cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Seni Tari
ISSN : 22526714     EISSN : 25032585     DOI : -
Core Subject : Art,
Arjuna Subject : -
Articles 328 Documents
NILAI ESTETIS PERTUNJUKAN TRADISIONAL JATHILAN TUO DI DESA KABUPATEN MAGELANG
Jurnal Seni Tari Vol 4 No 1 (2015): Vol 4 No 1 (2015)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jst.v5i1.9727

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendiskripsikan nilai estetis apa yang terkandung dalam pertunjukan tradisional Jathilan Tuo. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif. Pendekatan penelitian menggunakan pendekatan estetis koreografi, pendekatan estetika, dan pendekatan emik. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan teori Adshead. Teori tersebut adalah mengenali dan mendeskripsikan komponen-komponen pertunjukan, memahami hubungan antara komponen pertunjukan, melakukan interpretasi gerak pertunjukan, dan melakukan evaluasi. Aspek bentuk yang meliputi gerak dalam pertunjukan tradisional Jathilan Tuo menggunakan gerak yang bertempo pelan seperti gerak paten, tanjak kanan, perangan dan onclang dengan menggunakan intensitas tenaga yang sedikit dan volume ruang yang kecil, serta gerak yang bertempokan cepat seperti gerak sirig dan lampah tigo dengan intensitas tenaga yang besar dan volume ruang yang lebar dengan iringan musik berupa gamelan Jawa serta tambahan alat musik simbal-krecek yang bertempo pelan dan cepat, serta dipadu padankan dengan tata rias menggunakan rias korektif yang memperjelas garis pada wajah dan di lengkapi dengan tata busana Jawa lengkap yang digunakan para penari Jathilan Tuo sehingga pertunjukan tradisional Jathilan Tuo terkesan ritmis, dinamis dan kesan kegagahan terlihat pada pertunjukannya.
BENTUK DAN NILAI KARAKTER DALAM PERTUNJUKAN DOLANAN ANAK-ANAK TRADISIONAL SD BANYUURIP KECAMATAN GUNEM KABUPATEN REMBANG
Jurnal Seni Tari Vol 5 No 2 (2016): Vol. 5 No 2 (2016)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jst.v5i2.10673

Abstract

Dolanan anak tradisional sudah banyak terlupakan karena kehadiran dari permainan yang lebih modern. Dolanan anak-anak tradisional yang ditampilkan oleh Sekolah Dasar Negeri Banyuurip dibuat menjadi sebuah pertunjukan. Pertunjukan dolanan yang ditampilkan tidak sekedar permainan tanpa ada maknanya tetapi juga mempunyai nilai-nilai karakter yang ada di dalamnya. Berdasarkan paparan tersebut, masalah penelitian ini adalah bagaimana proses penciptaan pertunjukan dolanan anak, bagaimana bentuk pertunjukan dolanan anak, dan bagaimana nilai-nilai karakter yang terkandung dalam pertunjukan dolanan anak Sekolah Dasar Negeri Banyuurip. Manfaat penelitian ini untuk menambah pengetahuan baru tentang kreativitas dolanan anak yang dikemas menjadi seni pertunjukan yang mempunyai nilai-nilai dalam pembentukan karakter. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan performance studies atau kajian pertunjukan. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik Analisis data yaitu reduksi data, penyajian data, dan verifikasi. Keabsahan data menggunakan teknik triangulasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa proses penciptaan melalui tahap eksplorasi, improvisasi, dan komposisi. Pertunjukan dolanan yang ditampilkan yaitu dolanan Jethungan dan Blarak-blarak Sempal yang didukung, vokal (dialog dan lagu), dan interaksi antar pemain. Nilai-nilai karakter yang ada dalam dolanan Jethungan yaitu nilai keberanian, dan nilai tanggung jawab, sedangkan nilai yang ada dalam dolanan Blarak-blarak Sempal yaitu nilai kerjasama dan nilai kejujuran. Saran peneliti untuk pencipta pertunjukan dolanan anak-anak tradisional hendaknya lebih mengembangkan kreatifitasnya agar menjadi lebih baik lagi. Saran yang kedua bagi pemain agar lebih ekspesif lagi dalam berdialog.    
Koreografi Tari Batik Jlamprang Kota Pekalongan
Jurnal Seni Tari Vol 5 No 2 (2016): Vol. 5 No 2 (2016)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jst.v5i2.10895

