cover
Contact Name
Joseph Christ Santo
Contact Email
jurnal@sttberitahidup.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal@sttberitahidup.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. karanganyar,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Teologi Berita Hidup
ISSN : 26564904     EISSN : 26545691     DOI : https://doi.org/10.38189
Jurnal Teologi Berita Hidup merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi yang berkaitan dengan kepemimpinan dan pelayanan Kristiani, yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup Surakarta. Focus dan Scope penelitian Jurnal Teologi Berita Hidup adalah: Teologi Biblikal, Teologi Sistematika, Teologi Pastoral, Etika Pelayanan Kontemporer, Kepemimpinan Kristen, Pendidikan Agama Kristen.
Arjuna Subject : -
Articles 313 Documents
Konsep Keselamatan di Dalam Yesus: Ketaatan Pada Firman Versus Ketaatan Pada Perbuatan Sutriatmo Sutriatmo
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 4, No 2 (2022): Maret 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v4i2.164

Abstract

It is often heard that salvation is not properly understood. Many Christians think that when they “believe” in the Lord Jesus, they are Christians, they feel they have been saved. But if you see his life is not in accordance with God’s will (disobedience). There are Christians who still go to witch a shaman. People who already believe in the Lord Jesus should not go to a shaman to seek escapism in their business, to get blessings, to survive or to secure their business, this is not in accordance with the teachings of salvation. in the Lord Jesus. Someone must obey according to the teachings of God's word, love God with all his heart, whole soul, and all mind. Because it is clear that the act is idolatry. How is the concept of salvation based on God's word versus based on actions? This is what needs to be researched, and straightened out, so that God’s people have the correct concept of teaching salvation. The purpose of this research is for Christians to have an understanding of the concept of salvation in the Lord Jesus Christ, and obedience to God's word, rather than just human actions or efforts that are not in accordance with God's word. Meanwhile, in Ephesians 2: 8-9 it says, “For it is by grace you have been saved, through faith—and this is not from yourselves, it is the gift of God not by works, so that no one can boast." Many Christians regard good works as a condition for being saved. But the truth is because of His grace a person can be saved by faith, and not human works or works. As for a person's good deeds are proof that he has faith. True faith must be demonstrated in the works of faith and in the righteousness of the Lord Jesus Christ.  Sering didengar bahwa keselamatan kurang dipahami secara benar. Banyak orang Kristen mengira bahwa ketika “sudah percaya” Tuhan Yesus, sudah beragama Kristen, merasa sudah diselamatkan. Namun kalau dilihat kehidupannya belum sesuai dengan kehendak Allah (tidak taat). Ada orang Kristen yang masih pergi ke dukun. SeseorangyangsudahpercayaTuhanYesusmakatidakdiperkenankankedukunmencari pelarisandalamusahanya, agar berolehberkat,agar selamatatauamanusahanya,halinitidak sesuaidenganpengajarankeselamatandidalamTuhanYesus. Seseorangharus taatsesuaiajaran firmanTuhan,mengasihiTuhandengansegenaphati,segenapjiwa,dansegenapakalbudi.Karena jelas bahwatindakan tersebut adalah penyembahan berhala. Bagaimanakah konsep keselamatan berdasarkan firman Tuhan versus berdasarkan perbuatan ? Hal inilah yang perlu diteliti, dan diluruskan, sehingga umat Tuhan memiliki konsep pengajaran keselamatan yang benar. Tujuan dari penelitian ini adalah agar orang Kristen memiliki pemahaman tentang konsep keselamatan di dalam Tuhan Yesus Kristus, dan ketaatan pada firman Tuhan, dibandingkan hanya perbuatan atau usaha manusia yang tidak sesuai dengan firman Tuhan. Sedangkan dalam Efesus 2:8-9 dikatakan bahwa, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Banyak orang Kristen menganggap bahwa perbuatan baik sebagai syarat untuk dapat diselamatkan. Namun yang benar adalah oleh karena kasih karuniaNya seseorang dapat diselamatkan oleh iman, dan bukan usaha atau pekerjaan manusia. Adapun perbuatan-perbuatan baik seseorang adalah sebagai bukti bahwa ia memiliki iman. Iman yang benar harus ditunjukkan dalam perbuatan-perbuatan iman dan dalam kebenaran Tuhan Yesus Kristus.
Mentalitas Silo Ditinjau dari Perspektif Alkitab Styadi Senjaya; Tjutjun Setiawan; Tomi Yulianto; Yusup Heri Harianto
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 5, No 1 (2022): September 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v5i1.260

