cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL PANGAN
ISSN : 08520607     EISSN : 25276239     DOI : -
Core Subject : Agriculture, Social,
PANGAN merupakan sebuah jurnal ilmiah yang dipublikasikan oleh Pusat Riset dan Perencanaan Strategis Perum BULOG, terbit secara berkala tiga kali dalam setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 807 Documents
DUKUNGAN PUPUK ORGANIK UNTUK MEMPERBAIKI KUALITAS TANAH PADA PENGELOLAAN PADI SAWAH RAMAH LINGKUNGAN A Wihardjaka
JURNAL PANGAN Vol. 30 No. 1 (2021): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v30i1.496

Abstract

Pupuk organik memegang peranan penting dalam pengelolaan pertanian tanaman pangan secara terpadu, seiring dengan program prioritas peningkatan produksi dan produktivitas komoditas pangan strategis. Sebagai andalan penyediaan pangan, tanah sawah di Indonesia umumnya mengandung bahan organik tanah rendah dimana lebih dari 65% tanah sawah irigasi dengan bahan organik kurang dari 2%. Rendahnya kandungan bahan organik dalam tanah menjadi salah satu faktor penurunan produktivitas padi di lahan sawah. Penggunaan pupuk organik dalam konsep pemupukan berimbang bersifat multifungsi, antara lain memasok hara esensial, memperbaki produktivitas dan kualitas tanah pada lahan yang selalu diberikan pupuk anorganik, meningkatkan cadangan karbon, dan menurunkan dampak perubahan iklim. Pemberian pupuk organik di lahan sawah tadah hujan seperti kompos jerami meningkatkan produktivitas padi sawah 5,4-9,0% dan serapan kalium 0,07-0,28 gram K per tanaman, serta menurunkan emisi metana sebesar 38,05%. Dorongan implementasi penggunaan pupuk organik di masyarakat perlu digalakan dan sekaligus dilakukan pengawasan mutu agar dapat meminimalkan gangguan terhadap lingkungan
Daya Saing dan Proteksi Kebijakan Pemerintah terhadap Kedelai Domestik di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah (The Competitiveness and Government Policies Protection to Domestic Soybeans in Grobogan Regency, Central Java) Chanifah chanifah; Dewi Sahara; Joko Triastono
JURNAL PANGAN Vol. 29 No. 3 (2020): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v29i3.505

Abstract

ABSTRAK Kedelai domestik lebih aman dikonsumsi dibandingkan kedelai transgenik, serta memiliki kadar protein lebih tinggi dibanding kedelai impor. Pengembangan kedelai domestik masih prospektif, namun daya saing kedelai domestik terhadap kedelai impor semakin berat akibat melimpahnya kedelai impor. Kebijakan pemerintah berupa input-output diharapkan mampu melindungi kedelai domestik agar mampu berdaya saing. Penelitian ini untuk menganalisis daya saing kedelai domestik serta tingkat proteksi kebijakan pemerintah terhadap kedelai domestik di Kabupaten Grobogan. Penelitian dilaksanakan di sentra produksi kedelai, yaitu Desa Panunggalan, Kecamatan Pulokulon, Kabupaten Grobogan. Data penelitian diperoleh melalui survei terhadap 30 petani kedelai pada bulan April 2019. Data primer adalah data usahatani kedelai yang ditanam pada awal musim hujan tahun 2017/2018. Data dianalisis menggunakan Policy Analysis Matrix (PAM). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa usahatani kedelai domestik di Kabupaten Grobogan terbukti memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif dengan nilai PCR 0,88 dan DRCR 0,92. Kebijakan pemerintah terhadap output, input dan output-input pada usahatani kedelai domestik bersifat memproteksi kedelai domestik dan menguntungkan petani sehingga petani memperoleh surplus lebih tinggi. Kebijakan pemerintah berupa subsidi diharapkan dapat meningkatkan daya saing kedelai domestik menjadi lebih kuat. kata kunci: Daya Saing, Kedelai, PAM Analisis. ABSTRACT Domestic soybeans are safer to consume than transgenic soybeans and have higher protein content than imported soybeans. Domestic soybean development is still prospective, but domestic soybeans' competitiveness is getting more massive due to the abundance of imported soybeans. Government policy in the form of input-output is expected to protect domestic soybeans from being competitive. This research analyzes the competitiveness and level of protection of government policies on domestic soybeans in Grobogan Regency. The research was conducted in soybean production centers, which is Panunggalan Village, Pulokulon District, Grobogan Regency. The research data was obtained through a survey of 30 soybean farmers in April 2019. Primary data is data on soybean farming planted at the beginning of the 2017/2018 rainy season. Data analyzed using the Policy Analysis Matrix (PAM). The results indicate that domestic soybean farming in Grobogan Regency is proven to have comparative and competitive advantages with PCR values 0.88 and DRCR 0.92. Government policy on output, input, and output-input of domestic soybean farming protects domestic soybeans and benefits farmers to get a higher surplus. Government policy in the form of subsidies is expected to strengthen the competitiveness of domestic soybeans. keywords: competitiveness, soybean, PAM analysis.
RESPON PEMBERIAN PUPUK HAYATI TERHADAP PENINGKATAN PRODUKTIVITAS KEDELAI DI LAHAN RAWA PASANG SURUT Jumakir Villa
JURNAL PANGAN Vol. 30 No. 1 (2021): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v30i1.513

