cover
Contact Name
Joseph Christ Santo
Contact Email
jurnal@sttberitahidup.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal@sttberitahidup.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. karanganyar,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Teologi Berita Hidup
ISSN : 26564904     EISSN : 26545691     DOI : https://doi.org/10.38189
Jurnal Teologi Berita Hidup merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi yang berkaitan dengan kepemimpinan dan pelayanan Kristiani, yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup Surakarta. Focus dan Scope penelitian Jurnal Teologi Berita Hidup adalah: Teologi Biblikal, Teologi Sistematika, Teologi Pastoral, Etika Pelayanan Kontemporer, Kepemimpinan Kristen, Pendidikan Agama Kristen.
Arjuna Subject : -
Articles 313 Documents
Pembaharuan Pikiran Pengikut Kristus Menurut Roma 12:2 Asih Rachmani Endang Sumiwi
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 1, No 1 (2018): September 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v1i1.4

Abstract

The existence of Christians in this world cannot be separated from the community in which they are located. When someone is in the midst of a community with a different way of life, it is very possible for him to be similar to his surroundings. Whereas what God wants from the existence of Christians in the world is that they can become bright, not follow the flow around them. Paul once gave a special message to the Romans so that they would not be like this world but changed by renewal of mind. This study focuses on the study of the phrases ἀνακαινώσει τοῦ νοὸς (anakainosei tou noos) from Romans 12: 2, which literally means renewal of the mind. This study aims to find out what is meant by the renewal of the mind, why it is necessary to renew the mind, how the renewal of the mind occurs, and how it applies to the life of Christianity in the present. With the exegesis method, researchers try to find out the meaning of the phrase either through lexical studies or by paying attention to the background of letter writing. Having found the meaning and relation to the context of the phrase, its application is made for Christian life today. The conclusions of this research are as follows: First, the renewal of the mind in Romans 12: 2 is a renewal of one's awareness of the truth which builds understanding of the true meaning of life. Second, followers of Christ need to experience a renewal of the mind because the mind will play a role in determining its life, namely in creating or setting its standard of living. Third, renewal of the mind is a process that occurs continuously every day through the Word of God which is done by the Holy Spirit, so that by this process Christians will understand the will of God, that is what is good, that is pleasing to God and perfectAbstrakKeberadaan umat Kristen di dunia ini tidak dapat dipisahkan dari lingungan masyarakat di mana mereka berada.  Ketika seseorang berada di tengah masyarakat dengan cara hidup yang berbeda, sangat mungkin baginya untuk menjadi serupa dengan sekitarnya.  Padahal yang dikehendaki Tuhan dari keberadaan umat Kristen di dunia adalah agar mereka bisa menjadi terang, bukan mengikuti arus sekitarnya. Paulus pernah berpesan secara khusus kepada jemaat Roma agar mereka tidak menjadi serupa dengan dunia ini tetapi berubah oleh pembaharuan pikiran.  Penelitian ini memusatkan kajian kada frasa ἀνακαινώσει τοῦ νοὸς  (anakainosei tou noos) dari surat Roma 12:2, yang secara literal berarti pembaharuan pikiran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan pembaharuan pikiran, mengapa perlu pembaharuan pikiran, bagaimana terjadinya pem­baharuan pikiran, serta bagaimana penerapannya bagi kehidupan kekristenan pada masa sekarang. Dengan metode eksegesis, peneliti mencoba menemukan makna dari frasa tersebut baik melalui studi leksikal maupun dengan memperhatikan latar belakang penulisan surat. Setelah ditemukan makna dan kaitannya dengan konteks dari frasa tersebut, dibuat penerapannya bagi kehidupan kekristen­an sekarang ini. Sebagai kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: Pertama, pembaharuan pikiran dalam Roma 12:2 adalah pembaharuan kesadaran sese­orang terhadap kebenaran sehingga terbangun pemahaman akan makna hidup yang benar. Kedua, pengikut Kristus perlu mengalami pembaharuan pikiran karena pikiran akan sangat berperan dalam menentukan kehidupan­nya, yaitu dalam mencipta­kan atau menetapkan standar hidupnya. Ketiga, pembaharuan pikiran adalah proses yang terjadi terus menerus setiap hari melalui Firman Tuhan yang dikerjakan oleh Roh Kudus, sehingga dengan proses ini orang Kristen akan mengerti kehendak Allah yaitu apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan sempurna. 
Janji Pemulihan Israel dalam Kitab Zefanya: Refleksi Teologi Kovenan Daniel Pesah Purwonugroho; Sonny Eli Zaluchu
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 2, No 1 (2019): September 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v2i1.21

