cover
Contact Name
Lalan Ramlan
Contact Email
lalan_ramlan@isbi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
penerbitan@isbi.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Seni Makalangan
ISSN : 23555033     EISSN : 27148920     DOI : -
Core Subject : Art,
Arjuna Subject : -
Articles 192 Documents
PASIA MAIMBAU (SEBUAH EKSPRESI TENTANG KEPUNAHAN IKAN BILIH): VISUALISASI KERESAHAN ANAK NAGARI Erwin Mardiansyah; Monita Precillia
Jurnal Seni Makalangan Vol 8, No 2 (2021): "Tari Di Ruang Virtual"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v8i2.1795

Abstract

ABSTRAKPasia Maimbau adalah sebuah ekspresi dalam karya tari yang berangkat dari fenomena punahnya ikan bilih sebagai dampak dari ekploitasi tanpa batas. Ikan bilih adalah ikan endemik yang hanya ditemukan dan menjadi populasi ikan terbesar di Danau Singkarak. Beberapa persoalan yang digali terkait dengan karya tari “Pasia Maimbau” (sebuah ekspresi tentang kepunahan ikan bilih) cara menafsirkan dan identifikasi karya. Pemaparan didasarkan pada data penyajian tari sebagai media eksplorasi data secara faktual. Pengumpulan data dilakukan dengan cara studi pustaka, wawancara, dan juga sebagai partisipant observer. Penganalisisan data dilakukan dengan cara menginterpretasikan, sehingga menjadi bentuk sintesis yang merupakan kesatuan yang bermakna. Penafsiran digunakan metode interpretasi dan analisis garap. Pemaparan dan penarikan kesimpulan dilakukan dengan metode induktif. Hasil yang didapat adalah karya tari “Pasia Maimbau” (sebuah ekspresi tentang kepunahan ikan bilih) secara konsep mengungkap nilai-nilai atau pesan tentang bagaimana menjaga ekosistem lingkungan di seputaran danau Singkarak. Karya di bagi menjadi 4 bagian, setiap bagian karya ditampilkan disekitaran danau Singkarak. Kata Kunci: Pasia Maimbau, Ikan Bilih, Danau Singkarak. ABSTRACTPasia Maimbau (An Expression About The Extinction Of The Bilih Fish): Visualization Of Children's Anxiety, December 2021. “PasiaMaimbau” is an expression in a dance work that departs from the phenomenon of the extinction of bilih fish as a result of unlimited exploitation. Bilih fish are endemic fish that are only found and become the largest fish population in Lake Singkarak. Some of the issues explored are related to the dance work "Pasia Maimbau" (an expression of the extinction of the bilih fish) how to interpret and identify the work. The presentation is based on dance presentation data as a media for factual data exploration. Data was collected by means of literature study, interviews, and also as participant observer. Data analysis is done by interpreting, so that it becomes a form of synthesis which is a meaningful unit. Interpretation uses interpretation methods and working analysis. The presentation and conclusion were drawn using the inductive method. The results obtained are the dance work "PasiaMaimbau" (an expression of the extinction of the bilih fish) conceptually expressing values or messages about how to protect the environmental ecosystem around Lake Singkarak. The work is divided into 4 parts, each part of the work is displayed around Singkarak Lake. Keywords: Pasiamaimbau, Bilih Fish, Lake Singkarak. 
DANGIANG ING RASPATI GAYA PENYAJIAN TARI JAIPONGAN PUTRA Ramlan, Lalan; Jaja, Jaja
Jurnal Seni Makalangan Vol 8, No 2 (2021): "Tari Di Ruang Virtual"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v8i2.1796

