cover
Contact Name
Yufitri Mayasari
Contact Email
yufitrimayasrai@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
yufitrimayasari@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JITEKGI Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi
ISSN : 16933079     EISSN : 26218356     DOI : -
Core Subject : Health,
Bidang ilmu Kedokteran Gigi yang disajikan dalam jurnal ini adalah meliputi Ilmu Konservasi Gigi, Periodontologi, Ortodontik, Ilmu Penyakit Mulut, Prostodontia, Ilmu Kedokteran Gigi Anak, Ilmu Bedah Mulut, Ilmu kesehatan Gigi Masyarakat & Pencegahan, serta bidang ilmu penunjang Kedokteran Gigi seperti Radiologi Dental, Biologi Oral, Ilmu Material dan Teknologi Kedokteran Gigi, juga bidang ilmu kesehatan umum lain. Jurnal ini terbit berkala dua kali setahun (di bulan Mei dan November).
Arjuna Subject : -
Articles 186 Documents
UJI TEKAN POLYETHYLENE FIBER DENGAN FERULLE PADA INSISIVUS PERTAMA MAKSILA Anita Anita; Erna Kurnikasari; Aprilia Adenan
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 16, No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v16i1.911

Abstract

Latar belakang : pasak intraradikuler terbukti dapat memberikan dukungan pada restorasi gigi yang telah dirawat endodontik. Fiber reinforced composite memiliki modulus elastisitas mendekati dentin, dimana hal ini baik untuk menyalurkan tekanan kunyah ke akar. Polyethylene fiber merupakan jenis pasak yang banyak berkembang belakangan ini karena memiliki kelebihan mudah dibentuk serta memberikan estetik yang baik. Tujuan : penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kekuatan tekan polyethelene fiber sebagai bahan pasak inti pada gigi insisivus pertama maksila. Metode : sampel sebanyak 7 gigi insisivus pertama maksila yang telah dirawat endodontik, dibuatkan pasak dan inti. Hasil : dilakukan uji tekan pada permukaan palatal inti komposit dengan sudut 135 derajat terhadap sumbu panjang gigi, diperoleh nilai uji tekan paling tinggi sebesar 661,62 N dan paling rendah sebesar 120,27 N. Hasil uji tekan memiliki nilai rata-rata uji tekan sebesar 438,57 N, dengan standar deviasi 177,82. Daya kunyah rata-rata pada insisivus pertama pada pria yaitu 147,17 N, dan pada wanita yaitu 93,88 N. Kesimpulan :  polyethylene fiber dengan akhiran ferulle dapat digunakan sebagai bahan pasak yang mampu menahan daya kunyah pada gigi insisivus pertama maksila.
HUBUNGAN ANTARA pH SALIA DENGAN STATUS KARIES GIGI ANAK USIA PRASEKOLAH DI KABUPATEN SLEMAN Sri Utami
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 14, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v14i2.653

Abstract

Latar belakang: prevalensi karies pada anak-anak usia 2-4 tahun di negara-negara yang sedang berkembang mencapai 18 % , sedangkan pada anak-anak usia 3-6 tahun di Kota Yogyakarta mencapai 84,1 %. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pH saliva dengan status karies gigi anak usia prasekolah Kabupaten Sleman tahun 2015. Metode: jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan desain kasus kontrol. Jumlah subyek penelitian adalah 120 anak usia prasekolah , 60 anak sebagai kasus dan 60 anak sebagai kontrol, dengan usia 4-6 tahun. Tempat penelitian adalah di sekolah TK Kabupaten Sleman, menggunakan teknik sampling simple random sampling. Variabel penelitian adalah pH saliva yang diukur menggunakan pH digital meter (Hanna), dan status karies gigi anak diukur menggunakan indeks def-t. Koefisien Kappa pengukuran indeks def-s adalah 100%. Analisis data yang digunakan adalah uji Simple Logistic Regression. Hasil: terdapat hubungan yang signifikan antara pH saliva dengan status karies gigi anak usia prasekolah (p=0,004, OR=4,094, 95% CI= 1,583 10,587). Kesimpulan: derajat keasaman saliva berhubungan dengan status karies gigi anak usia prasekolah di Kabupaten Sleman, anak-anak dengan pH saliva rendah mempunyai risiko 4 kali lebih besar untuk menderita karies dibandingkan anak-nak dengan pH yang tinggi.Kata kunci: pH saliva, karies gigi, anak usia prasekolah
GAMBARAN PRAKTIK PEMBERSIHAN GIGI DAN MULUT SERTA TINGKAT SOSIAL EKONOMI Annisa Septalita; Danish Maretha
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 17, No 2 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v17i2.1453

