cover
Contact Name
Basori
Contact Email
tjakbasori@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
suarbetangbbkalteng@gmail.com
Editorial Address
http://suarbetang.kemdikbud.go.id/jurnal/index.php/BETANG
Location
Kota palangkaraya,
Kalimantan tengah
INDONESIA
Suar Betang
ISSN : 19075650     EISSN : 26864975     DOI : 10.26499/surbet.v14i1.91
Core Subject : Education,
SUAR BETANG is a journal that publishes articles in the study of literature, linguistics, and language teaching. This journal will be consumed by litterateur, linguists, researchers, university lecturers in language teaching, students in linguistics, language teachers, journalists, and other professionals. All articles in SUAR BETANG have passed reviewing process by peer reviewers and edited by editors. SUAR BETANG is published by Balai Bahasa Kalimantan Tengah twice a year, in June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 14, No 2 (2019): Desember 2019" : 10 Documents clear
Representasi Akhlak dalam Novel I am Sarahza Karya Hanum Salsabiela dan Rangga Almahendra serta Relevansinya dengan Pemelajaran Bahasa Indonesia di Madrasah Aliyah Hilmi Mahya M.; Elen Inderasari
SUAR BETANG Vol 14, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/surbet.v14i2.136

Abstract

This study aims to represent the teachings of Islam on the moral aspects in the novel Iam Sarahza by Hanum Salsabiela and Rangga Almahendra published by Republika in 2018. Researchers also relevant the results of research by learning Indonesian in Madrasah Aliyah. This type of research is library research that is research conducted by collecting various literatures. Data collection techniques used are reading and note taking techniques. The validity of the data is obtained by using theory triangulation by collecting various relevant theories and then the researcher draws his conclusions, the researcher uses the perspective of more than one theory to discuss the problems examined in the form of intrinsic elements of literary works and Islamic teachings. the data analysis technique used is structuralism which is suitable for interpreting or describing Islamic teachings implicit in novel intrinsic elements. the results showed that the moral values contained in this novel include morals such as (1) polite, (2) sincere, (3) patient, (4) sympathizing orphans, (5) thanksgiving, (6) almsgiving, (7) advised, (8) throwing (9) trash in its place and (10) serving parents, and madzmumah's morals include (1) gossiping, (2) suicide, (3) drinking alcohol, (4) pessimism and (5) kufr. The results of the research related to the moral values can be implemented in learning Indonesian in madrasas.
Fulfilling The Needs of Diverse Students: Teaching Strategies for EFL Inclusive Classrooms Jumatul Hidayah; Ruly Morganna
SUAR BETANG Vol 14, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/surbet.v14i2.135

Abstract

This study aimed at investigating teaching strategies and their implementation in EFL inclusive classrooms at one of the junior high schools in Curup-Bengkulu, Indonesia. To garner credible data as desirable, an instrumental case study was conducted by engaging two EFL teachers selected purposively at that school. Interview and observation were deployed as the techniques of collecting data. This study revealed that the teachers applied four teaching strategies ranging from active learning, peer-tutoring, cooperative learning, to direct instruction. Despite many more inclusive teaching strategies which were left aside, the limited extent of inclusion-related pedagogical knowledge and experiences, inadequate reflective teaching, and limited facilities and infrastructure promoting inclusive education, the EFL teachers had been able to implement the aforesaid strategies properly. They had demonstrated that they were sufficiently skillful at the detailed procedures of the implementation of the four strategies in the EFL inclusive classrooms. Further studies are expected to address the application of more instructional strategies for inclusive classrooms such as those suggested by Lawrence-Brown (2004). Revealing both qualitative and experimental data associated with those instructional strategies will be very contributive and meaningful.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi strategi pengajaran serta penerapannya dalam pembelajaran bahasa Inggris di kelas inklusif di salah satu SMP di Curup, Provinsi Bengkulu, Indonesia. Demi mendapatkan data yang kredibel, studi kasus instrumental dilakukan dengan melibatkan dua orang guru bahasa Inggris yang mengajar di sekolah tersebut. Wawancara dan observasi digunakan sebagai teknik pengumpulan data. Penelitian ini mengungkap bahwa guru tersebut menerapkan empat jenis strategi pengajaran, yaitu active learning, peer-tutoring, cooperative learning, dan direct instruction. Meskipun masih banyak lagi strategi pengajaran yang belum diterapkan, terbatasnya pengetahuan dan pengalaman paedagogik terkait pendidikan inklusif, belum dilakukannya pengajaran reflektif, serta fasilitas dan insfrastrukur pendukung pendidikan inklusif yang terbatas, dua orang guru bahasa Inggris tersebut sudah mampu menerapkan keempat strategi pengajaran tadi dengan baik. Mereka sudah menunjukkan bahwa mereka cukup andal dalam menjalankan prosedur secara detail ketika menerapkan keempat jenis strategi pengajaran tersebut dalam kelas inklusif. Penelitian selanjutnya diharapkan untuk berorientasi pada penerapan berbagai strategi pengajaran inklusif lainnya sebagaimana yang disarankan oleh Lawrence-Brown (2004). Mengungkap data kualitatif serta data eksperimen terkait berbagai strategi pengajaran tersebut akan sangat kontributif dan bermanfaat.
Interferensi Bahasa Melayu Batubara terhadap Kemampuan Berbahasa Indonesia Siswa SMA NFN Sahril; Susy Deliana
SUAR BETANG Vol 14, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/surbet.v14i2.119

