Articles
Suplementasi bFGF (basic Fibroblast Growth Factor) meningkatkan kecepatan migrasi sel kultur HDF (Human Dermal Fibroblast) pada model luka in vitro
Sandra, Yurika
Jurnal Kedokteran YARSI Vol 25, No 2 (2017): MEI - AGUSTUS 2017
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (781.14 KB)
|
DOI: 10.33476/jky.v25i2.337
PendahuluanFibroblas adalah sel utama sebagai penentu keberhasilan penyembuhan luka. Untuk mempercepat penyembuhan luka, diperlukan molekul untuk meningkatkan kemampuan proliferasi dan migrasi fibroblas. bFGF merupakan faktor pertumbuhan yang biasa digunakan sebagai suplemen dalam kultur sel dalam rangka meningkatkan kemampuan proliferasi dan mempertahankan stemness sel. Diduga selain berperan dalam proliferasi sel, bFGF juga berperan meningkatkan kemampuan migrasi fibroblas. Studi ini bertujuan untuk verifikasi peningkatan kemampuan migrasi fibroblas oleh bFGF.MetodeStudi ini menggunakan desain eksperimental. Fibroblas diperoleh dari Laboratorium Stem Cell Universitas YARSI. Studi ini menggunakan 4 kelompok kultur fibroblas yaitu, kontrol tanpa perlakuan, DMSO 2%, bFGF 8ng/ml, DMSO 2%+bFGF 8ng/ml. Perlukaan dilakukan menggunakan tip 10ul. Kemampuan migrasi dinilai 4 jam dan 24 jam pasca perlukaan dengan software mikrofotografi nikon. Analisis data dilakukan menggunakan paired student t-test.HasilPada 4 jam pasca luka, belum terlihat perbedaan yang bermakna pada semua kelompok. Pada 24 jam pasca luka, kemampuan migrasi fibroblas dengan bFGF meningkat 40% dibandingkan kontrol (p<0,05). Pada sel yang diberi DMSO 2% sebagai inhibitor migrasi, kemampuan migrasi turun hingga 40,83% dibandingkan kontrol (p<0,05). Sel yang diberi DMSO2%+bFGF 8ng/ml menunjukkan kemampuan migrasi yang hampir sama dengan kontrol.KesimpulanbFGF terbukti mampu meningkatkan kecepatan migrasi fibroblas sehingga berpotensi sebagai alternatif terapi luka. Perlu studi lanjut tentang mekanisme peningkatan kecepatan migrasi fibroblas oleh bFGF.
Gangguan fungsi sitoskeleton pada proses vitrifikasi keratinosit primer manusia
Kusuma, Indra;
Hadi, Restu Syamsul;
Sandra, Yurika
Jurnal Kedokteran YARSI Vol 25, No 2 (2017): MEI - AGUSTUS 2017
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (363.168 KB)
|
DOI: 10.33476/jky.v25i2.118
Keratinosit basal memiliki sifat multipotent, dibutuhkan kultur bebas-serum agar terhindar dari diferensiasi spontan. Kultur keratinosit memberikan peluang untuk berbagai jenis aplikasi riset dan terapi seperti bioengineered skin. Penyimpanan sel dengan metode vitrifikasi terbukti dapat melindungi fungsi embrio pada layanan bayi tabung. Penggunaan vitrifikasi pada penyimpanan keratinosit diharapkan dapat menjadi melindungi fungsi sel. Sampel kulit diperoleh dari preputium anak usia 4-9 tahun sebanyak 7 orang yang diperoleh dengan informed consent dari orang tua atau wali. Isolasi keratinosit menggunakan metode enzimatik dengan dispase dan trypsin/EDTA. Viabilitas dan proliferasi sel di ukur secara kalorimetrik dengan reagen WST-1 pada panjang gelombang 450 nm dan tehnik tryphan blue exclusion test. Data yang diperoleh diolah secara statistic dengan uji student t-test. Kriopreservasi dengan tehnik vitrifikasi dapat mempertahankan viabilitas pasca thawing sebesar 80% tidak ada perbedaan bermakna dengan tehnik slow-freezing (p>0,05). Meski demikian hanya 30% dari sel tersebut dapat melakukan perlekatan. Hal ini jauh lebih rendah daripada tehnik slow-freezing yang dapat melakukan perlekatan hingga 70% (p<0,05). Fotomikrograph yang diambil pasca thawing menunjukkan keratinosit yang mengalami blebbing. Disfungsi sitoskeleton akibat syok hiperosmotik dapat menyebabkan cell blebbing. Pembekuan sel dengan metode vitrifikasi mempengaruhi viabilitas, perlekatan dan kemampuan proliferasi sel dalam kultur. Syok hiperosmotik diperkirakan menyebabkan disfungsi sitoskeleton sehingga menjadi penyebab rendahnya kemampuan perlekatan dan hilangnya daya proliferasi pasca thawing yang dialami sel dengan perlakuan vitrifikasi. Penelitian selanjutnya dapat dilakukan dengan modifikasi komponen kriomedium yang dapat melindungi fungsi keratinosit.
