cover
Contact Name
Mieke
Contact Email
mieke@esaunggul.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
inohim.ueu@esaunggul.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Indonesian of Health Information Management Journal (INOHIM)
Published by Universitas Esa Unggul
ISSN : 23548932     EISSN : 26559129     DOI : -
Core Subject : Health,
Indonesian of Health Information Management Journal (INOHIM) is a scientific publication devoted to disseminate all information contributing to the understanding and development of Health Information management, Health Informatics and Health Information Management System.
Arjuna Subject : -
Articles 13 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 2 (2017): INOHIM" : 13 Documents clear
Usia, Aktivitas Fisik, Stress Pekerja Dan Obesitas Berisiko Terhadap Kejadian Hipertensi Pada Pekerja di PT Pulau Intan Baja Perkasa Konstruksi Jakarta Tahun 2017 Ira Marti Ayu; Decy Situngkir; Dwi Apriliawati
Indonesian of Health Information Management Journal (INOHIM) Vol 5, No 2 (2017): INOHIM
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.654 KB) | DOI: 10.47007/inohim.v5i2.136

Abstract

AbstractHypertension is also known as the silent killer because its presence is usually unnoticedtill it bringsmajor impact such as stroke, coronary heart disease etc. Globally, based on WHO the prevalence of hypertension for adult more than 18 years of age in 2014 is 22%. In Indonesia prevalence hypertension in population more than 18 years of age is 31,7% and in 2013 there was decreased 5,9% (from 31,7% to 25,8%). The objective of this study is to analyze factors related with hypertension in workers at PT Pulau Intan Bajaperkasa Construction Jakarta in 2017. The design study was cross sectional. Univariat analyses showed that there are 67 workers (76,1%) hypertension, 45 (51,1%) women, 58 (65,9%) mild physical activity, 59 (67%) stress, 56 (63,6%) not smoking,  65 (73,9%) obesity/ overweight but the same proportion between age ≥40 years and <40 years. Bivariate analyses showed that there is no association between age (OR=2,46), sex, physical activity (OR=1,25), stress (OR=1,02), smoking, body mass index (OR=1,59) and hypertension in worker at PT Pulau Intan Bajaperkasa Construction Jakarta in 2017. To reduce hypertension, it should be increased physical activity with exercise, weight examination regularly, and stress management training for workers. Keywords : factors, worker hypertension. AbstrakHipertensi disebut juga dengan silent killer karena keberadaan hipertensi seringnya tidak disadari sampai pada akhirnya menimbulkan dampak yang besar seperti stroke, PJK dll. Berdasarkan WHO prevalensi tekanan darah tinggi pada orang dewasa di usia >18 tahun pada tahun 2014 di dunia yaitu 22%. Di Indonesia Prevalensi hipertensi pada penduduk umur 18 tahun ke atas tahun 2007 adalah sebesar 31,7%. Sedangkan pada tahun 2013 terjadi penurunan sebesar 5,9% (dari 31,7% menjadi 25,8%). Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis faktor- faktor yang berhubungan dengan kejadian hipertensi pada pekerja di PT Pulauintan Bajaperkasa Konstruksi Jakarta tahun 2017. Disain studi yang digunakan yaitu cross sectional. Dari hasil analisis univariat ditemukan bahwa hipertensi sebanyak 67 pekerja (76,1%), perempuan sebanyak 45 orang (51,1%), aktivitas fisik ringan sebanyak 58 orang (65,9%), stress sebanyak 59 orang (67,0%), tidak merokok sebanyak 56 orang (63,6%), Obesitas/overweight sebanyak 65 orang (73,9%), tetapi untuk usia memiliki proporsi yang sama antara usia ≥40 tahun dan < 40 tahun. Dari hasil bivariat ditemukan bahwa tidak ada hubungan antara usia (OR=2,46), jenis kelamin, aktivitas fisik (OR=1,25), stres pekerja (1,02), kebiasaan merokok, indeks massa tubuh (IMT) (OR=1,59) dengan kejadian hipertensi pada pekerja di PT Pulauintan Bajaperkasa Konstruksi Jakarta tahun 2017. Untuk menurunkan kejadian hipertensi perlu ditingkatkan aktivitas fisik dengan mengadakan mengadakan kegiatan-kegiatan olahraga diluar jam kerjanya, pemeriksaan berat badan secara teratur, dan memberikan pelatihan managemen stress bagi pekerja.  Kata kunci : faktor-faktor, hipertensi pekerja
Identifikasi Unsur 5M Dalam Ketidaktepatan Pemberian Kode Penyakit Dan Tindakan (Systematic Review) Laela Indawati
Indonesian of Health Information Management Journal (INOHIM) Vol 5, No 2 (2017): INOHIM
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.107 KB) | DOI: 10.47007/inohim.v5i2.127