Abstract

Indonesia has a diversity of languages in each region so the use of language triggers interference. Interference occurs because a speaker has not fully understood the context of the language used. Judging from the performance, the speaking skills of high school students in Batubara Regency in local languages are more dominant than those in Indonesian language. Thus, regional language interference as a more dominant language can occur in Indonesian in students' speaking skills. This study aims to describe the interference of the Malay dialect of Malay in the ability of high school students in Batubara. As well as describing the factors and functions of Malay Batubara dialect interference in Indonesian. The findings of this study were phonological, morphological, syntactic, and semantic interference by high school students in Batubara District. There are nine factors for interference. The presence of interference in the speech of high school students in Batubara taken place for several reasons, namely to emphasize the meaning, to express feelings of emotion and to respect the speech partner.AbstrakBangsa Indonesia memiliki keanekaragaman bahasa di setiap daerah sehingga penggunaan bahasa memicu timbulnya interferensi. Interferensi terjadi karena seseorang penutur belum memahami sepenuhnya konteks bahasa yang digunakan. Dilihat dari perfomansi, keterampilan berbicara siswa SMA di Kabupaten Batubara dalam bahasa daerah lebih dominan dibandingkan dengan keterampilan berbicara dalam bahasa Indonesia. Dengan demikian, interferensi bahasa daerah sebagai bahasa yang lebih dominan dapat terjadi dalam bahasa Indonesia pada keterampilan berbicara siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan interferensi bahasa Melayu dialek Batubara terhadap kemampuan siswa SMA di Batubara serta mendeskripsikan faktor dan fungsi interferensi Melayu dialek Batubara dalam bahasa Indonesia. Temuan penelitian ini ialah adanya interferensi fonologis, morfologis, sintaksis, dan semantik oleh siswa SMA di Kabupaten Batubara. Hadirnya interferensi dalam tuturan siswa SMA di Batubara ini didasari oleh beberapa alasan, yaitu untuk menekankan makna, untuk mengungkapkan perasaan emosi, dan untuk menghormati mitra tutur.
Subkultur Pesantren dalam Karya-Karya Djamil Suherman (Telaah Antropologi Sastra) Muhammad Rosyid Husnul Waro'i
SUAR BETANG Vol 14, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/surbet.v14i2.140

