cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL PANGAN
ISSN : 08520607     EISSN : 25276239     DOI : -
Core Subject : Agriculture, Social,
PANGAN merupakan sebuah jurnal ilmiah yang dipublikasikan oleh Pusat Riset dan Perencanaan Strategis Perum BULOG, terbit secara berkala tiga kali dalam setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 807 Documents
Pendugaan Umur Simpan Produk Granula Ubi Kayu Menggunakan Model Isoterm Sorpsi Air (Shelflife Prediction of Cassava Granule using Moisture Sorption Isotherm Model) Sugiyono, Sugiyono; Satyagraha, Hoerip; Joelijani, Wiwiek; Syamsir, Elvira
JURNAL PANGAN Vol 21, No 3 (2012): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (972.791 KB) | DOI: 10.33964/jp.v21i3.167

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan umur simpan produk granula ubi kayu dengan menggunakan model isoterm sorpsi air dan pendekatan kadar air kritis. Kurva isoterm sorpsi produk granula ubi kayu berbentuk sigmoid. Uji ketepatan model persamaan kurva isoterm sorpsi menunjukkan bahwa model Henderson paling tepat menggambarkan kurva isoterm sorpsi granula ubi kayu. Granula ubi kayu memiliki kadar air awal 4,92 persen (bk) dan kadar air kritis 15,24 persen (bk). Hasil perhitungan menunjukkan bahwa granula ubi kayu yang dikemas dalam LDPE, MDPE dan PP pada RH 95 persen mempunyai umur simpan masing-masing 256 hari (8.5 bulan), 427 hari (14 bulan), dan 693 hari (23 bulan).The objective of this research was to predict the shelf life of cassava granule using moisturesorption isotherm model based on critical moisture approach. The sorption isotherm curve of the product showed to be sigmoidal. The Herderson model was found to be the best-fit for the product The product had an initial moisture content of 4.92 percents (db) dan a critical moisture content of 15.2 4percents (db). Based on calculations, the shelf life of cassava granules packaged in LDPE, MDPE, PP and stored at relative humidity of 95 percents, had shelf lives of 256 days (8.5 months), 427 days (14 months), and 693 days (23 months) respectively 
Kebijakan Pemupukan Berimbang untuk Meningkatkan Ketersediaan Pangan Nasional Balanced Fertilization Policy to Improve Availability of National Food Rosadi, A. Husni
JURNAL PANGAN Vol 24, No 1 (2015): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (736.428 KB) | DOI: 10.33964/jp.v24i1.36

