cover
Contact Name
Lalan Ramlan
Contact Email
lalan_ramlan@isbi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
penerbitan@isbi.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Seni Makalangan
ISSN : 23555033     EISSN : 27148920     DOI : -
Core Subject : Art,
Arjuna Subject : -
Articles 200 Documents
CETTA (Penciptaan Tari Dramatik) Desi Herdianti dan Lina Marliana Hidayat
Jurnal Seni Makalangan Vol 4, No 1 (2017): "Spirit Tubuh Tanpa Batas"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v4i1.1089

Abstract

ABSTRAKCetta merupakan karya tari dramatik yang terinspirasi oleh tokoh Dewi Sartika, hasil dari diskusi yang membahas tentang tokoh pahlawan wanita Indonesia yang berperan penting bagi kemajuan bangsa. Dewi Sartika, bagi generasi muda khususnya kaum perempuan di Jawa Barat, merupakan tokoh perintis pendidikan yang membawa kesadaran kaum wanita untuk sekolah. Cetta sebagai karya tari kontemporer mencoba ‘menghadirkan” sepak terjang (kaparigelan) tokoh Dewi Sartika melalui ekspresi estetis koreografi dalam tiga bagian pembabakan. Proses kreatif penciptaan tari kontemporer ini dilakukan secara bertahap dan memiliki pesan moral yang berhubungan dengan kemajuan kaum perempuan Sunda. Metode garap yang digunakan bersifat eksploratif, artinya di dalam garapan konsep dasar penciptaan non tradisi dengan bentuk dramatik dipilih sebagai daya ungkapnya. Adapun hasil yang dicapai adalah pertunjukan tari dramatik yang berjudul Cetta dalam kilasan-kilasan dramatik yang mampu menampilkan pesan-pesan simbolik tentang “kaparigelan” ketokohan Dewi Sartika.Kata kunci: Dewi Sartika, Tari Dramatik, Proses kreatif.  ABSTRACTCetta Dramatic Dance Creation, June 2017. Cetta is a dramatic dance work inspired by the figure of Dewi Sartika, the result of a discussion that discusses the Indonesian female hero who plays an important role for the progress of the nation. Dewi Sartika, for the younger generation, especially women in West Java, is a pioneering figure in education who brings women's awareness to school. Cetta, as a contemporary dance work, tries to present the "lunge" (kaparigelan) of Dewi Sartika through the aesthetic expression of choreography in three parts of the presentation. The creative process of creating contemporary dance is done in stages and has a moral message related to the progress of Sundanese women. The working method used is exploratory, meaning that in the basic concept of non-traditional creation with a dramatic form is chosen as the power of expression. The result achieved was a dramatic dance performance titled Cetta in dramatic flashes capable of displaying symbolic messages about the "captivity" of Dewi Sartika's figureKeyword: Dewi Sartika, Dramatic Dance, Creative Process.  
TARI BADAYA RANCAEKEK SEBAGAI SUMBER GARAPAN PENYAJIAN TARI Anita Rahmawati dan Ai Mulyani
Jurnal Seni Makalangan Vol 6, No 2 (2019): "Menjaga Asa Merajut Cita"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v6i2.1060

