cover
Contact Name
Lalan Ramlan
Contact Email
lalan_ramlan@isbi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
penerbitan@isbi.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Seni Makalangan
ISSN : 23555033     EISSN : 27148920     DOI : -
Core Subject : Art,
Arjuna Subject : -
Articles 200 Documents
IBING GAPLEK TEPAK JAIPONG NAEK GOYANG KARAWANG PADA TOPENG BANJET SEKARWATI BASKOM GROUP Dadang, Dadang; Nuriawati, Risa
Jurnal Seni Makalangan Vol. 11 No. 1 (2024): "Menggali Akar, Mencipta Ragam Rupa Kinestetika"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v11i1.3409

Abstract

ABSTRAK Ibing Gaplek Tepak Jaipong Naek Goyang Karawang adalah sebuah tarian yang ada pada kesenian Topeng Banjet Baskom. Tarian ini disajikan oleh tiga penari atau tarian rampak. Ibing Gaplek ini diciptakan untuk menggambarkan seorang ronggeng pada saat memberi kode melalui gerakan atau geolan kepada para kaum laki-laki yang ingin menari bersama. Adapun metode penelitian yang digunakan yaitu metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis melaui langkah-langkah penelitian meliputi; studi pustaka, studi lapangan meliputi; wawancara, observasi, dokumentasi, dan analisis data. Untuk menguraikan permasalahan penelitian tersebut, maka penulis menggunakan landasan konsep pemikiran mengenai struktur tari yang dikemukakan oleh Iyus Rusliana. Hasil dari penelitian ini merupakan deskriptif mengenai bentuk meliputi; penyajian, koreografi, karawitan, rias busana, properti, dan setting panggung. Berkaitan dengan Isi antara lain; latar belakang cerita, gambaran dan tema, nama atau judul tarian, karakter dan unsur filosofi. Adapun temuan ciri khas dari gerakan Ibing Gaplek yaitu; geol kanan kiri, geol gibrig, dan geol handap ajul gedang. Kata Kunci: Topeng Banjet Baskom, Struktur Tari, Ibing Gaplek, Tepak Jaipong Naek Goyang Karawang. ABSTRACT IBING GAPLEK TEPAK JAIPONG NAEK GOYANG KARAWANG ON THE BANJET MASK OF SEKARWATI BASKOM GROUP, JUNE 2024. Ibing Gaplek Tepak Jaipong Naek Goyang Karawang is a dance that exists in the Baskom Banjet Mask dance. The dance is presented by three dancers or called as rampak dance. This Ibing Gaplek was created to depict a ronggeng when giving codes through movement or geolan to the men who wish to dance together. The research uses a qualitative method with a descriptive analysis approach through research phases namely; literature study, field studies including; interviews, observation, documentation, and data analysis. To describe the research problem, the writer uses the basic concept of dance structure by Iyus Rusliana. The result of this study is a description on a dance form including: presentation, choreography, karawitan (music), fashion make-up, properties, and stage setting. Meanwhile related to the contents, among others; story background, description and theme, dance name or title, character and philosopichal elements. The findings of the characteristic of the Ibing Gaplek movements are: right and left geol, geol gibrig and geol handap ajul gedang. Keywords: Baskom Banjet Mask, Dance Structure, Ibing Gaplek, Tepak Jaipong Naek Goyang Karawang.