Abstract

Pupuk anorganik, pupuk organik dan pupuk hayati telah digunakan secara luas oleh masyarakat. Penggunaan pupuk-pupuk tersebut umumnya dilakukan petani secara terpisah. Padahal, ketiga jenis pupuk tersebut dapat saling melengkapi satu dengan lainnya. BPPT telah mengembangkan pupuk, yang merupakan perpaduan antara pupuk anorganik, pupuk organik dan pupuk hayati menjadi satu kesatuan dalam bentuk granul. Pupuk tersebut dinamakan pupuk majemuk SRF plus. Pupuk majemuk SRF plus mampu menyediakan unsur hara yang diperlukan tanaman (sebagai fungsi pupuk anorganik) sekaligus memperbaiki struktur dan kesuburan tanah (sebagai fungsi pupuk organik dan pupuk hayati).Makalah ini memaparkan tentang produktivitas penggunaan pupuk SRF plus dan dukungan kebijakannya. Metode yang digunakan dalam makalah ini adalah analisis produktivitas dan analisis kebijakan, dengan menggunakan data hasil percobaan serta data hasil peninjauan lapangan. Hasil analisis menunjukkan bahwa penggunaan pupuk SRF plus mampu meningkatkan produktivitas pertanian lebih tinggi (di atas 50 persen) dibandingkan pupuk konvensional, dengan output (hasil panen) yang lebih tinggi dan input (jumlahpupuk, jumlah benih dan biaya pemupukan) yang lebih rendah. Pupuk ini memiliki potensi besar untuk mempercepat peningkatan ketersediaan pangan nasional. Untuk membuat pupuk SRF plus ini dapat diproduksi secara lebih luas, maka perlu dukungan kebijakan. Kebijakan yang diusulkan adalah kebijakan produksi dan kebijakan penyediaan bahan baku.Inorganic fertilizers, organic fertilizers and bio-fertilizers have been used extensively by thecommunity. The use of these fertilizers is generally done separately by farmers. In fact, these fertilizers can complement each other. BPPT has developed a fertilizer that is a blend of inorganic fertilizers, organic fertilizers and bio-fertilizers into a granule form. This fertilizer is called a balanced fertilizer or SRF compound plus fertilizer. SRF compound plus fertilizer is able to provide plants with the necessary nutrients (as a function of inorganic fertilizer) while improving soil structure and fertility (as a function of organic fertilizers and bio-fertilizers). This paper describes the productivity of SRF plus fertilizers on andthe policies support. The method is the productivity analysis and policy analysis, using experimental data and data from field observation. The results show that the use of SRF plus fertilizers is able to increase agricultural productivity (above 50 percent higher) compared to conventional fertilizers, with higher output (yield) and lower inputs (fertilizer amount, the amount of seed and fertilizer costs). This fertilizer has great potential to accelerate the improvement of the national food supply. To make SRF plus fertilizer be produced more broadly, it necessary needs support policies. The proposed policies are policy of production and policy of raw materials supply.
Respons Negara Berkembang dan Indonesia dalam Menghadapi Krisis Pangan Global 2007-2008 M. Husein Sawit, M. Husein Sawit
JURNAL PANGAN Vol 18, No 2 (2009): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1250.744 KB) | DOI: 10.33964/jp.v18i2.200

Abstract

Krisis pangan global berulang lagi pada periode 2007-2008. NB(negara berkembang) dan Indonesia meresponsnya melalui sejumlah kiat, sehingga krisis tersebut tidak berdampak buruk terhadap instabilitas harga pangan DN (dalam negeri). Intinya adalah NB tidak lagi mematuhi cara-cara lama, tidak mengikuti resep structural adjustment programs (SAP). Sebagian NB melakukan secara parsial, misalnya hanya instrumen perdagangan. Sebagian NB berhasil dan ada pula yang gagal. Pada umumnya NB yang berhasil adalah mengkombinasikan berbagai kebijakan, komprehensif (mulai dari kebijakan perdagangan, perlindungan konsumen, dan mendorong produksi pangan DN), kecukupan cadangan devisa untuk membiayai impor pangan, serta tersedianya stok pangan publik yang cukup untuk meredam spekulasi dan instabilitas harga pangan. Keberhasilan Indonesia dalam meredam kenaikan harga beras DN, banyak ditentukan oleh kecukupan stok publik, dan peningkatan produksi DN, disamping peningkatan bantuan ke konsumen. Peran stok publik amat penting dalam mencegah spekulasi.Kemitraan dalam OP (operasi pasar) antara Bulog-swasta lebih berhasil, karena Bulog punya "kekuatan", membuat swasta lebih patuh. Berbeda dengan beras, tingkat keberhasilan stabilisasi Migor relatif rendah. Pola kemitraan Pemerintah-swasta tidak berjalan seperti yang diinginkan, karena posisi pemerintah "lemah", terbatas pada himbauan tanpa kontrol dan sanksi tegas. Kebijakan stabilisasi Migor juga parsial, instrumen, seperti pengurangan/Ppn DTP (pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah), DMO (domestic market obligation), dan OP tidak banyak berpengaruh terhadap penurunan/instabilitas harga Migor DN.
KINERJA INDUSTRI PENGGILINGAN PADI DI INDONESIA : SUATU TANTANGAN KE DEPAN Najib Amsari, Ali Ahmad
JURNAL PANGAN Vol 15, No 2 (2006): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (795.504 KB) | DOI: 10.33964/jp.v15i2.294