Abstract

ABSTRAKTari Badaya Rancaekek diciptakan oleh R. Sambas Wirakusumah sekitar tahun 1925, merupakan repetoar tari Keurseus yang berbeda dengan karya sebelumnya. Dalam ciptaanya ini R. Sambas Wirakusumah ter-inspirasi atau ingin mencari sesuatu atau suasana yang lain dalam aspek kepenarian bagi penari wanita, sedangkan karya sebelumnya ditarikan oleh penari pria. Repertoar tari tersebut menjadi sumber inspirasi dan menarik untuk digarap dalam bentuk penyajiannya yang berbeda. Adapun permasalahannya adalah bagaimana membuat inovasi dan bentuk sajian yang berbeda tarian dengan tidak merubah esensi tarian sumbernya. Sebuhungan dengan maksud tersebut, maka teori yang digunakan adalah teori “Gegubahan” Djelantik dalam Estetika Instrumental. Oleh karena itu, metode garapnya merujuk pada metode “Gubahan Tari” yaitu mewujudkan gagasan baru berupa pengembangan dari sumber penyajian tradisi tertentu dengan cara memasukan, menyisipkan dan memadukan bentuk-benuk gerak atau penambahan unsur lain sehingga menghasilkan bentuk penyajian yang berbeda dengan tetap mempertahankan identitas sumbernya. Dengan demikian, maka aspek yang dikembangkan meliputi; desain koreografi, desain karawitan, dan desain artistik dari repertoar tari Badaya Rancaekek menjadi bentuk garap yang artistik yang baru. Sehingga secara esensi tidak mengubah gerak yang sudah ada. Hasil yang dicapai diakhir dapat menyajikan tari Badaya Rancaekek yang penyajian suasana baru.Kata Kunci: Tari Keurseus, Badaya Rancaekek. ABSTRACT. The Badaya Rancaekek Dance As A Source Of Presentation Dance, December 2019. The Badaya Rancaekek dance, created by R. Sambas Wirakusumah around 1925, is a photo repository of the Keurseus dance which is different from previous works. In his creation R. Sambas Wirakusumah was inspired or wanted to find something or another atmosphere in the aspect of dance for female dancers, while his previous work was danced by male dancers. The dance repertoire is a source of inspiration and is interesting to work on in a different presentation. The problem is how to make innovations and different forms of dance presentation by not changing the essence of the source dance. In connection with this intention, the theory used is the theory of "change" Djelantik in Instrumental Aesthetics. Therefore, the working method refers to the method of "composition of the dance" that is realizing new ideas in the form of the development of the source of the presentation of certain traditions by inserting, inserting and integrating forms of motion or adding other elements to produce different forms of presentation while maintaining the identity of the  source. Thus, the aspects  developed include;  choreographic designs, musical designs, and artistic designs from the Badaya Rancaekek dance reporto become a new form of artistic work. The results achieved at the end can present the Badaya Rancaekek dance which presents a new atmosphere.Keywords: Keurseus Dance, Badaya Rancaekek. 
TRANSFORMASI TOPENG RUMYANG GAYA SLANGIT MELALUI PENYADAPAN DAN PELATIHAN DI SANGGAR TARI TOPENG ADININGRUM CIREBON Nunung Nurasih dan Nanan Supriyatna
Jurnal Seni Makalangan Vol 6, No 2 (2019): "Menjaga Asa Merajut Cita"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v6i2.1055

