cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif
ISSN : 18584837     EISSN : 2598019X     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif, diterbitkan oleh Pusat Informasi dan Pembangunan Wilayah (PIPW) yang berada di bawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret Surakarta, berisi tulisan tentang hasil penelitian, gagasan konseptual dan resensi buku dalam lingkup perencanaan wilayah dan kota serta perencanaan partisipatif. Jurnal terbit dua kali setahun pada bukan Januari dan Juli. Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif menerima tulisan ilmiah dalam bidang yang relevan dengan permasalahan tentang perencanaan wilayah dan kota serta pembangunan daerah.
Arjuna Subject : -
Articles 17 Documents
Search results for , issue "Vol 17, No 1 (2022)" : 17 Documents clear
Dampak kepariwisataan terhadap perubahan pola urbanisasi di Indonesia Alfred Rodriques Januar Nabal; Komara Djaja
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 17, No 1 (2022)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v17i1.41465

Abstract

Indonesia memasuki era perkotaan, ditandai oleh dominannya proporsi penduduk yang tinggal di kota. Urbanisasi memberi dampak bagi pertumbuhan ekonomi dan kelayakan hidup orang Indonesia. Namun, urbanisasi juga menciptakan kesenjangan pembangunan antar-wilayah serta munculnya masalah kemiskinan dan kekumuhan. Di tengah paradoks urbanisasi ini, kepariwisataan muncul sebagai penggerak utama pembangunan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan dampak kepariwisataan terhadap perubahan pola urbanisasi di Indonesia. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan model deskriptif-analitik. Pengumpulan data dan informasi melalui studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan pergeseran paradigma, strategi pengembangan, dan pola pengelolaan pariwisata di Indonesia mengubah corak urbanisasi dalam dua pola. Pertama, munculnya pola urbanisasi yang mengubah desa menjadi daerah yang memiliki ciri perkotaan karena pengembangan pariwisata perdesaan. Kedua, berkembangnya kota-kota kecil, sedang, dan kota-kota (daerah urban) baru karena tren wisata kota. Kedua pola ini menciptakan urbanisasi yang proporsional dan berkontribusi dalam agenda pemerataan pembangunan di Indonesia.
Perencanaan wilayah perkotaan melalui konsep smart city di Kabupaten Jember Ulfatus Sofiyah; Endah Kurnia Lestari; Duwi Yunitasari
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 17, No 1 (2022)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v17i1.43001

Abstract

Smart city adalah sebuah konsep perencanaan wilayah kota yang mengedepankan peran teknologi diimbangi dengan kebijakan pemerintah sebagai pendukung penerapan smart city. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kesiapan Kabupaten Jember menerapkan konsep smart city menggunakan alat analisis Weight Means Score dan untuk menganalisis strategi perencanaan dengan alat analisis SWOT. Hasil analisis weight means score menyimpulkan bahwa variabel smart governance, smart economy, smart branding, dan smart society berada di kategori siap, smart living kategori sangat siap, dan smart environment kategori cukup siap. Analisis tingkat kesiapan diperuntukkan kepada pemerintah Kabupaten Jember agar mendapatkan pandangan dalam mengambil kebijakan dan mengelola prosedur tepat sasaran. Hasil analisis SWOT menyimpulkan bahwa keenam variabel smart city menggunakan strategi (strengths opportunity) di kuadran satu, yaitu memaksimalkan kekuatan internal untuk menangkap peluang demi mendukung program smart city Jember.
Potensi dan permasalahan penyediaan air bersih di Kelurahan Kariangau menggunakan root cause tree analysis Wahyu Dewantoro; Devi Triwidya Sitaresmi
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 17, No 1 (2022)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v17i1.50919