Abstract

Tari Batik Jlamprang merupakan tari kreasi yang berasal dari Kota Peklaongan. Awalnya Pemerintah Kota menggagas untuk memunculkan karya seni dalam bentuk tarian khas Kota Pekalongan, yang dapat digunakan untuk penyambutan tamu-tamu sekaligus digunakan sebagai sarana promosi Kota Pekalongan. Pemerintah Kota Pekalongan menjalin kerjasama dengan seniman Yoyok  B. Priambodo untuk menciptakan tari Batik Jlamprang yang terinspirasi dari Batik Jlamprang.Melalui kerjasama inilah tercipta tari Batik Jlamprangkemudian dimunculkan di Kota Pekalongan sehingga dikenal oleh masyarakat Kota Pekalongan. Rumusan masalah utama yang diambil adalah(1) Apa alasan Kota Pekalongan menciptakan tari Batik Jlamprang? (2) Bagaimana koreografi tari Batik Jlamprang? (3) Apakah faktor penghambat dan pendukung tari batik Jlamprang. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui dan menjelaskan (1) alasan Kota Pekalongan menciptakan tari Batik Jlamprang. (2) Koreografi tari Batik Jlamprang. (3) Faktor penghambat dan pendukung tari batik Jlamprang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yang menghasilkan data deskriptif, dengan pendekatan Etnokoreologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tari Batik Jlamprang sebuah wujud keinginan Kota Pekalongan memiliki tarian khas Pekalongan, sehingga mengangkat icon batik Pekalongan batik Jlamprang menjadi sebuah tarian khas Kota Pekalongan. Proses tersebut Kota Pekalonganmendapatbantuankerjasama dengan bapak Yoyok B. Priambodo. Koreografi tari Batik Jlamprang dilakukan Yoyok dengan beberapa tahap yaitu, proses ide, eksplorasi, komposisi, hingga menghasilkan sebuah bentuk, isi, gerak, musik, rias wajah dan busana, properti tari Batik Jlamprang secara keseluruhan menggambarkan proses dan tahapan membatik. Batik Jlamprang yang dibutuhkan dalam proses koreografi tari Batik Jlamprang pada waktu itu sudah punah dan tidak diproduksi lagi oleh para pengrajin. Hal tersebut menjadi hambatan Yoyok dalam melakukan proses Koreografi. Selain itu sumber daya manusia yang kurang, kemudian tekstur gerak dalam tari Batik Jlamprang yang berbeda dan baru menurut Kota Pekalongan, juga membuat sedikit kesulitan dan menjadi faktor penghambat  
PERAN MASYARAKAT TERHADAP KESENIAN TAYUB DI DESA BEDINGIN KECAMATAN TODANAN KABUPATEN BLORA
Jurnal Seni Tari Vol 5 No 2 (2016): Vol. 5 No 2 (2016)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jst.v5i2.11509

Abstract

Tayub merupakan kesenian rakyat yang masih digemari oleh masyarakat di Desa Bedingin Kecamatan Todanan Kabupaten Blora. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk pertunjukan Tayub dan peran masyarakat terhadap kesenian Tayub. Metode penelitian menggunakan metode kualitatif yang menghasilkan data wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa bentuk pertunjukan Tayub terdiri dari pemain, iringan, tata rias, busana dan tempat pentas. Peran masyarakat dalam pertunjukan Tayub sebagai penonton yang menyaksikan pertunjukan Tayub, pengibing sebagai penari laki-laki yang menari bersama joged, tamu undangan sebagai penikmat Tayub, dan pedagang yang menggelar pusat jajanan menyerupai pasar Tiban di arena pertunjukan. Tujuan diselenggarakan pertunjukan Tayub untuk menghibur masyarakat Desa Bedingin serta melestarikan kesenian yang berkembang di masyarakat.
NILAI ESTETIKA BARONGAN WAHYU AROM JOYO DI DESA GUNUNGSARI KECAMATAN TLOGOWUNGU KABUPATEN PATI
Jurnal Seni Tari Vol 6 No 1 (2017): Vol 6 No 1 (2017)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jst.v6i1.12106

