cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL PANGAN
ISSN : 08520607     EISSN : 25276239     DOI : -
Core Subject : Agriculture, Social,
PANGAN merupakan sebuah jurnal ilmiah yang dipublikasikan oleh Pusat Riset dan Perencanaan Strategis Perum BULOG, terbit secara berkala tiga kali dalam setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 807 Documents
Proses Penurunan Kadar Kalsium Oksalat Menggunakan Penepung ”Stamp Mill” untuk Pengembangan Industri Kecil Tepung Iles-Iles (Amorphophallus muelleri Blume) Sutrisno, Aji
JURNAL PANGAN Vol 20, No 4 (2011): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1413.981 KB) | DOI: 10.33964/jp.v20i4.178

Abstract

Umbi iles-iles (Amorphophallus muelleri Blume) mengandung glukomanan yangsangat tinggi dengan kadar mencapai 15-65 persen. Pemanfaatan iles-iles di Indonesia masih sangat terbatas karena terkendala oleh kandungan kalsium oksalat yang tinggi. Kalsium oksalat dalam iles-iles menyebabkan rasa gatal, iritasi dan gangguan kesehatan bila dikonsumsi.Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kadar glukomanan dan menurunkan kandungan kalsium oksalat dalam tepung iles-iles menggunakan mesin penepung stamp mill. Mesin stamp mill digunakan karena tidak menimbulkan panas sehingga mampu mempertahankan sifat-sifat glukomanan. Penelitian dirancang secara deskriptif eksploratif untuk mempelajari pengaruh berat chip iles-iles dan lama penumbukan. Perlakuan berat chip iles-iles terdiri 1,5; 2 dan 2,5 kilogram, sedangkan faktor lama penumbukan terdiri dari 0, 3, 6, 9, 12, dan 15 jam, dengan 3 kali Ulangan. Penumbukan dengan stamp mill selama 15 jam dan dengan berat chip iles-iles 1,5 kg menghasilkan tepung terbaik dengan komposisi: kadar glukomanan 81,86 persen, kalsium oksalat 0,095 persen, protein 3,585 persen, abu 4,197 persen, kadar air 9,29 persen, dan viskositas 23416 mPa.s. Penepungan dengan stamp mill terbukti mampu meningkatkan kadar glukomanan sekaligus menurunkan kandungan senyawa non-glukomanan khususnya kalsium oksalat pada tepung iles-iles yang selama ini menjadi kendala pemanfaatannya sebagai bahan pangan di Indonesia.kata kunci : tepung iles-iles, stamp mill, glukoIles-iles tuber (Amorphophallus muelleri Blume) contains high glucomanan up to 15-65 percents. However, the utilization of iles-iles tuber in Indonesia as food is very limited due to its calcium oxalate content. Calcium oxalate crystal is toxic component that causes itchy, irritation and health problems when consumed.This research aims to increase the glucomannan content and reduce the calcium oxalate content of iles-iles flour using a stamp mill.Stamp mill was chosen because it did not generate heat that could damage the function of glucomannan. The effects of iles-iles chip mass and milling time are studied. Three levels of iles-iles-chip mass, namely 1.5 kg, 2 kg, and 2.5 kg, and six (6) levels of milling time, namely 0, 3, 6, 9, 12, and 15 hours are applied. The best treatment, which produces high quality flour, is found to be from the milling using stamp mill for 15 hours and iles-iles-chip mass of 1.5 kilograms. The composition of the flour are as follows: glucomannan content is 81.86 percent, calcium oxalate is 0.095  percent, protein is 3.585 percent, ash is 4.197 percent, moisture content is 9.29 percent, and viscosity is 23416 mPa.s.The stamp mill method could improve the glucomannan content and reduce non-glucomannan compounds especially calcium oxalate as well. 
Peningkatan Produktivitas Tanaman Padi (Oryza sativa L.) melalui Pemberian Nano Silika Increased Productivity of Rice Plants (Oryza sativa L.) through The Application of Nano Silica Sugianta, Sugianta; Junaedi, Ahmad; Amrullah, Amrullah; Sopandie, Didy
JURNAL PANGAN Vol 23, No 1 (2014): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (910.867 KB) | DOI: 10.33964/jp.v23i1.46