Abstract

Pandangan tentang mentalitas silo ada dalam gereja dari waktu ke waktu. Faktor seperti cara komunikasi, penyampaian visi, dan lainnya ikut memengaruhi hal tersebut. Beberapa studi menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kekuatan organisasi, teknik silo-busting, dan tingkat kolaborasi dalam organisasi tertentu, organisasi yang menggunakan teknik silo-busting dibandingkan dengan organisasi yang memiliki tingkat kinerja yang lebih rendah, kolaborasi internal yang lebih baik dalam sebuah organisasi. Tulisan ini bertujuan untuk menemukan perspektif Alkitab tentang mentalitas silo. Penelitian yang digunakan dalam penulisan ini, yaitu metode kualitatif studi pustaka, menemukan cara Alkitab untuk dapat mengatasi mentalitas silo dalam melakukan pelayanan di gereja. Tulisan ini diharapkan dapat membantu gereja Tuhan untuk merumuskan manajemen gereja yang tepat dan sesuai dalam menjalankan organisasinya, hingga world view (pemahaman) pemimpin gereja menjadi benar. Kata Kunci: Manajemen Gereja, Mentalitas Silo, Kepemimpinan, Delegasi Abstract:This view of the silo mentality has existed in the church from time to time. Factors such as the way of communication, delivery of the vision, and others also influence this. Several studies show that there is a relationship between organizational strength, silo-busting technique, and the level of collaboration in a particular organization, organizations that use silo-busting techniques compared to organizations that have lower levels of performance, better internal collaboration within an organization. This paper aims to find a biblical perspective on the silo mentality. The research used in this paper, which is a qualitative method of literature study, finds the Bible's way to overcome the silo mentality in serving in the church. This paper is expected to help God's church to formulate appropriate and suitable church management in running its organization, so that the world view (understanding) of church leaders becomes correct. Keywords: Church Management, Silo Mentality, Leadership, Delegation
Integritas dan Moralitas sebagai Pesan dari Teguran Nabi Amos untuk Melestarikan Keadilan Timotius Avent Jordan; Gernaida Krisna R. Pakpahan
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 5, No 1 (2022): September 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v5i1.227

Abstract

Justice is something that cannot be removed in life. There is a reason that justice can fade, even at the court, it’s because of integrity is not maintained. The problem of today's injustice in the field of law is not something new, even in the Bible this problem exists. The prophet Amos' rebuke to the Northern Kingdom of Israel because of injustice. Based on that message, the writer takes the essence that can be applied to this mature life. The author uses a literature study research method, because it is in accordance with the need to get the essence of the writings of the prophet Amos. Based on the research, it was found that justice can be maintained with integrity and morality in each individual. Keadilan merupakan sesuatu yang tak boleh dihilangkan dalam kehidupan. Ada penyebabnya keadilan itu bisa luntur, bahkan di meja hijau sekalipun, seperti integritas yang tak dijaga. Persoalan hari-hari ini tentang ketidakadilan dalam bidang hukum bukanlah sesuatu yang baru, dalam Alkitab pun persoalan ini ada. Teguran nabi Amos pada Kerajaan Israel Utara memberikan gambaran mengenai ketidakadilan tersebut. Berdasarkan pesan itulah penulis mengambil intisari yang dapat diterapkan untuk kehidupan masak ini. Penulis menggunakan metode penelitian studi literatur, karena sesuai dengan kebutuhan untuk mendapatkan intisari dari tulisan nabi Amos. Berdasarkan penelitian, hasilnya didapati bahwa keadilan itu bisa terjaga dengan integritas dan moralitas dalam diri masing-masing pribadi.
Memahami Konsep Menyangkal Diri, Memikul Salib dan Mengikut Yesus: Sebuah Analisis Biblikal Lukas 9:23-26 Danny Yonathan
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 1, No 2 (2019): Maret 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v1i2.14