Abstract

Barongan Wahyu Arom Joyo adalah salah satu kelompok kesenian tradisional kerakyatan yang mementaskan barongan di Kabupaten Pati serta memiliki nilai keindahan. Keindahan pertunjukan barongan dapat dilihat dari bentuk, isi dan penampilan pertunjukan barongan. Masalah yang dikaji adalah bagaimana nilai estetika barongan dengan kajian pokok bentuk, isi dan penampilan Barongan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan nilai estetika barongan yang dilihat dari bentuk, isi dan penampilan. Metode yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif. Peneliti menggunakan pendekatan penelitian estetis dan koreografis yaitu keindahan yang dilihat dari aspek-aspek atau struktur koreografisnya. Peneliti juga mengambil pendekatan Emik dimana data diperoleh dari pengkategorian fenomena budaya menurut warga setempat yang memberi gambaran secermat mungkin mengenai suatu individu, keadaan, gejala atau kelompok-kelompok tertentu serta Etik dimana data yang diperoleh dari sudut pandang peneliti. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan analisa tari berdasarkan teori Adshead. Teknik keabsahan data menggunakan teknik triangulasi atau pembanding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nilai estetika Barongan dapat dilihat dari bentuk, isi dan penampilan. Bentuk pertunjukan kesenian barongan nampak pada pola pertunjukannya yaitu pertunjukan pembuka, inti dan penutup serta aspek-aspek yang mendukung pertunjukan barongan yaitu gerak, tema, alur cerita atau alur dramatik, penari, pola lantai, ekspresi wajah/polatan, rias, busana, musik, panggung, properti, pencahayaan, dan setting. Isi pertunjukan nampak pada gagasan yang berasal dari tema dan cerita yang dibawakan, suasana yang ramai dan pesan yang berisi spirit kehidupan. Penampilan nampak pada bakat dari keturunan orang tua, keterampilan dari latihan dan sarana atau media yang mendukung pertunjukan. Pertunjukan barongan yang tersusun dari gerak yang menirukan binatang dan bersifat improvitatif dengan iringan yang meriah memberikan kesan pertunjukan barongan yang khas dan unik serta nampak nilai estetika dari pertunjukan barongan tersebut. Kata Kunci : Nilai Estetika, Bentuk Pertunjukan, Barongan ABSTRACT Barongan Wahyu Arom Joyo is one of the popular traditional arts group that showed the barongan in Pati regency. This study aims to determine and describe the aesthetic value of barongan seen from the form, content and appearance. The method used is descriptive qualitative. Researchers used aesthetic and choreographic research approach that is the interest of the views of the aspects or choreographic structure. Researchers also took emic approach in which the data obtained from the categorization of the cultural phenomenon according to local residents who give an idea as carefully as possible about an individual, the state, or the symptoms of certain groups and ethics where the data obtained from the perspective of the researcher. Data collection techniques in this study using an observation, interview and documentation. Data were analyzed using dance analysis based on the Adshead’s theory. Technique authenticity of data using triangulation techniques or comparison. The results showed that the aesthetic value of Barongan Wahyu Arom Joyo Art can be seen from the form, content and appearance of the barongan performances. The forms show of artistic performances barongan evident in the pattern of presentation is the presentation of the opening, the core and the cover as well as aspects that support barongan performances that motion, theme, storyline or groove dramatic, dancer, floor patterns, facial expressions, makeup, fashion, music, stage, props, lighting, and setting. The contents of the show appeared on the idea from theme and story, the noisy atmosphere and and the message to contain spirit of life in the barongan performances. Appearance appears on the talents from descendant of parents, skills from practice and means or media that support barongan performances. Barongan performances composed of imitate an animal motion and improvisation with music to complete distinctive and unique and apparent aesthetic value of the barongan performances.
SEXY DANCE GRUP ALEXIS DANCER DI LIQUID CAFE KOTA SEMARANG DENGAN KAJIAN KOREOGRAFI DAN MOTIVASI PENARI
Jurnal Seni Tari Vol 5 No 2 (2016): Vol. 5 No 2 (2016)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jst.v5i2.12327

