitas Tengger juga mengenal konsep “antara”, yaitu penengah di antara dua aspek, baik secara sakral maupun profan. Rumah tradisional Tengger menyimpan informasi yang diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Proses pendirian rumah tradisional ini melalui serangkain ritual dengan makna-makna tertentu. Bagian dari rumah tradisional pun menyimbolkan aspek-aspek sakral yang merepresentasikan struktur komunitas Tengger. Simbol ini tidak dapat dibaca secara langsung, tetapi harus dianalisis terlebih dahulu dengan metode analisis strukturalisme. Hal ini dikarenakan pengetahuan komunitas Tengger akan simbol-simbol tersebut sebatas apa yang dapat dilihat langsung. Penulis kemudian mencoba untuk mengungkapkan makna simbol tersebut yang bersifat “nirsadar” melalui tulisan ini.
BUDAYA TATO di PEGUNUNGAN PAPUA Rini Maryone
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 12 No. 2 (2020): November 2020
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/papua.v12i2.295

Abstract

Menurut para peneliti-peneliti terdahulu dalam tulisan-tulisan mereka bahwa budaya tradisional tato di Papua hanya menyentuh pada budaya pesisir saja, yang merupakan budaya Austronesia. Berdasarkan hal tersebut tidak terbukti, sebab budaya tato ini juga dikenal oleh suku Momuna yang berada di daerah Pegunungan Tengah Papua. Dalam mengunggkapkan budaya tato pada suku Momuna menggunakan metode pendekatan etnoarkeologi yang dilakukan dengan dua tahap yaitu pengumpulan data dan pengolahan data. Pengumpulan data dilakukan dengan beberapa cara yaitu: survey, wawancara dan melakukan studi pustaka. Hasil dari penelitian ini dapat mengetahui cara pembuatan tato, alat yang digunakan, dan mengetahui fungsi dan makna tato dalam kehidupan suku Mumuna.
TRADISI RATAPAN (HELAEHILI) MASYARAKAT SENTANI, PAPUA Wigati Yektiningtyas
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 12 No. 2 (2020): November 2020
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/papua.v12i2.296

Abstract

Tradisi ratapan (helaehili) adalah kebiasaan masyarakat Sentani meratapi orang yang meninggal dalam perkabungan. Helaehili ini dilantunkan secara spontan dalam bahasa Sentani. Akan tetapi, ratapan ini sudah tidak dipraktikkan lagi seiring dengan hilangnya para pelantun heleahili dan tidak ada pewarisannya. Studi ini membahas (1) mengapa ada tradisi ratapan? (2) cara pelantunan ratapan (3) pentingnya pewarisan tradisi ratapan. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan kelompok diskusi terfokus dengan para informan, yaitu para pemangku adat, tua-tua adat dan para sesepuh Sentani di wilayah Sentani Timur dan Sentani Tengah pada tahun 2019. Studi menggunakan pendekatan sosial budaya dan menyimpulkan bahwa (1) ratapan (helaehili) dilantunkan sebagai ungkapan duka masyarakat Sentani yang “menolak” adanya kematian, rasa kehilangan dan hormat kepada yang meninggal, (2) lantunan dilakukan oleh orang tertentu, spontan, menggunakan bahasa Sentani tinggi, dan formula tertentu, (3) pewarisan helaehili penting karena lantunan ini sarat akan filosofi, pengetahuan tradisional, sejarah, nilai sosial-budaya, dan berbagai pesan moral sebagai identitas masyarakat Sentani.
POTENSI ARKEOLOGI DI GUA-GUA SEKITAR SONG PEDANG, KABUPATEN GUNUNG KIDUL Rizka Purnamasari
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 13 No. 1 (2021): Juni 2021
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/papua.v13i1.301

Abstract

Song Pedang merupakan sebuah ceruk yang secara administratif terletak di Dusun Karang, Desa Girikarto, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunung Kidul. Penelitian yang dilakukan oleh Balar Provinsi DIY di Song Pedang menunjukkan bahwa Song Pedang merupakan hunian pada Masa Prasejarah. Hasil temuan ekskavasi di Song Pedang diantaranya adalah alat tulang, serpih batu, gerabah, sisa-sisa tulang vertebrata, fragmen-fragmen cangkang kerang dan fragmen-fragmen tulang manusia. Kondisi geografisnya menunjukkan bahwa di terdapat gua-gua kecil yang terletak pada bukit-bukit di sekitar Song Pedang. Selain dari temuan ekskavasi, untuk menentukan fungsi dari Song Pedang juga diperlukan penelitian lebih lanjut pada gua-gua di sekitarnya. Artikel ini akan membahas hasil survei dari gua-gua di sekitar Song Pedang yang memiliki potensi arkeologis.
JELAJAH ARKEOLOGI DAN MEMBACA PESAN-PESAN SEJARAH DARI KELAMPAUAN: SUATU PENELITIAN PENDAHULUAN I Made Sutaba
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 13 No. 1 (2021): Juni 2021
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/papua.v13i1.303

