cover
Contact Name
Lalan Ramlan
Contact Email
lalan_ramlan@isbi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
penerbitan@isbi.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Seni Makalangan
ISSN : 23555033     EISSN : 27148920     DOI : -
Core Subject : Art,
Arjuna Subject : -
Articles 192 Documents
TARI TOPENG TUMENGGUNG JINGGANANOM GAYA SLANGIT Sinta Fitriani dan Nunung Nurasih
Jurnal Seni Makalangan Vol 7, No 2 (2020): “Gemulai Gerak Ketubuh Tradisi Mencipta Enerji Dinamis Tari Kreasi”
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v7i2.1415

Abstract

ABSTRAKTari ‘Topeng Tumenggung Perang Jinggananom’ merupakan salah satu repertoar Topeng Cirebon, di dalamnya bukan hanya berfungsi sebagai pertunjukan namun juga mengandung filosofi tentang kehidupan manusia. Tarian ini menceritakan Tumenggung Magangdiraja yang diutus oleh Raja Bawarna untuk mencari Jinggananom yang kabur, setelah bertemu mereka beradu mulut hingga terjadi peperangan. Metode yang digunakan penulis adalah metode Gawe Jogedan yaitu memahami konsep musik dan pembendaharaan gerakan, menambah dan mengurangi/memadatkan ragam-ragam gerak, serta dengan mengolah irama. Kata Kunci: Topeng Cirebon, Tumenggung Perang Jinggananom, Gawe Jogedan. ABSTRACT. Tari Topeng Tumenggung Jinggananom Dance Slangit Style, Desember 2020. The 'Topeng Tumenggung War of Jinggananom' dance is one of Cirebon Mask repertoire, in which it only functions as a show but also contains a philosophy about human life. This dance tells the not story of Tumenggung Magangdiraja who was sent by King Bawarna to look for Jinggananom who fled, after meeting them arguing until a war broke out. The method used by the author is the Gawe Jogedan method, namely understanding the concept of music and movement vocabulary, adding and subtracting / compressing various movements, and by processing rhythm. Keywords: Cirebon Mask, Tumenggung Jinggananom War, Gawe Jogedan.     
KREATIVITAS ARNI KHARUNIA PADA TARI NYANTING ING BANTENAN DI SANGGAR HARUMSARI PANDEGLANG-BANTEN Khairunnisa Salsabila dan Riyana Rosilaw
Jurnal Seni Makalangan Vol 7, No 2 (2020): “Gemulai Gerak Ketubuh Tradisi Mencipta Enerji Dinamis Tari Kreasi”
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v7i2.1410

Abstract

ABSTRAKTari Nyanting Ing Bantenan  merupakan karya tari kreasi Arni Kharunia di Provinsi Banten, mengangkat nilai-nilai kearifan lokal dengan konsep kebaruan di dalamnya. Tarian ini diciptakan untuk melestarikan tradisi membatik, terlihat dari properti yang digunakan berupa gawangan, kain Batik 4 meter, serta level beroda. Konsep kebaruan dalam bingkai pelestarian tradisi membatik itulah menjadi daya tarik penulis untuk menelitinya, untuk dapat mengetahui proses kreatif yang dilaluinya. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan teori kreativitas Rhodes yaitu 4P Pribadi, Proses, Pendorong dan Produk. Terkait dengan teori tersebut, maka metode yang digunakan adalah metode kualitatif melalui pendekatan deskriptif analisis, serta teknik pengumpulan data berupa studi Pustaka, wawancara, dan observasi. Adapun hasil yang dicapai menunjukkan, bahwa Arni Kharunia merupakan seorang pribadi kreatif dengan faktor pendorongnya baik yang bersifat internal maupun eksternal mampu menghasilkan produk kreatif berupa Tari Nyanting Ing Bantenan. Kata Kunci: Arni Kharunia, Kreativitas, Tari Nyanting Ing Bantenan. ABSTRACT. Arni Kharunia's Creativity In Dance Nyanting Ing Bantenan In Sanggar Harumsari Pandeglang-Banten, Desember 2020. Nyanting Ing Bantenan dance is a dance work created by Arni Kharunia in Banten Province, raising the values of local wisdom with the concept of novelty in it. This dance was created to preserve the tradition of batik, seen from the properties used in the form of gawangan, 4 meter Batik cloth, and wheeled levels. The concept of novelty within the framework of the preservation of the batik tradition is the author's attraction to research it, in order to know the creative process going through. Therefore, this study uses the Rhodes creativity theory, namely the 4Ps of Person, Process, Drive and Product. Associated with this theory, the method used is a qualitative method through a descriptive analysis approach, as well as data collection techniques in the form of literature studies, interviews, and observations. The results achieved show that Arni Kharunia is a creative person with internal and external driving factors capable of producing creative products in the form of the Nyanting Ing Bantenan Dance.Keywords: Arni Kharunia, Creativity, Nyanting Ing Bantenan Dance.  
R. ONO LESMANA KARTADIKOESOEMAH KREATOR TARI SUNDA GAYA SUMEDANG (1901–1987) R. Widawati Noer Lesmana dan Een Herdiani
Jurnal Seni Makalangan Vol 7, No 1 (2020): "GELIAT TARI DI BUMI TRADISI"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v7i1.1291