IBING KALANGENAN DI KALANGAN KAUM SOMAH DALAM TAYUB BALANDONGAN Jatnika, Asep; Hadi, Sopian
Jurnal Seni Makalangan Vol. 11 No. 1 (2024): "Menggali Akar, Mencipta Ragam Rupa Kinestetika"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v11i1.3410

Abstract

ABSTRAK Tayub balandongan sebagai ibing kalangenan yang menjadi ikon daerah Situraja Sumedang Jawa Barat. Ada dua jenis ibing tayub, diantaranya tayub menak dikenal dengan istilah tayub pendopo dan tayub somah atau tayub liar dengan istilah tayub balandongan. Tayub menak penarinya merupakan para bangsawan karena ada suatu keharusan sebagai salah satu syarat untuk menjadi seorang bangsawan yaitu terampil ibing tayub, karena tampil menari dalam peristiwa tayuban sebagai identitas sosial bagi menak. Sedangkan tayub balandongan pelakunya merupakan masyarakat biasa yang dikenal kaum somah yang meniru kebiasaan menak. Mereka memiliki anggapan bahwa bangsawan atau menak merupakan panutan bagi masyarakat sehingga pola perilaku dan kebiasannya harus ditiru, salah satunya yaitu ngibing dengan ronggeng di Balandongan. Balandongan merupakan arena pertunjukan tayuban yang letaknya di luar gedung (out door), dan peran ronggeng dalam peristiwa tayuban mempunyai daya pikat yang luar biasa sebagai roh dalam pertunjukan ibing tayub balandongan. Kata Kunci: Ibing Tayub Balandongan, Kalangenan, Ronggeng. ABSTRACT IBING KALANGENAN IN THE SOMAH IN TAYUB BALANDONGAN, JUNE 2024. Tayub Balandongan as Ibing Kalangenan which becomes the icon of Situraja Sumedang West Java. There are two types of Ibing Tayub, namely Tayub Menak known as Tayub Pendopo and Tayub Somah or Tayub Liar called as Tayub Balandongan. The dancers of Tayub Menak are noblemen because there is a necessity as one of the requirements to become noblemen, they must be skilled at Ibing Tayub, because it appeared that dancing in the Tayuban event as a social identity for Menak. Whereas in Tayub Balandongan the performers are ordinary people known as the Somah who imitate the habits of the Menak. They have assumption that nobles or Menak are role models for the community so their pattern of behavior and habits must be imitated, one of which is ngibing with ronggeng in Balandongan. Balandongan is a Tayuban performance arena which is located outside the building (out door), and the role of ronggeng in Tayuban event has an extraordinary allure as a spirit in the performance of Ibing Tayub Balandongan. Keywords: Ibing Tayub Balandongan, Kalangenan, Ronggeng.
ELEMEN KOREOGRAFI TARI PENYAMBUTAN PRASNAYA PRAMI Ni Komang Sri Wahyuni; Ni Made Liza Anggara Dewi; Ni Nyoman Ayu Kunti Aryani
Jurnal Seni Makalangan Vol. 12 No. 2 (2025): "Ruang Kreatif Mencipta Tari"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya Tari Prasnaya Prami merupakan tari penyambutan yang menggabungkan nuansa gerak tari Jawa dan Bali sebagai inovasi dalam pengembangan tari penyambutan di Bali. Perpaduan ini merefleksikan keharmonisan budaya serta memvisualisasikan simbol keramahan yang sejalan dengan nilai Pawongan dalam Tri Hita Karana. Secara etimologis, prasnaya berarti penghormatan dan prami merujuk pada sosok perempuan anggun dan penuh kasih, yang menjadi dasar artistik dalam membangun karakter tarian. Karya ini merupakan bagian dari Program P2SD Berdampak ISI Bali 2025 dan telah didiseminasikan pada Bali Nata Bhuwana Nasional 2025 di Yogyakarta. Penulisan ini menggunakan konsep pemikiran Y. Sumandiyo Hadi mengenai elemen koreografi dengan pendekatan kualitatif melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasilnya berupa pencatatan struktur koreografi yang mencakup (1) Jumlah penari, jenis kelamin, dan postur tubuh, (2) Ruang tari, (3) Iringan/musik tari, (4) Gerak tari, (5) Judul tari, (6) Tema tari, (7) Tipe/jenis/sifat tari, (8) Mode/cara penyajian, (9) Rias dan kostum tari, (10) Tata cahaya, dan (11) Properti tari. ABSTRACT CHOREOGRAPHIC ELEMENTS OF THE PRASNAYA PRAMI WELCOMING DANCE, DECEMBER 2025. Prasnaya Prami is a welcoming dance that integrates movement nuances from Javanese and Balinese dance traditions as an innovative contribution to the development of welcoming dances in Bali. This fusion reflects intercultural harmony and embodies the symbolism of hospitality aligned with the Pawongan values in the Tri Hita Karana philosophy. Etymologically, prasnaya means “honor,” while prami refers to a graceful and gentle woman, forming the artistic foundation of the dance’s character. Created as part of the 2025 P2SD Berdampak Program of ISI Bali, the work was presented at the 2025 Bali Nata Bhuwana National event in Yogyakarta. This writing employs Y. Sumandiyo Hadi’s conceptual framework on choreographic elements using a qualitative approach through observation, interviews, and documentation. The findings present a detailed mapping of the choreography, including (1) number, gender, and posture of dancers, (2) dance space, (3) musical accompaniment, (4) movement vocabulary, (5) title, (6) theme, (7) type/character of dance, (8) mode of presentation, (9) makeup and costume, (10) lighting design, and (11) properties used. Keywords: Choreographic Elements; Prasnaya Prami.