Abstract

Archaeological research in Indonesia until the present days, has successfully discovered a diverse historical and archaeological heritage, which are classified as cultural heritage. This cultural heritage is an advice and source of historical information of the past life of the pluralistic Indonesiain ancestor. This cultural heritage beared problems, namely the aspect of typology, sociology and ideology in its contextual relationship that are unlikely to study it now. This research concentrates on the subjects in its relationship to the historical of the past and its relevance to the future of the nation building that not yet studied before. This research is a preliminary study concerning the historical messages of the past. The purpose of this research is to find out the answer of the problems. This research is done through library study for collecting data and the analysis was carried out using typological approach. The result of this study indicater a significance messages are the historical counsciousness, sense of nationalism, and its fundamental relevance for building the future of Indonesian nation. So far it is impossible to get the complete historical messages and sense of nationalism due to it characters such as incomplete, fragile, finite and so on.
BATU TETERUGA DAN CERITA RAKYAT SUKU SOBEY: Batu Teteruga and The Sobey Tribe Folktale Rini Maryone
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 13 No. 1 (2021): Juni 2021
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/papua.v13i1.304

Abstract

Megalithic dwellings in Papua related to folktale are very much traced from each region. These folktale are not only told by the community but there is historical evidence in the form of natural stone buildings. Which according to archaeology is called megalithic buildings. The stone is believed to be a deformed turtle. This research was conducted in Kampung Bagaiserwar Sarmi Kota district, Sarmi Regency, Papua Province. In this paper the author uses the method of ethnoarkeological approach. This research is also conducted in two stages, namely data collection and data processing. Data collection is done in several ways, namely: surveys, interviews and conducting library studies. The final stage is data processing, after all the collected data is then described, analyzed and interpreted. By using this method, you can also find out the megalithic remains of the suspect stone /turtle and folktale of the Sobey tribe in Sarmi Regency and can know what cultural values are contained in the megalithic dwellings and folktale of teteruga/ turtles / in the Sobey tribe in Sarmi Regency.
IDENTIFIKASI FUNGSI PARIT-PARIT KUNO DI PROVINSI LAMPUNG : The Identification of Moat Functions in Lampung Province Rusyanti Rusyanti; Muhammad Suwongso Sadewo; Nanang Saptono
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 13 No. 2 (2021): November 2021
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/papua.v13i2.306

Abstract

Moat is one of the features that has been found in the past and has its local and contextual functions. Research by the Archaeological Center of West Java over the last two decades had found 35 moated sites associates with the findings from the 7th century to the 20th century. The function of these moated sites has long been questioned and left several options that have not been executed. As a desk study research, this paper aimed to reexamine the data classified within their geological settings and approached them with their ethnographical context to get closer to the precise functions of the moated sites. The result had found several functions of the moat based on their geological setting which is different from the highland and the lowlands, and their subsistence techniques within their moated land. Keywords: Lampung, moat, archaeology, subsistence
BAHASA RUPA PADA RELIEF EROTIS DI PURA MEDUWE KARANG: VISUAL LANGUAGE ON THE EROTIC RELIEF IN MEDUWE KARANG TEMPLE Eldi Khairul Akbar; Coleta Palupi Titasari; I wayan Srijaya
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 13 No. 2 (2021): November 2021
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/papua.v13i2.308

Abstract

Relief erotis yang ditemukan di Pura Meduwe Karang merupakan salah satu bentuk karya seni rupa yang bersifat simbolis magis yang digunakan oleh para seniman masa lalu sebagai media komunikasi visual. Relief ini memiliki makna yang penting untuk dikaji lebih lanjut. Tujuan dari tulisan ini untuk mengetahui bentuk cerita serta makna dari penggambaran relief erotis tersebut dengan berdasarkan pada penelitian yang telah dilakukan. Dalam tulisan ini mengunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskripsi analisis bahasa rupa. Pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka, survei, dan wawancara. Analisis dilakukan dengan cara mengkaji bentuk wimba, isi wimba, dan tata ungkapan dalam pada panil relief erotis. Hasil penelitian menunjukan bahwa bentuk cerita relief erotis yang dipahatkan pada dinding pelinggih Pura Meduwe Karang menggambarkan adegan senggama dengan latar kejadian di luar ruangan (alam). Penggambaranya merupakan bentuk simbol suci yang termasuk dalam wujud kepercayaan simbolis magis yang memiliki makna sebagai bentuk permohonan pertolongan, perlindungan, dan kesuburan terutama dalam bidang pertanian dan perladangan.
PERALATAN HIDUP MASYARAKAT SARMI: Sarmi Community Living Equipment Rini Maryone
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 13 No. 2 (2021): November 2021
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/papua.v13i2.313