Abstract

Industri penggilingan padi di Indonesia masih menggunakan teknologi yang sederhana. Sebagai akibatnya, beras yang dihasilkan memiliki kualitas dan rendemen yang rendah. Kapasitas giling di Indonesia juga jauh lebih besar daripada produksi gabah nasional. Dengan demikian persaingan diantara penggilingan - penggilingan sangat ketat. Banyak diantara penggilingan padi tidak bekerjasecara maksimal bahkan rata - rata hanya bekerja sekitar sepertiga dari kapasitas maksimalnya. Dengan diserahkannya perdagangan beras ke pasar bebas, tidakhanya memberikan dampak negatif kepada harga jual gabah petani namun juga industri penggilingan padi karena kinerja beberapa penggilingan padi menjadi semakin menurun. Penjualan beras hasilgiling menurunkarena persaingandengan beras impor yang masuk ke pasar domestik. Elastisitas modal terhadap output pada industri penggilingan padi bersifat inelastis sehingga dampaknya adalah setiap penambahan stok modalnya, maka kenaikan output tidak sebesar penambahan stok modalnya. Halini disebabkan masih belum maksimainya utilitas kapasitas mesin karena tingginya persaingan untuk memperoleh gabah. Elastisitas tenaga kerja terhadap output pada industri penggilingan padi bersifat inelastis sehingga dampaknya adalah setiap penambahan tenaga kerja, maka tidak menaikan output. Penggunaan jumlah tenaga kerja yang tidak efisien disebabkan perusahaan penggilingan padi menggunakan tenaga kerja yangkurang trampil serta tingkat pendidikan yang rendah. Kemajuan teknologi yang baikterjadi di PulauJawa dan sebagian Sumatera (Sumut dan Lampung). Sedangkan diSumsel, Bali, NTB, Sulsel, Sulut pertumbuhan Total Faktor Produktifitas masih memberikan kontribusi yang rendah pada kenaikan output karena permasalahan modal dan penggunaan teknologi tradisional. Pengaruh liberalisasi perdaganganberas telah menurunkan output dari penggilingan padi di propinsi Sumut, Jateng dan Bali. Hal ini disebabkan produk hasil gilingnya kalah bersaingdengan beras impor yang harganya lebih murah. Sedangkan diJabar, Lampung, Sulut mengalami peningkatan output, karena mengolah kembali beras impor (disosoh dan dicampur dengan beras lokal) untuk dijual ke pasar.
Revitalisasi KUD Untuk Penguatan Lembaga Sosial Ekonomi di Pedesaan Masyhuri, Masyhuri
JURNAL PANGAN Vol 19, No 2 (2010): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (568 KB) | DOI: 10.33964/jp.v19i2.130

Abstract

Sesuai dengan UUD 1945, badan usaha yang diharapkan berperan penting dalam perekonomian adalah koperasi. KUD (Koperasi Unit Desa) adalah koperasi yang berkembang, dominan, dan tersebar luas di pedesaan Indonesia dalam Orde Baru. Sejak Orde Reformasi, koperasi diliberalisasikan sehingga banyak koperasi dimunculkan. Akhirnya KUD yang semula dirancang untuk menjadi satu-satunya koperasi di pedesaantak berkembang. Demikian juga koperasi-koperasi lain yang ada tidak terarah sehingga di pedesaan tidak ada lagi koperasi yang kuat. Dengan tiadanya koperasi yang kuat berarti kelembagaan petani menjadi lemah, kesejahteraan petani tidak lagi dapat ditingkatkan. Bagaimana caranya agar di pedesaan tumbuh koperasi yang kuat memerlukan jawaban segera. Sebenarnya KUD walaupun ada kelemahannya tapi mempunyai potensi yang besar. Karena itu mengembangkan kelembagaan sosial di pedesaan adalah merevitalisasi KUD. Revitalisasi tersebut pada dasarnya mencakup 5 hal, yaitu : (i) kebijakan pembangunan masyarakat yang pro KUD, (ii) reformasi organisasi dan usaha KUD, (iii) penguatan SDM KUD, (iv) pengembangan kerjasama KUD, (v) pengembalian citra KUD.According to the UUD 1945, business organization should be developed in the economy is cooperative. KUD (Koperasi Unit Desa=Village Cooperative) is the only developed cooperative, dominant, and widespread all over the country in Indonesia during the New Order. Since the reformed order, cooperative has been liberalized so many cooperative exist. Finally KUD which was originally developed into the only strong cooperative in the rural area, became underdeveloped. Besides, other cooperatives did not developed as well. Without existing strong cooperative, the farmer institution become weak, their welfare is not increased. How to developed a strong institution in the rural area, need suitable solution. Actually although KUD has some weaknesses, it has many advantages and potential. Therefore KUD revitalization is a must to develop rural institution in the country. The revitalization is compose of 5 items : (i) Community Development Policy that is pro to KUD, (ii) organization business KUD reform, (iii) strengthened human resource at KUD, (iv) develope cooperation, (v) building image of KUD.
PERUM BULOG DALAM INPRES PERBERASAN NO. 3/2007: EVALUASI KEBIJAKAN DAN IMPLEMENTASINYA Sawit, M. Husein
JURNAL PANGAN Vol 17, No 1 (2008): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1767.857 KB) | DOI: 10.33964/jp.v17i1.225