Abstract

The God of the Israelites is a God of covenants that bind covenants with humanity. Agreement between them has a binding nature to one another. Throughout the history of the Israelites recorded in the Old Testament, God often spoke through His prophets. God delivered a special message about the lives of the Israelites and also what He promised them through these prophets. All messages in the Old Testament and the prophetic books refer to a conditional Covenant. On the one hand, God pursues and punishes, but on the other hand, He restores. The Covenant theology reveals God's intention to punish and repair that is manifested in Christ's mission. This paper analyzes the implementation of the covenant theology in the ministry of the Prophet Zephaniah through the study of literature and sees its implementation for the presence of Christ in the world.Abstrak: Allah adalah Allah perjanjian yang mengikat perjanjian kepada umat manusia. Perjanjian yang terjalin antara Allah dengan manusia memiliki sifat yang sangat mengikat. Di dalam kehidupan bangsa Israel yang terekam sepanjang kitab Perjanjian Lama, Allah bersabda melalui nabi nabiNya. Allah memberikan pesan secara spesifik perihal kehidupan bangsa Israel dan juga apa yang menjadi janjiNya kepada mereka. Seluruh pesan Perjanjian Lama dan khususnya kitab Nabi-nabi mengarah pada satu perjanjian atau kovenan bersyarat. Pada satu sisi, Allah menuntut dan menghukum tetapi pada sisi lain, Allah memulihkan. Teologi kovenan menampilkan maksud Allah untuk menghukum dan memulihkan yang tergambar di dalam misi Kristus. Tulisan ini menganalisis implementasi Teologi kovenan di dalam pelayanan Nabi Zefanya melalui studi literatur dan  melihat implementaisnya bagi kehadiran Kristus di dunia. 
Studi Historis Ibadah Orang Yahudi pada Masa Intertestamental Mintoni Asmo Tobing
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 3, No 1 (2020): September 2020 (Studi Intertestamental)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v3i1.65

Abstract

The existence of the temple in Jerusalem was closely related to Jewish worship, because the temple was the center of Israel's worship. The Jews living in exile, as well as those who remained in a post-exilic foreign land, had no temple nearby, apart from the existence of a synagogue. Furthermore, foreign nations took turns ruling over the Jews. This raises the question of how their worship was under foreign domination. This paper has been compiled as a result of literature research, to describe how the Jews worshiped during the intertestamental times. The results showed that worship, politics and culture are related in their implementation. In some instances, the priest as leader of Israelite worship had to deal with political affairs, and in other cases the faith of the Israelites was undermined by Hellenism. Keberadaan bait suci di Yerusalem sangat terkait dengan ibadah orang Yahudi, karena bait suci tersebut adalah pusat ibadah orang Israel. Orang-orang Yahudi yang hidup dalam pembuangan maupun mereka yang tetap tinggal di negeri asing pasca-pembuangan, tidak memiliki bait suci di dekat mereka, selain keberadaan sinagoge. Lebih jauh, bangsa asing silih berganti memerintah atas orang-orang Yahudi. Hal ini memunculkan pertanyaan, bagaimana ibadah mereka di bawah dominasi bangsa asing. Tulisan ini disusun sebagai hasil penelitian pustaka, untuk mendeskripsikan bagaimana orang-orang Yahudi beribadah selama masa intertestamental. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ibadah, politik, budaya memiliki keterkaitan dalam pelaksanaannya. Dalam beberapa kejadian, imam sebagai pemimpin ibadah orang Israel harus bersinggungan dengan urusan politik, dan dalam kasus yang lain iman orang Israel tergerus oleh Helenisme.
Hospitalitas Pendidikan Kristiani dalam Masyarakat Majemuk Serva Tuju; Harls Evan R. Siahaan; Melkius Ayok; Fereddy Siagian; Donna Sampaleng
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 3, No 2 (2021): Maret 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v3i2.99

