JITEKGI Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi
Bidang ilmu Kedokteran Gigi yang disajikan dalam jurnal ini adalah meliputi Ilmu Konservasi Gigi, Periodontologi, Ortodontik, Ilmu Penyakit Mulut, Prostodontia, Ilmu Kedokteran Gigi Anak, Ilmu Bedah Mulut, Ilmu kesehatan Gigi Masyarakat & Pencegahan, serta bidang ilmu penunjang Kedokteran Gigi seperti Radiologi Dental, Biologi Oral, Ilmu Material dan Teknologi Kedokteran Gigi, juga bidang ilmu kesehatan umum lain. Jurnal ini terbit berkala dua kali setahun (di bulan Mei dan November).
Articles
186 Documents
OBAT ANTIDIABETIK MEMICU TERBENTUKNYA ORAL LICHENOID REACTION
Widya Apsari
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 14, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32509/jitekgi.v14i2.635
Latar belakang : lesi pada kulit dan mukosa mulut yang memberikan gambaran klinis menyerupai keadaan liken planus dikenal sebagai reaksi likenoid. Reaksi likenoid oral sering dikaitkan dengan faktor etiologi, salah satunya berkaitan dengan mengkonsumsi obat-obatan. Laporan kasus : pasien perempuan 42 tahun datang dengan keluhan luka di bibir dan dalam mulut sejak 9 bulan, diketahui mengkonsumsi obat metformin sejak 3 tahun lalu. Lesi mulut dicurigai sebagai suatu reaksi likenoid. Perawatan diberikan topikal kortikosteroid dan merujuk ke penyakit dalam untuk pertimbangan penggantian obat metformin. Kesimpulan : perlunya pertimbangan dokter gigi terhadap keterkaitan manifestasi oral dengan riwayat konsumsi obat rutin.
ANALISIS PERBANDINGAN TINGKAT KEHILANGAN GIGI PADA LANJUT USIA PASIEN DOKTER GIGI DAN TUKANG GIGI
Fauziah M. Asim
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 15, No 2 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32509/jitekgi.v15i2.917
Latar belakang : lansia sangat erat hubungannya dengan penurunan semua fungsi organ tubuh termasuk fungsi dalam rongga mulut, salah satunya adalah kehilangan gigi yang banyak dialami oleh lansia seiring dengan bertambahnya usia. Tujuan : penelitian ini bertujuan untuk menganlisis perbandingan tingkat kehilangan gigi pada pasien lansia dokter gigi dan tukang gigi. Metode : penelitian adalah penelitian descriptive analitik dengan menggunakan pendekatan cross sectional, dengan teknik total sampling. Kriteria inklusi adalah lansia yang datang ke klinik gigi dan tukang gigi yang berada pada lokasi penelitian dan bersedia menjadi subyek penelitian. Sampel penelitian ini adalah 69 responden, selanjutnya dilakukan Analisa data menggunakan T-test. Hasil : didapatkan nilai p = 0,000 (p≤ 0,05), terdapat perbedaan yang signifikan kehilangan gigi pada pasien dokter gigi dibandingkan dengan tukang gigi. Kesimpulan : tingkat kehilangan gigi pada lansia pasien dokter gigi lebih sedikit dibandingkan pada lansia yang ke tukang gigi
PENGARUH ORAL HYGIENE TERHADAP MALNUTRISI PADA LANSIA
Pindobilowo Pindobilowo
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 14, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32509/jitekgi.v14i1.641
Lansia merupakan suatu proses alami dimana terjadi perubahan fungsi jaringan tubuh dan organ yang sangat kompleks. Pada lansia terjadi penurunan kemampuan berbagai jaringan tubuh secara perlahan-lahan. Penurunan kondisi ini terjadi pada berbagai organ tubuh, antara lain melemahnya daya ingat, perubahan sensorik, dan perubahan pada kondisi oral hygiene. Oral hygiene dapat mempengaruhi status gizi dan kesehatan umum lansia. Pada tahun 2000 jumlah penduduk lansia di dunia mencapai 426 juta jiwa atau sekitar 6,8% dari total populasi dan perkiraan akan mengalami peningkatan dua kali lipat pada tahun 2025. Di kawasan Asia Tenggara jumlah populasi lansia sekitar 142 juta jiwa atau sekitar 8%, sedangkan di Indonesia data terakhir tahun 2014 menunjukkan jumlah penduduk lansia mencapai 20,24 juta jiwa atau sekitar 8% dan Indonesia diperkirakan terjadi peningkatan jumlah populasi lansia di wilayah Asia pada tahun 2050. Jumlah kasus lansia yang malnutrisi di Indonesia adalah sebesar 3,4%. Melihat fenomena ini, maka kesehatan lansia perlu ditingkatkan khususnya oral hygiene sehingga terjadi keseimbangan nutrisi dan mempengaruhi kondisi umum lansia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh oral hygiene terhadap malnutrisi pada lansia.
