cover
Contact Name
Trianokta Akbar Wardana
Contact Email
trianokta.akbar@yarsi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalkedokteran@yarsi.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
YARSI Medical Journal
Published by Universitas Yarsi
ISSN : 08541159     EISSN : 24609382     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 25, No 2 (2017): MEI - AGUSTUS 2017" : 6 Documents clear
Suplementasi bFGF (basic Fibroblast Growth Factor) meningkatkan kecepatan migrasi sel kultur HDF (Human Dermal Fibroblast) pada model luka in vitro Sandra, Yurika
Jurnal Kedokteran YARSI Vol 25, No 2 (2017): MEI - AGUSTUS 2017
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (781.14 KB) | DOI: 10.33476/jky.v25i2.337

Abstract

PendahuluanFibroblas adalah sel utama sebagai penentu keberhasilan penyembuhan luka. Untuk mempercepat penyembuhan luka, diperlukan molekul untuk meningkatkan kemampuan proliferasi dan migrasi fibroblas. bFGF merupakan faktor pertumbuhan yang biasa digunakan sebagai suplemen dalam kultur sel dalam rangka meningkatkan kemampuan proliferasi dan mempertahankan stemness sel. Diduga selain berperan dalam proliferasi sel, bFGF juga berperan meningkatkan kemampuan migrasi fibroblas. Studi ini bertujuan untuk verifikasi peningkatan kemampuan migrasi fibroblas oleh bFGF.MetodeStudi ini menggunakan desain eksperimental. Fibroblas diperoleh dari Laboratorium Stem Cell Universitas YARSI. Studi ini menggunakan 4 kelompok kultur fibroblas yaitu, kontrol tanpa perlakuan, DMSO 2%, bFGF 8ng/ml, DMSO 2%+bFGF 8ng/ml. Perlukaan dilakukan menggunakan tip 10ul. Kemampuan migrasi dinilai 4 jam dan 24 jam pasca perlukaan dengan software mikrofotografi nikon. Analisis data dilakukan menggunakan paired student t-test.HasilPada 4 jam pasca luka, belum terlihat perbedaan yang bermakna pada semua kelompok. Pada 24 jam pasca luka, kemampuan migrasi fibroblas dengan bFGF meningkat 40% dibandingkan kontrol (p<0,05). Pada sel yang diberi DMSO 2% sebagai inhibitor migrasi, kemampuan migrasi turun hingga 40,83% dibandingkan kontrol (p<0,05). Sel yang diberi DMSO2%+bFGF 8ng/ml menunjukkan kemampuan migrasi yang hampir sama dengan kontrol.KesimpulanbFGF terbukti mampu meningkatkan kecepatan migrasi fibroblas sehingga berpotensi sebagai alternatif terapi luka. Perlu studi lanjut tentang mekanisme peningkatan kecepatan migrasi fibroblas oleh bFGF.
Gangguan fungsi sitoskeleton pada proses vitrifikasi keratinosit primer manusia Kusuma, Indra; Hadi, Restu Syamsul; Sandra, Yurika
Jurnal Kedokteran YARSI Vol 25, No 2 (2017): MEI - AGUSTUS 2017
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.168 KB) | DOI: 10.33476/jky.v25i2.118