Abstract

Sari Sexy Dance merupakan tari modern yang erotis, didukung dengan gerak dan busana yang sexy atau terbuka. Keunikan Alexis Dancer adalah pada bentuk koreografi gerak setiap bentuk gerak menggunakan istilah paket gerak dan gerak akrobatik diakhir pertunjukan. Sexy dancer mendapat kritikan dari masyarakat diketahui bahwa masyarakat tidak menerima keberadaan sexy dancer, kurangnya sikap apresiatif masyarakat terhadap sexy dancer. Berdasarkan paparan hal tersebut dan melihat keunikan pertunjukan grup Alexis Dancer, maka muncul beberapa pertanyaan mengenai bagaimana bentuk koreografi grup Alexis Dancer ? dan Apa motivasi penari Alexis Dancer ? Tujuan penelitian adalah menganalisis dan mengetahui bentuk koreografi Alexis Dancer dan mengetahui apa motivasi penari Alexis Dancer. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif yang memberikan gambaran secermat mungkin mengenai suatu individu, keadaan, gejala, atau kelompok-kelompok tertentu. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan, dan verifikasi. Teknik keabsahan data yang digunakan yaitu triangulasi sumber, metode, dan teori. Hasil penelitian, pada bentuk koreografi menggunakan istilah paket gerak dan terdapat aksi akrobatik. Aspek-aspek koreografi atau pertunjukan yang meliputi gerak, iringan / musik tari, tata rias, kostum tari dan properti / perlengkapan. Proses pembuatan koreografi melewati sebuah tahapan yaitu meliputi tahap eksplorasi, improvisasi dan pembentukan/komposisi sehingga dapat tercipta gerakan yang sexy, enerjik, dan erotis. Motivasi penari Alexis untuk terjun dalam pekerjaan ini adalah berawal dari hoby menari dan sering datang ke tempat hiburan malam. Alexis Dancer mampu bertahan dan memberikan wadah penyaluran hobi bagi remaja yang ingin bekerja sambil berkarya. Saran penelitian ini adalah bentuk koreografi sangat diutamakan bagi seluruh pertunjukan sebagai salah satu cara agar tetap diminati masyarakat. Implikasi bagi dunia pendidikan, seni tari modern secara global dapat dijadikan sebagai media apresiasi pada kegiatan extrakurikuler di sekolah. Bagi Alexis Dancer, dapat lebih profesional dalam menjalankan pekerjaan dengan membuat koreografi yang lebih kreatif dan inovatif. Ekspresi panggung para penari agar lebih bisa dibentuk baik senyum maupun mimik wajah, karena menari harus sejalan dengan gerak, irama dan rasa serta penggunaan tata rias busana tari agar lebih kreatif. Kata Kunci: Sexy Dance, Koreografi, Motivasi Penari. Sexy Dancer of Alexis Dancer Group at Liquid Café Semarang with Choreography Study and Dancer’s Motivation ABSTRACT Sexy Dance is an erotic modern dance, supported by motion and sexy costume. The uniqueness of Alexis Dancer was in the form of choreography, every form of motion using the term of package motion and acrobatic motion at the end of the show. Sexy dancer got some critics from the public, it was known because the public does not accept the existence of a sexy dancer, and the lack of public appreciation toward sexy dancer.Based on the explanation and see the uniqueness of the Alexis Dancer group’s show, then some questions appeared about how the form of Alexis Dancer group’s choreography? and, what is the motivation of the dancers of Alexis Dancer? The aim of the research is to analyze and determine the choreography form of Alexis Dancer and to know what the motivation of the dancers of Alexis Dancer is. This research used descriptive qualitative method which gave a description as accurate as possible about an individual, state, symptom, or certain groups. Data collection techniques used in this study was observation, interviews and documentation. Data analysis techniques in this study used data reduction, data presentation, drawing conclusions, and verification. Validity technique of data was used triangulation of sources, methods, and theory. The results of the study, from the form of choreography used the term motion package and there were some stunts. Aspects of choreography or performances included movement, accompaniment / music of dance, makeup, costumes of dance and properties / equipment. The process of making choreography was passing through a phase which included the exploration, improvisation and the formation / composition, so as to create sexy, energetic, and erotic choreography. Motivation of the dancers of Alexis to engage in this work was started from their hobby and coming often to the nightlife spots. Alexis Dancer was able to survive and provide a place for teenagers’ hobbies and some of them who want to work while creating a work. Suggestions of this study are form of choreography should be very principal aspect for the entire show as a way to keep people interested. Implications for education, modern dance globally can be used as a appreciation media in extracurricular activities at school. For Alexis Dancer, they should be more professional in carrying out the work to make the choreography more creative and innovative. Expression of the dancers onstage can be further formed such as smile or facial expression, because dance should be in line with the movement, the rhythm and flavor as well as the use of makeup and costumes to be more creative.
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP TARI SORENG DI DESA LEMAHIRENG BAWEN KABUPATEN SEMARANG
Jurnal Seni Tari Vol 5 No 1 (2016): Vol 5 No 1 (2016)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jst.v5i2.12559

