cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL PANGAN
ISSN : 08520607     EISSN : 25276239     DOI : -
Core Subject : Agriculture, Social,
PANGAN merupakan sebuah jurnal ilmiah yang dipublikasikan oleh Pusat Riset dan Perencanaan Strategis Perum BULOG, terbit secara berkala tiga kali dalam setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 807 Documents
Formulasi Definisi Agroindustri dengan Pendekatan Backward Tracking Sukardi, Sukardi
JURNAL PANGAN Vol 20, No 3 (2011): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1538.461 KB) | DOI: 10.33964/jp.v20i3.168

Abstract

Istilah agroindustri telah dikenal selama kurang lebih 30 tahun belakangan ini. Sejak diperkenalkan sampai sekarang istilah ini telah diterima dengan baik di masyarakat terbukti dengan adanya unit-unit kerja bidang agroindustri di sejumlah institusi baik pemerintah maupun swasta. Penerimaan istilah agroindustri yang luas ini menunjukkan peran dan fungsinya yang sangat penting dalam perkembangan pertanian dan ekonomi. Tetapi, pembahasan yang komprehensif tentang definisi dan pengertian agroindustri yang tepat sangat terbatas. Hal ini mungkin disebabkan oleh anggapan bahwa pembahasan definisi agroindustri telah selesai karena mudahnya istilah itu dipahami masyarakat sebagai industri yang mengolah bahan baku hasil pertanian. Artikel ini mengupas tuntas tentang lemahnya definisi agroindustri yang selama ini banyak dianut terutama di beberapa kalangan akademisi. Penelaahan definisi agroindustri dalam artikel ini difokuskan pada kritik terhadap definisi agroindustri yang dipublikasikan oleh The Economic Development Institute of the World Bank pada tahun 1992. Hasil kajian ini menemukan bahwa definisi agroindustri dalam publikasi tersebut bisa bias dalam mengklasifikasikan suatu industri kedalam kelompok agroindustri atau tidak. Dengan menggunakan pendekatan backward tracking, pembahasan dalam artikel ini telah berhasil merumuskan dan menghasilkan definisi yang tepat dari agroindustri. Ketepatan definisi agroindustri diuji terhadap produk-produk agroindustri dengan definisi dari Bank Dunia tersebut sebagai pambanding.The term of agroindustry has been known at least in the last 30 years. It is a well accepted term in the society as indicated by the establishment of a board of control in organizations both in the government and private institutions. The proliferation of this term is believed due to its important role and function to the agricultural and economic development. Nevertheless, a comprehensive discussion of the accuracy of definition of the agroindustry is very limited. It is presumable that the term has been clear, self explained, and understandable explained by the terms agro and industry which mean the industry that processes the agricultural raw materials. This article argues that in spite of the above supposition, the agroindustry definition contains a fundamental error that leads to a bias in classifying of certain industry as to whether or not it is of agroindustrial group. The article criticizes a well establishes agroindustry definition published by The Economic Development Institute of the World Bank. By using the termed method or approach called backward tracking, the article successfully results a more appropriate and precise definition of the agroindustry term. This article also presents the proof of some flaws in the old definition that some products which are incorrect to be classified by old definition to be determined otherwise by the new formulated and established definition of agroindustry. 
Model Distribusi Hasil Pertanian Yang Berdampak Pada Perbaikan Kualitas Lingkungan Darmawati, Emmy
JURNAL PANGAN Vol 20, No 2 (2011): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1932.113 KB) | DOI: 10.33964/jp.v20i2.37

