cover
Contact Name
Abdul Haris
Contact Email
aries.abdulharis957@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
aries.abdulharis957@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. sumbawa,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Al-Munawwarah : Jurnal Pendidikan Islam
ISSN : 20888503     EISSN : 26218046     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
FOKUS AL-MUNAWWARAH : Jurnal Pendidikan Islam memuat kajian-kajian pendidikan Islam baik itu berkenaan dengan strategi pembelajaran pendidikan Islam, dan manajemen kelembagaan pendidikan Islam, pendidik dan tenaga kependidikan pendidikan Islam, dan kepemimpinan dalam lembaga pendidikan Islam.
Arjuna Subject : -
Articles 87 Documents
Manajemen Gugus Paud dalam Meningkatkan Kompetensi Profesional Guru PAUD di Gugus 1 PAUD Desa Kalijaga Kabupaten Lombok Timur Ittihad Ittihad
Al-Munawwarah : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 10 No. 2 (2018): September
Publisher : LP3M Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Wathan SAMAWA SUMBAWA BESAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.015 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan manajemen gugus PAUD, yang meliputi: Perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan evaluasi program. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan rancangan studi kasus.Data diperoleh melalui tehnik wawancara, observasi, dan dokumentasi.Data dianalisis dengan analisis interaktif melalui reduksi data, penyajian data, kesimpulan atau verifikasi. Hasil penelitian disimpulkan yaitu: Pertama, Perencanaan gugus PAUD :(1) Merumuskan dan menetapkan program gugus, perencanaan program KKG, perencanaan program KKKP untuk jangka waktu 1 tahun, (2) Perencanaan anggaran pendapatan dan belanja Gugus belum efektif masih perlu ditingkatkan lagi sumber dananya. Kedua, (1) pengorganisasian gugus PAUD meliputi kegiatan, pembuatan struktur organisai gugus, sudah sesuai petunjuk (2) penentuan dan penetapan mekanisme kerja gugus cukup efektif. Ketiga, Pelaksanaan program gugus PAUD : (1) Pelaksanaan program gugus melalui kegiatan gugus, kegiatan KKG, kegiatan KKKP sudah efektif tetapi belum optimal, (2) sistem pembinaan profesional sudah efektif . Keempat, Evaluasi program gugus PAUD sudah efektif namun perlu adanya laporan hasil evaluasi secara tertulis dan feed back dari lembaga yang mengevaluasi program demi perbaikan pelaksanaan program.
Model Internalisasi Budaya Islami pada Anak di Lingkungan Keluarga main din
Al-Munawwarah : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 10 No. 2 (2018): September
Publisher : LP3M Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Wathan SAMAWA SUMBAWA BESAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.313 KB)

Abstract

Manusia adalah makhluk Allah Swt di bumi dengan segala potensi yang dianugerahkan kepadanya, ia mampu membangun budaya (segala hasil dari cipta, karsa dan rasa). Namun tidak setiap budaya yang dibangunnya itu sesuai dengan ajaran al-Islam yang Allah Swt turunkan dari langit. Sehingga manusia sebagai makhluk di bumi harus menyesuaikan budaya yang dibangun itu dengan ajaran al-Islam yang bersumber dari langit, baik yang berkaitan dengan prinsip aqidah, ibadah maupun akhlak. Adapun bentuk upaya penyesuaian yang dilakukan manusia, berupa: (1) membudayakan al-Islam dan (2) meng-Islam-kan budaya (jika sudah terbentuk budaya). Dari kedua upaya ini, maka muncul Budaya Islami. Salah satu lingkungan yang berpengaruh besar dalam internalisasi budaya Islami pada anak adalah lingkungan keluarga. Adapun model internalisasi yang hendak digagas berupa: (1) tujuan internalisasi budaya Islami, yaitu: anak menjadi hamba Allah yang memiliki aqidah yang lurus dan berkepribadian rahmat bagi seluruh alam; (2) program internalisasi budaya Islami (modelling, instruksi, argumentasi, pemberian hikmah, dan berbuatan yang terus-menerus dalam bentuk amal shaleh); dan (3) Evaluasi, dengan melakukan refleksi pada setiap proses dan hasilnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif, dengan studi kepustakaan sebagai teknik dalam mengumpulkan data. Metode penelitian deskriftif merupakan penelitian yang membicarakan beberapa kemungkinan untuk memecahkan masalah aktual dengan cara mengumpulkan, menyusun, mengklasifikasi, menganalisis dan menginterpretasikan data. Studi kepustakaan dilakukan pada dukumen tertulis maupun elektronik. Dokumen tersebut diantaranya buku, jurnal, dan lampiran-lampiran yang berkaitan tentang model internalisasi budaya islami.
Peran Sosial Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Pembinaan Kerukunan Umat Beragama Di SMAN 3 Mataram: Studi Pengembangan Kompetensi Sosial Pendidikan Agama Islam SMAN 3 Mataram Sri Andria Sya'bani
Al-Munawwarah : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 8 No. 1 (2016): Maret
Publisher : LP3M Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Wathan SAMAWA SUMBAWA BESAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.567 KB)