EFEKTIFITAS PENGGUNAAN TONGUE SCRAPER SETELAH MENYIKAT GIGI DALAM MENGHILANGKAN HALITOSIS
Ratih Widyastuti
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 17, No 1 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32509/jitekgi.v17i1.1310
Latar belakang: halitosis atau bau mulut adalah bau yang tidak enak yang berasal dari rongga mulut. Halitosis menjadi permasalahan kesehatan mulut yang mempengaruhi psikologi dan kehidupan sosial. Halitosis berasal dari gas Volatile Sulfur Compounds (VSCs) yang terdiri atas hydrogen sulfida, metil merkaptan, dan dimetil sulfida. Cara mekanis menghilangkan halitosis dengan menyikat gigi dan penggunaan tongue scraper. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas penggunaan Tongue scraper setelah menyikat gigi dalam menghilangkan halitosis. Metode: sampel adalah pasien dewasa dengan halitosis dibagi secara acak menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok perlakuan pasien diminta untuk menyikat gigi disertai penggunaan tongue scraper, sedangkan kelompok kontrol hanya menyikat gigi saja. Metode organoleptik digunakan untuk mengukur halitosis sebelum dan sesudah perlakuan. Hasil: sebelum perlakuan, skor halitosis secara statistik tidak terdapat perbedaan yang bermakna antar ke kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Antara sebelum dan sesudah perlakuan, terlihat reduksi halitosis yang signifikan pada ke dua kelompok. Sesudah perlakuan secara statistik terdapat perbedaan skor halitosis yang signifikan antar ke dua kelompok. Kesimpulan: terjadi reduksi halitosis baik pada kelompok perlakuan (menyikat gigi disertai penggunaan tongue scraper) maupun kelompok kontrol (hanya menyikat gigi). Reduksi halitosis pada menyikat gigi disertai penggunaan tongue scraper lebih besar dibandingkan dengan menyikat gigi saja. Penggunaan tongue scraper setelah menyikat gigi efektif dalam mengatasi halitosis.
