cover
Contact Name
Sri Sugiarsi, SKM, M.Kes
Contact Email
sri.sugiarsi14@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalmiki@ymail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. karanganyar,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia (JMIKI)
ISSN : 2337585X     EISSN : 23376007     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia (JMIKI) diterbitkan oleh Asosiasi Perguruan Tinggi Rekam Medis dan Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia (APTIRMIKI) bekerjasama dengan Perhimpunan Profesional Perekam Medis dan Informasi Kesehatan Indonesia(PORMIKI). JMIKI diterbitkan 2 kali dalam satu tahun ( Maret dan Oktober). Jurnal ini menerbitkan hasil penelitian (original) tentang Rekam Medis dan Manjemen Informasi Kesehatan, terutama dalam studi manajemen informasi kesehatan, Klasifikasi Kodifikasi Penyakit dan Tindakan, Sistem Informasi Kesehatan, Teknologi Informasi Kesehatan, Manajemen Mutu Informasi Kesehatan.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 2 (2013)" : 12 Documents clear
KETERISIAN DAN KEAKURATAN PENULISAN KODE ICD-10 (INTERNATIONAL STATISTICAL CLASSIFICATION OF DISEASES AND RELATED HELATH PROBLEM TENTH REVISION) TERHADAP DIAGNOSIS UTAMA DI POLI BEDAH RUMAH SAKIT BAPTIS BATU Faiqatul Hikmah; Rosalina Adi Wijayantin; Yonica Putra Rahmadtullah
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia (JMIKI) Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Asosiasi Perguruan Tinggi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Indonesia- APTIRMIKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33560/.v1i2.52

Abstract

ABSTRACKThe hospital is a center of important information about health. As an information center, the hospital is expected to provide precise and accurate information. The accuracy of diagnosis coding akam disease patients are very influential in many respects, therefore, necessary writing diagnosais complete and correct disease, so as to facilitate the process codefication diagnosis based on ICD-10 disease. Researchers want to know more about the completeness and accuracy of disease diagnosis codefication by ICD-10 in Poly Stone Baptist Saki surgical house. The study was conducted in Inpatient Surgical Care and Medical Record Part Stone Baptist Hospital. This type of research is conducted by researchers dekskriptif is by analyzing the data and presenting the facts in a systematic way so that it can be easier to understand.Method used is the method of observation with Cross-Sectional approach. Observations made on the document Inpatient medical records of surgical patients Baptist Hospital Rock in January-March of 2013. From the results of a study of 71 data, the occupancy number of diagnoses and ICD-10 code medical records document the period January-March 2013 Inpatient Surgical Care RSBB complete the calculation in January 16 document medical records, February 29, and March 26, full-filled with a percentage of 100%, while the diagnosis is incomplete or not filled with as much as 0 percent 0% sample. Number of ICD-10 codes inaccuracies highest in January is by percentage of 19%, then in the second position in February with the percentage of 17% and 12% in March. There were five major diseases diagosis first quarter of 2013 in the Inpatient Surgical Poly Ca mammary RSBB is 15%, 13% inguinal hernia, acute appendicitis 11%, Multiple soft tissue lipomas 8%, 3% Benign mammary dysplasia.From the comparison of the percentages can be seen that charging the diagnosis of diseases in Poly Stone Baptist Hospital Surgical already filled out completely, but there are still some code that does not accurately diagnose illness. Factors affecting disease diagnosis inaccuracies codefication not entirely influenced by knowledge of medical officers and officers in the medical record coding, but also accuracy in recording. Therefore there needs to be an agreement of physicians, nurses poly, and personnel records medi sdalam writing code diagnosis and disease diagnosis charging properly, resulting in a diagnosis code is appropriate and accurate.Keyword: OCCUPANCY, ACCURACY, ICD-10, DIAGNOSIS OF MAJOR SURGERY
PERANCANGAN ULANG RUANG FILING BERDASARKAN ILMU ERGONOMI DI RUMAH SAKIT PANTI RINI KALASAN Rahmi Primagusti Suardi; Savitri Citra Budi
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia (JMIKI) Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Asosiasi Perguruan Tinggi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Indonesia- APTIRMIKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33560/.v1i2.48