Abstract

ABSTRAKTopeng Cirebon merupakan genre tari yang menjadi babon dalam perkembangan tari Sunda, tetapi kondisinya sekarang ini sudah cukup memprihatinkan karena para dalang (maestro) topengnya tidak ada yang tersisa. Hampir di seluruh wilayah gaya Topeng Cirebon, para maestro Topeng Cirebon sudah meninggal dunia. Kondisi inilah yang memotivasi penulis untuk melakukan kegiatan penyadapan di Sanggar Adiningrum, Slangit dan pelatihan hasil penyadapan itu dilakukan di lingkungan Jurusan Seni Tari, Fakultas Seni Pertunjukan, ISBI Bandung. Adapun yang menjadi tujuan dilakukannya kegiatan tersebut, sebagai upaya melestarikan dan sekaligus menggali bahan pengayaan materi pembelajaran pada Mata Kuliah Topeng Cirebon. Untuk mencapai tujuan itu, maka digunakan teori transformasi dari Umar Kayam, yaitu transformasi dapat diandaikan sebagai suatu proses perubahan total  dari suatu bentuk lama kepada sosok yang baru yang akan mapan, dan dapat pula diandaikan sebagai tahap akhir dari suatu perubahan. Sehubungan dengan teori tersebut, maka digunakan pula pendekatan metode peniruan atau imitatif. Adapun langkah-langkah operasionalnya meliputi; penyerapan materi tari secara praktik, mempresentasikan, dan menerapkan materi kepada para mahasiswa di Jurusan Seni Tari. Berdasarkan proses tersebut, maka hasil yang didapatkan adalah materi tambahan tari Topeng Rumyang Gaya Slangit bagi para mahasiswa.Kata Kunci: Penyadapan, Pelatihan, Topeng Rumyang, Gaya Slangit. ABSTRACT. Transformation Of Rumyang Mask Style Slangit Through Recognition And Training In SanggarDani Masks Adiningrum Cirebon, December 2019. Cirebon mask is a dance genre that has become a babon in the development of Sundanese dance, but the condition is now quite alarming because the mastermind (maestro) mask is not left. In almost all regions of the Cirebon Mask style, the Cirebon Mask maestros have died. This condition motivates the writer to do wiretapping activities at Sining Adiningrum, Slangit and the training of wiretapping results is conducted within the Department of Dance, Faculty of Performing Arts, ISBI Bandung. As for the purpose of the activity, as an effort to preserve and at the same time explore the enrichment of learning material in the Cirebon Mask course. To achieve this goal, the theory of transformation from Umar Kayam, namely transformation can be assumed as a process of total change from an old form to a new figure that will be established, and can also be assumed as the final stage of a change. In connection with the theory, then used to imitate or imitative methods. The operationalsteps include; absorption of dance material in practice, presenting, and applying material to students in the Dance Department. Based on this process, the results obtained are additional material for the Slangit Style Mask Dance for students.Keywords: Tapping, Training, Rumyang Mask, Slangit Style. 
CAWÉNÉ PENCIPTAAN SENI PERISTIWA LAKU RITUAL DEWI SITI SAMBOJA MENJADI RONGGENG Oos Koswara dan Arthur S. Nalan
Jurnal Seni Makalangan Vol 4, No 1 (2017): "Spirit Tubuh Tanpa Batas"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v4i1.1090

Abstract

ABSTRAK Dalam budaya masyarakat Sunda, perempuan mempunyai kedudukan dan fungsi yang tinggi sebagai bentuk kepercayaannya. Simbol-simbol perempuan menempati pada wilayah sakral sebagai pusat kepercayaan dalam pola kehidupan masyarakat Sunda. Perempuan melahirkan dan mensejahterakan kehidupan sakralitasnya menjadi simbol kesuburan sebagai wujud Ibu Bumi. Pola hubungan masyarakat yang masih menggunakan bentuk-bentuk upacara ritual, menempatkan perempuan pada posisi penting dalam keberlangsungan ritual melalui sosok seorang Ronggeng. Kontekstual pada perempuan menjadi seorang Ronggeng terinspirasi dari perjalanan hidup Dewi Siti Samboja menjadi seorang Ronggeng dengan nama samarannya yaitu Nini Bogem/Nyi Rengganis. Berbagai laku ritual perubahan yang dialami dan dilakukan oleh Dewi Siti Samboja merupakan tafsir peneliti untuk mengungkapkan berbagai proses tingkatan kehidupan dalam laku ritual yang umumnya terdapat pada berbagai laku ritual sebuah pola ilmu metafisika yang dilakukan oleh masyrakat dalam budaya Sunda.Kata Kunci: Perempuan, Ronggeng, Cawene, Ritual. ABSTRACTCAWÉNÉ: Creation Of Art Events Conducting Ritual Dewi Siti Samboja Become Ronggeng, June 2017.  In Sundanese society culture, women have position and high fungtionality as a form of trust. The female symbols occupy on the sacred territory as a center of trust, in the pattern of life of the Sundanese people. Women give birth and prosper the sacred life become a symbol of fertility as a form of earth’s mother. Pattern of public relations that still use form of ritual ceremonies, put women in and imfortant position in the continuity of the ritual trough the pigure of a Ronggeng. Contextual in women being a Ronggeng inspired by the journey of the living Dewi Siti become a Ronggeng with its pseudonym Nini Bogem/Nyi Rengganis. Various behavioral ritual changes experienced and done by Dewi Siti Samboja is a researcher’s interpretation to reveal the various life-level processes in general ritual behavior there are on the various rituals of a metaphysical science pattern which is done by society in Sundanese culture.Keywords: Girl, Ronggeng, Ritual.        
DRAMATARI RAHWAYANA TAFSIR DUALISTIK KEBAIKAN DAN KEBURUKAN Nurhidayat dan Dindin Rasidin
Jurnal Seni Makalangan Vol 6, No 2 (2019): "Menjaga Asa Merajut Cita"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v6i2.1061