Abstract

The diversity of human identities in the context of pluralism is essential. However, differences are often seen as something "stranger" and unfriendly, especially in socio-religious relations context. In a plurality of society, the church must be able to place itself in social relations, especially in treating "strangers." This article aimed to offer an approach and theme of hospitality in teaching people or members of the congregation, whether in church, family, or school. Using a qualitative literature approach, applying the interpretive descriptive method, and argumentative comparisons, it is concluded that the hospitality of Christian education is the value for carrying out the law of love in social relations amidst diverse identities.AbstrakKeberagaman identitas manusia dalam konteks pluralisme adalah hakikat. Namun, perbedaan tidak jarang dipandang sebagai sesuatu yang “asing” dan tidak bersahabat, terlebih dalam konteks relasi sosial-agama. Gereja di tengah masyarakat yang pluralitas harus mampu menempatkan diri dalam relasi sosial, terlebih dalam memperlakukan “yang asing”. Artikel ini menawarkan sebuah pendekatan dan tema hospitalitas dalam mengajarkan umat, atau anggota jemaat, baik di gereja, keluarga, maupun sekolah. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif literatur, dan menerapkan metode deskriptif interpretatif, dan komparasi argumentatif, disimpulkan, bahwa hospitalitas pendidikan Kristiani merupakan value untuk melakukan hukum kasih dalam relasi sosial di tengah keberagaman identitas.
Makna Dilahirkan Kembali Bagi Orang Percaya Masa Kini Suhadi Suhadi; Andreas Sese Sunarko
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 4, No 1 (2021): September 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v4i1.98

Abstract

Being born again or being born again is one of the important teachings (doctrines) of Christianity. Being born again or being born again is the most radical effect of God's work on the sinner's response to accepting God's redemptive work through Jesus Christ. The new birth is something that must be experienced by every person because it has a tremendous impact on his life, namely someone who is born again or is born again has the potential to see and enter the kingdom of God, become a new creation and gain the status of a child of God. But there are people who don't understand this. Through this paper the writer wants to describe using qualitative methods with a literature study approach. So it can be concluded that the contribution of being born again or the experience of being born again or being born again is important and must be experienced by believers because it has an impact on the eternal value of seeing and entering the kingdom of God. Kelahiran baru atau dilahirkan kembali merupakan salah satu pengajaran (doktrin) yang penting dalam kekristenan. Kelahiran baru atau dilahirkan kembali merupakan dampak pekerjaan Allah yang paling radikal atas respons orang berdosa dalam menerima karya penebusan Allah melalui Yesus Kristus. Kelahiran baru merupakan hal yang harus dialami oleh setiap orang karena membawa dampak yang luar biasa dalam hidupnya yaitu seseorang yang dilahirkan baru atau dilahirkan kembali mendapatkan potensi untuk melihat dan masuk dalam kerajaan Allah, menjadi ciptaan baru dan mendapatkan status sebagai anak Allah. Namun ada orang-orang yang belum memahami hal ini. Melalui tulisan ini penulis ingin mendeskripsikan dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kontribusi kelahiran baru atau pengalaman dilahirkan kembali merupakan hal penting dan harus dialami oleh orang percaya karena berdampak pada nilai kekekalan yaitu melihat dan masuk dalam kerajaan Allah.
Desain Pemuridan sebagai Model Pembinaan Warga Gereja Berkelanjutan bagi Jemaat Purim Marbun
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 4, No 2 (2022): Maret 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v4i2.259

Abstract

One of the problem for spiritual formation is finding and determining a sustainable coaching model. The church must be have sustainable spiritual formation models for carried out mature spirituality church members. The program of Church Community Development often does not reach the final goal, namely faith maturity which is marked by changing in character, this is due the absence of consistent, planned and measurable model spiritual formation. Starting from this issue, this research seeks and describe ideas about discipleship as a model sustainable spiritual formation for church growth. Discipleship as a model of sustainable church formation is carried out not only in the form of classical teaching but also individually. The research method in this paper is a qualitative study with a literature analysis approach. The final result of this research shows design nurturing by consistent and continuous discipleship is able to achieve measurable spiritual maturity.Salah satu masalah pembinaan jemaat ialah mencari dan menentukan model pembinaan yang dapat dilakukan secara berkelanjutan dalam rangka mendewasakan kerohanian jemaat. Pembinaan Warga Gereja (PWG) sering tidak mencapai tujuan akhir yakni kedewasaan iman yang ditandai dengan perubahan karakter, hal ini disebabkan belum adanya  model yang konsisten, terencana dan terukur dalam pembinaan warga gereja. Bertitik tolak pada  masalah ini, artikel ini berupaya memberikan paparan dan gagasan tentang pemuridan sebagai model pembinaan iman yang dilakukan secara konsisten dan kontiniu. Pemuridan sebagai model pembinaan warga gereja yang berkelanjutan dilaksanakan bukan hanya dalam bentuk pengajaran klasikal melainkan juga secara individual. Metode penelitian dalam tulisan ini ialah studi kualititatif dengan pendekatan analisis kepustakaan. Hasil akhir dari penelitian ini menemukan disain pembinaan melalui pemuridan yang konsisten dan berkelanjutan untuk  mencapai kedewasaan rohani yang terukur sesuai indikator yang telah ditetapkan.
Epistemologi Hermeneutika dan Implikasinya bagi Pentakostalisme di Indonesia Hasudungan Sidabutar; Purim Marbun
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 5, No 1 (2022): September 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v5i1.282

