Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Pengaruh jejaring industri lurik terhadap pengembangan Desa Wisata Tenun Tradisional Tlingsing, Klaten Yudhasesa, Nasa Rosa; Aliyah, Istijabatul; Yudana, Galing
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 15, No 2 (2020)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v15i2.24138

Abstract

Pola jejaring industri lurik tradisional merupakan suatu pola yang terbentuk berdasarkan aktivitas industri lurik tradisional yang dihubungkan dengan sistem transportasi, yang meliputi aktivitas pengadaan bahan baku, proses produksi hingga pemasaran. Aktivitas industri lurik tradisional berpengaruh terhadap keberlanjutan proses produksi tenun lurik tradisional di Desa Tlingsing. Desa Tlingsing pada tahun 2011 telah ditetapkan sebagai Desa Wisata tenun Tradisional sehingga pola jejaring yang terbentuk berdasarkan aktivitas industri juga akan berdampak dengan pengembangan Desa Wisata Tlingsing. Jumlah pengrajin lurik dan pengunjung desa wisata Tlingsing dari tahun 2011-2017 mengalami peningkatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pola jejaring industri lurik tradisional terhadap pengembangan desa wisata Tlingsing. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis skoring dan analisis regresi linier berganda untuk mengetahui pengaruh pola jejaring industri lurik tradisional terhadap pengembangan desa wisata Tlingsing. Berdasarkan analisis regresi linier berganda didapatkan hasil tingkat pengaruh pola jejaring industri lurik tradisional terhadap pengembangan desa wisata Tlingsing dari pengaruh lemah – kuat yaitu (1) rumah makan, (2) dekat dengan jalan raya dan fasilitas transportasi, (3) toko cinderamata, (4) pusat informasi, (5) atraksi yang unik, (6) moda transportasi, (7) rambu jalan, (8) akomodasi, (9) ATM, dan (10) adanya masyarakat atau organisasi pengelola desa wisata.
Tingkat kesesuaian infrastruktur Kampung Batik Laweyan Kota Surakarta berdasarkan konsep ramah lingkungan Anugrahaningrum, Apriniata Andip; Yudana, Galing; Aliyah, Istijabatul
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 16, No 2 (2021)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v16i2.30842

Abstract

Perkembangan Kampung Batik Laweyan yang berfungsi sebagai permukiman, pariwisata, dan aktivitas industri tidak terlepas dari elemen-elemen di dalamnya; salah satunya yaitu ketersediaan infrastruktur. Infrastruktur ramah lingkungan merupakan konsep yang diperlukan dalam sebuah kawasan untuk mewujudkan ruang yang aman, nyaman, dan berkelanjutan tanpa menimbulkan pencemaran lingkungan. Akan tetapi pada kenyataannya, infrastruktur di Kampung Batik Laweyan masih menimbulkan beberapa permasalahan, salah satunya yaitu terlihat dari kondisi Sungai Jenes yang masih tercemar. Permasalahan tersebut menjadi hal yang penting untuk diperhatikan karena akan berpengaruh terhadap berjalannya aktivitas di Kampung Batik Laweyan. Menteri Perindustrian Indonesia pun menghimbau agar seluruh sentra industri batik yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia menjadi  sentra yang ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesesuaian infrastruktur Kampung Batik Laweyan Kota Surakarta berdasarkan konsep ramah lingkungan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deduktif dengan analisis data yang digunakan yaitu teknik analisis skoring deskriptif yang disesuaikan terhadap teori terkait. Hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesesuaian infrastruktur di Kampung Batik Laweyan termasuk pada tingkat kesesuaian sedang, artinya berdasarkan perhitungan rata-rata pada seluruh variabel menyatakan kondisi infrastruktur di kawasan ini cukup memenuhi terhadap indikator ramah lingkungan. Jenis infrastruktur yang tergolong sangat sesuai terhadap indikator ramah lingkungan adalah jaringan drainase, jaringan air limbah, dan jaringan air bersih. Sedangkan jenis infrastruktur yang dinilai kurang ramah lingkungan adalah jaringan listrik dan pengelolaan persampahan.
Studi kesesuaian lahan pertanian sawah organik (Studi kasus: Desa Gempol, Kabupaten Klaten) Andrea, Roofid; Aliyah, Istijabatul; Yudana, Galing
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 16, No 2 (2021)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v16i2.25468