PRO DAN KONTRA ANTARA HUBUNGAN MENYUSUI DAN EARLY CHILDHOOD CARIES (ECC) (Kajian Pustaka)
Wulan Apridita Sebastian;
Yufitri Mayasari;
Mutiara Rina Rahmawati Ruslan
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 13, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32509/jitekgi.v13i1.854
Karies awal pada masa kanak-kanak atau ECC adalah suatu bentuk awal dari karies gigi yang disebabkan oleh banyak faktor. Hal ini menjadi sasaran utama dalam menentukan promosi kesehatan masyarakat. Menurut World Health Organization (WHO), menyusui merupakan faktor penting untuk menurunkan angka kematian bayi dan malnutrisi. Air Susu Ibu (ASI) harus diberikan secara eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan dengan pemberian ASI disertai Makanan Pendamping ASI (MPASI) hingga usia 2 tahun. Namun pemberian ASI masih merupakan perdebatan dikalangan peneliti, ada beberapa penelitian yang menemukan bahwa pemberian ASI dalam waktu yang panjang merupakan salah satu faktor risiko terjadinya Early Childhood Caries (ECC). Salah satu penelitian di Jepang pada tahun 2011 menemukan hasil yang signifikan bahwa menyusui merupakan salah satu faktor risiko terjadinya ECC (p=0,0002;OR=6,373). Penelitian lainnya di tahun yang sama menunjukkan 20,7 % prevalensi karies memiliki hubungan yang signifikan dengan pemberian ASI selama 18 bulan atau lebih. Penelitian di Indonesia tahun 2008 menunjukkan bahwa pemberian ASI dalam jangka waktu yang lama merupakan salah satu faktor risiko terjadinya karies (p0,0001;OR=1.69). Hasil penelitian yang berlawanan pada tahun 2012, menunjukkan kelompok yang tidak diberi ASI mempunyai risiko 4 kali lebih besar untuk menderita ECC dibandingkan dengan bayi yang masih diberi ASI. Tinjauan pustaka ini bertujuan untuk menelaah berbagai penelitian maupun studi ilmiah tentang pro dan kontra hubungan ASI dan ECC. Data yang diperoleh dikumpulkan dari berbagai jurnal, database dan artikel seperti The Journal of The American Dental Association, PubMed, Medline dan BMC Oral Health.
COMPREHENSIVE TREATMENT FOR CHILDREN 6 YEARS OLD WITH EARLY CHILDHOOD CARIES
Fidya Kemala Putri;
Jeffrey Jeffrey
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 16, No 2 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32509/jitekgi.v16i2.1043
Background : Dental caries is still one of the most common problems in Indonesia, not only in adults but also in children. The prevalence of dental caries in Indonesian primary schools is almost 60-80%. Caries is a multifactorial disease caused by host (teeth), microorganism, carbohydrates, and time. Early childhood caries (ECC) is one of the most prevalent diseases in children worldwide. ECC driven by oral microorganism which is mainly caused by sugar rich-foods. In addition, poor oral hygiene and removal of dental plaque leads to the rapid development of ECC.The goal of this treatment is to prevent malocclusion of the teeth and maintain the growth and development of the child. Case report : A6-year-old girl with ECC and poor oral hygiene is given comperhensive treatment, such as restoration, endodontic treatment, extraction and space management. Conclusion: Comperhensive treatment was successful and both patient and parent were satisfied with the treatment.This can be seen from the plaque control of the child before and after the toothbrush during the visit and the space available for replacement teeth is sufficient. The pre-toothbrush control at the February 2020 visit was 25% and then the toothbrush 19%, which were 75% and 35.5% previously.
PENGARUH PASTA GIGI PROPOLIS TERHADAP INDEKS PLAK PADA PENGGUNA ORTODONTI CEKAT DI FKG UPDM(B)
Tuti Alawiyah;
Dymi Hadisusanto
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 13, No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32509/jitekgi.v13i2.846
