cover
Contact Name
Muliyadi
Contact Email
uppmpoltekkesternate@gmail.com
Phone
+6282233159448
Journal Mail Official
juketernate@gmail.com
Editorial Address
Jl. Cempaka Kelurahan Tanah Tinggi Barat Kecamatan Kota Ternate Selatan
Location
Kota ternate,
Maluku utara
INDONESIA
Jurnal Kesehatan
ISSN : 19076401     EISSN : 25977520     DOI : https://doi.org/10.32763/juke
Core Subject : Health, Social,
JUKE : Jurnal Kesehatan Poltekkes Kemenkes Ternate is an national peer-reviewed journal dedicated to interchange for the results of high quality research in all aspect of health Science. The journal publishes state-of-art papers in fundamental theory, experiments and simulation, as well as applications, with a systematic proposed method, sufficient review on previous works, expanded discussion and concise conclusion. As our commitment to the health of science. The Jurnal Kesehatan follows the open access policy that allows the published articles freely available online without any subscription.
Articles 384 Documents
PENGALAMAN PENGKONSUMSIAN HERBAL KUAH RUJAK PADA IBU NIFAS DI WILAYAH KOTA TERNATE Suaib, Nurkila; Saraha, Rosida Hi
Jurnal Kesehatan Poltekkes Ternate Vol 8 No 01 (2015): Jurnal Kesehatan Poltekkes Ternate, November 2015
Publisher : UPPM Politeknik Kesehatan Kemenkes Ternate, Maluku Utara, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.928 KB) | DOI: 10.32763/juke.v8i01.67

Abstract

Abstract : Our countrybecameone of the centersof medicinal plants inthe world. Thousands oftropicalplant species, thrivesthroughout the country. GenerallypeopleinNorth Malukucity of Ternateisespeciallythe people who stillholdsthe customs and habitsare hereditarymaintainedbythe local community. Ternatecitywitha tropicalclimatethat isovergrown withvariouskinds ofwild plantsthatgrow welland theplants thatgrowin thesettlementas seasoning, usedbyancestorsforhealthasherbalmedicine. Oneexample isa plant thatcomes fromsuchsettlementsSerei, ginger, galangal, turmeric, acid, palm sugar, coriander, pepperandherbsareprocessed intoKuahRujakasit can be usedonnew motherswhoare consideredbeneficialto theprocess of spendingthe remnantsproducts of conception(lochia). This research isa qualitativedescriptivecross sectionaltimeapproaches. Data was collected throughin-depthinterview techniques(Indepth Interview) in7new mothersaskey informants. Data analysisusing the method ofcontent analysis(content analysis). The results showed that postpartum mothers consumed in Ternate is all new mothers herbs salad dressing. All postpartum women interviewed have a way of processing, composition and dosage of herbal salad dressing and salad dressing herbal dose almost have in common. All postpartum women interviewed explained the perceived benefits after consuming herbal salad dressing on the puerperal period.The conclusionof this studyisbased onthe results,thatthe midwifebelievescultur(culture) andpostpartummaternal behaviorinTernate Cityis one ofthe techniquesinthetreatment ofpuerperium
IDENTIFIKASI MIKROFILARIA PADA PENDERITA FILARIASIS PASCA PENGOBATAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS RUM BALIBUNGA KECAMATAN TIDORE UTARA KOTA TIDORE KEPULAUAN Puasa, Rony
Jurnal Kesehatan Poltekkes Ternate Vol 9 No 1 (2016): Jurnal Kesehatan Poltekkes Ternate, Mei 2016
Publisher : UPPM Politeknik Kesehatan Kemenkes Ternate, Maluku Utara, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (484.542 KB) | DOI: 10.32763/juke.v9i1.99

