cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL PANGAN
ISSN : 08520607     EISSN : 25276239     DOI : -
Core Subject : Agriculture, Social,
PANGAN merupakan sebuah jurnal ilmiah yang dipublikasikan oleh Pusat Riset dan Perencanaan Strategis Perum BULOG, terbit secara berkala tiga kali dalam setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 807 Documents
ANALISIS STRUKTUR DAN PERILAKU PADI PADA PEMASARAN BERAS ORGANIK DI KABUPATEN BOYOLALI yuniarti, dwi
JURNAL PANGAN Vol 27, No 2 (2018): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (459.662 KB) | DOI: 10.33964/jp.v27i2.370

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis struktur dan perilaku pemasaran padi gabah organik di Kabupaten Boyolali. Metode dasar penelitian ini adalah metode penelitian diskriptif analitik. Responden penelitian merupakan lembaga pemasaran yang terdiri dari petani produsen padi organik dan pedagang padi organik. Responden penelitian terdiri dari 50 petani, 6 penggilingan padi umum, 2 pedagang pengumpul desa dan 1 koperasi.  Tujuan ini dapat dicapai dengan menggunakan analisis pangsa pasar, konsentrasi pasar, Herfindahl-Hirschman index (HHI) dan statistik deskriptif. Analisis jumlah penjual dan pembeli di pasar padi organik menunjukkan bahwa banyak penjual dan beberapa pembeli, responden merupakan anggota asosiasi pemasaran, ada kebebasan keluar masuk pasar, ada arus informasi pemasaran di pasar beras organik, penetapan harga beras organik ditentukan oleh pedagang/pembeli dengan dasar pada harga yang berlaku saat ini. Responden memperoleh informasi pemasaran dari perantara/pedagang. Struktur pasar beras organik ditemukan adalah oligopsoni. Perilaku responden antara lain mayoritas responden menjual padi segera setelah panen, responden bergantung pada pendanaan koperasi atau asosiasi pasar, penjual tidak berkolusi untuk menentukan harga, serta tidak mengiklankan hasil panen untuk dijual, dan mayoritas responden rutin menghadiri pelatihan tentang budidaya atau pemasaran padi.
Peranan Pendekatan Teknologi dan Input Produksi terhadap Produktivitas dan Mutu Hasil Padi Abdulrachman, Sarlan
JURNAL PANGAN Vol 20, No 4 (2011): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1597.641 KB) | DOI: 10.33964/jp.v20i4.186