Abstract

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan pupuk hayati dan mencari jenis pupuk hayati yang efektif untuk tanaman kedelai di lahan rawa pasang surut. Pengkajian dilaksanakan di Kelurahan Simpang, Kecamatan Berbak, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi pada musim kemarau (Mei-Agustus) 2016 seluas 10 ha, dengan tipologi lahan sulfat masam potensial dan tipe luapan air C. Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), perlakuan empat pupuk hayati (Agrimeth, Provibio, Kedelai Plus, Agrisoy) dan kontrol tanpa pupuk hayati (cara petani) dengan 5 ulangan. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa pemberian pupuk hayati memperbaiki pertumbuhan dan hasil kedelai pada lahan rawa pasang surut sebesar 0,25 – 0,70 t/ha atau 15,15 %  – 33,33 % dibanding tanpa pupuk hayati. Pupuk hayati yang paling efektif adalah Provibio yang diindikasikan oleh hasil kedelai tertinggi 2,10 t/ha. 
Karakterisasi Sifat Fisikokimia dan Fungsional Beras Pecah Kulit Berpigmen dan Tanpa Pigmen Budi suarti; sukarno sukarno; ardiansyah ardiansyah; slamet budijanto
JURNAL PANGAN Vol. 30 No. 1 (2021): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v30i1.515

Abstract

Beras pecah kulit kaya dengan kandungan gzi dan komponen bioaktif  yang bermanfaat terhadap kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi perbedaan karakterisasi sifat fisikokimia, fungsional, dan aktivitas penghambatan α-glukosidase beras pecah kulit non pigmen (Mentik wangi susu), dan pigmen (Cempo merah dan Jowo melik). Beras pecah kulit yang digunakan mentik wangi susu, cempo merah dan jowo melik, analisis yang dilakukan yaitu warna, proksimat, amilosa, total fenol, antosianin, antioksidan,  dan inhibisi α-glukosidase. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kandungan total senyawa fenolik dan antosianin, lebih tinggi pada beras pecah kulit berpigmen daripada beras non pigmen dengan hasil tertinggi pada varietas Jowo melik. Aktivitas antioksidan varietas Cempo merah lebih tinggi dibandingkan varietas Jowo melik, dan Mentik wangi susu. Parameter nilai inhibisi α-glukosidase (IC50), varietas Cempo merah memiliki aktivitas inhibitor  α-glucosidase yang lebih tinggi daripada varietas Jowo melik, dan Mentik wangi susu dengan nilai masing-masing yaitu 231,66 ppm, 1175,89 ppm, dan 46314 ppm. Penelitian ini menunjukkan bahwa beras merah varietas Cempo merah berpotensi untuk dijadikan pertimbangan dalam pengembangan produk pangan bagi penderita diabetes.
PENINGKATAN PRODUKSI MELALUI PENGGUNAAN VARIETAS UNGGUL BARU PADA USAHATANI BAWANG MERAH Apresus - sinaga; Abdul - Rajab; AndiFaisal - suddin; Amisnaipa - -
JURNAL PANGAN Vol. 30 No. 1 (2021): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v30i1.521