Abstract

Latar belakang ; Filariasis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi parasit nematoda yang tersebar di Indonesia. Penyakit ini jarang terjadi pada anak karena manifestasi klinisnya timbul bertahun-tahun kemudian setelah infeksi. Gejala pembengkakan kaki muncul karena sumbatan mikrofilaria pada pembuluh limfe yang biasanya terjadi pada usia di atas 30 tahun setelah terpapar parasit selama bertahun-tahun. Program eliminasi dilaksanakan melalui pengobatan massal dengan Diethylcarbamazine Citrate (DEC) dan Albendazol setahun sekali selama 5 tahun. Indonesia akan melaksanakan eliminasi penyakit kaki gajah secara bertahap dimulai pada tahun 2002 di 5 kabupaten percontohan. Jika ditemukan mikrofilaril rate ≥ 1% pada satu wilayah maka daerah tersebut dinyatakan endemis dan harus segera diberikan pengobatan secara masal selama 5 tahun berturut-turut. Dari data Kemeterian Kesehatan tahun 2010 Provinsi Maluku Utara termasuk pada daerah yang memiliki angka kesakitan akibat mikrofilaria patut menjadi perhatian, karena penyakit ini merupakan penyakit menular. Salah satu daerah di Provinsi Maluku Utara yang harus menjadi perhatian akibat kesakitan filariasis adalah Kota Tidore Kepulauan. Pada tahun 2011 Kota Tidore menjadi daerah endemis filariasis dengan miccrofilarial rate diatas ≥ 1%, angka standar nasional menggambarkan daerah endemis filariasis. Tujuan ; tujuan penelitian adalah ; untuk memberikan gambaran mikrofilaria yang ditemukan pada sediaan darah penderita filariasis pasca pengobatan di Wilayah Kerja Puskesmas Rum Balibunga Kecamatan Tidore Utara  Kota Tidore Kepulauan. Metode ; penelitian ini merupakan penelitian Deskriptif, dimana hasil dari identifikasi mikrofilaria pada penderita filariasis pasca pengobatan di Wilayah Kerja Puskesmas Rum Balibunga akan digambarkan dalam bentuk jumlah orang dan presentase spesies. Hasil ; pemeriksaan mikrofilaria pada penderita filariasis pasca pengobatan diwilayah kerja Puskesmas Rum Balibunga Kecamatan Tidore Utara Kota Tidore Kepulauan, dari 20  sampel darah responden yang diidentifikasi  tidak ditemukan mikrofilaria didalam darahnya. Kesimpulan ; dari hasil penelitian dapat dikatakan akan terjadi penurunan kasus filariasis, hal ini disebabkan sumber penularan atau penderita filariasis tidak ditemukan mikrofilariasis
Kesehatan Reproduksi Remaja Djama, Nuzliati Tahir
Jurnal Kesehatan Poltekkes Ternate Vol 10 No 1 (2017): Jurnal Kesehatan Poltekkes Ternate, Bulan Mei 2017
Publisher : UPPM Politeknik Kesehatan Kemenkes Ternate, Maluku Utara, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.399 KB) | DOI: 10.32763/juke.v10i1.15