Abstract

ABSTRACKManagement of medical records file storage in Panti Rini Hospital Kalasan irregular, causing difficulty in the search. From the interview at the time that the information obtained preliminary study Panti Rini Hospital Kalasan plan combines two active file storage space. From the above considerations the designer plans to redesign the effective storage space, comfortable, safe, healthy, and efficient based on the principles of ergonomics in Panti Rini Hospital Kalasan both for officers and file.The theme used in this design is the design of the interior space science filing related to ergonomics are good and true. The idea of re-designing the interior design of the space to suit filing ergomoni science, in order to create space filing a healthy, safe, and convenient for users. Design phase consists of: 1) identification, 2) Pre-design, and 3) design.Pre-Design Phase: The storage space on the active medical record file Panti Rini Hospital Kalasan divided into 2 with a room size measuring 7.5 m x 2.9 m, while the B measuring 4m x 1,4 m. A room there are 6 open shelves, 6 lights and 5 lights on the side, this room has only one entrance and exit vents 5 small corner of the room as a place of entry of the light, and there is no Air Conditioning (AC) and the fan in this room. Space B there are 2 open shelves, 2 lights on, 7 small vents, and 2 window and found no air conditioning or fan. The design phase consists of: 1) Calculate the amount of shelving needs for 5 years showed 10 racks. 2) Determine the appropriate shelf generated based upon the principles of ergonomics open shelving with metal shelves specification of Brother Metal Model B-902 which is modified into a metal rack 2 face models. This model has a metal rack 180 cm tall, the average height of Indonesia has a range of 150 cm and 30 cm hand up so if you want to take a file that does not need to top up the stairs, and it reduces the risk of accidents on the medical records clerk. Their respective shaft height is 36 cm, is adapted to the shape of the existing medical record file at Panti Rini Hospital Kalasan measuring 30 cm long and 22 cm high.Keywords: redesign, storage space, design, storage racks, file medical records
ANALISIS PELAKSANAAN VISUM ET REPERTUM DI RSUD KARANGANYAR Novita Yuliani; Afra Muhamed Saleh Banaja
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia (JMIKI) Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Asosiasi Perguruan Tinggi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Indonesia- APTIRMIKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33560/.v1i2.53

Abstract

ABSTRAKFormulir rekam medis yang sering digunakan untuk alat bukti hukum yaitu Visum et Repertum. Rekam medis tidak dapat menggantikan kedudukan Visum et Repertum sebagai alat bukti yang sah dalam perkara pidana, karena kedudukan Visum et Repertum lebih kuat daripada rekam medis di mata hukum. Oleh karena itu, penulis ingin mengetahui bagaimana prosedur pelepasan informasi medis untuk keperluan Visum et Repertum di RSUD Karanganyar.Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif, dengan Identifikasi Variabel yaitu prosedur pelaksanaan, jenis, pihak, bentuk, dokter dan lama permintaan Visum et Repertum. Populasi dan sampel studi pada penelitian ini yaitu seluruh informasi yang terkait dengan masalah Visum et Repertum dan data informasi mengenai prosedur pelepasan Visum et Repertum sebanyak 63 kasus pada tahun 2012 dengan sampel jenuh. Menggunakan metode survey dengan cara melakukan observasi dan wawancara melalui pendekatan cross sectional.Berdasarakan penelitian yang dilakukan oleh penulis diperoleh hasil, prosedur pelepasan informasi medis Visum et Repertum, jenis permintaannya, pihak yang diperbolehkan meminta, bentuk permintaannya, dokter yang melakukan pemeriksaan dan lama proses Visum et Repertum, hal tersebut tidak bertentangan dengan aturan yang berlaku di Indonesia.Dari penelitian tersebut diketahui bahwa RSUD Karanganyar sudah memiliki kebijakan dalam pembuatan Visum et Repertum, pelayanan terhadap permintaan Visum et Repertum sudah sesuai dengan protap yang ada di RSUD Karanganyar.Kata Kunci: Pelepasan Informasi Medis, Visum et Repertum
PERENCANAAN KEBUTUHAN TENAGA REKAM MEDIS DENGAN METODE WORKLOAD INDICATORS OF STAFFING NEED (WISN) DIPUSKESMAS GONDOKUSUMAN II KOTA YOGYAKARTA Lily Widjaya; Siswati Siswati
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia (JMIKI) Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Asosiasi Perguruan Tinggi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Indonesia- APTIRMIKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33560/.v1i2.44