Abstract

Bawang merah (Allium ascalonicum) merupakan salah satu sektor pertanian yang memegang peranan penting dan strategis secara nasional. Tujuan penelitian untuk mendapatkan informasi produktivitas tanaman serta melihat respon dan hasil analisis kelayakan usahatani bawang merah. Kegiatan dilaksanakan pada lahan petani di Desa Bonto Karaeng, Kecamatan Sinoa,  Kabupaten Bantaeng Provinsi Sulawesi Selatan pada bulan Januari – Desember 2019. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive). Perlakuan yang dicobakan untuk melihat perbedaan hasil bawang merah antara varietas super filips, mentes, trisula dan varietas lokal bantaeng. Data dianalisis secara deskritip, untuk melihat respon petani dilakukan wawancara menggunakan kuisioner. Untuk mengetahui tingkat kelayakan usahatani dilakukan analisi R/C ratio dan analisis Marginal B/C ratio. Selanjutnya dilakukan pendekatan untuk menghitung tingkat titik impas produksi dan titik impas harga. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata produksi bawang merah tertinggi varietas super filips sebesar 116,04%, disusul varietas mentes sebesar 80,38% dan varietas trisula sebesar 71,54%, dibandingkan varietas lokal bantaeng. Nilai rasio terhadap biaya pada semua tanaman bawang merah memperoleh nilai R/C > 1 dan nilai rasio keuntungan terhadap biaya yang nilai B/C > 1 didapat pada tanaman bawang merah varietas super filips, mentes dan trisula, sedangkan bawang merah varietas lokal bantaeng menunjukkan nilai B/C < 1. Secara finansial dan manfaat ekonomi tanaman bawang merah varietas super filips, mentes dan trisula sudah layak dikembangkan dan menguntungkan dengan tingkat keuntungan berturut-turut sebesar 78,82%, 32,80% dan 21,39% dari total biaya yang dicurahkan. Usahatani bawang merah dilokasi penelitian mempunyai daya saing yang cukup tinggi karena memiliki titik impas produksi (TIP) dan titik impas harga (TIH) lebih rendah dari nilai aktual harga dan nilai aktual produksi
Identifikasi Pengaruh Dosis Pemupukan Trichokompos terhadap Fase Awal Pertumbuhan Tanaman Jagung Ungu Antioksidan (Identification of the Trichocompost Fertilizer Dose Effect on the Early Growth of Purple Corn Anthocyanins) Andi Ayu Nurnawati
JURNAL PANGAN Vol. 29 No. 3 (2020): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v29i3.524