Abstract

Pesantren as one of the largest and oldest Islamic education institutions in Indonesia certainly has a set of values and norms adopted by the community and maintained from time to time. One that records and documents the culture of the pesantren is literature. This study discusses literary works where pesantren culture is written. Therefore, the anthropological theory of literature is used as an analytical tool to reveal how literature records the culture of pesantren. The object of this research material is the work of Djamil Suherman; a collection of short stories of Umi Kalsum, Pejuang Kali Pepe novel, Sakerah novel and Sarip Tambak Oso novel. The data obtained in the form of words, sentences and phrases in the work are then processed and described using narrative descriptive forms. The results of the analysis show that the work of Djamil Suherman photographed the pesantren subculture in the form of traditional rituals, ethnographic or cultural elements and the way of life of the pesantren community. AbstrakPesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan islam terbesar dan tertua di Indonesia tentunya memiliki tata aturan nilai dan norma yang dianut oleh masyarakatnya dan dijaga dari waktu ke waktu. Salah satu yang mencatat dan mendokumentasikan budaya pesantren tersebut adalah sastra. Kajian ini membahas karya sastra dimana budaya pesantren tertulis. Oleh sebab itu, teori antropologi sastra dipakai sebagai alat analisis untuk mengungkap bagaimana sastra merekam budaya pesantren. Objek material penelitian ini berupa karya Djamil Suherman yaitu kumpulan cerita pendek Umi Kalsum, novel Pejuang-Pejuang Kali Pepe, novel Sakerah dan novel Sarip Tambak Oso. Data yang diperoleh berupa kata, kalimat dan frasa dalam karya lalu diolah serta diuraikan dengan menggunakan pola penggambaran deskriptif naratif. Hasil analisis menunjukkan bahwa karya Djamil Suherman memotret subkultur pesantren yang berupa ritual tradisi, unsur-unsur etnografis atau budaya dan pandangan hidup masyarakat pesantren.
Ungkapan Lisan Melayu Kepulauan Riau: Kajian Transitivitas Medri Osno
SUAR BETANG Vol 14, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/surbet.v14i2.116

Abstract

This study aims at finding local wisdom in the oral tradition of Kepulauan Riau Malay which is interpreted as transitivity through processes, participants, and circumstance. This is a qualitative research with descriptive statistics. Data collection applies the method of observation attentively, referring to Uninvolved Conversation Observation technique and Note Taking techniques. The transitivity analysis method uses a combination of methods that refer to the Halliday LFS analysis model. The findings of this study are that UMKR through the transitivity system has diverse social processes. This diversity determines and is determined by language structured based on the needs of participants. The participants that appear in the form of living objects and inanimate objects, while the participant role in accordance with the type of process that binds it. Process is the core of activity in clauses realized by verbs. The percentage of process appearance is dominated by relational processes 17.3%, material 15.2%, verbal 2.1%, behavior 2.8%, mental 3.5%, and form 6.2%. The dominance of the relational and material processes indicates that the character of Kepulauan Riau Malay in life at the social level always relates to the patterns (ways) that they have agreed on in their environment. This relationship is intensive between them. In semantics, this activity is realized in the form of concrete actions.
Komunikasi Antarabdi Dalem dalam Interaksi Sosial di Lingkungan Keraton Surakarta Hadiningrat Eka Susylowati
SUAR BETANG Vol 14, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/surbet.v14i2.129