Abstract

Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) maupun System of Rice Intensification (SRI) merupakan pendekatan teknologi padi yang saat ini banyak dikembangkan di Indonesia. Kedua pendekatan ini mempunyai tujuan yang serupa meskipun komponen teknologi yang digunakan tidak semuanya sama. Dalam konsep budidaya SRI, tanaman padi diperlakukan sebagai organisme hidup dengan kesehatan tanah menjadi dasar untuk mendapatkan hasil gabah yang tinggi dan perhatian tentang pemanfaatan pupuk organik menjadi prioritas utama. Sedangkan PTT merupakan upaya bagaimana sumber daya tanaman, lahan dan air dikelola agar mampu memberikan manfaat yang sebesarbesarnya serta dapat menunjang peningkatan produktivitas lahan dan tanaman. Darihasil demontrasi plot terlihat bahwa dengan penggunaan pupuk organik saja (metode SRI) yang dibandingkan dengan penggunaan kombinasi pupuk kimia dan organik (metode PTT) pada tanaman padi memberikan perbedaan hasil yang cukup mencolok, PTT > SRI. Biaya tenaga kerja dan sarana produksi metode SRI jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan metode PTT, sehingga mengakibatkan rasio R/C pada metode SRI juga rendah. Kurangnya pasokan unsur hara P dan K pada metode SRI diduga menyebabkan mutu fisik beras menjadi kurang baik. Mengingat semakin meningkatnya permintaan beras nasional, maka teknologi yang harus dikembangkan adalah yang dapat menjamin kelestarian lingkungan, namun tetap memberikan produksi tinggi untuk mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus pendapatan petani.Integrated Crop Management (ICM) and System of Rice Intensification (SRI) areapproaches of current rice technology that have been developed in Indonesia. Both approaches have similar objectives even though components of the technology used are not all the same. In the concept of SRI, rice is treated as a living organism with the soil fertility as a basic concern to obtain a high grain yield and the use of organic fertilizer is a top priority. While ICM is an attempt how plant, land and water resources are managed in order to provide maximum benefits and support the increased productivity of both land and crops. The demonstration plot shows that the use of only organic fertilizers (SRI method) compared to the combined use of chemical and organic fertilizers (ICM method) on rice results in quite contrast difference, ICM > SRI. Labor costs andinput production of SRI method are much higher than those of ICM method, so that the result of R/C ratio on the SRI method is also low. Due to lack of supply of nutrients P and K on SRI method, it was supposed to become less physical rice quality. Given the increasing national demand for rice, the technology that must be developed is to ensure environmental sustainability, while it can still provide high production to support national food security and farmers’ incomes. 
Pengaruh Kedalaman Muka Air dan Amelioran terhadap Produktivitas Kedelai di Lahan Sulfat Masam Effects of Water Depth and Ameliorant to Soybean Productivity on Acid Sulphate Soil Ilona Noyaa, Alce; Ghulamahdi, Munif; Sopandie, Didy; Sutandi, Atang; Melati, Maya
JURNAL PANGAN Vol 23, No 2 (2014): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (729.847 KB) | DOI: 10.33964/jp.v23i2.56

Abstract

Oksidasi pirit di lahan sulfat masam menyebabkan pH tanah turun sehingga meningkatkan kelarutan aluminium dan besi. Budidaya jenuh air mempertahankan kedalaman muka air tanah dan membuat lapisan di bawahnya jenuh. Penelitian bertujuan menentukan pengaruh kedalaman muka air tanah dan ameliorasi terhadap beberapa sifat kimia tanah dan produktivitas kedelai. Penelitian dilaksanakan di lahan sulfat masam Desa Banyu Urip Kecamatan Tanjung Lago Kabupaten Banyuasin, Propinsi Sumatera Selatan, sejak Juni sampai Oktober 2012. Penelitian menggunakan rancangan petak-petak terpisahdengan 3 ulangan. Faktor utama adalah tinggi air dalam parit 10 cm dan 20 cm di bawah permukaan tanah dengan pembanding budidaya kering. Faktor kedua adalah amelioran : tanpa amelioran, kapur dan abu jerami. Faktor ketiga adalah genotipe Anjasmoro, Yellow Biloxi, Tanggamus dan Lawit. Hasil penelitian menunjukkan interaksi kedalaman muka air dan ameliorasi meningkatkan pH tanah menjadi 4,67; mempertahankan kadar P tanah 10,70 ppm; meningkatkan kadar K, Ca dan Mg tanah menjadi 1,15; 11,70 dan 6,90 me/100 g. Kadar Fe tanah turun menjadi 12,14 ppm sedangkan kadar Al dan kejenuhan Alturun menjadi 2,06 ppm dan 10,36 persen. Tanggamus memiliki produktivitas tertinggi (2,47 t/ha) karena memiliki lebih banyak jumlah daun (31,5), jumlah cabang (4,5 - 5,3), jumlah buku produktif (27,67) dan jumlah polong isi (80,9).Pyrite oxidation causes the soil pH drops, thus increasing the solubility of aluminium and iron. Saturated soil culture maintains the water depth and makes the soil below saturated. This study aims to determine the effects of soil water depth and amelioration on soil chemical properties and soybean productivity. The experiment is conducted on acid sulphate soil Banyu Urip, South Sumatera Province, from June until October 2012. The experiment is arranged in a split split plot design with three replications. The main factor is water depth in the furrow consisted of 10 and 20 cm under soil surface. The second factor is ameliorant: without ameliorant, lime and straw ash. The third factors are genotypes: Anjasmoro, Yellow Biloxi, Tanggamus and Lawit. The results show that interaction of water depth and amelioration increase soil pH to 4.67, maintain soil P at 10.70 ppm and increase soil K, Ca and Mg to 1.15, 11.70 and 6.90 me/100 g. The soil Fe decrease to 12.14 ppm, whereas Al and Al saturated decrease to 2.06 ppm and 10.36 percent, respectively. Tanggamus has the highest productivity (2.47 t/ha), supported by higher number of leaves (31.5), branches (4.5 - 5.3), productive nodes (27.67) and filled pods (80.9.)
Mencari Ikon Pergerakan Nasionalisme Pangan Indonesia Subagio, Achmad
JURNAL PANGAN Vol 18, No 4 (2009): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (624.109 KB) | DOI: 10.33964/jp.v18i4.219

