cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Seni Tari
ISSN : 22526714     EISSN : 25032585     DOI : -
Core Subject : Art,
Arjuna Subject : -
Articles 328 Documents
BENTUK PERTUNJUKAN JARAN KEPANG PAPAT DI DUSUN MANTRAN WETAN DESA GIRIREJO KECAMATAN NGABLAK KABUPATEN MAGELANG
Jurnal Seni Tari Vol 6 No 1 (2017): Vol 6 No 1 (2017)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jst.v6i1.15510

Abstract

Abstrak ___________________________________________________________________Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bentuk pertunjukan yang terkandung di dalam pertunjukan Jaran Kepang Papat di Dusun Mantran Wetan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, teknik pengumpulan data yang digunakan triangulasi yaitu gabungan antara observasi, wawancara, dokumentasi, analisis data bersifat induktif, serta teknik keabsahan data, ketekunan pengamatan, reduksi data, verifikasi data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk pertunjukan pada kesenian Jaran Kepang Papat dapat dilihat melalui elemen-elemen pertunjukan yaitu lakon, pemain atau pelaku, gerak, musik, tata rias, tata busana, tempat pementasan, properti, sesaji, dan penonton. Pemain atau pelaku Jaran Kepang Papat merupakan seluruh anggota yang berjumlah 16 orang yang semua pemain merupakan laki-laki dan satu garis keturunan, sedangkan penari Jaran Kepang Papat yang berjumlah empat orang menjadi ciri khas tersendiri pada setiap pertunjukannya. Gerak perangan merupakan gerak puncak pada pementasan, karena biasanya salah satu penari ada yang mengalami kerasukan. Kata Kunci : Bentuk Pertunjukan, Jaran Kepang Papat, Penari Hanya Empat, Satu Garis Keturunan. Abstract ___________________________________________________________________This study aims to investigate the form of a show which was contained in Jaran Kepang Papat performance in Mantran Wetan Village. Qualitative method wasemployed in this study. Data collection techniques used triangulation which combines observation, interview, and documentation, data analysis was inductive/qualitative and data validity technique, perseverance observation, data reduction, data verification, and conclusion. Qualitative research results further emphasized the significance of the generalization. The findings showed that the form of the show of Jaran Kepang Papat performance could be seen through the elements of the show, they were the act, players or actors, motion, music, make-up, fashion, stage, properties, offerings, and the audience. The total player of Jaran Kepang Papat which concicted of 16 men and in one lineage with, although four Jaran Kepang Papat dancers became its own characteristics on Jaran Kepang Papat performance. Perangan motion was a peak motion in the performance , because there was one of the dancers who usually have possessed. Jaran Kepang Papat performance was held at saparan or bersih desa celebration, nadzar or a promise which was said when recovering from illness, graduating school, and repaing windfall, and performed at the Festival of the five mountains. Keyword : Performance’s form, Jaran Kepang Papat,Only Four Dancer, One Lineage
KOREOGRAFI TARI OREK-OREK DI SANGGAR ASRI BUDAYA LASEM KABUPATEN REMBANG
Jurnal Seni Tari Vol 6 No 2 (2017): Vol 6 No 2 (2017)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jst.v6i2.16006

