cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota jayapura,
P a p u a
INDONESIA
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat
ISSN : 20859767     EISSN : 25809237     DOI : -
Core Subject : Art,
Journal of Papua is published twice a year in June and November by the Balai Arkeologi Papua. The Papua Journal contains the results of research, conceptual ideas, studies and the application of theory relating to archeology.
Arjuna Subject : -
Articles 410 Documents
TRADISI BERBURU SUKU BAUZI DI MAMBERAMO RAYA (Hunter Tradition of Bauzi Tribe in Mamberamo Raya) Hari Suroto
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 6 No. 2 (2014): November 2014
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.088 KB) | DOI: 10.24832/papua.v6i2.31

Abstract

Especially prehistoric tradition of hunting and gathering tradition has continued until today in Bauzi tribe in Mamberamo Raya. This paper aims to discuss the tradition of hunting on Bauzi tribe, hunting equipment used and the strategy used in hunting. This study is descriptive and exploratory. Data collection was done of the literature study and interviews. Hunting animals is an activity undertaken Bauzi tribe throughout the year. Hunting methods used by individuals that hunt, hunt groups, and hunt groups using dogs. The strategy used in the hunt that is trapping, reconnaissance and attack suddenly, diving and attacked the crocodile in the water. Animal bone as a tool used in everyday life Bauzi tribe. ABSTRAKTradisi prasejarah terutama tradisi berburu dan meramu masih berlangsung hingga saat ini pada suku Bauzi di Mamberamo Raya. Tulisan ini bertujuan untuk membahas tradisi berburu pada suku Bauzi, peralatan berburu yang digunakan dan strategi yang dipakai dalam berburu. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan bentuk penalaran induktif dan pendekatan kualitatif, serta pendekatan etnoarkeologi. Pengumpulan data yang dilakukan yaitu dengan studi kepustakaan, observasi lapangan dan wawancara. Berburu binatang merupakan aktivitas suku Bauzi yang dilakukan sepanjang tahun. Metode berburu yang digunakan yaitu berburu yang dilakukan individu, berburu kelompok, serta berburu kelompok menggunakan anjing. Strategi yang digunakan dalam berburu yaitu pemasangan perangkap, pengintaian serta penyerangan mendadak, menyelam dan menyerang buaya dalam air. Tulang binatang buruan dimanfaatkan sebagai bahan alat dalam kehidupan sehari-hari suku Bauzi.
KAJIAN SITUS GUNUNG DEZH DI PULAU SALAWATI (Study of Dezh Mountain Site in Salawati Island) Klementin Fairyo
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 6 No. 2 (2014): November 2014
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (468.741 KB) | DOI: 10.24832/papua.v6i2.32

Abstract

Dezh Mountain site is the site occupancy of Japanese colonial period in Kampung Solol, Salawati, where the site of Mount Dezh describe Japan’s political strategy in the control of Papua. As for the archaeological remains found on this site in the form of foundation of the house, ceramic fragments, and fragments bicycle rim. Other archaeological findings were found in the location of Kampung Solol are tools factory. This research was conducted with the aim of knowing the forms of archaeological remains on the site of Mount Dezh and know the function of the archaeological remains. The method used in this study is the observation, literature and interviews ABSTRAKSitus Gunung Dezh adalah situs hunian masa kolonial Jepang di Kampung Solol, Pulau Salawati, keberadaan situs Gunung Dezh menggambarkan strategi politik Jepang dalam menguasai Papua. adapun tinggalan arkeologi yang ditemukan pada situs ini berupa fondasi rumah, fragmen keramik, dan fragmen pelek sepeda. Temuan arkelogi lainnya yang ditemukan di lokasi Kampung Solol adalah alat-alat pabrik. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengetahui bentuk-bentuk tinggalan arkeologi di situs Gunung Dezh dan mengetahui fungsi dari tinggalan arkeologi tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi lapangan, studi pustaka dan wawancara.
JEJAK BUDAYA PENUTUR AUSTRONESIA PADA SITUS KAMPUNG FORIR, FAKFAK (The Last Vestiges of The Austronesian Culture in Kampung Forir Site, Fakfak) Sri Chiirullia Sukandar
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 7 No. 1 (2015): Juni 2015
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2106.121 KB) | DOI: 10.24832/papua.v7i1.33