Abstract

Kabupaten Klaten memiliki visi untuk menjadi lumbung padi dan menjadi kawasan agropolitan terbesar di provinsi Jawa Tengah. Pertanian di Kabupaten Klaten masih menggunakan teknik pertanian anorganik atau masih menggunakan bahan-bahan kimia dalam pelaksanannya. Penggunaan bahan-bahan kimia yang berlebihan akhirnya menyebabkan kerusakan kondisi lingkungan dan kesehatan manusia. Para petani yang sadar terhadap bahaya tersebut akhirnya melakukan teknik bercocok tanam yang lebih ramah lingkungan atau disebut pertanian organik. Pertanian sawah organik yang menonjol di Kabupaten Klaten terdapat di Desa Gempol Kecamatan Karanganom. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian lahan Desa Gempol terhadap pertanian sawah organik. Metode yang digunakan pada penelitian ini yakni menggunakan analisis skoring untuk mengetahui kesesuaian lahan Desa Gempol terhadap pertanian organik. Berdasarkan hasil analisis skoring kemampuan lahan, maka diketahui bahwa Desa Gempol yang masuk kedalam kelas lahan III, dimana kelas lahan III diperuntukan sebagai lahan pertanian. Selain itu ditinjau dari analisis skoring jaringan irigasi di Desa Gempol sudah sesuai hanya terdapat beberapa zona yang tidak sesuai karena tata letak tanam yang jauh dari sumber air. Namun jika ditinjau dari hasil analisis skoring kemampuan lahan dan jaringan irigasi maka diketahui bahwa Desa Gempol sudah sesuai diperuntukan sebagai lahan pertanian organik.
Penguatan Sinergi Antara Pasar Tradisional Dan Modern Dalam Rangka Mewujudkan Pemerataan Pembangunan Ekonomi Kerakyatan Istijabatul Aliyah
JURNAL ARSITEKTUR Vol 4, No 2 (2014): Juni
Publisher : Universitas Bandar Lampung (UBL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.967 KB) | DOI: 10.36448/jaubl.v4i2.531

Abstract

Penelitian ini dilakukan di Kota Surakarta dengan tujuan: 1). Melakukan pemetaan persebaran lokasi pasar tradisional dan modern; 2).Mengkaji klasifikasi pasar tradisional dan pasar modern; 3). Mengkaji lingkup pelayanan pasar tradisional dan pasar modern; 4). Menganalisis manfaat yang akan diperoleh stakeholders pasar tradisional dan pasar modern; 5). Menyusun rekomendasi kebijakan tentang penguatan sinergi antara pasar tradisional dan modern. Berdasarkan tujuan tersebut maka penelitian ini ditargetkan menghasilkan luaran berupa: 1). Menciptakan teknologi tepat guna (TTG); 2). Menyusun Buku ajar berbasis riset; 3). Menyusun artikel di jurnal ilmiah terakreditasi nasional. Penelitian ini menggunakan beberapa metode analisis, yakni: 1) Analisis Spasial untuk pemetaan persebaran pasar tradisional dan pasar modern di Kota Surakarta, 2) Category Based Analysis (CBA) untuk mengklasifikasikan pasar tradisional dan pasar modern di Kota Surakarta. Metode ini menggunakan konsep berdasarkan kategori dan klasifikasi dari obyek yang diteliti, 3) Metode analisis Geographic Information System (GIS), 4) Metode Analisis interaktif yang dikemukakan oleh Miles & Huberman, 2002. Hasil penelitian bahwa persebaran pasar tradisional merata di seluruh Kota Surakarta, meski komoditas dan lingkup layanan berbeda beda. Demikian pula dengan pasar modern, memiliki persebaran yang merata di seluruh kota Surakarta, namun sepanjang Jalan Slamet Riyadi sebagai jalan protokol Kota Surakarta ditempati oleh 5 buah pasar modern dari jumlah keseluruhan 86 pasar tradisional dan modern sebagai fasilitas perbelanjaan. Sedangkan Lingkup pelayanan pasar tradisional dan pasar modern di Kota Surakarta sebagian besar adalah pasar daerah dengan lingkup pelayanan Kota Surakarta dan sekitarnya. Ada beberapa yang mencapai lingkup nasional dan internasional. Rekomendasi kebijakan tentang penguatan sinergi antara pasar tradisional dan modern di Kota Surakarta adalah: 1) Mengubah konfigurasi pelaku-pelaku ekonomi di dalam pasar tradisional; 2) Penyetaraan biaya distribusi barang pada pasar tardisional dan pasar modern, 3) Perlindungan hukum bagi para pedagang pasar tradisional, 4) Monitoring dan evaluasi peraturan daerah yang telah ditetapkan.This research was conducted in Surakarta with the aims of: 1) Mapping the distribution of traditional and modern markets; 2)Assessing the classification of traditional and modern markets; 3) Assessing the scope of services of traditional and modern markets; 4) Analyzing the benefits of traditional and modern market stakeholders; 5)Formulating policy recommendations on strengthening the synergy between the traditional and the modern markets. Based on these objectives, this research is expected to: 1) Create appropriate technology; 2) Compile the research-based teaching book; 3)Develop a scientific article for a national accredited journal. This study uses several methods of analysis, namely: 1) Spatial analysis for mapping the distribution of traditional and modern markets in Surakarta, 2) Category-based analysis (CBA) to classify traditional and modern markets in Surakarta. This method uses the concept by category and classification of the object studied, 3) Methods analysis of Geographic Information System (GIS), 4) Interactive analysis method proposed by Miles &Huberman, 2002. The results show that traditional markets spread evenly throughout the city of Surakarta, although they have different commodities and different services. Similarly, the modern markets spread evenly throughout the city of Surakarta, but along Jalan Slamet Riyadi as a city main street in Surakarta there are 5 modern markets of the total 86 traditional and modern markets as shopping facilities. While the scope of services of traditional and modern markets in Surakarta are Jurnal Arsitektur Universitas Bandar Lampung, Juni 2014 22 mostly local market with the scope of services for Surakarta and surrounding areas. There are some with national and international scope. Policy recommendations on strengthening the synergies between traditional and modern markets in Surakarta are: 1) Change the configuration of economic actors in the traditional markets; 2) Equalization charge distribution of goods on the traditional and modern markets, 3) Legal protection for traditional market traders, 4) Monitoring and evaluation of local regulations that have been issued.
Pengelolaan Bank Sampah sebagai implementasi Ekonomi Kreatif di Bank Sampah Guyub Rukun Dusun Madugondo, Kecamatan Piyungan, Bantul Tendra Istanabi; Nur Miladan; Lintang Suminar; Kusumastuti Kusumastuti; Istijabatul Aliyah; Soedwiwahjono Soedwiwahjono; Rizon Pamardhi Utomo; Rr. Ratri Werdiningtyas; Galing Yudana
PengabdianMu: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat Vol 7 No 3 (2022): PengabdianMu: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/pengabdianmu.v7i3.2765

