cover
Contact Name
Yufitri Mayasari
Contact Email
yufitrimayasrai@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
yufitrimayasari@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JITEKGI Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi
ISSN : 16933079     EISSN : 26218356     DOI : -
Core Subject : Health,
Bidang ilmu Kedokteran Gigi yang disajikan dalam jurnal ini adalah meliputi Ilmu Konservasi Gigi, Periodontologi, Ortodontik, Ilmu Penyakit Mulut, Prostodontia, Ilmu Kedokteran Gigi Anak, Ilmu Bedah Mulut, Ilmu kesehatan Gigi Masyarakat & Pencegahan, serta bidang ilmu penunjang Kedokteran Gigi seperti Radiologi Dental, Biologi Oral, Ilmu Material dan Teknologi Kedokteran Gigi, juga bidang ilmu kesehatan umum lain. Jurnal ini terbit berkala dua kali setahun (di bulan Mei dan November).
Arjuna Subject : -
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol 15, No 1 (2019)" : 14 Documents clear
MODIFIED FEEDING BOTTLE FOR INFANT WITH CLEFT LIP AND PALATE AT THE PERIPHERAL AREA: A CASE REPORT Mardiyantoro, Fredy; Hapsari, Diwya Nugrahini; Milla, Lalita El
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 15, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v15i1.695

Abstract

Introduction:A newborn can suck at breast and latch well to get breast milk, but infants born with cleft lip and palate have difficulties to press the nipple by their tongues towards palatal direction. Case:A 10-day-old female infant came with complaint of not being able to breastfeed from a normal bottle and accordingly need to use spoon for milk feeding. She was planned to perform first step operation at 3 months with minimum 10 pounds of body weight. For nutrient intake, nasogastric tube had been placed on the patient. Case management :At the first visit, impression procedure was performed using red wax material that previously warmed thus it can be shaped according to the defect on infant’s palate. Subsequently, feeding obturator was fabricated using the resulting cast. Fabrication of feeding obturator used putty impression material combined with feeding bottle nipple. Thereafter, the modified feeding bottle was tried in the patient’s mouth. Conclusion:the use of putty material combined with feeding bottle nipple in infants with cleft palate may function as obturator. Furthermore, correction using the one of the modified feeding bottle can be carried out every 1-2 weeks until surgical repair of the cleft palate is performed.Keywords: cleft palate, feeding bottle, putty material, nutrition
PENGARUH REBUSAN DAUN SIRIH 50% DAN 70% TERHADAP PENURUNAN JUMLAH Candida albicans PADA PLAT RESIN AKRILIK Heat Cured nuning, fransiska
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 15, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v15i1.783

Abstract

Gigi tiruan yang terbuat dari resin akrilik sering menjadi tempat pertumbuhan Candida albicans, dan bila tidak dibersihkan dengan baik akan menyebabkan Candidiasis. Gigi tiruan dapat dibersihkan untuk menghilangkan pertumbuhan Candida albicans, salah satunya adalah menggunakan tanaman daun sirih. Daun sirih (Piper betle L.) diketahui berkhasiat sebagai antijamur dan desinfektan. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian eksperimental laboratorium dengan desain posttest control group design. Sampel penelitian yang digunakan yaitu 27 plat resin akrilik heat cured berukuran 10x10x2 mm. Sampel dibagi menjadi 3 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 9 plat resin akrilik heat cured, yang direndam dalam rebusan daun sirih 50%, 70% dan aquadest sebagai kelompok kontrol selama 30 menit. Sebelum penelitian, plat resin akrilik direndam dalam saliva buatan selama 1 jam. Setelah dibilas dengan larutan NaCl fisiologis 0,85%, plat resin akrilik diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37oC didalam suspensi Candida albicans 108 CFU/ml. Kemudian dilakukan pengenceran seri 10-3, diambil 1 ml diteteskan pada media Sabouraud Dextrose Agar (SDA) lalu diinkubasi selama 48 jam pada suhu 37oC. Selanjutnya perhitungan Candida albicans dengan colony counter.Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Kruskal-Wallis.  Berdasarkan hasil analisa diperoleh nilai p= 0.000 (p<0.05), hal ini menunjukkan bahwa  terdapat perbedaan bermakna antara masing-masing kelompok sampel. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa rebusan daun sirih 50% dan 70% dapat menurunkan jumlah Candida albicans pada plat resin akrilik heat cured. Rebusan daun sirih 70% lebih menurunkan jumlah Candida albicans pada plat resin akrilik heat cured dibanding rebusan daun sirih 50%.
PREVALENSI KARIES GIGI MOLAR SATU PERMANEN PADA SISWA SEKOLAH DASAR USIA 8-10 TAHUN Wulandari, Ninis Yekti
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 15, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v15i1.637

