cover
Contact Name
Abdul Haris
Contact Email
aries.abdulharis957@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
aries.abdulharis957@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. sumbawa,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Al-Munawwarah : Jurnal Pendidikan Islam
ISSN : 20888503     EISSN : 26218046     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
FOKUS AL-MUNAWWARAH : Jurnal Pendidikan Islam memuat kajian-kajian pendidikan Islam baik itu berkenaan dengan strategi pembelajaran pendidikan Islam, dan manajemen kelembagaan pendidikan Islam, pendidik dan tenaga kependidikan pendidikan Islam, dan kepemimpinan dalam lembaga pendidikan Islam.
Arjuna Subject : -
Articles 87 Documents
Peran Dan Fungsi Guru dalam Meningkat Mutu Pembelajaran siti arpah
Al-Munawwarah : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 9 No. 1 (2017): Maret
Publisher : LP3M Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Wathan SAMAWA SUMBAWA BESAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (490.199 KB)

Abstract

Guru memiliki peran yang sangat penting dalam melaksanakan pembelajaran bersama siswa. Keadaan tersebut kedudukan guru yang tidak dapat digentikan dengan media apapun, sehingga keberadaannya sebagai ujung tombak pembelajaran harus tetap ada. Beberapa fungsi guru sehubungan dengan tugasnya selaku pengajar adalah guru sebagai informator, organisator, motivator, pengarah, inisiator, transmiter, fasilitator dan mediator. Mutu pembelajaran merupakan kemampuan yang dimiliki oleh sekolah dalam penyelenggaraan pembelajaran secara efektif dan efisien, sehingga menghasilkan manfaat yang bernilai tinggi bagi pencapaian tujuan pengajaran yang telah ditentukan. Komponen-komponen peningkatan mutu yang ikut andil dalam pelaksanannya adalah penampilan guru, penguasaan materi/kurikulum, penggunaan metode mengajar, pendayagunaan alat/fasilitas pendidikan, penyelengaraan pembelajaran dan evaluasi dan pelaksanaan kegiatan kurikuler dan ekstra-kurikuler. Permasalahan-permasalahan guru dalam meningkatkan mutu pembelajaran berhubungan dengan masih adanya guru yang memiliki kualifikasi pendidikan kurang, sikap profesionalisme guru dalam melaksanakan tugas masih rendah, persiapan guru untuk melaksanakan pengajaran yang kurang mantap, masih sering terdapatnya rentang perolehan nilai siswa yang cukup jauh dalam setiap mata pelajaran, masih terdapatnya siswa yang memiliki nilai merah untuk mata pelajaran tertentu, kurangnya memanfaatkan media dan sumber belajar dan masih rendahnya sikap inovatif serta kreativitas mengajar guru.
Pola Asuh Orang Tua untuk Meningkatkan Percaya Diri dan Konsep Diri Remaja dalam Belajar Syafitri Agustin Nugraha
Al-Munawwarah : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 9 No. 1 (2017): Maret
Publisher : LP3M Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Wathan SAMAWA SUMBAWA BESAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (886.01 KB)