Latar Belakang :meningkatnya kebutuhan perawatan ortodonti cekat di seluruh dunia. Plak merupakan deposit lunak yang membentuk lapisan biofilm helic dan melekat erat pada permukaan gigi. Komponen dari alat ortodonti cekat dapat meningkatkan akumulasi plak sehingga sulit dibersihkan. Kontrol plak yang paling aman dan efektif adalah dengan menggunakan sikat gigi dan pasta gigi. Propolis merupakan salah satu bahan fenol alami yang mengandung flavonoid sebagai antibakteri terhadap bakteri gram positif dan gram negatif. Tujuan: untuk mengetahui pengaruh pasta gigi propolis terhadap indeks plak pada pengguna ortodonti cekat. Metode: jenis penelitian ini adalah eksperimental klinis dengan desain penelitian uji sebelum dan uji sesudah (pre test-post test design). Subjek penelitian sebanyak 32 orang dan dibagi menjadi dua kelompok (perlakuan dan kontrol). Pemeriksaan plak dilakukan dengan menggunakan disclosing solution. Perlakuan pada penelitian ini adalah subjek menggunakan pasta gigi propolis selama 3 hari dengan instruksi menyikat gigi 2 kali sehari menggunakan metode Charter dan kelompok kontrol menggunakan pasta gigi biasa selama 3 hari dengan instruksi menyikat gigi 2 kali sehari menggunakan metode Charter. Indeks plak masing-masing kelompok sebelum dan sesudah intervensi diukur dengan Orthodontic plaque index (Attin). Hasil: berdasarkan hasil analisis uji hipotesis menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov Z untuk mengetahui perbedaan indeks plak antara dua kelompok diperoleh nilai p = 0,211 (p0,05).Hasil uji hipotesis untuk mengetahui penurunan plak pada kelompok perlakuan menggunakan uji Marginal Homogeneity diperoleh nilai p = 0,000 (p0,05). Kesimpulan: penggunaan pasta gigi mengandung propolis memiliki pengaruh terhadap penurunan indeks plak sebelum dan sesudah sikat gigi pada pengguna orthodonti cekat. Namun tidak terdapat perbedaan bermakna antara pengguna pasta gigi propolis dan pasta gigi biasa.
EKSTRAK DAUN SUKUN SEBAGAI INHIBITOR ALAMI PENGHAMBAT KOROSI PADA KAWAT STAINLESS STEEL
Mirna Rifky;
Imam Fachrudin
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 15, No 2 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32509/jitekgi.v15i2.960
Latar belakang : pemakaian kawat stainless steel pada bidang kedokteran gigi cukup banyak digunakan, terutama untuk perawatan di bidang ortodonsi dan prostodonsi yang menggunakan kawat stainless steel. Rongga mulut merupakan lingkungan yang sangat ideal untuk terjadinya korosi, yang dapat disebabkan oleh saliva. Pencegahan korosi pada kawat stainless steel dapat dilakukan dengan memakai inhibitor korosi yang bersifat organik maupun non organik.Salah satu inhibitor organik yang dapat digunakan untuk mencegah korosi adalah daun sukun. Tujuan : tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas ekstrak daun sukun dalam menghambat laju korosi kawat stainless steel. Metode : metode yang digunakan untuk penelitian ini menggunakan alat uji Atomic Absorption Spectrophometric. Hasil : hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan pelepasan ion kromium pada perendaman dalam saliva dan ekstrak daun sukun pada hari ke 1, 3, 7 dan 14. Perhitungan statistik dengan Independent T-test 0,000 dengan p0,05 menunjukkan hasil perbedaan yang bermakna. Kesimpulan : kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak daun sukun dapat menghambat laju korosi kawat stainless steel.
PENATALAKSANAAN KASUS MALOKLUSI SKELETAL KELAS III (HIPOPLASIA MAKSILA) DENGAN TEKNIK ORTODONTI DAN BEDAH ORTOGNATIK
Albert Suryaprawira
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 14, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32509/jitekgi.v14i2.605
Pasien dengan kelainan maloklusi skeletal kelas III disertai bentuk muka yang panjang memerlukan perencanaan dan penatalaksanaan dalam bidang ortodonti yang cukup rumit. Perbaikan dalam hal fungsi dan estetik adalah sangat diperlukan. Dalam laporan kasus ini dilaporkan seorang pasien laki-laki umur 19 tahun yang mengeluhkan keterbatasan saat bicara dan mengunyah. Pasein memiliki bentuk wajah bagian tengah yang kurang berkembang (hipoplasia maksila) dengan profil konkaf. Pasien terdiagnosa memiliki maloklusi skeletal kelas III berat, dengan dimensi vertikal yang berlebih disertai gigitan terbuka anterior sebesar 2,5 mm. Tujuan perawatan ini adalah untuk mencapai hasil estetik dan fungsi yang optimal. Perawatan dilakukan dengan kombinasi antara teknik ortodonti dan bedah ortognatik. Perawatan ortodonti meliputi ekspansi lengkung gigi dan pencabutan pada gigi geligi rahang atas. Kemudian alat ortodonti cekat dipasang pada kedua rahang dengan memperhatikan koordinasi antar rahang dan proses dekompensasi sebelum prosedur bedah. Badah orthognahic meliputi osteotomi Le Fort 1 disertai pergerakan maksila ke arah superior. Didapat hasil akhir dengan bentuk skeletal kelas I dan dental kelas I dengan fungsi stomatognatik yang normal dan penampilan wajah yang baik. Walaupun kasus ini cukup berat, namun dengan perawatan interdispliner antara ortodonti dan bedah orthognatik, maka didapat hasil yang memuaskan dan kestabilan perawatan yang baik.