Abstract

PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP TARI SORENG DI DESA LEMAHIRENG BAWEN KABUPATEN SEMARANG Anis Khairunnisa Restu Lanjari Alumni Mahasiswa Jurusan Sendratasik, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang Email: anisdewangga11@gmail.com Sari Tari Soreng merupakan jenis tari kerakyatan yang berada di Desa Lemahireng. Tari Soreng menggambarkan semangat para pasukan prajurit pilihan pemberani yang siap untuk berperang laga. Permasalahan yang diteliti dalam penelitian ini yaitu: Persepsi Masyarakat terhadap Tari Soreng di Desa Lemahireng Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang. Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi masyarakat di Desa Lemahireng Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang dan untuk mengetahui upaya yang harus dilakukan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dan melakukan penelitian dengan metode pendekatan sosiologi. Teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa dari beberapa persepsi yang diperoleh dari masyarakat tentang Tari Soreng. Persepsi yang tidak mendukung terdapat pada pada masyarakat usia anak-anak (12-17 Tahun) dan usia muda (17-25 Tahun) dan yang mendukung cenderung masyarakat pada usia tua (25-85 Tahun). Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap Tari Soreng di Desa Lemahireng Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang adalah yang melatar belakangi lahirnya persepsi dimasyarakat seperti tingkat pendidikan yang tinggi membuat cara pandang masyarakat lebih terbuka dan modern. Adapun Upaya yang harus dilakukan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Semarang yaitu melakukan pembinaan Tari Soreng harus dimulai dengan masyarakatnya sendiri di daerahnya masing-masing, juga dilakukan oleh kelompok paguyuban Soreng kridho wargo budhoyo, salah satu bentuk pembinaan yang efektif adalah dengan mengadakan festival atau lomba.Simpulan dari penelitian adalah : Permasalahan persepsi disuatu masyarakat tergantung pada sudut pandang dan cara melihat suatu kesenian. persepsi tentang Tari Soreng berubah di berbagai elemen masyarakat Desa Lemahireng seiring dengan semakin majunya jaman. Saran untuk Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Semarang, untuk lebih memaksimalkan upaya pelestarian dalam pemanfaatan Tari Soreng dalam bidang ilmu pengetahuan dan pariwisata. Generasi muda diharapkan dapat lebih mudah memelajari Tari Soreng dan diharapkan dapat melestarikan dan mengembangkannya. Kata Kunci : Tari Soreng, Persepsi Masyarakat Di Desa Lemahireng; THE PUBLIC PERCEPTIONSTOWARDS SORENG DANCE AT LEMAHIRENG VILLAGE BAWEN SEMARANG AnisKhairunnisa Restu Lanjari Graduate Students of Dance and Music Departement, Languanges and Arts Facull, Semarang State University Email: anisdewangga11@gmail.com ABSTRACT Soreng dance is a kind of populist dance in the village Lemahireng. Dance Soreng describe the morale of the troops brave choice soldiers prepared for war games. Issues examined in this study are: Public perception of the Dance in the Village Lemahireng Soreng Bawen District of Semarang District. Goals to be achieved in this research is to determine the public perception in the village Lemahireng Bawen District of Semarang District and to determine the measures to be undertaken by the Department of Education and Culture. This study uses qualitative research methods and conduct research with a sociological approach method. Data were analyzed using data reduction, data presentation and conclusion. The results showed that of some perceptions obtained from the community about Tari Soreng. Perception is not present in the community to support children age (12-17 years) and younger age (17-25 years) and that support tends society in old age (25-85 years). Factors that affect the public perception of dance in the village Soreng Lemahireng Bawen District of Semarang District is the background for the birth