Abstract

Sampah pasar tidak saja berasal dari mata rantai distribusi tetapi juga dari jumlah pasokan yang berlebih. Perbaikan pada sistem distribusi hasil pertanian khususnya hortikultura menjadi satu solusi yang efektif dan efisien terhadap penanggulangan sampah kota. Penelitian dilakukan dengan tujuan mengkaji sistem distribusi komoditas hortikultura dan membuat model sistem distribusi yang mampu mengurangi pasokan sampah ke pusat-pusat distribusi yang umumnya berlokasi di kota. Hasil pengamatan di lapang menunjukkan bahwa sistem distribusi komoditas hortikultura pada umumnya masih menghasilkan sampah cukup besar. Tujuh puluh delapan persen komoditas sayuran di Jabotabek didistribusikan dengan cara tersebut dan sampah yang dihasilkan mencapai 60 persen dari volume pasokan. Berdasarkan tingkat kegiatan pascapanen yang dilakukan, sistem distribusi dimodelkan dalam bentuk perwilayahan (zona) dimana dalam setiap zona diberlakukan aturan kegiatan pasca panen. Ada dua zona yang dibuat yaitu zona podusen dan zona konsumen (pasar kota, pasar induk, dan terminal agribisnis). Dengan model tersebut diharapkan sampah pasar berkurang sampai 40 persen untuk sayuran daun dan 20 persen untuk sayuran umbi. Untuk mendukung penerapan model distribusi yang diusulkan, pada penelitian ini dibangun prototipe sistem berbasis web yang secara real time menginformasikan permintaan dan penawaran atas suatu komoditas sehingga diharapkan dapat memperkecil peluang dalam menghasilkan sampah pasar.Market waste comes not only from the distribution chain but also from the amount of excess supply. Therefore improvements in the distribution system of horticultural product may be one solution that can effectively reduce city waste. This research is conducted to study the supply-chain system of horticultural commodities that is capable of reducing the supply of waste to the distribution centers which are generally located in the city. The results of observation show that horticultural commodity distribution system still generates considerable amount of waste in the market. 78 percent of vegetable in Jabotabek are distributed in such manner in which the waste reaches 60 percent of the volume. Based on the level of post-harvest activities, the distribution system is modeled in the form of zoning system where in every zone the rules of post-harvest activities are applied. There are two zones, namely the zone of producers (farmers, collectors) and the zone of consumers (market town, the main markets, and agribusiness terminal). With this model it is expected that waste market will decrease up to 40 percent for leafy vegetables and 20 percent for tuber vegetables. By utilizing the information system it is expected that the supply matches with the demand, so that it will reduce the chance of producing waste. 
Pengaruh Penambahan Tepung Komposit Pada Pembuatan Mie Instan Jagung Terhadap Nilai Gizi (The Effect of Composite Flour Addition on the Nutritional Value in the Making of Instant Corn Noodles) Ekafitri, Riyanti; Indrianti, Novita; Kumalasari, Rima; Darmajana, Doddy A
JURNAL PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v21i4.201

Abstract

Mie instan jagung pada penelitian ini adalah mie berbahan baku utama tepung jagung dengan penambahan tepung komposit dan bahan tambahan pangan lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan jenis dan konsentrasi tepung komposit yang digunakan terhadap nilai gizi mie jagung yang dihasilkan. Untuk pembuatan mie instan jagung digunakan teknoiogi seperti pembuatan mie terigu dengan modifikasi proses. Perlakuan yang digunakan adalah penggunaan tiga jenis tepung komposit dan dua tingkat konsentrasi penambahan. Tepung subsitusi yang digunakan yaitu tepung ganyong (G), tapioka (T), dan mocaf (M) dengan konsentrasi 5 persen dan 10 persen. Produk yang dihasilkan dari perlakuan tersebut memiliki kandungan makronutrien protein yang berkisar antara 10,11-11,96 persen, lemak yang berkisar antara 16,86-20,60 persen, dan karbohidrat yang berkisar antara 62,81-67,35 persen. Keenam perlakuan mengkasilkan total kalori yang berkisar antara 278,75- 289,55 Kkal. Persen angka kecukupan gizi (persentase AKG) protein per takaran saji 60 gram berkisar antara 8,08-9,57 persen, persentase AKG lemak berkisar antara 26,01-31,78 persen, dan persentase AKG karbohidrat berkisar antara 11,17-11,97 persen.Instant corn noodle in this study was made from corn flour with the addition ofcomposite flour and other food additives. This study aimed to determine the effect ofadding the type and concentration of the composite flour on the nutritional value ofthe noodles. The processing technology adopted was similar to that of manufacturing wheat flour noodles with theprocess modification. The treatments were the use ofthree types ofcomposite flours with two levels ofconcentration. Wheat flour substitution used were the canna starch flour (G), tapioca (T), and mocaf (M) with a concentration of5percent (1) and 10 percent (2). The products had macronutrient content ofprotein ranged from 10.11-11.96 percent, fat ranged from 16.86-20.60 percent and carbohydrates ranged from 62.81-67.35 percent. The sixtreatments resulted in total calories ranged 278.75-289.55 kcal. Percentage ofRecommended Daily Allowance (percentage RDA) ofprotein per 60 gram serving size ranged from 8.08 to 9.57 percent percentage RDA offat ranged from 26.01-31.78 percent and percentage RDA of carbohydrates ranged between 11.17-11.97 percent 
FORMULASI STRATEGI PENGADAAN GABAH/BERAS DALAM NEGERI (STUDI KASUS PERUM BULOG) Maqdisa, Maqdisa
JURNAL PANGAN Vol 15, No 2 (2006): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (895.704 KB) | DOI: 10.33964/jp.v15i2.295