Abstract

ABSTRAK Jagung ungu merupakan salah satu dari beberapa varian warna jagung pulut yang belum begitu dikenal oleh masyarakat namun kaya akan manfaat. Penilitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis pupuk trichokompos terhadap variabel pengamatan diantaranya persentase tumbuh tanaman, tinggi tanaman, jumlah daun dan luas daun pada fase awal pertumbuhan tanaman jagung ungu. Persentase tumbuh tanaman diamati pada 7 hari setelah tanam kemudian tinggi tanaman, jumlah daun dan luas daun diamati pada 14 hari setelah tanam. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 5 perlakuan dosis pupuk trichokompos (0 ton/ha, 20 ton/ha, 25 ton/ha, 30 ton/ha dan 35 ton/ha) yang diulang sebanyak 5 kali. Analisis data menggunakan sidik ragam dan dilanjutkan dengan uji BNJ (Uji Lanjut Tukey), apabila diperoleh hasil yang berpengaruh beda nyata pada perlakuan yang diujikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dosis pupuk trichokompos berpengaruh nyata pada variabel pengamatan jumlah daun di mana dosis pupuk trichokompos 25 ton/ha menunjukkan nilai tertinggi. kata kunci: jagung ungu, trichokompos, pertumbuhan awal ABSTRACT Purple corn is one of several colour variants of pulut corn that is not well known by the public but it has many benefits. This study was aimed to determine the effect of trichocompost fertilizer dosage on the observed variables, that were the percentage of plant growth, plant height, number of leaves, and leaf area in the early stages of purple corn plants' growth. Percentage of plant growth at 7 days after planting then plant height, number of leaves and leaf area were observed at 14 days after planting. The research method used a randomized block design with 5 doses of trichocompost fertilizer (0 tons/ha, 20 tons/ha, 25 tons/ha, 30 tons/ha, and 35 tons/ha) with five replications. The results showed that the dosage treatment of trichocompost had a significant effect (p<0.05) on the number of leaves where the trichocompost fertilizer dose of 25 tons/ha  showed the highest one. keywords: purple corn, trichocompost, early growth.
Keragaan Pertumbuhan dan Hasil Tiga Varietas Padi Pada Rekomendasi Pemupukan Yang Berbeda SODIQ JAUHARI
JURNAL PANGAN Vol. 30 No. 1 (2021): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v30i1.525

Abstract

Peningkatan produktifitas dan kualitas hasil padi dapat dilakukan melalui penggunaan VUB yang bermutu dan aplikasi pemupukan spsifik lokasi.  Kegiatan penelitian di lahan petani MT 2016/2017 tepatnya di Desa Rowoboni, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang.  Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan acak kelompok lengkap dengan 3 ulangan. Perlakuan tiga padi VUB yaitu V1= Inbrida Inpari JT-6, V2=  Hibrida Hipa C-5 dan V3= varietas lokal (Umbul) dan  Tiga macam pupuk rekomendasi spesifik lokasi yaitu P1=Permentan No 40 2007, P2=pupuk rekomendasi hasil PUTS , P3=pemupukan rekomendasi kebiasaan petani. Hasil analisis sidik ragam  perlakuan pemberian pupuk rekomendasi berpengaruh tidak nyata terhadap semua parameter pertumbuhan dan hasil pada varietas yang sama, namun memberikan pengaruh  yang berbeda nyata antar varietas terhadap parameter tinggi tanaman, jumlah anakan, umur berbunga dan hasil.  Rekomendasi pemupukan PUTS memberikan perbedaan nyata antar varietas terhadap jumlah anakan produktif dengan hasil tertinggi padi Inbrida Inpari JT-6  16,10 batang dan hasil GKG sejumlah 7,4 t/ha . Sehingga ada peningkatan produktifitas 5,71 persen atau 0,4 ton/ha GKG. Rekomendasi pemupukan PUTS mampu memberikan tingkat penghematan  penggunaan pupuk Urea sejumlah 58,41 kg/ha  (29,2 persen), pupuk SP-36 sejumlah 112,5 kg (59,7 persen) dan pupuk KCl sejumlah 10 kg (20 persen) dibanding pemupukan kebiasaan petani. 
INTEGRASI PASAR AYAM BROILER DI SENTRA PRODUKSI DAN PASAR INDONESIA Jojo Jojo; Harianto Harianto; Rita Nurmalina; Dedi Budiman Hakim
JURNAL PANGAN Vol. 30 No. 1 (2021): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v30i1.526