Abstract

Beras merupakan salah satu komoditas pangan terpenting di Indonesia karena merupakan makanan pokok sebagian besar penduduk Indonesia. Namun sampai saat ini produktivitas tanaman padi masih rendah dan belum dapat memenuhi kebutuhan secara keseluruhan. Oleh karena itu, perlu upaya nyata untuk meningkatkan hasil panen tanaman padi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian unsur hara silika (Si) dalam ukuran nano yang diisolasi dari sekam padi terhadap pertumbuhan, respon morfologi dan fisiologi serta produktivitas tanaman padi sawah. Perlakuan yang diberikan terdiri atas pemberian pupuk SiP 300 kg/ha (S2), pemberian nano silika koloid 10 ppm (S3), 20 ppm (S4), 30 ppm (S5) dan kontrol/tanpa silika (S1). Berdasarkan hasil penelitian ini disimpulkan bahwa pemberian nano silika koloid 20 ppm dan 30 ppm secara umum memberikan pengaruh yang terbaik pada pertumbuhan, respon morfologi, fisiologi dan produktivitas tanaman padi kecuali pada jumlah stomata.Rice is one of the most important staple food commodities in Indonesia. So far, however, the productivity of rice is still low and has not been able to meet the overall domestic needs. Therefore, a real effort to improve the harvest rice crops is urgently needed. This research aims to investigate the influence of silica (Si) nutrient elements, to be applied in nano size isolated from rice husk, on the growth, morphology and physiology responses as well as the productivity of the wet land rice. The treatment consists of the application of fertilizer SiP 300 kg/ha (S2), the colloid nano silica 10 ppm (S3), 20 ppm (S4), 30 ppm (S5) and kontrol/with no silica (S1). The results showed that the application of colloid nano silica 20 ppm and 30 ppm generally resulted in the best growth, morphological, physiological responses and productivity of the rice plant except for the number of stomata. 
Diet Makanan untuk Penyandang Autis Herminiati, Ainia
JURNAL PANGAN Vol 18, No 2 (2009): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1882.467 KB) | DOI: 10.33964/jp.v18i2.211

Abstract

Penyandang autis di Indonesia diperkirakan jumlahnya meningkat mengingat bahwa sudah banyak anak-anak di sekeliling kita yang menderita autisme (Kasran, 2003), walaupan belum ditemukan jumlah yang pasti karena belum banyak hasil penelitian tentang autisme dan sulitnya memperoleh data. Data perkiraan terakhir yang dilaporkan oleh Universa Medicina (2003), mengenai prevalensi autisme menunjukkan angka 16 per 10.000, tetapi angka prevalensi ini meningkat menjadi 63 per 10.000 bila diperhitungkan semua bentuk kelainan yang termasuk dalam spektrum autisme. Gejaia dan tingkat berat ringannya autisme sangat bervariasi. Oleh karena itu, terapi gizi anak autis seharusnya sangat individual dan tidak bisa diseragamkan. Intervensi diet yang dapat membantu memperbaiki kondisi kesehatan anak autis secara umum adalah menghindari makanan yang mengandung gluten, kasein, dan food additives. Karena banyak penyandang autis memiliki ketidakmampuan dalam mencerna gluten dan kasein, di mana gluten adalah protein dari tepung terigu dan hasil olahannya. Sedangkan kasein adalah protein dari susu dan hasil olahannya. Food additives yang biasa digunakan adalah monosodium glutamat (MSG), untuk beberapa bahan pangan olahan yang berfungsi sebagai penambah rasa. Juga pewarna makanan dan pemanis sintetik tidak diperbolehkan dalam makanan bagi penyandang autis. Pada prinsipnya, terapi gizi yang dapat dilakukan untuk penyandang autis adalah pemberian vitamin B6 dalam bentuk pyridoxal 5-fosfat, serta menghindari makanan yang mengandung gluten, kasein, monosodium glutamat, gula sintetis aspartam, dan pewarna makanan.
Potensi Beras Analog sebagai Alternatif Makanan Pokok untuk Mencegah Penyakit (Degeneratif Potency of Rice Analogue as Staple Food Alternative to Prevent Degenerative Diseases) Budijanto, Slamet; Sadek, Nur Fathonah; Dewi Yuliana, Nancy; Prangdimurt, Endang; Pontjo Priyosoeryanto, Bambang
JURNAL PANGAN Vol 25, No 1 (2016): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.678 KB) | DOI: 10.33964/jp.v25i1.307