Abstract

Pengadaan gabah/beras merupakan kegiatan awal yang harus dibenahi agarmemenuhi standar kualitas yang telah ditetapkan. Hal ini mewajibkan Perum Bulog untuk lebih mengetahui strategi pengadaan gabah/beras agar dapat mengupayakan pelayanan dalam menghasilkan beras yang berkualitas baik. Tulisan ini bertujuan untuk mengevaluasi kesesuaian visi dan misi Perum Bulog, mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor lingkungan eksternal dan internal yang mempengaruhi pengadaan gabah/beras dalam negeri, memformulasikan alternatif strategi pengadaan gabah/beras untuk meningkatkan pelayanan terhadap kualitas gabah/beras sesuai dengan kondisilingkungan perusahaan, dan menentukan prioritas strategi terpilih yang sesuai untuk diterapkan dalam kegiatan pengadaan gabah/beras. Dalam tulisan ini digunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Jenis data yang dibutuhkan dalam kegiatan ini adalah data kuantitatif dan kualitatif yang bersifat sekunder. Teknik pengambilan contoh dengan responden manajemen Bulog, dilakukan secara purposive sampling (sengaja). Kemudian dilakukan analisis eksternal dan internal, matrik EFE (Ex ternalFactor Evaluation), Matrik IE (Internal-Eksternal) untuk memetakan posisi kegiatan pengadaan dan matrik The Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM).Hasil analisis menunjukkan bahwa dalam meningkatkan kualitas kegiatan pengadaan gabah/beras lemah secara internal. Sementara itu, analisis EFE menunjukkan bahwa kualitas pengadaan gabah/beras mampu diatas rata-rata memanfaatkan peiuang yang ada dan meminimalkan pengaruh negatif potensial dari ancaman eksternal. Dari posisi internal dan eksternal menunjukkan posisi pengadaan gabah/beras merupakan paling baik dikelola dengan strategi tumbuh (grow) dan membangun (build). Berdasarkan matriks perencanaan strategi kuantitatif (QSPM) diperoleh hasil bahwa strategi yang direkomendasikan untuk mendapatkan prioritas implementasi adalah strategi integrasi ke depan.
Teknologi Proses Pembentukan Butiran Beras Artifisial Instan dengan Metode Esktrusi (Technological Process of the Formation of Instant Artificial Rice Grain with Extrusion Method) Herawati, Heny; Kusnandar, Feri; Adawiyah, Dede R.; Budijanto, Slamet
JURNAL PANGAN Vol 22, No 4 (2013): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.179 KB) | DOI: 10.33964/jp.v22i4.133