of the perception of the community as a high level of education makes way people view more open and modern. The effort to do Office of Education and Culture of Semarang District is to provide guidance Dance Soreng should start with their own community in their respective regions, also carried out by a group of community Soreng kridho Wargo budhoyo, one form of effective formation is to hold a festival or competition. The conclusions of the study are: Problems sector in the public perception depends on your viewpoint and how to view an art. Dance Soreng perception of change in different elements of society Lemahireng village along with the advancement of age. Suggestions for the Education and Culture District of Semarang, to further maximize conservation efforts in the utilization of Dance Soreng in science and tourism. The younger generation is expected to be more easily studied dance Soreng and is expected to preserve and develop it. Keywords : soreng Dance, public perceptions of lemahireng village;
Makna Simbolik Tari Lengger Solasih di Sanggar Satria Kabupaten Wonosobo
Jurnal Seni Tari Vol 6 No 1 (2017): Vol 6 No 1 (2017)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jst.v6i1.13181

Abstract

Tari Lengger Solasih adalah tari tunggal putri yang bisa di tarikan secara kelompok. Tari ini bertemakan penggambaran pertumbuhan seorang gadis remaja yang penuh dinamika dalam pertumbuhan hidupnya, bersukaria atas segala keberhasilan dan selalu bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tujuan penelitian ini untuk memahami dan mendiskripsikan makna simbolik yang ada pada tari Lengger Solasih. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif. Unsur yang ditampilkan pada pertunjukan tari Lengger Solasih terdiri dari beberapa elemen diantaranya: penari, gerak, musik, tata rias, busana dan pola lantai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna simbolik tari Lengger Solasih memiliki gambaran kehidupan manusia, pada saat manusia masih dalam usia anak-anak masih di didik oleh kedua orang tua, pada saat remaja manusia akan bersosialisasi dengan masyarakat dan lingkungan dan pada saat manusia menginjak usia dewasa mereka akan lepas dari kedua orang tuanya dan memulai kehidupan mandiri. Makna simbolik terdapat pada gerak, musik, tata rias, busana, dan pola lantai yang sesuai dengan kondisi sosial budaya Kabupaten Wonosobo. Kata kunci:Makna Simbolik, tari Lengger Solasih Abstract Solasih Lengger is a traditional Javanese dance which is usually solo performed by a single female dancer but also occasionally by a group. The theme of the dance strongly epitomizes the growth phase of a teenage girl whose life is full of dynamics, rejoicing fruitfulness, and expressing gratitude to the Deity. The purpose of this study is to comprehend and describe the symbolic meanings which are embodied within Lengger Solasih dance. This study uses descriptive qualitative. The main elements which are shown on Lengger Solasih consists of several parts including: the dancers, the movements, the music, cosmetology, the outfits and the floor patterns.The research results show that the symbolic meaning of the dance Lengger Solasih portrays the growth phase of human life. Starting when they are younglings who are taught by both of their parents, adolescences who are bound to interact with the community and their surroundings, and finally reaching adulthood where they will be separated from parents and start living responsibly and independently.Every symbolic meanings of Solasih Lengger dance are expressed within the choreography, music, cosmetology, outfits, and floor patterns that correspond to the social and cultural conditions of Wonosobo district. Keyword : Symbolic Meaning, Lengger Solasih Dance
Interaksi Sosial Dalam Pembelajaran Seni Tari
Jurnal Seni Tari Vol 6 No 1 (2017): Vol 6 No 1 (2017)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jst.v6i1.13199