Abstract

Kebutuhan akan air bersih menjadi salah satu hal yang sangat diperhatikan, terutama dalam pemenuhan kebutuhan air domestik maupun non domestik. Pada Kelurahan Kariangau meskipun telah terlayani oleh salah satu instalasi pengolahan air, menurut RPLP Kota Balikpapan tahun 2018 hanya sebesar 65% masyarakat terlayani sarana air bersih untuk keperluan mandi dan cuci yang mengindikasikan permasalahan terkait dengan penyediaan air bersih pada Kelurahan Kariangau. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis potensi serta permasalahan yang berkaitan dengan penyediaan air bersih dan mengidentifikasi akar permasalahan dari penyediaan air bersih. Analisis yang digunakan pada penelitian ini yaitu root cause analysis dengan langkah pertama yaitu analisis skala likert untuk mengidentifikasi potensi dan permasalahan penyediaan air bersih, current reality tree untuk menentukan akar permasalahan serta diagram fault tree sebagai ilustrasi akar permasalahan. Berdasarkan hasil analisis didapatkan potensi dari penyediaan air bersih yaitu warna air, bau air, rasa, kandungan zat kimia, kandungan biologis, volume penampungan air masyarakat dan sumber air alternatif. Permasalahan yang diperoleh yaitu waktu menampung air, banyaknya jumlah air pada sumber, distribusi air dalam 24 jam, distribusi air perjam kegiatan, keterjangkauan jarak, keterjangkauan waktu. Akar permasalahan yang diperoleh yaitu debit air rendah, belum tersedia pipa distribusi air bersih, pengaruh musim, ketersediaan sumber air, penggunaan air secara komunal, serta lokasi sumber air.
Kebertahanan fisik Kampung Beting sebagai kawasan permukiman waterfront heritage Mariska Jessica Yastri; Winny Astuti; Rufia Andisetyana Putri
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 17, No 1 (2022)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v17i1.33390

Abstract

Semakin berkembangnya kawasan komersial di daratan, maka semakin berkembang pula permasalahan di bagian kota lainnya. Seperti halnya permukiman Kampung Beting di tepian Sungai Kapuas, Kota Pontianak. Angka kemiskinan yang tinggi serta tingkat pendidikan penduduknya yang sangat rendah membentuk karakter kampung yang negatif bagi sebagian besar masyarakat di Kota Pontianak. Kampung Beting juga tidak dapat terlepas dari nilai sejarah yang dimilikinya sebagai cikal bakal permukiman pertama, sejarah tersebut membentuk karakter kampung yang sarat akan budaya Melayu Pontianak baik dari maupun non fisiknya yaitu budaya perairan. Permasalahan tentang menurunnya kualitas kampung tepian air atau sungai, telah diatasi dengan program kampung tepi air oleh pemerintah dan masyarakat. Program tersebut bertujuan untuk memperbaiki kualitas fisik dan kualitas hidup masyarakat di dalamnya, yang nantinya akan menghasilkan kampung wisata. Kebertahanan adalah dimana kawasan tersebut dapat beradaptasi dalam mempertahankan karakter kawasannya. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kebertahanan kawasan dengan karakter kampung waterfront heritage yang ideal melalui adaptasi fisiknya. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif dengan model analisis data Miles dan Huberman, didapat hasil bahwa kebertahanan Kampung Beting melalui adaptasi fisik memiliki nilai kebertahanan yang cukup. Karakter fisik kampung menunjukkan bahwa kawasan tersebut memiliki elemen-elemen fisik yang dapat menunjukkan karakter atau identitas waterfront heritage yang ideal dari segi ketersediaan dan kesesuaian fungsinya. Yakni elemen jalur jalan, sarana dan prasarana transportasi air, promenade, dan aset historis yang mengalami konservasi. Sementara elemen lainnya yakni ruang terbuka dan bangunan tepi air belum mampu menunjang karakter atau identitas kawasan sebagai permukiman waterfront heritage yang ideal.
Dominasi kota sebagai konsentrasi fasilitas kesehatan (Studi kasus: Daerah Istimewa Yogyakarta) Mohammad Isnaini Sadali; Muhammad Arif Fahrudin Alfana; Zara Hadijah; Ersa Latifa Rosewidiadari; Rifan Andika
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 17, No 1 (2022)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v17i1.44948