Abstract

ABSTRAKPuskesmas adalah usaha pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja. Sebagai bentuk pertanggungjawaban dalam manajemen puskesmas maka puskesmas harus melaksanakan manajemen rekam medis yang efektif dan efisien da(am memberikan pe(ayanan kesehatan. Dengan terpenuhinya jum(ah petugas rekam medis yang sesuai dengan uraian pekerjaannya maka pelayanan akan menjadi lebih maksimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui uraian pekerjaan dan jumlah kebutuhan petugas rekam medis di Puskesmas Gondokusuman II Kota Yogyakarta dengan menggunakan metode Workload Indicator Staff Need (WISN).Penelitian ini merupakan studi kasus yang bersifat deskriptif kualitatif dengan pendekatan induktif. Pengambilan data dilakukan dengan metode observasi, wawancara, dan studi dokumentasi.Hasil penelitian berupa uraian kegiatan tenaga pendaftaran dan pengelolaan rekam medis di Puskesmas Gondokusuman II yang secara garis besar meliputi kegiatan registrasi pasien serta pengelolaan rekam medis. Selain itu, tenaga pendaftaran dan rekam medis juga turut serta dalam kegiatan rapat, lokakarya serta seminar di bidang rekam medis.Berdasarkan basi( perbitungan kebutuban SDM dengan metode WISN, kebutuban tenaga pendaftaran dan rekam medisyang ideal di Puskesmas Gondokusuman II adalah sejumlah 5 orang. Dengan jum(ab tenaga saat ini yang banya 3 orang maka diper(ukan penambaban sebanyak 2 orang.Tentu saja, penambaban SDM tersebutjuga dengan mempertimbangkan kua(ifikasi dan kompetensi tenaga di bidang rekam medis agar tertib administrasi pada pengelolaan rekam medis semakin baik.Kata Kunci : Puskesmas, rekam medis, kebutuhan SDM, WISN
ANALISIS KEAKURATAN KODE DIAGNOSIS FRACTURE FEMUR PADA DOKUMEN REKAM MEDIS PERIODE TAHUN 2012 DI RSUD TIDAR KOTA MAGELANG Asih Prasetyowati
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia (JMIKI) Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Asosiasi Perguruan Tinggi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Indonesia- APTIRMIKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33560/.v1i2.49

Abstract

ABSTRAKTujuan pene(itian ini ada(ah untuk mengetahui keakuratan kode diagnosis fractur femur. Jenis pene(itian yang dilakukan adalah penelitian deskrptif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh dokumen rekam medis dengan diagnosis fracture femur periode tahun 2012. Besar sampe( ada(ah 44 dokumen rekam medis yang diambil dengan teknik accidental sampling. Metode pengumpu(an data dengan cara observasi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kode diagnosis fracture femur pada seluruh dokumen rekam medis atau 100% tidak akurat. Ha( ini disebabkan karena petugas tidak menu(iskan kode diagnosis fracture femur hingga karakter kelima, pemilihan kode untuk multiple fracture menggunakan kode multiple body regions, hanya menggunakan buku bantu dalam pengodean.Upaya yang dapat dilakukan dalam penulisan kode yang benar adalah dengan cara melakukan langkah-langkah yang menye(uruh da(am mencari dan menentukan kode dengan menggunakan ICD-10.Simpulan dalam penelitian ini adalah penulisan kode pada diagnosis fracture femur tidak ditulis hingga karakter kelima sehingga dapat diketahui fracture yang terjadi adalah open fracture atau closed fracture.Kata kunci          : Keakuratan, Fracture femur, ICD-10Kepustakaan       : 10 (2001-2010)ABSTRAKTujuan pene(itian ini ada(ah untuk mengetahui keakuratan kode diagnosis fractur femur. Jenis pene(itian yang dilakukan adalah penelitian deskrptif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh dokumen rekam medis dengan diagnosis fracture femur periode tahun 2012. Besar sampe( ada(ah 44 dokumen rekam medis yang diambil dengan teknik accidental sampling. Metode pengumpu(an data dengan cara observasi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kode diagnosis fracture femur pada seluruh dokumen rekam medis atau 100% tidak akurat. Ha( ini disebabkan karena petugas tidak menu(iskan kode diagnosis fracture femur hingga karakter kelima, pemilihan kode untuk multiple fracture menggunakan kode multiple body regions, hanya menggunakan buku bantu dalam pengodean.Upaya yang dapat dilakukan dalam penulisan kode yang benar adalah dengan cara melakukan langkah-langkah yang menye(uruh da(am mencari dan menentukan kode dengan menggunakan ICD-10.Simpulan dalam penelitian ini adalah penulisan kode pada diagnosis fracture femur tidak ditulis hingga karakter kelima sehingga dapat diketahui fracture yang terjadi adalah open fracture atau closed fracture.Kata kunci          : Keakuratan, Fracture femur, ICD-10Kepustakaan       : 10 (2001-2010)
ANALISIS EFISIENSI PELAYANAN RAWAT INAP BERDASARKAN GRAFIK BARBER JOHNSON PADA BANGSAL KELAS III DI RSUD PANDAN ARANG BOYOLALI PERIODE TRIWULAN TAHUN 2012 Imas Masturoh; Siti Khotimah; Novita Nuraini
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia (JMIKI) Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Asosiasi Perguruan Tinggi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Indonesia- APTIRMIKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33560/.v1i2.54