Abstract

ABSTRAKR. Ono Lesmana Kartadikoesoemah merupakan tokoh Tari Sunda yang berhasil mengembangkan Tari Sunda menjadi menarik, tidak hanya sebagai tari pertunjukan, namun juga sebagai materi bahan ajar, baik di sekolah, sangar-sanggar seni, maupun di Perguruan Tinggi Seni. Karya seni yang lebih dikenal dan digemari adalah tari Wayang, tari Keurseus, dan tari Topeng. Tarian tersebut merupakan improvisasi, modifikasi, inovasi serta seleksi terhadap tari Topeng Cirebon dan Tayuban. Karya-karyanya mampu bertahan sampai sekarang dan masih dipelajari di antaranya; tari Jakasona, tari Jayengrana, tari Ekalaya, tari Gandamanah, tari Gatotkaca, tari Topeng  Menak Jingga,  tari Leunyepan  dan tari  Gawil.  Atasdedikasi dan Prestasinya, pada tahun 1982 pemerintah Republik Indonesia menganugrahkan “Piagam Hadiah Seni”. Fenomena kreativitas R. Ono Lesmana Kartadikoesoemah cukup menawarkan daya tarik untuk diamati dalam suatu penelitian. Untuk menjawab permasalahan kreativitasnya,  digunakan teori Penjelasan Sejarah Kuntowijoyo dengan metode Sejarah melalui tahapan heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Adapun hasil yang didapatkan adalah bahwa R. Ono Lesmana Kartadikoesoemah telah menggunakan bakat, potensi, kualitas dan kapasitasnya dalam proses menciptakan karya seninya.Kata Kunci : R. Ono Lesmana Kartadikoesoemah, Kreator Tari Sunda, Tokoh Tari Sunda. ABSTRACTR. Ono Lesmana Kartadikoesoemah A Creator of Sundanese Dance of Sumedang Style (1901-1987), June 2020. R. Ono Lesmana Kartadikoesoemah is a Sundanese dance figure who succeeded in developing Sundanese dance to be interesting, not only as a dance performance  but also as a teaching material in schools, art studios, and in the College of Arts. The art works that are well known and favored are Wayang dance, Keurseus dance, and Mask dance. The dances are improvisation, modification, innovation and selection of the Cirebon mask dance and Tayuban. His works have been able to survive to this day and are still being studied, among others; Jakasona dance, Jayengrana dance, Ekalaya dance, Gandamanah dance, Gatotkaca dance, Menak Jingga Mask dance, Leunyepan dance, and Gawil dance. For his dedication and achievement, in 1982 the government of the Republic of Indonesia awarded him "The Charter of Art Prizes". The creativity phenomenon of R. Ono Lesmana Kartadikoesoemah offers interests to be observed in a study. To answer the problem of creativity, Kuntowijoyo's Historical Explanation theory is used with the History method through stages of heuristics, critics, interpretation and historiography. The results show that R. Ono Lesmana Kartadikoesoemah has used his talent, potential, quality and capacity in the process of creating his artworks.Keywords: R. Ono Lesmana Kartadikoesoemah, Sundanese Dance Creator, Sundanese Dance Figure. 
TARI PAKSI TUWUNG Agustina Nica Setiani; Ai Mulyani
Jurnal Seni Makalangan Vol 8, No 1 (2021): "GERAK TUBUH TARI MENGALIR MENCIPTA ASA DAN CITA"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v8i1.1621