Abstract

Ayam broiler  merupakan salah satu komoditas strategis yang tumbuh pesat, dihasilkan subsektor peternakan. Permasalahan umum pemasaran ayam broiler antara lain fluktuasi harga dan kompetisi pasar terhadap harga ayam antar pedagang besar antar kota menyebabkan terjadinya keterkaitan harga ayam satu kota dengan kota lainnya, antar peternak dan pedagang eceran. Tujuan penelitian ini  untuk mengkaji integrasi pasar  ayam broiler Jawa Barat dan pasar Indonesia.  Data yang digunakan merupakan data sekunder  time series bulanan, yaitu 72 bulan, periode  Januari 2014 – Desember 2019. Data dianalisis menggunakan pendekatan model VAR (Vector Autoregression). Hasil analisis menunjukkan bahwa  pasar  ayam broiler Jawa Barat tidak memiliki integrasi dengan pasar Indonesia baik dalam jangka panjang ataupun jangka pendek. Broiler chickens are a strategic commodity that is growing rapidly, produced by the livestock sub-sector. General problems of broiler chicken marketing include price fluctuations and market competition on chicken prices among wholesalers between cities, causing a linkage between the price of chickens from one city to another, between breeders and retail traders. The purpose of this study was to examine the integration of the West Java broiler market and the Indonesian market. The data used are secondary monthly time series data, namely 72 months, for the period January 2014 - December 2019. The data were analyzed using the VAR (Vector Autoregression) model approach. The results of the analysis show that the West Java broiler chicken market does not have integration with the Indonesian market either in the long or short term.  
Reposisi BULOG dalam Rencana Pembentukan Badan Pangan Nasional (Repositioning of BULOG in The Formation Plan of National Food Agency ) Sonya Mamoriska
JURNAL PANGAN Vol. 29 No. 3 (2020): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v29i3.528