INOVASI KONTEMPORER DALAM SENI PERTUNJUKAN: TEKNOLOGI MAPPING DAN HOLOGRAPHIC PADA TARI KOLOSAL KESAH CAHAYA Rani Tiara FL; Tri Karyono; Ayo Sunaryo
Jurnal Seni Makalangan Vol. 12 No. 2 (2025): "Ruang Kreatif Mencipta Tari"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini mengkaji penerapan teknologi projection mapping dan holographic dalam pertunjukan tari kolosal Kesah Cahaya serta kontribusinya terhadap pembentukan estetika pertunjukan kontemporer. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan observasi partisipatif, data dikumpulkan melalui pengamatan proses kreatif serta dokumentasi pertunjukan. Hasil analisis menunjukkan bahwa integrasi teknologi visual digital memperluas ruang representasi panggung dan memperkuat penyampaian narasi melalui efek visual yang imersif. Visualization mapping membantu membangun transisi suasana dan struktur dramaturgi, sedangkan holografi menghadirkan elemen simbolik yang memperkaya imajinasi visual penonton. Kolaborasi teknologi dan koreografi tersebut menciptakan karakter visual yang dinamis serta menunjukkan kecenderungan estetis seni pertunjukan kontemporer. Temuan ini menegaskan bahwa pemanfaatan inovasi digital memiliki peran strategis dalam pengembangan karya tari kolosal di era modern.
GOALS SEBUAH KARYA PENCIPTAAN TARI TERINSPIRASI DARI PERMAINAN OLAHRAGA FUTSAL Ereene Sylvana Nurhaz; Lia Amelia
Jurnal Seni Makalangan Vol. 12 No. 2 (2025): "Ruang Kreatif Mencipta Tari"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya tari dengan judul GOALS merupakan sebuah karya tari kontemporer yang terinspirasi dari permainan futsal. GOALS berasal dari bahasa Inggris yang memiliki arti tujuan akhir yang ingin dicapai. Gagasan utama dalam karya ini adalah perjuangan seorang pemain futsal yang mengalami intimidasi dari lawan yang licik dan bermain kasar. Karya ini menggambarkan proses panjang yang harus dilalui oleh pemain untuk mencapai tujuan akhir, yaitu goals, sebuah istilah yang juga bermakna pencapaian akhir. Penciptaan karya ini menggunakan metode eksplorasi, improvisasi, dan seleksi. Sumber gerak diambil dari aktivitas keseharian seperti berjalan, berlari, berguling, serta gerak futsal yang didistorsi dan distilisasi untuk menghasilkan bentuk gerak baru yang ekspresif. Karya ini digarap dengan pendekatan dramatik dalam gaya tari kontemporer, mengangkat tema perjuangan sebagai fokus utama. Hasil akhir dari proses ini adalah terwujudnya sebuah karya tari yang utuh, yang tidak hanya menampilkan estetika gerak tetapi juga menyampaikan pesan tentang semangat perjuangan, ketekunan dan keberanian dalam menghadapi tantangan untuk mencapai tujuan. ABSTRACT “GOALS” A DANCE CREATION INSPIRED BY THE GAME OF FUTSAL, DECEMBER 2025. The dance work entitled GOALS is a contemporary dance work inspired by the game of futsal. GOALS comes from English which means the final goal to be achieved. The main idea in this work is the struggle of a futsal player who experiences intimidation from cunning and rough opponents. This work depicts the long process that must be passed by the player to achieve the final goal, namely goals, a term that also means a final achievement. The creation of this work uses the methods of exploration, improvisation, and selection. The source of movement is taken from daily activities such as walking, running, rolling as well as futsal movements that are distorted and stylized to produce new, expressive movement forms. This creation is worked on with a dramatic approach in the style of contemporary dance, raising the theme of struggle as the main focus. The final result of this process is the realization of a complete dance work, which not only performs the aesthetics of movement but also conveys a message about the spirit of struggle, perseverance and courage in facing challenges to achieve goals. Keywords: Goals, Contemporary, Dramatic, Futsal
TARI SEBAGAI TREN DIGITAL DI TIKTOK: ANALISIS GERAK, PARTISIPASI PENGGUNA, DAN LITERASI TEKNOLOGI KREATOR Zahrah Luthfi Kholifah; Tri Karyono; Ayo Sunaryo