Abstract

Karies gigi merupakan salah satu gangguan kesehatan gigi dan mulut. Gigi molar satu merupakan gigi tetap yang pertama erupsi pada umur sekitar 6-7 tahun, sehingga menjadi gigi yang paling berisiko terkena karies. Prevalensi karies gigi molar satu permanen pada anak umur 8 – 10 tahun merupakan jumlah orang dalam satu populasi yang mengalami karies gigi.            Tujuan penelitian ini untuk mengetahui prevalensi karies gigi molar satu permanen pada anak umur 8 – 10 tahun dilakukan di SDN 04 Pagi Pasar Minggu, SDN 05 Pagi Pasar Minggu, SD Al-Hikmah dan MI Darul Mutaqqin pada bulan Oktober 2018. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif observasional. Populasi pada penelitian ini adalah semua anak sekolah usia 8-10 tahun. Metode pengambilan sampel yang digunakan yaitu purposive sampling.            Data hasil pemeriksaan karies gigi molar satu permanen pada anak umur 8 – 10 tahun diperoleh melalui pemeriksaan karies yang bersifat objektif. Pada 236 sampel terdapat 944 gigi molar satu permanen dan hasil penelitian menunjukkan gigi yang mengalami karies sebanyak 108 gigi pada anak umur 8 tahun, 233 gigi pada anak umur 9 tahun dan 137 gigi pada anak umur 10 tahun. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan penyebab karies gigi masih tinggi adalah kurangnya pemahaman dan kesadaran dalam pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut baik dari anak dan orangtua.
SUPERIMPOSISI SEFALOMETRI PADA MALOKLUSI SKELETAL KELAS III DENGAN BEDAH ORTOGNATIK Suryaprawira, Albert
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 15, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v15i1.833

Abstract

Latar BelakangMetodeHasilKesimpulan
ESTETIK CROWN LENGTHENING DENGAN METODE MINIMAL INVASIF: EVALUASI 1 TAHUN Kusumo, Norman
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 15, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v15i1.785

Abstract

Latar belakang: senyum ideal merupakan hasil evaluasi dari analisa wajah dan komposisi gigi. Prinsip desain senyum seperti kategori tipe muka, posisi incisal edge, komponen gigi dan ketinggian gingival merupakan kunci dari harmoni senyum ideal. Metode konvensional crown lengthening dengan pembukaan flap saat koreksi tulang terkadang dapat menimbulkan resiko black triangle. Laporan kasus: pasien datang ke praktik pribadi dengan alasan keluhan estetik. Profil muka didapat long straight, posisi incisal edge saat senyum terlihat lebih dari 3 mm gingival exposure. Chu’s gauge digunakan untuk mengukur proporsi ideal gigi, gingival dan tulang alveolar. Koreksi tulang saat crown lengthening dilakukan tanpa membuka flap (flapless) pada, sehingga mengurangi resiko black triangle. Pembahasan: laporan kasus ini bertujuan untuk mengetahui keberhasilan teknik crown lengthening tanpa pembukaan flap bedasarkan kontrol 1 tahun pasca pembedahan. Prosedur crown lengthening dengan koreksi tulang alveolar dilakukan tanpa membuka flap dan dilakukan kontrol observasi pasien selama 3 bulan dan 1 tahun. Kesimpulan: observasi klinis 1 tahun terlihat stabil. Pengurangan tulang dengan metode flapless pada crown lengtheningmerupakan alternatif  yang  menawarkan hasil yang cukup menjanjikan.Latar belakang: senyum ideal merupakan hasil evaluasi dari analisa wajah dan komposisi gigi. Prinsip desain senyum seperti kategori tipe muka, posisi incisal edge, komponen gigi dan ketinggian gingival merupakan kunci dari harmoni senyum ideal. Metode konvensional crown lengthening dengan pembukaan flap saat koreksi tulang terkadang dapat menimbulkan resiko black triangle. Laporan kasus: pasien datang ke praktik pribadi dengan alasan keluhan estetik. Profil muka didapat long straight, posisi incisal edge saat senyum terlihat lebih dari 3 mm gingival exposure. Chu’s gauge digunakan untuk mengukur proporsi ideal gigi, gingival dan tulang alveolar. Koreksi tulang saat crown lengthening dilakukan tanpa membuka flap (flapless) pada, sehingga mengurangi resiko black triangle. Pembahasan: laporan kasus ini bertujuan untuk mengetahui keberhasilan teknik crown lengthening tanpa pembukaan flap bedasarkan kontrol 1 tahun pasca pembedahan. Prosedur crown lengthening dengan koreksi tulang alveolar dilakukan tanpa membuka flap dan dilakukan kontrol observasi pasien selama 3 bulan dan 1 tahun. Kesimpulan: observasi klinis 1 tahun terlihat stabil. Pengurangan tulang dengan metode flapless pada crown lengthening merupakan alternatif  yang  menawarkan hasil yang cukup menjanjikan.
EVALUASI DIAGNOSTIK LESI ENDO-PERIO YANG MENETAP SETELAH PERAWATAN ENDODONTIK MENGGUNAKAN RADIOGRAFI PERIAPIKAL DAN CBCT Kurniati, Novi
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 15, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v15i1.821