Efek Hipoxia Mimetic Cobalt Chloride (CoC12 )terhadap Ekspresi mRNA dan Aktivitas Spesifik Manganese Superoksida Dismutase (Mn SOD ) Ginjal Tikus
Sandra, Yurika;
Retno Prijanti, Ani;
Inawati Wanandi, Septelia
Majalah Kesehatan Pharmamedika Vol 9, No 2 (2017): DESEMBER 2017
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33476/mkp.v9i2.676
MnSOD is a primary antioxidant that protects cells from oxidative stress due to H2O2 inmitochondrial membranes. This study aims to determine the effect of CoCl2 as hypoxic mimetic agent on mRNA expression of MnSOD and MnSOD-specific activity in rat kidney. Male Sprague dawley rat are induced with 30mg/Kg body weight CoCl2 intraperitoneally. After that, the experiment was divided into 3 groups: 2, 8, and 24 hours incubation after injection. All groups are compared with control group without injection. All of rat were terminated and the kidneys were removed. mRNA expression and specific activity of the kidney MnSOD are measured. After 2 hours, mRNA expression increased up to 42 times, after 8 and 24 hours return to normal. Specific activity of MnSOD in 2 hours after injection has not changed yet, and after 8 and 24 hours increased 1.5 times. This study shows that induction of Hipoxic mimetic CoCl2 enhances mRNA expression and MnSOD-specific activity.
PENGARUH PLATELET-RICH PLASMA (PRP) TERHADAP PROLIFERASI DAN VIABILITAS HUMAN DERMAL FIBROBLAST (HDF) DALAM KONSENTRASI GLUKOSA TINGGI
Hadi, Restu Syamsul;
Kusumah, Indra;
Sandra, Yurika
JURNAL BIOLOGI INDONESIA Vol 15, No 2 (2019): JURNAL BIOLOGI INDONESIA
Publisher : Perhimpunan Biologi Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14203/jbi.v15i2.3815
ABSTRACTThe administration of Platelet Rich Plasma (PRP) is expected to be a supplement for treatment of diabetic wounds and hyperglycemia by increasing growth factors. The purpose of this study was to examine the effect of Platelet Rich Plasma (PRP) on the proliferation and viability of human dermal fibroblast (HDF) in high glucose conditions, as a model for healing diabetic wounds in vitro. HDF cells are grown in DMEM medium containing high glucose which are then with PRP. To measure the effect of PRP on the HDF cell proliferation, CCK-8 kit was used and evaluated by using a microplate reader. To evaluate the viability of HDF, an automated cell counter. The results of the research showed that PRP stimulate the HDF cells proliferation. The optimal dose of PRP to increase HDF cell proliferation is at dose of PRP 10%. Supplementation of PRP is significantly increased cell viability and HDF cell counts within 48 hours. The results showed PDGF growth factor secreted by PRP is increased significantly. The conclusion is PRP stimulated HDF cell proliferation and viability in a high glucose condition. This finding support the used of PRP as a therapy for diabetic wounds. Keywords: proliferation, viability, human dermal fibroblast, platelet-rich plasma, diabetic
Pengaruh Glukosa Tinggi terhadap Proliferasi, Migrasi dan Ekspresi Gen OCT-4 pada Kultur Sel Dermal Fibroblast Manusia
Hadi, Restu Syamsul;
Sandra, Yurika
Majalah Kesehatan Pharmamedika Vol 12, No 1 (2020): JUNI 2020
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33476/mkp.v12i1.1604
Human dermal fibroblasts (HDF) termasuk sel mesenchymal yang diisolasi dari lapisan dermis kulit. HDF berpotensi digunakan untuk pengobatan penyembuhan luka berdasarkan pengobatan regeneratif. Peningkatan konsentrasi glukosa dapat merusak fungsi sel dan menghambat terapi penyembuhan luka. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji pengaruh glukosa tinggi pada proliferasi, migrasi dan ekspresi gen OCT-4 sel HDF sebagai model penyembuhan luka diabetes in vitro. Pada penelitian eksperimental ini, fibroblast diisolasi dari kulit setelah sirkumsisi, kemudian ditumbuhkan dalam medium Minimal Essential Medium (DMEM) Dulbecco lengkap dengan serum 10%. Untuk menguji efek glukosa tinggi pada proliferasi sel HDF dilakukan dengan uji CCK-8. Migrasi sel HDF dievaluasi menggunakan uji scratch-assay. RT-PCR digunakan untuk menentukan ekspresi gen OCT-4. Hasilnya menunjukkan bahwa glukosa tinggi (25 mM-50 mM) meningkatkan kemampuan proliferasi dan migrasi sel HDF. Efek glukosa tinggi tergantung pada dosis. Perlakuan glukosa pada dosis 75 mM akan menghambat kemampuan pertumbuhan HDF. Ekspresi gen OCT-4 meningkat secara bermakna pada pemberian glukosa dosis 25-50 mM. Hasil penelitian ini memberikan dasar untuk pengembangan terapi dalam kondisi diabetes bahwa terapi sel HDF dapat meningkatkan penyembuhan luka meskipun dalam kondisi glukosa tinggi.