Abstract

Pemerintah telah menerbitkan lagi Inpres tentang Kebijakan Perberasan 3/2007 pada akhir Maret 2007. Tujuan inpres ini tidak banyak berubah dibandingkan dengan Inpres yang serupa tahun-tahun sebelumnya, kecuali tentang stabilisasi harga beras. Khusus tentang stabilisasi harga beras, pemerintah telah menempuh berbagai belit baru, yaitu monopoli impor beras diserahkan kembali ke Perum BULOG, dimana Operasi Stabilisasi Harga Beras (OSHB) dipakai sebagai salah satu instrumen untuk stabilisasi harga, disamping Operasi Pasar (OP) sesuai dengan ketentuan Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Tujuan tulisan ini adalah untuk Perum BULOG mengevaluasi dan menganalisa kebijakan perberasan mulai dari diktum vi sampai dengan diktum xi, yang terkait dengan tugas-tugas Perum BULOG Itu mencakup kebijakan stabilisasi harga konsumen dan produsen Harga Pembelian Pemerintah (HPP), kebijakan beberapa ketentuan impor beras, pengadaan beras Dalam Negeri (DN), stok dan CBP, dan beras untuk rakyat miskin (Raskin). Hasil utama dari evaluasi ini terlihat bahwa volume pengadaan DN meningkat dan HPP naik, namun kualitas beras pengadaan DN merosot dari standarkualitas Perum BULOG tahun-tahun sebelumnya. Perum BULOG akan kelebihan stok sekitar 0,6 juta ton, dan hal ini akan berpengaruh negatif terhadap efisiensi dan kualitasnya. Dianjurkan agar komponen kualitas beras ditetapkan sesuai dengan SNI (IV atau III). Kenaikan HPP sebaiknya terkait dengan perbaikan kualitas beras/gabah. HPP yang ditetapkan telah terlalu tinggi, hampir 50% lebih tinggi dari harga beras di pasar dunia. Disarankan agar HPP tidak dinaikkan pada 2008, kecuali ada justifikasi khusus. Stok cadangan CBP sebaiknya ditingkatkan minimal menjadi 750 ribu ton pada 2009. OSHB sebagai instrumen stabilisasi harga disarankan agar dipakai sebagai instrumen jangka menengah, bukan bersifat ad hoc. Dengan cara itu, diharapkan bahwa lembaga pelaksana dapat membangun jaringan kerja dan infrastruktur untuk mendukungnya. Pengadaan DN sebaiknya dibuka secara luas, diumumkan persyaratannya di koran lokal atau website.Kata kunci: stabilisasi harga beras, stok cadangan beras pemerintah, kualitas stok, pengadaan dalam negeri, impor beras,Perum BULOG.
Pendugaan Umur Simpan Cookies Jagung Menggunakan Pendekatan Kadar Air Kritis Sugiyono, Sugiyono IPB
JURNAL PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v25i3.331