Abstract

Penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan di suatu wilayah perlu memperhatikan kebutuhan pelayanan, jumlah penduduk, luas wilayah, dan aksesibilitas. Keragaman jumlah dan jenis fasilitas pelayanan yang terdapat di beberapa daerah memungkinkan terjadinya konsentrasi dan pemusatan fasilitas pelayanan pada salah satu daerah. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan menganalisis konsentrasi fasilitas pelayanan kesehatan yang berimplikasi pada dominasi kota sebagai pusat pelayanan. Data utama penelitian ini bersumber dari data sekunder dengan metode analisis deskriptif kuantitatif. Penelitian dilaksanakan di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dengan unit analisis paling kecil adalah kecamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kota masih menjadi wilayah dengan konsentrasi pelayanan kesehatan yang tinggi, dalam hal ini adalah Kota Yogyakarta. Indeks konsentrasi fasilitas kesehatan di Kota Yogyakarta sebesar 10,76, sedangkan indeks terkecil berada di Kabupaten Gunungkidul (0,51). Dominasi kota sebagai pusat pelayanan kesehatan juga diperkuat dengan tingginya indeks konsentrasi fasilitas kesehatan di Kecamatan Umbulharjo (14,94) yang berlokasi di Kota Yogyakarta.
Kebertahanan faktor produksi Klaster Industri Jenang Kaliputu-Kudus Hilda Norya Husna; Winny Astuti; Hakimatul Mukaromah
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 17, No 1 (2022)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v17i1.31432

Abstract

Klaster industri merupakan sistem konsentrasi geografis industri yang saling terkait dan bersifat komplementer. Kebertahanan merupakan kemampuan sebuah sistem untuk bangkit dan beradaptasi sebagai bentuk respon terhadap ancaman yang muncul. Klaster sebagai sebuah sistem Pengembangan Ekonomi Lokal (PEL) dapat mencapai kebertahanan ketika memiliki kemampuan interkoneksi dan responsivitas pada setiap unsur pembentuknya. Klaster industri jenang Kaliputu sebagai wilayah pengembangan Produk Unggulan Daerah (PUD) Kabupaten Kudus memiliki potensi penyerapan tenaga kerja lokal serta berdaya saing. Akan tetapi, klaster yang terletak di Desa Kaliputu Kecamatan Kota ini eksistensi pengembangannya mengalami keterancaman dari segi faktor produksi. Beberapa ancaman tersebut di antaranya, adanya fenomena industrialisasi yang mengancam pasokan SDM tenaga kerja, rendahnya minat masyarakat lokal dalam mengembangkan usaha, persaingan produk jenang dari luar desa, skala usaha yang masih kecil serta sulitnya perusahaan memasarkan produk. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebertahanan klaster industri jenang Kaliputu dilihat dari faktor produksi. Berdasarkan metode deskriptif kualitatif dengan analisis data model Miles and Huberman didapat hasil bahwa kebertahanan faktor produksi klaster industri jenang Kaliputu berada dalam kondisi kebertahanan terlemah (high movability and low adaptability). Kebertahanan faktor produksi klaster industri jenang Kaliputu didukung oleh kedekatan akses dan ketersediaan minat pada komponen Sumber Daya Manusia (SDM) dalam meneruskan tradisi usaha klaster jenang, sementara empat komponen lainnya, yaitu sumber daya fisik/peralatan produksi, kelembagaan klaster, permodalan, serta infrastruktur penunjang belum mampu menunjang kebertahanan faktor produksi klaster industri jenang Kaliputu.
Tipologi wilayah berdasarkan tingkat kerentanan di wilayah perkotaan Kabupaten Kutai Timur Achmad Ghozali; Erlangga Kautsar
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 17, No 1 (2022)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v17i1.51580