Abstract

Kepercayaan diri merupakan aspek kepribadian manusia yang penting sebagai sarana untuk mengaktualisasikan potensi yang dimiliki. Dari kepercayaan diri yang dimiliki, kesuksesan dan keberhasilan hidup seseorang akan dapat diprediksikan. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses pembentukan kepercayaan diri remaja, antara lain adalah interaksi di dalam keluarga. Interaksi dalam keluarga salah satunya terwujud dalam bentuk proses pengasuhan yang diberikan orang tua kepada anak-anaknya. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik korelasi menggunakan pendekatan waktu pengumpulan data dengan menggunakan pendekatan Cross Sectional.Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa usia 15-17 tahun kelas XI di SMAN 4 Sumbawa. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 38 siswa dengan menggunakan teknik simple random sampling. Metode analisa data dalam penelitian ini menggunakan SPSS versi 16.0 for windows dengan uji koefisien kontingensi (C) dengan tingkat kemaknaan α = 0,05 didapatkan hasil nilai C = 0,631 dan p = 0,000 < 0,05 maka disimpulkan H1 diterima berarti ada hubungan yang signifikan antara Pola Asuh Orang Tua dengan kepercayaan diri pada remaja (Usia 15-17 tahun) kelas XI di SMAN 4 Sumbawa, pada tahun 2016. Didalam membangun kepercayaan diri pada remaja orang tua perlu menerapkan pola asuh yang tepat,adapun upaya-upaya yang bisa kita lakukan seperti: penyuluhan, pendidikan, penyebaran leaflet, penelitian pada orang tua dalam mendidik anaknya, agar anaknya mampu menjadi pribadi-pribadi yang percaya diri.
Pendidikan Ma’had Darul Qur’an Wal Hadist Syeikh Zaenuddin Anjani: Integrasi Sistem Pendidikan Pondok Pesantren Berijazah Masyarakat: sistim pendidikan islam Muh. bisyrul hafy
Al-Munawwarah : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 10 No. 1 (2018): Maret
Publisher : LP3M Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Wathan SAMAWA SUMBAWA BESAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (672.869 KB)

Abstract

Ma’had Darul Qur’an Wal Hadist merupakan sekolah setingkat perguruan tinggi dengan menggunakan system klasik dengan mengadopsi sitem klasik yang identik dengan pola pendidikan abad pertengahan. Ma’had menganut system pendidikan agama dengan rujukan kitab-kitab warisan lama. Thullab dan guruya berinteraksi layaknya pengajian biasa. Mereka duduk bersila dalam ribuan jumlahnya. Model pembelajaran yang di terapkan di Ma’had dirancang oleh Maulana Al-Syeikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul majid. karena pembelajaran yang dijarkan dima’had ini sangat tinggi. sehingga, menghasilkan lulusan yang mampu membawa perubahan sosial relegius dimasyarakat.
Metode, Prinsip-Prinsip, Tujuan dan Fungsi Pendidikan Islam dalam Menghadapi Perubahan Zaman wawan mulyadi purnama
Al-Munawwarah : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 10 No. 1 (2018): Maret
Publisher : LP3M Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Wathan SAMAWA SUMBAWA BESAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (455.668 KB)

Abstract

Dari zaman ke zaman, diera globalisasi sekarang ini yang dengan mulai masuknya kultur-kultur asing di Indonesia, sangat besar pengaruh dan dampaknya khususnya pada agama Islam yang semakin lama smakin terkikis. Lebih lagi agama Islam yang ada di bagian timur tengah dipandang sebagai agama garis keras oleh kalangan masyarakat umum yang ada di Indonesia bahkan di dunia. Dalam pendidikan Islam, metode yang tepat guna bila ia mengandung nilai-nilai intrinsik dan ekstrinsik sejalan dengan materi pelajaran dan secara fungsional dapat dipakai untuk merealisasikan nilai-nilai ideal yang terkandung dalam tujuan pendidikan Islam. Antara metode, kurikulum (materi) dan tujuan pendidikan Islam mengandung relevansi ideal dan oprasional dalam proses kependidikan. Kependidikan Islam mengandung makna internalisasi dan transformasi nilai-nilai Islam ke dalam pribadi peserta didik dalam upaya membentuk pribadi muslim yang beriman bertakwa dan pengetahuan yang amaliah mengacu kepada tuntunan agama berilmu dan tuntutan kebutuhan hidup bermasyarakat.Tujuan yang akan dicapai oleh pendidikan pada hakikatnya adalah suatu perwujudan dari nilai-niai ideal yang terbentuk dalam diri pribadi manusia yang diinginkan. Pendidikan islam harus mampu menciptakan manusia muslim yang berilmu pengetahuan tinggi, dimana iman dan takwanya menjadi pengendali dalam penerapan atau pengalamannya dalam masyarakat manusia. Pendidikan islam diharapkan pada berbagai perubahan dan perkembagan yang mendesaknya untuk melakukan perubahan dan perbaikan yang mendesaknya sehingga mampu melakukan penyesuaian terhadap perubahan yang terjadi di Indonesia.
Peranan Nabi Muhammad sebagai Pembangun Masyarakat Madani dan Peletak Dasar Peradaban Islam Abdul Haris Haris
Al-Munawwarah : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 10 No. 1 (2018): Maret
Publisher : LP3M Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Wathan SAMAWA SUMBAWA BESAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.517 KB)