Jurnal Seni Makalangan Vol. 12 No. 2 (2025): "Ruang Kreatif Mencipta Tari"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan platform digital seperti TikTok telah mengubah cara masyarakat memproduksi, membagikan, dan memaknai tarian sebagai bentuk ekspresi budaya modern. Fenomena ini menunjukkan pergeseran bahwa tarian tidak hanya tampil sebagai seni pertunjukan, tetapi juga sebagai tren digital yang dibentuk oleh kreativitas kreator dan partisipasi pengguna. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana tarian berkembang sebagai tren di TikTok melalui kajian terhadap pola gerak, bentuk keterlibatan pengguna, serta literasi teknologi yang dimiliki kreator konten tari. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan memanfaatkan data daring, termasuk analisis konten video, komentar pengguna, serta simulated interview yang disusun berdasarkan pola umum strategi kreator tari di TikTok. Data dianalisis secara tematik untuk mengidentifikasi karakteristik gerak, dinamika interaksi digital, dan kompetensi teknologi yang muncul dalam proses produksi konten tari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tren tarian di TikTok terbentuk melalui gerak yang sederhana, repetitif, dan mudah direplikasi, sehingga mendorong partisipasi pengguna secara luas. Kreator juga memanfaatkan fitur digital seperti sinkronisasi musik, efek visual, dan teknik penyuntingan dasar untuk meningkatkan daya tarik konten. Temuan ini menegaskan bahwa literasi teknologi menjadi aspek penting dalam keberhasilan kreator dalam membangun identitas digital dan mempertahankan keterlibatan audiens. Penelitian menyimpulkan bahwa TikTok tidak hanya menjadi ruang penyebaran tarian populer, tetapi juga ekosistem pembelajaran digital yang mendorong kolaborasi, kreativitas, dan adaptasi teknologi dalam praktik seni tari. Implikasi penelitian ini mengarah pada pentingnya integrasi literasi digital dalam pendidikan seni agar peserta didik mampu merespons perkembangan budaya digital secara kritis dan produktif. ABSTRACT DANCE AS A DIGITAL TREND ON TIKTOK: AN ANALYSIS OF MOVEMENT, USER PARTICIPATION, AND CREATOR TECHNOLOGY LITERACY, DECEMBER 2025. The development of digital platforms such as TikTok has changed the way people produce, share, and interpret dance as a form of modern cultural expression. This phenomenon shows a shift in which dance is not only presented as a performing art, but also as a digital trend shaped by the creativity of creators and user participation. This study aims to analyze how dance has developed as a trend on TikTok by examining movement patterns, forms of user engagement, and the technological literacy of dance content creators. The study uses a qualitative approach utilizing online data, including video content analysis, user comments, and simulated interviews based on common patterns in the strategies of dance creators on TikTok. The data is analyzed thematically to identify movement characteristics, digital interaction dynamics, and technological competencies that emerge in the dance content production process. The results show that dance trends on TikTok are formed through simple, repetitive, and easily replicable movements, thereby encouraging widespread user participation. Creators also utilize digital features such as music synchronization, visual effects, and basic editing techniques to enhance the appeal of their content. These findings confirm that technological literacy is an important aspect of creators' success in building a digital identity and maintaining audience engagement. The study concludes that TikTok is not only a space for spreading popular dances, but also a digital learning ecosystem that encourages collaboration, creativity, and technological adaptation in dance practice. The implications of this study point to the importance of integrating digital literacy into arts education so that students are able to respond to developments in digital culture critically and productively. Keywords: Technology Literacy, Dance, TikTok, Digital Trends.