Abstract

AbstractThe inaccuracy of disease code determination and procedure is caused by several factors according to the condition of each health service institution. The author tries to synthesize the previous studies by looking at the 5M elements (Man, Money, Material, method, Machine) cause the result of coding is not accurate. The purpose of this study is to identify and review the literature that learn about the accuracy of coding and the factors that influence it is on the 5M element. The research method used is with Systematic review. What has not been explained in previous research, and identified in this research is from the side of Method and Machine, that there is still no policy or SPO that regulate the encoding of disease, SPO coding that still not specific, the unavailable coding support books, and SIMRS that is not yet user friendly. It is recommended that there is one working guideline that regulates the coding of disease event and more specific actions as a reference of the coder in health care. Keywords: Inaccuracy of coding, ICD 10, Cause of Accuracy CodingAbstrakKetidaktepatan penentuan kode penyakit dan tindakan disebabkan oleh beberapa faktor sesuai kondisi masing-masing institusi pelayanan kesehatan. Penulis mencoba melakukan sintesis terhadap penelitian-penelitian sebelumya dengan melihat pada unsur 5M (Man, Money, Material, method, Machine) penyebab hasil koding tidak akurat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan mereview literature yang mempelajari tentang akurasi koding dan faktor – faktor yang mempengaruhinya yaitu pada unsur 5M.. Metode penelitian yang digunakan adalah dengan Systematic review. Yang belum dijelaskan pada penelitian sebelumnya, dan teridentifikasi dalam penelitian ini adalah dari sisi Method dan Machine, yaitu masih belum adanya kebijakan maupun SPO yang mengatur tentang pengkodean penyakit, SPO pengkodean yang masih belum spesifik, ketidak tersediaannya buku-buku penunjang koding, dan penggunaan SIM RS yang belum user friendly. Disarankan ada satu pedoman kerja yang mengatur tentang tata acara pengkodean penyakit dan tindakan yang lebih spesifik sebagai acuan tenaga koder di pelayanan kesehatan..Kata kunci : Akurasi koding, ICD 10, Penyebab Akurasi Koding
Efektifitas Pijat Bayi Terhadap Pertumbuhan Dan Perkembangan Bayi Usia 6 -12 Bulan di Desa Nifuboke Kecamatan Noemuti Tahun 2017 Ramatian Simanihuruk
Indonesian of Health Information Management Journal (INOHIM) Vol 5, No 2 (2017): INOHIM
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.191 KB) | DOI: 10.47007/inohim.v5i2.132