Abstract

One of the concrete steps of waste management that can be felt directly by the community in a small scope is the Waste Bank. However, the community often faces problems in managing waste through waste banks, namely related to limited human resources and facilities. The Guyub Rukun Dusun Madugondo waste e Bank is a waste bank that is experiencing problems with limited human resources and facilities. Efforts are needed to overcome the limitations of human resources and facilities so that the waste bank is able to continue to grow. Therefore, this community service activity is carried out to help overcome these problems by providing training methods to improve the managerial skills of waste bank managers and innovation in processing waste into creative economic products as well as providing supporting facilities grants. The training was carried out with waste bank management materials and making flower arrangements from recycled plastic waste materials. Meanwhile, the grant for supporting facilities is realized in the form of a waste press. The results of these community service activities can be felt directly by the waste bank manager and can reduce the problems faced by the Guyub Rukun Dusun Madugondo waste Bank manager.
Kajian infrastruktur dalam mendukung kegiatan industri lurik ATBM (Studi kasus: Desa Tlingsing, Klaten) Dimas Indo Saputro; Galing Yudana; Istijabatul Aliyah
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 15, No 1 (2020)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v15i1.24136

Abstract

Ketersediaan infrastruktur merupakan faktor penting dalam kelancaran kegiatan di kawasan industri lurik. Salah satu kawasan industri lurik ATBM terbesar yakni di Desa Tlingsing, Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten. Desa Tlingsing dalam pengembangan kawasan industri lurik Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) memiliki kendala dalam ketersediaan infrastruktur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketersediaan infrastruktur dalam memenuhi kebutuhan kawasan industri lurik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis skoring guna mengetahui ketersediaan infrastruktur dalam memenuhi kebutuhan kawasan industri lurik ATBM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh infrastruktur yang tersedia sudah mampu memenuhi kebutuhan sebagai kawasan industri lurik, terkecuali jaringan pengolah limbah dan drainase.
Kajian perkembangan ruang publik bersejarah di pusat kota (Studi kasus: Taman Sriwedari sebagai Kebun Raja di Kota Surakarta) Niken Dwi Swastika; Istijabatul Aliyah; Galing Yudana
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 17, No 1 (2022)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v17i1.34239

