cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL PANGAN
ISSN : 08520607     EISSN : 25276239     DOI : -
Core Subject : Agriculture, Social,
PANGAN merupakan sebuah jurnal ilmiah yang dipublikasikan oleh Pusat Riset dan Perencanaan Strategis Perum BULOG, terbit secara berkala tiga kali dalam setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 807 Documents
Pengembangan Terigu (Triticum aestivum) Lokal Tati Nurmala
JURNAL PANGAN Vol. 18 No. 3 (2009): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v18i3.235

Abstract

Selera makan masyarakat Indonesia telah terkondisikan mengarah ke pangan hasil olahan yang praktis, hygienis, dan cepat saji yang sebagian besar diperoleh dari bahan baku tepung terigu. Keistimewaan tepung terigu dibandingkan tepung-tepung serealia lain adalah proteinnya tinggi dan mengandung gluten yang dapat memberi daya kembang pada adonan sehingga menjadi tepung yang serbaguna (allpurpose). Namun demikian, gluten kurang bagus untuk penderita autis. Gluten hampir tidak ditemukan di tepung-tepung yang lain, sehingga peranannya di tepung terigu tidak mudah tergantikan. Di sisi lain, Indonesia merupakan lima negara terbesar pengimpor terigu. Padahal, gandum dapat tumbuh di dataran tinggi Indonesia (zona frost) dengan produktivitas yang semakin prospektif tergantung waktu tanam yang tepat dan kesungguhan petani dan fasilitas dari penguasa daerahnya, misalnya di daerah Malang dan Pasuruan (Jawa Timur), Salatiga (Jawa Tengah), Arjasari dan Cikancung (Jawa Barat). Dengan kondisi input produksi yang tidak optimal ("ceb lur") hasil panen telah dapat mencapai 2,5 ton/ha, karena gandum memiliki keunggulan anatomi serta fisiologi yaitu umurnya pendek dan memiliki ekor lemna yang memanjang yang berfungsi untuk menyerap kadar uap air di atmosfir, sehingga kebutuhan air setelah fase reproduktif dipenuhi dari kabut dan kelembaban udara yang tinggi, sehingga dikatakan tahan kekeringan dibandingkan tanaman dataran tinggi lainnya. Pengembangan tanaman terigu di daerah zona frost dapat memberi tambahan kegiatan usaha pada musim tanam ke 3 dimana produktivitas tanaman lain lebih rendah karena kekeringan dan lebih lama umurnya, tentunya dengan memperhatikan konservasi tanah untuk keberlanjutan usaha tani.
Pengeringan Lapisan-Tipis Irisan Singkong Menggunakan Pengering (Infrared Thin-Layer Drying Of Cassava Chips Using Infrared Dryer) Nok Afifah; Ari Rahayuningtyas; Aidil Haryanto; Seri Intan Kuala Intan Kuala
JURNAL PANGAN Vol. 24 No. 3 (2015): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v24i3.237

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi karakteristik pengeringan lapisan-tipis irisan singkong dengan menggunakan pengering inframerah pada skala pilot untuk memenuhi kebutuhan usaha kecil dan menengah. Penelitian dilakukan pada dua tingkat temperatur “set-point” yaitu 50oC dan 60oC. Irisan singkong sebanyak 6 kg dengan kadar air awal 60–68 persen pada basis basah dikeringkan dalam pengering menjadi kadar air 14 persen. Setiap 30 menit, udara pengering diukur temperaturnya dan irisan singkong yang dikeringkan dianalisis kadar airnya. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa waktu pengeringan lebih cepat dengan peningkatan temperatur set-point dan sekitar 44–62 persen kadar air teruapkan selama pengeringan 3-4 jam. Berkaitan dengan kinetika pengeringan, dua buah model matematika diujikan terhadap data eksperimen. Ditemukan bahwa model Page lebih dapat mempresentasikan pola pengeringan irisan singkong dibandingkan model Henderson-Pabis.This study is aimed to evaluate the characteristics of the thin-layer drying of cassava chips using a pilot scale infrared dryer to meet the needs of small and medium enterprises. The drying experiments are carried out at two levels of temperature set-points viz. 50 and 60°C respectively. Every 30-minute the drying air temperature is measured and the chips is analyzed for its moisture content. Cassava chips with 6 kg weight and 60–68 percent moisture content on wet basis is dried in the dryer. It is found that the drying time decreases with an increase in temperature set point and approximately 44–62 percent of the moisture is removed during the drying for 3-4 hours. With regard to drying kinetics, two commonly used mathematical models sre examined with the experimental data. It is found that the Page model provides a good fit between the experimental and predicted moisture ratio values compared to that of Henderson-Pabis model. 
Akselerasi Implementasi Hasil Penelitian dan Pengembangan untuk Swasembada Kedelai (Acceleration of Implementation of Research and Development Results for Soybean Self-Supporting) Suyanto Pawiroharsono
JURNAL PANGAN Vol. 24 No. 3 (2015): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v24i3.238