Abstract

Saat ini Indonesia sedang disibukkan oleh agenda-agenda politik, mulai dari pemilu legislatif, hingga pemilihan presiden, dan terorisme, serta hubungan KPK-POLRIKejaksaan. Di pihak lain, bencana alam, kecelakaan, wabah penyakit dan kejadian rawan gizi terus terjadi di mana-mana. Sementara itu, harga pangan dunia masih cukup tinggi. Walaupun kondisi krisis pangan ini merupakan fenomena global yang disebabkan oleh perubahan iklim dan "perang" (baca:perebutan) antara pangan dan energi, tak urung hati kita seperti teriris jika memperhatikan seringnya kejadian rawan gizi, dengan kenyataan bahwa kita saat ini seperti pepatah "ayam mati dalam lumbung padi". Kondisi semakin diperparah dengan besarnya impor pangan kita. Banyak ahli berpendapat bahwa keterpurukan yang dialami Indonesia saat ini semakin dalam oleh karena menurunnya rasa bangga pada tanah air kita, termasuk bidang pangan. Tulisan ini mengupas tentang fakta-fakta seputar kondisi pangan nasional, dan memberikan solusi berupa meningkatkan rasa nasionalisme pangan Indonesia dengan mencari bahanbahan lokalsebagai "ikon pergerakan". Sebagai persyaratan untuk menjadi ikon pergerakan nasionalisme, suatu makanan haruslah berupa bahan pangan yang secara tradisional telah ada di Indonesia, memenuhi persyaratan gizi yang baik dan dapat diusahakan secara komersial.Kata kunci: Ikon, ketahanan pangan, nasionalisme, dan potensi lokal
Karakteristik Fisikokimia Tepung Kecambah Kedelai Astawan, Made; Hazmi, Khaidar
JURNAL PANGAN Vol 25, No 2 (2016): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (988.612 KB) | DOI: 10.33964/jp.v25i2.326

Abstract

Soybean is a strategic commodity in Indonesia because it is one of the most important crops after rice and maize. Indonesian people like to consume processed soybean products due to several reasons, such as their relatively inexpensive price and highly nutritional content. One of the processes that can improve the quality of soy nutrition is germination process. In this study, comparative physicochemical characteristics of germinated soybean flour (TKK) and soybean flour (TK) is investigated. First, soybean and germinated soybean are dried using a freeze dryer, then their sizes are reduced using a blender and finally they are sieved using a 100 mesh sieve. TKK and TK products are analyzed based on not only their chemical and physical characteristics but also their functional properties. It is proven that germination process can improve the chemical characteristics of soybean flour, such as increasing the contents of ash, protein, and antioxidant capacity, but decreasing the fat content.  TKK is significantly higher than TK on bulk density. Protein functional characteristics of TKK are also better on foam capacity and emulsion capacity as compared to TK.
PETANI DAN KEMISKINAN DI INDIA DAN NEGARA LAINNYA Soepanto, Achmad
JURNAL PANGAN Vol 15, No 1 (2006): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (574.42 KB) | DOI: 10.33964/jp.v15i1.282