Abstract

Research on Sosoraweru cave site and Kampung Forir site, shows a number of issues Austronesian context. There are two issue to be discussed in this article, namely: (1) Traces of Austronesian speakers in Kampung Furir; (2) Function Sosoraweru cave site in the past. To explore both of these issues used the method of observation, excavation, and literature and analyzed based on contextual analysis. The baseline data obtained and analyzed in the form of artifacts and ekofak the influence of Austronesian culture in the southwestern coast of Papua. Based on the data and the context concluded that traces the influence of Austronesian in Sosoraweru cave include: red slip pottery fragments, the system of burial niches and frescoes which show the influence of Austronesian cultures. In addition, based on the context of the locus is known that the Sosoraweru cave site and Kampung Forir site serve as a residential in the past.AbstrakPenelitian di Situs Kampung Forir dan Gua Sosoraweru memperlihatkan sejumlah konteks isu Austronesia. Ada dua masalah yang akan dibahas dalam artikel ini, yaitu: (1) Jejak penutur Austronesia di Kampung Furir; (2) Fungsi situs Gua Sosoraweru di masa lalu. Untuk mendalami kedua masalah tersebut, digunakan metode observasi, ekskavasi, dan studi pustaka. Data-data pokok yang diperoleh dianalisis berdasarkan analisis kontekstual, berupa artefak dan ekofak untuk melihat adanya pengaruh budaya Austronesia di kawasan pesisir baratdaya Papua. Berdasarkan data dan konteksnya disimpulkan bahwa jejak pengaruh Austronesia di Gua Sosoraweru meliputi: fragmen gerabah berslip merah, sistem penguburan ceruk dan lukisan dinding yang menunjukkan adanya pengaruh budaya Austronesia. Selain itu, berdasarkan konteks lokus temuan diketahui bahwa Gua Sosoraweru dan kawasan Kampung Forir berfungsi sebagai hunian di masa lalu
KEHIDUPAN MASA PROTOSEJARAH DI SITUS MOSANDUREI, NABIRE (Protohistory Life in the Mosandurei Site, Nabire) Hari Suroto
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 7 No. 1 (2015): Juni 2015
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1596.902 KB) | DOI: 10.24832/papua.v7i1.34