ESTETIK CROWN LENGTHENING DENGAN METODE MINIMAL INVASIF: EVALUASI 1 TAHUN
Norman Kusumo
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 15, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32509/jitekgi.v15i1.785
Latar belakang: senyum ideal merupakan hasil evaluasi dari analisa wajah dan komposisi gigi. Prinsip desain senyum seperti kategori tipe muka, posisi incisal edge, komponen gigi dan ketinggian gingival merupakan kunci dari harmoni senyum ideal. Metode konvensional crown lengthening dengan pembukaan flap saat koreksi tulang terkadang dapat menimbulkan resiko black triangle. Laporan kasus: pasien datang ke praktik pribadi dengan alasan keluhan estetik. Profil muka didapat long straight, posisi incisal edge saat senyum terlihat lebih dari 3 mm gingival exposure. Chus gauge digunakan untuk mengukur proporsi ideal gigi, gingival dan tulang alveolar. Koreksi tulang saat crown lengthening dilakukan tanpa membuka flap (flapless) pada, sehingga mengurangi resiko black triangle. Pembahasan: laporan kasus ini bertujuan untuk mengetahui keberhasilan teknik crown lengthening tanpa pembukaan flap bedasarkan kontrol 1 tahun pasca pembedahan. Prosedur crown lengthening dengan koreksi tulang alveolar dilakukan tanpa membuka flap dan dilakukan kontrol observasi pasien selama 3 bulan dan 1 tahun. Kesimpulan: observasi klinis 1 tahun terlihat stabil. Pengurangan tulang dengan metode flapless pada crown lengtheningmerupakan alternatif yang menawarkan hasil yang cukup menjanjikan.Latar belakang: senyum ideal merupakan hasil evaluasi dari analisa wajah dan komposisi gigi. Prinsip desain senyum seperti kategori tipe muka, posisi incisal edge, komponen gigi dan ketinggian gingival merupakan kunci dari harmoni senyum ideal. Metode konvensional crown lengthening dengan pembukaan flap saat koreksi tulang terkadang dapat menimbulkan resiko black triangle. Laporan kasus: pasien datang ke praktik pribadi dengan alasan keluhan estetik. Profil muka didapat long straight, posisi incisal edge saat senyum terlihat lebih dari 3 mm gingival exposure. Chus gauge digunakan untuk mengukur proporsi ideal gigi, gingival dan tulang alveolar. Koreksi tulang saat crown lengthening dilakukan tanpa membuka flap (flapless) pada, sehingga mengurangi resiko black triangle. Pembahasan: laporan kasus ini bertujuan untuk mengetahui keberhasilan teknik crown lengthening tanpa pembukaan flap bedasarkan kontrol 1 tahun pasca pembedahan. Prosedur crown lengthening dengan koreksi tulang alveolar dilakukan tanpa membuka flap dan dilakukan kontrol observasi pasien selama 3 bulan dan 1 tahun. Kesimpulan: observasi klinis 1 tahun terlihat stabil. Pengurangan tulang dengan metode flapless pada crown lengthening merupakan alternatif yang menawarkan hasil yang cukup menjanjikan.