Abstract

Bagi setiap muslim, mempelajari dan memahami kehidupan dan perjuangan Muhammad Rasulullah SAW merupakan keniscayaan, dan mengikuti ajarannya adalah kewajiban. Artikel ini berusaha untuk menyegarkan kembali sekilas sejarah perjuangan Muhammad Rasulullah SAW, yang penulis mulai dari menjelaskan kondisi bangsa arab pra-Islam baik dari segi geografis, sosial, ekonomi, politik serta agama atau kepercayaan bangsa arab. Dalam usahanya mewujudkan masyarakat madani, nabi Muhammad menanamkan semangat persaudaraan (al-ikha), persamaan (al-musawah), toleransi (al-tasamuh), musyawarah (al-tasyawur), tolong menolong (al-ta’awun), dan keadilan (al-adalah), keenam semangat tersebutlah yang kemudian dewasa ini dicirikan sebagai corak masyarakat madani, yang semua hal tersebut telah diperjuangan dalam kehidupan masyarakat arab di sekitarnnya, baik saat beliau belum diangkat menjadi rasul maupun setelah diangkat menjadi rasul. Tulisan ini memang tidak menyajikan uraian yang rinci dan detail, namun telah diupayakan untuk memberikan gambaran yang utuh sekalipun hanya dalam garis besar. Rujukan yang digunakan untuk tulisan ini diharapkan bisa sedikit membantu pembaca untuk memperluas wawasan dan mengetahui lebih jauh kehidupan dan perjuangan beliau.
Shalat Ditinjau dari Sudut Pandang Pendidikan, Sosial dan Politik Ulyan Nasri
Al-Munawwarah : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 10 No. 1 (2018): Maret
Publisher : LP3M Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Wathan SAMAWA SUMBAWA BESAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (855.289 KB)

Abstract

Abstrak: Shalat apabila dijelaskan dari sudut pandang vertikal yaitu nilai esoteris (teks suci) dipahami sebagai media komunikasi antara “hamba” dengan “Khaliq”. Tujuannya adalah sebagai bukti ketaatan hamba dengan perintah sakral Tuhan, karena salah satu tugas seorang muslim sejati adalah menghambakan diri kepada Sanag Maha Kuasa sebagaimana yang telah ditetapkan dalam syari’at. Disatu sisi shalat apabila dijelaskan dari sudut pandang pendidikan, sosial dan politik (eksoteris) memiliki banyak nilai-nilai yang terkadung di dalamnya yang nantinya sebagai acuan untuk mencari jawaban atas problematika kehidupan yang sudah mulai bergeser kearah disintegrasi moral (dekadensi moral). Sikap dan gerakan dalam shalat dilakukan dengan tertib namun di luar shalat ternyata masih tidak tertib. Shalat ternyata tidak hanya mengajarkan tentang kepatuhan kepada Sang Pencipta, tapi di aspek lain mengajarkan kepatuhan kepada sesama manusia dan kerja sama yang baik. Salah satu nilai sosial dan politik dalam shalat dilihat dari aspek pendidikannya adalah antara imam dan makmun terjadi kerja sama yang sangat teratur, adil, disiplin, jujur dan toleransi.
Konsep Pendidikan Karakter Dalam Islam main din
Al-Munawwarah : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 10 No. 1 (2018): Maret
Publisher : LP3M Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Wathan SAMAWA SUMBAWA BESAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (913.192 KB)