Abstract

The survey results Mosandurei ground level at the site shows potential archaeological remains are diverse, but it can not be interpreted broadly associated with human use of the site by supporters. So we need systematic research with excavation. This paper aims to determine the pattern of human use of the site by supporters; knowing the character of human culture supporter Mosandurei site and to know the culture process Mosandurei sites. This paper aims to determine human life ever Mosandurei activity on the site in the past. Data collection is done in several ways, namely literature, surveying the ground, excavation. Data analysis was performed with artefaktual analysis, contextual analysis, and stratigraphic analysis. The survey and excavation at ground level Mosandurei site managed to find shells of mollusks, bone fragments, teeth, fragments of pottery, fragments of Chinese ceramics, European ceramics fragments, fragments of European bottles, beads, and stone tools. Based on the analysis of the data it is concluded that the site Mosandurei a prehistoric dwelling sites that continued until past history.AbstrakHasil survei permukaan tanah di situs Mosandurei menunjukkan potensi tinggalan arkeologi yang beragam, namun hal ini belum dapat menginterpretasikan secara luas terkait dengan pemanfaatan situs oleh manusia pendukungnya. Oleh karena itu, penelitian yang sistematis dengan ekskavasi perlu dilakukan. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui kehidupan manusia yang pernah beraktivitas di situs Mosandurei pada masa lampau. Kajian tulisan ini dilakukan dengan pengumpulan data dan analisis data. Pengumpulan data dilakukan dengan beberapa cara, yaitu studi pustaka, survei permukaan tanah, ekskavasi. Analisis data dilakukan dengan analisis artefaktual, analisis kontekstual, dan analisis stratigrafis. Hasil survei permukaan tanah dan ekskavasi di situs Mosandurei berhasil menemukan cangkang moluska, fragmen tulang, gigi, fragmen gerabah, fragmen keramik Cina, fragmen keramik Eropa, fragmen botol Eropa, manik-manik, dan alat batu. Berdasarkan analisis data maka diinterpretasikan bahwa situs Mosandurei merupakan situs hunian prasejarah yang berlanjut hingga masa sejarah.
KERAMIK CINA BAGI ORANG BIAK-NUMFOR DI TELUK CENDERAWASIH: PENGGUNAAN DAN MAKNANYA (The Chinese Ceramics of Biaknese Numfor in Gulf of Cenderawasih: It’s Use and Meaning) Klementin Fairyo
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 7 No. 1 (2015): Juni 2015
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1988.44 KB) | DOI: 10.24832/papua.v7i1.35

Abstract

Chinese ceramics is a thing that comes from outside Papua. existence is possible because of the trading relationship either directly or indirectly, with ceramic producer countries. Ceramic exchange (barter) to produce Papua, especially the Bird of Paradise, Pala, Masohi, and aloes. Chinese ceramics for the Biak-Noemfoor in cenderawasih an important valuables. The past, the Biak-Noemfoor have a lot of Chinese ceramics is regarded as a hero (mambri). This paper will discuss the shape and type of ceramics used in the Biak cultural activities, as well as the use and meaning of Chinese ceramics for the Biak-Noemfoor. The method used is descriptive qualitative, with data collection through literature study, observation and interviews. Chinese ceramics found on archaeological sites in the area that is the site Biak Wariaba 5 and websites Snerbab b. Utilization of Chinese ceramics in the traditional ceremonies of Biak-Noemfoor the tradition continues.AbstrakKeramik Cina merupakan benda yang berasal dari luar Papua. Keberadaannya dimungkinkan karena adanya hubungan dagang dengan negara-negara produsen keramik, baik secara langsung maupun tidak. Keramik ditukar (barter) dengan hasil bumi Papua, khususnya burung cenderawasih, pala, masohi, dan gaharu. Keramik Cina bagi orang Biak-Numfor di Teluk cenderawasih merupakan barang berharga yang penting. Masa lalu, orang Biak-Numfor memiliki banyak keramik Cina dianggap sebagai pahlawan (Mambri). Tulisan ini akan membahas bentuk dan jenis keramik yang digunakan dalam aktivitas budaya orang Biak, serta penggunaan dan makna keramik Cina bagi orang Biak-Numfor. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, dengan teknik pengumpulan data melalui studi kepustakaan, observasi dan wawancara. Keramik Cina yang ditemukan di situs arkeologi di wilayah Biak yaitu situs Wariaba 5 dan situs Snerbab b. Pemanfaatan keramik Cina dalam upacara adat orang Biak-Numfor merupakan tradisi berlanjut
FENOMENA BATU AKIK DI PAPUA DAN ANCAMAN KEPUNAHAN ARTEFAK KAPAK BATU LONJONG (Gemstone Phenomenon in Papua and Threat of Extinction Stone Axe Artifact) Adi Dian Setiawan
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 7 No. 1 (2015): Juni 2015
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1673.468 KB) | DOI: 10.24832/papua.v7i1.36