Abstract

Seksualitas dan kesehatan reproduksi remaja didefinisikan sebagai keadaan sejahtera fisik dan psikis seorang remaja, termasuk keadaan terbebas dari kehamilan yang tak dikehendaki, aborsi yang tidak aman, penyakit menular seksual (PMS) ter-masuk HIV/AIDS, serta semua bentuk kekerasan dan pemaksaan seksual (FCI, 2000). Masa remaja adalah masa transisi antara masa kanak-kanak dengan dewasa dan relatif belum mencapai tahap kematangan mental dan sosial sehingga mereka harus menghadapi tekanan-tekanan emosi dan sosial yang saling bertentangan. Banyak sekali life events yang akan terjadi yang tidak saja akan menentukan kehidupan masa dewasa tetapi juga kualitas hidup generasi berikutnya sehingga menempatkan masa ini sebagai masa kritis. Di negera-negara berkembang masa transisi ini berlangsung sangat cepat. Bahkan usia saat berhubungan seks pertama ternyata selalu lebih muda daripada usia ideal menikah (Kiragu, 1995:10, dikutip dari Iskandar, 1997). Pengaruh informasi global (paparan media audio-visual) yang semakin mudah diakses justru memancing anak dan remaja untuk mengadaptasi kebiasaan-kebiaasaan tidak sehat seperti merokok, minum minuman berakohol, penyalahgunaan obat dan suntikan terlarang, perkelahian antar-remaja atau tawuran (Iskandar, 1997). Pada akhirnya, secara kumulatif kebiasaan-kebiasaan tersebut akan mempercepat usia awal seksual aktif serta mengantarkan mereka pada kebiasaan berperilaku seksual yang berisiko tinggi, karena kebanyakan remaja tidak memiliki pengetahuan yang akurat mengenai kesehatan reproduksi dan seksualitas serta tidak memiliki akses terhadap informasi dan pelayanan kesehatan reproduksi, termasuk kontrasepsi. Kebutuhan dan jenis risiko kesehatanreproduksi yang dihadapi remaja mempunyai ciri yang berbeda dari anak-anak ataupun orang dewasa. Jenis risiko kesehatan reproduksi yang harus dihadapi remaja antara lain adalah kehamilan, aborsi, penyakit menular seksual (PMS), ke-kerasan seksual, serta masalah keterbatasan akses terhadap informasi dan pelayanan kesehatan. Risiko ini dipe-ngaruhi oleh berbagai faktor yang saling berhubungan, yaitu tuntutan untuk kawin muda dan hubungan seksual, akses terhadap pendidikan dan pekerjaan, ketidaksetaraan jender, kekerasan seksual dan pengaruh media massa maupun gaya hidup. Khusus bagi remaja putri, mereka kekurangan informasi dasar mengenai keterampilan menegosiasikan hubungan seksual dengan pasangannya. Mereka juga memiliki kesempatan yang lebih kecil untuk mendapatkan pendidikan formal dan pekerjaan yang pada akhirnya akan mempengaruhi kemampuan pengambilan keputusan dan pemberdayaan mereka untuk menunda perkawinan dan kehamilan serta mencegah kehamilan yang tidak dikehendaki (FCI, 2000). Bahkan pada remaja putri di pedesaan, haid pertama biasanya akan segera diikuti dengan perkawinan yang menempatkan mereka padarisiko kehamilan dan persalinan dini (Hanum, 1997:2-3). Kadangkala pencetus perilaku atau kebiasaan tidak sehat pada remaja justru adalah akibat ketidak-harmonisan hubungan ayah-ibu, sikap orangtua yang menabukan pertanyaan anak/remaja tentang fungsi/proses reproduksi dan penyebab rangsangan seksualitas (libido), serta frekuensi tindak kekerasan anak (child physical abuse). Mereka cenderung merasa risih dan tidak mampu untuk memberikan informasi yang memadai mengenai alat reproduksi dan proses reproduksi tersebut. Karenanya, mudah timbul rasa takut di kalangan orangtua dan guru, bahwa pendidikan yang menyentuh isu perkembangan organ reproduksi dan fungsinya justru malah mendorong remaja untuk melakukan hubungan seks pranikah (Iskandar, 1997). Kondisi lingkungan sekolah, pengaruh teman, ketidaksiapan guru untuk memberikan pendidikan kesehatan reproduksi, dan kondisi tindak kekerasan sekitar rumah tempat tinggal juga berpengaruh (O’Keefe, 1997: 368-376). Remaja yang tidak mempu-nyai tempat tinggal tetap dan tidak mendapatkan perlin-dungan dan kasih sayang orang tua, memiliki lebih banyak lagi faktor-faktor yang berkontribusi, seperti: rasa kekuatiran dan ketakutan yang terus menerus, paparan ancaman sesama remaja jalanan, pemerasan, penganiayaan serta tindak kekerasan lainnya, pelecehan seksual dan perkosaan (Kipke et al., 1997:360-367). Para remaja ini berisiko terpapar pengaruh lingkungan yang tidak sehat, termasuk penyalahgunaan obat, minuman beralkohol, tindakan kriminalitas, serta prostitusi (Iskandar, 1997). Pilihan dan keputusan yang diambil seorang remaja sangat tergantung kepada kualitas dan kuantitas informasi yang mereka miliki, serta ketersediaan pelayanan dan kebijakan yang spesifik untuk mereka, baik formal maupun informal (Pachauri, 1997). Sebagai langkah awal pencegahan, peningkatan pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi harus ditunjang dengan materi komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) yang tegas tentang penyebab dan konsekuensi perilaku seksual, apa yang harus dilakukan dan dilengkapi dengan informasi mengenai saranan pelayanan yang bersedia menolong seandainya telah terjadi kehamilan yang tidak diinginkan atau tertular ISR/PMS. Hingga saat ini, informasi tentang kesehatan reproduksi disebarluaskan dengan pesan-pesan yang samar dan tidak fokus, terutama bila mengarah pada perilaku seksual (Iskandar, 1997). Di segi pelayanan kesehatan, pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga Berencana di Indonesia hanya dirancang untuk perempuan yang telah menikah, tidak untuk remaja. Petugas kesehatan pun belum dibekali dengan kete-rampilan untuk melayani kebutuhan kesehatan reproduksi para remaja (Iskandar, 1997). Jumlah fasilitas kesehatan reproduksi yang menyeluruh untuk remaja sangat terbatas. Kalaupun ada, pemanfaatannya