Abstract

Perubahan gaya hidup telah menempatkan penyakit degeneratif sebagai penyebab kematian utama, baik di dunia maupun di Indonesia. Salah satu upaya pencegahan penyakit ini dapat dilakukan melalui pengaturan pola makan. Pembuatan beras analog selain bertujuan untuk mendukung program diversifikasi pangan, tetapi juga dapat dirancang dari bahan-bahan tertentu (seperti sorgum, bekatul, dan kedelai) agar memberikan manfaat fungsional khusus bagi kesehatan. Beras analog telah diteliti memiliki aktivitas hipokolesterolemik, nilai indeks glikemik yang rendah, serta menghambat proliferasi sel kanker kolon secara in vitro. Aktivitas tersebut selain berasal dari komponen fitokimia yang terdapat pada bahan-bahan tetapi juga dapat muncul akibat proses pengolahan, seperti terbentuknya pati resisten maupun terlepasnya komponen aktif dari matriks pangan. Hanya saja penambahan komponen fungsional terkadang memberikan dampak yang tidak diinginkan pada atribut sensori. Oleh karena itu, pengembangan beras analog fungsional dari segi sensori harus terus dilakukan supaya dapat diterima dengan baik oleh masyarakat.The changes of lifestyle nowadays bring degenerative diseases as the most leading cause of death, both in worldwide and Indonesia. It has been very well known that incident of the diseases could be prevented through food diet. Not only aimed to support the government’s diversification program, rice analogue development could be designed from certain materials (such as sorghum, rice bran, and soybean) to provide specific functional health benefit. Some reports showed that rice analogue has low glycemic index, as well as its activity in lowering cholesterol level and inhibiting the proliferation of in vitro colon cancer cell. The activity was expected to come from the phytochemical compounds naturally present in the ingredients and might also arise during the processing, such as the formation of resistant starches as well as the release of the active compounds from food matrix. However, the addition of functional ingredients sometime impacted on undesirable sensory attributes. Therefore, all sensory attributes of functional rice analogue should be improved to achieve the increment of public acceptance.
Swasembada Gula : Prospek dan Strategi Pencapaiannya Bantacut, Tajuddin
JURNAL PANGAN Vol 19, No 3 (2010): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1067.258 KB) | DOI: 10.33964/jp.v19i3.142