Abstract

ABSTRAKPenghitungan empat parameter Grafik Barber Johnson sangat diperlukan untuk mengukur efisiensi pelayanan rumah sakit. Di RSUD Pandan Arang Boyolali angka kunjungan rawat inap bangsal kelas III tahun 2012 sebanyak 3947 pasien danjumlah pasien keluar 3922 pasien, banyak pasien rawat inap yang tidak mendapatkan tempat tidur pada bangsal tersebut dan sementara di ditempatkan di Instalasi gawat darurat (IGD). Tujuan penelitian untuk mengetahui tingkat efisiensi pelayanan rawat inap pada bangsal kelas III periode triwulan tahun 2012 berdasarkan Grafik Barber Johnson.Jenis penelitian adalah deskriptif dengan pendekatan retrospektif. Cara pengumpulan data dengan observasi dan wawancara. Populasi adalah Rekapitulasi Sensus harian rawat inap (SHRI) Periode Triwulan Tahun 2012 di RSUD Pandan Arang dengan teknik pengambilan sampel teknik samplingjenuh dan analisisnya deskriptif kuantitatif.Pada Bangsal kelas III periode triwulan I tahun 2012 pertemuan keempat parameter yang memasuki daerah efisiensi adalah Bangsal Cempaka III sedangkan BangsalAnggrek dan Bougenfil berada diluar daerah efisiensi. Triwulan II pertemuan keempat parameter yang memasuki daerah efisiensi adalah Bangsal Cempaka III sedangkan Bangsal Anggrek dan Bougenfil berada diluar daerah efisiensi. Triwulan III pertemuan keempat parameter yang memasuki daerah efisiensi adalah Bangsal Bougenfil dan Cempaka III sedangkan Bangsal Anggrek berada diluar daerah efisiensi. Triwulan IV pertemuan keempat parameter yang memasuki daerah efisiensi adalah Bangsal Bougenfil sedangkan BangsalAnggrek dan Cempaka III berada diluar daerah efisiensi..Di sarankan perelokasian tempat tidur pada Bangsal kelas III kususnya bangsal Anggrek supaya pelayanan kepada pasien dapat maksimal serta penggunaan tempat tidur menjadi efisiensi.Kata Kunci         : Statistik Kesehatan, Grafik Barber JohnsonKepustakaan       : 10 (1994 – 2010)
TINJAUAN KETEPATAN TERMINOLOGI MEDIS DALAM PENULISAN DIAGNOSIS PADA LEMBARAN MASUK DAN KELUAR DI RSU JATI HUSADA KARANGANYAR Nurhasanah Nasution; Rahmi Septia Sari
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia (JMIKI) Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Asosiasi Perguruan Tinggi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Indonesia- APTIRMIKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33560/.v1i2.50