Abstract

Keratinosit basal memiliki sifat multipotent, dibutuhkan kultur bebas-serum agar terhindar dari diferensiasi spontan. Kultur keratinosit memberikan peluang untuk berbagai jenis aplikasi riset dan terapi seperti bioengineered skin. Penyimpanan sel dengan metode vitrifikasi terbukti dapat melindungi fungsi embrio pada layanan bayi tabung. Penggunaan vitrifikasi pada penyimpanan keratinosit diharapkan dapat menjadi melindungi fungsi sel.            Sampel kulit diperoleh dari preputium anak usia 4-9 tahun sebanyak 7 orang yang diperoleh dengan informed consent dari orang tua atau wali. Isolasi keratinosit menggunakan metode enzimatik dengan dispase dan trypsin/EDTA. Viabilitas dan proliferasi sel di ukur secara kalorimetrik dengan reagen WST-1 pada panjang gelombang 450 nm dan tehnik tryphan blue exclusion test. Data yang diperoleh diolah secara statistic dengan uji student t-test.            Kriopreservasi dengan tehnik vitrifikasi dapat mempertahankan viabilitas pasca thawing sebesar 80% tidak ada perbedaan bermakna dengan tehnik slow-freezing (p>0,05). Meski demikian hanya 30% dari sel tersebut dapat melakukan perlekatan. Hal ini jauh lebih rendah daripada tehnik slow-freezing yang dapat melakukan perlekatan hingga 70% (p<0,05). Fotomikrograph yang diambil pasca thawing menunjukkan keratinosit yang mengalami blebbing. Disfungsi sitoskeleton akibat syok hiperosmotik dapat menyebabkan cell blebbing.            Pembekuan sel dengan metode vitrifikasi mempengaruhi viabilitas, perlekatan dan kemampuan proliferasi sel dalam kultur. Syok hiperosmotik diperkirakan menyebabkan disfungsi sitoskeleton sehingga menjadi penyebab rendahnya kemampuan perlekatan dan hilangnya daya proliferasi pasca thawing yang dialami sel dengan perlakuan vitrifikasi. Penelitian selanjutnya dapat dilakukan dengan modifikasi komponen kriomedium yang dapat melindungi fungsi keratinosit.
Perbandingan Efektifitas Chitosan Sisik Ikan Bandeng Dengan Gentamisin Terhadap Perkembangan Escherichia Coli Khaira Ummah, Zahdatul; Sari, Novita; Fortuna, Jelita; Boy, Elman
Jurnal Kedokteran YARSI Vol 25, No 2 (2017): MEI - AGUSTUS 2017
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/jky.v25i2.358

Abstract

Setiap infeksi yang disebabkan bakteri dalam pengobatannya diperlukan zat antibiotik. Penggunaan antibiotik telah dilaporkan terjadi resistensi pada semua bakteri patogen penting dikarenakan penggunaan yang tidak tepat. Indonesia adalah negara maritim yang memiliki kekayaan alam perikanan. Ikan bandeng, Selain dagingnya bisa dikonsumsi, sisiknya memiliki manfaat sebagai antimikroba. Chitosan adalah suatu polisakarida dari hasil deasetilasi chitin, yang didapat pada eksoskeleton ikan dan kulit hewan Crustacea. Chitosan memiliki sifat antimikroba yang mampu menghambat mikroorganisme seperti jamur dan bakteri karena memiliki gugus fungsional amina. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan efektifitas Chitosan pada sisik ikan bandeng dengan antibiotik gentamisin terhadap perkembangan E. coli. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental laboratorium dengan metode post test only control group design. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan secara signifikan antara Chitosan dengan gentamisin terhadap perkembangan bakteri E. coli pada taraf kepercayaan 95%  melalui uji One way ANOVA yang menyatakan angka signifikan antara Chitosan dan gentamisin sebesar 0,000 (p < 0,05). Kesimpulan  penelitian ini, Chitosan memiliki tingkat efektifitas yang cukup tinggi dengan konsentrasi 0,25%. Akan tetapi pada konsentrasi 0,25% masih dibawah kemampuan antibiotik gentamisin yang menunjukkan tingkat zona hambat yang lebih tinggi dari Chitosan dengan konsentrasi 0,25%.
APLIKASI THEORY OF PLANNED BEHAVIOR PADA PERILAKU PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF : STUDI KASUS Sutisna, Endang
Jurnal Kedokteran YARSI Vol 25, No 2 (2017): MEI - AGUSTUS 2017
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.48 KB) | DOI: 10.33476/jky.v25i2.338