Abstract

Latar belakang: Praktik pembersihan gigi dan mulut yang baik menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan status kesehatan gigi dan mulut seseorang. Praktik pembersihan gigi dan mulut dapat dipengaruhi oleh salah satunya yaitu faktor sosial ekonomi (pendidikan, pendapatan, dan pekerjaan). Penelitian Oberoi et al. (2016) menyatakan bahwa seluruh (100%) masyarakat di India golongan sosial ekonomi menengah ke atas membersihkan gigi mereka secara rutin jika dibandingkan dengan golongan sosial ekonomi bawah yang hanya sebanyak 62,5%. Tujuan penelitian ini yang berupa pilot studi sebagai penelitian pendahuluan yang menjelaskan gambaran deskripsi praktik pembersihan gigi dan mulut serta tingkat sosial ekonomi pada warga RT 008 RW 05, Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur, DKI Jakarta. Metode penelitian: Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Terdapat 50 responden yang dipilih dengan metode simple random sampling, kemudian mengisi kuesioner yang berisi pertanyaan mengenai sosial ekonomi dan praktik pembersihan gigi dan mulut. Hasil penelitian: Rata-rata usia warga adalah 39 tahun, dan didominasi oleh perempuan. Tingkat sosial ekonomi warga menunjukkan paling banyak berpendidikan SMA (50%), berpendapatan sedang (38%), dan pekerjaannya adalah pekerja terampil (36%). Untuk pola praktik kebersihan gigi dan mulut, hampir keseluruhan (80%) baik, sedangkan yang masih kurang baik yaitu pada penggunaan obat kumur dan pembersih lidah. Kesimpulan: Praktik pembersihan gigi dan mulut warga baik dengan tingkat sosial ekonomi termasuk menengah/middle.
GIGI TIRUAN SEBAGIAN IMMEDIATE YANG MEMENGARUHI ESTETIK DAN OKLUSI Anita Anita
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 17, No 2 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v17i2.1569

Abstract

Latar belakang :Estetik merupakan faktor penting dalam bersosialisasi. Kehilangan gigi depan tentunya memengaruhi penampilan seseorang. Gigi tiruan immediate merupakan restorasi yang dibuat sebelum pencabutan gigi dan dipasang segera di dalam mulut. Pembuatan gigi ini bertujuan memberikan dukungan estetik, melindung luka setelah pencabutan dan memberikan bantuan pengunyahan selama periode penyembuhan. Laporan kasus :Seorang Wanita berusia 45tahun datang ke RSGM dengan keluhan gigi goyang dan malu akan penampilannya. Pasien telah kehilangan banyak gigi di rahang atas, hanya tersisa gigi 23,24,26,27,28 dan beberapa sisa akar. Kebersihan mulut pasien kurang baik dan terdapat beberapa karies di gigi yang tersisa. Setelah dilakukan pemeriksaanperiodontal, diputuskan untuk mencabut gigi 26,27,28 karena goyang derajat 2 dengan pergerakan 0,5mm disertai bifurkasi terbuka dan gigi 32,31,41,42,47 karena goyang derajat 3 dengan pergerakan 1mm. Berbagai pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan radiografi panoramik,uji vitalitas gigi, pemeriksaan periodontal, keadaan sistemik pasien dan persiapan pembuatan gigi tiruan immediate dilakukan sebelum tindakan pencabutanoleh tim bedah mulut. Pembuatandan pemasangan gigi tiruan dilakukan oleh tim prostodonsia. Kesimpulan :Gigi tiruan immediate memberikan nilai estetik bagi pasien yang tidak mau mengalami fase tidak bergigi. Dibutuhkan kerja sama antara dokter gigi dan pasien untuk mendapatkan gigi tiruan yang maksimal. Kontrol berkala danreliningbertahap diperlukan untuk memperbaiki stabilitas dan retensi gigi tiruan immediate.
PENGETAHUAN DOKTER GIGI DI INDONESIA TENTANG CONE BEAM COMPUTED TOMOGRAPHY Sandy Pamadya; Johannes Dhartono
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 17, No 2 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v17i2.1418