Abstract

ABSTRAKJaipongan sebagai sebuah genre tari yang sudah berkiprah lebih dari empatpuluh tahun mengisi dinamika perkembangan tari Sunda, nyaris dapat dikatakan sebagai genre tari putri karena begitu sulitnya menemukan sebuah repertoar tari putra. Di sisi lain secara lebih luas di lingkungan kehidupan sosial budaya masyarakat, tarian putra dapat dikatakan nyaris hilang dari aktivitas ‘panggungan’. Dengan demikian, maka penelitian ini merupakan jawaban konkrit bagi upaya pelestarian dan pengembangan salah satu jenis tarian putra dalam genre tari Jaipongan’ sebagai aset yang berharga milik masyarakat Sunda. Terkait dengan hal tersebut, maka permasalahan dirumuskan sebagai berikut: Bagaimana mewujudkan bentuk karya tari dengan fokus pada berbagai unsur estetika yang terintegrasi secara unity dalam sebuah repertoar tari Jaipongan dengan judul “Dangiang Ing Raspati Gaya Penyajian Tari Jaipongan Putra”, dan bagaimana mengimplementasikannya kepada masyarakat. Untuk menjawab perihal tersebut, maka digunakan pendekatan teori estetika yang menjelaskan, bahwa “Semua benda atau peristiswa kesenian mengandung tiga aspek yang mendasar, yaitu; wujud (bentuk; form) dan sususunan (struktur; structure); Bobot terkait dengan suasana (mood), gagasan (idea), dan pesan (message); Penampilan (Penyajian; Performent). Merujuk pada teori tersebut, dalam proses pembentukannya digunakan metode deskriptif analisis dengan langkah-langkah meliputi tahap eksplorasi, improvisasi (evaluasi), dan komposisi. Adapun hasil yang dicapai adalah sebuah karya tari putra dalam garapan kelompok yang berpijak pada konstruksi Jaipongan dengan bentuk sajian baru yang bernafaskan karya tari kekinian. Kata Kunci: Dangiang Ing Raspari, Gaya Penyajian, Repertoar, dan Jaipongan. ABSTRACTDangiang Ing Raspati Presentation Style Of a male Jaipongan Dance, December 2021. Jaipongan as a dance genre that has been active for more than forty years has filled the dynamics of the development of Sundanese dance, it can almost be called a female dance genre because it is so difficult to find a male dance repertoire. On the other hand, more broadly in the socio-cultural environment of the community, the male dance can be said to have almost disappeared from 'Panggungan' activities. Thus, this research is a concrete answer for efforts to preserve and develop one type of male dance in the Jaipongan dance genre as a valuable asset belonging to the Sundanese people. Related to this, the problem is formulated as follows: How to realize the form of dance work with a focus on various aesthetic elements that are integrated in a unity in a Jaipongan dance repertoire with the title "Dangiang Ing RaspatiGaya Penyajian Tari Putra", and how to implement it to the community.To answer this question, an aesthetic theory approach is used which explains that “All art objects or events contain three basic aspects, namely; form and structure; Weight is related to idea,mood, and message; Presentation (Performent). The resultachieved are a male dance work in the work of a group that is based on the Jaipongan construction with a new form of presentation that breathes contemporary dance works. Keywords: Dangiang Ing Raspari, Presentation Style, Repertoire, and Jaipongan.
PAGEBLUK Subayono, Subayono
Jurnal Seni Makalangan Vol 8, No 2 (2021): "Tari Di Ruang Virtual"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v8i2.1797