Abstract

Abstrak: Kajian ini dilatarbelakangi oleh sebuah fenomena bahwa di era yang semakin global ini tuntutan adanya suber daya manusia yang berkualitas dan berwawasan tidak hanya dalam bidang ilmu pengetahuan umum saja, tetapi juga harus didasari dengan akhlak yang karimah, sehingga mampu mengendalikan diri dari pengaruh budaya yang serba membolehkan mengiringi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut. Kalau kita mengamati kehidupan umat Islam pada masa kini, maka tidaklah sedikit yang berkepribadian buruk. Dan apabila sikap di atas semakin membudaya, maka jelaslah akan berdampak negatif pada anak-anak yang masih dalam proses pembinaan moral agama. Pendidikan karakter pada dasarnya merupakan proses transforasi nilai-nilai kehidupan untuk ditumbuhkembangkan dalam kepribadian seseorang sehingga menjadi satu dalam perilaku orang itu. Dalam hal ini karakter mempunyai tiga unsur pokok, yaitu mengetahui kebaikan (knowing the good), mencintai kebaikan (loving the good) dan melakukan kebaikan (doing the good). (2) dalam Islam pendidikan karakter merupakan misi utama para Nabi. Muhammad Rasulullah sedari awal tugasnya memiliki suatu pernyataan bahwa dirinya diutus untuk menyempurnakan karakter (akhlak). Adapun karakter Nabi Muhammad yang harus diteladani adalah sebagai berikut: Shiddiq, Amanah, Tabligh dan Fathonah. (3) dalam implementasi pendidikan karakter, seorang guru harus memiliki sikap yang harus dilaksanakan dalam proses belajar mengajar, antara lain: memunculkan rasa empati terhadap peserta didik, mengakui konsep diri peserta didik, menumbuhkan sikap toleransi, guru sebagai fasilitator, guru menciptakan suasana Pedagogi-Dialogis, mengkombinasikan perasaan dan bahan pengajaran, dan adanya transparasi guru siswa.
Kepemimpinan (Leadership) dalam Pondok Pesantren, Madrasah dan Sekolah (Tinjauan Manajemen) Abdul Haris Haris
Al-Munawwarah : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 9 No. 2 (2017): September
Publisher : LP3M Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Wathan SAMAWA SUMBAWA BESAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (382.675 KB)

Abstract

Salah satu faktor yang sangat menentukan kesuksesan setiap institusi atau organisasi adalah pemimpin. Maka membicarakan pemimpin tidak akan ada habisnya, lebih-lebih ketika membicarakan mengenai kepemimpinan di lembaga pendidikan. Maju dan mundurnya lembaga pendidikan tidak terlepas dari kualitas dan gaya kepemimpinan yang digunakan atau diterapkan oleh pimpinannya. Oleh karena itu, setiap pemimpin di lembaga pendidikan baik di lembaga pendidikan seperti pondok pesantren, sekolah dan madrasah harus benar-benar memahami tugas dan tanggungjawabnya dengan baik. Setiap corak lembaga pendidikan tentunya memiliki gaya kepemimpinan tersendiri, masing-masing memiliki kelebihan dan kelemahannya, pondok pesantren misalnya, yang dipimpin oleh kiai, cendrung lebih otoriter, karena semua keputusan yang dilakukan lebih sering difikirkan sendiri tanpa melibatkan banyak peran serta masyarakat. Disebabkan juga oleh budaya di Indonesia yang masih kental budaya paternalistiknya, maka kiai adalah tokoh sentral sekaligus pemimpin yang menjadi rujukan semua keputusan dan bagaimana jalannya pondok pesantren. Berbeda dengan sekolah, kepemimpinannya lebih demokratis, karena semuanya telah diatur dengan jelas bagaimana suksesi kepemimpinan, dan semua orang yang memenuhi kualifikasi untuk menjadi pemimpin di sekolah memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi pemimpin. Kepemimpinan di sekolah juga sebenarnya bisa dibilang sebagai kordinator dalam menjalankan semua kegiatan dan program kerja lembaga pendidikannya dalam usaha mencapai tujuan, karena pada akhirnya yang bekerja adalah semua jajaran pendidik dan tenaga kependidikan yang ada di sekolah tersebut. Sedikit berbeda dengan madrasah, karena madrasah berbentuk semi sekolah umum dan semi pondok pesantren, maka corak kepemimpinannya juga memiliki gaya tersendiri, namun bagaimanapun, madarasah sekarang sudah lebih mirip dengan sekolah umum biasa. Maka kualifikasi seorang pemimpin yang ada dilembaga pendidikan umum seperti sekolah harus juga dimiliki oleh seorang pemimpin dilembaga pendidikan seperti madrasah, selain dari pada itu, gaya kepemimpinan di sekolah juga harus dibantu dengan gaya kepemimpinan yang ada di pondok pesantren dimana seorang kiai sangat dihormati karena memang memiliki kelebihannya tersendiri, seorang pemimpin di madrasah harus memiliki kharisma dan kemampuan lebih di atas kemampuan rata-rata masyarakat sekolahnya.
Peranan Keluarga dalam Pembentukan Karakter Anak Susan santi
Al-Munawwarah : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 8 No. 2 (2016): September
Publisher : LP3M Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Wathan SAMAWA SUMBAWA BESAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.914 KB) | DOI: 10.12345/al-munawwarah.v8i2.3252

