cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL PANGAN
ISSN : 08520607     EISSN : 25276239     DOI : -
Core Subject : Agriculture, Social,
PANGAN merupakan sebuah jurnal ilmiah yang dipublikasikan oleh Pusat Riset dan Perencanaan Strategis Perum BULOG, terbit secara berkala tiga kali dalam setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 807 Documents
Etnobotani Tacca leontopetaloides (L.) O.Kuntze Sebagai Bahan Pangan di Pulau Madura dan Sekitarnya, Jawa Timur (Ethnobotany of Tacca leontopetaloides (L.) O. Kuntze as Food Material in Madura Island and Its Surrounding Areas, East Java) Susiarti, Siti; Setyowati, Ninik; Rugayah, Rugayah
JURNAL PANGAN Vol 21, No 2 (2012): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (924.53 KB) | DOI: 10.33964/jp.v21i2.122

Abstract

Ketergantungan masyarakat terhadap beras sebagai bahan pokok yangsangat tinggi menyebabkan swasembada pangan akhir-akhir ini sulit dicapai. Oleh karenanya upaya diversifikasi bahan pangan perlu terus digalakkan. Tacca leontopetaloides (L) O. K. dipilih sebagai salah satu jenistanaman untuk penelitian diversifikasi bahan pangan pokok. Penelitian etnobotani tumbuhan Tacca leontopetaloides dilakukan di Pulau Madura dan sekitarnya dengan metode wawancara open-ended, observasi di lapangan, dan purposive sampling. Tumbuhan Tacca leontopetaloides ternyata masih belum banyak dikenal oleh masyarakat di Jawa Timur, demikian juga pemanfaatannya. Tumbuhan ini memiliki nama daerah yang berbeda di setiap lokasi penelitian, seperti di Madura dikenal dengan "Lorkong" dan "Oto'o", sedang di Jawa dikenal dengan "Kecondang". Masyarakat Sumenep telah memanfaatkan umbinya untuk pati atau tepung melalui proses tertentu. Pati tersebut digunakan sebagai bahan dasar untuk produk kudapan atau snack, misalnya: bubur, kue "Serpot", sebagai pengganti tepung terigu. Daunnya juga dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Di lokasi penelitian, jenis Tacca ini pada umumnya masih banyak tumbuh liar, namun di desa Langsar, Saronggi tumbuhan ini sudah dibudidayakan. kataLately, the highly dependence ofthe community on rice as staple food has caused difficulty in achieving food self-sufficiency. Therefore, diversificationof foodstuffsshould be encouraged. Taccaleontopetaloides(L.) O.Kuntzeis selectedas one ofthe species forfooddiversificationresearch. Ethno botanical study of Tacca leontopetaloides in this research is conducted in Madura Island and itssurrounding areas using open-ended interview methods, field observations and purposive sampling. Taccaleontopetaloides is still neither muchknown nor utilized by the local people in EastJava. The planthasdifferentlocal names in each region, such as "Lorkong" and "Oto'o" in Madura, and "Kecondang" in Java. In Sumenepdistrict, local people use tuber of the species to extract the starch using a certain process. The starch is utilized as a substitute for wheat flour, and widely usedas an ingredient for snacks, for example: porridge, cakes "Serpot". The leavesare alsousedaslivestock feed. In the research locations, the species is commonly grown in wild, but inthe Langsar village, Saronggi, this planth as been well cultivated. 
Perubahan Pola Konsumsi Pangan Sumber Karbohidrat Di Perdesaan P.S. Rachman, Handewi; Suryani, Erma
JURNAL PANGAN Vol 17, No 3 (2008): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (948.336 KB) | DOI: 10.33964/jp.v17i3.264