Abstract

ABSTRAKPenelitian Karya seni berjudul Pagebluk bertujuan untuk menggali lebih dalam tentang persoalan fenomena kehidupan di masyarakat yang lagi trending dua tahun terakhir yaitu Covid 19. Pandevi Covid 19 merupakan persoalan yang sangat krusial bagi bangsa Indonesia bahkan Dunia. Penyakit ini meluluhlantakan sendi-sendi kehidupan dalam segala bidang, di antaranya ekonomi, social dan proses belajar mengajar. Dalam karya tari ini, Penulis memfokuskan tentang persoalan atau kendala proses belajar mengajar yang dihadapi oleh Mahasiswa ISBI Bandung dikala Pandemi Covid menyerang Indonesia. Kendala- kendala seperti perubahan kuliah dari luring menjadi daring, tidak adanya kuota dan sinyal inilah yang akan diungkit dalam sebuah karya. Karya Pagebluk digarap dalam bentuk tari kelompok dengan tipe dramatik, dengan pendekatan tradisi inovasi, yang memadukan komposisi koreografi yang sudah dirancang sedemikian rupa dengan teknik-tehnik digital. Selain hal tersebut, karya ini tidak dipentaskan di panggung proscenium tetapi dipentaskan di alam terbuka dengan landscape ruang terbuka. Berpijak dari hal tersebut, peneliti berusaha mencoba menggarap karya ini dengan mengeksplorasi gerak. Gerak-gerak tersebut berasal dari gerak-gerak sehari-hari, diberi curahan ruang, tenaga, dan waktu, sehingga gerak yang dilahirkan dapat memunculkan ilusi imajinasi yang luar biasa. Jadi tidak hanya keterampilan fisik saja yang harus dikuasai tetapi non fisikpun harus dikuasai juga. Adapun hasil yang dicapai adalah sebuah karya dance film dengan memfokuskan pada kekuatan garap kinetik (gerak), kekuatan atraktif (spektekel) dan juga garap karawitan yang dapat mendukung suasana yang diinginkan.Kata Kunci: Pagebluk, Eksplorasi, Dance Film.ABSTRACTPagebluk, December 2021. Research The work of art entitled Pagebluk aims to dig deeper into the issue of the phenomenon of life in society which is trending in the last two years, namely Covid 19. Pandevi Covid 19 is a very crucial issue for the Indonesian nation and even the world. This disease destroys the joints of life in all fields, including economic, social and teaching and learning processes. In this dance work, the author focuses on problems or obstacles in the teaching and learning process faced by ISBI Bandung students when the Covid Pandemic attacked Indonesia. Obstacles such as changing lectures from offline to online, the absence of quotas and signals will be brought up in a work. Pagebluk's work is done in the form of group dances with a dramatic type, with a tradition of innovation approach, which combines well-designed choreographic compositions with digital techniques. Apart from that, this work is not performed on the proscenium stage but is performed in the open with an open space landscape. Based on this, the researchers tried to work on this work by exploring motion. These movements come from everyday movements, given the outpouring of space, energy, and time, so that the movements that are born can give rise to extraordinary illusions of imagination. So not only physical skills that must be mastered but also non-physical skills must be mastered. The resultsachieved are a dance film work by focusing on the strength of working on kinetic (movement), attractive power (spectacle) and also working on musical instruments that can support the desired atmosphere.Keyword: Pagebluk, Eksplorasi, Dance Film.
DIMENSI ESTETIKA KARYA TARI MUNGKARTAGA DALAM MEDIA VIRTUAL Regina, Shinda
Jurnal Seni Makalangan Vol 8, No 2 (2021): "Tari Di Ruang Virtual"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v8i2.1798

Abstract

ABSTRAKKarya Tari Mungkartaga berangkat dari rangsang gagasan yaitu fragmen bunuh diri Dyah Pitaloka dalam Cerita Perang Bubat. Mungkartaga memiliki makna keteguhan untuk berjuang membela harga diri dan harkat martabat masyarakat Sunda. Dyah Pitaloka adalah representasi wanita Sunda yang teguh, berani dan tangguh. Karya Tari Mungkartaga dikategorikan pada tari literer (bertema) dengan tipe tari dramatik. Karya Tari Mungkartaga dipertunjukan dalam media virtual sehingga memiliki dimensi estetika tersendiri untuk menyentuh psikologi apresiator. Dimensi estetika tersebut akan di bedah menggunakan teori estetika instrumental yang digagas oleh A. A. M. Djelantik, bahwa semua benda atau peristiwa kesenian mengandung tiga aspek yang mendasar, yakni; Wujud (appearance), Bobot atau isi (content, substance), dan penampilan atau penyajian (presentation). Dimensi estetika Mungkartaga dalam media virtual berpijak pada fase proses kreativitas yang digagas oleh Alma M. Hawkins. Karya Tari Mungkartaga menyampaikan nilai-nilai perjuangan, keteguhan, keberanian dan heroisme.Kata Kunci: Estetika Tari Mungkartaga, Penciptaan Tari, Tari Virtual.ABSTRACTAesthetic Dimensions Of Mungkartaga Dance In Virtual Media, December 2021. The Dance of Mungkartaga departs from the stimulus of the idea, namely the suicide fragment of Dyah Pitaloka in the Bubat War Story. Mungkartaga has the meaning of determination to fight for the dignity and dignity of the Sundanese people. Dyah Pitaloka is a representation of Sundanese women who are steadfast, brave and tough. Mungkartaga dance works are categorized as literary dance (themed) with a dramatic dance type. Mungkartaga's dance work is performed in virtual media so that it has its own aesthetic dimension to touch the psychology of appreciators. The aesthetic dimension will be analyzed using the instrumental aesthetic theory initiated by A. A. M. Djelantik, that all artistic objects or events contain three basic aspects, namely; Appearance (appearance), weight or content (content, substance), and appearance or presentation (presentation). Mungkartaga's aesthetic dimension in virtual media is based on the creative process phase initiated by Alma M. Hawkins. Mungkartaga dance works convey the values of struggle, determination, courage and heroism.Keywords: Mungkartaga Dance Aesthetics, Dance Creation, Virtual Dance.
TARI ANAK-ANAK PADA PESTA BEDAH BUGEL DI DESA KARYASARI KABUPATEN GARUT Hidayat, Lina Marliana; Mulyati, Eti
Jurnal Seni Makalangan Vol 8, No 2 (2021): "Tari Di Ruang Virtual"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v8i2.1785