Abstract

Pendidikan dalam keluarga mempunyai peran yang strategis dan amat menentukan pencapaian mutu sumber daya manusia. Penyelenggaraan pendidikan keluarga tidak sekedar berperan sebagai pelaksana yang bersifat rutin dan alamiah, melainkan berperan sebagai pengelola yang bertanggung jawab dalam meletakkan landasan, bobot arah dan pola-pola kehidupan anak. Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana Peran Keluarga dalam Pendidikan Anak. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Hasil penelitian ini bahwa peran keluarga dalam pendidikan anak, yaitu keluarga menganggap bahwa pendidikan sangat penting bagi anak. Oleh karena itu peran keluarga sangat mempengaruhi pendidikan anak meliputi pendidikan formal, informal, dan non formal. Pendidikan formal, peran orang tua dalam memotivasi dengan cara menemani dan mengingatkan anak-anaknya dalam belajar. Pendidikan informal, penanaman proses sosialisasi dalam keluarga sangat mempengaruhi perilaku anak baik di lingkungan masyarakat maupun sekolah. Orang tua mengajarkan sopan santun dan mengawasi pergaulan anak-anaknya dalam berinteraksi di lingkungan sekitar. Pendidikan non formal, meskipun dalam kondisi ekonomi seadanya, peran keluarga yang meliputi sosial, afeksi, status, perlindungan, dan ekonomi sebisa mungkin diberikan. Orang tua menanamkan norma agama yaitu mengajarkan sholat lima waktu dan mengaji. Selain itu, ada beberapa pola asuh yang diterapkan oleh oranng tua yaitu: pola asuh demokratis, pola asuh otoriter, dan pola asuh permisif. Hal itu sangat penting sebagai peranan orang tua dalam pendidikan anak.
Manajemen dalam Perspektif Pendidikan Islam Abdul Haris Haris
Al-Munawwarah : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 8 No. 1 (2016): Maret
Publisher : LP3M Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Wathan SAMAWA SUMBAWA BESAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.302 KB)

Abstract

Manajemen adalah suatu bidang ilmu yang bersifat universal. Manajemen dipandang sebagai suatu seni untuk mendapatkan segala sesuatu dilakukan melalui orang lain. Pentingnya manajemen, tidak hanya dalam bidang di luar pendidikan saja, tetapi juga penting dalam bidang pendidikan Islam, karena itulah tulisan ini akan membahas tujuan-tujuan manajemen dalam perspektif pendidikan Islam.