Abstract

ABSTRAKTari Paksi Tuwung adalah jenis tari putri yang memiliki perwatakan halus (lenyep), hasil karya R. Oe Yoesoef Tedjasoekmana yang diciptakan di wilayah Priangan yaitu di Bandung pada tahun 1982. Tarian ini menggambarkan kehalusan dan keanggunan seorang perempuan layaknya seorang putri, maka dari itu penulis dalam pembuatan karya penyajian tari, bertujuan untuk menampilkan sajian tari Paksi Tuwung yang dikemas dalam penyajian baru tanpa menghilangkan esensi dari bentuk dan isi yang ada pada tarian sumbernya. Untuk mewujudkan gagasan tersebut, maka teori yang digunakan adalah teori gegubahan, sedangkan metode yang digunakan adalah metode gubahan tari yaitu pengembangan dari sumber tradisi tertentu dengan cara memasukkan, menyisipkan, dan memadukan bentuk-bentuk gerak baru, sehingga menghasilkan bentuk penyajian yang berbeda dengan tetap mempertahankan identitas sumbernya dengan langkah-langkah proses garapnya meliputi: eksplorasi, evaluasi, dan komposisi. Penulis melakukan proses garap itu, dengan mengaplikasikan dalam penambahan dan pengembangan beberapa motif gerak, pola lantai, arah gerak dan unsur penunjang lainnya sehingga diharapkan dapat menjadikan sebuah sajian yang menarik tanpa keluar dari identitas tariannya. Kata Kunci: Penyajian Tari, Paksi Tuwung, Gubahan Tari.  ABSTRACTPaksi Tuwung Dance, June 2021. Paksi Tuwung dance is a type of female dance that has a subtle character (lenyep), the work of R. Oe Yoesoef Tedjasoekmana which was created in the Priangan area, namely in Bandung in 1982. This dance depicts the subtlety and elegance of a woman like a princess, therefore the writer in making the work of presenting the dance, aims to present the Paksi Tuwung dance presentation which is packaged in a new presentation without losing the essence of the form and content that is in the source dance. To realize this idea, the theory used is composing theory, while the method used is the dance composition method, namely the development of certain traditional sources by inserting, inserting, and integrating new forms of motion, so as to produce different forms of presentation while maintaining identity of the source with the steps of the working process including: exploration, evaluation, and composition. The author carries out the work on it, by applying it in the addition and development of several motion motifs, floor patterns, motion directions and other supporting elements so that it is expected to make an interesting presentation without leaving the identity of the dance.Keywords: Dance Presentation, Paksi Tuwung, Dance Composition.
JAWARA: KONSEP PENCIPTAAN TARI BERLATAR PERJUANGAN HEROIK SEORANG JAWARA SUBANG Gustian Setiawati dan Lili Suparli
Jurnal Seni Makalangan Vol 7, No 1 (2020): "GELIAT TARI DI BUMI TRADISI"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v7i1.1286

Abstract

ABSTRAKKarya dramatari berjudul Jawara terinspirasi dari cerita rakyat daerah Subang, Jawa Barat, yaitu Ki Lapidin. Cerita tersebut tergolong kepada cerita fiksi, tetapi diyakini sebagai sejarah kepahlawanan Ki Lapidin untuk membela rakyat Subang melawan penjajah Belanda. Melalui perspektif pemahaman estetika sebagai pijakan terwujudnya fenomena Ki Lapidin yang dikaji melalui pendekatan folklore, bentuk karya tari dielaborasi melalui eksplorasi hingga mewujudkan satu sajian baru dan memiliki warna tersendiri. Metode kreativitas Alma M. Hawkins digunakan dalam mengeksplorasi dan menjelajah gerak oleh 10 orang penari melalui tahapan eksplorasi, improvisasi, dan komposisi dengan diperkuat oleh garap musik menggunakan gamelan pelog-salendro yang diminimalisir Secara estetis karya ini merupakan elaborasi tari rakyat, sehingga menjadi sajian baru dalam warna tersendiri yang mewujud sebuah dramatari.Kata Kunci: Jawara, Ki Lapidin, Dramatari  ABSTRACTJawara: The Concept of Dance Creation with Heroic Struggle Bckground of a Subang Jawara, June 2020. The dance work entitled Jawara is inspired by the folklore of Subang, West Java, namely Ki Lapidin. The story belongs to fiction, but is believed to be the heroism history of Ki Lapidin to defend the people of Subang against the Dutch invader. Through the perspective of aesthetic understanding as the basis for the realization of the phenomenon of Ki Lapidin, which is examined through the folklore approach, the form of the dance work is elaborated through exploration to realize a new presentation and has its own form. The creativity method of Alma M. Hawkins is used in exploring the motions which is performed by ten dancers through the stages of exploration, improvisation, and composition embodied with musical work using minimized Pelog-Salendro gamelan. Aesthetically this work is an elaboration of folk dance so that it becomes a new presentation in its own form of a dance drama. Keywords: Jawara, Ki Lapidin, Dance Drama. 
ESTETIKA TARI JAIPONGAN KAWUNG ANTEN KARYA GUGUM GUMBIRA Shinda Regina; Ria Dewi Fajaria; Sopian Hadi
Jurnal Seni Makalangan Vol 7, No 2 (2020): “Gemulai Gerak Ketubuh Tradisi Mencipta Enerji Dinamis Tari Kreasi”
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v7i2.1416