Abstract

Program swasembada kedelai telah berlangsung lebih dari dua dekade, namun sampai dengan tahun 2014, belum dapat diwujudkan. Berbagai permasalahan mendasar belum dapat diselesaikan, sehingga produksi kedelai justru cenderung menurun dan impor terus meningkat. Penelitian dan pengembangan kedelai sudah banyak dilakukan dan telah menghasilkan teknologi dan produk teknologi yang berpotensi untuk mendukung peningkatan produksi kedelai. Teknologi dan produk teknologi yang dimaksud utamanya adalah benih unggul dan pupuk hayati. Sejumlah benih unggul (sekitar 25 varietas) berpotensi untuk produksi kedelai dengan produktivitas lebih dari 2,5 ton per hektar, dan mempunyai sifat toleran terhadap berbagai cekaman di lahan sub-optimal dan akibat perubahan iklim. Demikian pula berbagai jenis pupuk hayati dan pupuk organik yang secara khusus diperuntukkan untuk peningkatan produksi kedelai di berbagai jenis lahan sub-optimal. Namun kenyataan di lapangan teknologi dan produk teknologi tersebut baru sedikit yang dapat diimplementasikan di tingkat petani dan digunakan untuk produksi komersial. Oleh karena itu, diperlukan akselerasi implementasi hasil litbang melalui media intermediasi yang dapat memfasilitasi terciptanya jalinan komunikasi, kerjasama antar pihak-pihak terkait, yaitu peneliti, petani, mitra usaha dan pemerintah untuk bersinergi dalam upaya peningkatan produksi kedelai dan swasemda kedelai. Pola budidaya kedelai ke depan perlu diarahkan pada pola budidaya yang ekonomis dan maju yang antara lain menerapkan model “estate crop” di lahan sub-optimal yang didukung dengan mekanisasi yang memadai.Soybean self-supporting programs have been carried out for more than two decades, however, they were just realized in 2014. A number of basic constraints (such as functional shift of soybean field, and availability of superiority of soybean seeds) have not been overcome, so that the soybean production tends to decline and the soybean import tends to increase. A lot of research and development programs have been done and have resulted in potential technologies and technological products, which are potencially increasing soybean productivity. The technologies and technological products are mainly superior soybean seeds and biofertilizers. A number of superior soybean seeds (about 25 varieties) are potential to produce more than 2.5 ton per hectar, and are tolerant vis a vis to many types of stresses in sub-optimal land and climate changes. Several biofertilizers and organic ferlilizers are also specially used for soybean plant productivity in sub-optimal land. In fact, the technologies and technological product are still limited to be implemented by soybean farmers and to be used in commercial production. Consequently, the implementation of research and development needs to be accelerated by intermediation which could facilitate networking, communication and collaboration among stakeholders (researchers, farmers, enterpreneurs and government) for sinergizing in increasing soybean productivity and soybean selfsupporting. Further, the soybean farming should be done to economic farming model in form of “estate crop” in sub-optimal land and supported by appropriate mechanization.
Pengendalian Hama dengan Pengelolaan Agroekosistem dalam Kerangka Pertanian Berkelanjutan untuk Mendukung Ketahanan Pangan R.R. Rukmowati Brotodiojo
JURNAL PANGAN Vol. 18 No. 3 (2009): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v18i3.241