Abstract

ABSTRAKTerminologi Medis merupakan ilmu peristilahan medis sebagai sarana komunikasi antar tenaga kesehatan. Diagnosis seharusnya ditulis dengan terminologi medis yang tepat, memiliki nilai informatif sehingga membantu petugas koding melakukan pengkodean penyakit sesuai ICD.. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui ketepatan terminologi medis dalam penulisan diagnosis pada Lembaran Masuk dan Keluar di RSU Jati Husada Karanganyar.Jenis Penelitian ini deskriptif dengan pendekatan retrospektif. Populasi dalam penelitian ini adalah 250 dokumen rekam medis di RSU Jati Husada bulan Januari 2013. Besar sampel yang digunakan 62 Lembaran Masuk dan Keluar bulan Januari 2013. Teknik pengambilan sampling dengan sistematis sampling. Analisis data menggunakan analisis deskriptif.Hasil penelitian menunjukkan penulisan diagnosis pada Lembaran Masuk dan Keluar ketepatan penggunaan singkatan menurut terminologi medis sebesar 17 (21.79%) dan ketidaktepatan penggunaan singkatan sebesar 23 (29.49%). Ketepatan penggunaan istilah sebesar 31(39.74%) dan ketidaktepatan penggunaan istilah sebesar 7 (8.98%).Hasil penelitian dapat disimpulkan dalam penulisan diagnosis pada Lembaran Masuk dan Keluar masih ada penulisan diagnosis yang tidak tepat menurut terminologi medis. Ketidaktepatan penggunaan istilah berdasarkan terminologi medis sebesar 31(39.74%) dan ketidaktepatan penggunaan singkatan sebesar 23 (29.49%). Disarankan diadakan sosialisasi tentang penggunaan istilah dan singkatan yang tepat menurut terminologi medis dalam penulisan diagnosis.Kata Kunci                        : Ketepatan Penggunaan Terminologi MedisKepustakaan       : 14 (2000 - 2012)
TINJAUAN FITUR KEAMANAN DATA PASIEN PADA SISTEM INFORMASI RAWAT JALAN BERBASIS KOMPUTERISASI DI BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT SURAKARTA TAHUN 2013 Reni Chairunnisah; Noor Alamsyah; Helmina Andriani; Syamsuriansyah Syamsuriansyah
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia (JMIKI) Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Asosiasi Perguruan Tinggi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Indonesia- APTIRMIKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33560/.v1i2.55

Abstract

ABSTRAKKeamanan data (security) merupakan metode proteksi atau sistem terhadap akses atau modifikasi yang sah, dari survey pendahuluan pada keamanan data menunjukkan bahwa belum adanya pengunci (fitur keamanan data) dalam sistem yang digunakan, sehingga akan menimbulkan ancaman seperti gaguan natur, technical dan faktor pencurian data terhadap privasi dan security dokumen semakin besar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana fitur keamanan data pasien pada sistem rawat jalan berbasis komputerisasi di Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat Surakarta.Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif, obyek dalam penelitian ini adalah sistem informasi menajemen kesehatan, sedangkan subjek yang digunakan adalah admin, operator, dan pihak manajemen. Teknik yang digunakan dalam cara pengumpulan data adalah dengan observasi dan wawancara.Keamanan data di BBKPM Surakarta dalam hal otentikasi petugas mempunyai hak untuk mengubah password, dalam hal otorisasi petugas mempunyai hak untuk mengakses menu yang berbeda, fitur integritas pada item data sudah adapembeda, pada fitur penelususranjejak simkes mampu mencari data dan sudah ada menu history yang memuat berbagai aktivitas pengguna, pada fitur pemulihan pasca bencana sistem pernah eror ketika mati listrik dan belum ada uninterruptible power supply (UPS) untuk menanggulanginya, penyimpanan data pada simkes menggunakan 2 media yaitu hardisk utama dan hardisk eksternal, manfaat dari fitur kamanan ini adalah untuk menanggulangi ancaman dari berbagai gangguan seperti human eror, natur, technical dan factorkesengajaan.Dari hasil kegiatan dapat disarankan untuk pihak BBKPM membuat prosedur protap tentang keamanan SIMKES, upaya menambahkan sistem automatic logout, menambahkan alat genset automatic sehingga bila terjadi mati listrik tidak mengganggu proses pelayanan, dan diharapkan untuk meningkatkan sistem keamanan agar pengguna merasa nyaman dalam menggunakan sistem.Kata kunci : Keamanan Data SIMKESKepustakaan : 12 (1999-2008)
STRATEGI IMPLEMENTASI KURIKULUM INTI PROGRAM DIPLOMA III REKAM MEDIS DAN INFORMASI KESEHATAN - Nuryati; Nur Rokhman
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia (JMIKI) Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Asosiasi Perguruan Tinggi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Indonesia- APTIRMIKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33560/.v1i2.46