Abstract

Guru adalah makhluk sosial yang dalarn kehidupannya tidak bisa terlepas dari kehidupan sosiaI rnasyarakat dan Iingkungannya. Oleh karena itu guru dituntut untuk memiliki kompotensi sosial yang memadai, terutama halnya yang berkaitan dengan Pendidikan. kaitannya dengan pendidikan yang tidak terbatas pada pembelajaran di sekolah, tetapi juga pada pendidikan yang terjadi dan berlangsung di masyarakat, Dalam pandangan masyarakat sendiri, guru adalah pribadi yang harus sempurna. Setiap ucapan dan tindakannya adalah pelajaran yang harus di dengar dan diteladani. Untuk melakukan peran tugas di masyarakat, guru harus memiliki kompetensi sebagai berikut : (1) mampu berkomunikasi dengan masyarakat, (2) mampu bergaul dan melayani guru-guru yang berbeda Agama dengan baik, (3) mampu mendorong dan menunjang kretivitas masyarakat, dan (4) menjaga emosi dan perilaku yang kurang baik. Lokus penelitian ini adalah Kecamatan Mataram sebagai daerah yang mempunyai kondisi kehidupan beragama yang plural (majemuk). Adapun fokus penelitian adalah tentang peran sosial guru Pendidikan Agama Islam SMAN 3 Mataram dengan umat beragama dan keterlibatannya dalarn membina kerukunan di tengah masyarakat yang plural tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, bersifat deskriptif¬ analitik, lebih memperhatikan proses daripada produk, cenderung menganalisis data secara empiris dan meaning (makna) yang merupakan hal esensial dalam penelitian kualitatif. Sumber data penelitian ini adalah Masyarakat, guru PAI SMAN 3 Mataram, Peserta didik .
Hubungan Antara Tingkat Kontrol Diri dengan Penyesuaian diri terhadap Pergaulan Remaja Syafitri Agustin Nugraha
Al-Munawwarah : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 8 No. 1 (2016): Maret
Publisher : LP3M Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Wathan SAMAWA SUMBAWA BESAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.425 KB)