ENVIRONMENTAL ART Subayono; Tyoba Armey AP
Jurnal Seni Makalangan Vol. 12 No. 2 (2025): "Ruang Kreatif Mencipta Tari"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menciptakan karya tari dalam medium dance film berjudul Environmental Art Riksasato yang mengangkat isu ekologis mengenai kerusakan hutan, keterpurukan satwa, dan konflik dengan manusia. Metode penelitian yang digunakan meliputi studi literatur, observasi, eksplorasi, improvisasi, dan komposisi. Melalui tahapan tersebut, lahir sebuah karya tari berbasis film yang memadukan eksplorasi gerak hewan, stilisasi tubuh penari, rias fantasi, busana karakter, elemen musik, serta kekuatan sinematografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dance film efektif menjadi sarana ekspresi kreatif sekaligus media kritik sosial-ekologis. Environmental Art Riksasato menampilkan narasi dramatik mulai dari deforestasi, kelaparan satwa, konflik antar hewan, hingga pertarungan dengan manusia, yang berpuncak pada hadirnya figur mafia hutan sebagai simbol kapitalis perusak alam. Karya ini menegaskan bahwa seni, melalui medium film tari, dapat menghadirkan pengalaman estetis yang bukan hanya menghibur, tetapi juga menggugah kesadaran akan pentingnya menjaga keberlangsungan lingkungan. ABSTRACT ENVIRONMENTAL ART, DECEMBER 2025. This research aims to create a dance work in the medium of a dance film entitled "Environmental Art Riksasato," which raises ecological issues concerning forest destruction, animal suffering, and conflict with humans. The research methods used include literature study, observation, exploration, improvisation, and composition. Through these stages, a film-based dance work was created that combines the exploration of animal movement, stylization of the dancer's body, fantasy makeup, character costumes, musical elements, and the power of cinematography. The results show that the dance film is effective as a means of creative expression as well as a medium for socio-ecological criticism. "Environmental Art Riksasato" presents a dramatic narrative ranging from deforestation, animal starvation, inter-animal conflict, to battles with humans, culminating in the appearance of the forest mafia figure as a symbol of capitalist nature destroyers. This work affirms that art, through the medium of dance film, can provide an aesthetic experience that is not only entertaining but also raising awareness about the importance of maintaining environmental sustainability. Keywords: Dance Film, Environmental Art, Ecology, Environmental Art.
KARYA GURUH SUKARNO PUTRA DI GROUP TARI KINARYA SOERYA SOEMIRAT PURA MANGKUNEGARAN Dinar Ayu Astarinny
Jurnal Seni Makalangan Vol. 12 No. 2 (2025): "Ruang Kreatif Mencipta Tari"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas transformasi koreografi Tari Indonesia Jaya karya Guruh Sukarno Putra yang diajarkan dan dipentaskan oleh Group Tari Kinarya Soerya Soemirat Pura Mangkunegaran. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan proses adaptasi koreografi dan peran grup tari tersebut dalam pelestarian seni kreasi Nusantara. Menggunakan metode kualitatif, data diperoleh melalui studi pustaka, observasi partisipatif, wawancara, dan dokumentasi, pendekatan teori dari Alma M. Hawkins, dorongan manusia untuk berkomunikasi lewat gerakan yang terjalin bersama pengalaman dan ritme. Proses koreografer dalam mereplikasi tari Indonesia Jaya untuk menjadi materi dan tari unggulan di Kinarya Soerya Soemirat mengalami penyesuaian gerak, pola lantai, dan kostum agar sesuai dengan karakteristik penari di Kinarya Soerya Soemirat, tanpa menghilangkan nilai nasionalisme dan keberagaman budaya yang menjadi inti karya tersebut. Transformasi tercermin dalam upaya pelestarian yang adaptif dan edukatif. Kinarya Soerya Soemirat terbukti mampu menjalankan sistem pembinaan yang terstruktur dan berkelanjutan melalui program latihan berjenjang, regenerasi usia dini, dan kepemimpinan yang kolaboratif. ABSTRACT TRANSFORMATION OF THE CHOREOGRAPHY OF INDONESIA JAYA DANCE BY GURUH SUKARNO PUTRA IN THE KINARYA SOERYA SOEMIRAT DANCE GROUP OF PURA MANGKUNEGARAN, DECEMBER 2025. This study discusses the transformation of the choreography of Indonesia Jaya Dance