Abstract

ABSTRAKBerdasarkan UU No 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi dinyatakan bahwa Kurikulum pendidikan tinggi merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan ajar serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan Pendidikan Tinggi. Sedangkan berdasarkan Kepmendiknas No. 045 tahun 2002 tentang Kurikulum Inti Perguruan Tinggi menyatakan bahwa kurikulum inti merupakan penciri dari kompetensi utama serta sebagai dasar untuk mencapai kompetensi lulusan. Tujuan dari penelitian ini adalah bagaimana implementasi kurikulum inti di Program Diploma III Rekam Medis Sekolah Vokasi serta faktor yang mendukung dan menghambat dalam implementasi dan bagaimana strategi yang dilakukan.Penelitian ini termasuk penelitian lapangan (penelitian deskriptif kualitatif) dengan metode pengumpulan data melalui wawancara, observasi, studi dokumentasi dan studi kepustakaan. Sedangkan analisis datanya dengan pendekatan induktif.Program Diploma III Rekam Medis Sekolah Vokasi UGM telah mengimplementasikan kurikulum berdasarkan kurikulum inti yang dikeluarkan oleh Kepala Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan Nomor: HK.02.05/ I/III/2/08661/2011 Tentang Kurikulum Inti Program Pendidikan Diploma III Rekam Medis dan Informasi Kesehatan sejak Tahun Ajaran 2012/2013 atau Agustus 2012. Langkah-langkah implementasi dimulai dari pemetaan kurikulum, pembenahan secara internal dan sosialisasi kepada seluruh dosen serta organisasi profesi dan stakeholder. Permasalahan terjadi terkait peralihan kurikulum serta sudah ada strategi yang diupayakan untuk mengatasi permasalahan yang ada. Key word: implementasi, kurikulum, rekam medis
Analisis Perbedaan Klaim INA-CBGs Berdasarkan Kelengkapan Data Rekam Medis Pada Kasus Emergency Sectio Cesaria trimester I tahun 2013 di RSUD KRT Setjonegoro Kabupaten Wonosobo Uswatun Hasanah; Eni Mahawati; Dyah Ernawati
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia (JMIKI) Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Asosiasi Perguruan Tinggi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Indonesia- APTIRMIKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33560/.v1i2.51