Abstract

Berbagai program diversifikasi pangan telah diterapkan, namun demikian belum mampu merubah pola ketergantungan masyarakat akan produk berbentuk beras. Salah satu peluang untuk mengatasi hal tersebut melalui pengembangan beras artifisial. Pembentukan butiran beras artifisial instan memiliki tingkat kesulitan tersendiri karena diharapkan dapat membentuk butiran beras yang kokoh, tekstur yang lembut serta waktu tanak yang lebih singkat daripada beras yang bersumber dari tanaman padi. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari parameter penting yang mempengaruhi pembentukan butiran granula beras artifisial instan untuk diversifikasi pangan pokok bersumber karbohidrat non beras melalui pengembangan produk beras artifisial. Analisa pembentukan butiran beras artifisial instan dilakukan dengan mengamati bentuk fisiknya serta dijabarkan secara diskriptif. Kadar air 60 persen, putaran screw 168 rpm, temperatur 95°C, konsentrasi GMS 2 persen dan waktu steaming 5 menit menghasilkan karakteristik butiran beras artifisial instan optimal. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap penggunaan optimasi parameter proses optimal yang dapat digunakan untuk teknologi pembentukan butiran granula beras artifisial yang bersumber dari bahan baku karbohidrat non padi.Several food diversification programs have been implemented, but they have not been able to change the pattern of people’s dependence on rice products. One of the opportunities to overcome this problem is through the development of artificial rice. Formation of instant artificial rice grain has its own difficulty as it is expected to form strong rice grain with soft texture and shorter cooking time compared to rice derived from paddy. This research aims to study the important parameters affecting the formation of instant artificial rice granule for diversification of staple foods derived from non-rice carbohydrate through artificial rice product development. The analysis was done by observing and describing its physical form. The best parameter was 60 percent moisture content of raw material, 168 rpm screw speed extruder, 95°C extruder temperature, 2 percent GMS concentration and 5 minutes steaming time. The result of this research is expected to contribute to the optimization of parameter process that can be used in the technology of artificial rice granule from non-paddy carbohydrate. 
Ubijalar Sebagai Bahan Diversifikasi Pangan Lokal Sweet Potatoes as Ingredients of Local Food Diversification Ginting, Erliana; Yulifianti, Rahmi; M. Jusuf, M. Jusuf
JURNAL PANGAN Vol 23, No 2 (2014): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (515.647 KB) | DOI: 10.33964/jp.v23i2.63

Abstract

Ditinjau dari nilai gizi dan ketersediaan bahan baku, ubijalar potensial sebagai bahan diversifikasi pangan lokal. Keberadaan beta karoten sebagai provitamin A, antosianin dan fenol sebagai antioksidan, serat pangan, dan indeks glikemiknya yang relatif rendah juga merupakan nilai tambah ubijalar sebagaipangan fungsional. Namun pemanfaatannya masih terbatas pada makanan tradisional sehingga citranya seringkali dianggap rendah (inferior). Untuk mendukung percepatan diversifikasi konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal (P2KP), telah dikembangkan beragam produk olahan ubijalar dari umbi segar, pasta, tepung maupun pati, diantaranya keripik, stik, jajanan basah, selai, saos, cake, kue kering, rerotian, mie, dan jus dengan proporsi ubijalar 10 - 100 persen. Untuk menjamin pasokan bahan baku, diperlukan varietasunggul ubijalar berpotensi hasil tinggi (> 25 t/ha) dan sesuai pemanfaatannya untuk produk pangan tertentu serta teknik budidaya yang tepat. Varietas Sukuh, Shiroyutaka, dan Jago sesuai untuk bahan baku tepung dan pati; Cangkuang, Sari, Kidal, Papua Pattipi, Papua Solossa untuk umbi kukus; Beta 1 dan Beta 2 kaya beta karoten; Antin 1 (putih keunguan) sesuai untuk keripik dan calon varietas Antin 2 dan Antin 3 kaya antosianin. Pengembangan agroindustri ubijalar ke depan cukup prospektif seiring dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat akan makanan sehat dan adanya dukungan kebijakan untuk mengurangi impor pangan dengan mengoptimalkan pemanfaatan bahan pangan lokal. kata kunci: ubijalar, nilai gizi, kesehatan, diversifikasi olahan, varietas unggul.Sweet potato is potentially used as an ingredient for local food diversification with respect to its nutrient value and availability. The presence of beta carotene as provitamin A, anthocyanins and phenolic compounds as antioxidants, dietary fiber, and relatively low glycemic index, give added value of sweet potato as functional food. However, its utilization is limited to traditional foods, which are frequently assumed to be inferior. In terms of diversification of local food-based consumption, a number of products derived from fresh tuber, paste, flour, and starch have been developed, including chips, stick, snacks, ketchup, jam, cake, cookies, bread and bakery products, noodle, and juice with a proportion of 10-100 percent. In order to guarantee fresh tuber supply, high yielding improved varieties and appropriate cultivation technologies is required. Sukuh, Shiroyutaka, and Jago varieties are tailored for flour and starch purposes, while Cangkuang, Sari, Kidal, and Papua Pattipi, Papua Solossa are suitable for steamed tubers. Beta 1 and Beta 2 are rich in beta carotene; Antin 1 (white purplish) is preferred for deep-fried chips, whereas Antin 2 and Antin 3 (to bereleased) contain high anthocyanins. The development of sweet potato-based agro industry is promising along with the increase needs of healthy foods and supported government policy to reduce imported foods through the optimal utilization of local food.
PENGARUH PEMOTONGAN BANTUAN DOMESTIK DI NEGARA MAJU TERHADAP EKONOMI PANGAN INDONESIA Hutabarat, Budiman; K. Dermoredjo, Saktyanu
JURNAL PANGAN Vol 17, No 1 (2008): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1626.852 KB) | DOI: 10.33964/jp.v17i1.226