Abstract

The critical moisture of corn cookies was 0,0674 gH2O/g solid. The sorption isotherm of corn cookies was evaluated using six equation models i.e. Hasley, Chen-Clayton, Henderson, Caurie, Oswin and Guggenheim-Anderson-de Boer (GAB). The best equation model to describe corn cookies sorption isotherm phenomenon was GAB. Calculation results showed that the shelf life of corn cookies packed in metalized polyethylene and stored at 85 percent relative humidity was 298 days.
Diet Berbasis Sorgum (Sorghum bicolor L Moench) Memperbaiki Proliferasi Limfosit Limfa dan Kapasitas Antioksidan Hati Tikus Zakaria, Fransiska R.; Prangdimurti, Endang; Puspawati, G. A. Kadek Diah; Thahir, Ridwan; Suismono, Suismono
JURNAL PANGAN Vol 20, No 3 (2011): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1933.278 KB) | DOI: 10.33964/jp.v20i3.155

Abstract

Sorgum merupakan tanaman serealia yang sangat berguna sebagai sumber karbohidrat alternatif dalam program diversifikasi pangan. Sorgum memiliki kandungan protein yang lebih tinggi dibandingkan beras dan berprospek baik untuk dikembangkan di Indonesia. Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa sorgum sangat baik untuk kesehatan, antara lain untuk mengurangi resiko penyakit degeneratif. Penelitian secara in vitro sebelumnya, menunjukkan bahwa serealia ini mampu meningkatkan proliferasi limfosit manusia, yang menunjukkan perbaikan sistem imun. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari efek sorgum terhadap sistem imun dan kapasitas antioksidan secara in vivo pada tikus. Tiga kelompok tikus diberi pakan kontrol, pakan mengandung 50 persen atau 100 persen sorgum sebagai sumber karbohidrat selama 7 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok tikus yang diberi pakan mengandung 50 persen atau 100 persen sorgum mengalami peningkatan aktivitas proliferasi mencapai berturut-turut 70 persen dan 63 persen, aktivitas antioksidan hati (DPPH) mencapai 38 persen dan 29 persen, aktivitas enzim superoksida dismutase (SOD) mencapai 98 persen dan 91 persen, aktivitas enzim katalase (CAT) mencapai 28 persen dan 21 persen, dan aktivitas glutation peroksida (GPx) mencapai 57 persen dan 33 persen, akan tetapi mengalami penurunan kandungan malondialdehid (MDA) hingga 22 persen dan 16 persen. Penelitian ini menunjukkan bahwa sorgum mempunyai aktifitas imunostimulani dan aktivitas perbaikan antioksidan sehingga baik bagi kesehatan.Sorghum is a cereal that would be useful as alternative carbohydrate source in food diversification program. It has higher protein content than rice and good prospect to be developed in Indonesia. Researches have shown that sorghum has functions in health, such as to decrease degenerative disease risk. Previous in vitro study of sorghum showed that this cereal could increase human lymphocyte cell proliferation in vitro, indicating immune system improvement. The objectives of this research were to study the effects of sorghum on the in vivo immune system and liver antioxidant capacity in rats. Three groups of rats were fed control diet, diet containing 50 percent or 100 percent sorghum as sources of carbohydrate. The results showed that the rats fed with 50 percent or 100 percent sorghum displayed increase in, respectively, proliferation activity by 70 percent and 63 percent; liver antioxidant activity (DPPH) by 38 percent and 29 percent, super dioxide dismutase enzyme activity (SOD) by 98 percent and 91, catalyst enzyme activity (CAT) by 28 percent and 21 percent, and glutathione peroxides enzyme activity (GPx) by 57 percent and 33 percent; but decreased in malondialdehyde (MDA) by 22 percent and 16 percent. This research showed that sorghum has immunostimulation and antioxidant improvement activities and will be very good as source of carbohydrate diet. 
Kombinasi Kemasan Vakum dan Penyimpanan Dingin untuk Memperpanjang Umur Simpan Tempe Bacem (Combination of Vacuum Packaging and Cold Storage to Prolong the Shelf Life of Tempe Bacem) Astawan, Made
JURNAL PANGAN Vol 24, No 2 (2015): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (594.828 KB) | DOI: 10.33964/jp.v24i2.27

