cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL PANGAN
ISSN : 08520607     EISSN : 25276239     DOI : -
Core Subject : Agriculture, Social,
PANGAN merupakan sebuah jurnal ilmiah yang dipublikasikan oleh Pusat Riset dan Perencanaan Strategis Perum BULOG, terbit secara berkala tiga kali dalam setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 807 Documents
Pemanfaatan Karotenoid Minyak Sawit Merah untuk Mendukung Penanggulangan Masalah Kekurangan Vitamin A di Indonesia Risna Dwi Maryuningsih; Budi Nurtama; Nur Wulandari
JURNAL PANGAN Vol. 30 No. 1 (2021): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v30i1.473

Abstract

Kekurangan vitamin A (KVA) merupakan kondisi gangguan kesehatan akibat tidak terpenuhinya kebutuhan vitamin A di dalam tubuh. KVA merupakan defisiensi mikronutien yang paling banyak terjadi di negara berkembang, termasuk di Indonesia. Asupan vitamin A yang tidak tercukupi dapat meningkatkan prevalensi terjadinya berbagai jenis penyakit yang dapat menyerang berbagai fungsi dari organ tubuh. Pemenuhan vitamin A melalui asupan pangan hewani sulit terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah sehingga diperlukan strategi pemenuhan vitamin A melalui pangan nabati yang dapat dijadikan sebagai sumber provitamin A. Minyak sawit merah merupakan produk hasil pemurnian minyak sawit dengan tetap mempertahankan kandungan karotenoidnya yang berperan penting sebagai sumber provitamin A alami. Pemanfaatan minyak sawit merah dalam pangan khususnya sebagai bahan fortifikan pangan dapat meningkatkan status vitamin A dan berperan dalam menanggulangi permasalahan kekurangan vitamin A. Artikel ini membahas permasalahan kekurangan vitamin A di Indonesia dan strategi penanggulangannya, potensi minyak sawit merah sebagai sumber provitamin A alami, serta strategi pemanfaatan minyak sawit merah sebagai fortifikan pangan dan suplemen kesehatan.
Reviu Jenis, Aspek Perlindungan dan Migrasi Bahan Kemasan dalam Pengemasan Minyak Nabati (Review of Types, Protection Aspects, and Migration of Packaging Materials in Packaging of Vegetable Oil) Hasrul Abdi Hasibuan
JURNAL PANGAN Vol. 29 No. 3 (2020): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v29i3.475

Abstract

ABSTRAK Pengemasan minyak nabati dan produknya seperti minyak goreng, minyak untuk salad, margarin, dan shortening bertujuan untuk melindungi minyak agar dapat menjangkau konsumen secara aman, sehat, dan tanpa mengurangi kualitasnya. Artikel ini bertujuan untuk mengulas jenis bahan kemasan untuk minyak nabati, aspek perlindungan bahan kemasan terhadap mutu minyak, dan migrasi bahan kemasan ke dalam produk minyak. Bahan kemasan yang umum digunakan untuk mengemas minyak nabati dan produknya adalah kaca, baja, pelat timah, dan bahan plastik seperti polyvinylchloride (PVC), polyethylene terephthalate (PET) dan high density polyethylene (HDPE). Bahan-bahan kemasan tersebut memiliki keunggulan dan kelemahan dalam pengemasan minyak nabati yang tergantung pada fungsinya agar mutu minyak stabil selama distribusi dan penyimpanan. Faktor-faktor yang memengaruhi stabilitas minyak dalam kemasan meliputi faktor internal (komposisi asam lemak dan komponen minor pada minyak nabati) dan faktor eskternal (oksigen, cahaya, suhu, dan waktu penyimpanan). Pemilihan bahan kemasan juga harus mempertimbangkan keamanan minyak dari kontaminan akibat migrasi dari bahan kemasan. Migrasi bahan kemasan dipengaruhi oleh jenis minyak, di mana migrasi total bahan kemasan sedikit lebih tinggi pada minyak yang mengandung asam lemak rantai pendek dan asam lemak tidak jenuh pada jumlah tinggi. kata kunci: kemasan, migrasi, minyak nabati, mutu, plastik ABSTRACT The packaging of vegetable oils and their products such as cooking oil, salad oil, margarine, and shortening aims to protect the oil from reaching consumers safely, healthily, and without reducing its quality. This article reviews the packaging materials types for vegetable oils, protection aspects of packaging material to oil quality, and packaging materials migration into oil products. Packaging materials commonly used to package vegetable oils are glass, steel, tin plates, and plastics such as polyvinylchloride (PVC), polyethylene terephthalate (PET), and high-density polyethylene (HDPE). Packaging materials have advantages and disadvantages in the packaging of vegetable oils depend on their functions, so the oil stable during distribution and storage. Factors that influence the package’s oil stability cover internal factors (fatty acid composition and minor components of vegetable oils) and external factors (oxygen, light, temperature, and storage time). Packaging material elections must also consider oil safety from contaminants due to packaging material migration. Packaging materials migration is also influenced by the type of oil, where packaging materials total migration is slightly higher in oils containing short-chain fatty acids and unsaturated fatty acids at high amounts. keywords: packaging, migration, vegetable oil, quality, plastic  
Tantangan dan Peran BULOG di Era Industri 4.0 Bachtiar Utomo
JURNAL PANGAN Vol. 29 No. 1 (2020): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v29i1.479