Abstract

ABSTRAKKarya Dramatari “Rahwayana” merupakan upaya kreatif dalam me-wujudkan tafsir nilai dari sudut pandang yang berbeda, terhadap perjalanan kisah hidupnya seorang tokoh dalam cerita pewayangan. Ada sisi lain yang menunjukkan, bahwa Rahwana dari sisi kemanusiaan memilliki nilai kebaikan. Sebaliknya, bahwa Rama dari sisi kemanusiaan memilliki nilai keburukan. Adapun tujuan dari karya dramatari ini adalah mewujudkan dan menyampaikan pesan moral kemanusiaan secara simbolik dan artistik kepada publik, bahwa seburuk-buruknya orang pasti ada sisi baiknya. Begitu pula sebaliknya, sebaik-baiknya orang pasti ada sisi buruknya.  Untuk mewujudkan karya tersebut, maka digunakan pendekatan teori dualisme dengan metode penciptaan tari dengan langkah-langkah; eksplorasi, evaluasi, dan komposisi. Adapun hasil yang dicapai dari proses kreatif ini, adalah terwujudnya sebuah karya dramatari yang inovatif dalam tiga pengadegan; Rahwana mencari cintanya, Rahwana dan Sinta beradu kasih, dan Perang Rahwana dengan Rama.     Kata Kunci: Penciptaan Tari, Dramatari, Rahwayana. ABSTRACT. Dramatari Rahwayana Dualistic Taffs Of Good And Bad, Desember 2019. Dramatari's work "Rahwayana" is a creative effort in realizing the interpretation of values from a different perspective, on the journey of the life story of a character in a wayang story. There is another side that shows, that from the human side Rahwana has the value of goodness. On the contrary, that Rama from the human side has the value of badness. The purpose of this dramatic work is to embody and convey the moral message of humanity symbolically and artistically to the public, that there must be a good side to the worst of people. Vice versa, the best people there must be a bad side. To realize this work, the dualism theory approach is used with the dance creation method with steps; exploration, evaluation and composition. As for the results achieved from this creative process, is the realization of an innovative drama work in three scenes; Rahwana seeks love, Rahwana and Sinta collide with love, and Rahwana war with Rama.Keywords: Workingon The Dance, Dramatari, Rahwayana. 
PENGEMASAN UPACARA BABANGKONGAN MENJADI BENTUK PERTUNJUKAN HELARAN Yayat Hidayat
Jurnal Seni Makalangan Vol 6, No 2 (2019): "Menjaga Asa Merajut Cita"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v6i2.1056