Abstract

Pangan merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia, sehingga ketersediaannya menjadi prioritas bagi suatu bangsa. Usaha peningkatan produksi pangan untuk mengimbangi laju pertumbuhan penduduk terus dilakukan. Intensifikasi pertanian pada pertanian modern dengan menggunakan masukan eksternal tinggi, walaupun meningkatkan produksi pertanian secara signifikan ternyata membawa dampak negatif bagi lingkungan. Keberlanjutan sistem pertanian modern tersebut untuk peningkatan produksi pangan diragukan sehingga perlu dikembangkan sistem pertanian yang berwawasan lingkungan. Sistem pertanian berkelanjutan akan dapat menjamin ketersediaan pangan dalam jangka panjang tanpa tanpa mengorbankan kepentingan generasi mendatang untuk mendapatkan lingkungan yang sehat. Salah satu bentuk pengelolaan agroekosistem yang mengikuti prinsip pertanian berkelanjutan adalah tumpangsari (polikultur). Tumpangsari dapat meningkatkan efisiensi penggunaan tanah dan meningkatkan produktivitas lahan. Selain itu diversitas tanaman meningkat sehingga lingkungan pertanian menjadi lebih stabil. Serangan hama yang menjadi faktor pembatas produksi pertanian dapat dikendalikan dengan mengelola agroekosistem sehingga tidak cocok bagi kehidupan hama tetapi sesuai sebagai lingkungan hidup musuh alami hama. Salah satu bentuk pengelolaan hama yang sesuai dengan prinsip pertanian berkelanjutan adalah dengan pengendalian hayati melalui konservasi musuh alami. Agar konservasi musuh alami dapat berjalan dengan baik perlu dipahami interaksi tritrofik antara tanaman, hama dan musuh alaminya.
Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Multi-kualitas: Pengalaman Negara Lain dan Gagasan untuk Indonesia M. Husein Sawit
JURNAL PANGAN Vol. 18 No. 3 (2009): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v18i3.242

Abstract

Pemerintah telah mengimplementasikan kebijakan HPP gabah/beras satu jenis kualitas yaitu medium, sejak awal 1970an. Hampir setiap tahun, insentif harga melalui HPP dinaikkan, namun tidak banyak kaitannya dengan kualitas gabah/beras dan penguatan industri penggilingan padi. Sejumlah negara produsen padi di Asia telah lama menerapkan HPP/harga dasar multi-kualitas, sehingga petani dan penggilingan padi terdorong untuk meningkatkan kualitas gabah dan beras sesuai dengan tingkat insentifnya. Tujuan makalah ini adalah memperlihatkan HPP/harga dasar gabah/beras multi kualitas di sejumlah negara lain di Asia, serta kemungkinan penerapannya di Indonesia. Pada masa mendatang, kenaikan HPP dan pengadaan BULOG dianjurkan multi-kualitas. Pada tahap awal, cukup 2 jenis kualitas yaitu medium dan premium, sehingga tidak terlalu sulit untuk diimplementasikan. HPP ditetapkan sesuai dengan kualitas, yaitu lebih tinggi untuk HPP kualitas premium dibandingkan dengan HPP kualitas medium. Ini dapat mendorong peningkatan pengadaan DN (dalam negeri), disamping peningkatan kualitas gabah/beras. Dalam jangka menengah/panjang, petani produsen akan merespons untuk memperbaiki kualitas gabah dengan menggunakan benih bermutu, mekanisasi panen dan perontokan gabah. Penggilingan padi (PP) akan terdorong untuk mempercepat pengembangan pengeringan mekanis (dryers), dan mempercepat peralihan dari PP kecil/menengah ke PP modern. Kebijakan ini perlu pula dilengkapi dengan skim kredit dan insentif fiskal dalam kerangka modernisasi PP/percepatan perubahan teknologi panen/pasca panen.
Makanan sebagai Sumber dan Media Gangguan Kesehatan: Pentingnya.Se//'Care Fachmi Idris
JURNAL PANGAN Vol. 18 No. 3 (2009): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v18i3.243