Abstract

The management of government food stocks, especially rice, corn, and soybean commodities carried out by BULOG as a state-owned enterprise mandated by the Government to maintain food security is still experiencing problems, including the policy implementation of non-cash food aid programs, policies that are still sectoral and BULOG’s own internal operations management.In addition, BULOG’s food management is also facing the presence of Industry 4.0 challenges. With this background, this paper aims to: (i) identify problems in food management in Indonesia (ii) analyze the roles and efforts of BULOG as a food institution institution mandated by the Government in maintaining food security, and (iii) examines the efforts made by BULOG in maintaining national food security in the Industry 4.0 Era. Some food-management problems in Indonesia, namely policies on management, development, and technology of food commodities, are only focused on rice; post-harvest technology has not been implemented well; inadequate transportation infrastructure and facilities; price volatility and low efficiency of the marketing system for food products. The roles and efforts undertaken by BULOG include the integration of government rice stock management, which is considered quite useful. For this reason, the integration of government rice stock management is recommended to be continued and increased in capacity. BULOG has not been effective in managing national corn and soybean commodities. Therefore, it is recommended that the policies/assignments given to BULOG are integrated from upstream to downstream sustainably. Some regulations issued by the Government through several ministries still do not support each other. For this reason, it is suggested that a Government institution be established to handle the food sector, which is under and reports directly to the President by the mandate of the Food Law. The application of modern logistics and the development of digital technology needs to be done by BULOG to maintain national food security in the Industry 4.0 Era. Coordination and commitment must be carried out consistently from all stakeholders to develop a variety of creativity, initiatives, and innovation as well as be able to maintain the quality, quantity, and existence of BULOG in facing the agricultural Industry 4.0 Era. Abstrak Pengelolaan stok pangan pemerintah khususnya komoditas beras, jagung dan kedelai yang dilakuan oleh BULOG selaku BUMN yang diamanatkan pemerintah untuk menjaga ketahanan pangan masih mengalami permasalahan, diantaranya penerapan kebijakan program bantuan pangan non tunai, kebijakan-kebijakan yang masih bersifat sektoral dan manajemen operasional BULOG sendiri. Selain itu, pengelolaan pangan yang dilakukan BULOG juga dihadapkan dengan tantangan hadirnya Revolusi Industri 4.0. Dengan latar belakang tersebut, tulisan ini bertujuan untuk : (i) mengidentifikasi permasalahan dalam pengelolaan pangan di Indonesia; (ii) menganalisis peran dan upaya yang telah dilakukan BULOG sebagai lembaga pangan yang diamanatkan Pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan; serta (iii) menelaah upaya yang dilakukan BULOG dalam menjaga ketahanan pangan nasional di Era Industri 4.0. Beberapa permasalahan pengelolaan pangan di Indonesia yaitu kebijakan pengelolaan, pengembangan dan teknologi komoditas pangan hanya terfokus pada beras; teknologi pasca panen belum diterapkan dengan baik; prasarana dan sarana transportasi belum memadai; ketidakstabilan harga dan rendahnya efisiensi sistem pemasaran hasil-hasil pangan. Peran dan upaya yang dilakukan BULOG di antaranya adalah integrasi pengelolaan stok beras pemerintah yang dinilai cukup efektif. Untuk itu integrasi pengelolaan stok beras pemerintah disarankan untuk diteruskan dan ditingkatkan kapasitasnya. BULOG belum efektif melakukan pengelolaan komoditas jagung dan kedelai nasional. Oleh karena itu, disarankan agar kebijakan/penugasan yang diberikan kepada BULOG terintegrasi dari hulu ke hilir bersifat keberlanjutan. Beberapa regulasi yang diterbitkan Pemerintah melalui kementerian masih belum saling mendukung antara satu dengan lainnya. Untuk itu, disarankan agar dibentuk lembaga Pemerintah yang menangani bidang pangan yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden sesuai amanat UU Pangan. Penerapan logistik modern dan pengembangan teknologi digital perlu dilakukan BULOG untuk menjaga ketahanan pangan nasional di Era Industri 4.0. Perlu dilakukan koordinasi dan komitmen yang konsisten dari seluruh stakeholder untuk mengembangkan berbagai kreativitas, inisiatif, dan inovasi, serta mampu menjaga kualitas, kuantitas dan eksistensi BULOG dalam menghadapi era industri pertanian 4.0.
Kajian Kelayakan Teknologi Usahatani Jagung di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah Feasibility Study of Corn Farm Technology in Kendal Regency, Central Java Elly Kurniyati; Renie Oelviani; Sodiq Jauhari
JURNAL PANGAN Vol. 29 No. 2 (2020): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v29i2.480