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis perubahan pola konsumsi pangan sumber karbohidrat di Indonesia. Analisis akan difokuskan untuk daerah perdesaan dengan petimbangan bahwa proporsi jumlah penduduk Indonesia sebagian besar berada di perdesaan sejak tahun 2002. Selain itu, masalah pembangunan pertanian terkait erat dengan pembangunan perdesaan. Sebelum menganalisis secara detail perubahan konsumsi pangan sumber karbohidrat di perdesaan, akan diuraikan terlebih dahulu gambaran umum tentang keragaan pola konsumsi dan pengeluaran rumah tangga di Indonesia. Hasil analisis dikaitkan dengan potensi pengembangan komoditas pangan non beras dengan menelaah perkembangan areal, produksi dan produktivitas komoditaspangan. Analisis dilakukan secara deskriptif dengan menggunakan data Susenas 2002-2007 yang bersumber dari BPS. Hasil analisis menunjukkan bahwa (1)Seiama Kurun waktu 2002-2007 telah terjadi perubahan pola konsumsi dan pengeluaran rumah tangga di perdesaan, perkotaan maupun Indonesia secara umum. Alokasi pengeluaran untuk makanan cenderung menurun diikutioleh meningkatnya pengeluaran untuk non makanan. Namun pangsa pengeluaran untuk makanan penduduk perdesaan masih lebih besar dari non makanan, artinya rata-rata tingkat kesejahteraan rumah tangga di perdesaan lebih rendah di banding di perkotaan. Implikasinya adalah bahwa kebijakan pembangunan nasional perlu lebih mempriotaskan pada upaya peningkatan kesejahteraan penduduk perdesaan melalui pembangunan pertanian dan perdesaan secara terintegrasi; (2) Pergeseran pola konsumsi pangan pokok rata-rata rumah tangga di perdesaan mengarah pada pangan berbahan terigu (mie). Diversifikasi pola konsumsi pangan pokok yang bertumpu pada pangan lokal (beras, jagung, ubi kayu, dan ubi jalar) di perdesaan hanya terjadi pada kelompok pendapatan rendah, sedang kelompok pendapatan tinggi justru mengarah pada pola tunggal beras dan atau beras+terigu. Hal ini perlu diwaspadai mengingat terigu berasal dari gandum yang tidak diproduksi dalam negeri, ketergantungan pada pangan imporakan mempersulit upaya mewujudkan kemandihan bahkan kedaulatan pangan nasional. Disarankan bahwa dalam upaya mendorong konsumsi pangan lokal sebagai sumber pangan karbohidrat perlu dilakukan secara sinergis penanganan di sisi produksi dan ketersediaan pangan lokal (jagung dan serealia lain serta umbi-umbian) dan sisi permintaan melalui sosialisasi, edukasi dan advokasi tentang pentingnya konsumsi beragam, seimbang dengan mempromosikan keunggulan pengembangan pangan lokal.
Antimikroba Ekstrak Bawang Putih Moulia, Mona Nur
JURNAL PANGAN Vol 27, No 1 (2018): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1455.789 KB) | DOI: 10.33964/jp.v27i1.399

Abstract

Bawang putih merupakan umbi lapis berwarna putih yang berkhasiat sebagai obat, zat antimikroba yang banyak dipergunakan sebagai bahan penambah cita rasa dan pengawet alami makanan. Artikel ini mengulas tentang umbi bawang putih dari segi tanaman, kandungan gizi umbi bawang putih, senyawa-senyawa organosulfur yang terdapat di dalam bawang putih dan manfaat dari bawang putih sebagai antimikroba. Umbi bawang putih mengandung lebih dari 100 metabolit sekunder yang komponen terbesar terdiri dari senyawa organosulfur allisin sebesar 70-80% dari total tiosulfinat. Proses pengolahan umbi bawang putih dan proses ekstraksi yang berbeda menghasilkan senyawa organosulfur yang berbeda pula. Senyawa organosulfur bawang putih berpotensi sebagai antimikroba dengan menghambat pertumbuhan beberapa mikroba seperti
Tinjauan Spasial Produksi dan Konsumsi Beras oleh Rumah Tangga Tahun 2007 Sutomo, Slamet
JURNAL PANGAN Vol 18, No 1 (2009): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (661.579 KB) | DOI: 10.33964/jp.v18i1.193