Abstract

AbstractMassage is a tactical stimulation that gives biochemical effects and physiological effects on various organs, when done correctly and regularly in infants will benefit the baby's growth, improve the baby's emotional connection and parents. The purpose of this research is to know the effectiveness of infant massage on growth and development of infant age 6-12 month in Nifuboke Village Noemuti Sub District by 2017. The approach is non randomized pre and post test with control group design. The number of samples is 16 people, by assessing the growth and development of infants before and after 30 days of treatment. The test used is independent t-test. The results of this study were obtained in the control group of infants able to lift the chest as much as 50%, lifting the neck as much as 37.5%, weight gain> 400 gram as much as 12.5% and the addition of body length> 3 cm as much as 12.5%. While the intervention group raised the chest as much as 87.5%, lifting the neck as much as 75%, weight> 400 gram as much as 75% and body length> 3 cm as much as 562,5%. T-test results showed a baby massage 11 times more likely to lift the chest and both hands as a buffer, 12 times more likely to retain the neck when pulled slowly into a sitting position. The conclusion is that infant massage has great effectiveness on the growth and development of infants aged 6-12 months.Keywords: Baby Massage, Growth and Development, Parents AbstrakPijat merupakan stimulasi taktis yang memberikan efek biokimia dan efek fisiologi pada berbagai organ tubuh, apabila dilakukan secara benar dan teratur pada bayi akan memberi keuntungan dalam tumbuh kembang bayi, meningkatkan hubungan emosional bayi dan orangtua. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui efektifitas pijat bayi terhadap pertumbuhan dan perkembangan bayi usia 6-12 bulan di Desa Nifuboke Kecamatan Noemuti tahun 2017. Pendekatan yang dilakukan adalah non randomized pre and post test with control group design. Jumlah sampel sebanyak 16 orang, dengan menilai pertumbuhan dan perkembangan bayi sebelum dan sesudah 30 hari perlakuan. Uji yang digunakan adalah independent t-test. Hasil penelitian diperoleh pada kelompok control bayi mampu mengangkat dada sebanyak 50%, mengangkat leher sebanyak 37,5%, mengalami peningkatan berat badan >400 gram sebanyak 12,5% dan penambahan panjang badan >3 cm sebanyak 12,5%. Sedang kelompok intervensi mengangkat dada sebanyak 87,5%, mengangkat leher sebanyak 75%, berat badan >400 gram sebanyak 75% dan panjang badan >3 cm sebanyak 562,5%.  Hasil uji t-tes menunjukkan pijat bayi 11 kali lebih besar kemungkinan mengangkat dada dan kedua tangan sebagai penyangga, 12 kali lebih besar kemungkinan mempertahankan leher ketika ditarik perlahan ke posisi duduk. Kesimpulannya adalah pijat bayi memiliki efektivitas besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan bayi usia 6-12 bulan.Kata Kunci : Pijat Bayi, Pertumbuhan dan Perkembangan, Orangtua 
Analisis Ketepatan Kode Diagnosa Penyakit Antara Rumah Sakit Dan BPJS Menggunakan ICD-10 Untuk Penagihan Klaim di Rumah Sakit Kelas C Sekota Pekanbaru Tahun 2016 Henny Maria Ulfa; Haryani Octaria; Tri Purnama Sari
Indonesian of Health Information Management Journal (INOHIM) Vol 5, No 2 (2017): INOHIM
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.044 KB) | DOI: 10.47007/inohim.v5i2.137

Abstract

AbstractThe implementation of the diagnostic coding should be completed and corrected in accordance with ICD-10 directives. The information obtained from the Class C Hospital in Pekanbaru City was occurred a mistake in determining the main diagnosis and secondary diagnosis which affects to the difference in encoding disease between hospitals and BPJS, then the diagnose code will be returned from the verifier to the hospital coder staff, that impact on the delay in the process of claiming BPJS. This reseach employs qualitative metodh within total informan are seven people. The result of this research found that the quality coding, the element of quality coding (reliability, validity, completnes and timely), the coding policies and procedures, the standards and coding ethics (clear and consistent) are good. We recommend for hospital to conduct a training and education for the coder’s staff continuously, and for BPJS to provide the information on current regulations and involve the hospital in making its regulation.Keyword: code accuracy, bpjs, billing claims AbstrakProses rumah sakit terhadap pengkodean harus dimonitor untuk beberapa elemen kualitas pengkodean yaitu Konsisten bila dikode petugas berbeda kode tetap sama (reliability), Kode tepat sesuai diagnosis dan tindakan (validity), Mencakup semua diagnosis dan tindakan yang ada di rekam medis (completenens). Di Rumah Sakit Kelas C Se-kota Pekanbaru terdapat perbedaan kode antara rumah sakit dan ferivikasi BPJS salah satunya untuk tindakan apendiksitis dan apendiksitis yang disertai dengan pelengkatan maka akan dikode dengan apendektomy.Informen penelitian berjumlah 7 orang yang terdiri dari direktur rumah sakit, kepala rekam medis,koding, dan ferivikator BPJS. Hasil yang diperoleh bahwa Kualitas pengkodean, Elemen kualitas pengkodean baik itu reliability, validity, completnes dan tepat waktu, dan Kebijakan dan prosedur pengkodean untuk rumah sakit sudah bagus, Standar dan etika pengkodean yang meliputi jelas dan konsisten, saran adanya pelatihan dan pendidikan untuk petugas koder selain itu BPJS dapat memberikan informasi mengenai peraturan-peraturan terbaru dan mengikut sertakan keterlibatan dari pihak rumah sakit dalam pembuatan peraturan.Kata kunci: ketepatan kode, bpjs, penagihan klaim
Hubungan Faktor Sosial Ekonomi Dan Higiene Sanitasi Lingkungan Dengan Status Gizi Anak Balita di Desa Nifuboke Tahun 2016 Romida Simbolon
Indonesian of Health Information Management Journal (INOHIM) Vol 5, No 2 (2017): INOHIM
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.646 KB) | DOI: 10.47007/inohim.v5i2.133