Abstract

India mengalokasikan dana Rp. 94 triliun setiap tahun atau 2 % dari produk domestik bruto (PDB) untuk menjamin pendapatan bagi 63 juta orang wakil keluarga miskin di desa. Setiap wakil dijamin pekerjaan dengan upah 60 rupees setiap hari selama 100 hah dalam setahun. Setiap bulan akan menerima 500 rupees atau Rp. 108.050. Dalam satu tahun berarti menerima 6.000 rupees atau Rp. 1.296.600. Jaminan ini mirip dengan program Bantuan Langsung Tunai (BLT) di Indonesia yang merupakan program 1 tahun sedang Jaminan Kerja Pedesaan (JKP) di India merupakan program permanen dan ditetapkan dengan undang-undang. Pendapatan dari program JKP merupakan hasil jerih payah bekerja, sedang dari program BLT merupakan pendapatan yang diberikan secara cuma-cuma. Setiap keluarga miskin menerima BLT Rp. 100.000 setiap bulan atau Rp. 1.200.000 setiap tahun sehingga anggaran untuk 15,5 juta keluarga miskin adalah Rp. 18, 6 triliun. Program JKP India, hanya untuk masyarakat pedesaan, sehingga menimbulkan kritik dari masyarakat yang tidak tinggal di pedesaan. Sebagian besar warga India (72 %) tinggal di pedesaan sehingga yang paling merasakan program ini adalah para petani. Berbeda dengan program BLT Indonesia yang ditujukan untuk keluarga miskin baik yang bertempat tinggal di kota maupun di desa. Namun program-program seperti ini belum cukup untuk mengentaskan kemiskinan petani, masihdiperlukan bantuan pemerintah berupa perlindungan produk petani dipasar dalam negeri.
Prospek Penawaran dan Permintaaan Pangan Nasional Menghadapi Tantangan (Global Prospects of National Food Supply and Demand Facing Global Challenges) Saliem, Handewi Purwanti; Kustiari, Reni
JURNAL PANGAN Vol 21, No 1 (2012): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1873.692 KB) | DOI: 10.33964/jp.v21i1.88