relatif terbatas pada remaja dengan masalah kehamilan atau persalinan tidak direncanakan. Keprihatinan akan jaminan kerahasiaan (privacy) atau kemampuan membayar, dan kenyataan atau persepsi remaja terhadap sikap tidak senang yang ditunjukkan oleh pihak petugas kesehatan, semakin membatasi akses pelayanan lebih jauh, meski pelayanan itu ada. Di samping itu, terdapat pula hambatan legal yang berkaitan dengan pemberian pelayanan dan informasi kepada kelompok remaja (Outlook, 2000). Karena kondisinya, remaja merupakan kelompok sasaran pelayanan yang mengutamakan privacy dan confidentiality (Senderowitz, 1997a:10). Hal ini menjadi penyulit, mengingat sistem pelayanan kesehatan dasar di Indonesia masih belum menempatkan kedua hal ini sebagai prioritas dalam upaya perbaikan kualitas pelayanan yang berorientasi pada klien. Sebuah survei terbaru terhadap 8084 remaja laki-laki dan remaja putri usia 15-24 tahun di 20 kabupaten pada empat propinsi (Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Lampung) menemukan 46,2% remaja masih menganggap bahwa perempuan tidak akan hamil hanya dengan sekali melakukan hubungan seks. Kesalahan persepsi ini sebagian besar diyakini oleh remaja laki-laki (49,7%) dibandingkan pada remaja putri (42,3%) (LDFEUI & NFPCB, 1999a:92). Dari survei yang sama juga didapatkan bahwa hanya 19,2% remaja yang menyadari peningkatan risiko untuk tertular PMS bila memiliki pasangan seksual lebih dari satu. 51% mengira bahwa mereka akan berisiko tertular HIV hanya bila berhubungan seks dengan pekerja seks komersial (PSK) (LDFEUI & NFPCB, 1999b:14). Remaja seringkali merasa tidak nyaman atau tabu untuk membicarakan masalah seksualitas dan kesehatan reproduksinya. Akan tetapi karena faktor keingintahuannya mereka akan berusaha untuk mendapatkan informasi ini. Seringkali remaja merasa bahwa orang tuanya menolak membicarakan masalah seks sehingga mereka kemudian mencari alternatif sumber informasi lain seperti teman atau media massa. Kebanyak orang tua memang tidak termotivasi untuk memberikan informasi mengenai seks dan kesehatan reproduksi kepada remaja sebab mereka takut hal itu justru akan meningkatkan terjadinya hubungan seks pra-nikah. Padahal, anak yang mendapatkan pendidikan seks dari orang tua atau sekolah cenderung berperilaku seks yang lebih baik daripada anak yang mendapatkannya dari orang lain (Hurlock, 1972 dikutip dari Iskandar, 1997). Keengganan para orang tua untuk memberikan informasi kesehatan reproduksi dan seksualitas juga disebabkan oleh rasa rendah diri karena rendahnya pengetahuan mereka mengenai kesehatan reproduksi (pendidikan seks). Hasil pre-test materi dasar Reproduksi Sehat Anak dan Remaja (RSAR) di Jakarta Timur (perkotaan) dan Lembang (pedesaan) menunjukkan bahwa apabila orang tua merasa meiliki pengetahuan yang cukup mendalam tentang kesehatan reproduksi, mereka lebih yakin dan tidak merasa canggung untuk membicarakan topik yang berhubungan dengan masalah seks (Iskandar, 1997:3). Hambatan utama adalah justru bagaimana mengatasi pandangan bahwa segala sesuatu yang berbau seks adalah tabu untuk dibicarakan oleh orang yang belum menikah (Iskandar, 1997:1). Responden survei remaja di empat propinsi yang dilakukan pada tahun 1998 memperlihatkan sikap yang sedikit berbeda dalam memandang hubungan seks di luar nikah. Ada 2,2% responden setuju apabila laki-laki berhubungan seks sebelum menikah. Angka ini menurun menjadi 1% bila ditanya sikap mereka terhadap perempuan yang berhubungan seks sebelum menikah. Jika hubungan seks dilakukan oleh dua orang yang saling mencintai, maka responden yang setuju menjadi 8,6%. Jika mereka berencana untuk menikah, responden yang setuju kembali bertambah menjadi 12,5% (LDFEUI & NFPCB, 1999a:96-97). Sebuah studi yang dilakukan LDFEUI di 13 propinsi di Indonesia (Hatmadji dan Rochani, 1993) menemukan bahwa sebagian besar responden setuju bahwa pengetahuan mengenai kontrasepsi sudah harus dimiliki sebelum menikah. Survei remaja di empat propinsi kembali melaporkan bahwa ada 2,9% remaja yang telah seksual aktif. Persentase remaja yang telah mempraktikkan seks pra-nikah terdiri dari 3,4% remaja putra dan 2,3% remaja putri (LDFEUI & NFPCB, 1999:101). Sebuah survei terhadap pelajar SMU di Manado, melaporkan persentase yang lebih tinggi, yaitu 20% pada remaja putra dan 6% pada remaja putri (Utomo, dkk., 1998). Sebuah studi di Bali menemukan bahwa 4,4% remaja putri di perkotaan telah seksual aktif. Studi di Jawa Barat menemukan perbedaan antara remaja putri di perkotaan dan pedesaan yang telah seksual aktif yaitu berturut-turut 1,3% dan 1,4% (Kristanti & Depkes, 1996: Tabel 8b). Sebuah studi kualitatif di perkotaan Banjarmasin dan pedesaan Mandiair melaporkan bahwa interval 8-10 tahun adalah rata-rata jarak antara usia pertama kali berhubungan seks dan usia pada saat menikah pada remaja putra, sedangkan pada remaja putri interval tersebut adalah 4-6 tahun (Saifuddin dkk, 1997:78). Tentu saja angka-angka tersebut belum tentu menggambarkan kejadian yang sebenarnya, mengingat masalah seksualitas termasuk masalah sensitif sehingga tidak setiap orang bersedia mengungkapkan keadaan yang sebenarnya. Oleh karena itu, tidaklah mengejutkan apabila angka sebenarnya jauh lebih besar daripada yang dilaporkan.
HUBUNGAN TINGKAT KEPATUHAN DIET DAN STATUS GIZI PADA PASIEN RAWAT JALAN DISPEPSIA DI RSUD dr. H. CHASAN BOESOIRIE TERNATE Hamid, Fahmi Abdul; Amra, Nizmawaty
Jurnal Kesehatan Poltekkes Ternate Vol 7 No 2 (2014): Jurnal Kesehatan Poltekkes Ternate, November 2014
Publisher : UPPM Politeknik Kesehatan Kemenkes Ternate, Maluku Utara, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (497.612 KB) | DOI: 10.32763/juke.v7i2.80