Abstract

Abstrak Pembelajaran seni tari di sekolah termasuk dalam pelajaran muatan lokal. Pembelajaran seni tari mengajarkan tentang interaksi sosial antar guru dengan siswa dan siswa dengan siswa. Interaksi sosial adalah hubungan timbal balik antara perorangan dengan perorang, perorangan dengan kelompok dan kelompok dengan kelompok. Interaksi sosial dapat terjadi dalam proses pembelajaran di kelas. Interaksi sosial yang terjadi didalam pembelajaran meliputi kerjasama, akomodasi, persaingan dan konflik. Tujuan dalam penelitian ini mengetahui interaksi sosial dalam pembelajaran seni tari. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan peneliti terdiri dari observasi, wawancara, dokumentasi. Pemeriksaan keabsahan data menggunakan teknik triangulasi. Analisis data pada penelitian ini yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Hasil penelitian ini adalah untuk menggambarkan interaksi sosial dalam pembelajaran seni tari. Kata Kunci : Interaksi Sosial, Pembelajaran Learning of dancing at school includes in the local content. Learning of dancing at school teach about social interaction between teacher with students and also among the students. The social interaction is mutual relationship between individuals, individual with group or among the groups. The social interaction can ocur in teaching and learning process. They are including cooperation, accomodation, competition, and conflicts. The research purpose is to know the social interaction in learning of dancing. It is using qualitative method. The data collection techniques is conducted by the researcher consists o observation, interviews, and documentation. And the validity of the examination is using triangular techniques. They are collecting data so the result of the study is to describe the social interaction in learning of dancing. Keywords: Social interaction, learning
Nilai Moral Pertunjukan Barongan Risang Guntur Seto Blora
Jurnal Seni Tari Vol 6 No 1 (2017): Vol 6 No 1 (2017)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jst.v6i1.14757

Abstract

Barongan Risang Guntur Seto in his show contains certain moral values. This study examines the moral values ​​that are showed in Barongan Risang Guntur Seto perfomance. The method used a qualitative approach with normative ethics. Collecting data through observation, interviews and documentation. Data analysis uses dance analysis based on Adshead Theory. The research results of the moral value Barongan Risang Guntur Seto is focussed on the theme, storyline, and accompaniment. Pattern sequence or structure of the performance is the opening, content/core and closing. The permance tell the responsibilities of soldiers on the king on the theme. Dramatic Geger Kediri storyline is about two knights who hold trust, namely Gembong Amijoyo and Jaka Lodra. Gembong Amijoyo has responsible to look after Alas Jati Wengker While Jaka Lodra gain the responsible of Panji Asmara Bangun to propose Dewi Sekartaji. Accompanying used in Barongan Risang Guntur Seto is Barongan Blora accompaniment depicting two knights of the character Gembong Amijoyo and Jaka Lodra in implementing Responsible. The moral values ​​of the Barongan Risang Guntur Seto performance is the kindness that is formed from religious, honest, tolerant, friendly, and responsibility while the disadvantage is the dispute between the brothers, which resulted in a fierce battle.