Abstract

Ditinjau dari sisi produksi dan konsumsi secara total, produksi beras di Indonesia pada tahun 2007 sudah dapat memenuhi total kebutuhan konsumsi di dalam negeri, khususnya konsumsi beras untuk rumah tangga, baik yang dimasak sendiri maupun yang berasal dari makan di luar rumah. Namun, secara spasial masih terlihat adanya indikasi propinsi yang jumlah konsumsi rumah tangga terhadap beras lebih besar dibanding dengan jumlah produksinya, dan hal ini akan mengakibatkan kekurangan pasokan beras bagi propinsi bersangkutan. Dalam rangka memperkuat ketahanan pangan beras, perlu kiranya untuk lebih memperhatikan sentra-sentra produksi beras di wilayah-wilayah tertentu sehingga masalah pasokan beras dapat terjamin dengan baik pada waktu-waktu biasa apalagi pada masa paceklik.
Modifikasi Manggulu dengan Subtitusi Kacang Tunggak dan Santan Kelapa sebagai Produk Pangan Darurat Manggulu Modification with Cowpea and Coconut Milk Substitution as Emergency Food Product Yaputra, Elviana; Wijaya, Hanny; M. Halima, Jeremia
JURNAL PANGAN Vol 24, No 3 (2015): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1078.819 KB) | DOI: 10.33964/jp.v24i3.14

Abstract

Manggulu merupakan produk pangan tradisional yang terbuat dari pisang dan kacang tanah yang berpotensi sebagai produk pangan darurat (Emergency Food Product, EFP) karena kandungan karbohidratnya yang tinggi dengan nilai aktivitas air dan kadar air yang rendah. Akan tetapi manggulu masih memiliki beberapa kekurangan, diantaranya kandungan protein dan lemak yang belum memenuhi persyaratan serta kandungan kacang tanah di dalamnya yang dapat menimbulkan reaksi alergi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan formulasi produk modifikasi manggulu yang memenuhi kriteria EFP dan memiliki tingkat penerimaan sensori panelis yang baik, dengan menggunakan kacang tunggak dan santan sebagai ingredien substitusi. Mixture experimental design digunakan dalam penelitian ini untuk mendapatkan proporsi pisang, kacang tunggak, dan santan kelapa yang tepat. Formula produk dengankomposisi 104,06 gram pisang; 12,00 gram kacang tunggak dan 43,94 gram santan merupakan produk yang memiliki karakterteristik sensori panelis optimum dan memberikan tingkat penerimaan yang paling tinggi. Kontribusi kalori dari produk yang terpilih, terdiri dari karbohidrat, protein, dan lemak sebesar 254,94;76,62; dan 400,68 kkal secara berturut-turut hampir dapat memenuhi persyaratan gizi EFP. Jumlah kalori dari 150 gram produk manggulu termodifikasi adalah 731,04 kkal dengan kadar air 12,32±0,12 persen danaktivitas air 0,566±0,003.kata kunci: produk pangan darurat, manggulu, mixture experiment, kacang tunggak, santanManggulu, made with banana and peanuts, has high potency becoming EFP (Emergency Food Product) due to its high carbohydrate content, and low in water activity and moisture content. However, it contains peanuts that might cause allergic reaction, in addition to its low in protein and fat content as anEFP. This research is aimed to modify manggulu formulation by using cowpea and coconut milk substitution, to fulfill the criteria of EFP, and to deliver high sensory acceptance. Mixture experimental design is used in this research to find the appropriate proportion of banana, cowpea and coconut milk in a manggulu-based product. It is found that utilization of 104.06 g of banana, 12.00 g of cowpea and 43.94 g of coconut milk is able to produce a product with optimum sensory properties and with the highest desirability. Calorie contributions of manggulu-based product from carbohydrate, protein and fat are 254.94, 76.62, and 400.68 kcal respectively; these almost fulfill the nutritional requirement of EFP. Total calorie of 150 g of manggulubased product is 731.04 kcal. The moisture content of manggulu-based product is 12.32±0.12 percent withwater activity of 0.566±0.003.
Optimalisasi Persediaan Beras Pada Tingkat Distributor di Kota Bau-Bau Optimization ofRice Supply at DistributorLevel in The City of Bau-Bau Ajo, Antasalam; Iswandi, Marsuki; Taridala, Sitti Aida Adha
JURNAL PANGAN Vol 21, No 2 (2012): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (995.852 KB) | DOI: 10.33964/jp.v21i2.111