Abstract

AbstrakKebutuhan jagung nasional mengalami peningkatan yang signifikan, namun kebutuhan tersebut belum mampu diimbangi dengan peningkatan produksi sehingga perlu upaya perbaikan teknologi usahatani. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kelayakan dan perubahan teknologi  usahatani jagung, mengetahui peningkatan keuntungan usahatani jagung, dan titik impas produksi serta titik impas harga.  Kegiatan dilaksanakan di Desa Wirosari, Kecamatan Patean, Kabupaten Kendal pada Mei – September 2018.  Metode penelitian dengan demplot teknologi usahatani benih jagung seluas 1 ha dan pengamatan pada usahatani jagung konsumsi seluas 1 ha.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi usahatani benih jagung sebanyak 1.550 kg dan benih afkir 663 kg/ha, sedangkan usahatani jagung konsumsi menghasilkan produksi 6.300 kg/ha.  Dengan harga benih Rp 35.000/kg  dan harga jagung konsumsi Rp 4.000/kg maka keuntungan usahatani benih jagung Rp 39.911.000/ha (BCR = 2,35) dan keuntungan usahatani jagung konsumsi Rp 14.523.000/ha (BCR = 1,36). Untuk memproduksi benih jagung petani menambah biaya sebesar Rp 6.314.000 namun mendapatkan tambahan keuntungan Rp 25.388.000/ha dengan nisbah keuntungan bersih 2,75 %.  Tolerasi penurunan produksi dan harga adalah 69,10 % untuk usahatani benih jagung dan 57,63 % untuk usahatani jagung konsumsi.  Oleh karena itu untuk meningkatkan produksi dan keuntungan petani perlu adanya perubahan teknologi usahatani dan fasilitasi agar petani mudah mengakses benih jagung varietas unggul.  kata kunci: teknologi usahatani, benih jagung, jagung konsumsi AbstractNational corn needs have increased significantly, but these needs have not been able to be offset by increased production so it needs efforts to improve farming technology.  This study aimed to know feasibility and technological changes of corn farming, to know the increase in profits of corn farming, and the break-even point of production and price. The study was conducted in Wirosari Village, Patean Sub-District, Kendal District in Mei- September 2018. The study methods  used  1 ha demonstration plot of corn seed technology and 1 ha  observation of consumption corn farming technology.  The result showed that corn  seed farming production of 2,550 kg/ha, while consumption corn farming production of 6.300 kg/ha. The seed price Rp 35.000/kg and consumption corn price Rp 4.000/kg so profit from corn seed farming was IDR 39.911.000 (BCR = 2,35) and profit from consumption corn farming was IDR 14.523.000/ha. The corn seed farming needed additional cost IDR 6.314.000, but provide additional profit of IDR 25.388.000 with net profit ratio 2.75%. The tolerance of decrease in production and prices in corn seed farming was 69.10%  and in consumption corn farming was 57,63%. Therefore, to increase farmer’s production and profit need to changes in farming technology and facilitate farmer’s access to superior variety seed. keywords: farming technology, corn seed, consumption corn
Pengaruh Proses Pemasakan dan Penambahan Bahan Pengawet Terhadap Karakteristik Lemang Selama Masa penyimpanan Enny Sholichah; Rima Kumalasari; Nok Afifah; Novita Indrianti; Faradila Nurintan; Ari Rahayuningtyas; Titik Budiati
JURNAL PANGAN Vol. 29 No. 2 (2020): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v29i2.481