Abstract

Pemerintah Indonesia menargetkan swasembada gula pada tahun 2014. Kurun waktu empat tahun adalah periode yang sangat pendek untuk mengubah kedudukan dari pengimpor menjadi produsen mandiri. Produksi gula Indonesia tahun 2009 adalah 2,52 juta ton, sedangkan total konsumsi mencapai 4,55 juta ton terdiri dari konsumsi langsung 2,70 juta ton dan konsumsi industri 1,85 juta ton. Kecukupan gula dipenuhi melalui impor sebanyak 2,03 juta ton. Proyeksi pertumbuhan tahun 2014  berdasarkan pada pertambahan penduduk serta perkembangan industri (terutama makanan dan minuman) meningkatkan konsumsi menjadi 5,32 juta ton yakni 2,96 juta ton konsumsi langsung dan 2,36 juta ton konsumsi industri. Upaya peningkatan produksi yang rasional tanpa membangun pabrik baru hanya mampu meningkatkan produksi menjadi 3,60 juta ton sehingga pemenuhan kebutuhan melalui impor masih sebesar 1,72 juta ton. Dari gambaran ini maka target swasembada gula tidak mungkin dicapai melalui pertumbuhan produksi normal. Paper ini membahas berbagai kendala dan upaya yang dapat dilakukan untuk mencapai target tersebut. Pada bagian akhir akan diutarakan faktor keberhasilan Thailand sebagai acuan dalam melakukan upaya mencapai swasembada gula nasional.The government of Indonesia has planned to achieve self-sufficiency of white sugar in the year of 2014; it is about four years ahead. This available time is considered to be very short to change the status of the country from net importer to self-producer. The national sugar production in 2009 was 2.52 million ton while the consumption was 4.55 million ton consisted of 2.70 million ton direct (household) consumption and 1.85 million ton industrial consumption. The balance (2.03 million ton) was imported from several countries. It has been projected that the sugar demand will increase to 5.32 million ton in 2014 due to population and industrial (mainly food and beverage) growth which will consist of 2.96 million ton direct consumption and 2.36 million ton industrial uses. Normal effort to add production without addition of new factory would increase production up to 3.60 million ton at which the need for import will be 1.72 million ton. Therefore, self-sufficiency of sugar would not be possible through normal practices as usual. This paper discusses constraints and possible efforts to achieve the targeted selfsufficiency. At the end, it presents the success factors of Thailand sugar industry that should be considered as benchmarks of efforts. This paper concludes with a set of recommendations of programs to meet national white sugar self-sufficiency.
Pemanfaatan Beras (Oryza sativa L.) Inpari 17 Menjadi Tepung sebagai Bahan Baku Roti Tawar Non Gluten Utilization of Inpari 17 Rice (Oryza Sativa L.) Modified as Flour to be used as Gluten-Free Bread Raw Materials Wahyuningsih, Kendry; Puteri Dwiwangsa, Natasa; Cahyadi, Wisnu Cahyadi; Yuli Purwani, Endang
JURNAL PANGAN Vol 24, No 3 (2015): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1081.323 KB) | DOI: 10.33964/jp.v24i3.9