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis optimalisasi persediaan beras pada tingkat distributor di Kota Bau-Bau, menggunakan data tahun 2010 sebagai acuan perencanaan persediaan pada tahun-tahun berikutnya. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif untuk melihat upaya-upaya yang dilakukan distributor. Model EOQ digunakan untuk menentukan jumlah dan saat  pemesanan yang tepat agar total biaya minimal. Model perputaran persediaan digunakan untuk menganalisis lama modal tersimpan dalam persediaan, dan model regresi non-linier sederhana diterapkan untuk melakukan peramalan penjualan. Kesimpulan penelitian adalah: (i) upaya-upaya distributor dalam mengeloia persediaan beras adalah pemesanan sebelum stok habis, pembayaran ke supplier setelah beras tiba, dan selalu jujur dan saling percaya; (ii) jumlah pemesanan distributor rata-rata adalah 304,18 ton, ketika persediaan rata-rata adalah sebanyak 9,34 ton, dan biaya total minimal rata-rata adalah Rp 9.869.222; (iii) perputaran persediaan beras minimal 6kali setahun; dan (iv) peramalan penjualan distributor bulanan untuk Januari hingga Juni tahun 2011 rata-rata sebanyak 56,38 ton, dan jumlah pemesanan periode dua bulanan rata-rata sebesar 112,69 ton.This study isaimed at analyzing the optimization ofrice provision at distributor level in Bau-BauMunicipality using the 2010 data as a basis for planning the provision in the following years. This is an explanatory study in which the data are gathered through a survey method. The population ofthe study is 8 rice distributors. The data are analyzed using a descriptive method to identify some endeavors done by the distributors. The EOQ model is used to determine the number and time of fixed orders to minimize costs. The model ofprovision rolling is usedto analyze the time length for the capital put in stock and the simple nonlinear regression is used to predict the selling based on the data ofmonthly selling in 2010. This study shows the following findings. First, the efforts made by rice distributors are able to optimize the rice provision although some improvement is still needed. These include orders that should be placed before stock off, payment that ismade right after delivery and honesty and trustworthy that is encouraged to build among suppliers and distributors. Second, the total maximum order for each distributor ranges from 153.63 to 532.68, averaging of304.18tons ofrice. This maximum order ismade when stocks reach about 4.45 up to 21.78 tons, averaging of9.34tons. The total minimum costvaries about Rp 4,893,690, up to Rp 17,894,090, averaging ofRp 9,869,222. Third, the rolling ofrice provision is atminimum of6 times per year. Fourth, the distributor estimate is in the average of56.38tons for the monthly selling between January and June 2010. The selling estimate by each distributoris in the average of56.38tons. The total order for each two months ranges from 111.01 up to 114.31 averaging of 112.69 tons, 
Program RASKIN: Keserasian antara Produksi, Pengadaan dalam Negeri dan Dukungan Politik (RASKIN Program: Harmony between Production, Procurement of Domestic and Political Support) Sawit, Mohamad Husein
JURNAL PANGAN Vol 21, No 1 (2012): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (840.834 KB) | DOI: 10.33964/jp.v21i1.94