Abstract

Latar belakang: Cone Beam Computed Tomography (CBCT) merupakan salah satu modalitas pencitraan radiologi 3 dimensi yang masih belum optimal digunakan di Indonesia, karena selain mahal harganya juga kemungkinan tingkat pengetahuan dokter gigi tentang CBCT masih kurang. Salah satu penyebab kurangnya pengetahuan bisa jadi karena CBCT tidak termasuk dalam Standar Kompetensi Dokter Gigi Indonesia (SKDGI) sehingga kemungkinan di beberapa Institusi Pendidikan Dokter Gigi (IPDG) tidak banyak diajarkan. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk melihat tingkat pengetahuan dokter gigi di Indonesia tentang CBCT. Metode: Desain penelitian deskriptif, data diperoleh menggunakan kuesioner yang ditujukan kepada responden, yaitu dokter gigi di Indonesia yang aktif berpraktik. Data yang didapat lalu diolah menggunakan perangkat lunak Microsoft Excel untuk mendapatkan persentase jawaban dari masing-masing pertanyaan dan disimpulkan apakah mayoritas responden memilih jawaban yang benar atau tidak. Hasil: Hasil menunjukkan pada pertanyaan dengan salah satu pilihan jawaban yang benar, mayoritas responden (lebih dari 50%) menjawab benar. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan dokter gigi di Indonesia sudah cukup baik, meskipun masih ada beberapa kekeliruan responden dalam pemahaman tentang CBCT. Kesimpulan: Pengetahuan dokter gigi di Indonesia tentang CBCT berdasarkan penelitian deskriptif sederhana menggunakan kuesioner, menunjukkan bahwa tingkat pengetahuannya sudah cukup baik. Akses informasi di era digital sekarang ini membuat dokter gigi dapat dengan mudahnya memperoleh pengetahuan di luar dari apa yang sudah didapat di pendidikan formal. Perlunya materi tambahan mengenai CBCT di kurikulum pendidikan dokter gigi atau memperbanyak materi tentang CBCT di kegiatan P3KGB dapat menjadi solusi.
KADAR HAMBAT MINIMUM DAN KADAR BUNUH MINIMUM EKSTRAK ETANOL DAUN OREGANO TERHADAP PERTUMBUHAN CANDIDA ALBICANS Bernadete Marcelianta Cantika Br. Tarigan; Shelly Lelyana; Vinna Kurniawati Sugiaman
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 17, No 2 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v17i2.1595

Abstract

Latar belakang: Candida albicans merupakan salah satu flora normal oral yang dapat menyebabkan infeksi pada rongga mulut manusia yang disebut sebagai kandidiasis. Manajemen primer yang sering digunakan dalam mengatasi kandidiasis pada rongga mulut salah satunya adalah nystatin, namun pemberian nystatin hanya terbatas pada pengobatan topikal infeksi kandidiasis kulit dan mukosa karena memiliki spektrum yang sempit dan penyerapan yang buruk pada saluran pencernaan serta memiliki efek samping pada dosis yang tinggi seperti mual ringan, diare, dan muntah. Masyarakat sering menggunakan daun oregano (Origanum vulgare L.) sebagai obat tradisional untuk mengobati berbagai macam penyakit seperti gangguan bronkial, gangguan pencernaan, gatal pada kulit dan flu.Sejumlah penelitian (secara in vitro dan in vivo) juga menunjukkan bahwa daun oregano (Origanum vulgare L.) mengandung beragam senyawa fitokimia seperti fenolik glikosida, flavonoid, tanin, sterol dan terpenoid dalam jumlah tinggi. Tujuan: Mengetahui kadar hambat minimum (KHM) dan kadar bunuh minimum (KBM) ekstrak etanol daun oregano (Origanum vulgare L.) terhadap pertumbuhan Candida albicans secara in vitro. Metode Penelitian: Penelitian ini bersifat eksperimental murni laboratorium secara in vitro dengan cara membandingkan kelompok sampel yang mengandung ekstrak etanol daun oregano dengan konsentrasi 50 mg/ml; 25 mg/ml; 12,5 mg/ml; 6,25 mg/ml; 3,125 mg/ml; 1,562 mg/ml; 0,781 mg/ml; serta kontrol negatif berupa DMSO (Dimethyl Sulfoxide) 10% dan kontrol positif berupa nystatin. Metode yang digunakan yaitu metode broth microdilution pada 96 well plate yang diamati dengan spektofotometri dan uji kadar bunuh minimum (KBM) dengan metode spread pada agar yang dihitung menggunakan colony counter. Hasil Penelitian: Ekstrak etanol daun oregano (Origanum vulgare L.) memiliki kadar hambat minimum (KHM) pada konsentrasi 0,781 mg/ml dan kadar bunuh minimum (KBM) pada konsentrasi 50 mg/ml. Kesimpulan: Ekstrak etanol daun oregano (Origanum vulgare L.) memiliki aktivitas antijamur terhadap pertumbuhan Candida albicans.
EFEK MUTILASI GIGI 36 DAN 46 TERHADAP DIMENSI HORISONTAL BAWAH PADA MALOKLUSI KLAS I ANGLE Paulus Maulana
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 17, No 2 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v17i2.1143