Abstract

ASI eksklusif bermanfaat bagi ibu, bayi, dan masyarakat. Salah satu intervensi untuk mencegah kematian bayi yaitu pemberian air susu ibu (ASI) secara eksklusif selama enam bulan. Sementara itu cakupan ASI eksklusif di Indonesia masih belum mencapai target. Tujuan penelitian adalah mengaplikasikan Theory of Planned Behavior (TPB) untuk menjelaskan hubungan antara sikap, norma subjektif, dan persepsi kendali perilaku dengan niat dan perilaku pemberian ASI eksklusif. Penelitian dilakukan dengan pendekatan metode penelitian studi kasus terpancang. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Karanganyar Provinsi Jawa Tengah, dengan mengambil 14 desa dari 177 desa. Penelitian dilaksanakan pada bulan April - Agustus 2016. Sasaran penelitian adalah ibu yang mempunyai bayi berusia antara 6-12 bulan dan stakeholders program ASI eksklusif di Puskesmas dan Dinas Kesehatan Kabupaten. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara purposif. Pengumpulan data dilakukan melalui kajian dokumen, observasi partisipasi, wawancara mendalam dan fokus group diskusi (FGD). Wawancara mendalam dilakukan terhadap 49 informan terdiri dari ibu menyusui dari bayi berusia 6-12 bulan sebanyak 30 orang dan stakeholders program ASI eksklusif sebanyak 19 orang. Analisis data menggunakan analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TPB memberikan kerangka untuk menjelaskan dimensi utama dari perilaku pemberian ASI eksklusif. Kesimpulan: Sikap, norma subjektif dan persepsi kendali perilaku secara kolektif berhubungan dengan niat perilaku dan niat merupakan anteseden  langsung dari perilaku pemberian ASI eksklusif. Saran: meningkatkan cakupan program pemberian ASI eksklusif dapat dilakukan dengan membantu memperbaiki sikap positif, merubah norma subjektif untuk mendukung pemberian ASI eksklusif, memperbaiki kendali perilaku yang dirasakan, dan memperkuat niat pemberian ASI eksklusif.
PSYCHIATRIC DISORDER COMORBIDITY IN CHRONIC NEUROMUSCULOSKELETAL PAIN IN ATMA JAYA HOSPITAL Barus, Jimmy; Yaputra, Faldi
Jurnal Kedokteran YARSI Vol 25, No 2 (2017): MEI - AGUSTUS 2017
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.737 KB) | DOI: 10.33476/jky.v25i2.336

Abstract

Background : This study describe comorbid psychiatric disorder especially in depressive disorder, anxiety disorder and sleep disturbance in chronic neuromusculoskeletal pain patients.Objective : The aim of this research is to measure the prevalence of psychiatric comorbidity in choric neuromusculoskeletal pain.Methods : Cross sectional study with consecutive sampling method is used in this study. The data are collected in the neurology clinic in Atma Jaya Hospital, Jakarta between July ? December 2015. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM) V criteria was used to diagnose the psychiatric condition. Results : The data were obtain from 55 study samples, consist of 12 males (21,8%), 43 females (78,2%). Thirty of them are ? 60 years old (55%) and 25 are ? 60 years old (45%). The most common is low back pain 30 patients (55%). Non-neuropathic pain 12 patients (22%), and neurophatic pain 43 patients (78%). The most common pain intensity is severe, Visual Analog Scale (VAS) ?8 (43%). The most common psychiatric disorder is insomnia (20%), followed by anxiety and insomnia (16,3%), and anxiety (12,7%).Discussion : Majority of chronic pain has psychiatric disoder comorbidity, coexisting condition should be considered in evaluation, diagnosis, and therapy.Conclusions : Chronic pain usually accompanied by psychiatric disorder, so thorough evaluation, diagnosis and therapy have to be fully addressed to achieve optimum functionality and good quality of life.Suggestions : Next study should collect samples from some hospitals and design the analitic study that can explain association between factors that can influence the comorbidity.
PATOFISIOLOGI DAN DIAGNOSIS INFILTRASI LEUKEMIA LIMFOBLASTIK AKUT KE SISTEM SARAF PUSAT Adilistya, Tika
Jurnal Kedokteran YARSI Vol 25, No 2 (2017): MEI - AGUSTUS 2017
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (524.212 KB) | DOI: 10.33476/jky.v25i2.262

Abstract

Leukemia limfoblastik akut (LLA) adalah keganasan hematologi yang disebabkan oleh proliferasi prekursor sel limfoid yang menyebabkan akumulasi sel blas di darah tepi dan sumsum tulang. Berbagai kemajuan dalam terapi, seperti targeted therapy, telah berhasil menurunkan angka kematian pasien dengan LLA. Salah satu komplikasi fatal LLA adalah keterlibatan sistem saraf pusat (SSP). Pasien dengan keterlibatan SSP seringkali underdiagnosed baik secara klinis maupun laboratoris. Peranan laboratorium sangat penting untuk deteksi keterlibatan SSP mengingat sulitnya gejala klinis tidak khas bahkan sebagian pasien justru asimtomatis. Dengan adanya deteksi dini, pasien dapat diberikan terapi profilaksis sehingga angka kesintasan meningkat.Meskipun memiliki banyak kelemahan, pemeriksaan sitologi pada spesimen sitosentrifugasi masih dipertimbangkan sebagai ?baku emas? untuk diagnosis infiltrasi sel leukemik pada SSP. Pemeriksaan lain seperti immunophenotyping flow cytometry (FCM) dan polymerase chain reaction (PCR) memiliki nilai diagnostik yang dua kali lipat lebih baik apabila digunakan secara kombinasi dengan sitologi, namun tidak dapat menggantikan peran pemeriksaan sitologi. FCM dan PCR bermanfaat apabila volume sampel CSS atau jumlah sel pada CSS sangat sedikit. Hingga saat ini belum ada penanda biokimiawi yang handal untuk mendeteksi leukemia SSP.