Abstract

ABSTRAK Tari Orek-orek merupakan tarian khas Kabupaten Rembang yang ditarikan secara berpasangan putra dan putri. Tari Orek-orek menceritakan pergaulan antara sepasang suami istri yang sedang bekerja di sawah. Gerak yang ada pada tari Orek-orek didapatkan dari proses eksplorasi, improvisasi dan juga komposisi. Tari Orek-orek memiliki keunikan dalam balutan kostumnya. Digunakan untuk menggambarkan identitas Kabupaten Rembangyang diwujudkan dalam bentuk batik khas yang ada di Kabupaten Rembang yaitu batik tulis lasem. Tari Orek-orek menggunakan rias korektif pada penari putri dan rias kethoprak pada penari putra. Alasan tersebut yang melatarbelakangi peneliti untuk mendeskripsikan tari Orek-orek dari segi proses koreografi dan bentuk tari. Penelitian yang dipakai oleh peneliti yaitu penelitian kualitatif. Peneliti dalam melakukan penelitian dan mengumpulkan data dengan cara observasi, wawancara, dokumentasi. Data yang sudah didapatkan peneliti di analisis dengan menggunakan cara reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Kata kunci: bentuk tari, koreografi, tari orek-orek ABSTRACT Orek-orek dance is special dance from Rembang regency who danced couple by men and woman. Orek-orek dance tell about husband and wife that work in rice field. Movement in orek-orek dance arrange from exploration, improvisation, and composition. Orek-orek dance has an unique costume. This costume used to explain identity of Rembang regency that formed in batik tulis lasem, an spesial batik in rembang regency. Orek-orek dance used corrective make up for women dancer, and kethoprak make up for men dancer. This research describe orek-orek dance from choreography process and form of dance. Qualitative research method used in this research. Researcher use observation, interview, and documentation to get data. Analisys data use reduction data, display data, and conclusion. Keywords: form of dance, choreography, orek-orek dance
NILAI ESTETIKA PERTUNJUKIAN KUDA LUMPING PUTRA SEKAR GADUNG DI DESA RENGASBANDUNG KECAMATAN JATIBARANG KABUPATEN BREBES
Jurnal Seni Tari Vol 6 No 2 (2017): Vol 6 No 2 (2017)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jst.v6i1.16067

Abstract

Keindahan Kuda Lumping Putra Sekar Gadung dapat dilihat dari segi bentuk, isi, dan penampilan. Masalah yang dikaji adalah nilai estetika dengan kajian pokok, bentuk pertunjukan, isi pertunjukan dan penampilan pertunjukan Kuda Lumping Putra Sekar Gadung di Desa Rengasbandung Kecamatan Jatibarang Kabupaten Brebes.Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan estetis koreografi, pendekatan etik dan emik. Teknik pengumpulan data dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang diperoleh kemudian dianalisa dengan menggunakan teori Adshead.Berdasarkan analisa data, nilai estetika yang ada pada pertunjukan Kuda Lumping Putra Sekar Gadung dapat dilihat dari segi bentuk, isi dan penampilan. Bentuk pertunjukan terdiri dari ragam gerak, musik iringan, tata rias dan busana, tata lampu, tata suara, dan tempat pertunjukan. Komponen bentuk pertunjukan memberikan kesan lincah, gagah/tegas,dan dinamis. Isi terdiri dari gagasan/idea, suasana, dan pesan yang didalamnya mengandung nilai-nilai kebersamaan, gotong-royong, kerjasama, dan mistis. Penampilan pertunjukan Kuda Lumping didukung dengan potensi yang terdapat dalam diri pelaku seni berupa bakat dan keterampilan yang dicapai melalui latihan rutin.Saran peneliti untuk pelaku seni adalah untuk menambah aktivitas latihan rutin dan lebih memperhatikan gerakan-gerakan dasar tari yang diinginkan agar terlihat lebih indah. Kata kunci: nilai estetika, bentuk pertunjukan, tari kuda lumping The beauty of Kuda Lumping Putra Sekar Gadung can be seen in terms of shape, content, and appearance. The problem studied is the aesthetic value with the main study, the form of performances, the contents of performances and showing performances of Kuda Lumping Putra Sekar Gadung in Rengasbandung Village, Jatibarang Sub-district, Brebes Regency. The research method used is descriptive qualitative by using aesthetic approach of choreography, ethical and emic approach. Technique of collecting data by observation, interview, and documentation. The data obtained then analyzed by using the theory of Adshead. Based on data analysis, the aesthetic value that existed in the show of Kuda Lumping Putra Sekar Gadung can be seen in terms of shape, content and appearance. Performing form consists of motion range, music accompaniment, makeup and clothing, lighting, sound system, and place of performances. The components of the show form give the impression lively, brave/firm, and dynamic. Content consists of ideas, atmosphere, and messages that contain values ​​of togetherness, mutual cooperation, cooperation, and mystical. The performance of Kuda Lumping show is supported by the potential that is found in the artist in the form of talent and skill achieved through regular training. The researcher's suggestion for the artist is to do exercise more routine and pay more attention to the basic dance movements that are desired to look more beautiful. Aesthetic value; form of performance; Kuda Lumping dance
Bentuk Penyajian Tari Bedana Di Desa Terbaya Kecamatan Kotaagung Kabupaten Tanggamus Lampung
Jurnal Seni Tari Vol 6 No 1 (2017): Vol 6 No 1 (2017)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jst.v6i1.16108

