cover
Contact Name
Lukmanul Hakim
Contact Email
lukmanulhakim7419@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalmabasan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
MABASAN
ISSN : 20859554     EISSN : 26212005     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
MABASAN is a journal aiming to publish literary studies researches, either Indonesian, local, or foreign literatures. All articles in MABASAN have passed reviewing process by peer reviewers and edited by editors. MABASAN is published by Kantor Bahasa NTB twice times a year, in June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 1 (2011): Mabasan" : 8 Documents clear
Antropologi Sastra: Mata Rantai Terakhir Analisis Ekstrinsik I Nyoman Kutha Ratna
MABASAN Vol. 5 No. 1 (2011): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.349 KB) | DOI: 10.26499/mab.v5i1.197

Abstract

Dalam bidang sastra, dikenal dua model analisis ekstrinsik, yaitu psikologi sastra dan sosiologi sastra. Dengan adanya kekayaan sekaligus keragaman aspek-aspek kebudayaan dalam kehidupan manusia, maka kedua jenis interdisiplin dianggap belum cukup. Antropologi sastra dianggap sebagai model interdisiplin yang dapat mengantisipasi kekuranagn tersebut. Antropologi sastra jelas melibatkan dua bidang ilmu yaitu antropologi dan sastra. Keduanya  pada dasarnya memiliki persamaan, sama-sama memanfaatkan cerita dalam bentuk pengalaman sehari-hari. Etnografi dengan novel, baik dalam proses pengumpulan data maupun proses penulisannya, menunjukkan ciri-ciri yang relatif sama. Dalam teori kontemporer kedua penulisan makin sulit dibedakan, karya sastra yang cenderung ilmiah, etnografi yang cenderung literer. Untuk mengantisipasi perkembangan antropologi sastra ke depan, maka salah satu cara yang dapat dilakukan adalah memasukkannya ke dalam kurikulum.
Kearifan Lokal Etnis Sasak dalam Cerita Rakyat Monyeh NFN Nuryati
MABASAN Vol. 5 No. 1 (2011): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.784 KB) | DOI: 10.26499/mab.v5i1.202

Abstract

Etnis Sasak seperti halnya etnis-etnis yang lainnya mempunyai identitas dan keunikan sendiri. Bahasa Sasak yang merupakan identitas etnis Sasak sampai sekarang masih memiliki fungsi praktis sebagai alat komunikasi, yaitu dipergunakan dalam komunikasi sehari-hari oleh penuturnya. Hal tersebut terbukti dari penggunaan bahasa Sasak dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat penuturnya, seperti pembicaraan dalam lingkungan keluarga, masyarakat, kantor, dan masih ada yang menggunakannya sebagai bahasa pengantar di lingkungan sekolah. Di samping berfungsi sebagai alat komunikasi, bahasa Sasak juga  berfungsi sebagai alat pengungkap rasa seni. Hal ini dapat dilihat dalam aktivitas sastra seperti bekayaq, wayang sasak, lelakaq, cilokaq, dan tradisi lisan lainnya yang menggunakan bahasa Sasak sebagai media pengungkapnya. Masyarakat Sasak seperti juga masyarakat etnis lain mempunyai beragam sastra lisan, seperti pantun, mantra, syair, dan cerita-cerita rakyat (prosa). Sastra lisan Sasak sebagai bagian dari kebudayaan yang pernah hidup dan berkembang di tengah-tengah masyarakat, tentu mempunyai fungsi dan kedudukan di tengah-tengah masyarakat penuturnya, seperti sebagai sarana penghibur, pendidikan, dan komunikasi. Sebagai salah satu ragam sastra lisan yang dimiliki oleh suku Sasak di Pulau Lombok, cerita rakyat merupakan kekayaan budaya yang mengandung nilai-nilai budaya bagi masyarakat penuturnya.
Dekonstruksi Bahasa Indonesia pada Bahasa SMS Ahmad Sirulhaq; Hasanuddin Chaer
MABASAN Vol. 5 No. 1 (2011): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.746 KB) | DOI: 10.26499/mab.v5i1.193