Abstract

ABSTRAKKawung Anten merupakan salah satu tarian Jaipongan yang diciptakan oleh Gugum Gumbira pada sekitar tahun 1991, belatar cerita seorang putri dari Kerajaan Sumedang Larang yang bernama Kawung Anten yang mendapat tugas dari ayahnya yaitu Prabu Jaya Perkosa untuk menjaga pohon hanjuang. Tarian ini memiliki karakteristik yang berbeda dari karya-karya tari Jaipongan yang telah diciptakan sebelumnya, terutama pada properti yang digunakan yaitu duhung (senjata tradisional yang berasal dari Sumedang). Berawal dari perbedaan itulah yang menjadi salah satu ketertarikan penulis untuk melakukan penelitian lebih lanjut dalam upaya mengupas estetika dari Tari Jaipongan Kawung Anten. Penelitian ini menggunakan teori estetika instrumental A.A.M Djelantik dengan memakai pendekatan metode kualitatif deskriptif analisis. Adapun hasilnya adalah satu-satunya repertoar tari Jaipongan yang enerjik, dinamis, dan maskulin dengan menggunakan duhung sebagai propertinya.  Kata Kunci: Jaipongan, Tari Kawung Anten, Estetika Tari.  ABSTRACT. Estetika Dance Jaipongan Kawung Anten Gugum Gumbira Works, Desember 2020. Kawung Anten is one of the Jaipongan dances created by Gugum Gumbira around1991, the background story of a princess from the Sumedang Larang Kingdom named Kawung Anten who got a task from her father, Prabu Jaya Perkosa, to guard the hanjuang tree. This dance has different characteristics from the previously created Jaipongan dance works, especially in the property used, namely the duhung (a traditional weapon originating from Sumedang). Starting from this difference, it became one of the writers' interests to conduct further research in an effort to explore the aesthetics of the Jaipongan Kawung Anten Dance. This research uses the instrumental aesthetic theory of A.A.M Djelantik using a descriptive qualitative analysis method approach. The result is the only repertoire of Jaipongan dance that is energetic, dynamic, and masculine using duhung as its property. Keywords: Jaipongan, Kawung Anten Dance, Dance Aesthetics.       
PENCIPTAAN KARYA TARI TWIST Ariel Nurannisa Mulyanegara dan Dindin Rasidin
Jurnal Seni Makalangan Vol 7, No 2 (2020): “Gemulai Gerak Ketubuh Tradisi Mencipta Enerji Dinamis Tari Kreasi”
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v7i2.1411