Abstract

AbstractNutrition status greatly affects the growth and development of toddlers even if severe conditions can cause death. Factors associated with nutritional status are socioeconomic, sanitary hygiene, internal factors of the body. The purpose of this research is to know the relationship of mother education, knowledge about nutrition, income per capita, number of family member and environmental sanitation hygiene with nutritional status of children under five in Nifuboke Village 2016. This research use cross sectional method. The subjects were 38 respondents, using Z test. The result of this research is that most of the rensponden have high school education 21 people, income per capita <Rp.123.835, - 29 people, knowledge less 26 people, family member 32 people, sanitation hygiene environment 19 people and nutrition status is enough 23 people. The result of the test shows that there is a relationship of mother education (Z = 0,132, r = 0,805), there is relation of income per capita (Z = 0,046, r = 0,281), there is relation of knowledge (Z = 0,064, r = 0,392) Z = 0.143, r = 0.870), there is an environmental sanitation hygiene relationship (Z = 0.144, r = 0.880). The conclusion is that there is a relationship of mother education, income per capita, mother knowledge, number of family member and environmental sanitation hygiene with nutritional status of children under five in Nifuboke Village Year 2016.Keywords: nutrition status, toddler, motherAbstrakStatus gizi sangat memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan balita bahkan jika keadaan parah dapat menyebabkan kematian. Faktor yang berhubungan dengan status gizi adalah sosial ekonomi, higiene sanitasi, faktor internal tubuh. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan pendidikan ibu, pengetahuan tentang gizi, pendapatan perkapita, jumlah anggota keluarga dan higiene sanitasi lingkungan dengan status gizi anak balita di Desa Nifuboke tahun 2016. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional. Subjeknya adalah ibu balita sebanyak 38 responden, dengan menggunakan uji Z. Hasil penelitian diperoleh sebagian besar rensponden memiliki pendidikan SMA 21 orang, pendapatan perkapita <Rp.123.835,- 29 orang, pengetahuan kurang 26 orang, anggota keluarga sedikit 32 orang, higiene sanitasi lingkungan 19 orang dan status gizi cukup 23 orang. Hasil uji menunjukkan ada hubungan pendidikan ibu (Z = 0,132, r = 0,805), ada hubungan pendapatan perkapita (Z = 0,046, r = 0,281), ada hubungan pengetahuan (Z = 0,064, r = 0,392),ada hubungan jumlah anggota keluarga (Z = 0,143, r = 0,870), ada  hubungan higiene sanitasi lingkungan (Z = 0,144, r = 0,880). Kesimpulannya adalah ada hubungan pendidikan ibu, pendapatan perkapita, pengetahuan ibu, jumlah anggota keluarga dan higiene sanitasi lingkungan dengan status gizi anak balita di Desa Nifuboke Tahun 2016.Kata Kunci: status gizi, balita, ibu
Tinjauan Pelaksanaan Standar Prosedur Operasional Distribusi Rekam Medis Rawat Jalan di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bekasi Rara Sabrina Sukma; Siswati Siswati
Indonesian of Health Information Management Journal (INOHIM) Vol 5, No 2 (2017): INOHIM
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.508 KB) | DOI: 10.47007/inohim.v5i2.138