Abstract

ABSTRAKUpacara Babangkongan merupakan upacara kesuburan atau upacara meminta Hujan di daerah Surawangi, Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka. Upacara ini dilakukan pada musim kemarau (halodo) ketika kondisi air untuk mengairi sawah berkurang, bahkan kering kerontang. Upacara Babangkongan bentuknya sederhana, memperlihatkan seorang laki-laki ditandu di atas tandu terbuka (dongdang) oleh empat orang laki-laki, kemudian diarak keliling sambil teriak menirukan suara katak (bangkong) dengan irama naik-turun dan riuh. Masyarakat Desa Su-rawangi menyambutnya dengan mengguyur laki-laki yang menirukan suara Bangkong tersebut dengan air, dan biasanya memberikan uang saweran pada para pembawa dongdang. Masyarakat Surawangi mempercayai, bahwa tradisi Upacara Babangkongan ini kalau dilaksanakan akan turun hujan. Metode yang digunakan untuk pengemasan upacara Baba-ngkongan ini adalah metode garap melalui beberapa tahapan yang meliputi; eksplorasi, impro-visasi, komposisi, dan evaluasi. Hasil dari garapan ini adalah pengemasan Upacara Babangkongan menjadi Seni Pertunjukan Helaran atau Seni Pertunjukan Jalanan untuk kepentingan berbagai peristiwa budaya pada masyarakat Surawangi yang dipentaskan dalam bentuk Helaran maupun Pertunjukan di atas panggung.Kata Kunci: Desa Surawangi, Upacara Babangkongan, Kesuburan, Helaran. ABSTRACT. Packaging Babangkongan Ceremony Became Form Of Toward Performance, December 2019. Babangkongan ceremony is a fertility ceremony or a ceremony to ask for rain in Surawangi area, Jatiwangi District, Majalengka Regency. This ceremony is carried out in Halodo (Dry) season when the water condition for irrigating the rice fields are reduced, even parched. The Babangkongan ceremony is simple in shape, showing a man being carried on a dongdang (open stretcher) by four men, then paraded around while shouting and imitating the sound of Bangkong (frog) with an up and down and noisy rhythm. Surawangi villagers welcomed him by flushing the man who is imitating the sound of Bangkong (Frog) with water, and usually give Saweran (money) to the Dongdang carriers. Surawangi people believe that when the tradition of Babangkongan Ceremony is carried out, then the rain will come. The method which is used for packaging the Babangkongan ceremony is a working (garap) method through several stages which include exploration, improvisation, composition, and evaluation. The result of this work is the packaging of Babangkongan Ceremony as Helaran Performing Arts or Street Performing Arts for the benefit of various cultural events in Surawangi community which can be performed in the form of Helaran and Performances on stage.Keywords:.Surawangi.Village,.Babangkongan.Ceremony,.Fertilit,.Helaran.
TARI GANDRUNG ARUM KARYA R. YUYUN KUSUMADINATA Linda Herlianti dan Turyati
Jurnal Seni Makalangan Vol 4, No 1 (2017): "Spirit Tubuh Tanpa Batas"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v4i1.1091

Abstract

ABSTRAKTari Gandrung Arum karya R. Yuyun Kusumadinata termasuk ke dalam rumpun tari Kreasi Baru yang diciptakan pada tahun 1978. Proses penciptaan tari dan struktur koreografinya dijadikan sebagai fokus kajian. Penelitian kualitatif ini menggunakan metode deskripsi analisis-nya. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, do-kumentasi dan studi pustaka. Teknik penelitian dimulai dari pe-ngumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan simpulan. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: tari Gandrung Arum diciptakan oleh R. Yuyun Kusumadinata untuk menambah kekayaan tari Sunda dan persiapan acara Festival Penata Tari Muda di TIM Jakarta. Proses kreatif yang dilakukan R.Yuyun Kusumadinata meliputi tahap eksplorasi, improvisasi, dan komposisi. Sikap dan gerak tari Gandrung Arum dipengaruhi oleh sikap dan gerak karya tari R. Tjetje Soemantri, tari keurseus, dan tari topeng Cirebon.  Koreografi tari Gandrung Arum memiliki 10 gerak pokok, yaitu: calik ningkat, langkah keupat longkewang, ngintip, engkek gigir, ngahiap, sumiat, ngati-ngati, pundak soder, galayar ngejat ecek, dan calik ningkat. Kata Kunci: R. Yuyun Kusumadinata, Proses Kreatif, Tari Gandrung Arum.   ABSTRACT.Gandrung Arum Dance by R. Yuyun Kusumadinata, June 2017. Gandrung Arum Dance by R. Yuyun Kusumadinata belongs to a new creations dance group in 1978. The process of dance creation and choreography structure serve as the focus of study. This reseach uses qualitative method and description of its analysis based on lexy J. Moleong theory. Data collection is done through interview, observation, documentation and literature study. The reseach technique starts from data collection, data reduction, data presentation, and conclusions. The results of this study are as followers: Gandrung Arum dance was created by R. Yuyun Kusumadinata to increase the wealth of Sundanese dance and preparation of the Young Dance Pencil Festival Jakarta at TMII Jakarta. Creative process conducted R. Yuyun Kusumadinata include exploration, improvisation, and composition. Gandrung Arum dance movements are influenced by the attitude and movement of dance work of R. Tjetje Soemantri, dance keurseus, and Cirebon mask dance. Gandrung Arumdance choreography has 10 principal motions, namely: calik ningkat, longkewang keupat steps, ngintip, gigir ngek, ngahiap, sumiat, ngati-ngati, soder shoulder, galail ngejat ecek, and calik ningkat.Keywords: R. Yuyun Kusumadinata, Creative Process, Gandrung Arum Dance.  
ANGKLAH DIKSI PENCIPTAAN TARI KARNA TANDING Fahrul Nurrochman dan Kawi
Jurnal Seni Makalangan Vol 6, No 2 (2019): "Menjaga Asa Merajut Cita"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v6i2.1062