Abstract

Dalam perspektif terjadinya gangguan kesehatan, terbukti bahwamakanan merupakan salah satu media penyebaran penyakit, baik penyakit menular (paling banyak) maupun tidak menular. Sehingga di dalam kesehatan masyarakat dikenal istilah penyakit yang disebarkan melalui makanan dan air (waterand food borne diseases), contoh aktualnya Enterobacter Sakazakiiyang mengkontaminasi susu formula sebagai penyebab infeksi sistemik pada neonatus yang rentan. Seringkali fakta bagaimana dan kapan gangguan kesehatan dapat timbul akibat makanan tidak disampaikan secara jelas sehingga menimbulkan kegelisahan. Tidak terinformasikan-misalnya bakteri-yang masuk tubuh harus memenuhi sejumlah syarat tertentu untuk dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Syarat tersebut meliputi adanya: 1) temporal sequence; 2) consistency; 3) strength of association; 4) specificity of effect; 5) proofof causation; 6) collateral evidence and biological plausibility; serta 7) biological gradient (dose response). Kasus-kasus gangguan kesehatan secara umum, maupun secara khusus yang terkait dengan makanan, pada dasarnya dapat dikeloia dengan baik. Masyarakat sebagaimana yang diharapkan World Health Organization harus "...do for themselves to establish and maintain health, prevent and deal with illness..." dan memiliki "...behaviour where individuals, families, neighborhoods and communities undertakepromotive, preventive, curative and rehabilitative actions to enhance their health..". Dalam bahasa lain, masyarakat harus dapat memelihara kesehatan dirinya (self care). Mengingat masyarakat bersentuhan setiap hari dengan makanan, prinsip-prinsip self care mesti ditumbuhkan sebagai upaya menjaga kesehatan dirinya. Melaluipendekatan self care penyakit-penyakit-yang ada kaitannya dengan makanan, khususnya makanan sebagai penyebab penyakit kronis /rrevers/o/e-dapat dicegah.
Isotlavon Kedelai sebagai Antikanker Made Astawan; Andi Early Febrinda
JURNAL PANGAN Vol. 18 No. 3 (2009): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v18i3.244

Abstract

Kedelai telah menjadi makanan sehari-hari penduduk Asia, termasuk Indonesia. Kedelai merupakan sumber utama isoflavon. Konsumsi isoflavon pada sebagian besar negara Asia adalah 25-45 mg/orang/hari. Jepang merupakan negara yang konsumsi isoflavonnya tertinggi di dunia, yaitu 200 mg/orang/hari. Di negara-negara Barat konsumsinya kurang dari 5 mg/orang/hari. Beberapa tahun terakhir ini, muncul peringatan tentang bahaya konsumsi kedelai dan hasil olahannya, khususnya dalam literatur populer seperti artikel koran dan majalah, serta beberapa situs tidak resmi di internet. Informasi tersebut umumnya berasal dari penerjemahan yang salah atas hasil-hasil studi yang lemah dan kurang mendasar. Sesungguhnya di dalam kedelai terkandung berbagai komponen yang mempunyai sifat antikanker, seperti: inhibitor protease, fitat, saponin, fitosterol, asam lemak omega-3, dan isoflavon. Isoflavon saat ini banyak diteliti karena potensinya dalam mencegah dan mengatasi berbagai gangguan kesehatan, khususnya kanker. Beberapa mekanisme dasar isoflavon sebagai antikanker adalah: anti-estrogen, penghambatan aktivitas enzim penyebab kanker, aktivitas antioksidan, dan peningkatan fungsi kekebalan sel. Tulisan ini mengulas peranan isoflavon kedelai sebagai zat antikanker. Produk kedelai yang mengandung isoflavonoid berperan dalam pencegahan beberapa jenis kanker seperti kanker payudara, kanker prostat, kanker paru-paru, kanker kolon, dan kanker endometrial. Konsentrasi senyawa ini dalam plasma dapat dengan mudah mencapai level aktif secara biologis tanpa efek racun. Melalui efek penghambatan faktor dan angiogenesis, genistein dapat menjadi penghambat umum dalam pertumbuhan kanker. Melalui modulasi transport obat, genistein dapat menjadi additive yang baik untuk menyempurnakan terapi kanker. Efek biologis yang digambarkan dapat juga digunakan sebagai strategi pencegahan bagi penyakit lain seperti kardiovaskulerdan osteoporosis melalui efek estrogenik dan antioksidatif yang dimilikinya.
Agrobisnis Jamur Tiram sebagai Usaha Yang Mampu Menopang Ekonomi Keluarga Mad Yamin
JURNAL PANGAN Vol. 18 No. 3 (2009): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v18i3.245