Abstract

Latar belakang : Gigi 36 dan 46 berperan untuk mempertahankan oklusi. Kehilangan gigi 36 dan 46 berakibat perubahan kedudukan gigi tetangga dan antagonis, perubahan spontan tumpang gigit, jarak gigit dan inklinasi insisif. Molar kedua bergerak ke mesial, premolar kedua, premolar pertama dan kaninus bergeser ke distal. Mutilasi gigi merupakan kehilangan gigi yang terjadi lebih dari 5 tahun. Kehilangan gigi 36 dan 46 selama lebih dari 5 tahun secara hipotesis akan menyebabkan perubahan dimensi vertikal, dimensi horisontal wajah dan rahang gigi. Dampak terhadap dimensi horisontal dipilih di penelitian ini. Metode penelitian: Jenis penelitian observasional analitik. Populasi  penelitian ini  penderita maloklusi kelas I Angle di klinik Dent Smile tahun 2011 – 2015. Sampel adalah total sampel penderita mutilasi gigi 36 dan 46 dan didapatkan 22.  Variabel dimensi horisontal diwakili sudut NAP, ANB, INB, dan IGoMe. Data diuji tes Kolmogorov Sminov untuk melihat distribusi data dan didapatkan nilai p 0,05, dilanjutkan uji beda (Independent t dan Mann Whietney) untuk melihat perbedaan antar kelompok. Hasil penelitian: Hasil uji perbedaan kelompok non mutilasi dan mutilasi didapatkan nilai p pada sudut NAP, ANB,  INB, IGoMe 0,05. Sudut NAP, ANB, INA, INB, IGoMe disimpulkan ada perbedaan bermakna antara kelompok non mutilasi dan mutilasi. Kesimpulan: Terjadi perubahan anteroposterior muka disebabkan ada perbedaan bermakna sudut NAP dan ANB pada kelompok mutilasi dan non mutilasi. Inklinasi insisif rahang bawah lebih retrusif dikarenakan berkurangnya sudut I-GoMe dan I-NB pada kelompok mutilasi dan non mutilasi. Perubahan ini sebagai akibat dari mutilasi gigi 36 dan 46.
GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU MENGENAI PEMELIHARAAN KESEHATAN RONGGA MULUT ANAK SINDROMA DOWN DI DEPOK Ahmad Salman Ali Ghufroni; Risti Saptarini Primarti; Eka Chemiawan; Mirna Febriani
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 17, No 2 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v17i2.1392

Abstract

Latar belakang: Anak Sindroma Down memiliki masalah intelektual, risiko kesehatan umum, dan karakteristik wajah yang dapat memengaruhi kondisi rongga mulutnya. Ibu adalah panutan bagi anak, berperan mengajarkan kebersihan rongga mulut sejak usia dini. Pengetahuan dan sikap ibu menjadi modal dasar dalam memelihara kesehatan rongga mulut anak Sindroma Down. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran pengetahuan dan sikap ibu mengenai pemeliharaan kesehatan rongga mulut anak Sindroma Down di Kota Depok. Metode penelitian: Penelitian Ini merupakan penelitian deskriptif dengan metode survei berupa pengisian kuesioner. Pengambilan sampel menggunakan teknik simple random sampling. Responden merupakan 55 ibu dari anak Sindroma Down dari POTADS dan 5 SLB Kota Depok. Hasil penelitian: Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden menunjukan kategori pengetahuan rendah dan sikap baik dalam memelihara kesehatan rongga mulut anak Sindroma Down. Kesimpulan: Para ibu dari anak Sindroma Down memiliki kategori pengetahuan kurang namun memiliki sikap baik dalam memelihara kesehatan rongga mulut anak. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor yang memengaruhi ibu dalam menerima informasi dan bersikap dalam memelihara kesehatan rongga mulut anak Sindroma Down.
HIPOESTESIA ORAL PASCA INJEKSI ANESTESI LOKAL Gregorius Punto Dewantara; Atia Nurul Sidiqa
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 17, No 2 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v17i2.1435