Abstract

Di wilayah Kabupaten Sarmi khususnya daerah pedesaan masih ada yang menggunakan peralatan hidup tradisional. Berdasarkan hal tersebut, penulis mengajukan beberapa masalah, yaitu ; apa saja nama, bentuk, fungsi cara pembuatanannya dan peratan hidup apa saja yang masih bertahan dalam kehidupan masyarakat Sarmi. Tujuan penulisan ini adalah mengetahui bentuk, fungsi cara pembuatan dan juga mengetahui peralatan hidup apa saja masih bertahan dalam kehidupan masyarakat Sarmi. Untuk mengungkapkan permasalahan maka metode yang digunakan adalah metode penelitian deskritif, dengan pendekatan etnoarkeologi dilakukan dengan beberapa tahap, pengolahan data, dilakukan dengan cara mendeskripsikan data mengenai peralatan hidup, kemudian dianalisis dan diinterpretasikan. Hasil yang diperoleh berupa ; Noken, Jaring tangan, Busur Panah,Tifa, Alat tusuk, Sangkur, Wadah Dawa, Alat putar papeda, Alat berbentuk seperti garpu, Jenis wadah yang mirip seperti dawan namun berukuran lebih kecil, Gelang tanganpemukul, Sendok, Daun pembungkus rokok, Menokok sagu.Peralatan hidup suku-suku yang berada di Kabupaten Sarmi, mulai dari peralatan makan, peralatan menangkap ikan, peralatan berburu, peralatan menokok sagu dan perlengkapan busana tradisional. Peralatan-peralatan hidup pada masa kini, ada yang masih dipergunakan, tetapi ada yang sudah beralih fungsi..
Editorial Team, Preface, Table of Contents & Abstract Jurnal penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Papua
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 13 No. 1 (2021): Juni 2021
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract


Filter by Year

2009 2021


Filter By Issues
All Issue Vol. 13 No. 2 (2021): November 2021 Vol. 13 No. 1 (2021): Juni 2021 Vol. 12 No. 2 (2020): November 2020 Vol. 12 No. 1 (2020): Juni 2020 Vol. 11 No. 2 (2019): November 2019 Vol. 11 No. 1 (2019): Juni 2019 Vol. 10 No. 2 (2018): November 2018 Vol. 10 No. 1 (2018): Juni 2018 Vol 9, No 2 (2017): November 2017 Vol. 9 No. 2 (2017): November 2017 Vol 9, No 1 (2017): Juni 2017 Vol. 9 No. 1 (2017): Juni 2017 Vol. 8 No. 2 (2016): November 2016 Vol 8, No 2 (2016): November 2016 Vol 8, No 1 (2016): Juni 2016 Vol. 8 No. 1 (2016): Juni 2016 Vol. 7 No. 2 (2015): November 2015 Vol 7, No 2 (2015): November 2015 Vol 7, No 1 (2015): Juni 2015 Vol. 7 No. 1 (2015): Juni 2015 Vol 6, No 2 (2014): November 2014 Vol. 6 No. 2 (2014): November 2014 Vol. 6 No. 1 (2014): Juni 2014 Vol 6, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 5, No 2 (2013): November 2013 Vol. 5 No. 2 (2013): November 2013 Vol 5, No 1 (2013): Juni 2013 Vol. 5 No. 1 (2013): Juni 2013 Vol. 4 No. 2 (2012): November 2012 Vol 4, No 2 (2012): November 2012 Vol 4, No 1 (2012): Juni 2012 Vol. 4 No. 1 (2012): Juni 2012 Vol 3, No 2 (2011): November 2011 Vol. 3 No. 2 (2011): November 2011 Vol 3, No 2 (2011): November 2011 Vol 3, No 1 (2011): Juni 2011 Vol. 3 No. 1 (2011): Juni 2011 Vol 2, No 2 (2010): November 2010 Vol. 2 No. 2 (2010): November 2010 Vol. 2 No. 1 (2010): Juni 2010 Vol 2, No 1 (2010): Juni 2010 Vol. 1 No. 2 (2009): November 2009 Vol 1, No 2 (2009): November 2009 Vol. 1 No. 1 (2009): Juni 2009 Vol 1, No 1 (2009): Juni 2009 More Issue