Abstract

Abstrak Tari Bedana adalah salah satu Tari tradisional Lampung. Tari ini dipercayai bernapaskan ajaran agama Islam dan mengambarkan tata kehidupan dan budaya masyarakat di Lampung yang ramah dan juga terbuka. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana Bentuk Penyajian Tari Bedana. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif dan menggunakan pendekatan etnografi. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik triangulasi metode yaitu, pengecekan kepercayaan beberapa sumber data dengan metode yang sama yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap objek yang diteliti. Hasil penelitian ini mendeskripsikan Bentuk Penyajian Tari Bedana Di Sanggar Siakh Budaya Desa Terbaya Kecamatan Kotaagung Kabupaten Tanggamus meliputi gerak, tema, iringan, tata rias, tata busana, pola lantai, dan tempat pertujukan. Tari Bedana diiringi dengan alat musik seperti rebana, ketipung, gambus dan gong dan diiringan syair Bedana dan Penayuhan. Tema dari Tari Bedana ini adalah pergaulan yaitu Tari Bedana ini tidak diperbolehkan bersentuhan dengan pasangannya karena bukan muhrim. Kata kunci:Bentuk Penyajian, Tari Bedana Abstract Bedana Dance is one of traditional Lampung Dance. This dance is believed to teach the teachings of Islam and describes the life and cultural life of people in Lampung are friendly and also open. The purpose of this study is to know how the Presentation Form of Bedana Dance. This research uses descriptive qualitative method and using ethnography approach. In this research, researcher use technique triangulation method that is, checking trust of some data source with same method that is observation, interview, and documentation to object studied. The results of this study describe the Presentation of Bedana Dance Presentation at Sanggar Siakh Budaya Desa Terbaya Kecamatan Kotaagung Tanggamus District includes motion, theme, accompaniment, cosmetology, clothing, floor pattern, and place of reference. Bedana dance is accompanied by musical instruments such as tambourine, ketipung, gambus and gong and the Bedana and Penayuhan poetry. The theme of this Bedana Dance is the association of Bedana Dance is not allowed in contact with his partner because it is not muhrim. Keyword:Form of presentation, Bedana Dance
PROSES PEMBELAJARAN GERAK DAN LAGU YANG KREATIF BERDASARKAN KURIKULUM 2013 DI TK MIRYAM SEMARANG
Jurnal Seni Tari Vol 6 No 2 (2017): Vol 6 No 2 (2017)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jst.v6i2.17446

Abstract

This study aims to describe the learning process of motion and creative songs based on the Curriculum 2013 in Miryam Semarang Kindergarten. The method used in this research is descriptive qualitative research. The result of research is the learning process of motion and song covering the planning stage, implementation stage, and result. The planning stage consists of RPP. The implementation stage consists of opening activities, core activities, and closing activities. Result of this research is the students have participate in a intellectual and emotional learning procces, student have found learning concept and have responsibility to finishing task together.
MAKNA SIMBOLIK TARI MATIRTO SUCI DEWI KANDRI DALAM UPACARA NYADRAN KALI DI DESA WISATA KANDRI
Jurnal Seni Tari Vol 6 No 2 (2017): Vol 6 No 2 (2017)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jst.v6i2.17644