Abstract

The Javanese language used in Surakarta Hadiningrat Palace as a media communication is still dominant with its speech levels. In the palace, communication uses language levels from ngoko, madya, krama, krama inggil, and even kedhaton language. The purpose of this study is to describe the form of verbal interaction, factors, and social function of Javanese language in the palace. This research is a qualitative research by taking the location of research in Surakarta Hadiningrat Palace. The data used in the research namely Javanese in daily activities and traditional ceremonies in the palace. Oral and written form the data of the research. The data is provided by the method of recording, observation, and interview. In the data analysis using the speech component approach. From the results of the study it is concluded that the form of the use of Javanese language used by abdi dalem is influenced by vertical and horizontal relationships among participants. The factors that influence the use of Javanese language are the speakers' assumptions about their social position and relationship with the person they are talking to, the presence of a third person, the tone and atmosphere of speech, themes, and norms. The social function of Javanese language in the palace for abdi dalem as an official media communication in the palace, media for creating social distance between superiors and subordinates, as an expression of respect, strengthening the position of the king, creating sincere/polite attitudes among subordinates and superiors.AbstrakBahasa Jawa yang digunakan dalam kraton Surakarta Hadiningrat sebagai alat komunikasi masih mengenal unggah-ungguh (speech levels). Dalam kraton Surakarta Hadiningrat manggunakan tingkatan bahasa mulai dari ngoko, madya, krama, krama inggil dan bahkan basa kedhaton. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan wujud interaksi verbal, faktor penentu, fungsi sosial bahasa Jawa pada abdidalem kraton Surakarta Hadiningrat. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan mengambil lokasi penelitian di kraton Surakarta Hadiningrat. Data yang digunakan adalah bahasa Jawa dalam aktivitas sehari-hari dan upacara adat di kraton. Datanya dalam bentuk lisan dan tulisan. Penyediaan datanya dilakukan dengan metode rekam, observasi, wawancara. Dalam analisis data menggunakan pendekatan komponen tuturan. Dari hasil penelitian diperoleh simpulan bahwa wujud penggunaan bahasa Jawa pada abdi dalem dipengaruhi oleh hubungan vertikal dan horizontal antara penutur dengan mitratutur. Faktor penentu yang mempengaruhi penggunaan bahasa Jawa adalah anggapan penutur terhadap kedudukan sosial dan relasinya dengan orang yang diajak berbicara, kehadiran orang ketiga, nada dan suasana berbicara, pokok pembicaraan, dan norma. Fungsi sosial bahasa Jawa untuk abdi dalem Surakarta Hadiningrat adalah sebagai alat komunikasi resmi dalam kraton, alat untuk menciptakan jarak sosial antara atasan dan bawahan, sebagai pengungkap rasa hormat, memperkuat kedudukan Raja, menciptakan unggah-ungguh/sikap sopan-santun antara bawahan dengan atasan.
Wujud Tuturan Mengkritik Rocky Gerung terhadap Pemerintahan Presiden Joko Widodo Christina Natalina Saragi
SUAR BETANG Vol 14, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/surbet.v14i2.125

Abstract

The speech of criticism is considered important but the speech of criticism that we say, must be determined its direction. The purpose of this study is to find out why RG, as the subject of this research, uses a strategy of criticizing (directly or indirectly) when discussing discussions about President Joko Widodo's government policies. The research method used is descriptive qualitative. The data of this study are the speech of RG whose data source was obtained from the ILC Talk Show on President Joko Widodo's government policy. The results obtained from this research are the criticism of speech acts strategy used by RG is to criticize directly which includes a negative assessment of 20.16%, denunciation of 16.26%, expression of disagreement 29%, and statement of problem 23.37% and not directly in the form of advice on change. Based on the data obtained that direct criticism on the expression of contradiction to be the most dominant used by Rocky Cerung caused by several factors including the critical attitude character factors owned by RG, educational background factors, and thirdly based on the background of many experiences in possessed by RG made him more courageous in giving criticism especially to the policies of the Joko Widodo government.AbstrakTuturan kritikan dianggap penting akan tetapi tuturan kritikan yang kita tuturkan tersebut, harus dapat ditentukan arahnya. Tujuan dari penelitian ini untuk menemukan mengapa Rocky Gerung, sebagai subjek dari penelitian ini, menggunakan strategi bertutur mengkritik (langsung atau tidak langsung) ketika membahas pembahasan tentang kebijakan pemerintahan Presiden Joko Widodo. Metode penelitian yang digunanakan adalah deskriptif kualitatif. Data penelitian ini adalah tuturan Rocky Gerung yang sumber data diperoleh dari acara Talk Show ILC tentang kebijakan pemerintahan Presiden Joko Widodo. Adapun hasil yang diperoleh dari penenlitian ini adalah Strategi tindak tutur mengkritik yang digunakan oleh Rocky Gerung adalah mengkritik secara langsung  yang meliputi penilaian negative 20,16%, pencelaan 16,26%, ekspresi pertentangan 29%, dan pernyataan masalah 23,37% dan tidak langsung berupa nasehat perubahan berdasarkan data yang diperoleh bahwa mengkritik langsung pada ekspresi pertentangan menjadi yang paling dominasi digunaka oleh Rocky Cerung disebabkan oleh beberapa faktor antara lain adalah faktor karakter sikap kritis yang dimiliki oleh Rocky gerung, Faktor latar belakang pendidikan , dan ketiga berdasarkan latar belakang pengalaman yang sudah banyak di miliki  oleh Rocky Gerung  menjadikan dirinya lebih berani dalam memberikan kritikan terutama pada kebijakan pemerintahan Jokowi.
Afiksasi pada Lirik Lagu dalam Album “Monokrom”: Kajian Morfologis Anggi Restiani; Agus Nero Sofyan
SUAR BETANG Vol 14, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/surbet.v14i2.130