Abstract

Abstract : Dyspepsia is a collection of complaints / clinical symptoms consist of pain in the upper abdomen persistent or relapsing. In 2004, dyspepsia ranks 15th on the list of 50 diseases with the highest hospitalization respondents in Indonesia with a proportion of 1.3% and ranks 35th of the 50 leading causes of death. From the research, it was found that of the 171 public hospitals in Indonesia, there are 40% of respondents stated that the food provided does not meet the nutritional adequacy. Other studies mention of 10 Hospitals in Jakarta, as many as 797 respondents (43%) stated that the quality of food served poorly. Based on research conducted at the General Hospital of dr. H. Chasan Boesoirie Ternate In 2010, the prevalence of dyspepsia incidence rate for inpatient 512 respondents (11%), outpatient 571 respondents (12.27%). While in 2011 the rate of prevalence of dyspepsia to hospitalization 752 respondents (18%) and outpatient 961 respondents (23%). This type of research is penilitian deskiptif corelational analytic approach to study and look at the relationship between diet and nutritional status of compliance. This research was conducted in respondents Dyspepsia in hospital outpatient dr.H.Chasan Boesoirie Ternate for 3 months, ie from July to September 2013. The population in this study were all respondents in the hospital outpatient dyspepsia. dr. H. Chasan Boesoirie Ternate. (100%) of the respondents of people with dyspepsia do not adhere to the recommended diet. Most respondents of people with dyspepsia have a normal nutritional satus based (IMT) (55.6%). There is a significant association between diet and nutritional status of compliance with rhit value 0.518> 0.38 rtabel singnifikan at the level of 0.001 <0.5.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN STRES KERJA PERAWAT DI UNIT GAWAT DARURAT RSUD DR.H.CHASAN BOESOIRIE TERNATE Suni, Arsad; Pandawa, Rugaya M; Saleh, Fatma M
Jurnal Kesehatan Poltekkes Ternate Vol 9 No 02 (2016): Jurnal Kesehatan Poltekkes Ternate, November 2016
Publisher : UPPM Politeknik Kesehatan Kemenkes Ternate, Maluku Utara, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (974 KB) | DOI: 10.32763/juke.v9i02.61

Abstract

Abstract : The problem of job stress is not addressed will be able to reduce the level of labor productivity and reflects a poor performance. Many factors play a role as a trigger of workplace stress everyone. If the stress of work is going on a nurse, then the role of which is the nurse characteristics (age, education level, marital status, employment status, type of personality), work environment, and the work itself. Generally, job stress caused by the demands of the job do not match the capabilities and skills of workers, which is often the cause staunch educational factors, personality type, and work environment. This study used analytic method with cross sectional approach, and the sampling technique is done by total sampling 22 responden and chi-square test with significance level α = 5 % (0.05). The analysis showed a significant relationship between work environment factors to the stress of nurses working in the Intensive Care Unit Hospital Dr.H. Chasan Boesoirie Ternate with p = 0.015, no significant relationship between the factors of job stress of nurses with a value of p = 0.574, there is a significant relationship between the level of education and work stress nurse with a value of p = 0.003, there was a significant association between type personality with work stress nurse with a value of p = 0.023, there was no significant relationship between age and job stress of nurses with a value of p = 0.293, there was no significant relationship between marital status with the stress of nurses with a value of p = 0983, no relationship was significant between employment status with the stress of nurses with a value of p = 0562, and the factors most associated with job stress of nurses in the Emergency Unit of Hospital Dr. H. Chasan Boesoirie Ternate is a personality type with Exp (B) 12.093. Therefore, it is expected that the Hospital Dr. H. Chasan Boesoirie Ternate to deregulate (restructuring) tasks and roles with the application of professional nursing practice.
P Yuniati, Erni
Jurnal Kesehatan Poltekkes Ternate Vol 11 No 2 (2018): Jurnal Kesehatan Poltekkes Ternate, November 2018
Publisher : UPPM Politeknik Kesehatan Kemenkes Ternate, Maluku Utara, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (581.721 KB) | DOI: 10.32763/juke.v11i2.55