Abstract

Papua is a region that has so much natural wealth, ranging from gold, copper, silver, and other minerals. In addition, the cultural wealth of Papua is also an original and unique cultural richness that is believed to have existed since man began to inhabit the island of Papua and survive until now. It can be seen from the tradition of making stone axes that use mineral stone Papuans. Starting from this type of mineral oval stone axe attracted collectors and lovers of gemstones or agate hunting to get this kind of stone. To determine the extent of the impact of these phenomena, this study will be done by studying the literature of the stone axe along with tradition, field observation, and interviews with open interview method. Agate phenomena have a negative impact on the environment as well as the negative impact on the culture and people of Papua order itself.AbstrakPapua merupakan wilayah yang mempunyai kekayaan alam yang sangat banyak, mulai dari emas, tembaga, perak, dan mineral lainnya. Selain itu, kekayaan budaya Papua juga merupakan kekayaan budaya asli dan unik yang dipercaya telah ada sejak orang mulai menghuni Pulau Papua dan bertahan hingga sekarang. Hal ini dapat kita lihat dari tradisi pembuatan kapak batu yang menggunakan bahan batu mineral asli Papua. Berawal dari sinilah jenis bahan mineral batu kapak lonjong ini menarik para kolektor dan pencinta batu permata atau akik berburu untuk mendapatkan batu jenis ini. Untuk mengetahui sejauh mana imbas dari fenomena kapak batu beserta tradisinya, maka penelitian ini akan dilakukan dengan studi pustaka, observasi lapangan, dan wawancara terbuka. Fenomena batu akik berdampak negatif bagi lingkungan serta tatanan budaya dan masyarakat Papua itu sendiri.
PERALATAN DAPUR TRADISIONAL SEBAGAI WARISAN KEKAYAAN BUDAYA BANGSA INDONESIA (Traditional of Kitchen Equipment as Cultural Heritage Richness of Indonesia Nation) Lilyk Eka Suranny
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 7 No. 1 (2015): Juni 2015
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2332.685 KB) | DOI: 10.24832/papua.v7i1.37

Abstract

Traditional kitchen equipment has existed since prehistoric people began to recognize the farming. Along with the development of science and technology, the use of traditional kitchen equipment is being abandoned by the community. Therefore it is necessary to attempt for preserve this traditional kitchen equipment as one of the nations rich heritage. This paper will describe some traditional kitchen equipment, its benefits and the existence in community. Data was collected using observation, interviews and literature study. This study used a qualitative descriptive method. Some traditional kitchen equipment that was found in this study, among others furnace, cormorant, cauldron, wajan, jugs, coconut grated, crock, irus, centong, as well as pestle and mortar. The benefits derived from the use of traditional kitchen equipment is to have a distinctive flavor, safer and environmentally friendly, more economical and preserve the traditions of the ancestors.AbstrakPeralatan dapur tradisional sudah ada sejak manusia prasejarah mulai mengenal bercocok tanam. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pemakaian peralatan dapur tradisional ini semakin ditinggalkan oleh masyarakat. Oleh karena itu perlu adanya upaya untuk melestarikan peralatan dapur tradisional tersebut sebagai salah satu warisan kekayaan bangsa. Tulisan ini akan membahas beberapa peralatan dapur tradisional, manfaat penggunaannya serta keberadaan di dalam masyarakat saat ini. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan, wawancara dan studi kepustakaan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Beberapa peralatan dapur tradisional yang ditemukan dalam penelitian ini antara lain tungku, dandang, belanga, wajan, kendi, parutan kelapa, tempayan, irus, centong, serta cobek dan ulekan. Manfaat yang diperoleh dari penggunaan peralatan dapur tradisional adalah memiliki cita rasa yang khas, lebih aman dan ramah lingkungan, lebih ekonomis serta melestarikan tradisi nenek moyang.
SISA BUDAYA MANUSIA PURBA SITUS NGEBUNG (Artefact of Early Man in Ngebung Site) Metta Adityas Permata Sari
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 6 No. 1 (2014): Juni 2014
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (954.114 KB) | DOI: 10.24832/papua.v6i1.38