Abstract

From every generation, believers receive instruction that aims to strengthen faith and educate believers to become militant disciples of Christ, and have readiness to serve God in accordance with the true concept of Christian thought. Thus believers must dare to deny themselves, and carry the cross every day and follow Jesus Christ who is the Lord and Savior. This article had purpose to give the understanding biblically the concept of self-denying, carrying cross and following Jesus according to the text of Luke 9:23-26. AbstrakDari setiap generasi, orang percaya menerima pengajaran yang bertujuan untuk meneguhkan iman serta mendidik  orang-orang percaya untuk menjadi murid Kristus yang militan, serta memiliki kesiapan untuk melayani Tuhan sesuai dengan konsep pemikiran Kristen yang benar. Orang percaya harus mau menyangkal diri, dan memikul salib setiap hari serta mengikut Yesus Kristus yang adalah Tuhan dan Juruselamat. Artikel ini bertujuan untuk memberikan pemahaman secara biblikal konsep menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Yesus sesuai dengan teks pada Lukas 9:23-26.
Taurat dan Nubuat Palsu: Kajian Sudut Pandang Taurat Terhadap Nubuat Palsu Kosma Manurung
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 2, No 2 (2020): Maret 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v2i2.31

Abstract

Abstract: The purpose of this research is to present the Torah's view of false prophecy. The methodology used in this article uses text analysis and literature review. This article describes how false prophecy occurred in the Torah, the source of false prophecy, the entrance of false prophecy, and its consequences to mankind. Based on the results of this study in the Torah's view, false prophecies originated by the devil as the father of all liars who entered through the human desire and then resulted in the destruction of the relationship between God and man resulting in prolonged sin and suffering for humanity.Abstrak: Adapun tujuan penelitian artikel ini adalah ingin memaparkan sudut pandang Taurat terhadap nubuat palsu. Metodologi yang digunakan dalam artikel ini menggunakan analisis teks dan kajian literatur. Artikel ini menggambarkan bagaimana nubuat palsu dalam Taurat, sumber nubuat palsu, jalan masuk nubuat palsu, dan akibatnya bagi manusia. Berdasarkan hasil penelitian ini dalam pandangan Taurat, nubuat palsu berasal dari iblis sebagai bapak segala pendusta yang masuk melalui keinginan daging manusia yang kemudian mengakibatkan hancurannya hubungan antara Allah dan manusia sehingga mengakibatkan dosa dan penderitaan yang berkepanjangan bagi manusia.
Pemberdayaan Budikdamber Sebagai Upaya Pemulihan Ekonomi Masa Pandemi di Wilayah Sekaran Gunung Pati Hagai Kuncoro; Karnawati Karnawati
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 3, No 2 (2021): Maret 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v3i2.90