Abstract

Program RASKIN kerap digugat masyarakat luas dan para politisi, serta sebagian Pemda menolak kalau beras yang disalurkan itu berasal dari impor. Semakin besar volume RASKIN, semakin tinggi risiko pemerintah untuk mengimpor beras. Kalau hal ini berlangsung lama, maka akan memperburuk citra program. Keputusan besaran penyaluran RASKIN tidak terkait dengan produksi beras dalam negeri. Sedangkan pengadaan dalam negeri BULOG berkaitan erat dengan produksi gabah, yang pertumbuhannya semakin kurang stabil. Pada 2011, penyaluran RASKIN ditetapkan sekitar 3,4 juta ton, di pihak lain pengadaan dalam negeri rendah karena pertumbuhan produksi rendah atau negatif. Akibanya adalah semakin tinggi kandungan impor terhadap total pengadaan BULOG, yaitu 20% (2010) dan 56% (2011). Total impor beras BULOG dalam 2 tahun terakhir mencapai 2,5 juta ton. Tujuan tulisan ini adalah menaksir besaran volume RASKIN yang pantas sehingga terhindar dari impor. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pengadaan gabah/beras dalam negeri berkorelasi positif tinggi (0,67) dengan pertumbuhan produksi gabah. Pertumbuhan produksi gabah semakin kurang stabil akhir-akhir ini dengan CV (Coefficient of Variation) sebesar 140%. Angka elastisitas pengadaan beras dalam negeri BULOG terhadap produksi gabah adalah 3,751. Pencapaian pertumbuhan produksi gabah dalam negeri 5% atau lebih yang berlangsung berturut-turut beberapa tahun semakin sulit dicapai, karena perubahan iklim, buruknya infrastruktur irigasi, termasuk pesatnya konversi lahan sawah. Oleh karena itu dalam jangka pendek disarankan agar volume RASKIN yang pantas adalah sekitar 2 juta ton, berkisar antara 1,8-2,2 juta/tahun. Tidak dianjurkan penyaluran RASKIN lebih dari 2,5 juta ton/tahun.RASKIN program is often accused by the public and politicians, and refused by some local governments when the rice is supplied from importation. The greater the volume ofRASKIN is, the higher the risk of the government to import rice. Should this importation occurs for a longer time, it will worsen the image of the program. The decision on the amount of RASKIN distribution is not associated directly with domestic rice production. Meanwhile, BULOG domestic rice procurement is closely related to domestic paddy production whose growth tends to be less stable lately. In 2011, RASKIN distribution is set at about 3.4 million metric tons, on the other hand the provision of domestic rice production is low due to its negative growth. Consequently, the share of rice imports in BULOG’s total procurementhas increased, reaching around 20% in 2010 and 56% in 2011. BULOG total rice imports in thelast 2 years have evidently reached around 2.5 million metric tons. The purpose of this paper is to assess the appropriate amount of the volume ofRASKINin order to avoid importation. Research results show that BULOG domestic rice procurement is higly correlated (0.67) with paddy production growth. Paddy production growth has increasingly been less stable lately with coefficient of variation of 140%. BULOG domestic rice procurement with respect to paddy production is found to be elastic at 3.751. Achieving paddy growth of 5% or more for the last consecutive years has been difficult due to climate change, poor irrigation infrastructure, and rapid conversion of paddy fields. Therefore, in the short term, it is recommended that the reasonable volume of RASKIN is about 2 million metric tons, or ranging between 1.8 and 2.2 million metric tons/year. In contrary, distributing RASKIN over 2.5 million metric tons per year will not be recommended. 
Produktivitas dan Mutu Beras Padi Hibrindo R-1 pada Berbagai Perlakuan Pup Abdulrachman, Sarlan
JURNAL PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (565.51 KB) | DOI: 10.33964/jp.v17i2.252

Abstract

Penelitian telah dilakukan di kebun Percobaan Sukamandi pada MH2006/07 dengan menggunakan varietas Hibrindo R-1. Rancangan yang digunakan Petak Terpisah dengan 3 ulangan. Petak utama adalah pemberian bahan organik (b-0= tanpa pupuk kandang, b-1= 2,5 t/ha pupuk kandang, dan b-2= 5,0 t/ha pupuk kandang/ha). Anak petak adalah dosis pemberian urea (U-0= 0 kg/ha urea, U-1= 250 kg Urea/ha atau setara dengan 112,5 kg N/ha, U2= U-1 dikurangi %Ndalam b-1 atau setara dengan 87,5 kg N/ha, dan U-3= U-1 dikurangi %N dalam b-2 atau setara dengan 62,5 kg N/ha). Pemberian pupuk urea dilakukan sebanyak tiga kali, berturut-turut pertama pada 10 HST, kedua pada 21 HST dan ketiga pada 45 HST (PI) dengan dosis masing-masing saat pemberian yaitu 1/5, 2/5, dan 2/5 dosis perlakuan/ha urea. Sedangkan untuk aplikasi SP36 dan KCI masing-masing sebanyak 100 dan 50 kg/ha diberikan semuanya bersamaan pemberian N pertama, termasuk yang tanpa N. Seluruh pupuk kandang diberikan saat pengolahan tanah terakhir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (i) Hibrindo R-1 sebagai salah satu varietas padi hibrida hasilnya cukup baik. Hasil panen pada MH 2006/07 di Sukamandi mencapai 9,08 t/ha GKG, setara atau bahkan lebih tinggi dibandingkan hasil panen varietas unggul baru (VUB) lainnya, (ii) Pada tanah dengan tingkat kesuburan sedang sampai tinggi atau yang dicirikan dengan hasil tanpa pupuk (nitrogen) > 4,5-5,5 t/ha, untuk mendapatkan hasil panen sekitar 8-9 t/ha diperlukan pupuk minimal setara 250 kg urea/ha. Sebagai sumber N dapat berasal dari urea, bahan organik atau kombinasinya, adn (iii) Pupuk kandang dapat digunakan sebagai sumber bahan organik dengan takaran yang disarankan 2,5 t/ha. Manfaat yang didapat dari pemakaian pupuk tersebut pemanfaatan pupuk anorganik seperti urea menjadi lebih efisien, derajat putih dan derajat sosoh beras yang dihasilkan meningkat disamping menurunkan butir mengapur dan butir kuning + rusak.
Karakterisasi Kerenyahan dan Kekerasan Beberapa Genotipe Kentang (Solanum tuberosum L.) Hasil Pemuliaan Harahap, Sri Efriyanti
JURNAL PANGAN Vol 26, No 3 (2017): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.25 KB) | DOI: 10.33964/jp.v26i3.358