Abstract

Kota Surakarta mengalami perkembangan pembangunan kota yang dipengaruhi oleh perubahan sistem pemerintahan. Hal tersebut masih dapat dirasakan melalui keberadaan aset-aset khususnya peninggalan bersejarah yang merepresentasikan beberapa masa pemerintahan. Taman Sriwedari merupakan ruang publik bersejarah yang berawal dari konsep taman kota (Kebon Rojo) pada masa pemerintahan Kasunanan Surakarta Hadiningrat, kepemimpinan Paku Buwono X pada tahun 1901. Kemudian hingga saat ini, kawasan Taman Sriwedari telah mengalami perkembangan pada penggunaan ruang yang cukup signifikan sejak pertama kali dibangun, salah satunya adalah pembangunan masjid raya yang sedang berlangsung sebagai salah satu upaya revitalisasi oleh pemerintah. Berkaitan dengan revitalisasi ruang bersejarah, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana Taman Sriwedari berkembang, antara lain; 1) perubahan penggunaan ruang, 2) fenomena yang melatarbelakangi, serta 3) bagaimana hal tersebut mempengaruhi aktivitas. Penelitian ini menggunakan metode penulisan sejarah dan pemetaan secara spasial dengan pendekatan naratif yang diinterpretasi dalam pembagian periode perkembangan, yaitu periode 1901-1945, periode 1946-1984, dan periode 1984-saat ini. Temuan menunjukkan penggunaan ruang dan aktivitas yang ada saat ini sudah berbeda dari konsep awal pembangunan Kebon Raja. Periode pertama menunjukkan Taman Sriwedari dengan konsep taman kota di bawah pengelolaan Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Kemudian, periode kedua mulai terjadi perubahan dengan masuknya aktivitas komersial dan hilangnya salah satu atraksi ruang publik. Pada periode ketiga perubahan fungsi-fungsi ruang semakin signifikan terkait dengan kebijakan kerja sama pihak ketiga (aktivitas swasta semi privat yang mulai menghilangkan fasad asli taman). Diharapkan penelitian ini dapat menjadi masukan dalam upaya pemerintah untuk menghidupkan kembali ruang publik bersejarah melalui revitalisasi tanpa mengabaikan karakteristik penggunaan ruang sebelumnya.
MINAPOLITAN UNTUK MENDUKUNG KETAHANAN DAN KEAMANAN PANGAN Bambang Pujiasmanto; Sutopo Sutopo; Istijabatul Aliyah; Mulyanto Mulyanto
Caraka Tani: Journal of Sustainable Agriculture Vol 30, No 2 (2015): October
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (255.959 KB) | DOI: 10.20961/carakatani.v30i2.11926

Abstract

The objectives of this research were to: (1) identify the potentials of fish resources in  Klaten regency which can be developed as the economic generator of the community; (2) analyze the provision of fish products to support food security and safety for the surroundng region; (3) analyze the process of managing fish to perform food safety and security; 4) analyze the supporting factors of  fish resources management in Klaten to develop the community economy; 5) analyze the constraints of managing fish resources in Klaten to develop the community economy; 6) analyze the policy and programs of the local Government of Klaten in developing the potenstials of fish resources; particularly fish cultivation; and (7) formulize an appropriate method to manage fish resources to improve the community economy and support food security and safety. This research applied descriptive approach and was qualitative in nature. Data were collected using several methods including site observation, in-depth interview, focus group discussion, document study, and super impose. Sampling technique used in this research were purposive sampling and snowball. Data were analyzed using (1) Human Resources Analysis (2) Policy Analysis (3) Interactive Analysis. Research results include: (1) method to manage fish resources to improve the community economy and support the food security and safety; 2) recommendation in the form of Memorandum of Understanding (MOU) related to the method to manage fish resources to improve the community economy and support the food security and safety; and 3) handouts concerning method to manage fish resources to improve the community economy and support the food security and safety.
PERAN KELOMPOK SWADAYA MASYARAKAT DALAM MEWUJUDKAN PENATAAN KAMPUNG YANG BERKELANJUTAN (STUDI KASUS : KAMPUNG NGEMPLAK, JEBRES, KOTA SURAKARTA) Kusumastuti Kusumastuti; Nur Miladan; Tendra Istanabi; Lintang Suminar; Galing Yudana; Istijabatul Aliyah; Soedwiwahjono Soedwiwahjono; Rizon Pamardhi-Utomo; Ratri Werdiningtyas; Rama Permana Putra
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 3, No 2 (2021)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/desa-kota.v3i2.45466.171-178