Abstract

ABSTRAKTari anak-anak merupakan jenis tari yang menarik untuk dibicarakan, karena melibatkan anak-anak yang disesuaikan dengan tingkatan usianya. Anak-anak Desa Karyasari, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut telah memiliki tari anak-anak Kukudaan, hasil kreasi seorang seniman desa bernama Genta. Tari Kukudaan ini sangat sederhana tetapi disukai oleh anak-anak, terutama anak laki-laki. Kesederhanaan ini menjadi modal kreativitas bersama untuk lebih menarik dipertunjukkan melalui pengemasan baru, baik koreografinya maupun rias busananya. Pengemasan ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan dosen ISBI Bandung dari Prodi Tari. Proses pengayaan tari ditambahkan tari untuk anak-anak perempuan, yaitu Tari Tokecang dan Tari Bardin. Kedua tarian ini merupakan hasil kursus tari ISBI Bandung, dengan memanfaatkan teori Patrice Pavis dan menggunakan metode kualitatif dengan cara penelitian terlibat. Hasil dari penggalian dan pengemasan tersebut, dilatihkan kepada anak-anak Desa Karyasari dan dipertunjukan pada Pesta Bedah Bugel yang disaksikan oleh seluruh masyarakat luas. Pesta Bedah Bugel merupakan pesta menangkap ikan-ikan kecil di muara sungai Ciceleng di dekat Karang Paranje.Kata Kunci: Tari Anak-anak, Kemasan Tari, Bedah Bugel.ABSTRACTChildren Dance At Bugel Surgery Party In Karyasari Village, Garut Regency, December 2021. Children's dance is an interesting type of dance to talk about because it involves children who are adjusted to their age level. The children of Karyasari village, Cibalong sub-district, Garut regency have had the Kukudaan children's dance, created by a village artist named Genta. This Kukudaan dance is very simple but is liked by children, especially boys. This simplicity is the capital of mutual creativity to be more attractive in the show through new packaging, both choreography and fashion makeup.This packaging is part of the community service program carried out by ISBI Bandung lecturers from the Dance study program. The dance enrichment process added dances for girls, namely the Tokecang Dance and the Bardin Dance. These two dances are the result of the ISBI Bandung dance course. Qualitative methods are used by engaging in research and utilizing the theory of Patrice Pavis. The results of the excavation and packaging were trained to the children of the Karyasari village and performed at a Bedah Bugel party which was witnessed by the entire community. The Bedah Bugel party is a party to catch small fish at estuary of the Ciceleng river near Karang Paranje.Keywords: Children's Dance, Recomposition, Bedah Bugel.
SAEHU DALAM RITUAL KOROMONG Asep Jatnika
Jurnal Seni Makalangan Vol 6, No 2 (2019): "Menjaga Asa Merajut Cita"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v6i2.1063