Abstract

Menurut WHO, 5-25% anak usia prasekolah mengalami gangguan perkembangan motorik halus. Perkembangan motorik halus anak salah satunya dipengaruhi oleh penggunaan alat permainan edukatif. Terdapat jenis permainan edukatif yang digunakan dalam menstimulus perkembangan motorik halus anak diantaranya adalah puzzle. Namun sayangnya dilapangan, kegiatan yang dapat menstimulus perkembangan motorik halus anak masih belum dilakukan dengan adekuat, dalam hal ini frekuensinya masih kurang dari yang digunakan. Sehingga perkembangan motorik halus anak menjadi kurang optimal. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penggunaan alat permainan edukatif jenis puzzle terhadap perkembangan motorik halus anak usia prasekolah di Taman Kanak-Kanak at Taqwa Mekarsari, Cimahi Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan metode penelitian quasi experiment design dengan rancangan pretest dan posttest. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling sejumlah 17 responden kelompok intervensi permainan edukatif jenis puzzle. Cara pengumpulan data menggunakan kuisioner dan dengan cara observasi. Penilaian menggunakan lembar instrumen DENVER II yang diambil aspek pengukuran motorik halus. Analisa data yang digunakan adalah uji t 2 sampel dependen dan uji t 2 sampel independen untuk bivariat. Hasil penelitian membuktikan bahwa terdapat pengaruh  intervensi permainan edukatif jenis puzzle terhadap perkembangan motorik halus anak usia prasekolah.  Berdasarkan hasil penelitian, untuk menstimulus perkembangan motorik halus anak, agar dilakukan dengan menambah frekuensi permainan, dapat menggunakan puzzle.
GAMBARAN IDENTIFIKASI KADAR HAEMOGLOBIN DENGAN JENIS PENYAKIT MALARIA PADA ANAK DI RUANGAN PERAWATAN ANAK RSUD DR. H. CHASAN BOESOIRIE TERNATE TAHUN 2013 Pandawa, Rugaya M; Puasa, Rony
Jurnal Kesehatan Poltekkes Ternate Vol 7 No 1 (2014): Jurnal Kesehatan Poltekkes Ternate, Mei 2014
Publisher : UPPM Politeknik Kesehatan Kemenkes Ternate, Maluku Utara, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (598.16 KB) | DOI: 10.32763/juke.v7i1.74

Abstract

Abstrak: This study was conducted to answer the question of how the image of the identification of hemoglobin with the type of malaria in children in the room Childcare dr. Chasan Boesorie Ternate. This type of research used in this study is an observational survey using a 'cross-sectional' where variables including risk factors and variables that include observational effects while at the same time to see hubunan Malaria In Children With Hemoglobin at room Childcare dr. Chasan boesorie ternate. Data collection techniques are the primary data is data that is collected directly from pediatric patients by means of interviews with observation using a questionnaire, then the secondary data is the data obtained from the child care room and laboratory results in dr. H.Chasan Boesorie Ternate. Furthermore, the management and analysis of the research data presented descriptively using tables and narrative. From the above research question that the number of samples in this study as many as 70 people were conscientious of men as much as 45 people (64.3%) and women as many as 25 people (35.7%). Based on these results there are differences in the percentage of patients by sex men and women, where male patients more than women, whereas the largest age group in the age group of 1-3 years as many as 22 people (31.4%) and the lowest in the age group of 4-6 years as many as 9 people (18.6%). The results of this study concluded that malaria vivax / tertian can affect the value of hemoglobin levels. Malaria can cause a decrease in hemoglobin concentration in the blood, which causes anemia. Furthermore, that type of malaria falsifarum have the effect of the reactor decreased levels of hemoglobin in children, and the last that ovale malaria can also reduce levels of hemoglobin in children, where the symptoms or manifestations of malaria are very diverse. The clinical picture is not purely one type of malaria, malaria is relatively mild and self-limiting. Furthermore, that for malaria quartana not found respondents with malaria during the study, so more research is needed
Pengetahuan Gizi Remaja SMPN 40 Kota Bandung Darmawati, Irma; Arumiyati, Sela
Jurnal Kesehatan Poltekkes Ternate Vol 10 No 2 (2017): Jurnal Kesehatan Poltekkes Ternate, November 2017
Publisher : UPPM Politeknik Kesehatan Kemenkes Ternate, Maluku Utara, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.992 KB) | DOI: 10.32763/juke.v10i2.42