Abstract

ABSTRAKAngklah adalah sebuah hasil karya penciptaan tari yang menggambarkan rasa sakit atau perasaan yang menyiksa batin, terinspirasi dari kisah Karna dalam cerita epos Mahabarata. Karna merupakan kesatria yang memiliki kepribadian tidak stabil, sebab disaat-saat penting dan genting harus menentukan pilihan, menentukan keyakinan, dan kebijakan se-bagai seorang kesatria. Pada saat harus memilih, dirinya goyah, terjadi ketidakseimbangan dalam jiwanya ketika harus berhadapan perang tanding dengan Arjuna yang akhirnya gugur. Dalam bahasa Sanskerta kata “kar?a” bermakna telinga, sehingga diceritakan bahwa Karna lahir melalui telinga Kunti. Namun, karna juga dapat bermakna "mahir" atau "terampil". Kiranya nama Karna ini baru dipakai setelah Basusena atau Karna dewasa dan menguasai ilmu memanah dengan sempurna, meskipun ia dibesarkan oleh keluarga kusir tetapi justru berkeinginan menjadi seorang perwira kerajaan. Adapun tujuan dari proses penciptaan tari ini adalah mewujudkan sebuah karya tari kontemporer yang terdiri dari tiga bagian garap, yaitu; bagian awal menggambarkan kelahiran Karna dengan flashback terjadinya sumpah tersebut, bagian kedua menggambarkan ketidakberdayaan Karna, dan bagian ketiga menggambarkan Karna gugur sebagai pahlawan. Untuk mewujudkan karya tari tersebut, maka digunakan kreativitas dengan pendekatan metode lima pola, yakni; merasakan, menghayati, menghayalkan, mengenjawatahkan dan membentuk.  Hasil yang dicapai adalah se-buah karya tari kontemporer dengan judul “Angklah”, menjadi sebuah karya penciptaan tari lintas tradisi, pengembangan tari modern (cheerleaders, akrobatik, wacking).Kata Kunci: Tari Kontemporer, Angklah, Karna.ABSTRACT. Angklah Diction Of Creation Dance Karna Tanding, December 2019. Angklah is a work of dance creation that illustrates the pain or feelings that torture the mind, inspired by the story of Karna in the epic Mahabarata epic. Karna it is a knight who has an unstable personality, because in important times and critical times must make choices, determine beliefs, and policies as a knight. When he had to choose, he was shaken, there was an imbalance in his soul when he had to face a battle with Arjuna who eventually died. In Sanskrit the word "kar?a" means ear, so it is told that Karna was born through Kunti's ear. However, because it can also mean "proficient" or "skilled". May the name Karna be used only after Basusena or Karna was mature and mastered the science of archery perfectly, even though he was raised by a coachman family but instead wanted to become a royal officer. The purpose of this dance creation process is to realize a contemporary dance work consisting of three parts, namely; the first part describes the birth of Karna with a flashback of the oath, the second part describes the helplessness of Karna, and the third part describes Karna died as a hero. To realize the dance work, creativity is used using the five pattern method approach, namely; feel, appreciate, imagine, enjoin, and give shape. The result achieved is a contemporary dance work with the title "Angklah", a work of cross-traditional dance creation, the development of modern dance (cheerleaders, acrobatics, wacking).Keywords: Contemporery Dance, Angklah, Karna.
TARI LEKO ANTARA SENI PERTUNJUKAN DENGAN KEPERCAYAAN Ni Made Suartini
Jurnal Seni Makalangan Vol 6, No 2 (2019): "Menjaga Asa Merajut Cita"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v6i2.1057