Abstract

Epistemologi hermeneutika merupakan pokok penting dalam memahami Alkitab. Artikel ini bertujuan untuk menunjukkan landasan epsitemologis hermeneutika untuk menolong kaum Pentakosta dalam menginterpretasikan Alkitab. Penulis menggunakan analisis kepustakaan tentang epistemologi hermeneutik dan Pentakosta. Kesimpulan yang didapatkan bahwa epistemologi hermeneutika merupakan cara untuk meneliti dan memahami teks Alkitab secara hakiki dan dapat dipertangungwajabkan. Titik pokok hermeneutik pentakostalisme terletak pada penekanan pengalaman-pengalaman adikodrati lewat Roh Kudus bukan pada kognitif proporsional yang mengakibatkan  mereka terjebak pada aspek praktis dan bersifat pragmatis. Kaum Pentakostalisme perlu untuk merekontruksi ulang pendekatan hermeneutiknya sehingga ada keseimbangan antara pengalaman dan pengetahuan. Hal ini akan menolong untuk mampu membedakan proyeksi diri dan menempatkan secara epistemologis antara pengalaman individual maupun pengalaman secara kolektif dan tidak terlalu tergesa-gesa membangun doktrin diatasnya, dan apalagi mengklaim sebagai kebenaran yang paling Alkitabiah. Setiap ajaran yang bersumber dari hasil hermeneutika Alkitab, harus dapat dipertanggungjawabkan dan bukan asal diyakini.
Memahami Penerapan Taurat Pada Masa Yesus dan Implikasinya Dalam Menghayati Firman Tuhan Pada Masa Kini Sri Lina BL Simorangkir
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 3, No 1 (2020): September 2020 (Studi Intertestamental)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v3i1.55

Abstract

The development of the Jewish nation in observing the Torah from the time of the Babylonian exile to the time of Jesus' presence in Judea continued, both amidst the changing cultural effects of politics on the existing government. The Torah is a reference for the Jewish people to live by in worship and in their daily life. The Jewish Torah strictly rules the norms relating to personal and social morals. The material of the Torah had developed at the time of Jesus, been added with interpretations of the 'letters' of the Torah, new attitudes of behavior, which were increasingly distant and increasingly difficult to do. The way they understand the Torah is seen in the attitude and manner of the teachings of Jesus. The scribes were adept at interpreting the Torah literally with convoluted explanations. Jesus declared that He came to fulfill the Torah. The application of the application of the Torah for the present time appears in spiritual values such as spiritual understanding of God's Word, Bible study, understanding the current passages of the Torah, as well as the need for one's qualifications to live the Word of God. Therefore, today we need hermeneutic principles so that we don't misinterpret the Bible.Perkembangan bangsa Yahudi dalam melakukan Taurat sejak dari masa pembuangan di Babel sampai pada masa kehadiran Yesus di Yudea terus berlanjut, baik di tengah perubahan budaya maupun dampak politik pada pemerintah yang ada saat itu. Taurat menjadi acuan pegangan hidup bangsa Yahudi dalam ibadah dan dalam hidup sehari-hari. Taurat orang Yahudi sangat ketat mengatur norma-norma yang menyangkut moral pribadi dan sosial. Materi Taurat sudah berkembang pada masa Yesus, ditambah dengan tafsiran-tafsiran ‘huruf’ Taurat, pedoman sikap tingkah laku, yang semakin jauh dan semakin sulit dilakukan.     Cara mereka memahami Taurat yang terlihat pada sikap dan cara menanggapi ajaran Yesus. Para ahli Taurat mahir dalam menginterpretasikan Taurat secara harafiah dengan keterangan berbelit-belit. Yesus menyatakan bahwa Ia datang untuk menggenapi Taurat. Implikasi penerapan Taurat untuk masa kini muncul pada nilai-nilai rohani seperti kebangunan rohani memahami Firman Tuhan, pendalaman Alkitab, memahami perikop-perikop Taurat untuk masa kini, serta perlu kualifikasi seseorang dalam menghayati Firman Allah. Maka untuk itu di masa kini perlu prinsip-prinsip Hermeneutik agar tidak keliru dalam menafsir Alkitab.
Metode Penelitian di dalam Manuskrip Jurnal Ilmiah Keagamaan Sonny Eli Zaluchu
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 3, No 2 (2021): Maret 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v3i2.93