Abstract

ABSTRAK Selama ini peran regulator pangan di Indonesia dijalankan oleh beberapa Kementerian yang berbeda-beda, akibatnya kebijakan pangan menjadi terpilah-pilah di beberapa Kementerian/Lembaga (K/L), dan sering tumpang tindih, sehingga Perum BULOG selaku operator pangan harus berkoordinasi dan bertanggung jawab kepada banyak K/L. Kondisi tersebut menyebabkan berbagai kendala dalam pelaksanaan penugasan, baik dari sisi operasional maupun sisi finansial.  Tulisan ini bertujuan untuk : (i)  memberikan gambaran terkait penugasan, peran dan kendala yang dihadapi  BULOG sebagai lembaga pangan yang diamanatkan Pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan khususnya pada  komoditas beras; (ii) mereviu model kelembagaan pangan di negara lain ; dan (iii) Menganalisis berbagai skenario atas reposisi peran dan fungsi Perum BULOG dalam rencana pembentukan Badan Pangan Nasional di masa mendatang. Pemerintah menugaskan Perum BULOG dalam menjaga ketersediaan pangan dan stabilisasi harga pangan di tingkat konsumen dan produsen pada beberapa pangan pokok. Kendala yang dihadapi BULOG dalam pelaksanaan penugasan, baik dari segi operasional  maupun finansial, yaitu:  Pertama, BULOG harus  mengeluarkan banyak energi, waktu dan koordinasi yang intensif dan melakukan pengendalian sepanjang rantai nilai.  Kedua,  BULOG kesulitan dalam perencanaan dan pelaksanaan karena efektivitas stabilisasi pangan mensyaratkan pemanfaatan alur distribusi yang mapan. Ketiga,  penugasan penyerapan dan penyediaan stok kebutuhan pangan tidak didukung pendanaan dari pemerintah. Hal tersebut  akan mempersulit BULOG, karena BULOG harus menanggung beban  atas  beras PSO yang dikelolanya.  Dalam rencana pembentukan BPN, pembelajaran kunci terhadap lembaga pangan di negara lain seperti Cina, India, Filipina, Malaysia, Thailand, Vietnam, Norwegia, dan Denmark yaitu terdapat pemisahan yang jelas antara regulator dan operator dalam pelaksana bidang pangan. Regulator pangan bertanggung jawab langsung ke Presiden dan operator pangan bertanggung jawab langsung pada satu lembaga independen atau kementerian yang berada di bawah presiden dan memberikan masukan secara aktif kepada regulator. Dalam kaitan dengan itu, ada tiga opsi model pembentukan Badan Pangan Nasional (BPN): Pertama, BULOG ditransformasikan menjadi BPN. Pada opsi pertama tidak terdapat pemisahan antara regulator dan operator, dan lembaga operator hanya dapat melakukan penugasan PSO, tidak termasuk bisnis komersial. Sebagai konsekuensinya pemerintah harus menyediakan anggaran yang relatif lebih besar untuk keperluan biaya penugasan dan operasional lembaga. Kedua, transformasi BPN dari organ kementerian sedangkan BULOG tetap sebagai BUMN. Kelembagaan BULOG sebagai BUMN operator pangan tidak berubah. Ketiga, BULOG sebagai operator di bawah BPN, dengan pemisahan yang jelas antara fungsi regulator dan operator. Fungsi kelembagaan BULOG sebagai BUMN di bawah kendali BPN akan lebih diperkuat sehingga lebih mendukung upaya pencapaian target penugasan yang diberikan oleh BPN. kata kunci : BULOG, Operator, Regulator, ketahanan pangan, Badan Pangan Nasional   ABSTRACT The food regulator's role in Indonesia has been carried out by several different Ministries so far. As a result, food policies have has become fragmented in several Ministries/ Agencies. It often overlaps, so that Perum BULOG, as the food operator, must coordinate and be responsible to many Ministers/agencies. This condition causes all problems and various obstacles in implementing assignments both on operational and financial sides. This paper aims to: (i) Provide an overview of the assignments, roles, and constraints faced by BULOG as a food institution mandated by the Government in maintaining food security, especially in rice commodities; (ii) Review different models of food institutions in other countries; (iii) Analyze various scenarios for repositioning the roles and functions of Perum BULOG in the formation plan of the National Food Agency in the future. The Government has assigned Perum BULOG to maintain food availability and stabilize several staple food prices both at the consumer and producer levels. Several obstacles faced by BULOG in implementing assignments both on operational and financial sides, including first, BULOG must spend a lot of time, energy, and intensive coordination and control along the value chain. Second, BULOG has difficulties in planning and implementation due to the effectiveness of food stabilization requires the use of an established distribution channels. Third, the assignment of the required food procurement and distribution is not supported by government funding. These problems have created difficulties for BULOG since BULOG has to bear the financial consequences of public service obligation costs it manages. In the formation plan of BPN, a key lesson for food institutions in other countries such as China, India, Philippines, Malaysia, Thailand, Vietnam, Norway, and Denmark is that there is a clear separation between regulators and operators in implementing the food sector. Food regulators are directly responsible to the President and food operators are directly responsible to an independent agency or ministry under the President and provide active inputs to regulators. In this regard, there are three model options for the formation of the National Food Agency (BPN). First, BULOG is transformed into BPN. In this option, there is no separation between the regulator and the operator, and the operator agency can only carry out PSO assignments, but not including commercial business. Consequently, the Government must provide a relatively larger budget for the institution's assignment and operational costs. Second, the transformation of the BPN from the ministry's organs while BULOG remains as a State Owned Enterprise. BULOG's institution as a state-owned food operator has not changed. Third, BULOG as an operator under BPN, with a clear separation between regulator and operator functions. The institutional role of BULOG as a State Owned Enterpirse under the control of BPN will be further strengthened to support further efforts to achieve the assignment targets given by BPN. keywords: BULOG, Operators, Regulators, food security, National Food Agency
Stabilitas Beras Analog Berdasarkan Pola Kadar Air Kesetimbangan Yose Rizal Kurniawan; Novriaman Pakpahan; Y. Aris Purwanto; Nanik Purwanti; Slamet Budijanto
JURNAL PANGAN Vol. 30 No. 2 (2021): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v30i2.522