Abstract

This research entitled “The Usage of Affixes on Lyrics Songs Tulus in The Album Monokrom: a Morphologycal Study.” The method used in this study is a qualitative method. The data are taken from the lyrics songs Tulus in the Album Monokrom that exist in the internet site and artificial data (made by the author).The theory are used Affixes, prefiks, sufiks, and Confixs.  Based on the research there is a lot of use of affixation in lyrics songs Tulus on the Monokrom album. The data are  grouped into 3, ie prefixed word, suffixes and confix.the prefix found in 58 data consists of prefixes ber-, me-, di-, and ter-. The most common prefix is ber- , whereas the prefix whose frequency of occurrence is the smallest is prefix di-. The suffix found in 44 data, consisting of suffix -kan, -an, -nya and -i. The most commonly found suffix is the suffix -kan, whereas the suffix with the least frequency of occurrences is the suffix -nya. The confix found in 8 data, consists of words that have confix ke-an and per-an.AbstrakPenelitian ini berjudul “Penggunaan Afiksasi pada Lirik Lagu dalam Album “Monokrom”: Kajian Morfologis”. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif. Data yang digunakan diambil dari lirik lagu Tulus pada album “Monokrom” yang ada pada situs internet. Teori yang digunakan adalah afiksasi, afiks, dan bentuk afiks. Masalah yang dibahas adalah penggunaan afiks pada lirik lagu dalam album Monokrom. Dari hasil penelitian ditunjukkan bahwa banyak terdapat penggunaan afiksasi dalam lirik lagu Tulus. Terdapat 118 kata yang mengandung afiksasi dalam lirik lagu Tulus pada album itu. Dari 118 data kata berafiks yang ditemukan, prefiks memiliki persentase penggunaan paling tinggi, yaitu sebanyak 58 data yang terdiri atas prefiks ber, me-, se-, di- dan ter-. Prefiks yang paling banyak ditemukan adalah prefiks ber-, sedangkan prefiks yang frekuensi kemunculannya paling kecil adalah prefiks di-. Sufiks yang ditemukan sebanyak 44 data terdiri atas sufiks –nya, -kan, -an, dan –i. Sufiks yang paling banyak ditemukan adalah sufiks –kan, sedangkan sufiks yang frekuensi kemunculannya paling kecil adalah sufiks -nya. Konfiks yang ditemukan sebanyak 8 data, terdiri atas kata berkonfiks ke-an dan per-an.
Pelayarputihan Roman L'élégance Du Hérisson Karya Muriel Barbery ke Film Le Hérrison Karya Mona Achache (Sebuah Kajian Ekranisasi) NFN Sunahrowi; Widya Arga Putri
SUAR BETANG Vol 14, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/surbet.v14i2.131