Abstract

ABSTRAKSosial media memiliki banyak manfaat, mulai dari menghubungkan komunikasi satu sama lain sampai media untuk mengekspresikan diri. Namun dibalik kelebihan itu, media sosial juga memiliki kekurangan yang dapat merugikan diri. Salah satunya adalah kecenderungan untuk membandingan diri sendiri terhadap orang lain yang dirasa lebih sempurna atau lebih baik dari diri sendiri sehingga munculnya ketidakpercayaan diri. Hal itu merupakan suatu sifat dimana seseorang merendahkan diri sampai titik merasa tidak mempunyai nilai diri, padahal masih dapat diatasi dengan menyadari kemampuan diri sendiri, dan itu termasuk self love atau menyayangi diri sendiri. “TWIST” merupakan karya tari tari tunggal dengan metode garap non-tradisi yang berlatar belakang dari fenomena tersebut. Garapan tersebut menceritakan sebuah transisi seseorang yang tidak percaya diri, menyadari kelebihan dirinya yang tersembunyi, dan akhirnya menjadi percaya diri. Kata Kunci: Ketidakpercayaan Diri, Transisi, Percaya Diri.  ABSTRACT. Twist Dance Creation, Desember 2020. Social media has many benefits, from connecting communication with one another to media for self-expression. But behind these advantages, social media also has drawbacks that can be self-defeating. One of them is the tendency to compare yourself to other people who feel more perfect or better than yourself, resulting in self-distrust. It is a trait where a person lowers himself to the point of feeling he has no self-worth, even though it can still be overcome by realizing one's own abilities. and that includes self love or cherishing yourself. TWIST" is a single dance work with a non-traditional working method with the background of this phenomenon. This work tells of a transition of someone who is not confident, realizes his hidden strengths, and finally becomes self-confident. Keywords: self-distrust, transition, self-confidence. 
PROSES KREATIF GONDO DALAM PENCIPTAAN TARI SANCANG GUGAT Nuriawati, Risa
Jurnal Seni Makalangan Vol 8, No 2 (2021): "Tari Di Ruang Virtual"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v8i2.1799

Abstract

ABSTRAKTarian sancang gugat adalah tarian genre jaipongan yang diciptakan oleh kreator muda Agus Gandamanah (Gondo). Tarian ini merupakan tarian kreasi baru dengan adanya gerak kontemporer (gerak masa kini) serta dalam isi lirik tersebut menggambarkan keadaan masyarakat sunda masa kini. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses kreatif tari Sancang Gugat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yakni kualitatif yang bersifat deskriptif dengan pendekatan teori Proses Kreatif dari Graham Wallace yaitu tahap persiapan, inkubasi, iluminasi dan verifikasi. Adapun hasil yang dicapai dari penelitian ini yaitu terungkapnya Proses kreatif dalam pembuatan karya tari sancang gugat yang menghasilkan temuan gerak-gerak ciri khas gaya gondo dalamtarian tersebut.Kata Kunci: Sancang Gugat, Proses Kreatif, Makna Simbolik.ABSTRACTGondo Creative Process In The Creation Of The Sancang Sugat Dance, December 2021. Sancang gugat dance is a jaipongan genre dance created by young creator Agus Gandamanah (Gondo). This dance is a new creation dance with the present movement and the contents of the lyrics describe the current state of Sundanese society. This study aims to describe the creative process of the sancang gugat dance. The method used in this research is descriptive qualitative with the Creative Process theory approach from Graham Wallace, namely the preparation, incubation, illumination, and verification The results achieved from this research are revealing the creative process in making The Sancang Gugat dance work which produces the symbolic meaning of the dance in the sancang gugat dance rhymes that describe the current state of Sundanese society.Keyword: Sancang Gugat, Creative Process, Symbolic Meaning.
PELUANG PEMBERDAYAAN POTENSI TARI DI DESA KARYASARI KECAMATAN CIBALONG KABUPATEN GARUT Dwimarwati, Retno; Maemunah, Yani; Mustikowati, Anzar
Jurnal Seni Makalangan Vol 8, No 2 (2021): "Tari Di Ruang Virtual"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v8i2.1794