Abstract

ABSTRAKRoti tawar adalah produk berbasis sereal, umumnya terbuat dari tepung terigu yang masih diimpor. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana beras INPARI 17 yang dibuat menjadi tepung beras dapat dimanfaatkan dalam pengolahan roti dengan bantuan gum xanthan. Jenis tepung beras termodifikasi Heat Moisture Treatment (HMT) yang dipilih adalah yang memiliki nilai viskositas dingin terbaik. Rancangan Acak Kelompok dengan pola faktorial 3 x 3 sebanyak tiga kali pengulangan diterapkan dan dilanjutkan dengan uji Duncan. Faktor percobaan meliputi jenis tepung beras (giling basah, giling kering, termodifikasi HMT) dan konsentrasi gum xanthan (1 persen, 2 persen dan 3 persen). Penggunaan gum xanthan memberikan pengaruh terhadap sifat kimia (kadar air, abu, protein, lemak dan karbohidrat), sifat fisik (volume pengembangan dan tekstur), dan rasa roti. Semakin tinggi konsentrasi gum xanthan, semakin tinggi nilai kekerasan yang diperoleh. Produk terbaik diperoleh pada tepung beras giling basah termodifikasi HMT dengan penambahan gum xanthan sebesar 1 persen dengan kadar air, abu, lemak, protein, dan karbohidrat secara berurutan sebesar 36,38; 1,81; 10,58; 10,65; dan 40,58 persen, dengan volume pengembangan sebesar 3,94 cm3/gram, angka lempeng total sebesar 1,25 x 103 koloni/gram, danmemberikan skor terbaik pada uji kesukaan. Bread is a cereal-based product, usually made from wheat flour from other countries. The purpose of the research is to know how INPARI 17 rice modified as rice flour is used in bread processing by xanthan gum addition. The selected type of Heat Moisture Treatment (HMT) rice flour is the one with the best coldviscosity (setback value). The design used is Randomizes Block Design with 3 x 3 factorial patterns and three replications, followed by Duncan`s test. The research factors are rice flour types (wet-milled rice flour, dry-milled rice flour, and modified HMT rice flour) and xanthan gum concentrations (1 percent, 2 percent and 3 percent). The results show that the use of xanthan gum affects chemical properties (water, ash, protein, fat and carbohydrate content), physical properties (specific volume and texture), and bread taste. The higher concentration of xanthan gum is used, the higher value of hardness (texture) is produced. The treatment of 1 percent xanthan gum with wet-milled modified HMT rice flour is the best treatment and gives the best result with water, ash, fat, protein and carbohydrate contents of 36.38, 1.81, 10.58, 10.65, and 40.58 percents respectively, 3.94 cm3/g of specific volume, 1.25 x 103 colonies/g of total plate count and gives the best score in preference test. 
PELUANG DAN TANTANGAN INDUSTRI BERBASIS HASIL SAMPING PENGOLAHAN PADI Herodian, Sam
JURNAL PANGAN Vol 16, No 1 (2007): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (819.342 KB) | DOI: 10.33964/jp.v16i1.274

Abstract

Padi merupakan sumber makanan pokok bagi bangsa Indonesia. Ketersediaannya menjadi sangat penting seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk Indonesia. Kebijakan dan teknologi untuk meningkatkan produksi padi dan nilai tambah pengolahan padi sangat diharapkan pada saat ini. Tulisan ini bertujuan untuk menguraikan beberapa peluang pengembangan hasil samping beras, baik yang sudah lazim maupun hal-hal yang baru. Produk yang diperkenalkan mulai yang dapat diproses secara sederhana maupun yang dihasilkan dengan menggunakan proses yang rumit Beberapa peluang dan tantangan industri berbasis hasil samping pengolahan padi dapat dirangkum sebagai berikut: Peluang produk, yaitu sekam dan jerami untuk pembangkit listrik, bokashi jerami, briket sekam, media tanam, dinding alternatif dan plafon super; bekatul untuk pakan, minyak, makanan bayi, pupuk; dedak untuk biodesel, dan pakan ternak. Sementara tantangan yang harus dihadapi adalah kesulitan pengumpulan bahan baku, berani mengambil resiko, berani melakukan terobosan dalam penggunaan produk baru dan meluruskan tatanan agribisnis perberasan yang ruwet.
Teknologi Pengolahan Dodol dan Peningkatan Kandungan Gizinya setiavani, gusti; Sugiyono, Sugiyono; Ahza, Adil Basuki; Suyatma, Nugraha Edi
JURNAL PANGAN Vol 27, No 3 (2018): Vol 27, No 3 (2018): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (902.468 KB) | DOI: 10.33964/jp.v27i3.388