Abstract

Seiring dengan pesatnya perubahan dalam teknologi kumunikasi dan informasi, penggunaan media telepon seluler dalam pemanfaatan komunikasi semakin intens. Pada saat yang sama penggunaan layanan pesan singkat (sms) yang disampaikan melalui telepon seluler pun semakin intens. Dalam pada itu, bahasa (Indonesia) yang digunakan dalam sms mengalami dekonstruksi atas struktur-struktur yang sudah mapan. Makalah ini bertujuan untuk membahas bentuk-bentuk dekonstruksi atas bahasa Indonesia melalui sms. Data-data yang terkait dengan makalah ini diambil dari sms yang masuk dalam telepon seluler dengan metode catat. Berdasarkan data-data yang ada, dalam pemakaian bahasa Indonesia kontemporer (melalui sms) terdapat adanya dekonstruksi atas sistem bahasa Indonesia dalam berbagai manifestasinya,  mulai dari dekonstruksi atas sistem kebahasaan yang ada maupun dekonstruksi atas cara-cara pemerian bahasa Indonesia.
Penggunaan Media Film Dokumenter dalam Keterampilan Berbicara Bahasa Indonesia pada Siswa Bipa Tingkat Madya di Universitas Trisakti Dewi Nastiti Lestari
MABASAN Vol. 5 No. 1 (2011): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.965 KB) | DOI: 10.26499/mab.v5i1.194

Abstract

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan berbicara dengan teknik diskusi melalui penggunaan film dokumenter sangat membantu atau memotivasi siswa untuk berpikir logis dan berbahasa target, bahasa Indonesia.Permasalahan keterampilan berbicara siswa yang ditemui pada program BIPA di Universitas Trisakti antara lain terdapat kekurangtepatan pada beberapa poin kebahasaan berikut, seperti: pelafalan saat merangkai kata menjadi kalimat; penggunaan kata dalam konteks kalimat; penggunaan kata sambung intrakalimat dan antarkalimat; pengujaran kalimat majemuk, serta pemahaman konteks ujaran kawan tutur. Hal tersebut memunculkan pertanyaan: (a) Bagaimana meningkatkan keterampilan berbicara dalam bahasa Indonesia melalui media film dokumenter? (b) Apakah keterampilan berbicara bahasa Indonesia siswa BIPA tingkat madya dapat ditingkatkan melalui media film dokumenter? Keterampilan berbicara yang dimaksudkan adalah kegiatan yang bertujuan untuk berkomunikasi dengan kawan bicara secara logis dan wajar dengan menggunakan pelafalan yang tepat, bertata bahasa yang benar, penggunaan kosakata yang tepat, kelancaran pengucapan yang baik, dan terdapat pemahaman antarkawan bicara. Sementara itu, penggunaan media film dokumenter yang dimaksud merupakan alat bantu pembelajaran efektif untuk menyampaikan materi yang berisikan pengenalan budaya dan realita sosial dengan tujuan untuk menjembatani proses komunikasi pada saat-saat tertentu, seperti terdapat kesenjangan antara bahasa dan budaya siswa asing. Dalam hal ini digunakan film dokumenter yang disesuaikan dengan topik BIPA pada tingkat madya. Film dokumenter yang digunakan diperoleh dari Yayasan Masyarakat Mandiri Film Indonesia, sebuah komunitas film Indonesia yang di dalamnya terdapat kerja sama antara In-Docs dan The Ford Foundation.Bahasan dalam makalah ini memfokuskan pada penjelasan atas pertanyaan penelitian tersebut. Data yang digunakan dalam kajian ini berdasarkan hasil penelitian tindakan pada program BIPA, Kerjasama Negara Berkembang di Universitas Trisakti.
Afiks Derivatif Pembentuk Kata Kerja dalam Bahasa Sumbawa Dialek Tongo NFN Kasman
MABASAN Vol. 5 No. 1 (2011): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.078 KB) | DOI: 10.26499/mab.v5i1.203

Abstract

Munculnya judul ini dilatarbelakangi oleh adanya suatu pemikiran bahwa bahasa yang memberi kendala bagi penuturnya harus mendapat penanganan yang memadai sehingga penuturnya, makalah ini bertujuan mendeskripsikan afik-afiks pembentuk kata kerja memahami azas-azas yang ada di dalam bahasanya. Dengan adanya pemahaman yang memadai terhadap azas-azas yang ada dalam bahasanya, penutur bahasa yang bersangkutan tidak akan tejebak dalam carut-marut berbahasa dan carut-marut berpikir menggunakan bahasanya. Dengan demikiandan azas atau kaidah pembentukan kata kerja dalam bahasa bahasa Sumbawa dialek Tongo. Untuk menjawab permasalahan tersebut, peneliti menggunakan metode distribusional dengan teknik urai unsur langsung, teknik sisip, teknik ganti, teknik oposisi biner dan metode padan dengan teknik alat penentu referen dan alat penentu bahasa lain. Melalui penerapan kedua metode tersebut, diketahuilah bahwa terdapat tujuh afiks derivatif, yakni: {ba-}, {ra-}{ i-}, { sa-}1, {sa-}, {N-}, { ka1-}, dan  {ka2-}.
Pengembangan Keterampilan Sosial Melalui Pembelajaran Puisi pada Siswa Sekolah Dasar Kelas V SD Muhammadiyah Kolombo Yogyakarta NFN Hilmiati
MABASAN Vol. 5 No. 1 (2011): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.996 KB) | DOI: 10.26499/mab.v5i1.195