Abstract

Lemang termasuk pangan semi basah dengan umur simpan relatif pendek, dibuat dari beras ketan dan santan dalam seruas bambu dengan dilapisi daun pisang. Pemasakan lemang umumnya dengan cara dibakar hingga matang. Tujuan penelitian ini mengetahui umur simpan lemang pada 3 jenis proses pemasakan (kukus, rebus dan bakar) dengan 3 variasi penambahan bahan pengawet (kontrol, potassium sorbat dan asap cair). Parameter yang diamati selama penyimpanan pada suhu ruang adalah total bakteri (Total Plate Count) dan kapang/khamir; kadar air serta tekstur lemang meliputi hardness, adhesiveness, cohesiveness, gumminess, chewiness, springiness dan resilience. Disain penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang disusun secara faktorial dengan 3 faktor yaitu (A) proses pemasakan, (B) penambahan bahan pengawet, dan (C) waktu penyimpanan. Hasil penelitian ini memperoleh bahwa  masa simpan lemang kukus dengan penambahan potasium sorbat (250ppm) adalah yang terbaik berdasarakan nilai TPC dan Kapang-khamir yaitu selama 3 hari. Berdasarkan nilai kadar air, lemang bakar memiliki kadar air terendah. Tekstur lemang bakar paling keras dibandingkan lemang kukus dan rebus yang memiliki tekstur lebih lembek dan lengket
Dampak Penggunaan Alat dan Mesin Pertanian Pada Program Upaya Khusus (UPSUS) Terhadap Kinerja Sistem Produksi Padi Di Kabupaten Tegal (The Impact of the Utilization of Agricultural Equipment and Machinery on Rice Production in Tegal Regency) Franciscus Rudi Prasetyo Hantoro.
JURNAL PANGAN Vol. 29 No. 3 (2020): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v29i3.482