Abstract

ABSTRAKINA-CBGs adalah sistem software yang digunakan dalam pembayaran klaim jamkesmas, dengan skema pembiayaan yang digunakan adalah casemix sehingga yang menjadi perhatian utama adalah bauran kasus, diagnosis utama, dan prosedur utama yang menj adi acuan untuk menghitung biaya pelayanan. Berdasarkan evaluasi pada studi pendahuluan di RSUD KRT Setjonegoro padabulan Januari 2013 untuk kasus emergency sectio cesaria (sc) terdapatperbedaanjumlahklaim (4,08%) dan severity level (34,92%) berdasarkan kelengkapan data rekam medis.Metode penelitian ini menggunakan pendekatan evaluatif dan analitik dengan jumlah sampel penelitian sebesar 126 dokumen rekam medis. Data primer dikumpulkan dengan menelusuri dan menelaah dokumen rekam medis untuk pasien j amkesmas dengan kasus sc dan melakukan pengamatan menggunakan pedoman pelaksanaan, aplikasi software INA-CBGs, lCD 10 dan lCD 9 CM serta data ketidaklengkapan pencatatan dokumen rekam medis. Berdasarkan basil penelitian ditemukan 45% dokumen rekam medis untuk kasus sc tidak lengkap (riwayat penyakit pasien, tanda tangan operator operasi, hasil konsultasi, laporan pemeriksaan penunjang, diagnosa sekunder dan tanda tangan DPJP) di mana hal tersebut berpengarub terbadap besaran klaim berdasarkan isian resume medis dan didapatkan perbedaab jumlah klaim setelah dilakukan entry data berdasarkan dokumen rekam medis (6,34% atau 23.988.179,00) dan perbedaan severity level (31,75%) apabila dilakukan evaluasi menggunakan data rekam medis.Hasil uji statistik untuk beda klaim menggunakan Wilcoxon diketabui adanya perbedaan signifikan antara severity level sebelum dan setelah data rekam medis dilengkapi (pvalue 0,000). Terbukti juga adanya perbedaan sigifikan antara jumlab klaim sebelum dan setelab data rekam medis dilengkapi (pvalue 0,000). Faktor - faktor yang terbukti secara statistik berbubungan signifikan dengan perbedaan besaran klaim adalab ketelitian koder (pvalue 0,000) dan kelengkapan diagnosa sekunder (pvalue 0,000). Sedangkan faktor lain yang belum terbukti berhubungan secara statistik dengan perbedaan jumlah klaim adalah software INA-CBGs (pvalue 0,053) dan prosedur entry (p value 0,053).Kata kunci : INA-CBGs,jamkesmas, sectio cesaria, rekammedis,DifferencesINA-CBGsclaimsbasedont*ecompleteness ofmedical records in case of emergency cesarean sectio first trimester of2013 at RSUD KRT Setjonegoro Wonosobo.ABSTRACTINA-CBGs is a software system that is used in the payment of claims jamkesmas, financing scheme used is casemix so the main concern is the mix of cases, primary diagnosis and principal procedure which is used to calculate the service charge. Evaluation based on a preliminary studi in RSUD KRT. Setjonegoro in January 2013 in the case of emergency cesarean sectio there are differences in the amount of claims (4,08%) and the severity level (34,92%) based on the completeness of medical records.This research method using analytic and evaluative approach to the total sample of 126 medical records document. Primary data were collected by tracking and reviewing medical records to document patient health card with cesarean section case and make observations using the implementation guidelines (manlak), INA-CBGs software applications, ICD 10 and ICD 9 CM and incompleteness of data recording medical record documents.Based on the results study found 45% of medical record documents for the case of incomplete sc (history of the disease the patient, operator signature operations, the results of the consultation, investigation reports, secondary diagnosis and signature DPJP) where it affects the amount of a claim based on medical resume stuffing and obtained different result number (6, 34% or 23.988.179,00) and severity level (31,75%) when evaluated using medical records. Statistical test results using wilcoxon test known sign i0cant differences between severity levels before and after the medical records completed (p value 0.000) . Sign i0cant differences also proved between the amount of claims before and after the medical records completed ( p value 0.000 ) . Factors that proved to be sign i0cant statistically associated with differences of the amount of claim is the coder accuracy (p value 0.000 ) and completeness secondary diagnoses (p value 0.000 ) . While other factors were not enough statistical evidence related to the differences the amount of claims were software INA - CBGs ( p value 0.053 ) and entry procedures ( p value 0.053 ) . Suggestions for improvements that PJSN team engage in training on the INA - CBGs software , the doctors and paramedics on the completeness of clinical data as a basis for claims of INA - CBGs pattern , making SPO coder must review the provisions of DRM , especially for cases with different claims are too high and give feedback to the team National Casemix Centre ( NCC ) on some cases to improve software INA - CBGs .Keywords : INA-CBGs, jamkesmas, sectio caesarea, medical recordABSTRAKINA-CBGs