Abstract

AbstractCompliance in the implementation of standard operational procedures of medical record distribution did not work well in RSUD Kota Bekasi. All medical record distribution officers perform their duties but not in accordance with the instructions contained in standard operating procedures.The purpose of this study is to get an idea of the compliance of distribution officers in the implementation of standard operational procedures of medical record distribution by using descriptive method. This research method describes the object of research at present based on factual, the data obtained then compiled, processed, analyzed, and presented in the form of reports.The results of the compliance study of the standard operating procedure of medical record distribution has not been running well. The factors that influence the compliance of officers in the implementation of standard operational procedures are the lack of socialization about the standard of distribution operational procedures, so that officers do not understand the contents of the standard operating procedures of the distribution, the attitude of the less responsible officers, and the average education factor high school graduate.The conclusion of the results of this study is the lack of compliance in the implementation of standard operational procedures distribution that could cause problems such as medical records are missing. The suggestion is the need to socialize the standard of distribution operational procedures to the distribution officer and the need for firmness in cracking down on the officers who work not in accordance with standard operating procedures that have been set.Keywords: Medical records, Standard operational procedures, DistributionAbstrakKepatuhan dalam pelaksanaan standar prosedur operasional distribusi rekam medis tidak terlaksana dengan baik di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bekasi. Seluruh petugas distribusi rekam medis melaksanakan tugasnya namun tidak sesuai dengan instruksi yang tertera didalam standar prosedur operasional.Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan gambaran tentang kepatuhan petugas distribusi dalam pelaksanaan standar prosedur operasional distribusi rekam medis dengan menggunakan metode deskriptif. Metode penelitian ini menggambarkan objek penelitian pada saat sekarang berdasarkan factual, data yang didapatkan kemudian disusun, diolah, dianalisis, dan disajikan dalam bentuk laporan.Hasil penelitian kepatuhan pelaksanaan standar prosedur operasional distribusi rekam medis belum berjalan dengan baik. Ditemukan beberapa faktor yang mempengaruhi kepatuhan petugas dalam pelaksanaan standar prosedur operasional yaitu faktor tidak adanya sosialisasi tentang standar prosedur operasional distribusi sehingga membuat petugas tidak memahami isi dari standar prosedur operasional distribusi tersebut, faktor sikap petugas yang kurang bertanggung jawab, dan faktor pendidikan yang rata-rata lulusan SMA.Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah belum terciptanya kepatuhan dalam pelaksanaan standar prosedur operasional distribusi yang bisa dapat menimbulkan masalah sepeti rekam medis yang hilang. Sarannya adalah perlunya mensosialisasikan standar prosedur operasional distribusi kepada petugas distribusi serta perlunya ketegasan dalam menindak petugas yang bekerja tidak sesuai dengan standar prosedur operasional yang telah ditetapkan.Kata kunci : Rekam medis, Standar prosedur operasional, Distribusi
Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Gangguan Fungsi Paru Pada Pekerja Penjaga Pintu Tol Tangerang Karawaci Nayla Kamilia Fithri
Indonesian of Health Information Management Journal (INOHIM) Vol 5, No 2 (2017): INOHIM
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.376 KB) | DOI: 10.47007/inohim.v5i2.129

Abstract

AbstractThe toll gate keepers have a risk factor for lung function disorder due to the high exposure of vehicle fumes. Activities of vehicles traveling to toll roads and passing through toll booths with a lively intensity can exacerbate the air condition outside or inside the toll booth's workspace, not to mention if the worker smokes in the room. This is the main factor of chronic obstructive disease. COPD is considered to slow the normal growth of the lungs. This study is to find out the most influencing factor of pulmonary function disorder experienced by Tangerang-Karawaci toll gate workers. The type of research is descriptive analytic survey with cross-sectional / cross-sectional approach to find out factors related to pulmonary function disorder and the most dominant factor to lung function disorder experienced by Tangerang-Karawaci toll gate workers. The subjects of the research are Tangerang Karawaci toll gang worker which amounted to 55 respondents, using purposive sampling. The result of bivariate analysis showed that there was a significant correlation between work period (p-value = 0,046 <0,005; OR = 3,8), smoking habit (p-value = 0,009 <0,005; OR = 3,83), and exercise habit (p-value = 0,030 <0,005; OR = 4,4) with pulmonary function disruption at Tangerang Karawaci toll worker, there is no significant correlation between age (p-value = 0,103 ≥ 0,005) with lung function disorder at Tangerang toll gate worker -Karawaci. The result of multivariate analysis with logistic regression test showed that the most influential variable to the lung function disorder in Tangerang-Karawaci toll gate workers was smoking habit. The conclusion is there is a relationship between smoking habits, length of work and exercise habits with lung function disorder at the toll gate workers tangerang karawaci. It is expected that companies can make a rule that smoking is prohibited in the workplace so that smokers can reduce their smoking activities and the passive smokers in the workplace avoid smoke than it is expected that workers use masks to avoid various pollutants.Keywords: Toll Gate keeper, lung function disorderAbstrakPenjaga pintu tol memiliki faktor resiko untuk terkena gangguan fungsi paru akibat dari  pajanan berupa asap kendaraan yang cukup tinggi. Aktifitas kendaraan yang melaju ke ruas jalan tol dan melewati pintu tol dengan intensitas yang ramai dapat memperparah kondisi udara di luar atau di dalam ruangan kerja si penjaga pintu tol, belum lagi jika si pekerja merokok di ruangan tersebut. Hal ini yang mejadi faktor utama timbulnya penyakit obstrukti kronik. PPOK dianggap memperlambat  pertumbuhan normal paru-paru.Penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang paling berpengaruh terhadap gangguan fungsi paru yang dialami oleh pekerja penjaga pintu tol Tangerang-Karawaci. Jenis penelitian adalah penelitian survai bersifat deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional/ potong lintang untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan gangguan fungsi paru dan faktor yang paling dominan terhadap gangguan fungsi paru yang dialami oleh pekerja penjaga pintu tol Tangerang-Karawaci. Subjek penelitian adalah pekerja penjaga pintu tol Tangerang Karawaci yang berjumlah 55 responden, dengan menggunakan purposive sampling. Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara masa kerja (p-value = 0,046 < 0,005; OR = 3,8) , kebiasaan merokok (p-value = 0,009 < 0,005; OR = 3,83), dan kebiasaan berolahraga (p-value = 0,030 < 0,005; OR = 4,4) dengan gangguan fungsi paru pada pekerja pintu Tol Tangerang Karawaci , tidak terdapat hubungan yang signifikan antara umur (p-value = 0,103 ≥ 0,005) dengan gangguan fungsi paru pada pekerja penjaga pintu tol Tangerang-Karawaci. Hasil analisis multivariate dengan uji regresi logistic didapatkan hasil bahwa variable yang paling berpengaruh terhadap kejadian gangguan fungsi paru pada pekerja pintu tol Tangerang-Karawaci adalah kebiasaan merokok. Kesimpulannya adalah ada hubungan antara kebiasaan merokok, masa kerja dan kebiasaan olahraga dengan gangguan fungsi paru pada pekerja pintu tol tangerang karawaci.  Diharapkan perusahaan dapat membuat aturan bahwa dilarang merokok ditempat kerja sehingga para perokok dapat mengurangi kegiatan merokoknya dan para perokok pasif yang ada ditempatkerja terhindar dari asap rokok selain itu diharapkan para pekerja menggunakan masker agar terhindar dari berbagai polutan.Kata kunci: penjaga tol, gangguan fungsi paru
Gambaran Perilaku Petugas Pendaftaran Terhadap Pasien BPJS Rawat Jalan di Rumah Sakit Harum Sisma Medika Tahun 2017 Keisha Nabila Saputri; Loli Adriani
Indonesian of Health Information Management Journal (INOHIM) Vol 5, No 2 (2017): INOHIM
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.942 KB) | DOI: 10.47007/inohim.v5i2.134