Abstract

Jamur Tiram (Pleurotus ostreatus) memiliki nilai jual yang relatif tinggi. Halini karena kandungan senyawa yang bermanfaat pada jamur tiram membuat penggunaannya tidak hanya sebatas untuk bahan makanan bahkan telah meluas menjadi bahan baku obatobatan (Cahyana et at, 2004). Sebuah perusahaan jamur tiramskala menengah ke atas dapat memproduksi jamur tiram rata rata 650 kg jamur tiram segar per hari, sedangkan perusahaan jamur tiramdalam skala menengah ke bawah mampu memproduksi rata rata 100-250 kg jamur tiram segar perharinya (Suria wiria, 2001). Prospek melakukan bisnis jamur tiram di Indonesia sangat cerah, karena kondisi alam dan lingkungan Indonesiasangat cocok untuk budidayajamur. Selain itu permintaan pasar akan jamur tiram di Indonesia sangat tinggi sedangkan ketersediaan akan jamurtiram tersebut masih belum memenuhi, sebagai contoh, untuk daerah Jakarta, Bogor, Tangerang dan Depok menurut manajer pemasaran sebuah perusahaan jamur tiram di desa Pandansari, kecamatan Ciawi tiap harinya memerlukan 40 ton jamur tiram segar, sedangkan perusahaannya hanyamampu memproduksi jamurtiram segar setiap harinya sebesar1 ton.Langkah awaldalam memulai bisnis jamurtiram adalah memahami budidaya jamur tiram, selanjutnya fokus pada pembesaran saja, yaitu dengan membangun sebuah kumbung jamur, lalu menjadi petani plasma, bergabung dengan petani jamur tiram inti yang sudah menguasai proses pembibitan jamur yang baik kualitasnya, serta menguasai pemasarannya. Langkah selanjutnya adalah meningkatkan pemasaran, sekaligus menguasai budidaya jamur tiram secara keseluruhan sambil mulai membangun diri sebagai petani jamur tiram inti dengan mengembangkan petani plasma jamur tiram setelah mampu menguasai budidaya jamur dan pemasarannya, bukan hanya pasarlokal, bahkan pasar internasional, karena jamurtiram sangat disukai di Jepang, Taiwan, Singapore, TimurTengah, Amerika dan Australia. Memulai bisnis jamur tiram dengan pembesaran 10,000 baglog miselium jamur tiram akan dihasilkan sebanyak 4 ton jamur tiram segar dalam satu periode pembesaran jamur tiram, yaitu sekitar 4 bulan dan akan memberikan keuntungan yang mampumenambah penghasilan setiap bulannya.
Mekanisasi Usahatani Budidaya Tebu Lahan Kering Gatot Pramuhadi
JURNAL PANGAN Vol. 18 No. 3 (2009): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v18i3.246

Abstract

Komoditi gula pasir senantiasa dibutuhkan oleh masyarakat, baik dalam skala rumah tangga maupun industri. Saat ini harga gula pasir cukup tinggi hingga kurang lebih Rp 9500,00/kg sehingga komoditi ini senantiasa diusahakan oleh pabrik-pabrik gula yang ada di Indonesia dengan cara membudidayakan tebu secara efektif dan efisien. Suatu studi diperlukan guna mempelajari efektivitas dan efisiensi pengolahan tanah, serta usahatani budidaya tebu lahan kering sehingga dapat dihitung keuntungan maksimum. Hasil studi di areal kebun tebu lahan kering dengan jenis tanah Ultisol milik PT Gula Putih Mataram, Sugar Group Company, Lampung Tengah pada bulan September 2002 hingga Agustus 2003 menunjukkan bahwa tindakan pengolahan tanah efektif menyebabkan kondisi sifat fisik tanah (densitas tanah) mencapai optimum rata-rata sebesar 1.30 g/cc untuk pertumbuhan tebu maksimum sehingga diperoleh produktivitas tebu (TCH) dan produktivitas gula (TSH) maksimum sebesar 63.08 ton/ha dan 7.30 ton/ha. Tindakan pengolahan tanah efisien menghasilkan waktu dan biaya pengolahan tanah minimum sebesar 0.64 jam/ha dan Rp 57673,00/ha. Pengolahan tanah efektif menghasilkan keuntungan sementara maksimum sebesar Rp 34966034,00/ha. Metode "subsoiling-plowing-harrowing-furrowing" merupakan metode pengolahan tanah optimum pada budidaya tebu lahan kering dengan jenis tanah Ultisol.  
Penggunaan Paket Boom Padi terhadap Peningkatan Hasil Panen dan Mutu Beras beberapa Varietas Padi Sarlan Abdulrachman
JURNAL PANGAN Vol. 18 No. 3 (2009): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v18i3.247