Abstract

Rooted cultural habits passed down through the generations since the common ancestor to the present. Results of prehistoric human culture found within the site Ngebung Sangiran, composed of bone tools and stone tools. Both of these findings will be the subject matter discussed in this paper with the aim to rescue and add data as well as the latest information. In addition, this study also wanted to find out the similarities and differences between the characteristics of the research findings in 2013 to 2014. Based on the survey and excavation team Preservation Hall Ancient Man Site (BPSMP) Sangiran in 2013 and 2014, it is known that bone tools were found is a type of spatula and lancipan , while the stone tools consist of shale and shaved. Overall the study found as many as 2 pieces of bone tools and stone tools 63 pieces.ABSTRAKBudaya berakar dari kebiasaan yang diwariskan secara turun-temurun sejak nenek moyang hingga sekarang. Hasil budaya manusia prasejarah yang ditemukan di situs Ngebung dalam kawasan Sangiran, terdiri dari alat tulang dan alat batu. Kedua temuan tersebut akan menjadi pokok masalah yang dibahas dalam tulisan ini dengan tujuan untuk penyelamatan dan menambah data serta informasi terbaru. Selain itu penelitian ini juga ingin mengetahui persamaan serta perbedaan karakteristik temuan antara penelitian pada tahun 2013 dengan 2014. Berdasarkan survei dan ekskavasi tim Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran tahun 2013 dan 2014, diketahui bahwa alat tulang yang ditemukan merupakan tipe spatula dan lancipan, sedangkan alat batu terdiri dari serpih dan serut. Secara keseluruhan penelitian menemukan alat tulang sebanyak 2 buah dan alat batu 63 buah.
SISTEM PENGUBURAN PADA SITUS WARLOKA, MANGGARAI BARAT, FLORES (Burial System on Warloka Site, West Manggarai, Flores) Adyanti Putri Ariadi
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 6 No. 1 (2014): Juni 2014
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (590.965 KB) | DOI: 10.24832/papua.v6i1.39

Abstract

Research on Site Warloka Flores generate new unique findings, namely the three remaining skeleton in one box archaeological excavation. The findings are interesting, the children have a stock order the tomb as well as the amount is higher than the burial gift adults. Related to these findings, this article will discuss the background of burial and the factors that cause the variation stock tomb Warloka site. The study aims to describe how burial and aspects and their underlying factors that cause the variation stock tomb. Based on the method of excavation was found that the system Warloka burial site indicate the presence of life has settled and the complex structure of society, as well as the pattern keletakan regular stock tomb, indicating the presence of the people who have a regular structure. While the diversity of burial and grave type of provision due to religious factors, social status, and cultural environments.ABSTRAKPenelitian pada Situs Warloka, Flores ini menghasilkan temuan baru yang unik, yaitu tiga sisa rangka manusia dalam satu kotak galian arkeologis. Temuan yang menarik, yakni rangka anak memiliki bekal kubur yang jumlah serta nilainya lebih tinggi daripada bekal kubur orang dewasa. Terkait dengan temuan tersebut, artikel ini akan membahas masalah latar belakang cara penguburan dan faktor yang menyebabkan variasi bekal kubur di situs Warloka. Penelitian bertujuan untuk menjelaskan cara penguburan dan aspek-aspek yang melatarbelakanginya beserta factor-faktor yang menyebabkan variasi bekal kubur. Berdasarkan metode ekskavasi ditemukan bahwa sistem penguburan di Situs Warloka menunjukkan telah adanya kehidupan menetap dan struktur masyarakat yang kompleks, begitu juga dengan pola keletakan bekal kubur yang teratur, menunjukkan adanya struktur masyarakat yang sudah teratur. Sementara keragaman cara penguburan dan jenis bekal kubur disebabkan oleh faktor religi, status sosial, dan lingkungan budaya.
THE COWRIES-SHELLS AND PIGS IN THE HIGHLAND OF PAPUA: THE LAPITA INFLUENCE? (Keberadaan Cangkang Kerang Cowrie dan Babi di Pegunungan Tinggi Papua: Pengaruh Lapita?) Marlin Tolla
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 6 No. 1 (2014): Juni 2014
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.48 KB) | DOI: 10.24832/papua.v6i1.40