Abstract

ABSTRAK Tari Matirto Suci Dewi Kandri adalah tarian yang hanya ditampilkan dalam upacara Nyadran Kali di Desa Wisata Kandri, yakni setiap Kamis Kliwon pada bulan Jumadil Akhir. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan bentuk dan makna simbolik tari Matirto Suci Dewi Kandri dalam upacara Nyadran Kali di Desa Wisata Kandri Kecamatan Gunungpati Semarang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yakni kualitatif yang bersifat deskriptif dengan pendekatan etnokoreologi. Hasil penelitian berupa bentuk tari Matirto Suci Dewi Kandri dimunculkan melalui elemen dasar tari dan elemen pendukung tari. Elemen dasar tari terdiri dari gerak, ruang, dan waktu. Elemen pendukung tari terdiri dari musik, tema, tata busana, tata rias, tempat pentas, tata lampu/cahaya dan suara, serta properti. Tari Matirto Suci Dewi Kandri memiliki keunikan yang dapat dilihat pada tata buasan yang digunakan, berupa kain putih. Serta, musik yang digunakan untuk mengiringi tarian merupakan musik Kempling (alat musik khas Desa Wisata Kandri). Makna simbolik tari Matirto Suci Dewi Kandri muncul melalui gerak, musik, tema, tata rias, tata busana, dan properti. Kata Kunci: Bentuk Tari; Desa Wisata Kandri; Makna Simbolik; Tari Matirto Suci Dewi Kandri; Upacara Nyadran Kali. ABSTRACT Matirto Suci Dewi Kandri dance is a dance which is only performed in Nyadran Kali ceremony in Kandri tourisme village, which is held every Thursday Kliwon on Jumadil Akhir (sixth month in lunar based Islamic Hijri Calendar). This study aimed to describe the symbolic formation and meaning of Matirto Suci Dewi Kandri dance in Nyadran Kali ceremony in Kandri tourisme village, Gunungpati Subdistrict, Semarang. This study used qualitative method with ethnochoreology approach. From the study, it was found that the Matirto Suci Dewi Kandri dance formation was emerged through the dance basic and the dance proponent elements. The dance basic element consists of movement, space, and time zone while the dance proponent element consists of music, theme, clothing, make up, stage, lighting and sound system, and properties. Matirto Suci Dewi Kandri dance has a unique side which can be seen from the clothing used which white fabric. In addition, music used to accompany the dance is Kempling (typical musical instrument from Kandri Village). The symbolic meaning of Matirto Suci Dewi Kandri dance appears on the movement, music, theme, make up, clothing, and properties. Keywords: Dance form; Kandri Tourism Village; Matirto Dewi Kandri Dance; Nyadran Kali Ceremony; Symbolic Meaning.
PELESTARIAN KESENIAN BABALU DI SANGGAR PUTRA BUDAYA DESA PROYONANGGAN KABUPATEN BATANG
Jurnal Seni Tari Vol 6 No 2 (2017): Vol 6 No 2 (2017)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jst.v6i2.18280

Abstract

ABSTRAK Kesenian Babalu merupakan kesenian yang digunakan sebagai alat untuk siasat perang dalam melawan penjajah pada jaman dahulu. Kesenian Babalu berasal dari Kabupaten Batang yang dilestarikan di Sanggar Putra Budaya Desa Proyonanggan Kabupaten Batang. Usaha pelestarian Kesenian Babalu dilakukan dengan usaha perlindungan, pemanfaatan dan pengembangan. Pelestarian Kesenian Babalu berjalan dan berkembang di masyarakat Kabupaten Batang yang didukung dengan adanya Sanggar Putra Budaya dan Pemerintah Kabupaten Batang. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan bentuk pertunjukan Kesenian Babalu, mendiskripsikan upaya pelestarian Kesenian Babalu di Sanggar Putra Budaya Desa Proyonanggan Kabupaten Batang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, dokumentasi, dan wawancara. Teknik keabsahan data diperiksa dengan metode triangulasi sumber. Teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian pada bentuk pertunjukan Kesenian Babalu terdiri dari tiga tahapan, yakni awal, inti, dan akhir. Persiapan awal dalam pertunjukan Kesenian Babalu ditandai dengan bunyi peluit oleh penari Kesenian Babalu lalu penari memasuki panggung dengan ragam gerak kaki doublestep. Inti pertunjukan Kesenian Babalu ditandai dengan ragam gerak diantaranya yaitu ragam gerak langkah tepuk dan ragam gerak silat. Penutup dalam pertunjukan Kesenian Babalu ditandai dengan ragam gerak jalan ditempat lalu para penari keluar panggung. Bentuk Kesenian Babalu dimunculkan melalui elemen dasar tari dan elemen pendukung tari. Elemen dasar tari terdiri dari gerak, ruang, dan waktu. Elemen pendukung tari terdiri dari musik, tata busana, tata rias, tempat pentas, waktu pelaksanaan, tata suara, properti dan penonton. Upaya pelestarian Kesenian Babalu dilakukan melalui tiga tahap yaitu perlindungan, pemanfaatan, dan pengembangan. Upaya perlindungan kesenian Babalu dilakukan melalui pelatihan tari di Sanggar Putra Budaya, Upaya pemanfaatan dilakukan melalui pementasan-pementasan Kesenian Babalu dan upaya perkembangan dilakukan melalui perkembangan gerak, iringan dan tatabusana dalam kesenian Babalu. Saran bagi 1) Sanggar Putra Budaya agar terus mengembangkan bentuk Kesenian Babalu menjadi lebih baik lagi, 2) Pengelola Sanggar agar terus mengadakan pementasan-pementasan kesenian Babalu 3) Penari Kesenian Babalu agar lebih baik dalam mengekspresikan gerak dalam Kesenian Babalu, 4) Masyarakat di Desa Proyonanggan dan masyarakat di Kabupaten Batang agar ikut serta dalam melestarikan Kesenian Babalu.
NILAI DAN FUNGSI TARI LENGGANG NYAI
Jurnal Seni Tari Vol 6 No 2 (2017): Vol 6 No 2 (2017)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jst.v6i2.18303