Abstract

ABSTRAK Salah satu implementasi Program Upaya Khusus (UPSUS) Peningkatan Produksi Padi Jagung Kedelai (Pajale) untuk mencapai swasembada pangan yaitu melalui pemberian bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) yang diharapkan dapat meningkatkan produksi, produktivitas, dan Indeks Pertanaman (IP) padi. Bantuan alsintan pada program UPSUS diberikan berdasarkan atas asas pemerataan. Penggunaan alsintan pada berbagai agroekosistem memiliki dampak hasil yang berbeda. Penelitian bertujuan untuk menganalisis perbedaan dampak penggunaan alat dan mesin pertanian program UPSUS terhadap produksi, produktivitas, dan indeks pertanaman padi di agroekosistem dataran rendah dan dataran tinggi di Kabupaten Tegal. Metode penelitian menggunakan metode survei dan penarikan sampel dilakukan teknik stratified random sampling. Pemilihan lokasi secara purposive. Lokasi pengambilan sampel yaitu Kecamatan Warureja untuk mewakili dataran rendah dan Kecamatan Bojong untuk mewakili dataran tinggi. Analisis data yang digunakan yaitu Uji Kruskal Wallis. Hasil analisis menunjukkan bahwa penggunaan alsintan telah meningkatkan produksi, produktivitas dan IP padi pada agroekosistem dataran rendah dan dataran tinggi di Kabupaten Tegal. Tidak ada perbedaan yang signifikan dalam peningkatan produksi dan produktivitas padi di dataran rendah dan dataran tinggi. Perbedaan yang signifikan dari penggunaan alsintan bantuan ditemukan pada peningkatan IP padi yang hanya di daerah dataran tinggi. Secara umum penggunaan alsintan bantuan berdampak positif terhadap peningkatan produksi, produktivitas, dan IP padi di Kabupaten Tegal. kata kunci: alsintan, produksi, produktivitas, indeks pertanaman, program UPSUS. ABSTRACT One of the Special Effort Program (UPSUS) is to increase rice, corn, and soybeans (Pajale) to achieve food self-sufficiency, namely agricultural equipment and machinery assistance is expected to increase production, productivity, and rice planting indexes.  Agricultural equipment and machinery assistance in the special effort program is provided based on the principle of equity. The use of agricultural equipment and machinery in different agroecosystems has different yield impacts. This study is aimed to analyze the differences in the impact of the utilization of agricultural equipment and machinery in  the great Effort Program on production, productivity, and rice planting index in lowland and upland agroecosystems in Tegal Regency. This research method used survey methods, and sampling was done by using the stratified random sampling technique. The research location was selected purposively. The sampling locations were Warureja Sub District to represent the lowlands and Bojong Sub District to represent the highlands. The data were  using the Kruskal Wallis Test. The analysis results showed that the utilization of agricultural tools and machinery hadincreased the production, productivity, and planting index between lowland and upland agroecosystems in Tegal Regency. There are no significant differences in rice production and productivity after the utilization of agricultural equipment and machinery in the lowland and highland areas. A significant difference in the use of assisted agricultural equipment and machinery was n the increase in the rice planting index, which only occurred in upland areas.  In general, the use of assisted agricultural equipment and machinery has a positive impact on increasing rice production, productivity, and the rice planting index in Tegal Regency. keywords: agricultural equipment and machinery, production, productivity, planting index, great effort programs.    
Efek Konsumsi Beras Sagu Terhadap Perubahan Antropometri Pada Responden Sehat Bambang Hariyanto
JURNAL PANGAN Vol. 29 No. 2 (2020): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v29i2.487

Abstract

AbstrakIndonesia merupakan penghasil sagu kedua terbesar di seluruh dunia. Diversifikasi sagu dengan menjadikan beras analog untuk dikonsumsi pada orang sehat sebagai makanan pokok untuk pengaturan diet. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh konsumsi beras sagu pada relawan sebagai makanan sehat untuk mengetahui parameter berat badan dan Indeks Massa Tubuh (IMT), serta persen lemak tubuh dan visceral. Metoda yang dilakukan adalah dengan memberikan nasi sagu terhadap relawan selama satu bulan sebagai makan siang pengganti nasi putih dan diamati perubahan berat badan, IMT, persen lemak tubuh dan visceral. Setelah 4 minggu perubahan konsumsi makanan pokok dari beras ke beras sagu didapatkan hasil penelitian bahwa beras sagu yang dikonsumsi minimal 1x per hari sebagai makanan pokok mampu menunjukkan penurunan secara signifikan parameter antropometri seperti berat badan (-0,39 kg), IMT (-0,18 kg/m2) dan lemak visceral (-0,20%). Hasil kegiatan ini memberikan alternative pilihan pendamping beras sebagai makanan pokok yang mungkin lebih baik dalam pengontrolan berat badan. Hal ini menjadi data penguat bahwa makanan pokok mungkin tidak harus berasal dari nasi padi tetapi terdapat alternatif lainnya yaitu beras sagu yang dapat mengontol dan menurunkan berat badan.AbstractIndonesia is the second largest producer of sago worldwide. Analog rice from sago, a diversification strategy as a staple food for dietary needs, is necessary to be done and applied in the society. The purpose of this study was to determine the effect of analog sago rice consumption in healthy subjects on body weight parameters and Body Mass Index (BMI), as well as body and visceral fat percentage. The method was to provide sago rice to volunteers for one month as a lunch substitute for white rice and observe changes in body weight, BMI, percent body fat and visceral. After 4 weeks of treatment, applying a change of staple foods from white rice to sago rice in daily consumption, it was found that consumption sago rice at least 1x per day as staple food was able to show a significant reduction in anthropometric parameters such as body weight (-0.39 kg), BMI (-0, 18 kg / m2) and visceral fat (-0.20%). The results of this study provide an alternative choice of staple food that may be better for controlling weight. This study  becomes the reinforcing data that staple foods may not have to come from rice, but there are other alternatives, sago rice that can control and lose weight.
Pengembangan Formula Sereal Sarapan Berbasis Beras Hitam Pecah Kulit, Kacang Merah dan Wijen (Development of Breakfast Cereal Formula Based on Unpolished Black Rice, Red Beans and Sesame) Slamet Budijanto
JURNAL PANGAN Vol. 29 No. 3 (2020): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v29i3.490