Abstract

Kontrol diri yang rendah membuat remaja tidak mampu mengatur dan mengarahkan perilakunya sehingga muncul tindakan tidak terkontrol seperti perilaku kenakalan remaja. Perubahan keadaan dari remaja yang seharusnya belajar menjadi remaja yang lebih tertarik melakukan yang berkaitan dengan pergaulan remaja seperti merokok yang berkaitan dengan tinggi-rendah kontrol diri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kontrol diri dengan penyesuaian diri terhadap pergaulan remaja. Penelitian ini dilatar belakangi hasil pengamatan dan pengalaman peneliti sendiri. Penelitian ini berangkat dari ketidakmampuan peserta didik dalam mengontrol dirinya dengan baik saat menyesuaiakan diri pada lingkungan yang baru. Akibatnya peserta didik tidak mampu memusatkan perhatian dengan baik, sering merasa malas untuk sekolah, bertindak tanpa berfikir, bersikap terlalu tegang sehingga tidak bisa berkonsentrasi dalam belajar. Hal tersebut nampak dari kotrol diri peserta didik yang rendah, yang pada akhirnya penyesuaian dirinyapun juga rendah. Kontrol diri adalah seperangkat tingkah laku yang berfokus pada keberhasilan mengubah diri pribadi, keberhasilan menangkal perusakan diri (self-destruction), perasaan mampu pada diri sendiri, perasaan mandiri (autonomy) atau bebas dari pengaruh orang lain, kebebasan menentukan tujuan, kemampuan untuk memisahkan perasaan dan pikiran rasional, serta seperangkat tingkah laku yang berfokus pada tanggungjawab atas diri pribadi. Sedangkan penyesuaian diri dapat dipahami sebagai kemampuan individu dalam mengendalikan pikiran dan perilakunya sesuai kriteria sosial dan hati nuraninya untuk mengatasi hambatan dan rintangan yang terjadi pada proses penyesuaian dirinya, sehingga ia dapat mengambil manfaat dan mendapatkan kepuasan dari setiap usaha dan perilaku yang ditampakkannya. Masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah “Adakah Hubungan Kontrol Diri Dengan Penyesuaian Diri Peserta Didik Kelas X SMAN 4 Sumbawa Besar Tahun Pelajaran 2016/2017”. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif serta instrumen yang digunakan adalah angket dengan subyek penelitian ialah peserta didik kelas SMAN 4 Sumbawa Besar. Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan instrumen tes kontrol diri dan tes penyesuaian diri. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 87. Dalam proses pengambilan sampel, penelitian ini menggunakan semua jumlah populasi sebagai sampel karena jumlah populasi kurang dari 100%. Dan teknik analisis data yang digunakan adalah teknik korelasional dengan menggunakan bantuan SPSS for windows versi 16.0. Hasil pengujian hipotesis dengan bantuan SPSS 16.0 for Windows menunjukkan bahwa nilai koefisien korelasi ≥ yaitu sebesar 0,733 ≥ 0,274 (dengan α = 1%) sehingga hal ini berarti ada korelasi yang sangat signifikan antara kontrol diri dengan penyesuaian diri. Semakin tinggi kontrol diri maka penyesuaian diri juga semakin tnggi. Sebaliknya semakin rendah kontrol diri maka semakin rendah pula penyesuaian diri peserta didik.
Posisi Akal dan Nafsu dalam Islam serta Peranannya dalam Pendidikan Islam Berdasarkan Surat Ali-Imran Ayat 190-191 dan Surat Shad Ayat 26 Susan santi
Al-Munawwarah : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 10 No. 2 (2018): September
Publisher : LP3M Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Wathan SAMAWA SUMBAWA BESAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.627 KB)

Abstract

Akal adalah daya pikir yang digunakan untuk memahami sesuatu dan sebagainya, sekaligus sebagai kecerdasan praktis dalam menyelesaikan permasalahan, yang identik dengan memahami kekuatan pikiran untuk memahami sesuatu baik itu lingkungan alam dan fenomena alam pada umumnya berdasarkan surat Ali Imran ayat 190-191. Sedang nafsu adalah sifat tercela yang melahirkan keburukan sebagai pusat potensi marah dan sahwat pada manusia. Manusia sebagai pelaku dan sasaran pendidikan memiliki alat yang dapat digunakan untuk mencapai kebaikan dan keburukan. Alat yang dapat digunakan untuk mencapai kebaikan adalah hati nurani akal ruh dan sir. Sedang alat yang dapat digunakan untuk mencapai keburukan adalah hawa nafsu. Dan kajian terhadap akal dan hawa nafsu ini menjadi penting artinya, mengingat dampak yang ditimbulkan dari kedua potensi tersebut bagi kehidupan manusia amat besar. Jenis penelitian yang dilakukan adalah library research (penelitian kepustakaan), yaitu serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, yakni dengan membaca, mencatat serta mengolah bahan penelitian. Penelitian ini akan menganalisa data-data tafsir Al-qur’an, Hadist dan Buku-buku yang relevan, jurnal atau makalah, Artikel-artikel dari internet yang memiliki hubungan dengan posisi akal dan hawa nafsu dalam islam serta peranannya dalam pendidikan islam surat ali imran ayat 190-191dan surat shad ayat 26. Dalam penelitian ini, peneliti berharap agar hasil penelitian ini memberikan konstribusi, manfaat dan ilmu baru tentang Posisi akal Dan Nafsu Dalam Islam Serta peranannya Dalam Pendidikan Islam.Sehingga kita dapat mengendalikan hawa nafsu syahwat yang berpusat diperut dan hawa nafsu amarah yang berpusat di dada dengan alat yang dapat digunakan untuk mencapai kebaikan yaitu hati nurani akal,ruh,dan sir.
Manajemen Pemimpin dalam Memotivasi Kinerja Tenaga Pengajar Sri Andria Sya'bani
Al-Munawwarah : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 8 No. 2 (2016): September
Publisher : LP3M Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Wathan SAMAWA SUMBAWA BESAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (432.901 KB)