Abstract

Perundingan pertanian di OPD hampir tidak mengalami kemajuan sejak dihasilkannya kerangka kerja Paket Juli (July Package) pada tahun 2004. Perundingan sektor pertanian tetap berjalan sulit, bahkan sampai saat Konferensi Tingkat Menteri (KTM) VI di Hongkong yang telah berlangsung pada Desember 2005 yang lalu. Semua negara masih ingin melindungi pertaniannya dengan berbagai cara dengan Bantuan Domestik/BD, Subsidi Ekspor/SE atau menaikkan tarif. Makalah ini ditujukan untuk menganalisis (ex anfe) pengaruh pemotongan atau bahkan penghapusan BD yang dilakukan NM terhadap kinerja komoditas pangan Indonesia melalui teknik simulasi. Hasil simulasi menunjukkan perbedaan yang jelas dalam perubahan harga-harga masukan antara NM(yang diwakiliAS dan UE) dan NB (yang diwakili Indonesia dan K33) akibat pemotongan subsidi domestik di NM. Hal ini ditunjukkan oleh semua skenario yang dicoba. Sementara harga lahan dan upah tenaga kerja/TK tak terampil menurun di NM, keadaan sebaliknya justru terjadi.di NB. Bagi faktor produksi modal, pemotongan BD di NM memberi pengaruh yang jelas berbeda juga antara di AS di satu fihak dan di UE, Indonesia dan K22 di fihak lain untuk semua usulan. Dalam hal ini NB mengalami penurunan PDB, tetapi dengan persentase yang kecil sekali, sementara NM mengalami peningkatan PDB yang juga relatif kecil. Indonesia sendiri diprakirakan mengalami penurunan sebesar 0,003 persen. Tingkat penurunan PDB Indonesia ini relatif sangat kecil. Seiring dengan indikator PDB, pemotongan BD di NM memberi dampak pada penurunan kesejahteraan, yaitu sebesar 18-28 juta dolar AS di Indonesia dan 460-650 juta dolar AS di K33, sementara di AS dan UE tetap meningkat. Peningkatan kesejahteraan meskipun pemotongan bantuan domestik diNM berpotensi menurunkan tingkat kesejahteraan dan PDB Indonesia, tetapi beberapa produksi dan harga-harga komoditas pertanian pangan dan harga-harga masukan pertanian dapat meningkat, sehingga pendapatan petani komoditas-komoditas dan pemilik sumberdaya pertanian ini dapat meningkat. Peningkatan pendapatan petani iniselanjutnya berpotensi meningkatkan pendapatan pedesaan dan pertumbuhan ekonomi pedesaaan. Oleh karena itu, Indonesia, seyogyanya aktif dalam perundingan bilateral dan multilateral untuk mendesak agar bantuan domestik di NM ini dihapus.
Pengembangan Produk Beras Jagung Instan : Kajian Penerimaan Sensoris, Karakteristik Kimia, dan Analisis Biaya Produksi Ekafitri, Riyanti
JURNAL PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v25i3.332