Abstract

Penyediaan pangan ke depan dihadapkan pada tantangan global berikut: populasi dunia tumbuh sekitar 3,4 persen dan berjumlah 9,1 miliar pada 2050, urbanisasi meningkat dengan laju yang semakin tinggi dan sekitar 70 persen dari populasi dunia akan berada di urban area, dan tingkat pendapatan penduduk yang beberapa kali lipat dari saat ini. Menghadapi tantangan global tersebut produksi pangan (termasuk untuk bahan baku energi) harus meningkat sekitar 70 persen. Produksi serealia harus meningkat sekitar 3 miliar ton dari 2,1 miliar pada 2009 dan produksi daging per tahun harus meningkat sebesar 200 juta ton agar mencapai 470 juta ton. Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2025 diproyeksikan sekitar 294,3 juta orang. Pada kondisi tersebut, permintaan beras, jagung, kedelai dan ubi kayu diproyeksikan meningkat masing-masing menjadi 46,9 juta ton, 13,8 juta ton, 1,7 juta ton dan 13,3 juta ton. Sementara itu, produksi diproyeksikan meningkat menjadi 58,1 juta ton, 32,7 juta ton, 1,1 juta ton dan 39,4 juta ton masing-masing untuk beras, jagung, kedelai dan ubi kayu. Dengan demikian akan terjadi defisit pada beberapa komoditas pertanian terutama untuk kedelai. Perubahan iklim dan peningkatan produksi biofuel merepresentasikan resiko utama ketahanan pangan pada jangka panjang. Pertanian harus beradaptasi terhadap perubahan iklim, tetapi pertanian dapat juga digunakan untuk mengurangi dampak perubahan iklim. Peningkatan penggunaan tanaman pangan untuk produksi biofuel akan mempunyai implikasi yang serius untuk ketahanan pangan. Oleh karenanya diperlukan upaya keras untuk menjaga keseimbangan permintaan dan penawaran di pasar domestik. Hal ini karena Indonesia tidak dapat sepenuhnya bergantung kepada pasar internasional mengingat dampak perubahan iklim telah melanda seluruh negara di dunia yang berarti ketersediaan pangan di pasar internasional akan terbatas.In the future, provision of food for all face global challenging issues, such as theworld's population is growing at about 34 percent and is predicted to be 9.1 billion by 2050, urbanization is increasing at a higher rate, and income levels are several times higher than today. Challenges facing the global food production (including for energy raw materials) must be increased by around 70 percent. Production of cereals should be increased by approximately 3 billion tons from 2.1 billion in 2009 and production of meat per year should be increased by 200 million tons to reach 470 million tons. Indonesia's population in 2025 isprojected around 294.3 million people. In such conditions,demand for rice, corn, soybeans and cassava is projected to increase each to 29.1 million tons, 8.6 million tons, 1.7 million tons and 13.3 million tons. Meanwhile, production is projected to increase to 58.1 million tons, 20.3 million tons, 1.1 million tons and 24.5 million tons for rice, corn, soybeans and cassava. Thus there will be a deficit on a few agricultural commodities especially for soybeans. Climate change and increased production of bio-fuels represents major food security risk in the long run. Agriculture must adapt to climate change, but agriculture can also be used to reduce the impacts of climate change. An increase in the use of food crops for the production of bio-fuels will have serious implications for food security. Therefore, it is required hard efforts to maintain the balance of supply and demand in the domestic market. This is because Indonesia cannot entirely depend on international food market given the impacts of climate change has hit the whole country in the world which means the availability of food in the international market will be limited. 
Mekanisasi Usahatani Budidaya Tebu Lahan Kering Pramuhadi, Gatot
JURNAL PANGAN Vol 18, No 3 (2009): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2008.263 KB) | DOI: 10.33964/jp.v18i3.246

Abstract

Komoditi gula pasir senantiasa dibutuhkan oleh masyarakat, baik dalam skala rumah tangga maupun industri. Saat ini harga gula pasir cukup tinggi hingga kurang lebih Rp 9500,00/kg sehingga komoditi ini senantiasa diusahakan oleh pabrik-pabrik gula yang ada di Indonesia dengan cara membudidayakan tebu secara efektif dan efisien. Suatu studi diperlukan guna mempelajari efektivitas dan efisiensi pengolahan tanah, serta usahatani budidaya tebu lahan kering sehingga dapat dihitung keuntungan maksimum. Hasil studi di areal kebun tebu lahan kering dengan jenis tanah Ultisol milik PT Gula Putih Mataram, Sugar Group Company, Lampung Tengah pada bulan September 2002 hingga Agustus 2003 menunjukkan bahwa tindakan pengolahan tanah efektif menyebabkan kondisi sifat fisik tanah (densitas tanah) mencapai optimum rata-rata sebesar 1.30 g/cc untuk pertumbuhan tebu maksimum sehingga diperoleh produktivitas tebu (TCH) dan produktivitas gula (TSH) maksimum sebesar 63.08 ton/ha dan 7.30 ton/ha. Tindakan pengolahan tanah efisien menghasilkan waktu dan biaya pengolahan tanah minimum sebesar 0.64 jam/ha dan Rp 57673,00/ha. Pengolahan tanah efektif menghasilkan keuntungan sementara maksimum sebesar Rp 34966034,00/ha. Metode "subsoiling-plowing-harrowing-furrowing" merupakan metode pengolahan tanah optimum pada budidaya tebu lahan kering dengan jenis tanah Ultisol.  
KERAGAAN DAN PRODUKTIVITAS BEBERAPA VARITAS UNGGUL BARU INPARA DI LAHAN RAWA PASANG SURUT TIPOLOGI LAHAN SULFAT MASAM DI PROVINSI JAMBI Villa, Jumakir
JURNAL PANGAN Vol 26, No 2 (2017): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.346 KB) | DOI: 10.33964/jp.v26i2.360