Abstract

Tingkat kejadian bencana kebakaran di wilayah perkotaan Kabupaten Kutai Timur dari tahun 2012 – 2019 mengalami peningkatan jumlah kejadian yang signifikan, terutama pada Kawasan Perkotaan Kabupaten Kutai Timur. Di sisi lain, pemerintah daerah setempat hingga saat ini belum memiliki instrumen pengendalian kejadian kebakaran. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk melakukan pemetaan kerentanan kebakaran di wilayah perkotaan Kabupaten Kutai Timur. Untuk menghasilkan tipologi, analisis overlay pada software ArcGIS digunakan dengan mempertimbangkan faktor fisik, sosial, sarana permukiman, dan kebijakan. Selain itu, pembobotan faktor dengan AHP yang melibatkan tujuh stakeholder kunci digunakan untuk mengetahui faktor prioritas sesuai dengan kondisi kawasan. Hasil analisis diperoleh bahwa kerentanan fisik memiliki bobot 0,45, kerentanan sosial memiliki bobot 0,33, dan kerentanan ekonomi memiliki bobot 0,22. Dari prioritas faktor ini diperoleh bahwa Kawasan Perkotaan Kutai Timur terdapat tiga tipologi kerentanan kebakaran. Desa Swarga Bara, Desa Singa Gembara, dan Desa Sangatta Selatan memiliki tingkat kerentanan rendah, sedangkan Kelurahan Teluk Lingga memiliki kerentanan sedang, serta Kelurahan Singa Geweh dan Desa Sangatta Utara memiliki tingkat kerentanan tinggi.
Kajian perkembangan ruang publik bersejarah di pusat kota (Studi kasus: Taman Sriwedari sebagai Kebun Raja di Kota Surakarta) Niken Dwi Swastika; Istijabatul Aliyah; Galing Yudana
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 17, No 1 (2022)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v17i1.34239

Abstract

Kota Surakarta mengalami perkembangan pembangunan kota yang dipengaruhi oleh perubahan sistem pemerintahan. Hal tersebut masih dapat dirasakan melalui keberadaan aset-aset khususnya peninggalan bersejarah yang merepresentasikan beberapa masa pemerintahan. Taman Sriwedari merupakan ruang publik bersejarah yang berawal dari konsep taman kota (Kebon Rojo) pada masa pemerintahan Kasunanan Surakarta Hadiningrat, kepemimpinan Paku Buwono X pada tahun 1901. Kemudian hingga saat ini, kawasan Taman Sriwedari telah mengalami perkembangan pada penggunaan ruang yang cukup signifikan sejak pertama kali dibangun, salah satunya adalah pembangunan masjid raya yang sedang berlangsung sebagai salah satu upaya revitalisasi oleh pemerintah. Berkaitan dengan revitalisasi ruang bersejarah, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana Taman Sriwedari berkembang, antara lain; 1) perubahan penggunaan ruang, 2) fenomena yang melatarbelakangi, serta 3) bagaimana hal tersebut mempengaruhi aktivitas. Penelitian ini menggunakan metode penulisan sejarah dan pemetaan secara spasial dengan pendekatan naratif yang diinterpretasi dalam pembagian periode perkembangan, yaitu periode 1901-1945, periode 1946-1984, dan periode 1984-saat ini. Temuan menunjukkan penggunaan ruang dan aktivitas yang ada saat ini sudah berbeda dari konsep awal pembangunan Kebon Raja. Periode pertama menunjukkan Taman Sriwedari dengan konsep taman kota di bawah pengelolaan Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Kemudian, periode kedua mulai terjadi perubahan dengan masuknya aktivitas komersial dan hilangnya salah satu atraksi ruang publik. Pada periode ketiga perubahan fungsi-fungsi ruang semakin signifikan terkait dengan kebijakan kerja sama pihak ketiga (aktivitas swasta semi privat yang mulai menghilangkan fasad asli taman). Diharapkan penelitian ini dapat menjadi masukan dalam upaya pemerintah untuk menghidupkan kembali ruang publik bersejarah melalui revitalisasi tanpa mengabaikan karakteristik penggunaan ruang sebelumnya.
Hubungan keragaman guna lahan dalam urban compactness dengan ketersediaan lahan parkir di Kota Surakarta Feira Ariani; Rizon Pamardhi Utomo; Nur Miladan
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 17, No 1 (2022)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v17i1.31928