Abstract

Development of instant rice-corn is intended to provide an alternative of staple foods besides rice. Fortification of fiber (fiber addition) is done to replace the fiber loss during grinding and milling process aswell to improve the nutritional quality of instant rice-corn. In this study, the treatment is the addition of different fiber types on instant rice-corn, which is: without fiber (A), fiber agar-agar powder addition (B) and fiber agar-agar powder & carrot porridge (C). This study aimed to examine the sensory evaluation, chemicalcharacteristics, and costs of production of instant rice-corn. Based on the sensory evaluation, the productis accepted by the panelists with an assessment of rather preferred. Instant rice-corn with fiber agar-agarpowder & carrot porridge is the best treatment with chemical characteristics: water content 7,38 percent,ash content 1,04 percent, protein 5,06 percent, carbohydrate 69,90 percent, and crude fiber 3,48 percent.Costs production of 10 kilograms of instant rice-corn is Rp 116.348,00, the selling price is Rp 157.070,00per kilogram with a profit margin of 35 percent.
Analisis Skala Ekonomi Produksi Tebu di Propinsi Lampung Fitriani, Fitriani; Arifin, Bustanul; Ismono, Hanung
JURNAL PANGAN Vol 19, No 4 (2010): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (811.598 KB) | DOI: 10.33964/jp.v19i4.156

Abstract

Artikel ini menganalisis skala ekonomi produksi tebu di Propinsi Lampung, dengan fokus pada observasi mendalam tentang pola kemitraan petani tebu dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT. Perkebunan Nusantara (PTPN) VII Bunga Mayang di Kabupaten Lampung Utara dan dengan perusahaan swasta besar PT. Gunung Madu Plantations (GMP) di Kabupaten Lampung Tengah. Studi ini menggunakan analisis usahatani untuk melihat tingkat profitabilitas produksi tebu serta memanfaatkan sifat-sifat khas fungsi produksi Constant Elasticitiy of Substitution (CES) untuk melihat tingkat substitusi dari faktor-faktor produksi yang berpengaruh di daerah studi. Hasil analisis menunjukkan bahwa usahatani tebu di Propinsi Lampung masih menguntungkan, walau pun telah berada pada fase penerimaan hasil yang semakin berkurang. Kemitraan petani dengan PTPN VII Bunga Mayang lebih padat tenaga kerja dibanding kemitraan dengan PT GMP, walaupun dalam jangka panjang tidak berbeda secara signifikan. Kebijakan yang mampu meningkatkan skala ekonomi produksi tebu akan meningkatkan pendapatan petani dan berkontribusi pada pengembangan wilayah di Lampung.The objective of this study is to analyze the economic scale of sugarcane production in the Province of Lampung. Field surveys are conducted in August-September 2009, covering the production centers in the districts of North Lampung and Central Lampung. More in-depth observations are focused to examine the partnership program between sugarcane farmers and the State-Owned Enterprise (SOE) of PTPN VII Bunga Mayang in North Lampung and private estate of PT Gunung Madu Plantation (PT GMP) in Central Lampung. Standard farm economic analysis is employed to examine the profitability of sugarcane farming in the study sites. The constant elasticity of substitution (CES) production function is adapted to analyze the economic scale of the sugarcane farming in the province. The results show that the sugarcane farming in the study sites is economically profitable, although in the stage of decreasing return to scale; and, although in the long run the difference is not statistically significant, the farmers’ partnership with PTPN VII is more labor intensive than that with private enterprise PT GMP. Any policies to increase the economic scale of sugarcane production would contribute to the welfare of sugarcane farmers and regional development in the province. 
Sistem Pertanian Pangan Adaptif Perubahan Iklim Khudori, Khudori
JURNAL PANGAN Vol 20, No 2 (2011): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (865.42 KB) | DOI: 10.33964/jp.v20i2.28