Abstract

ABSTRAKSaehu sebagai pemimpin identik dengan ahli, guru, dipercaya masyarakat untuk memimpin Ritual Koromong, bahkan sebagai orang yang dituakan mempunyai peran di sisi lain sebagai shaman/dukun. Maka dari itu, yang dipercaya sebagai Saehu adalah orang yang memiliki ke-mampuan spiritual. Peristiwa Ritual Koromong merupakan peristiwa kesuburan dalam mengkultuskan Dewi Sri sebagai Dewi Padi  simbol  yang harus dihormati dan dipupusti, karena dianggap sebagai sumber dari segala kehidupan yang akan membawa berkah keselamatan, kesehatan, rejeki yang melimpah. Peristiwa ritual ini berawal dari krisis hasil pertanian atau paceklik, sehingga masyarakat mengalami kekurangan pangan, terutama padi. Perilaku masyarakat terhadap peristiwa yang terjadi, memunculkan suatu kepercayaan terhadap mitos yang berhubungan dengan Dewi Sri. Sehubungan dengan hal itu, maka yang menjadi permasalahan adalah apa peran Saehu dalam peristiwa Ritual Koromong? Merujuk pada pertanyaan penelitian tersebut, maka teori yang digunakan adalah teori Merton yang menyatakan bahwa ada dua fungsi yaitu fungsi manifes atau fungsi tersirat (hiburan), dan fungsi laten atau fungsi tidak tersirat (ritual). Adapun metode yang digunakan adalah pendekatan metode deskriptif analisis dengan langkah-langkah meliputi; studi observasi, studi pustaka, dan studi dokumentasi. Dengan demikian, maka hasil yang dicapai dalam penelitian ini adalah bahwa seni Koromong sebagai media ritual merupakan produk kreatif berkaitan dengan kompleksitas kehidupan masyarakat yang memuat peristiwa sosial  dalam kehidupan petani.Kata Kunci: Saehu, Ritual, Koromong. ABSTRACT. Saehu In Koromong Ritual, December 2019. Saehu as a leader is synonymous with experts, teachers, trusted by the community to lead the Koromong Ritual, even as an elder who has a role on the other hand as a shaman/shaman. Therefore, those who are believed to be Saehu are people who have spiritual abilities. The Koromong Ritual Event is a fertility event in culturing Dewi Sri as a Rice Goddess symbol that must be respected and supported, because it is considered as the source of all life that will bring blessings of safety, health, abundant fortune. This ritual event originated from a crisis of agricultural products or famine, so that people experience food shortages, especially rice. Community behavior towards events that occur, giving rise to a belief in the myths associated with Dewi Sri. In this connection, the problem is what is Saehu's role in the Koromong Ritual? Referring to the research question, the theory used is Merton's theory which states that there are two functions, namely the manifest function or the implied function (entertainment), and the latent function or the implied function (ritual). The method used is the descriptive analysis method approach with steps including; observational studies, literature studies, and documentation studies. Thus, the results achieved in this study re that the art of Koromong as a ritual media is a creative product related to the complexity of people's lives that contain social events in the lives of farmers.Keywords: Saehu, Ritual, Koromong. 
TARI KATUMBIRI KARYA IRAWATI DURBAN ARDJO DI SANGGAR PUSBITARI, KOTA BANDUNG Syifa Silviana Putri dan Ella Nurlaela Ningsih
Jurnal Seni Makalangan Vol 6, No 2 (2019): "Menjaga Asa Merajut Cita"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v6i2.1058

Abstract

ABSTRAKTari Katumbiri merupakan tari Kreasi Baru yang diciptakan oleh Irawati Durban Ardjo, di Sanggar Pusbitari, Kota Bandung. Tari Katumbiri telah melewati berbagai tahapan kreativitas, sehingga tercipta karya tari yang estetis, kebaruan dari segi koreografi dan karawitan tarinya. Berbagai keunikan yang dipresentasikan Tari Katumbiri menarik untuk diteliti, sehingga memunculkan rumusan masalah dalam penelitian; Bagaimana kreativitas Irawati Durban Ardjo dalam Tari Katumbiri? Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis, dengan teknik pengumpulan data berupa studi pustaka, wawancara, dan observasi. Penelitian ini juga menggunakan pendekatan 4P yaitu; Pribadi, Proses, Pendorong, dan Produk. Hasil dari penelitian ini menunjukkan, bahwa Irawati sebagai pribadi kreatif beserta pendorong dan proses yang dilaluinya diwujudkan dalam sebuah karya tari yaitu Tari Katumbiri sebagai produk kreatif.Kata Kunci: Irawati Durban Ardjo, Kreativitas, Kreasi Baru, Tari Katumbiri. ABSTRACT. Katumbiri Dance Creation ByIrawati Durban Ardjo In Sanggar Pusbitari, Bandung City, December 2019. Katumbiri dance is a new creation dance created by Irawati Durban Ardjo, at Sanggar Pusbitasari, Bandung. Katumbiri dance has passed through various stages of creativity, so as to create aesthetic dance work, novelty in terms of dance choreography and music (karawitan). The uniqueness presented within Katumbiri dance is interesting to study, so that it brings to the problem of the research formulated in a question; How is the creativity of Irawati Durban Ardjo in Katumbiri dance? This study uses a qualitative method with a descriptive analysis approach, with data collection techniques in the form of literature studies, interviews, and observations. This research also uses a 4P approach namely Pribadi (Personal), Proses (Process), Pendorong (Support), and Produk (Product). The result of this study indicates that Irawati as a creative person and her support and the process through is embodied in a dance work that is Katumbiri Dance as a creative product.Keywords: Creativity, Katumbiri Dance, New Creation, Irawati Durban Ardjo.
KARYA TARI SATYA UMAYI Desya Noviansya Suherman dan Yayat Hidayat
Jurnal Seni Makalangan Vol 4, No 1 (2017): "Spirit Tubuh Tanpa Batas"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v4i1.1093