Abstract

Pengkajian ini bertujuan untuk melihat keragaan  dan  produktivitas padi varietas Inpara  di lahan rawa pasang surut tipologi lahan sulfat masam potensial. Pengkajian dilaksanakan di Kelurahan Senyerang Kecamatan Senyerang Kabupaten Tanjung Jabung Barat Provinsi Jambi pada bulan Juni - September  2016. Lokasi pengkajian termasuk lahan rawa pasang surut dengan tipologi lahan sulfat masam potensial dan tipe luapan air B/C, dengan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK)  dan tiga ulangan. Perlakuan terdiri dari varietas unggul baru padi lahan rawa pasang surut (Inpara 1, Inpara 2, Inpara 3, Inpara 4, Inpara 5, Inpara 6, Inpara 8, dan Inpara 9, sedangkan varietas Cisokan dan Junjung sebagai varietas pembanding). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan sidik ragam dan uji DMRT pada taraf 5 persen.  Hasil pengkajian menunjukkan bahwa persentase tumbuh tanaman padi di persemaian menunjukkan pertumbuhan yang baik dengan persentase tumbuh 80-90 persen. Keragaan pertumbuhan beberapa varietas Inpara cukup beragam, varietas Inpara 1, 2, 3, 6, 8 dan 9 keragaannya lebih baik dibanding varietas pembanding Cisokan dan Junjung sedangkan varietas Inpara 5 memperlihatkan pertumbuhan cukup baik namun rentan terhadap penyakit blas dan neck blas. Peningkatan produktivitas padi Inpara  sebesar 17,12 persen - 26,08 persen dibanding varietas Cisokan dan 4,73 persen - 9,94 persen dibanding varietas Junjung. Beberapa VUB Inpara yang memiliki potensi hasil tinggi yaitu Inpara 1(6,94 t/ha), Inpara 3 (6,69 t/ha), Inpara 6 (6,75 t/ha) dan Inpara 8 (6,56 t/ha) sedangkan varietas pembanding Cisokan (5,13 t/ha) dan Junjung (6,25 t/ha).
Model Penggilingan Padi Terpadu Untuk Meningkatkan Nilai Tambah Rachmat, Ridwan; suismono, suismono
JURNAL PANGAN Vol 20, No 3 (2011): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1880.227 KB) | DOI: 10.33964/jp.v20i3.176

Abstract

Penggilingan padi merupakan titik sentral dari agroindustri padi. Penggilingan padi yang berkembang saat ini tidak dirancang dengan pendekatan sistem agribisnis yang terpadu tetapi dengan teknologi penggilingan padi yang masih sederhana. Lebih dari itu, peralatan penggilingan sudah berumur tua (lebih dari 15 tahun) menyebabkan mutu dan rendemen beras yang diperoleh juga rendah. Untuk meningkatkan mutu dan rendemen beras diperlukan upaya perbaikan kinerja penggilingan padi dengan meningkatkan penggunaan kapasitas terpasang, mengurangi biaya, meningkatkan nilai tambah produk yang memberi dampak positif pada usaha jasa penggilingan padi dan petani padi serta memantapkan kelembagaannya. Untuk mencapai ini perlu strategi usaha penggilingan padi secara terpadu atau terintegrasi yaitu beras menjadi bentuk keuntungan dan pendapatan dari hasil samping serta limbah yang terolah minimal dapat menutup biaya operasional proses produksi. Penerapan sistem manajemen mutu pada penggilingan padi berguna untuk menjaga konsistensi produksi, kualitas dan efisiensi proses penggilingan beras. Untuk membangun sistem penggilingan padi terpadu diperlukan fasilitas yang memadai untuk memproduksi beras berkualitas dan mengolah hasil samping menjadi produk bernilai komersial. Kelengkapan fasilitas untuk penggilingan padi terpadu dapat dikelompokkan sesuai skala usaha untuk memproduksi beras premiun, hasil samping berupa tepung beras, produk bihun, pakan ternak, dan briket arang sekam.kata kunci : padi, model penggilingan padi terpadu, nilai tambahRice milling is the central point of the rice agro-industry. At present, rice milling has been operated by simple and old-age equipment, so that the yield is relatively low. To improve the yield and quality, concerted efforts are needed by improving the utilization of existing capacity, reducing costs, increasing value-added products that makes a positive impact on the benefit of the business and rice farmers, as well as strengthening the business institution. To achieve this necessary business strategy, an integrated rice milling should produce milled rice as the form of profits, while the revenue from the by product is capable of covering the costs of processing. Implementation of quality and management system in rice mills is needed to maintain production consistency especially in quality as well as cost and process efficiency. To establish an integrated rice milling system, it is necessary to improve facilities to produce high quality rice and process by product into valuable commercial products. Complete facilities for integrated rice milling may be grouped according to the scale of business to produce premium quality rice, rice flour, vermicelli, charcoal products, feed, charcoal briquettes.keywords : paddy, milled rice, integrated rice milling, value added