Abstract

Cowrie shells and pork was instrumental in the life of tribes in Papua. Shellfish and pork cowries used as a medium of exchange, dowry, and death rituals. This paper aims to describe the relationship with the coastal areas of the mountainous region of Papua, as well as the influence of Lapita in the mountains. Data collected by literature study and qualitative descriptive analysis. Shellfish and pork cowries were introduced by Austronesian speakers to the indigenous people in the mountains of Papua. ABSTRAKKerang cowrie dan babi sangat berperan dalam kehidupan suku-suku di pegunungan Papua. Kerang cowrie dan babi digunakan sebagai alat tukar, mas kawin, dan ritual kematian. Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan keterkaitan wilayah pesisir Papua dengan wilayah pegunungan, serta pengaruh Lapita di pegunungan. Pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka dan analisis deskriptif kualitatif. Kerang cowries dan babi diperkenalkan oleh penutur Austronesia kepada penduduk asli di pegunungan Papua.

Filter by Year

2009 2021


Filter By Issues
All Issue Vol. 13 No. 2 (2021): November 2021 Vol. 13 No. 1 (2021): Juni 2021 Vol. 12 No. 2 (2020): November 2020 Vol. 12 No. 1 (2020): Juni 2020 Vol. 11 No. 2 (2019): November 2019 Vol. 11 No. 1 (2019): Juni 2019 Vol. 10 No. 2 (2018): November 2018 Vol. 10 No. 1 (2018): Juni 2018 Vol 9, No 2 (2017): November 2017 Vol. 9 No. 2 (2017): November 2017 Vol 9, No 1 (2017): Juni 2017 Vol. 9 No. 1 (2017): Juni 2017 Vol. 8 No. 2 (2016): November 2016 Vol 8, No 2 (2016): November 2016 Vol 8, No 1 (2016): Juni 2016 Vol. 8 No. 1 (2016): Juni 2016 Vol. 7 No. 2 (2015): November 2015 Vol 7, No 2 (2015): November 2015 Vol 7, No 1 (2015): Juni 2015 Vol. 7 No. 1 (2015): Juni 2015 Vol. 6 No. 2 (2014): November 2014 Vol 6, No 2 (2014): November 2014 Vol 6, No 1 (2014): Juni 2014 Vol. 6 No. 1 (2014): Juni 2014 Vol. 5 No. 2 (2013): November 2013 Vol 5, No 2 (2013): November 2013 Vol 5, No 1 (2013): Juni 2013 Vol. 5 No. 1 (2013): Juni 2013 Vol 4, No 2 (2012): November 2012 Vol. 4 No. 2 (2012): November 2012 Vol 4, No 1 (2012): Juni 2012 Vol. 4 No. 1 (2012): Juni 2012 Vol 3, No 2 (2011): November 2011 Vol. 3 No. 2 (2011): November 2011 Vol 3, No 2 (2011): November 2011 Vol 3, No 1 (2011): Juni 2011 Vol. 3 No. 1 (2011): Juni 2011 Vol 2, No 2 (2010): November 2010 Vol. 2 No. 2 (2010): November 2010 Vol. 2 No. 1 (2010): Juni 2010 Vol 2, No 1 (2010): Juni 2010 Vol. 1 No. 2 (2009): November 2009 Vol 1, No 2 (2009): November 2009 Vol 1, No 1 (2009): Juni 2009 Vol. 1 No. 1 (2009): Juni 2009 More Issue