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan sosial siswa kelas V SD Muhammadiyah Kolombo, Yogyakarta melalui peningkatan keterampilan membaca dan menulis puisi. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri atas delapan pertemuan dalam dua siklus dengan menggunakan model spiral menurut Kemmis dan Mc Taggart. Peneliti bertindak sebagai pengamat, sedangkan kolaborator utama, yaitu guru bahasa Indonesia yang mengajar kelas tersebut sebagai pelaksana tindakan. Kolaborator pembantu terdiri atas tiga  orang pengamat. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah pengamatan, wawancara, dan dokumentasi: instrumen yang digunakan adalah tes sikap dan lembar pengamatan. Data keterampilan sosial dianalisis dengan teknik deskriftif kuantitatif dan data keterampilan membaca dan menulis puisi dianalisis dengan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) peningkatan keterampilan sosial: a) rerata skor keterampilan sosial pada siklus pertama dengan rentang skor 1—40  diperoleh 21,4 (cukup), pada siklus kedua meningkat menjadi 27,12 (baik);  b) rerata skor tes sikap sebelum pelaksanaan tindakan dengan rentang skor 1—75  diperoleh 42,9 (cukup), pada pascatindakan meningkat menjadi 54,9 (baik). 2) peningkatan keterampilan membaca pada siklus pertama dengan rentang 1—100  diperoleh 52,63% (belum tuntas); pada siklus kedua meningkat menjadi 68,42% (tuntas) dan menulis puisi pada siklus pertama dengan rentang 1—100  diperoleh 52,63% (belum tuntas); pada siklus kedua meningkat menjadi 73,68% (tuntas).
Istilah Teknis dan Permasalahannya dalam Penerjemahan Muhamad Nur
MABASAN Vol. 5 No. 1 (2011): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.044 KB) | DOI: 10.26499/mab.v5i1.200

Abstract

Term is a word or word-combination which denotes the notion of a special realm of communication in science, industry, technology, art, in a definitive field of knowledge and human activity, that is a special purposes linguistic unit (Лейчик 2007). In this context, the article develops the analyses of writer’s master thesis about the translation of Indonesian terminology standardization directory for computer application ‘Panduan pembakuan istilah penggunaan komputer dengan aplikasi komputer berbahasa Indonesia’ that were set up by the TIM INPRES ‘the Presidential directive teams’ of Indonesia, Number 2/2001. The analyses result was that identifiable numerous approaches of equivalent, and these categorizable inconsistance in the translation process.  Therefore, the message of source language (English) could not comprehensively be expressed in the target language (Indonesian).  Analyses development in the article is tend toward the reviewing of technical terms existence etimologically-theoretically, referring to the International Terminology Standardization, International Standardization Organization (ISO), and Handbook of Terminology in relation to the message sense of technical terms in translation.      Thus, the technical terms in the translation context are bounded by four dimensions; concept, object, term and definition referring to the semiotic triangle as the terminologists’ additional dimension. Where, the pyramid was extended by the dimension of definition resulting four intersections to represent the concept. Accomodating the concept of technical terms can only be handled through the adoption approach of phonetic and semantic adaptation to keep the equivalent message of two different languages.
Refleksi Konsep Kekuasaan dan Gender Orang Jawa dalam Teks “Babad Kedhiri” Nining Nur Alaini
MABASAN Vol. 5 No. 1 (2011): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.594 KB) | DOI: 10.26499/mab.v5i1.201

Abstract

Babad Kedhiri merupakan karya yang merekam kerajaan Kedhiri dalam bentuk karya sastra. Munculnya eksemplar-eksemplar Babad Kedhiri menunjukkan bahwa karya ini memperoleh penerimaan sekaligus sambutan dari masyarakatnya. Meskipun menggunakan peristiwa sejarah sebagai bahannya, babad Kedhiri merupakan sebuah mitos yang diciptakan secara sadar oleh masyarakatnya, tetapi memuat unsur-unsur tak sadar yang syarat makna. Aspek tak sadar tersebut merupakan human mind masyarakat penciptanya. Dengan menggunakan teori struktural Levi-Strauss, penelitian ini menginterprestasi human mind orang Jawa yang terefleksi dalam BK. Melalui interprestasi ini dapat diketahui bahwa konsep orang Jawa yang dominan yang terefleksi dalam Babad Kedhiri adalah kekuasaan dan gender. Dari fokus pemikiran tentang unsur gender tercermin pemikiran bahwa masyarakat Jawa menempatkan wanita dan pria dalam kedudukan yang sama karena pola pikir yang mendominasi bukanlah unsur gender, melainkan unsur keturunan atau darah.

Page 1 of 1 | Total Record : 8