Abstract

ABSTRAK Beras hitam (Oryza sativa L.) pecah kulit mengandung senyawa fenolik yang memiliki potensi antioksidan. Kacang merah (Phaseolus vulgaris L.) memiliki kandungan protein yang tinggi, sedangkan wijen (Sesamum indicum L.) banyak disukai karena aromanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan formula sereal sarapan terbaik dengan bahan baku beras hitam pecah kulit, kacang merah, dan wijen. Formula terbaik dipilih berdasarkan sifat fisik dan uji hedonik. Rancangan percobaan yang digunakan yaitu rancangan acak lengkap (RAL) dengan faktor kombinasi kacang merah (0 persen; 5 persen; 10 persen) (b/b) dan wijen (0 persen; 5 persen; 10 persen) (b/b) terhadap sifat fisik sereal sarapan (derajat pengembangan, indeks penyerapan air, indeks kelarutan air, kekerasan, kerenyahan) dan uji hedonik. Formula sereal sarapan terbaik dihasilkan pada penambahan 5 persen tepung kacang merah dan 10 persen wijen. Sereal sarapan terbaik memiliki rata-rata total senyawa fenolik sebesar 0,177 mg GAE/g. Kandungan proksimat sereal sarapan antara lain kadar air sebesar 7,79 persen (bb), kadar abu sebesar 2,15 persen (bb), kadar protein sebesar 10,21 persen (bb), kadar lemak sebesar 2,15 persen (bb), dan kadar karbohidrat sebesar 77,70 persen (bb). Penambahan tepung kacang merah meningkatkan jumlah protein pada sereal sarapan. Sereal sarapan termasuk produk sereal sarapan rendah lemak.   kata kunci: beras hitam, fenol, kacang merah, sereal sarapan, wijen. ABSTRACT Unpolished black rice (Oryza sativa L) contains phenolic compounds and fiber, which have antioxidant potential. Red beans (Phaseolus vulgarises L) have high protein content, while sesame seed (Sesamum indicum L.) has high popularity due to its good odor. This study aimed to develop breakfast cereals from dehulled black rice, red beans, and sesame seed based on their physical properties and the hedonic test. The experimental design applied was the completely randomized design, i.e. combination of red beans addition (0 percent; 5 percent; 10 percent, ww) and sesame seed (0 percent; 5 percent; 10 percent, ww) toward expansion index, water absorption index, water solubility index, hardness, crispness, and hedonic score. The best breakfast cereal formula was shown by adding 5 percent red beans and 10 percent sesame seeds. Cereal had an average of total phenolic compounds 0,177 mg GAE/g. The proximate content of cereals included 7,79 percent moisture content (ww), 2,15 percent ash content (ww), 10,21 percent protein content (ww), 2,15 percent fat content (ww), and 77,70 percent carbohydrate content (ww). The addition of red beans flour increased the amount of protein in cereals. The final cereal product made could be categorized as a low-fat cereal.  keywords: black rice, cereals, phenol, red beans, sesame
Efisiensi Proses Produksi dan Karakteristik Tempe dari Kedelai Pecah Kulit (Production Process Efficiency and Characteristic of Tempe from Dehulled Soybean) Intan Kusumawati; Made Astawan; Endang Prangdimurti
JURNAL PANGAN Vol. 29 No. 2 (2020): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v29i2.492