Abstract

Kompetensi seorang tenaga pengajar merupakan faktor yang sangat menentukan keberhasilan pembelajaran. Tenaga pengajar tidak hanya bertanggung jawab dalam mentransfer ilmu pengetahuan kepada mahasiswa, tetapi lebih jauh bertanggung jawab penuh atas pembentukan dan pendewasaan kepribadian mahasiswa di lembaga pendidikan. Berdasarkan peran dan tanggung jawab tenaga pengajar serta dimensi yang harus dimilikinya maka manajemen pengembangan tenaga pengajar akan lebih tepat untuk dilaksanakan. Dengan demikian, untuk sebuah lembaga pendidikan manajemen pengembangan tenaga pengajar perlu sekali dilaksanakan untuk melahirkan tenaga pengajar profesianal. Pengembagan sumber daya manusia dalam pendidikan (termasuk tenaga penagajar) mencakup lima tahapan plan, organize, operate, evaluate and replan. Sekolah Tinggi Agama Islam Samawa sebagai salah satu lembaga pendidikan Tinggi yang bercirikan khas Islam di lingkungan Departemen Agama Kabupaten Sumbawa, memegang peranan penting dalam mencapai tujuan pendidikan nasional dan pembangunan nasional. Untuk itu mutu pendidikan pada Sekolah Tinggi Agama Islam Samawa Sumbawa Besar tetap terus ditingkatkan sejalan dengan perkembagan dunia ilmu pengetahuan dan teknologi. Peningkatan mutu tenaga kependidikan, terutama tenaga pengajar yang terlibat langsung dengan mahasiswa dalam proses transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Berkaitan dengan Sekolah Tinggi Agama Islam Samawa Sumbawa Besar yang memang diarahkan untuk menjadi Perguruan Tinggi yang berkualitas dalam berbagai bidang, salah satu di antara keunggulan yang ingin dicapai adalah keunggulan tenaga pengajar.
Konsep Dasar Pendidikan Karakter Syafitri Agustin Nugraha
Al-Munawwarah : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 8 No. 2 (2016): September
Publisher : LP3M Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Wathan SAMAWA SUMBAWA BESAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.593 KB) | DOI: 10.12345/al-munawwarah.v8i2.3293

Abstract

Pendidikan sangat menentukan terhadap pembentukan watak, kepribadian, karakter dan budi pekerti warga. Oleh karenanya, fenomena kejahatan, tindak criminal, perbuatan asusila dan penggunaan narkoba, baik oleh warga masyarakat maupun anak didik, maka pendidikan dianggap yang paling bertanggung jawab. Di Indonesia sendiri, berbagai penyelewengan dan kejahata juga kerap terjadi, mulai dari korupsi, bullying, narkoba di lingkungan sekolah dan lain-lain. Terjadinga berbagai penyelewengan dan kejatan tersebut menandakan rendahnya akhlak, budi pekerti dan karakter bangsa. Menyadari hal itu pemerintah melalui Kemendiknas mencanangkan, salah satunya adalah model Pendidikan karakter untuk meningkatkan karakter dan budi pekerti warga bangsa. Ini bukan berarti sebelunya tidak ada pendidikan karakter namun pemerintah lebih menekankan pendidikan karakter secara tersiste. Langkah awal pemerintah dimulai dari lembaga sekolah maupun madrasah dengan menyisipkan nilai karakter bangsa ke dalam persiapan dan proses pembelajaran. Guru dalam hal ini menjadi kunci atas keberhasilan penerapan pendidikan karakter ini sebab gurulah yang secaralangsung berhadapan dengan peserta didik. Guru dalam hal ini dituntut untuk menyiapkan perangkat pembelajaran dan kemudian melaksanakan pendidikan berkarakter di kelas. Namun, sementara ini kenyataannya guru masih belum siap secara utuh untuk melaksanakan pendidikan karakter ini.
Konsep Pendidikan dalam Al-Qur'an Sri Andria Sya'bani
Al-Munawwarah : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 9 No. 2 (2017): September
Publisher : LP3M Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Wathan SAMAWA SUMBAWA BESAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (573.002 KB)