Abstract

Nutritional knowledge can determine the nutritional status and the behavior of teenagers in choosing food. The increase in the prevalence of nutritional problems in Indonesia are not only limited to less nutritional problems but has also increased to the double burden of malnutrition. The prevalence of nutritional problems is more on teen aged 13-15 years in Indonesia amounted to 10.8%, comprising 8.3% 2.5% overweight and obesity. Research was conducted to find out the description of the nutritional knowledge owned by teens by using descriptive method which aims to know the description of knowledge about adolescent nutritional status in 40 SMP Bandung. The number of samples obtained as many as 89 people using Proportional Random Sampling techniques. Analysis of the frequency distribution is done through knowledge. Research results shows 40 adolescents knowledgeable good 48 people (53.9%), just 22 people (24.7%), lack of 19 people (21.3%), with the highest points are obtained on a category of obesity about 81 people (91.0%). The lowest points are obtained on the category how to measure the nutritional status about 53 people (59.6%). The school is expected to pay more attention to and provide education about knowledge of nutrition and nutritional status. For the ministry of health expected more frequent monitoring and coaching the UKS and PMR on the school.    
Pembuatan Cockroachtrap dengan Variasi Umpan Sebagai Media Pengundang Kecoa Meswara, Firman Aly; Fadilah, Nurul; Abdurrahman, Wildan; Tamrin, Nabila; Abd, Adzan N.M.T.
Jurnal Kesehatan Poltekkes Ternate Vol 11 No 1 (2018): Jurnal Kesehatan Poltekkes Ternate, Juni 2018
Publisher : UPPM Politeknik Kesehatan Kemenkes Ternate, Maluku Utara, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.637 KB) | DOI: 10.32763/juke.v11i1.49

Abstract

Kecoa merupakan salah satu hama pemukiman yang menjadi vektor dari berbagai penyakit, tersebar luas di seluruh dunia dan berasosiasi dengan habitat manusia. Pengendalian kecoa dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti secara sanitasi, biologis, mekanis, atau kimiawi. solusi mengendalikan kecoa adalah menggunakan metode trapping dengan menggunakan variasi umpan yang disukai kecoa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui cara membuat alat perangkap kecoa, mengetahui kemampuan gula+ragi, susu indomilk, selai, keju, daging sapi, kuning telur sebagai media perangkap kecoa. Jenis penelitian ini adalah eksperimen dengan rancangan post test only groub design. Hasil pembuatan perangkap dapat dibuat dengan menggunakan bahan toples, pipa 2 inchi, lem. Sedangkan perangkap dengan media daging mampu mengundang kecoa dengan nilai rerata 1, media selai dengan nilai rerata 8, media susu dengan nilai rerata 3, media gula+ragi dengan nilai rerata 1, media telur dengan nilai rerata 2, media keju dengan nilai rerata 3. Pada penelitian ini jumlah media yang paling banyak mengundang kecoa yaitu media selai yaitu kecoa dengan nilai rerata 8, sedangkan media yang paling sedikit yaitu pada media daging sapi dan media gula+ragi dengan nilai rerata 1. Berdasarkan aktifitas makannya, aktifitas makan kecoa lebih beraktifitas dan mencari makan pada malam hari.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN ABORTUS INKOMPLETUS DI RSUD DR. H. CHASAN BOESOIRIE TERNATE TAHUN 2014 Djama, Nuzliati T
Jurnal Kesehatan Poltekkes Ternate Vol 8 No 01 (2015): Jurnal Kesehatan Poltekkes Ternate, November 2015
Publisher : UPPM Politeknik Kesehatan Kemenkes Ternate, Maluku Utara, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.553 KB) | DOI: 10.32763/juke.v8i01.68

Abstract

Abstract : Abortus inkompletus is bleeding in early pregnancy where most of the products of conception have been out of the uterine cavity through the cervical canal it can be fatal to the mother such as bleeding, perforation, infection, and shock. This study aims to get a picture of maternal age, parity, education, history of abortus and marital status on the incidence of abortus inkompletus in hospitals Dr. H. Chasan Boesoeirie Ternate in 2014. Method this research is descriptive. The population in this study were 101 people and samples in this study were all women who had been treated with a diagnosis of miscarriage incompletus period January to August 2014. The data used are secondary data obtained from the hospital medical record Dr.H. Chasan Boesoirie Ternate. From the results, the incidence of abortus inkompletus much as 101 cases in 2014. Inkompletus most abortus cases were found at the age of 20-35 years by 74 cases (73,3%), parity 2-4 kids (49,5%), high school education or equivalent total of 64 cases (63,4%), not having abotus history (80,2%) and married status (84,2%). Looking at the data it will need the participation of various stakeholders from health, the family and the general public to prevent the factors that cause the incidence of abortus, such as counseling by health workers about the danger signs of pregnancy, the mother will need to plan and prepare for pregnancy by using contraception so as to regulate the child's birth and change mindsets through education must be made either through the school or outside the school on reproductive health so that they can establish a rational and personal responsibility, especially for the younger generation.