Abstract

ABSTRAKKarya tari Satya Umayi berpedoman pada cerita dari transkripsi lontar Ciwagama milik Geria Sanur, bercerita tentang kehidupan Bhatara Siwa beserta Istrinya Dewi Uma dalam versi ajaran agama Hindu, khususnya di Bali. Berdasarkan fenomena tersebut, karya ini merupakan tafsir adegan Bhatara Siwa yang ingin menguji kesetiaan istrinya yaitu Dewi Uma. Dewi Uma disuruh Siwa mencari susu lembu betina ke bumi untuk membantu menghilangkan dahaga Siwa sebagai ujian kesetiaan Uma. Bagian ini berisi mengenai; derita, jerit, pengerdilan, yang dialami Dewi Uma yang kecewa karena kesetiaan dan dedikasinya yang sangat besar kepada Siwa diacuhkan. Konteks garap menggunakan bahan gerakan tari tradisi Bali adaptasi Sunda, merupakan perubahan Uma menjadi wujud Durga, akibat kutukan Siwa. Hasil garap merupakan karya tari kelompok.Kata Kunci:  Lontar Ciwagama, Uma, Tradisi, Koreografi Kelompok. ABSTRACTWorking On The Dance Satya Umayi, June 2017. The Satya Umayi dance work is based on the story of Geria Sanur's Ciwagama ejection transcription, which tells about the life of Bhatara Siwa and his wife Dewi Uma in a version of Hinduism, especially in Bali. Based on this phenomenon, this work is an interpretation of the Bhatara Siwa scene who wants to test the loyalty of his wife, Dewi Uma. Dewi Uma was told by Shiva to look for female oxen milk to earth to help eliminate Shiva's thirst as a test of Uma's loyalty. This section contains about; suffering, screaming, stunting, experienced by Dewi Uma who was disappointed because her loyalty and enormous dedication to Shiva was ignored. The context of working on using Sundanese dance adaptation dance material, is a change of Uma into the form of Durga, due to Shiva's curse. The results of the work is a group dance.Key word: Ciwagama Ejection, Uma, Traditions, Group Dance.
IBING LULUGU DALAM KESENIAN RONGGENG AMEN GRUP BARANANG SIANG, KABUPATEN PANGANDARAN Desi Purwanti Lalan Ramlan
Jurnal Seni Makalangan Vol 4, No 1 (2017): "Spirit Tubuh Tanpa Batas"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v4i1.1088