by Guruh Sukarno Putra which is taught and performed by the Kinarya Soerya Soemirat Pura Mangkunegaran Dance Group. The purpose of this study is to describe the process of choreography adaptation and the role of the dance group in preserving Nusantara creative arts. Using qualitative methods, the data were obtained through literature studies, participatory observations, interviews, and documentation, a theoretical approach from Alma M. Hawkins, the human drive to communicate through movement that is interwoven with experience and rhythm. The choreographer's process in replicating the Indonesia Jaya dance to become the leading material and dance in Kinarya Soerya Soemirat experienced adjustments in movement, floor patterns, and costumes to suit the characteristics of the dancers in Kinarya Soerya Soemirat, without eliminating the values of nationalism and cultural diversity that are the core of the work. The transformation is reflected in adaptive and educative preservation efforts. Kinarya Soerya Soemirat has proven to be able to run a structured and sustainable coaching system through tiered training programs, early age regeneration, and collaborative leadership. Keywords: Transformation, Choreography, Indonesia Jaya dance, Kinarya Soerya Soemirat
KONSEP PENCIPTAAN TARI ‘PRAPANCA GARINI’ BERLATAR PERJUANGAN, KEGELISAHAN NYAI RADEN DEWI KONDANG HAPA Sakinnatun Nisa; Ria Dewi Fajaria
Jurnal Seni Makalangan Vol. 12 No. 2 (2025): "Ruang Kreatif Mencipta Tari"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Prapanca Garini merupakan judul karya tari yang menggabungkan dua kata yaitu prapanca artinya gelisah, dan Garini adalah istri. Judul karya tari ini diartikan sebagai perjuangan Nyai Raden Dewi Kondang Hapa yang gelisah karena dipoligami. Karya tari ini digarap dalam tipe dramatik, dan untuk mewujudkanya dilakukan langkah-langkah proses kreatif menggunakan metode eksplorasi, improvisasi dan komposisi. Hasilnya, terwujudnya koreografi kelompok dengan lima orang penari perempuan multi peran dalam gambaran kegelisahan Nyai Raden Dewi Kondang Hapa sebagai seorang istri yang mengalami poligami, dan diusung oleh kekuatan garap musik tari serta artistik tari meliputi penataan rias, busana, cahaya lampu dan panggung. ABSTRACT THE CONCEPT OF CREATION OF 'PRAPANCA GARINI' DANCE BASED ON THE STRUGGLE, THE ANXIETY OF NYAI RADEN DEWI KONDANG HAPA, DECEMBER 2025. 'Prapanca Garini' is the title of a dance work that combines two words, namely Prapanca which means restless, and Garini which means wife. The title of this dance work is interpreted as the struggle of Nyai Raden Dewi Kondang Hapa who is restless because of polygamy. This dance is worked on a dramatic type, and to realize it, the creative process steps are carried out using exploration, improvisation and composition methods. The result is the realization of a group choreography with five female dancers in multiple roles in the depiction of Nyai Raden Dewi Kondang Hapa's restlessness as a wife who experiences polygamy, and is carried by the power of dance music and artistic work including makeup, costume, lighting and stage arrangements. Keywords: Prapanca Garini, The Story of Nyai Raden Dewi Kondang Hapa, Dramatic Dance.
TARI NGECEK SETEPAK KARYA ANDI SUPARDI DI SANGGAR KINANG PUTRA Sulthan Irsyad Rahmagya; Ai Mulyani; Risa Nuriawati
Jurnal Seni Makalangan Vol. 12 No. 2 (2025): "Ruang Kreatif Mencipta Tari"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tari Ngecek Setepak merupakan sebuah tari kreasi yang diciptakan oleh Andi Supardi di Sanggar Kinang Putra pada tahun 2017. Kata Ngecek sendiri berarti enjot, dorong dan tekan, sedangkan kata Setepak berarti mengikuti irama gendangan topeng. Tarian ini terinspirasi dari kesenian Topeng Betawi yang kemudian dikembangkan menjadi sebuah bentuk kreasi baru. Hal tersebut yang menjadi daya tarik utama bagi penulis untuk mengkaji tarian dengan fokus pada struktur Tari Ngecek Setepak. Metode penelitian yang digunakan yaitu menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis dengan langkah-langkah pengumpulan data sebagai berikut; studi pustaka, studi lapangan, dan analisis data. Penelitian ini menggunakan teori struktur dari