Melatonin dan Kanker Payudara
Sandra, Yurika
Majalah Kesehatan Pharmamedika Vol 3, No 2 (2011): JULI - DESEMBER 2011
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33476/mkp.v3i2.450
Melatonin adalah hormon peptida golongan indolamin yang disintesis pada kelenjar pineal. Berbagai studi secara in vitro dan in vivo telah membuktikan bahwa melatonin memiliki efek onkostatik pada kanker payudara. Kanker payudara merupakan salah satu kanker yang terinduksi pada paparan estrogen. Estrogen dapat menstimulasi proliferasi sel epitel payudara melewati 2 cara yaitu berikatan dengan reseptor α sehingga menyebabkan propagasi dan kemungkinan estrogen langsung bersifat genotoksik. Melatonin dapat menekan pertumbuhan kanker payudara karena memiliki kemampuan untuk menghambat radikal bebas, imunomodulator, menekan aktivitas telomerase dan mempengaruhi sintesis serta transduksi sinyal hormon estrogen. Melalui studi epidemiologis juga membuktikan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara wanita yang bekerja malam hari dengan peningkatan risiko terjadinya kanker payudara. Beberapa uji klinik juga membuktikan bahwa pemberian suplemen melatonin pada penderita kanker payudara dapat meningkatkan angka kesembuhan.
Allogeneic human dermal fibroblasts are viable in peripheral blood mononuclear co-culture
Restu Syamsul Hadi;
Indra Kusuma;
Yurika Sandra
Universa Medicina Vol. 33 No. 2 (2014)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Trisakti
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18051/UnivMed.2014.v33.91-99
BACKGROUNDTransplanted allogeneic dermal fibroblasts retain stem cell subpopulations, and are easily isolated, expanded and stored using standard techniques. Their potential for regenerative therapy of chronic wounds should be evaluated. The aim of this study was to determine allogeneic fibroblast viability in the presence of peripheral blood mononuclear cells (PBMC).METHODSIn this experimental study, fibroblasts were isolated from foreskin explants, expanded in the presence of serum, and stored using slow-freezing. We used one intervention group of allogeneic fibroblasts co-cultured with PBMC and 2 control groups of separate fibroblast and PBMC cultures.Fibroblasts were characterized by their collagen secretion and octamer-binding transcription factor 4 (OCT4) expression. Viability was evaluated using water soluble tetrazolium-1 (WST-1) proliferation assay. Absorbances were measured at 450 nm. Data analysis was performed by student’s paired t-test.RESULTSDermal fibroblasts were shown to secrete collagen, express OCT4, be recoverable after cryopreservation, and become attached to the culture dish in a co-culture with PBMC. Co-cultured and control fibroblasts had no significantly different cell viabilities (p>0.05). Calculated viable cell numbers increased 1.8 and 5.1- fold, respectively, at days 2 and 4 in vitro. Both groups showed comparable doubling times at days 2 and 4 in vitro. PBMC did not interfere with allogeneic fibroblast viability and proliferative capacityCONCLUSIONSAllogeneic fibroblasts remain viable and proliferate in the presence of host PBMC. Future research should evaluate allogeneic human dermal fibroblast competency in clinical settings. Dermal fibroblasts are a potential source for cell therapy in chronic wound management.