Abstract

ABSTRAKRonggeng Amen, merupakan hasil bentukan baru dari kesenian Ronggeng Gunung. Struktur penyajiannya terdiri atas: (1) ibing lulugu; (2) ibing baksa; (3) ibing gaul; dan (4) ibing waled. Keempat ibingan ini memiliki daya tarik sendiri, terutama pada ibing lulugu. Salah satu daya tariknya yang paling menonjol terletak pada ragam geraknya dan bentuk penyajiannya yang dilakukan secara rampak oleh para ronggeng. Oleh karena itu, penelitian ini difokuskan bagaimana struktur koreografi dan sumber gerak tarinya. Untuk mengeksplanasi kedua hal tersebut, maka dalam penelitian kualitatif ini digunakan pendekatan metode deskriptif analisis. Penelitian ini menghasilkan simpulan, yaitu Ibing Lulugu menggunakan struktur koreografi yang sederhana, beberapa ragam gerak dilakukan berulang-ulang, menggunakan pola gerak Ronggeng Gunung (pola melingkar) dengan penambahan pola sejajar. Adapun sumber gerak dalam Ibing Lulugu, selain gerak lokal (Ronggeng Gunung) adalah bersumber dari tari Keurseus dan tari Rakyat.Kata Kunci: Ronggeng Gunung, Ronggeng Amen, Ibing Lulugu, Struktur Koreografi.  ABSTRACTIbing Lulugu In The Art Of Ronggeng Amen Grup Baranang Siang, Pangandaran District, June 2017. Ronggeng Amen is the result of a new formation of Ronggeng Gunung art. Its presentation structure consists of: (1) ibing lulugu; (2) ibing baksa; (3) ibing gaul; and (4) ibing waled.  These four moms have their own charms, especially in Ibing Lulugu. One of its most prominent attractions lies in its range of the choreography and the source of its dance movement. To explore both of these things, then in this study used qualitative reseach methods using descriptive analysis approach. This study yielded a conclusion, Ibing Lulugu using simple choreographic structure, some motion is done repeatedly, using Ronggeng Gunung (circular pattern) motion pattern with the addition of parallel pattern. The source of motion in Ibing Lulugu, in addition to local motion (Ronggeng Gunung) is sourced from Keurseus dance , and folk dance.Keyword: Ronggeng Gunung, Ronggeng Amen, Ibing Lulugu, Choreography Structure.   
REPERTOAR JAIPONGAN RASJATI KREATIVITAS DALAM PENYAJIAN TARI Nurwulan Hartini Rismawati dan Lalan Ramlan
Jurnal Seni Makalangan Vol 6, No 2 (2019): "Menjaga Asa Merajut Cita"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v6i2.1059

Abstract

ABSTRAKKetertarikan pada repertoar tari Rasjati yang enerjik, dinamis, dan maskulin, memberikan pengalaman tersendiri bagi penulis untuk dapat mempelajari, memahami, menguasai berbagai unsur estetikanya dan sekaligus menggali nilai di dalamnya untuk dapat disajikan secara berbeda dalam menyajikannya. Itulah tantangan bagi para penyaji repertoar tari, karena harus mampu menya-jikan dengan gaya penyajian yang berbeda dari sumbernya. Oleh karena itu, untuk dapat mewujudkannya digunakan teori estetika instrumental Djelantik ‘Gegubahan’ dengan pendekatan metode ‘gubahan tari’ yaitu mewujudkan gagasan baru berupa pengembangan dari sumber penyajian tradisi tertentu dengan cara memasukkan, menyisipkan dan memadukan bentuk-benuk gerak atau penambahan unsur lain sehingga menghasilkan bentuk penyajian yang berbeda dengan tetap mempertahankan identitas sumbernya. Dengan demikian, maka proses kreatif dalam meng-gubah sumber tersebut didasarkan pada hasil telahaan nilai dibalik bentuknya yaitu tari Rasjati berisi sebuah perenungan terhadap kesadaran diri terhadap jati diri. Makna inilah yang selanjutnya dijelajahi melalui langkah-langkah; eksplorasi, evaluasi, dan komposisi, hingga menghasilkan sebuah bentuk penyajian dengan gaya yang berbeda tetapi tidak menghilangkan identitas sumbernya.Kata Kunci: Penyajian Tari, Jaipongan, Rasjati. ABSTRACT. Repertoar ‘Rasjati’ Creativity In Dance Presentation, December 2019. An interest in the energetic, dynamic, and masculine Rasjati dance repertoire, provides its own experience for the writer to be able to learn, understand, master various aesthetic elements and at the same time explore the values within it to be presented differently in presenting it. That is a challenge for dance repertoire presenters, because they must be able to present in a different presentation style from the source. Therefore, to be able to realize it, the Djelantik 'Gegubahan' instrumental aesthetic theory is used with the 'dance composition' method approach, namely realizing new ideas in the form of the development of sources of presenting certain traditions by inserting, inserting and combining forms of motion or adding other elements to produce a different form of presentation while maintaining the identity of the source. Thus, the creative process of composing the source is based on the results of the perceived value behind its form, namely the Rasjati dance containing a contemplation of self-awareness of identity. This meaning is then explored through the steps; exploration, evaluation, and composition, to produce a form of presentation with a different style but does not eliminate the identity of the source.Keywords: Dance Presentation, Jaipongan, Rasjati.

Page 9 of 20 | Total Record : 192


Filter by Year

2014 2025