Abstract

A common problem regarding the method section in the structure of scientific journals is that they are written in general and not typical. A research method must report the procedures the researcher takes to carry out his research. The contents are not the same as the method descriptions in other studies. Therefore, this paper aims to explain the importance of methods in the structure of writing scientific journal articles. In particular, several methods commonly referred to in theological research are presented descriptively and topically. The conclusion obtained is, with the correct understanding of the research method, lecturers or researchers can produce theological research work that can be accounted for its academic validity. Research contribution: This paper provides insights to lecturers and researchers in writing and formulating methods in scientific journal papers and contributing material in writing scientific papers.Permasalahan umum mengenai bagian metode di dalam struktur jurnal ilmiah adalah ditulis secara umum dan tidak khas. Padahal, sebuah metode penelitian harus melaporkan prosedur yang ditempuh peneliti untuk menjalankan penelitiannya. Isinya tidak sama dengan penjelasan metode pada penelitian lain. Oleh karena itu paper ini bertujuan menjelaskan tentang pentingnya metode di dalam struktur penulisan artikel jurnal ilmiah. Secara khusus dipaparkan secara deskriptif dan topikal beberapa metode yang umum dirujuk dalam penelitian teologis. Kesimpulan yang diperoleh adalah, dengan pemahaman yang benar tentang metode penelitian, dosen atau peneliti dapat menghasilkan karya penelitian teologis yang dapat dipertanggungjawabkan validitasnya secara akademik. Kontribusi penelitian: Paper ini memberikan wawasan kepada dosen dan peneliti di dalam menulis dan merumuskan metode dalam paper jurnal ilmiah dan menyumbang materi dalam penulisan karya ilmiah.
Miyea Hemboni: Pendekatan, Pendampingan, dan Konseling Budaya Masyarakat Adat Suku Sentani Elise Litaay
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 4, No 1 (2021): September 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v4i1.136

Abstract

The value of solidarity is an approach, mentoring and counseling that can be found in the payment of Miyea Hemboni in the indigenous peoples of the Sentani tribe. The purpose of this research is to find out why, Miyea Hemboni is carried out in the marriage of the indigenous people of the Sentani tribe, and an understanding of Miyea Hemboni provides a model of approach, mentoring and counseling. The research method used is qualitative research methods and data obtained through interviews and literature study. Which is oriented towards the Sentani customary area. Interviews with several informants as historical actors. The results obtained from this research are that Miyea Hemboni can be used as an approach, mentoring, and counseling for the indigenous peoples of the Sentani tribe as a foundation of philosophy and cultural values of solidarity because it contains socio-cultural values of the community which are described as follows: Gotong Royong (Pulhauw) , Togetherness (Aka mbai, Peaka mbai), Brotherhood (Ria mbai), Baku help (Rekey Hakoy), One heart (Kenambai umbai).Nilai solidaritas adalah sebuah pendekatan, pendampingan dan konseling yang dapat ditemukan dalam pembayaran Miyea Hemboni dalam masyarakat adat suku Sentani. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui mengapa Miyea Hemboni dilaksanakan dalam perkawinan masyarakat adat suku Sentani, serta pemahaman terhadap Miyea Hemboni memberikan model pendekatan, pendampingan dan konseling. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dan data yang diperoleh melalui wawancara dan studi pustaka. Yang berorientasi pada wilayah adat Sentani. Wawancara terhadap beberapa informan sebagai pelaku sejarah. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah Miyea Hemboni dapat dijadikan sebagai pendekatan, pendampingan, dan konseling masyarakat adat suku Sentani sebagai landasan filosofi dan nilai-nilai budaya solidaritas karena, mengandung nilai-nilai sosial budaya masyarakat yang dideskripsikan sebagai berikut : Gotong Royong  (Pulhauw),  Kebersamaan (Aka mbai, Peaka mbai), Persaudaraan (Ria mbai), Baku bantu (Rekey Hakoy), Satu hati  (Kenambai umbai).