Y Sumandiyo Hadi yang terdiri atas; gerak tari, ruang tari, iringan tari, judul tari, tema tari, tipe/jenis/sifat tari, mode penyajian, jumlah penari dan jenis kelamin, rias dan kostum, tata cahaya dan properti tari. Penelitian ini menghasilkan data mengenai struktur Tari Ngecek Setepak yang di dalamnya ada korelasi antar aspek-aspeknya. Adapun struktur tarinya yaitu terdiri dari; gerak tari yang dapat ditampilkan pada panggung proscenium dan arena menggunakan alat musik gambang kromong, dengan tema kegembiraan yang bersifat non-literal atau tidak bercerita, tarian ini berjenis tari kreasi baru dengan tipe murni dan memiliki mode penyajian simbolis-representasional. Tari Ngecek Setepak ditarikan secara berkelompok berjumlah lima orang penari perempuan dengan rias korektif dan kostum tari yang dimodifikasi dari tari tradisi Betawi, dengan tata cahaya yang menyesuaikan dengan kebutuhan penampilan. ABSTRACT NGECEK SETEPAK DANCE BY ANDI SUPARDI AT KINANG PUTRA STUDIO, DECEMBER 2025. The Ngecek Setepak Dance is a creative dance created by Andi Supardi at the Sanggar Kinang Putra in 2017. The word "Ngecek" itself means to push and press, while the word "Setepak" means to follow the rhythm of the Topeng drumming. This dance is inspired by the Betawi Topeng art, which was then developed into a new creative form. This is the main attraction for the author to study the dance, focusing on the structure of the Ngecek Setepak Dance. The research method used is a qualitative research method with a descriptive-analytical approach, with the following data collection steps: literature study, field study, and data analysis. This study uses the structure theory by Y Sumandiyo Hadi, which consists of: dance movement, dance space, dance accompaniment, dance title, dance theme, dance type/nature/character, presentation mode, number of dancers and gender, makeup and costume, lighting, and dance properties. This research produces data on the structure of the Ngecek Setepak Dance, in which there is a correlation between its aspects. The dance structure consists of: dance movements that can be performed on a proscenium stage and in an arena using gambang kromong musical instruments, with a theme of joy that is non-literal or non-narrative, this dance is a new creative dance with a pure type and has a symbolic-representational presentation mode. The Ngecek Setepak Dance is performed in a group of five female dancers with corrective makeup and dance costumes modified from Betawi traditional dance, with lighting adjusted to the performance needs. Keywords: Ngecek Setepak Dance, Andi Supardi, Structure.

Filter by Year

2014 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 12 No. 2 (2025): "Ruang Kreatif Mencipta Tari" Vol. 12 No. 1 (2025): "Merawat Warisan" Nilai Tradisi dan Kontemporer Vol. 11 No. 2 (2024): "Fenomenologi Tari Berbasis Tradisi dan Kontemporer" Vol 11, No 1 (2024): "Menggali Akar, Mencipta Ragam Rupa Kinestetika" Vol. 11 No. 1 (2024): "Menggali Akar, Mencipta Ragam Rupa Kinestetika" Vol. 10 No. 2 (2023): "Tari Dalam Genggaman Tradisi" Vol 10, No 2 (2023): "Tari Dalam Genggaman Tradisi" Vol 10, No 1 (2023): "Menguak Seni Tradisi Di Era Globalisasi" Vol. 10 No. 1 (2023): "Menguak Seni Tradisi Di Era Globalisasi" Vol 9, No 2 (2022): "Dimensi Kreativitas Ketubuhan Penari Sunda" Vol 9, No 1 (2022): "Menggali Inspirasi Dari Tradisi" Vol 8, No 2 (2021): "Tari Di Ruang Virtual" Vol 8, No 1 (2021): "GERAK TUBUH TARI MENGALIR MENCIPTA ASA DAN CITA" Vol 7, No 2 (2020): “Gemulai Gerak Ketubuh Tradisi Mencipta Enerji Dinamis Tari Kreasi” Vol 7, No 1 (2020): "GELIAT TARI DI BUMI TRADISI" Vol 6, No 2 (2019): "Menjaga Asa Merajut Cita" Vol 6, No 1 (2019): "Menari dengan Hati-Menandak dengan Rasa" Vol 5, No 2 (2018): "Mengupas Kreativitas, Menumbuhkan Sensitivitas" Vol 5, No 1 (2018): "Jari Jemari Membuai Emosi" Vol 4, No 1 (2017): "Spirit Tubuh Tanpa Batas" Vol 3, No 2 (2016): "Menelisik Tradisi Mengais Kreasi" Vol 3, No 1 (2016): "Membumikan Tradisi Menumbuhkan Kreasi" Vol 2, No 2 (2015): "Wayang Bayang-bayang Kehidupan" Vol 1, No 2 (2014): "Membumikan Tradisi Meraih Inspirasi" Vol 1, No 1 (2014): "Menggali Potensi Berbagai Tradisi Kreatif" More Issue