Abstract

Kerenyahan dan kekerasan adalah salah satu parameter penting dalam produk keripik. Pada penelitian ini, perbedaan rasio amilosa dan amilopektin yang terkandung di dalam kentang dapat mempengaruhi tingkat kerenyahan dan kekerasan dari suatu keripik. Penelitian ini bertujuan untuk mengarakterisasi beberapa genotipe kentang sebagai umpan balik kepada pemulia tanaman untuk mendapatkan genotipe yang sesuai dengan pengolahan keripik kentang. Penelitian ini diharapkan memberikan informasi untuk mendapatkan beberapa genotipe kentang sebagai bahan baku keripik. Nilai kekerasan dari keripik yang telah umum beredar dipasaran (komersial)  berkisar 375.4 – 431.5 gf. Bila dibandingkan dengan hasil kekerasan 9 genotipe kentang yang dikembangkan, ada genotipe Gatsay  yang dapat mendekati nilai kekerasan keripik komersial. Hal ini dapat dijadikan sebagai acuan untuk dikomersialkan sebagai keripik kentang yang cocok di pasaran.
Disain Penilaian Risiko Mutu dalam Rantai Pasok Minyak Sawit Kasar dengan Pendekatan Sistem Dinamis Marimin, Marimin; Nanda Rahadiansyah, Muhammad
JURNAL PANGAN Vol 20, No 4 (2011): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1622.813 KB) | DOI: 10.33964/jp.v20i4.183

Abstract

Industri kelapa sawit Indonesia telah tumbuh secara signifikan dalam beberapatahun terakhir dan sejak tahun 2006 menjadi produsen minyak sawit kasar (CPO) terbesar sedunia mengungguli Malaysia. Seiring dengan peningkatan potensi dan permintaan pasar terhadap produk sawit Indonesia, maka kebutuhan fungsi kualitas akan semakin meningkat. Tujuan utama dari penelitian ini adalah merumuskan ukuran kesuksesan manajemen Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Adolina dan merancang model dinamik penilaian resiko mutu CPO sebagai alat bantu dalam mengenal pola penilaian resiko mutu CPO yang diproduksi PKS Adolina. Model dinamik yang dibangun terdiri dari tiga sub-model, yaitu sub-model produksi, sub-model transportasi dan sub-model persediaan. Simulasi pada ketiga sub-model tersebut dapat digunakan untuk merumuskan susunan kebijakan manajemen. Penelitian ini menghasilkan rumusan ukuran kesuksesan manajemen yang terkait dengan ukuran kesuksesan tiap pelaku rantai pasok dan pengembangan simulasi skenario kebijakan, baik skenario dasar, skenario perilaku dinamik dan juga skenario penilaian resiko mutu dimana terdapat parameter probabilistik dan ketidakpastian didalamnya. Ukuran kesuksesan manajemen yang berhasil dirumuskan dalam penelitian ini adalah produksi CPO dan kadar Asam Lemak Bebas (ALB). kata kunci : industri kelapa sawit, rantai pasok, penilaian risiko mutu, probabilitas, model dinamikIndonesian palm oil industry has grown significantly in recent years and since 2006 has surpassed Malaysia to become the world’s largest Crude Palm Oil (CPO) producer. With the ever increasing of potential market and market demands for its palm oil products, Indonesia will need to ensure the highest level of palm oil products quality. The main objectives of this research are to identify the factors for measuring the success of Palm Oil Mills (POM) Adolina’s management and to design a dynamic model as a tool for determining the quality risk assessment pattern of POM Adolina. The dynamic model comprises three sub-models, namely production sub-model, transportation sub-model and inventory sub-model respectively. The results from simulation of this model are then referenced for formulating managerial policies.This research produced theformulation of the most important factors to measure management success, namely the yield of CPO and the level of free fatty acid (FFA) and also generated simulation of managerial policies. To obtain them three scenarios were considered, the basic, the dynamic behavior and the risk assessment scenarios. Probability and uncertainty parameters were considered in the third scenario. 