Page 2 of 39 | Total Record : 384


Filter by Year

2014 2024


Filter By Issues
All Issue Vol. 17 No. 2 (2024): Jurnal Kesehatan Vol. 17 No. 1 (2024): Jurnal Kesehatan Vol. 16 No. 2 (2023): Jurnal Kesehatan Vol. 16 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan Vol. 15 No. 2 (2022): Jurnal Kesehatan Vol 15 No 1 (2022): Jurnal Kesehatan Vol. 15 No. 1 (2022): Jurnal Kesehatan Vol 14 No 2 (2021): Jurnal Kesehatan Vol. 14 No. 2 (2021): Jurnal Kesehatan Vol 14 No 1 (2021): jurnal kesehatan Vol 13 No 2 (2020): Jurnal Kesehatan yang diterbitkan oleh Poltekkes Ternate Vol 13 No 1 (2020): jurnal kesehatan Vol 12 No 2 (2019): Jurnal Kesehatan Vol 12 No 2 (2019): Jurnal Kesehatan Poltekkes Kemenkes Ternate Vol. 12 No. 2 (2019): Jurnal Kesehatan Vol. 12 No. 1 (2019): Jurnal Kesehatan Vol 12 No 1 (2019): Jurnal Kesehatan Published by Poltekkes Ternate Vol 12 No 1 (2019): Jurnal Kesehatan Poltekkes Ternate Vol 12 No 1 (2019): Jurnal Kesehatan Poltekkes Ternate Vol 11 No 2 (2018): Jurnal Kesehatan Published By Poltekkes Ternate, November 2018 Vol 11 No 2 (2018): Jurnal Kesehatan Poltekkes Ternate, November 2018 Vol 11 No 1 (2018): Jurnal Kesehatan Poltekkes Ternate, Juni 2018 Vol 11 No 1 (2018): Jurnal Kesehatan Published By Poltekkes Ternate, Juni 2018 Vol. 11 No. 2 (2018): Jurnal Kesehatan Vol. 11 No. 1 (2018): Jurnal Kesehatan Vol 10 No 2 (2017): Jurnal Kesehatan Poltekkes Ternate, November 2017 Vol 10 No 2 (2017): Jurnal Kesehatan Published By Poltekkes Ternate, November 2017 Vol 10 No 1 (2017): Jurnal Kesehatan Published By Poltekkes Ternate, Bulan Mei 2017 Vol 10 No 1 (2017): Jurnal Kesehatan Poltekkes Ternate, Bulan Mei 2017 Vol. 10 No. 2 (2017): Jurnal Kesehatan Vol. 10 No. 1 (2017): Jurnal Kesehatan Vol 9 No 02 (2016): Jurnal Kesehatan Poltekkes Ternate, November 2016 Vol 9 No 02 (2016): Jurnal Kesehatan Poltekkes Ternate, November 2016 Vol 9 No 02 (2016): Jurnal Kesehatan Published By Poltekkes Ternate, November 2016 Vol 9 No 1 (2016): Jurnal Kesehatan Published By Poltekkes Ternate, Mei 2016 Vol 9 No 1 (2016): Jurnal Kesehatan Poltekkes Ternate, Mei 2016 Vol. 9 No. 2 (2016): Jurnal Kesehatan Vol. 9 No. 1 (2016): Jurnal Kesehatan Vol 8 No 01 (2015): Jurnal Kesehatan Poltekkes Ternate, November 2015 Vol 8 No 01 (2015): Jurnal Kesehatan Published By Poltekkes Ternate, November 2015 Vol 7 No 2 (2014): Jurnal Kesehatan Poltekkes Ternate, November 2014 Vol 7 No 2 (2014): Jurnal Kesehatan Published By Poltekkes Ternate, November 2014 Vol 7 No 1 (2014): Jurnal Kesehatan Poltekkes Ternate, Mei 2014 Vol 7 No 1 (2014): Jurnal Kesehatan Published By Poltekkes Ternate, Mei 2014 Vol 7 No 1 (2014): Jurnal Kesehatan Poltekkes Ternate, Mei 2014 More Issue