Abstract

Latar Belakang: radiografi periapikal dua dimensi merupakan pemeriksaan yang sering dipergunakan untuk mengevaluasi hasil perawatan. Kelemahan inherent seperti superimposed, distorsi dan tidak dapat menampilkan lesi dari berbagai aspek membuat para dokter sulit untuk mendapatkan informasi yang sesuai keadaan yang sebenarnya karena keterbatasan radiograf dua dimensi. Pencitraan CBCT dapat menyediakan informasi yang relevan yang tidak ditemukan dalam radiografi periapikal.Laporan Kasus: pasien laki-laki berusia 38 tahun dengan keluhan utama gigi insisivus sentral rahang atas yang berubah warna karena trauma 10 tahun yang lalu. Pasien dirujuk untuk dilakukan radiografi periapikal, di mana tampak gambaran lesi radiolusen berbatas jelas di apikal disertai resorbsi internal gigi 11, dengan diagnosis granuloma periapical et causa nekrosis pulpa gigi 11. Setelah dilakukan perawatan 2 bulan dilakukan evaluasi I dengan radiografi CBCT, tampak tampak lesi radiolusen berbatas jelas dan tegas berukuran ±3,6 mm di apikal serta adanya perforasi sisi mesial akar gigi yang menyebabkan lesi radiolusen di sisi mesial gigi 11 disertai perforasi kortikal di tulang daerah palatal. Enam bulan kemudian dilakukan evaluasi II menggunakan radiografi periapikal dan CBCT. Pada radiografi periapikal tampak, lesi radiolusen berbatas jelas dan tidak tegas di apikal gigi. Pada radiografi CBCT tampak lesi radiolusen berbatas jelas yang telah mengecil di apikal, namun lesi di bagian mesial dan perforasi kortikal tulang palatal belum terjadi penyembuhan secara signifikan. Berdasarkan hasil radiografi CBCT, pasien di rujuk ke bagian Periodonti.Kesimpulan: pemeriksaan CBCT sangat diperlukan pada evaluasi perawatan kasus kompleks untuk mendapatkan informasi diagnostik yang lebih akurat.
FRICTIONAL KERATOSIS ”MIMICKING” LEUKOPLAKIA Mersil, Sarah
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 15, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v15i1.786

Abstract

Latar Belakang: Frictional keratosis didefinisikan sebagai plak putih dengan permukaan kasar dan berjumbai yang di identifikasi dari sumber iritasi mekanis yang biasanya akan sembuh jika sumber iritasi di hilangkan. Diagnosis banding dari frictional keratosis adalah leukoplakia karena gambaran klinisnya berupa plak putih yang menyerupai leukoplakia displastik. Laporan kasus : Seorang laki-laki 22 tahun datang ke klinik integrasi RSGM FKG UPDM (B) dengan keluhan terdapat putih-putih di kedua pipi bagian dalam. Dari pemeriksaan intraoral terlihat adanya plak papula putih tidak beraturan disertai eritema, berbatas tidak jelas dan tidak sakit pada mukosa bukal kiri dan kanan. Mengaku sering menggigit pipi bagian dalam dan juga memiliki kebiasaan merokok sehingga dapat dicurigai mengarah  frictional keratosis dengan diagnosis banding leukoplakia. Setelah dilakukan observasi lesi ini hilang sepenuhnya sehingga dapat didiagnosis frictional keratosis dan menyingkirkan kecurigaan terhadap leukoplakia. Kesimpulan: Gambaran klinis serta faktor-faktor predisposisi pada frictional keratosis hampir sama dengan leukoplakia, untuk itu dokter gigi harus lebih hati-hati dan mendetail dalam menghadapi kasus seperti ini.
EVALUASI DIAGNOSTIK LESI ENDO-PERIO YANG MENETAP SETELAH PERAWATAN ENDODONTIK MENGGUNAKAN RADIOGRAFI PERIAPIKAL DAN CBCT Novi Kurniati
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 15, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v15i1.821