Page 1 of 1 | Total Record : 6


Filter by Year

2017 2017


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 3 (2019): SEPTEMBER - DESEMBER 2019 Vol 27, No 2 (2019): MEI-AGUSTUS 2019 Vol 27, No 1 (2019): JANUARI - APRIL 2019 Vol 26, No 3 (2018): SEPTEMBER - DESEMBER 2018 Vol 26, No 2 (2018): MEI - AGUSTUS 2018 Vol 26, No 2 (2018): MEI - AGUSTUS 2018 Vol 26, No 1 (2018): JANUARI - APRIL 2018 Vol 26, No 1 (2018): JANUARI - APRIL 2018 Vol 25, No 3 (2017): SEPTEMBER - DESEMBER 2017 Vol 25, No 3 (2017): SEPTEMBER - DESEMBER 2017 Vol 25, No 2 (2017): MEI - AGUSTUS 2017 Vol 25, No 2 (2017): MEI - AGUSTUS 2017 Vol 25, No 1 (2017): JANUARI - APRIL 2017 Vol 25, No 1 (2017): JANUARI - APRIL 2017 Vol 24, No 3 (2016): SEPTEMBER - DESEMBER 2016 Vol 24, No 2 (2016): MEI - AGUSTUS 2016 Vol 24, No 2 (2016): MEI - AGUSTUS 2016 Vol 24, No 1 (2016): JANUARI - APRIL 2016 Vol 24, No 1 (2016): JANUARI - APRIL 2016 Vol 23, No 3 (2015): SEPTEMBER - DESEMBER 2015 Vol 23, No 2 (2015): MEI - AGUSTUS 2015 Vol 23, No 1 (2015): JANUARI - APRIL 2015 Vol 22, No 2 (2014): MEI - AGUSTUS 2014 Vol 22, No 2 (2014): MEI - AGUSTUS 2014 Vol 21, No 1 (2013): JANUARI - APRIL 2013 Vol 20, No 3 (2012): SEPTEMBER - DESEMBER 2012 Vol 20, No 3 (2012): SEPTEMBER - DESEMBER 2012 Vol 20, No 2 (2012): MEI - AGUSTUS 2012 Vol 20, No 2 (2012): MEI - AGUSTUS 2012 Vol 20, No 1 (2012): JANUARI - APRIL 2012 Vol 20, No 1 (2012): JANUARI - APRIL 2012 Vol 18, No 2 (2010): MEI - AGUSTUS 2010 Vol 18, No 2 (2010): MEI - AGUSTUS 2010 Vol 18, No 1 (2010): JANUARI - APRIL 2010 Vol 18, No 1 (2010): JANUARI - APRIL 2010 Vol 17, No 3 (2009): SEPTEMBER - DESEMBER 2009 Vol 17, No 3 (2009): SEPTEMBER - DESEMBER 2009 Vol 17, No 2 (2009): MEI - AGUSTUS 2009 Vol 17, No 2 (2009): MEI - AGUSTUS 2009 Vol 17, No 1 (2009): JANUARI - APRIL 2009 Vol 17, No 1 (2009): JANUARI - APRIL 2009 Vol 16, No 3 (2008): SEPTEMBER - DESEMBER 2008 Vol 16, No 3 (2008): SEPTEMBER - DESEMBER 2008 Vol 16, No 2 (2008): MEI - AGUSTUS 2008 Vol 16, No 2 (2008): MEI - AGUSTUS 2008 Vol 16, No 1 (2008): JANUARI - APRIL 2008 Vol 16, No 1 (2008): JANUARI - APRIL 2008 Vol 15, No 3 (2007): SEPTEMBER-DESEMBER 2007 Vol 15, No 1 (2007): JANUARI - APRIL 2007 Vol 13, No 1 (2005): JANUARI - APRIL 2005 Vol 10, No 1 (2002): JANUARI - APRIL 2002 More Issue