Abstract

Dodol merupakan salah satu makanan tradisional Indonesia yang menggunakan tepung beras ketan sebagai bahan baku utamanya.  Proses pengolahan dodol secara tradisional memiliki keunggulan dapat menghasilkan dodol dengan tekstur dan umur simpan yang lebih baik dibandingkan dodol komersial. Namun membutuhkan waktu yang lama dalam proses pengolahannya, tenaga kerja yang banyak, dan biaya produksi yang tinggi. Oleh karena itu, berbagai upaya dilakukan untuk memodifikasi pembuatan dodol guna mempersingkat proses pemasakan, menghemat biaya dan memperbaiki kualitas dodol.  Termasuk juga mengendalikan faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas dodol seperti bahan baku, proses pengolahan dan pengemasan. Dodol juga merupakan produk yang memiliki kandungan gizi yang relatif rendah dengan kadar gula yang tinggi sehingga tidak direkomendasikan bagi penderita diabetes melitus. Berbagai penelitian yang mengarah pada upaya perbaikan nilai gizi dalam mewujudkan dodol sebagai pangan yang sehat telah banyak dilakukan.  Tulisan ini menyajikan review berbagai upaya dan penelitian untuk berbagai tujuan di atas.Kata kunci : Dodol, makanan tradisional, nilai gizi, teknologi pengolahan 
Pengembangan Terigu (Triticum aestivum) Lokal Nurmala, Tati
JURNAL PANGAN Vol 18, No 3 (2009): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1816.1 KB) | DOI: 10.33964/jp.v18i3.235

Abstract

Selera makan masyarakat Indonesia telah terkondisikan mengarah ke pangan hasil olahan yang praktis, hygienis, dan cepat saji yang sebagian besar diperoleh dari bahan baku tepung terigu. Keistimewaan tepung terigu dibandingkan tepung-tepung serealia lain adalah proteinnya tinggi dan mengandung gluten yang dapat memberi daya kembang pada adonan sehingga menjadi tepung yang serbaguna (allpurpose). Namun demikian, gluten kurang bagus untuk penderita autis. Gluten hampir tidak ditemukan di tepung-tepung yang lain, sehingga peranannya di tepung terigu tidak mudah tergantikan. Di sisi lain, Indonesia merupakan lima negara terbesar pengimpor terigu. Padahal, gandum dapat tumbuh di dataran tinggi Indonesia (zona frost) dengan produktivitas yang semakin prospektif tergantung waktu tanam yang tepat dan kesungguhan petani dan fasilitas dari penguasa daerahnya, misalnya di daerah Malang dan Pasuruan (Jawa Timur), Salatiga (Jawa Tengah), Arjasari dan Cikancung (Jawa Barat). Dengan kondisi input produksi yang tidak optimal ("ceb lur") hasil panen telah dapat mencapai 2,5 ton/ha, karena gandum memiliki keunggulan anatomi serta fisiologi yaitu umurnya pendek dan memiliki ekor lemna yang memanjang yang berfungsi untuk menyerap kadar uap air di atmosfir, sehingga kebutuhan air setelah fase reproduktif dipenuhi dari kabut dan kelembaban udara yang tinggi, sehingga dikatakan tahan kekeringan dibandingkan tanaman dataran tinggi lainnya. Pengembangan tanaman terigu di daerah zona frost dapat memberi tambahan kegiatan usaha pada musim tanam ke 3 dimana produktivitas tanaman lain lebih rendah karena kekeringan dan lebih lama umurnya, tentunya dengan memperhatikan konservasi tanah untuk keberlanjutan usaha tani.
Pengembangan Kedelai untuk Kemandirian Pangan, Energi, Industri, dan Ekonomi Bantacut, Tajuddin
JURNAL PANGAN Vol 26, No 1 (2017): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1448.243 KB) | DOI: 10.33964/jp.v26i1.346