Abstract

Sustainable Development Goals (SDG’s) memiliki tujuan untuk mengatasi permasalahan kemiskinan, kesenjangan, dan melindungi lingkungan. Konsep Green City atau Kota Hijau merupakan salah satu konsep yang dapat mewujudkan Sustainable Development Goals (SDG’s) yang berkaitan dengan isu perkotaan. Kemudian konsep Green City diturunkan menjadi Green Community sebagai topik utama yang akan direalisasikan di Kampung Ngemplak RW 29 melalui pendampingan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Kembangkoe agar dapat mewujudkan penataan Kampung Bunga yang berkelanjutan. Terbentuknya Kampung Bunga merupakan tujuan besar yang dalam prosesnya membutuhkan partisipasi bersama masyarakat dengan digerakkan oleh KSM Kembangkoe. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengetahui peran Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Kembangkoe dalam usaha penataan kampung khususnya terbentuknya Kampung Bunga di Kampung Ngemplak RW 29. Metode yang digunakan menggunakan analisis deskriptif kualitatif berdasarkan hasil observasi dan wawancara selama proses pendampingan. Peran KSM Kembangkoe dapat dilihat sebagai fungsi kelembagaan, yaitu memperkuat internal dengan mengarahkan potensi sumberdaya yang dimiliki juga mencari sumberdaya eksternal yang mampu bekerja sama untuk membantu mencapai tujuan didirikannya KSM Kembangkoe.
Kajian Karakteristik Koridor Jalan Slamet Riyadi Sebagai Ruang Interaksi Sosial Kota Surakarta Berdasarkan Teori Good City Form Silka Azzahra Shafa Aulia; Galing Yudana; Istijabatul Aliyah
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 2, No 1 (2020)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/desa-kota.v2i1.32648.14-30

Abstract

Koridor adalah lahan memanjang yang membelah kota/kawasan atau sebuah lorong membentuk fasade bangunan berderet dengan lantai atau ruang kota bergerak dari ruang satu ke ruang lainnya (Wiharnanto dalam (Sumartono, 2003)). Koridor berfungsi sebagai jalan sekaligus wadah berinteraksi (Kurokawa, 1997). Koridor Jalan Slamet Riyadi yang berada di pusat Kota Surakarta terjadi perkembangan aktivitas perkotaan juga berfungsi sebagai ruang interaksi sosial. Adanya keselarasan antara aktivitas masyarakat dengan ruang yang mewadahinya menimbulkan suatu karakteristik yang dapat diamati berdasarkan Teori Good City Form (Lynch, 1981). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik Koridor Jalan Slamet Riyadi sebagai ruang interaksi sosial Kota Surakarta berdasarkan Teori Good City Form. Menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif untuk mengeksplorasi isu dengan pendeskripsian secara detail sehingga didapatkan gambaran mendalam tentang karakteristik koridor jalan berdasarkan Teori Good City Form di lokasi terkait. Pendekatan penelitian dilakukan secara deduktif dengan peneliti akan melakukan penelitian berangkat dari teori mengenai koridor, aktivitas di ruang publik, dan Good City Form Theory untuk terjun ke lapangan melakukan pencarian data yang dibutuhkan. Koridor Jalan Slamet Riyadi memenuhi kriteria bentuk yang baik sebagai ruang interaksi Kota Surakarta berdasarkan Teori Good City Form, juga memiliki karakteristik fisik (physical characteristic) dan karakteristik spasial (spatial characteristic) yang berbeda dari jalan perkotaan lainnya. Karakteristik fisik berupa jalan besar yang membelah pusat Kota Surakarta dengan pembagian jalur lalu lintas yang beragam mulai dari jalur lambat untuk becak dan sepeda, jalur kendaraan bermotor berdampingan dengan rel kereta api aktif, dan citywalk sebagai jalur pejalan kaki dengan dilengkapi deretan bangunan untuk perdagangan dan jasa serta pepohonan rindang. Sedangkan karakteristik spasial berupa jalan perkotaan yang memiliki nilai sejarah diantaranya sebagai pembatas daerah kekuasaan antara Keraton Kasunanan dan Keraton Mangkunegaran serta memiliki peranan sangat penting bagi Kota Surakarta selain sebagai penghubung menuju pusat Kota Surakarta, juga menjadi wadah penyelenggaraan beragam aktivitas bagi masyarakat juga event tahunan Kota Surakarta.Kata kunci: Karakteristik; Koridor Jalan Slamet Riyadi; Ruang Interaksi Sosial; Teori Good City Form