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 34 No. 2 (2025): PANGAN Vol. 34 No. 1 (2025): PANGAN Vol. 33 No. 3 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 2 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 1 (2024): PANGAN Vol. 32 No. 3 (2023): PANGAN Vol. 32 No. 1 (2023): PANGAN Vol. 31 No. 3 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 2 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 1 (2022): PANGAN Vol. 30 No. 3 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 2 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 1 (2021): PANGAN Vol. 29 No. 3 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 2 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 1 (2020): PANGAN Vol 29, No 1 (2020): PANGAN Vol. 28 No. 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 2 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 2 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 1 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol 27, No 3 (2018): Vol 27, No 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 2 (2018): PANGAN Vol 27, No 2 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 1 (2018): PANGAN Vol 27, No 1 (2018): PANGAN Vol 26, No 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 2 (2017): PANGAN Vol 26, No 2 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 1 (2017): PANGAN Vol 26, No 1 (2017): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 2 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 2 (2016): PANGAN Vol 25, No 1 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 1 (2016): PANGAN Vol. 24 No. 3 (2015): PANGAN Vol 24, No 3 (2015): PANGAN Vol 24, No 2 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 2 (2015): PANGAN Vol 24, No 1 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 1 (2015): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 3 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 2 (2014): PANGAN Vol 23, No 2 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 1 (2014): PANGAN Vol 23, No 1 (2014): PANGAN Vol 22, No 4 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 4 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 3 (2013): PANGAN Vol 22, No 3 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 1 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 1 (2013): PANGAN Vol. 21 No. 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 3 (2012): PANGAN Vol 21, No 3 (2012): PANGAN Vol 21, No 2 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 2 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 1 (2012): PANGAN Vol 21, No 1 (2012): PANGAN Vol. 20 No. 4 (2011): PANGAN Vol 20, No 4 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 3 (2011): PANGAN Vol 20, No 3 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 2 (2011): PANGAN Vol 20, No 2 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 1 (2011): PANGAN Vol 20, No 1 (2011): PANGAN Vol. 19 No. 4 (2010): PANGAN Vol 19, No 4 (2010): PANGAN Vol 19, No 3 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 3 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 2 (2010): PANGAN Vol 19, No 2 (2010): PANGAN Vol 19, No 1 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 1 (2010): PANGAN Vol. 18 No. 4 (2009): PANGAN Vol 18, No 4 (2009): PANGAN Vol 18, No 3 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 3 (2009): PANGAN Vol 18, No 2 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 2 (2009): PANGAN Vol 18, No 1 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 1 (2009): PANGAN Vol 17, No 3 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 3 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 1 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 1 (2008): PANGAN Vol 16, No 1 (2007): PANGAN Vol. 16 No. 1 (2007): PANGAN Vol. 15 No. 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 2 (2006): PANGAN Vol. 15 No. 1 (2006): PANGAN Vol 15, No 1 (2006): PANGAN More Issue