adalah sistem software yang digunakan dalam pembayaran klaim jamkesmas, dengan skema pembiayaan yang digunakan adalah casemix sehingga yang menjadi perhatian utama adalah bauran kasus, diagnosis utama, dan prosedur utama yang menj adi acuan untuk menghitung biaya pelayanan. Berdasarkan evaluasi pada studi pendahuluan di RSUD KRT Setjonegoro padabulan Januari 2013 untuk kasus emergency sectio cesaria (sc) terdapatperbedaanjumlahklaim (4,08%) dan severity level (34,92%) berdasarkan kelengkapan data rekam medis.Metode penelitian ini menggunakan pendekatan evaluatif dan analitik dengan jumlah sampel penelitian sebesar 126 dokumen rekam medis. Data primer dikumpulkan dengan menelusuri dan menelaah dokumen rekam medis untuk pasien j amkesmas dengan kasus sc dan melakukan pengamatan menggunakan pedoman pelaksanaan, aplikasi software INA-CBGs, lCD 10 dan lCD 9 CM serta data ketidaklengkapan pencatatan dokumen rekam medis. Berdasarkan basil penelitian ditemukan 45% dokumen rekam medis untuk kasus sc tidak lengkap (riwayat penyakit pasien, tanda tangan operator operasi, hasil konsultasi, laporan pemeriksaan penunjang, diagnosa sekunder dan tanda tangan DPJP) di mana hal tersebut berpengarub terbadap besaran klaim berdasarkan isian resume medis dan didapatkan perbedaab jumlah klaim setelah dilakukan entry data berdasarkan dokumen rekam medis (6,34% atau 23.988.179,00) dan perbedaan severity level (31,75%) apabila dilakukan evaluasi menggunakan data rekam medis.Hasil uji statistik untuk beda klaim menggunakan Wilcoxon diketabui adanya perbedaan signifikan antara severity level sebelum dan setelah data rekam medis dilengkapi (pvalue 0,000). Terbukti juga adanya perbedaan sigifikan antara jumlab klaim sebelum dan setelab data rekam medis dilengkapi (pvalue 0,000). Faktor - faktor yang terbukti secara statistik berbubungan signifikan dengan perbedaan besaran klaim adalab ketelitian koder (pvalue 0,000) dan kelengkapan diagnosa sekunder (pvalue 0,000). Sedangkan faktor lain yang belum terbukti berhubungan secara statistik dengan perbedaan jumlah klaim adalah software INA-CBGs (pvalue 0,053) dan prosedur entry (p value 0,053).Kata kunci : INA-CBGs,jamkesmas, sectio cesaria, rekammedis,DifferencesINA-CBGsclaimsbasedont*ecompleteness ofmedical records in case of emergency cesarean sectio first trimester of2013 at RSUD KRT Setjonegoro Wonosobo.ABSTRACTINA-CBGs is a software system that is used in the payment of claims jamkesmas, financing scheme used is casemix so the main concern is the mix of cases, primary diagnosis and principal procedure which is used to calculate the service charge. Evaluation based on a preliminary studi in RSUD KRT. Setjonegoro in January 2013 in the case of emergency cesarean sectio there are differences in the amount of claims (4,08%) and the severity level (34,92%) based on the completeness of medical records.This research method using analytic and evaluative approach to the total sample of 126 medical records document. Primary data were collected by tracking and reviewing medical records to document patient health card with cesarean section case and make observations using the implementation guidelines (manlak), INA-CBGs software applications, ICD 10 and ICD 9 CM and incompleteness of data recording medical record documents.Based on the results study found 45% of medical record documents for the case of incomplete sc (history of the disease the patient, operator signature operations, the results of the consultation, investigation reports, secondary diagnosis and signature DPJP) where it affects the amount of a claim based on medical resume stuffing and obtained different result number (6, 34% or 23.988.179,00) and severity level (31,75%) when evaluated using medical records. Statistical test results using wilcoxon test known sign i0cant differences between severity levels before and after the medical records completed (p value 0.000) . Sign i0cant differences also proved between the amount of claims before and after the medical records completed ( p value 0.000 ) . Factors that proved to be sign i0cant statistically associated with differences of the amount of claim is the coder accuracy (p value 0.000 ) and completeness secondary diagnoses (p value 0.000 ) . While other factors were not enough statistical evidence related to the differences the amount of claims were software INA - CBGs ( p value 0.053 ) and entry procedures ( p value 0.053 ) . Suggestions for improvements that PJSN team engage in training on the INA - CBGs software , the doctors and paramedics on the completeness of clinical data as a basis for claims of INA - CBGs pattern , making SPO coder must review the provisions of DRM , especially for cases with different claims are too high and give feedback to the team National Casemix Centre ( NCC ) on some cases to improve software INA - CBGs .Keywords : INA-CBGs, jamkesmas, sectio caesarea, medical record

Page 1 of 2 | Total Record : 12