PENINGKATAN PERAN IBU RUMAH TANGGA TERHADAP PENCEGAHAN SINDROMA METABOLIK
Nazwirman Nazwirman;
Juniarti Juniarti;
Yurika Sandra
JURNAL PENGABDIAN AL-IKHLAS UNIVERSITAS ISLAM KALIMANTAN MUHAMMAD ARSYAD AL BANJARY Vol 4, No 2 (2019): AL-IKHLAS JURNAL PENGABDIAN
Publisher : Universitas Islam kalimantan MAB
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (363.91 KB)
|
DOI: 10.31602/jpaiuniska.v4i2.2010
Obesity is a health problem throughout the world. Obesity as a component of the metabolic syndrome, is very complex and multifactorial. Obesity is generally caused by energy input exceeding the body's use of energy for the sake of basal metabolism, physical activity, food waste disposal and for growth. The city of Tangerang ranks first for the prevalence of obesity from Banten Province. The results of the activity stated that the prevalence of obesity in Taklim women was 44 percent. This program is an empowerment of Majelis Taklim women to overcome and prevent health problems, especially metabolic syndrome by conducting screening and counseling. The result is that participants can know the symptoms and signs of metabolic syndrome through anthropometric measurements and laboratory tests, participants can know how to prevent metabolic syndrome and can provide explanations to the family and the surrounding community about prevention of metabolic syndrome
Perbandingan Kadar Pati Pada Beras Hitam Dibandingkan Dengan Beras Putih Menggunakan Uji Iodida
Firza Yoviono;
Yurika Sandra;
Firman Arifandi
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 2 No. 11 (2022): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (256.237 KB)
|
DOI: 10.59141/cerdika.v2i11.468
Diabetes mellitus (DM) is a metabolic disease that causes elevated blood sugar levels. This may be due to excessive carbohydrate intake. Carbohydrates are an important part of the human diet. Carbohydrates not only meet the basic needs of the body, but are also the body's main source of energy, and the most widely consumed carbohydrate in Indonesia is starch or rice starch. There are many types of rice such as white rice and black rice. This study aims to compare the starch content of white black rice and use the iodide test to determine the best type. White rice (Oryza Sativa L. Indica) and black rice (Oryza Sativa L. Indica)) were used for descriptive analysis, and iodide was used to test the sensitivity of these samples). Starch content test. Data were analyzed using t-test to compare the starch content of white rice and black rice. The results showed that the starch content of white rice was 24.47 mg/100 mg (24.47%), while the starch content of black rice was 16.94 mg/100 mg (16.94%). The statistical t test then gave a p value <0.05. This shows that the starch content of white rice and brown rice is significantly different. The results showed that white rice has a higher starch content than black rice.
Perbandingan Kadar Pati pada Beras Shirataki Dibandingkan dengan Beras Putih Menggunakan Uji Iodida
Salfa Nurmarida Asriani;
Yurika Sandra;
Firman Arifandi
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 2 No. 12 (2022): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (230.961 KB)
|
DOI: 10.59141/cerdika.v2i12.485
Obesitas adalah keadaan peningkatan berat badan akibat adanya penimbunan lemak tubuh yang berlebihan yang erat kaitannya dengan mengkonsumsi karbohidrat yang berlebihan. Karbohidrat merupakan sumber energi utama bagi tubuh manusia, salah satu sumber karbohidrat yaitu beras, beras putih merupakan makanan pokok utama masyarakat Indonesia. Selain beras putih beras shirataki dapat menjadi alternatif lain bagi individu yang memiliki kondisi kesehatan tertentu. Untuk menentukan jenis beras yang terbaik maka penelitian ini dibuat untuk mengetahui perbandingan kadar pati pada beras shirataki dibandingkan dengan beras putih menggunakan uji iodida. Jenis penelitian ini menggunakan deskriptif analitik dengan kelompok sampel yaitu beras putih dan beras shirataki yang diperoleh dari beras yang tersedia di pasaran kemudian sampel ini diuji kadar patinya dengan Iodida. Data dianalisis dengan uji T untuk melihat perbandingan kadar pati pada beras shirataki dan putih. Hasil penelitian menunjukkan kadar pati pada beras shirataki sebesar 3,79 gr/100 gr (3,79%), lebih rendah daripada kadar pati pada beras putih sebesar 24,47 gr/100 gr (24,47%). Kemudian hasil uji T didapatkan nilai p<0,05 yang artinya terdapat perbedaan signifikan antara kadar pati pada beras shirataki dan beras putih. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar pati pada beras shirataki lebih rendah dibandingkan dengan beras putih.