Abstract

ABSTRACT Lenggang Nyai Dance is a dance of new creations created by Wiwiek Widiyastuti in 2002 consists of 32 motions. The idea of creating the Lenggang Nyai Dance is the Nyai Dasimah folklore. This study aims to know and understand, about the values and functions that contained in Lenggang Nyai Dance. This study uses qualitative method. Data collection techniques that used in this study are observastion, interviews, and documentation. Lenggang Nyai Dance has 2 values, consisting of moral and aesthetic values. Lenggang Nyai Dance has 2 values and 3 functions which is a positive thing for the art connoisseur. The moral values in the Dance Lenggang Nyai in the form of: confusion, sadness, shame, confidence, happiness, confidence, courage, and true love. And the value of aesthetics can be seen from various elements such as wiraga, wirama, wirasa, wirupa. Functions that exist in Lenggang Nyai dance are entertainment, performing arts and as a education facility. Suggestions from the study results are for artists in the future to convey the content of dances and dancers can better appreciate the values that exist in the contents of the dance. Keyword: presentation form, function, value, Tari Lenggang Nyai
RITUAL MENGAMBIK TANAH DALAM UPACARA TABUT DI KOTA BENGKULU
Jurnal Seni Tari Vol 6 No 2 (2017): Vol 6 No 2 (2017)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jst.v6i2.18398