Abstract

The adaptation of literary works, romance in this case, into the film caused a lot of changes. Some main elements such as plot, setting, and characterization experience significant changes. This is caused by things related to the purpose of the film itself, which emphasizes more on the commercial side. This study aims to find changes in the elements of the plot, setting, and characterization of the literary media to the film caused by the adaptation or ecranization. Material objects in this study are roman l'Élégance du Hérisson by Muriel Barbery and Film Le Hérisson by Mona Achache. While the formal object in this study is the theory of Ecranization. The method used in this research is descriptive analytic method. Based on the analysis conducted on the material objects above produced 16 shrinkages, 13 additions, and 8 variations in the flow analysis. Then in the background analysis there are changes in the form of 5 collapse and 1 variation, in this case the background does not experience an increase because events occur only around the apartment, such as those contained in the romance. Finally, in the character analysis there are 5 downsizing, 1 addition, and 2 variations. AbstrakAdaptasi karya sastra, roman dalam hal ini, ke dalam film menyebabkan banyak sekali perubahan. Beberapa unsur utama seperti alur, latar, dan penokohan mengalami perubahan yang signifikan. Hal tersebut diakibatkan oleh hal-hal yang berkaitan dengan tujuan film itu sendiri yang lebih menekankan pada sisi komersialisme. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan perubahan-perubahan unsur-unsur alur, latar, dan penokohan dari media karya sastra ke film yang diakibatkan oleh adaptasi atau ekranisasi tersebut. Objek material dalam penelitian ini adalah roman l’Élégance du Hérisson Karya Muriel Barbery dan Film Le Hérisson karya Mona Achache. Sedangkan objek formal dalam penelitian ini adalah teori Ekranisasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analitik. Berdasarkan analisis yang dilakukan terhadap objek material di atas dihasilkan 16 penciutan, 13 penambahan, dan 8 variasi pada analisis alur. Kemudian pada analisis latar terdapat perubahan berupa 5 penciutan dan 1 variasi, dalam hal ini latar tidak mengalami penambahan karena peristiwa yang terjadi hanya di sekitar apartemen, seperti yang terdapat dalam roman. Terakhir pada analisis tokoh terdapat 5 penciutan, 1 penambahan, dan 2 variasi. 
Flouting Maxims in Hitam Putih Talk Show Lastri Wahyuni Manurung
SUAR BETANG Vol 14, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/surbet.v14i2.126

Abstract

Communication between speakers and hearer should fulfil maxims in order to have an effective communication and to avoid misunderstanding. In fact, sometimes people flout the maxims. People mostly have reasons behind that and whenever a maxim is flouted there must be an implicature to save the utterance from simply appearing to be a faulty contribution to a conversation. The importance of the research is about finding out the dominant flouting of maxims during the conversation between the participants in Hitam Putih talk show. Besides, the purposes of why flouting the maxim was also displayed as to make this research become more comprehensive. In analyzing the data, the writer uses Grice's theory on maxim. The data were collected by searching, listening and making the transcription, deciding which maxims are flouted based on the criteria, finding the intension of the flouting. As the result, the writer found that the first most flouted maxim is the maxim of quality. The reasons of flouting this maxim are to make a joke and to give a clearer information. In making a joke, a speaker can pretend not to know something, pretend not being honest. Another flouted maxims are also found from the data which are flouting the quantity maxim to give clearer information, to stress something, to avoid unpleasant situation. The relation maxim is also flouted as being polite, and the last the manner maxim is flouted as to make a joke. The characteristic of Indonesian speaker with long winded and not to the point, influence the flouting the maxim. AbstrakDalam peristiwa pertuturan, kadang-kadang penutur dengan sengaja mengabaikan maksim. Perilaku penutur dalam mengabaikan maksim tentu didasari alasan maksud tertentu. Penelitian ini sangat perlu dilakukan untuk menemukan pengabaian maksim yang paling dominan selama perbincangan antarpartisipan dalam acara Hitam Putih. Analisis data menggunakan teori Grice yang berkaitan dengan maksim. Data dikumpulkan dengan cara mencari, menyimak dan mentrasnkripsikan, memperhatikan video, memutuskan maksim apa yang diabaikan berdasarkan kriteria pengabaian dan menemukan tujuan terselubung dalam mengabaikan maksim tersebut. Peneliti menemukan bahwa maksim kualitas adalah maksim yang paling banyak diabaikan. Tujuannya adalah untuk membuat lelucon dan untuk memperjelas informasi. Dalam membuat lelucon tersebut, penutur dapat berlaku pura-pura tidak tahu tentang suatu informasi, berpura-pura untuk berbohong. Maksim lain yang juga diabaikan adalah maksim kuantitas, tujuannya adalah untuk memperjelas sebuah informasi, menegaskan informasi dan untuk menghindari situasi yang kurang nyaman. Maksim relasi juga diabaikan dengan tujuan untuk menjaga kesopanan, dan yang terakhir adalah pengabaian maksim cara untuk menciptakan lelucon. Karakteristik orang Indonesia yang bertele-tele dan tidak mengena langsung pada poin yang dibicarakan, telah mempengaruhi pengabaian maksim yang terjadi.

Page 1 of 1 | Total Record : 10