Abstract

ABSTRAKDesa menjadi primadona dalam implementasi Undang-undang Pe-majuan Kebudayaan. Kementrian Pendidikan Kebudayaan berusaha membangun desa sebagai ujung tombak pemajuan kebudayaan. Desa merupakan pondasi jati diri bangsa, tempat asal peradaban, sekaligus lumbung keanekaragaman budaya, ilmu pengetahuan, kearifan, tradisi serta aneka sumber daya tak ternilai yang diwariskan turun temurun. 11 OPK Desa Karyasari memiliki peluang pemberdayaan masyarakat dalam bidang seni tari, karena dalam acara Festival Bedah Bugel terdapat 49 acara, terdiri dari arak-arakan, open ceremony, kaulinan barudak, tari, musik dan closing ceremony. Jumlah penampilan tari sebanyak 33 tarian. Pelaku tari mulai anak-anak usia 4 tahun, remaja, dewasa sampai orang tua, bahkan manula semua ikut menari. Selain itu, ada kesenian rudat yang hampir punah, karena pelakunya berumur 102 dan 87 tahun. Dalam festival, antusiasme dan partisipasi masyarakat sangat besar, ini menjadi modal penting dalam pemberdayaan masyarakat. Tujuan pemajuan kebudayaan desa dapat dicapai melalui pengembangan dan pemanfaatan potensi sumber daya manusia secara sistemik dan berkelanjutan.Kata Kunci: Primadona, Pemajuan Kebudayaan, Pemberdayaan Masyarakat, Tari, Partisipasi.ABSTRACTDance Potential Empowerment Opportunity In Karyasari Village, Cibalong District, Garut Regency, December 2021. The village is a primadonna of the law's implementation on culture furtherance. Ministery of Culture and Education of Indonesian efforts to building villages as a significance program on culture furtherance. The Village is the foundation of national identity, the home of Indonesian civilization, and the granaries of cultural diversity, science, prudence, traditions and priceless resources passed down through generations. The eleven Culture Furtherance Objek (OPK) in Karyasari village has an extremely high chance of empowerment of people, because on the BedahBugel Festival have 49 programs, including processions, open ceremony, barudak and closing ceremony. The number of dance performances is 33. It starts with 4 - year - old children, teenagers, adults, and even older people all join in the dance. Beyond that, the rule has been most exhaled as the perpetrators currently living between 102 and 87 years of age. The enormous enthusiasm and participation of society into critical capital for the empowerment of society. The goal of village culture's preparedness can be achieved through systematic and sustainable development and use of human resources potential.Keywords: Primadonna, Culture Furtherance, Social Empowerment, Dance, Participatory.
PRAKTIK RITUAL TARI TARAWANGSA PADA SAJIAN BENTUK GARAP POHACI (TEMBANG TUBUH PADI) Mulyati, Sari; Suparli, Lili
Jurnal Seni Makalangan Vol 8, No 2 (2021): "Tari Di Ruang Virtual"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v8i2.1800

Abstract

ABSTRAKTari Tarawangsa lahir dari tradisi pola kehidupan bertani masyarakat Rancakalong. Kesenian ini berfungsi sebagai upacara ritual yang berhubungan dengan religiusitas untuk penghormatan atas Nyi Pohaci, sebagai Dewi Padi, dari ungkapan rasa syukur terhadap Sang Pencipta. Bentuk garap pertunjukan Pohaci menyajikan berbagai unsur yang terdapat dalam ritual Tarawangsa, seperti pembacaan bubuka oleh Saehu, adanya sesajen dan berbagai atribut ritual, musik Tarawangsa, hingga ibu-ibu penari yang mengenakan selendang warna warni khas penari Tarawangsa yang memiliki makna tersendiri. Tubuh Tarawangsa pada masyarakat Rancakalong menginspirasi konsep dari teater tubuh yang diusung dalam garap Pohaci. Spirit Pohaci ini tidak terlepas dari rasa syukur atas keberkahan yang melimpah dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Garap pertunjukan Pohaci Tembang Tubuh Padi, memvisualisasikan ketubuhan Pohaci sebagai ibu bumi. Keikhlasan dan kemuliaannya terhadap Tuhan yang Maha Esa, member kehidupan bagi seluruh umat manusia.Kata Kunci: Tari Tarawangsa, Pohaci, Teater Tubuh.ABSTRACTPractice Of The Tarawangsa Dance Ritual In The Serving Of The "Pohaci" Garap (Tembang Body Rice), December 2021. Tarawangsa dance was born from agricultural life tradition of Rancakalong people. It functions as ceremonial ritual related to religiosity to honorNyiPohaci, as the goddess of rice, to express thankfulness to the Almighty God. "Pohaci" performance serves many elements that are present in Tarawangsa ritual, such as the reading of "bubuka" by "saehu", offerings and other ritual atributes, Tarawangsa music, also female dancers wearing colorful shawl that is unique to Tarawangsa with each individual meanings. Tarawangsa body in Rancakalong people inspiring the concept of body theatrical in "Pohaci" performance. The spirit of "Pohaci" can not be free from the value of thankfulness over the overflowing gifts from the Almighty God. "Pohaci (TembangTubuhPadi) performance is visualizing the embodiment of Pohaci as the mother earth. Her sincerity and nobility to the Almighty God, gives life to all kind of humanity.Keywords: Tarawangsa Dance, Pohaci, Body Theatrical.

Page 8 of 20 | Total Record : 192


Filter by Year

2014 2025