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 34 No. 2 (2025): PANGAN Vol. 34 No. 1 (2025): PANGAN Vol. 33 No. 3 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 2 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 1 (2024): PANGAN Vol. 32 No. 3 (2023): PANGAN Vol. 32 No. 1 (2023): PANGAN Vol. 31 No. 3 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 2 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 1 (2022): PANGAN Vol. 30 No. 3 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 2 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 1 (2021): PANGAN Vol. 29 No. 3 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 2 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 1 (2020): PANGAN Vol 29, No 1 (2020): PANGAN Vol. 28 No. 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 2 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 2 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 1 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol 27, No 3 (2018): Vol 27, No 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 2 (2018): PANGAN Vol 27, No 2 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 1 (2018): PANGAN Vol 27, No 1 (2018): PANGAN Vol 26, No 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 2 (2017): PANGAN Vol 26, No 2 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 1 (2017): PANGAN Vol 26, No 1 (2017): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 2 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 2 (2016): PANGAN Vol 25, No 1 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 1 (2016): PANGAN Vol 24, No 3 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 3 (2015): PANGAN Vol 24, No 2 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 2 (2015): PANGAN Vol 24, No 1 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 1 (2015): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 2 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 2 (2014): PANGAN Vol 23, No 1 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 1 (2014): PANGAN Vol. 22 No. 4 (2013): PANGAN Vol 22, No 4 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 3 (2013): PANGAN Vol 22, No 3 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 2 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 1 (2013): PANGAN Vol 22, No 1 (2013): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 3 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 3 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 2 (2012): PANGAN Vol 21, No 2 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 1 (2012): PANGAN Vol 21, No 1 (2012): PANGAN Vol 20, No 4 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 4 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 3 (2011): PANGAN Vol 20, No 3 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 2 (2011): PANGAN Vol 20, No 2 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 1 (2011): PANGAN Vol 20, No 1 (2011): PANGAN Vol. 19 No. 4 (2010): PANGAN Vol 19, No 4 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 3 (2010): PANGAN Vol 19, No 3 (2010): PANGAN Vol 19, No 2 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 2 (2010): PANGAN Vol 19, No 1 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 1 (2010): PANGAN Vol. 18 No. 4 (2009): PANGAN Vol 18, No 4 (2009): PANGAN Vol 18, No 3 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 3 (2009): PANGAN Vol 18, No 2 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 2 (2009): PANGAN Vol 18, No 1 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 1 (2009): PANGAN Vol 17, No 3 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 3 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 1 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 1 (2008): PANGAN Vol. 16 No. 1 (2007): PANGAN Vol 16, No 1 (2007): PANGAN Vol. 15 No. 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 1 (2006): PANGAN Vol. 15 No. 1 (2006): PANGAN More Issue