Abstract

Tempe bacem merupakan produk olahan tempe dengan kombinasi citarasa rempah dan manis. Tempe bacem digemari oleh sebagian masyarakat. Namun umur simpan tempe bacem sangat singkat, yaitu satu hari pada suhu ruang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan tehnik memperpanjang umur simpan tempe bacem melalui kombinasi kemasan vakum dan penyimpanan pada suhu dingin (10oC). Tempe yang digunakan pada penelitian ini berbentuk bulat dengan diameter 5 cm dan ketebalan 1 cm. Tempe bacem diproduksi dengan menggunakan formula bumbu terpilih, dikemas secara vakum, dandisimpan pada suhu dingin (10oC). Komposisi gizi tempe bacem per 100 g berat kering terdiri dari : protein 33,7 g, lemak 0,9 g, abu 3,0 g, dan karbohidrat 62,4 g. Produk ini memiliki kapasitas antioksidan sebesar 194,6 mg AEAC/100 g, nilai pH 5,7, kecerahan 35.9, kekerasan 2848.5 gram force, total mikroba 1,8 x 103 CFU/g, dan total koliform <3.0 MPN/g. Umur simpan tempe bacem dengan kombinasi kemasan vakum dan penyimpanan dingin (10oC) adalah 18 hari, sedangkan tempe bacem tanpa kemasan vakum yang disimpan pada suhu ruang (26 - 300C) memiliki umur simpan hanya dua hari.Tempe bacem is a kind of tempe product that has spicy and sweet taste. The shelf life of this product is very short, i.e. one day at room temperature. The objective of this research is to increase tempe bacem’s shelf life by the combination of vacuum packaging and cold storage (10oC). Tempe used in this research is in round form with the diameter of 5 cm and the thickness of 1 cm. Tempe bacem is processed by selected formula, packaged by vacuum method, and then stored in cold storage (10oC). The nutritional composition of tempe bacem per 100 g of dry weight consists of 33.7 g protein, 0.9 g fat, 3.0 g ash, and 62.4 g carbohydrate. This product has antioxidant capacity of 194.6 mgAEAC/100 g, pH value of 5.7, lightness of 35.9, hardness of 2848.5 gram force, total microorganism of 1.8x103 CFU/g, and total coliform of <3.0 MPN/g. The shelf life of tempe bacem stored with the combination of vacuum packaging and cold storage (10oC) is 18 days, while that of tempe bacem stored at room temperature (26-300C) without the vacuum packaging is only 2 days.
Pengaruh Aktifitas Proteolitik Aspergillus sp-K3 dalam Perolehan Asam-Asam Amino sebagai Fraksi Gurih Melalui Fermentasi Garam pada Kacang Hijau (Phaseolus radiatus L.) Susilowati, Agustine
JURNAL PANGAN Vol 19, No 1 (2010): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.872 KB) | DOI: 10.33964/jp.v19i1.121