Abstract

Perkembangan kota membutuhkan ketersediaan lahan agar mampu memenuhi kegiatan perkotaan. Optimalisasi lahan diperlukan untuk menampung seluruh kegiatan yang terjadi dalam suatu kota. Salah satu caranya dengan penggunaan lahan campuran. Penerapan penggunaan lahan campuran juga dapat mendorong kota ke dalam bentuk kompak. Urban compactness merupakan indeks yang digunakan dalam mengukur kekompakan suatu kota. Salah satu komponen pembentuk urban compactness adalah penggunaan lahan campuran. Kota Surakarta merupakan salah satu kota di Indonesia dengan 66% luas kawasannya digunakan untuk permukiman. Keragaman guna lahan yang tinggi dapat meningkatkan level kekompakan suatu kota. Penggunaan lahan campuran juga mempunyai hubungan dengan ketersediaan lahan parkir. Kegiatan parkir yang diberikan oleh beberapa penggunaan lahan merupakan cara untuk efisiensi ruang di daerah perkotaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara keragaman guna lahan dalam urban compactness dengan ketersediaan lahan parkir di Kota Surakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan deduktif positivistik dengan teknik analisis korelasi Spearman. Data dan informasi didapatkan dari dokumen institusional dan observasi lapangan. Hasil analisis menunjukan bahwa hubungan antara guna lahan campuran dalam urban compactness dengan ketersediaan lahan parkir di Kota Surakarta bernilai 0,584 yang termasuk dalam kategori berhubungan sedang. Hal tersebut berarti bahwa guna lahan campuran dalam urban compactness berkorelasi linear dengan ketersediaan lahan parkir yang ada.
Pemanfaatan Dana Desa bagi kegiatan usaha kecil menengah di Desa Wirokerten, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul, Provinsi D.I. Yogyakarta Arrosyid, Danindra Iqbal; Sukmawati, Annisa Mu'awanah
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 17, No 1 (2022)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v17i1.41904

Abstract

Dana Desa adalah dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang diperuntukkan bagi desa untuk membiayai pelaksanaan kegiatan pemerintahan, pembangunan desa, pembinaan dan pemberdayaan masyarakat desa. Pemanfaatan Dana Desa di Desa Wirokerten digunakan untuk kegiatan pembangunan (70%) dan pemberdayaan masyarakat (30%). Di sisi lain, Desa Wirokerten juga memiliki ragam potensi Usaha Kecil dan Menengah (UKM) sehingga pengalokasian Dana Desa untuk UKM terus meningkat dari tahun ke tahun dengan jumlah persentase pertambahannya kurang lebih 9%. Artikel ini bertujuan untuk menemukenali efektivitas pemanfaatan Dana Desa bagi kegiatan UKM di Desa Wirokerten. Penelitian menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik analisis deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara mendalam kepada 9 informan, observasi lapangan, dan dokumentasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kegiatan UKM di Desa Wirokerten dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Wirajaya Makmur. BUMDes ini mengelola beberapa kelompok UKM, seperti sentra emping melinjo, pengrajin sepatu rajut, pembuatan paving block, perkebunan hidroponik, dan pemilahan sampah. Pemanfaatan Dana Desa bagi kegiatan UKM belum efektif karena adanya permasalahan dalam partisipasi masyarakat. Kendala yang dihadapi adalah pola pikir masyarakat sulit diubah karena masih menjadikan pertanian sebagai mata pencaharian utama dan enggan beralih atau mencari penghasilan tambahan dari kegiatan lain. Selain itu, minimnya pengalaman dan keterampilan anggota UKM untuk menemukan inovasi baru serta rendahnya keinginan untuk meneruskan program-program yang ada menyebabkan UKM menjadi kurang mandiri dan bergantung pada Dana Desa.

Page 1 of 2 | Total Record : 17