Abstract

Kedelai adalah komoditas strategis yang permintaannya tinggi, produk hilirnya sangat beragam dan bernilai tinggi, meliputi pakan, pangan, energi dan bahan baku industri. Kenaikan konsumsi yang terus meningkat, namun belum dapat diimbangi oleh kenaikan produksi dalam negeri. Impor masih menjadi andalan sehingga seringkali terjadi gejolak harga dan pasokan akibat perubahan situasi ekonomi makro dan pasokan di pasar internasional. Berbagai upaya terus dilakukan untuk meningkatkan produksi dalam negeri, tetapi belum mampu meningkatkan pasokan yang berarti. Orientasi pembangunan yang dipatok pada swasembada menjadikan pengembangan kedelai tersandera oleh tujuan jangka pendek dan tidak bergerak menuju industri hilir yang kuat yang menguntungkan secara ekonomi. Produktivitas kedelai yang masih sangat rendah menjadi kendala peningkatan produksi karena keterbatasan bibit unggul, ketersediaan pupuk dan sarana produksi lainnya. Potensi lahan dan kesesuaian iklim untuk penanaman menjadi faktor penghambat perluasan dan peningkatan produksi. Ketergantungan masyarakat terhadap produk turunan kedelai, terutama tahu dan tempe, menjadikan kedelai sebagai bagian dari bahan pangan pokok. Oleh karena itu, orientasi pertambahan produksi kedelai seharusnya tidak dibatasi pada swasembada untuk memenuhi permintaan saat ini, terutama bahan baku tahu dan tempe, tetapi lebih dari itu untuk penguatan ekonomi, industri dan kemandirian pangan. Paper ini membahas berbagai permasalahan dan strategi pembangunan kedelai berbasis industri menuju kemandirian pangan dan ketahanan ekonomi.

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 34 No. 2 (2025): PANGAN Vol. 34 No. 1 (2025): PANGAN Vol. 33 No. 3 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 2 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 1 (2024): PANGAN Vol. 32 No. 3 (2023): PANGAN Vol. 32 No. 1 (2023): PANGAN Vol. 31 No. 3 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 2 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 1 (2022): PANGAN Vol. 30 No. 3 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 2 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 1 (2021): PANGAN Vol. 29 No. 3 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 2 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 1 (2020): PANGAN Vol 29, No 1 (2020): PANGAN Vol. 28 No. 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 2 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 2 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 1 (2019): PANGAN Vol 27, No 3 (2018): Vol 27, No 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 3 (2018): PANGAN Vol 27, No 2 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 2 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 1 (2018): PANGAN Vol 27, No 1 (2018): PANGAN Vol 26, No 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 2 (2017): PANGAN Vol 26, No 2 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 1 (2017): PANGAN Vol 26, No 1 (2017): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 2 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 2 (2016): PANGAN Vol 25, No 1 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 1 (2016): PANGAN Vol 24, No 3 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 3 (2015): PANGAN Vol 24, No 2 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 2 (2015): PANGAN Vol 24, No 1 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 1 (2015): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 2 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 2 (2014): PANGAN Vol 23, No 1 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 1 (2014): PANGAN Vol. 22 No. 4 (2013): PANGAN Vol 22, No 4 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 3 (2013): PANGAN Vol 22, No 3 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 2 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 1 (2013): PANGAN Vol 22, No 1 (2013): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 3 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 3 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 2 (2012): PANGAN Vol 21, No 2 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 1 (2012): PANGAN Vol 21, No 1 (2012): PANGAN Vol 20, No 4 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 4 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 3 (2011): PANGAN Vol 20, No 3 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 2 (2011): PANGAN Vol 20, No 2 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 1 (2011): PANGAN Vol 20, No 1 (2011): PANGAN Vol. 19 No. 4 (2010): PANGAN Vol 19, No 4 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 3 (2010): PANGAN Vol 19, No 3 (2010): PANGAN Vol 19, No 2 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 2 (2010): PANGAN Vol 19, No 1 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 1 (2010): PANGAN Vol. 18 No. 4 (2009): PANGAN Vol 18, No 4 (2009): PANGAN Vol 18, No 3 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 3 (2009): PANGAN Vol 18, No 2 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 2 (2009): PANGAN Vol 18, No 1 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 1 (2009): PANGAN Vol 17, No 3 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 3 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 1 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 1 (2008): PANGAN Vol. 16 No. 1 (2007): PANGAN Vol 16, No 1 (2007): PANGAN Vol. 15 No. 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 1 (2006): PANGAN Vol. 15 No. 1 (2006): PANGAN More Issue