Abstract

Abstrak Tradisi Tabut merupakan salah satu upacara tradisional, yang dirayakan dari tanggal 1 sampai 10 Muharram pada setiap tahunnya. Upacara Tabut mempunyai beberapa bagian ritual. Mengambik Tanah salah satu bagiannya memiliki bentuk penyajian berbeda dibandingkan dengan bagian ritual yang lainnya, yakni pada Ritual Mengambik Tanah yang merupakan kegiatan utama dalam upacara ritual Tabut. Mengambik Tanah diartikan sebagai mengingatkan manusia asal mula manusia dari tanah kembali ke tanah atau menggalami kematian. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan multidisiplin. Teknik pengumpulan data dilakukan menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang ada kemudian dianalisis melalui empat tahap yaitu pengumpulan data, reduksi, penyajian, dan verifikasi. Teknik pemeriksaan keabsahan data yaitu, triangulasi sumber, triangulasi metode, dan triangulasi teori. Hasil penelitian mengungkapan bahwa Ritual Mengambik Tanah merupakan bagian pertama dalam prosesi Tabut. (1) Tahapan Ritual Mengambik Tanah dilakukan sebagai berikut: (a) gubernur dan rombongan menjemput Keluarga Kerukunan Tabut (KKT) di balai adat/tugu dhol, (b) tari pembukaan, (c) pembukaan Tabut, (d) pelepasan Keluarga Kerukunan Tabut (KKT), (e) Mengambik Tanah. (2) Bentuk pertunjukan pada upacara Ritual Mengambik Tanah tidak terlepas dari aspek-aspek seni pertunjukan yang meliputi: (a) gerak, (b) suara atau musik, (c) desain lantai, (d) tata rias dan tata busana, (e) properti, (f) waktu penyelenggaran, (g) tempat pertunjukan, (h) pelaku kesenian, (i) penonton Kata Kunci Tabut; bentuk pertunjukan; ritual Mengambik tanah Abstract Tradition of the Ark is one of the traditional ceremonies, which is celebrated from 1 to 10 Muharram every year. The Ark ceremony has several parts of the ritual. Land take is one part which has a different form of presentation compared to other parts of the ritual, namely the ritual take land that is the main activity in the ritual of the ark. Taking the Land is defined as reminding humans of human origins from the soil back to the ground or groping death. The research method used is qualitative with multidisciplinary approach. Data collection techniques were conducted using observation, interview, and documentation techniques. Existing data is then analyzed through four stages: data collection, reduction, presentation, and verification. Technique examination of data validity that is, triangulation of source, triangulation method, and triangulation theory. The results reveal that the Ritual Taking Soil is the first part in the Ark procession. (1) Stages Ritual Taking Soil performed as follows: (a) the governor and his entourage picked Family Harmony Ark (of the summit) in customs hall / monument dhol, (b) opening dance, (c) opening the Ark, (d) the release of Family Harmony Ark (KKT), (e) Taking the Land. (2) The performances at the ceremony Ritual Take the land can not be separated from aspects of the performing arts that includes: (a) motion, (b) sound or music, (c) the design of the floor, (d) makeup and fashion, (e ) Property, (f) the delivery time, (g) the venue, (h) artisans, (i) audiences . Key words: oerformance of form, the ritual of mengambik tanah
Wayang Wong di SMA Negeri 1 Lasem Kabuipaten Rembang : Pemanfaatannya dalam Promosi Sekolah
Jurnal Seni Tari Vol 7 No 1 (2018): Vol 7 No 1 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jst.v7i1.21910

Abstract

Wayang Wong SMA Negeri 1 Lasem merupakan wayang wong yang menjadi ciri khas kegiatan seni diSMA Negeri 1 Lasem Kabupaten Rembang dan digunakan sebagai media promosi sekolah. Penelitian inibertujuan untuk mendeskripsikan bentuk pertunjukan wayang wong di SMA Negeri 1 Lasem Kabupaten Rembang serta menganalisis pemanfatan wayang wong dalam promosi sekolah. Penelitian yang dilakukan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan interdisiplin. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik keabsahan data menggunakan triangulasi sumber, triangsulasi teknik, dan triangulasi. Teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, dan verifikasi.Hasil penelitian ini adalah bentuk pertunjukan wayang wong SMA Negeri 1 Lasem dengan lakon Lahirnya Gathutkaca yang dipentaskan di Lapangan Desa Gowak pada tahun 2015 menggunakan kaidah bentuk pertunjukan wayang wong gaya Surakarta meliputi gerak, musik iringan, tata rias dan busana yang dikenakan. Struktur dramatik wayang wong SMA Negeri 1 Lasem terdiri dari Pathet Nem, Sanga, dan Manyura. Pemanfaatan wayang wong dalam promosi sekolah dilakukan melalui kegiatan sosialisasi di lembaga pendidikan dan pentas wayang wong di masyarakat. Hasil secara kuantitas menunjukkan sebanyak 16 siswa kelas X tahun ajaran 2016/2017 dari desa sasaran diterima sebagai siswa SMA Negeri 1 Lasem dan sebanyak 75 siswa tergabung dalam tim wayang wong. Hasil secara kualitas menunjukkan pandangan positif masyarakat mengenai SMA Negeri 1 Lasem yang diunggulkan dalam seni wayang wongnya. Kata kunci:wayang wong; pemanfaatan; promosi sekolah