Abstract

Tempe merupakan salah satu pangan fermentasi yang dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Proses produksinya diperoleh secara turun-temurun, sehingga sangat beragam antar wilayah dan antar perajin.  Salah satu keragaman pada pembuatan tempe adalah penggunaan kedelai pecah kulit sebagai bahan bakunya. Tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan efisiensi proses produksi dan karakteristik tempe yang terbuat dari kedelai pecah kulit dan kedelai utuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses produksi tempe dari kedelai pecah kulit cenderung lebih efisien dibandingkan tempe dari kedelai utuh, yaitu masing-masing dengan B/C 1,89 dan 1,88. Produksi tempe dari kedelai pecah kulit secara nyata mengurangi komponen biaya untuk penggunaan tenaga kerja dan air per batch produksi. Uji T menunjukkan tempe yang terbuat dari kedelai utuh mempunyai kadar air, abu, protein, aroma, daya iris dan kekerasan yang nyata lebih tinggi (p<0,05) dibandingkan tempe dari kedelai pecah kulit. Akan tetapi, tidak terdapat perbedaan yang nyata antar kedua tempe pada kadar lemak, karbohidrat, isoflavon (daidzein dan genistein), dan atribut warna.Tempe is a popular fermented food in Indonesia which the production process is obtained by generations, so it is very varies between regions and producers. One of the variations is use dehulled soybean as raw material. The purpose of this study was to compare the production process efficiency and characteristics of tempe from dehulled soybean and whole soybean. The results of study showed that production process of tempe from dehulled soybean was tends more efficient than tempe from whole soybean, with B/C ratio were 1,89 and 1,88. Production process of tempe from dehulled soybean significantly reduced the cost for labor and water per bacth production. Based on the T-test, tempe from whole soybean more higher (p<0,05) in moisture, ash, and protein contents, aroma and texture than tempe from dehulled soybean. Besides that, tempe from dehulled soybean had fat and isoflavone (daidzein and genistein) contents, and color as high as whole soybean tempe.
Produktivitas Tumpangsari Kedelai dengan Jagung pada Akhir Musim Hujan di Lahan Kering Beriklim Kering (Productivity of Soybean Intercropping with Maize at the End of Rainy Season in Dry Land with Dry Climate ) Afandi Kristiono; Siti Muzaiyanah; Dian Adi Anggraeni Elisabeth; Arief Harsono
JURNAL PANGAN Vol. 29 No. 3 (2020): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v29i3.495

Abstract

ABSTRAK Luas panen kedelai di Indonesia pada 2017 hanya mencapai 355.799 ha dengan produksi 538.728 ton. Untuk mencapai swasembada, luas panen tersebut harus dapat ditingkatkan menjadi 1,2 juta ha dengan produktivitas 1,6 ton/ha. Peningkatan luas panen kedelai dapat dilakukan pada lahan kering dan iklim kering yang pemanfaatannya belum maksimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi produktivitas dan kelayakan teknis paket teknologi budidaya kedelai tumpang sari dengan jagung di lahan kering beriklim kering. Penelitian dilaksanakan pada musim hujan (MH) 2017/2018 di Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur pada zona iklim D3 (3–4 bulan basah/tahun) dengan jenis tanah vertisol, mengikuti pola tanam padi gogo – jagung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cara tanam tumpang sari kedelai dengan jagung baris ganda setelah panen padi gogo, mampu memberikan hasil biji jagung kering 2,03 ton/ha dan kedelai 1,50 ton/ha. Cara tanam ini lebih menguntungkan daripada tanam jagung atau kedelai monokultur yang berturut-turut memberikan hasil 3,50 ton/ha dan 1,85 ton/ha biji kering. Hasil kedelai dan jagung pada saat penelitian tidak maksimal karena selama pertumbuhan curah hujan hanya 194 mm, sehingga tanaman terutama jagung mengalami cekaman kekeringan. Keuntungan usahatani kedelai monokultur, jagung monokultur, dan kedelai tumpang sari dengan jagung berturut-turut adalah Rp8.633.500,00; Rp5.039.400,00; dan Rp11.090.600,00 per ha. Tumpang sari kedelai dengan jagung mampu memanfaatkan lahan lebih efisien dengan Nilai Kesetaraan Lahan (NKL) 1,39. kata kunci: jagung, kedelai, lahan kering beriklim kering, tumpang sari ABSTRACT Soybean harvested area in Indonesia in 2017 only reached 356,799 ha with a total production of 538,728 tons. To achieve self-sufficiency, the harvested area must be increased to 1.2 million ha with a productivity of 1.6 tons/ha. To increase the harvested area, soybean can be developed in a dry land with dry climate that has not been utilized optimally. The study aimed to evaluate the productivity and technical feasibility of soybean intercropping with maize in a dry land with a dry climate. The study was conducted in the rainy season of 2017/2018 at Tegaldlimo Sub-district, Banyuwangi Regency, East Java Province in the D3 climate zone (3–4 wet months/year) at vertisol soil using the cropping pattern of upland rice-maize.The results indicated that soybean is intercropping with maize in a double row after upland rice harvesting was able to provide the dry seeds yield of maize 2.03 tons/ha and soybean 1.50 tons/ha. This planting method was more profitable compared to maize monoculture yielding 3.50 tons/ha or soybean monoculture yielding 1.85 tons/ha dry seeds yield. The yields of soybean and maize in the study were not optimal due to low precipitation to only 194 mm during the plant growth, so the crops, particularly the maize experienced drought stress. The benefits of soybean monoculture, maize monoculture, and soybean intercropping with maize farming were 8,633,500 IDR, 5,039,400 IDR, and 11,090,600 IDR per ha, respectively. The soybean intercropping with maize was also able to utilize land more efficiently with a Land Equivalent Ratio (LER) of 1.39. keywords: maize, soybean, dry land with dry climate, intercropping