Abstract

Penelitian telah dilakukan di Kebun Percobaan Sukamandi pada Musim Hujan (MH) 2008/2009 menggunakan rancangan split plot dengan 3 ulangan. Padi varietas inbrida (Ciherang) dan padi hibrida (lntani-2) ditempatkan sebagai petak utama dan perlakuan Boom Padi sebagai anak petak. Paket Boom Padi terdiri dari 3 komponen, yaitu Recor 250EC, Bigest 40EC, dan Multi NPK Padi. Tujuh tingkat pemberian Boom Padi yang dikombinasikan dengan pupuk NPK dosis rekomendasi, satu pembanding menggunakan pupuk NPK, dan satu tanpa pupuk (kontrol) dijadikan perlakuan anak petak. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa: (1) Pemberian paket Boom Padi dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman padi. Namun demikian untuk mendapatkan produksi yang optimal masih diperlukan tambahan pupuk NPK sesuai dosis rekomendasi, (2) Dengan 2-3 kali aplikasi Boom Padi (30, 40, dan 60 hst) dapat diperoleh hasil 5,86 t/ha dan 8,32 t/ha, masing-masing jika diberikan tanpa dan disertai dengan pupuk NPK, atau berturut-turut ada kenaikan 14,90% dan 63,14% dibanding kontrol. Sedangkan kenaikan hasil terhadap pemupukan rekomendasi NPK (R) adalah berkisar antara 12,35-17,06%, (3) Pemberian Boom Padi meningkatkan densitas gabah, redemen beras giling danmenurunkan persentase gabah hampa, beras patah dan butir rusak, dan (4) Padi hibrida lntani-2 produksinya 6,38% lebih tinggi dari varietas inbrida Ciherang. Namun demikian mutu gabah dan mutu beras yang dihasilkan lebih rendah, terutama pada komponen menir yang persentasenya masih tinggi.

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 34 No. 2 (2025): PANGAN Vol. 34 No. 1 (2025): PANGAN Vol. 33 No. 3 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 2 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 1 (2024): PANGAN Vol. 32 No. 3 (2023): PANGAN Vol. 32 No. 1 (2023): PANGAN Vol. 31 No. 3 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 2 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 1 (2022): PANGAN Vol. 30 No. 3 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 2 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 1 (2021): PANGAN Vol. 29 No. 3 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 2 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 1 (2020): PANGAN Vol 29, No 1 (2020): PANGAN Vol. 28 No. 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 3 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 2 (2019): PANGAN Vol 28, No 2 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 1 (2019): PANGAN Vol 27, No 3 (2018): Vol 27, No 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 2 (2018): PANGAN Vol 27, No 2 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 1 (2018): PANGAN Vol 27, No 1 (2018): PANGAN Vol 26, No 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 3 (2017): PANGAN Vol 26, No 2 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 2 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 1 (2017): PANGAN Vol 26, No 1 (2017): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 2 (2016): PANGAN Vol 25, No 2 (2016): PANGAN Vol 25, No 1 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 1 (2016): PANGAN Vol 24, No 3 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 3 (2015): PANGAN Vol 24, No 2 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 2 (2015): PANGAN Vol 24, No 1 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 1 (2015): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 3 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 2 (2014): PANGAN Vol 23, No 2 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 1 (2014): PANGAN Vol 23, No 1 (2014): PANGAN Vol 22, No 4 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 4 (2013): PANGAN Vol 22, No 3 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 3 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 1 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 1 (2013): PANGAN Vol. 21 No. 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 3 (2012): PANGAN Vol 21, No 3 (2012): PANGAN Vol 21, No 2 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 2 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 1 (2012): PANGAN Vol 21, No 1 (2012): PANGAN Vol. 20 No. 4 (2011): PANGAN Vol 20, No 4 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 3 (2011): PANGAN Vol 20, No 3 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 2 (2011): PANGAN Vol 20, No 2 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 1 (2011): PANGAN Vol 20, No 1 (2011): PANGAN Vol 19, No 4 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 4 (2010): PANGAN Vol 19, No 3 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 3 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 2 (2010): PANGAN Vol 19, No 2 (2010): PANGAN Vol 19, No 1 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 1 (2010): PANGAN Vol. 18 No. 4 (2009): PANGAN Vol 18, No 4 (2009): PANGAN Vol 18, No 3 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 3 (2009): PANGAN Vol 18, No 2 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 2 (2009): PANGAN Vol 18, No 1 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 1 (2009): PANGAN Vol 17, No 3 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 3 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 1 (2008): PANGAN Vol 17, No 1 (2008): PANGAN Vol 16, No 1 (2007): PANGAN Vol. 16 No. 1 (2007): PANGAN Vol. 15 No. 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 2 (2006): PANGAN Vol. 15 No. 1 (2006): PANGAN Vol 15, No 1 (2006): PANGAN More Issue