Abstract

Salah satu informasi penting yang harus diketahui dalam mendistribusikan produk pangan dari gudang penyimpanan hingga ke tangan konsumen adalah stabilitas produk pangan selama penyimpanan. Salah satu cara untuk menggambarkan stabilitas produk pangan adalah melalui kurva isotermi sorpsi air (ISA) yang memperlihatkan pola kadar air kesetimbangan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan model matematika yang tepat menggambarkan isotermi sorpsi air dari beras analog. Pemodelan tersebut digunakan untuk menduga umur simpan beras analog melalui pendekatan kadar air kritis. Larutan garam jenuh yang digunakan untuk memperoleh kurva ISA beras analog antara lain NaOH, CH3COOK, MgCl2, KI, NaCl, KCl dan BaCl2. Model matematika yang digunakan untuk menggambarkan kurva ISA beras analog adalah model GAB, Oswin, Halsey, Chen-Clayton, Henderson, Caurie dan Smith. Berdasarkan nilai MRD maka model GAB adalah model matematika yang paling sesuai menggambarkan kurva ISA beras analog. Nilai kadar air kritis beras analog sebesar 15.24 % bk. Perhitungan pendugaan umur simpan beras analog yang disimpan di dalam plastik polipropilen dan plastik nilon masing-masing adalah 1 tahun 10 bulan dan 3 tahun 3 bulan.

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 34 No. 2 (2025): PANGAN Vol. 34 No. 1 (2025): PANGAN Vol. 33 No. 3 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 2 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 1 (2024): PANGAN Vol. 32 No. 3 (2023): PANGAN Vol. 32 No. 1 (2023): PANGAN Vol. 31 No. 3 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 2 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 1 (2022): PANGAN Vol. 30 No. 3 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 2 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 1 (2021): PANGAN Vol. 29 No. 3 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 2 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 1 (2020): PANGAN Vol 29, No 1 (2020): PANGAN Vol. 28 No. 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 2 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 2 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 1 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol 27, No 3 (2018): Vol 27, No 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 3 (2018): PANGAN Vol 27, No 2 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 2 (2018): PANGAN Vol 27, No 1 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 1 (2018): PANGAN Vol. 26 No. 3 (2017): PANGAN Vol 26, No 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 2 (2017): PANGAN Vol 26, No 2 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 1 (2017): PANGAN Vol 26, No 1 (2017): PANGAN Vol. 25 No. 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 2 (2016): PANGAN Vol 25, No 2 (2016): PANGAN Vol 25, No 1 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 1 (2016): PANGAN Vol 24, No 3 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 3 (2015): PANGAN Vol 24, No 2 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 2 (2015): PANGAN Vol 24, No 1 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 1 (2015): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 2 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 2 (2014): PANGAN Vol 23, No 1 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 1 (2014): PANGAN Vol. 22 No. 4 (2013): PANGAN Vol 22, No 4 (2013): PANGAN Vol 22, No 3 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 3 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 1 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 1 (2013): PANGAN Vol. 21 No. 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 3 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 3 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 2 (2012): PANGAN Vol 21, No 2 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 1 (2012): PANGAN Vol 21, No 1 (2012): PANGAN Vol 20, No 4 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 4 (2011): PANGAN Vol 20, No 3 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 3 (2011): PANGAN Vol 20, No 2 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 2 (2011): PANGAN Vol 20, No 1 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 1 (2011): PANGAN Vol. 19 No. 4 (2010): PANGAN Vol 19, No 4 (2010): PANGAN Vol 19, No 3 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 3 (2010): PANGAN Vol 19, No 2 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 2 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 1 (2010): PANGAN Vol 19, No 1 (2010): PANGAN Vol 18, No 4 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 4 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 3 (2009): PANGAN Vol 18, No 3 (2009): PANGAN Vol 18, No 2 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 2 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 1 (2009): PANGAN Vol 18, No 1 (2009): PANGAN Vol 17, No 3 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 3 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 1 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 1 (2008): PANGAN Vol. 16 No. 1 (2007): PANGAN Vol 16, No 1 (2007): PANGAN Vol. 15 No. 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 1 (2006): PANGAN Vol. 15 No. 1 (2006): PANGAN More Issue