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 34 No. 2 (2025): PANGAN Vol. 34 No. 1 (2025): PANGAN Vol. 33 No. 3 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 2 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 1 (2024): PANGAN Vol. 32 No. 3 (2023): PANGAN Vol. 32 No. 1 (2023): PANGAN Vol. 31 No. 3 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 2 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 1 (2022): PANGAN Vol. 30 No. 3 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 2 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 1 (2021): PANGAN Vol. 29 No. 3 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 2 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 1 (2020): PANGAN Vol 29, No 1 (2020): PANGAN Vol. 28 No. 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 2 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 2 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 1 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol 27, No 3 (2018): Vol 27, No 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 2 (2018): PANGAN Vol 27, No 2 (2018): PANGAN Vol 27, No 1 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 1 (2018): PANGAN Vol. 26 No. 3 (2017): PANGAN Vol 26, No 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 2 (2017): PANGAN Vol 26, No 2 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 1 (2017): PANGAN Vol 26, No 1 (2017): PANGAN Vol. 25 No. 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 2 (2016): PANGAN Vol 25, No 2 (2016): PANGAN Vol 25, No 1 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 1 (2016): PANGAN Vol 24, No 3 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 3 (2015): PANGAN Vol 24, No 2 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 2 (2015): PANGAN Vol 24, No 1 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 1 (2015): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 2 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 2 (2014): PANGAN Vol 23, No 1 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 1 (2014): PANGAN Vol. 22 No. 4 (2013): PANGAN Vol 22, No 4 (2013): PANGAN Vol 22, No 3 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 3 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 1 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 1 (2013): PANGAN Vol. 21 No. 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 3 (2012): PANGAN Vol 21, No 3 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 2 (2012): PANGAN Vol 21, No 2 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 1 (2012): PANGAN Vol 21, No 1 (2012): PANGAN Vol. 20 No. 4 (2011): PANGAN Vol 20, No 4 (2011): PANGAN Vol 20, No 3 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 3 (2011): PANGAN Vol 20, No 2 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 2 (2011): PANGAN Vol 20, No 1 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 1 (2011): PANGAN Vol. 19 No. 4 (2010): PANGAN Vol 19, No 4 (2010): PANGAN Vol 19, No 3 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 3 (2010): PANGAN Vol 19, No 2 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 2 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 1 (2010): PANGAN Vol 19, No 1 (2010): PANGAN Vol 18, No 4 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 4 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 3 (2009): PANGAN Vol 18, No 3 (2009): PANGAN Vol 18, No 2 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 2 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 1 (2009): PANGAN Vol 18, No 1 (2009): PANGAN Vol 17, No 3 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 3 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 1 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 1 (2008): PANGAN Vol. 16 No. 1 (2007): PANGAN Vol 16, No 1 (2007): PANGAN Vol. 15 No. 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 1 (2006): PANGAN Vol. 15 No. 1 (2006): PANGAN More Issue