Abstract

ABSTRAKTari Leko merupakan salah satu peninggalan tari tradisi Bali yang harus dilestarikan, karena kondisi perkembangannya saat ini sangat meng-khawatirkan. Terlebih, Tari Leko hanya ada di Desa Tunjuk Tabanan dan di Banjar Parekan, Sibang Gede, Denpasar. Penampilan Tari Leko selalu dikaitkan dengan manusa yadnya, khususnya mesesangi (khaul) yang dilakukan oleh seseorang terhadap Tuhan atau roh leluhur. Oleh sebab itu, dalam setiap pertunjukan selalu ada sarana upacara yang berupa banten untuk menghubungkan niat manusia dengan Tuhan dan para leluhurnya. Pada bagian akhir pertunjukannya, orang tua dan anak yang mengundang harus tampil menari bersama dengan penari Leko sebagai tanda bahwa sesangi telah terbayar, dan saat menari bersama ini disebut ibing-ibingan. Penggalian data dalam tulisan ini menggunakan metode deskriptif analisis dengan menggabungkan observasi langsung dan data literer. Adapun hasil yang ditemukan, bahwa masyarakat Bali sangat percaya dengan kekuatan gaib yang ada di sekitarnya. Adapun dalam berperilaku, mereka mengacu pada ajaran yang disebut Tri Kaya Parisudha, yaitu pikiran, perkataan, dan perbuatan harus selalu sejalan.Kata Kunci: Kepercayaan, Seni Pertunjukan, Tari Leko. ABSTRACT. Leko Dance Between Art Arts With Trust, December 2019. Leko Dance Is A Relic Of Balinese Traditional Dance Which Must Be Preserved, Because The Current Development Conditions Are Very Worrying. Moreover, Leko Dance only exists in the Village of Tunjuk Tabanan and in Banjar Parekan, Sibang Gede, Denpasar. Leko dance performance is always associated with humans, especially mesesangi (khaul) made by someone against God or ancestral spirits. Therefore, in every performance there is always a means of ceremony in the form of offer to connect human intentions with God and his ancestors. At the end of the show, parents and children who invite must perform together with Leko dancers as a sign that something has been paid off, and when dancing together this is called ibing-ibingan. Data mining in this paper uses descriptive analysis method by combining direct observation and literary data. As for the results found, that the Balinese people really believe in the supernatural powers that are around it. As for behaving, they refer to the teachings called Tri Rich Parisudha, namely thoughts, words, and deeds must always be in line.Keywords: Trust, Performing, Arts, Leko Dance.
PRODUKSI DANCE FILM SPECTRUMOTION BANJIR ROB DALAM PERISTIWA BANJIR DI SAYUNG DEMAK Isnaini, Mentari
Jurnal Seni Makalangan Vol 8, No 2 (2021): "Tari Di Ruang Virtual"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v8i2.2012