Abstract

Fermentasi garam pada kacang hijau (Phaseolus radiatus L) menggunakan kapang campuran Aspergillus sp-K3 selama 0, 2, 4, 6, 8, 10 dan 12 minggu pada suhu kamar menghasilkan kacang terfermentasi yang berpotensi sebagai kaldu nabati yaitu produk fermentasi semi padat untuk seasoning agent. Asam-asam amino yang diperoleh dalam fermentasi ini merupakan precursor flavor savory non volatil dan sumber umami yang tidak terlepas dan aktifltas proteolitik Aspergillus sp-K3. Penelitian ini bertujuan untuk menggali potensi Aspergillus sp-K3 sebagai inokulum kaldu nabati melalui fermentasi garam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Aspergillus sp-K3 dengan inkubasi 72 jam menghasilkan aktifitas proteolitik sebesar 0.588 U/g berpotensi sebagai inokulum kaldu nabati. Aktifitas proteolitiknya pada fermentasi garam meningkatkan kadar protein terlarut dan N-amino namun menurunkan kadar air, total protein, VRS dan lemak sejalan dengan bertambahnya waktu fermentasi. Berdasarkan kesesuaian organoleptik, 10 minggu adalah waktu fermentasi terbaik untuk perolehan kaldu kasar dengan kandungan protein total 10,9621 persen, protein terlarut 8,5 mg/g, N-amino 5,6 mg/g, lemak 0,355 persen dan air 40,0854 persen, VRS 70 meq/g. red, gula pereduksi 843,75 mg/mL. Jenis asam amino non esensial dominan yang diperoleh adalah asam glutamat (0,973 persen protein kering) dan asam aspartat (0,527 persen protein kering) sedangkan asam-asam amino esensial adalah Leusin (0,615 persen protein kering) dan Lisin (0,542 persen protein kering). Asam-asam amino lain diperoleh dengan konsentrasi antara 0,193- 0,415 persen (protein kering). Secara visual, hasil fermentasi berupa padatan semi solid, berwarna coklat, sedikit berlemak, berasa gurih dan sedikit asin, dengan aroma umami/savory yang cukup kuat.

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 34 No. 2 (2025): PANGAN Vol. 34 No. 1 (2025): PANGAN Vol. 33 No. 3 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 2 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 1 (2024): PANGAN Vol. 32 No. 3 (2023): PANGAN Vol. 32 No. 1 (2023): PANGAN Vol. 31 No. 3 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 2 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 1 (2022): PANGAN Vol. 30 No. 3 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 2 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 1 (2021): PANGAN Vol. 29 No. 3 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 2 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 1 (2020): PANGAN Vol 29, No 1 (2020): PANGAN Vol. 28 No. 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 2 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 2 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 1 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol 27, No 3 (2018): Vol 27, No 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 2 (2018): PANGAN Vol 27, No 2 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 1 (2018): PANGAN Vol 27, No 1 (2018): PANGAN Vol 26, No 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 2 (2017): PANGAN Vol 26, No 2 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 1 (2017): PANGAN Vol 26, No 1 (2017): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 2 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 2 (2016): PANGAN Vol 25, No 1 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 1 (2016): PANGAN Vol 24, No 3 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 3 (2015): PANGAN Vol 24, No 2 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 2 (2015): PANGAN Vol 24, No 1 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 1 (2015): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 2 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 2 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 1 (2014): PANGAN Vol 23, No 1 (2014): PANGAN Vol. 22 No. 4 (2013): PANGAN Vol 22, No 4 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 3 (2013): PANGAN Vol 22, No 3 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 1 (2013): PANGAN Vol 22, No 1 (2013): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 4 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 3 (2012): PANGAN Vol 21, No 3 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 2 (2012): PANGAN Vol 21, No 2 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 1 (2012): PANGAN Vol 21, No 1 (2012): PANGAN Vol. 20 No. 4 (2011): PANGAN Vol 20, No 4 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 3 (2011): PANGAN Vol 20, No 3 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 2 (2011): PANGAN Vol 20, No 2 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 1 (2011): PANGAN Vol 20, No 1 (2011): PANGAN Vol. 19 No. 4 (2010): PANGAN Vol 19, No 4 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 3 (2010): PANGAN Vol 19, No 3 (2010): PANGAN Vol 19, No 2 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 2 (2010): PANGAN Vol 19, No 1 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 1 (2010): PANGAN Vol. 18 No. 4 (2009): PANGAN Vol 18, No 4 (2009): PANGAN Vol 18, No 3 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 3 (2009): PANGAN Vol 18, No 2 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 2 (2009): PANGAN Vol 18, No 1 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 1 (2009): PANGAN Vol 17, No 3 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 3 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 1 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 1 (2008): PANGAN Vol. 16 No. 1 (2007): PANGAN Vol 16, No 1 (2007): PANGAN Vol. 15 No. 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 1 (2006): PANGAN Vol. 15 No. 1 (2006): PANGAN More Issue