Abstract

Al-Qur’an bukanlah ilmu melainkan kitab suci yang utama dan pertama serta pedoman hidup bagi umat Islam dalam mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Sebagai kitab suci, Al-Qur’an mengajarkan berbagai ajaran yang berkaitan dengan moral, politik, hukum, ekonomi, sosial, sejarah, kebudayaan, teologi, tasawuf, pendidikan, dan lain-lain.Terkait dengan bidang pendidikan, ternyata di dalam Al-Qur’an hanya sedikit yang membahasnya. Namun demikian, meski ayat-ayat tentang pendidikan amat kecil dan terbatas, tapi ia membawa pedoman-pedoman dasar yang perlu dan wajib dipegang dalam mengatur pelaksanaan pendidikan umat.
Perang Teluk dan Intervensi Amerika Serikat siti arpah
Al-Munawwarah : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 9 No. 2 (2017): September
Publisher : LP3M Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Wathan SAMAWA SUMBAWA BESAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (377.555 KB)

Abstract

Dasar hukum hubungan internasional adalah kemerdekaan bagi tiap-tiap bangsa,oleh karena itu tidak diperkenankan satu negara manapun untuk ikut campur dalam ranah domestik negara lain.Akan tetapi, pada saat ini kekuatan negara-negara besar dalam ranah domestik negara-negara lain tidak dapat dibantah. Berbagai konflik bersejarah di Timur Tengah tidak terlepas dari keberadaaan Amerika Serikat, seperti keterlibatan Amerika Serikat pada Perang Teluk. Amerika secara terang-terangan berada dipihak Irak dengan menyediakan persenjataan teknologi terbaru serta gambar satelit posisi dan pergerakan pasukan Iran.
Pendidikan Karakter dalam Perspektif Islam Abdul Haris Haris
Al-Munawwarah : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 9 No. 1 (2017): Maret
Publisher : LP3M Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Wathan SAMAWA SUMBAWA BESAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (626.406 KB)

Abstract

Pendidikan sangat menentukan terhadap pembentukan watak, kepribadian, karakter dan budi pekerti warga. Oleh karenanya, fenomena kejahatan, tindak criminal, perbuatan asusila dan penggunaan narkoba, baik oleh warga masyarakat maupun anak didik, maka pendidikan dianggap yang paling bertanggung jawab. Di Indonesia sendiri, berbagai penyelewengan dan kejahata juga kerap terjadi, mulai dari korupsi, bullying, narkoba di lingkungan sekolah dan lain-lain. Terjadinga berbagai penyelewengan dan kejatan tersebut menandakan rendahnya akhlak, budi pekerti dan karakter bangsa. Menyadari hal itu pemerintah melalui Kemendiknas mencanangkan, salah satunya adalah model Pendidikan karakter untuk meningkatkan karakter dan budi pekerti warga bangsa. Ini bukan berarti sebelunya tidak ada pendidikan karakter namun pemerintah lebih menekankan pendidikan karakter secara tersiste. Langkah awal pemerintah dimulai dari lembaga sekolah maupun madrasah dengan menyisipkan nilai karakter bangsa ke dalam persiapan dan proses pembelajaran. Guru dalam hal ini menjadi kunci atas keberhasilan penerapan pendidikan karakter ini sebab gurulah yang secaralangsung berhadapan dengan peserta didik. Guru dalam hal ini dituntut untuk menyiapkan perangkat pembelajaran dan kemudian melaksanakan pendidikan berkarakter di kelas. Namun, sementara ini kenyataannya guru masih belum siap secara utuh untuk melaksanakan pendidikan karakter ini. Kebanyakan guru bisa menyisipkan nilai karakter bangsa pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran tapi ditak bisa sepenuhnya melaksanakan dalam kelas. Sementara ini potret pendidikan yang bisa dikatakan eksis dalam membina karakter adalah sistem pendidikan di pesantren atau sekolah-sekolah yang diasramahkan.