Abstract

ABSTRAKKarya dance film Spectrumotion Banjir Rob merupakan inter-pretasi dari ungkapan perasaan, kebiasaan, dan bentuk bertahan hidup yang teraspirasi dari peristiwa banjir rob di Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Kebiasaan yang menjadi budaya baru seperti mencuci kaki, cara manusia beraksi saat banjir, serta bertahan hidup dengan akitivitas dan rutinitas yang terbatas menjadi landasan dalam membuat kekaryaan ini. Pengalaman empiris koreografer diekspresikan dalam pertunjukan tari yang dikemas menjadi film. Proses penggarapan mengacu pada estimasi wujud karya berupa design culture dan pemahaman impact tubuh melalui proses eksperimen dan riset media. Metode penelitian karya ini menggunakan metode pendekatan kualitatif dan pendekatan reseach lead practice, yaitu hasil riset dan observasi mengikuti proses penggarapan atau sebaliknya. Peraturan Pemerintah No.64 tahun 2010 tentang Mitigasi Bencana di Wilayah Pesisir menyatakan, bahwa banjir rob termasuk dalam kategori bukan bencana darurat, hal ini menjadi salah satu analisis data mengapa peristiwa banjir rob luput dari perhatian banyak orang dan pemerintah. Tujuan dari hasil proses eksperimen dan riset media karya dance film ini merupakan temuan solusi yang tepat untuk penanggulangan banjir rob, serta kepada pemerintah dapat mengkaji ulang mengenai Peraturan Pemerintah yang telah dibuat.Kata Kunci: Produksi Film, Dance Film, Spectrumotion Banjir Rob, Banjir Rob, Sayung Demak.ABSTRACTProduction Of The Dance Film Spectrumotion Flood Rob In A Flood Event In Sayung Demak, December 2021. The dance work of the film "Spectrumotion Flood Rob" is an interpretation of the expression of feelings,. habits, and forms of survival inspired by the tidal flood event in Sayung District, Demak Regency. Habits that have become a new culture such as washing feet, the way humans act during floods, and surviving with limited activities and routines are the basis for making this work. The choreographer's empirical experience is expressed in dance performances that are packaged into films. The cultivation process refers to the estimation of the form of the work in the form of design culture and understanding the impact of the body through the process of experimentation and media research. The research method of this work uses a qualitative approach and a research lead practice approach, namely the results of research and observations following the cultivation process or vice versa. Government Regulation No. 64 of 2010 concerning Disaster Mitigation in Coastal Areas states that the tidal flood is included in the category of not an emergency disaster, this is one of the data analysis why the tidal flood event has escaped the attention of many people and the government. Thepurpose of the results of the experimental process and media research by this dance film is to find the right solution for tidal flood prevention, and for the government to review the Government Regulations that have been made.Keywords: Film Production, Dance film, Spectrumotion Flood Rob, Flood Rob, Sayung Demak.

Page 10 of 20 | Total Record : 200


Filter by Year

2014 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 12 No. 2 (2025): "Ruang Kreatif Mencipta Tari" Vol. 12 No. 1 (2025): "Merawat Warisan" Nilai Tradisi dan Kontemporer Vol. 11 No. 2 (2024): "Fenomenologi Tari Berbasis Tradisi dan Kontemporer" Vol. 11 No. 1 (2024): "Menggali Akar, Mencipta Ragam Rupa Kinestetika" Vol 11, No 1 (2024): "Menggali Akar, Mencipta Ragam Rupa Kinestetika" Vol 10, No 2 (2023): "Tari Dalam Genggaman Tradisi" Vol. 10 No. 2 (2023): "Tari Dalam Genggaman Tradisi" Vol 10, No 1 (2023): "Menguak Seni Tradisi Di Era Globalisasi" Vol. 10 No. 1 (2023): "Menguak Seni Tradisi Di Era Globalisasi" Vol 9, No 2 (2022): "Dimensi Kreativitas Ketubuhan Penari Sunda" Vol 9, No 1 (2022): "Menggali Inspirasi Dari Tradisi" Vol 8, No 2 (2021): "Tari Di Ruang Virtual" Vol 8, No 1 (2021): "GERAK TUBUH TARI MENGALIR MENCIPTA ASA DAN CITA" Vol 7, No 2 (2020): “Gemulai Gerak Ketubuh Tradisi Mencipta Enerji Dinamis Tari Kreasi” Vol 7, No 1 (2020): "GELIAT TARI DI BUMI TRADISI" Vol 6, No 2 (2019): "Menjaga Asa Merajut Cita" Vol 6, No 1 (2019): "Menari dengan Hati-Menandak dengan Rasa" Vol 5, No 2 (2018): "Mengupas Kreativitas, Menumbuhkan Sensitivitas" Vol 5, No 1 (2018): "Jari Jemari Membuai Emosi" Vol 4, No 1 (2017): "Spirit Tubuh Tanpa Batas" Vol 3, No 2 (2016): "Menelisik Tradisi Mengais Kreasi" Vol 3, No 1 (2016): "Membumikan Tradisi Menumbuhkan Kreasi" Vol 2, No 2 (2015): "Wayang Bayang-bayang Kehidupan" Vol 1, No 2 (2014): "Membumikan Tradisi Meraih Inspirasi" Vol 1, No 1 (2014): "Menggali Potensi Berbagai Tradisi Kreatif" More Issue