Abstract

Tanpa upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, baik akibat kenaikan suhu, perubahan pola curah hujan, dan kenaikan muka air laut, sektor pertanian pangan akan mengalamikerugian yang amat besar. Ancaman penurunan produksi tanaman pangan strategis tidak hanya akibat perubahan iklim, tetapi juga karena kondisi infrastruktur waduk dan irigasi yang kurang memadai, serta berlanjutnya konversi lahan pertanian ke nonpertanian tanpa kendali. Belum lagi menghitung gagal panen akibat iklim ekstrim, serta serangan hama dan penyakit. Upaya mengurangi risiko gagal panen bisa dilakukan, baik yang bersifat struktural maupun non-struktural. Berbagai upaya yang bisa dilakukan, antara lain, pemetaan komoditas sesuai iklim, mengembangkan aneka jenis dan varietas tahan cekaman iklim, aplikasi informasi iklim, mengembangkan teknologi pengolahan tanah dan tanaman untuk meningkatkan daya adaptasi tanaman, dan mengembangkan sistem perlindungan usahatani dari kegagalan akibat perubahan iklim.Climate change significantly affects agriculture, especially the food crops. Without efforts to mitigate and adjust to climate change, not only to the increase in temperature and changes in rainfall patterns but also to the rise of sea levels, food agricultural sector will suffer huge losses. Threat of decrease in production of strategic food crops are not only due to climate change, but also inadequate condition of dams and irrigation infrastructure and the continued conversion of farmland to non-farm without control. It becomes worse if crop failure due to extreme climate and pests or diseases is also calculated. Efforts to reduce the risk of crop failure can be done, both in structural and non-structural ways. Various measures can be done, among others are: mapping of commodities according to climate, developing various types and climatic stress resistant varieties, applying climate information, developing soil and crop processing technology to improve crop adaptation, and developing a farm system protection from failures due to climate change. 

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 34 No. 2 (2025): PANGAN Vol. 34 No. 1 (2025): PANGAN Vol. 33 No. 3 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 2 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 1 (2024): PANGAN Vol. 32 No. 3 (2023): PANGAN Vol. 32 No. 1 (2023): PANGAN Vol. 31 No. 3 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 2 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 1 (2022): PANGAN Vol. 30 No. 3 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 2 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 1 (2021): PANGAN Vol. 29 No. 3 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 2 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 1 (2020): PANGAN Vol 29, No 1 (2020): PANGAN Vol. 28 No. 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 2 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 2 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 1 (2019): PANGAN Vol 27, No 3 (2018): Vol 27, No 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 2 (2018): PANGAN Vol 27, No 2 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 1 (2018): PANGAN Vol 27, No 1 (2018): PANGAN Vol 26, No 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 2 (2017): PANGAN Vol 26, No 2 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 1 (2017): PANGAN Vol 26, No 1 (2017): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 2 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 2 (2016): PANGAN Vol 25, No 1 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 1 (2016): PANGAN Vol. 24 No. 3 (2015): PANGAN Vol 24, No 3 (2015): PANGAN Vol 24, No 2 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 2 (2015): PANGAN Vol 24, No 1 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 1 (2015): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 3 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 2 (2014): PANGAN Vol 23, No 2 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 1 (2014): PANGAN Vol 23, No 1 (2014): PANGAN Vol 22, No 4 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 4 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 3 (2013): PANGAN Vol 22, No 3 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 1 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 1 (2013): PANGAN Vol. 21 No. 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 3 (2012): PANGAN Vol 21, No 3 (2012): PANGAN Vol 21, No 2 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 2 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 1 (2012): PANGAN Vol 21, No 1 (2012): PANGAN Vol. 20 No. 4 (2011): PANGAN Vol 20, No 4 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 3 (2011): PANGAN Vol 20, No 3 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 2 (2011): PANGAN Vol 20, No 2 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 1 (2011): PANGAN Vol 20, No 1 (2011): PANGAN Vol. 19 No. 4 (2010): PANGAN Vol 19, No 4 (2010): PANGAN Vol 19, No 3 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 3 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 2 (2010): PANGAN Vol 19, No 2 (2010): PANGAN Vol 19, No 1 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 1 (2010): PANGAN Vol. 18 No. 4 (2009): PANGAN Vol 18, No 4 (2009): PANGAN Vol 18, No 3 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 3 (2009): PANGAN Vol 18, No 2 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 2 (2009): PANGAN Vol 18, No 1 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 1 (2009): PANGAN Vol 17, No 3 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 3 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 1 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 1 (2008): PANGAN Vol 16, No 1 (2007): PANGAN Vol. 16 No. 1 (2007): PANGAN Vol. 15 No. 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 2 (2006): PANGAN Vol. 15 No. 1 (2006): PANGAN Vol 15, No 1 (2006): PANGAN More Issue