Abstract

The pandemic has caused an economic downturn in the Sekaran Gunung Pati area, Semarang. The Banaran Community Center as a Christian institution seeks to internalize the attitude of Jesus who cares for people who suffer and need help, has facilitated by providing empowerment in the form of catfish farming in buckets (budikdamber). The method of implementation is through the stages of preparation, assessment, program planning, formulation of action plans, program implementation, evaluation and termination. The results of the budikdamber show that the assisted groups experience additional insight into catfish cultivation in buckets, an increase in the economy in the family and gain insight into effective marketing strategies. This paper contributes to the context of a mission strategy through community empowerment.Pandemik menyebabkan kelesuan ekonomi di wilayah Sekaran Gunung Pati Semarang. Pusat Komunitas Banaran selaku Lembaga kristen berupaya menginternalisasi sikap Yesus yang peduli kepada orang-orang yang menderita dan membutuhkan pertolongan, telah menfasilitasi dengan memberikan pemberdayaan berupa budidaya ikan lele dalam ember (budikdamber). Metode pelaksanaan melalui tahapan persiapan, pengkajian, perencanaan program, formulasi rencana aksi, implementasi program, evaluasi dan terminasi. Hasil budikdamber didapati bahwa kelompok dampingan mengalami penambahan wawasan dalam budidaya lele dalam ember, adanya peningkatan ekonomi dalam keluarga dan bertambahnya wawasan dalam strategi pemasaran yang efektif. Tulisan ini memberi kontribusi dalam konteks strategi misi melalui pemberdayaan masyarakat.
Evaluasi Pembelajaran Daring Pendidikan Agama Kristen di Masa Pandemi Priskila Issak Benyamin; Ibnu Salman; Frans Pantan; Wiryohadi Wiryohadi; Yogi Mahendra
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 4, No 1 (2021): September 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v4i1.174

Abstract

Penelitian ini berangkat dari adanya kesejangan dalam program pembelajaran daring selama pandemi di Kabupaten Barito Timur Kalimantan Tengah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana keberhasilan program pembelajaran daring pendidikan agama Kristen dan dampaknya baik jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Metode penelitian yang digunakan yakni model penelitian evaluasi discrepancy. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek desain, instalasi, proses dan produk berada pada kategori rendah. Hal ini terlihat juga dalam cost-benefit analysis program pembelajaran daring pendidikan agama Kristen yang masih lemah.
MODERASI BERAGAMA DI INDONESIA: Kajian Tentang Toleransi Dan Pluralitas Di Indonesia Juli Santoso; Timotius Bakti Sarono; Sutrisno Sutrisno; Bobby Kurnia Putrawan
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 4, No 2 (2022): Maret 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v4i2.167

Abstract

The reality of progress which is the wealth of the nation has been misinterpreted by religious groups that divide the nation. The reality today is that religion has become a commodity that exploits "bottenless" substandard morality like barbarians who are as violent as early humans. Spiritual leaders should not use the congregation as a commodity for self-popularity and hedonism, on the contrary, church leaders should make God's people truly have an attachment to God and not this world. Religious moderation is to minimize violence against different beliefs. This article aims to offer religious moderation that builds tolerance and plurality in Indonesia. Realitas kemajukan yang merupakan kekayaan bangsa sudah disalahartikan oleh kelompok agamis yang memecah belah bangsa. Realitas saat ini agama menjadi komoditas yang mengeksplotasi moralitas yang “bottenless” dibawah standar bagaikan bar-bar yang beringas seperti manusia purba. Para pemimpin rohani seharusnya tidak memanfaatkan jemaat sebagai komoditas popularitas diri dan hidup hedon sebaliknya pemimpin gereja harus membuat umat Tuhan sungguh-sungguh memiliki kemelekatan dengan Tuhan bukan dunia ini. Moderasi agama adalah meminimalis akan kekerasan terhadap kepercayaan yang berbeda. Artikel ini bertujuan menawarkan moderasi beragama yang membangun toleransi dan pluralitas di Indonesia.
Ketahanan Spiritual dalam Memaknai Peristiwa Erupsi Sinabung di Masyarakat Kuta Gugung Ivonne Sandra Sumual; Andreas Christanto; Ceria Tarigan
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 4, No 2 (2022): Maret 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v4i2.267