Abstract

Latar belakang: Cedera saraf tepi adalah salah satu jenis komplikasi yang paling umum ditemukan pada penatalaksanaan perawatan kedokteran gigi. Cedera saraf merupakan efek samping yang dapat diakibatkan oleh tindakan anestesi lokal. Etiologi lain yang dapat menyebabkan terjadinya cedera saraf adalah tindakan pemasangan implan, penatalaksanaan osteotomi, pencabutan gigi molar ketiga, retraksi flap, odontektomi, serta bedah ortognatik. Hal ini merupakan komplikasi yang terkait dengan tindakan anestesi lokal yang dapat terjadi secara sistemik maupun lokal. Tujuan laporan kasus ini adalah untuk mengkaji kasus cedera saraf yaitu hipoestesia yang terjadi pasca anestesi lokal behubungan dengan anatomi dan lokasi yang berhubungan dengan patobiologi kasus. Laporan kasus: Seorang pasien perempuan berusia 21 tahun datang ke klinik kedaruratan dental dengan keluhan rasa tidak nyaman pada langit-langit bagian depan sebelah kanan. Pasien mengaku 2 minggu yang lalu melakukan tindakan penambalan gigi 12. Pengaruh obat anestesi dapat dirasakan oleh pasien sesaat setelah dilakukan injeksi. Rasa kebas berlangsung hingga sekitar 3 jam. Selain rasa kebas, kondisi tidak nyaman pada mukosa palatal terutama daerah insersi jarum anestesi terasa kurang nyaman. Pasien pun merasakan adanya sensasi seperti rasa terbakar pada daerah tersebut. Vitamin B kompleks serta gel Aloe vera efektif meredakan keluhan pasien. Proses anamnesis, penegakan diagnosis dan pemberian obat yang tepat dapat meredakan keluhan pada pasien. Kesimpulan: Hipoestesia yang disebabkan oleh komplikasi injeksi anestesi lokal sangat jarang terjadi. Hipoestesia didefinisikan sebagai penurunan sensitivitas terhadap stimulasi atau defisit modalitas sensorik. Hipoestesia dapat terjadi jika segala jenis cedera menyebabkan kerusakan pada serabut saraf.
DIAGNOSIS GANGGUAN SENDI TEMPOROMANDIBULAR PADA KASUS KEHILANGAN GIGI DENGAN METODE DC/TMD Bimo Rintoko; Selvia Farida; Lisa Prihastari
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 18, No 1 (2022)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v18i1.1881

Abstract

Latar belakang: gangguan sendi temporomandibular atau Temporomandibular Disorder (TMD) yang ditandai dengan nyeri kraniofasial yang meliputi sendi pada rahang, otot pengunyahan, atau otot yang mensyarafi kepala dan leher. Penyebab TMD bersifat multifaktorial antara lain dikarenakan faktor kehilangan gigi dan memiliki kebiasaan buruk. Protokol DC/TMD yang baru merupakan protokol pemeriksaan TMD yang sangat direkomendasikan untuk digunakan sebagai protokol klinis dan penelitian dokter gigi. Tujuan: untuk mengetahui prevalensi hasil diagnosis TMD dengan metode DC/TMD, mengetahui macam-macam penyakit TMD yang dialami dan hubungannya dengan status kehilangan gigi pada mahasiswa akademik Fakultas Kedokteran Gigi Universitas YARSI. Metode: penelitian mengunakan desain analitik cross-sectional dengan sampel yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 150 mahasiswa tahun akademik 2018/2019 berusia 19-23 tahun yang diambil dengan cara total sampling. Subyek penelitian telah diminta untuk menyetujui dan menandatangani informed consent terlebih dahulu oleh peneliti. Data diperoleh dari hasil untuk anamnesis dan pemeriksaan fisik dengan diagnosis TMD menggunakan protokol DC/TMD berdasarkan Internasional RDC/TMD Consortium Network yang telah dialih bahasakan ke Bahasa Indonesia. Data hasil pemeriksaan diolah menggunakan software statistik SPSS dengan uji univariat dan bivariat. Hasil: sebanyak 48% mahasiswa memiliki kehilangan gigi, 62% mahasiswa didiagnosis memiliki TMD, dan hasil analisis hubungan menggunakan uji chi-square menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan bermakna antara kehilangan gigi dengan TMD (p-value= 0,024; p0,05). Kesimpulan: kehilangan gigi terbukti berhubungan dengan kejadian gangguan sendi temporomandibular.