Abstract

Latar Belakang: radiografi periapikal dua dimensi merupakan pemeriksaan yang sering dipergunakan untuk mengevaluasi hasil perawatan. Kelemahan inherent seperti superimposed, distorsi dan tidak dapat menampilkan lesi dari berbagai aspek membuat para dokter sulit untuk mendapatkan informasi yang sesuai keadaan yang sebenarnya karena keterbatasan radiograf dua dimensi. Pencitraan CBCT dapat menyediakan informasi yang relevan yang tidak ditemukan dalam radiografi periapikal.Laporan Kasus: pasien laki-laki berusia 38 tahun dengan keluhan utama gigi insisivus sentral rahang atas yang berubah warna karena trauma 10 tahun yang lalu. Pasien dirujuk untuk dilakukan radiografi periapikal, di mana tampak gambaran lesi radiolusen berbatas jelas di apikal disertai resorbsi internal gigi 11, dengan diagnosis granuloma periapical et causa nekrosis pulpa gigi 11. Setelah dilakukan perawatan 2 bulan dilakukan evaluasi I dengan radiografi CBCT, tampak tampak lesi radiolusen berbatas jelas dan tegas berukuran 3,6 mm di apikal serta adanya perforasi sisi mesial akar gigi yang menyebabkan lesi radiolusen di sisi mesial gigi 11 disertai perforasi kortikal di tulang daerah palatal. Enam bulan kemudian dilakukan evaluasi II menggunakan radiografi periapikal dan CBCT. Pada radiografi periapikal tampak, lesi radiolusen berbatas jelas dan tidak tegas di apikal gigi. Pada radiografi CBCT tampak lesi radiolusen berbatas jelas yang telah mengecil di apikal, namun lesi di bagian mesial dan perforasi kortikal tulang palatal belum terjadi penyembuhan secara signifikan. Berdasarkan hasil radiografi CBCT, pasien di rujuk ke bagian Periodonti.Kesimpulan: pemeriksaan CBCT sangat diperlukan pada evaluasi perawatan kasus kompleks untuk mendapatkan informasi diagnostik yang lebih akurat.
FRICTIONAL KERATOSIS MIMICKING LEUKOPLAKIA Sarah Mersil
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 15, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v15i1.786

Abstract

Latar Belakang: Frictional keratosis didefinisikan sebagai plak putih dengan permukaan kasar dan berjumbai yang di identifikasi dari sumber iritasi mekanis yang biasanya akan sembuh jika sumber iritasi di hilangkan. Diagnosis banding dari frictional keratosis adalah leukoplakia karena gambaran klinisnya berupa plak putih yang menyerupai leukoplakia displastik. Laporan kasus : Seorang laki-laki 22 tahun datang ke klinik integrasi RSGM FKG UPDM (B) dengan keluhan terdapat putih-putih di kedua pipi bagian dalam. Dari pemeriksaan intraoral terlihat adanya plak papula putih tidak beraturan disertai eritema, berbatas tidak jelas dan tidak sakit pada mukosa bukal kiri dan kanan. Mengaku sering menggigit pipi bagian dalam dan juga memiliki kebiasaan merokok sehingga dapat dicurigai mengarah frictional keratosis dengan diagnosis banding leukoplakia. Setelah dilakukan observasi lesi ini hilang sepenuhnya sehingga dapat didiagnosis frictional keratosis dan menyingkirkan kecurigaan terhadap leukoplakia. Kesimpulan: Gambaran klinis serta faktor-faktor predisposisi pada frictional keratosis hampir sama dengan leukoplakia, untuk itu dokter gigi harus lebih hati-hati dan mendetail dalam menghadapi kasus seperti ini.
MODIFIED FEEDING BOTTLE FOR INFANT WITH CLEFT LIP AND PALATE AT THE PERIPHERAL AREA: A CASE REPORT Fredy Mardiyantoro; Diwya Nugrahini Hapsari; Lalita El Milla
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 15, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v15i1.695

Abstract

Introduction:A newborn can suck at breast and latch well to get breast milk, but infants born with cleft lip and palate have difficulties to press the nipple by their tongues towards palatal direction.Case:A 10-day-old female infant came with complaint of not being able to breastfeed from a normal bottle and accordingly need to use spoon for milk feeding. She was planned to perform first step operation at 3 months with minimum 10 pounds of body weight. For nutrient intake, nasogastric tube had been placed on the patient.Case management :At the first visit, impression procedure was performed using red wax material that previously warmed thus it can be shaped according to the defect on infants palate. Subsequently, feeding obturator was fabricated using the resulting cast. Fabrication of feeding obturator used putty impression material combined with feeding bottle nipple. Thereafter, the modified feeding bottle was tried in the patients mouth.Conclusion:the use of putty material combined with feeding bottle nipple in infants with cleft palate may function as obturator. Furthermore, correction using the one of the modified feeding bottle can be carried out every 1-2 weeks until surgical repair of the cleft palate is performed.Keywords:cleft palate, feeding bottle, putty material, nutrition

Page 1 of 2 | Total Record : 14