Abstract

The main focus of this research is related to the conditions experienced by the people on the slopes of Mount Sinabung as victims of an eruption that has lasted for 11 years since 2010. The conditions experienced by the community lead to suffering that spreads from various aspects of life, including aspects of spirituality. Departing from this, the researcher wants to explore how the spiritual condition of the Sinabung community in interpreting the suffering for 11 years so that they can survive, how they interpret God's presence in the disaster they are experiencing, and whether they have different perspectives/meanings related to the suffering they experience. They experience. Judging from the conditions of the existing problems, the method used in this research is qualitative through a phenomenological study. Thus, the research will be conducted with a descriptive approach. Direct interviews in the field were conducted to obtain the accuracy of the data in this study.Fokus utama dalam penelitian ini terkait dengan kondisi yang dialami oleh masyarakat lereng gunung Sinabung, sebagai korban dari erupsi yang telah berlangsung selama 11 tahun sejak tahun 2010. Adapun kondisi yang dialami oleh masyarakat mengarah kepada penderitaan yang tersebar dari berbagai aspek hidup, termasuk kepada aspek spiritualitas. Berangkat dari hal ini, maka peneliti hendak menggali bagaimana kondisi spiritualitas masyarakat Sinabung dalam memaknai penderitaan selama 11 tahun sehingga mampu bertahan, bagaimana mereka memaknai kehadiran Tuhan dalam bencana yang tengah mereka alami, dan apakah mereka memiliki konsep sudut pandang/pemaknaan yang berbeda terkait penderitaan yang mereka alami. Melihat dari kondisi permasalahan yang ada, maka metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif melalui studi fenomenologis. Dengan demikian, penelitian akan dilakukan dengan pendekatan deskriptif. Wawancara langsung di lapangan, dilakukan untuk memperoleh akurasi data dalam penelitian ini.
Adam dan Kristus: Studi Komparasi Antara Penghukuman Dan Pembenaran Allah Berdasarkan Roma 5:18-19 Warseto Freddy Sihombing; Seri Antonius
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 5, No 1 (2022): September 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v5i1.268

Abstract

AbstractSalvation in Jesus Christ is only obtained by sinners through faith. Without faith in Jesus Christ, no one will be saved. God only justifies those who believe in Jesus Christ, so they will not receive God's wrath. By inductive method, this article explores the truth of apostle Paul's statement in Romans 5:18-19; that disobedience of first Adam made all men being sinful and cursed. On the other hand, the Jesus Christ’s obedience as the second / last Adam has made sinful men being right before God and have hope for eternal life. Paul gives a comparison between Adam and Christ — between the first Adam and the last Adam. The first Adam has caused men (his descendants) commite to sin, but the second/last Adam has finally provided a way out of God’s punishment and wrath. This is a great grace of God.Keywords: first adam; second adam; obedience; disobedience; justification; comparisonAbstrakKeselamatan di dalam Yesus Kristus hanya diperoleh orang berdosa melalui iman. Tanpa iman kepada Yesus Kristus, seorang pun tidak akan beroleh keselamatan. Allah hanya membenarkan mereka yang beriman kepada Yesus Kristus, dengan demikian mereka tidak akan mengalami murka Allah. Dengan metode induktif, artikel ini menggali kebenaran dari pernyataan rasul Paulus dalam Roma 5:18-19; bahwa ketidataaktaatan Adam pertama telah menjadikan semua manusia berdosa dan terkutuk. Di pihak lain, ketaatan Yesus Kristus sebagai Adam kedua/terakhir telah menjadikan manusia yang telah berdosa tersebut benar di hadapan Allah dan memiliki pengharapan untuk memperoleh hidup kekal. Paulus memberikan sebuah komparasi antara Adam dan Kristus—antara Adam pertama dan Adam terakhir. Adam pertama telah mengakibatkan manusia (keturunannya) berdosa, tetapi Adam kedua/terkahir telah  memberikan jalan keluar dari penghukuman dan murka Allah. Ini merupakan kasih karunia Allah yang besar.Kata-kata kunci: adam pertama, adam kedua, ketaatan, ketidaktaatan, pembenaran,                   komparasi