Abstract

AbstractThe average number of outpatient BPJS visits was 120-150 patients per day, which caused the number of patients queuing up in the registration section. it affects the behavior of registration officers of outpatient BPJS patients. This study aims to see the description of the behavior of BPJS patient outpatient registration at Harum Sisma Medika Hospital. Samples from this study were 1 RM Head and 67 outpatient BPJS patients. The study was conducted in May-September 2017. The results of this study illustrates the behavior of all BPJS patient registration officers in the hospital sumen medika has very good but the officers are still there who do not smile and greet and greet the patient. The patient registration officer in the hospital was fragrant sisma medika is still considered productive age (22-40 Years old), female dominant gender (60%) and the last average of the enrollment officer is SMA (70%). SPO at Harum Hospital is Available. It is recommended to retain the behavior of the registration officers who are very good, and for the behavior of the registration officers who are not good enough such as the officer who gives a smile, officers who give greetings , and officers who greet the patient , need to be improved and maximized again.Keywords: Behavior, SPO, Health BPJSAbstrakRata-rata jumlah kunjungan BPJS rawat jalan adalah 120-150 pasien per hari, yang menyebabkan jumlah pasien antri di bagian pendaftaran. Hal itu mempengaruhi perilaku petugas registrasi pasien BPJS rawat jalan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perilaku pendaftaran pasien rawat jalan di RSU Harum Sisma Medika. Sampel dari penelitian ini adalah 1 RM Head dan 67 pasien rawat jalan BPJS. Penelitian dilakukan pada bulan Mei-September 2017. Hasil penelitian ini menggambarkan perilaku petugas registrasi pasien BPJS di rumah sakit sumen medika yang sangat baik namun petugas masih ada yang tidak tersenyum dan menyapa dan menyapa pasien. Petugas registrasi pasien di rumah sakit itu wisma sisma medika masih dianggap usia produktif (22-40 tahun), jenis kelamin perempuan dominan (60%) dan rata-rata terakhir dari petugas pendaftaran adalah SMA (70%). SPO di Rumah Sakit Harum Tersedia. Dianjurkan untuk mempertahankan perilaku petugas registrasi yang sangat baik, dan untuk perilaku petugas registrasi yang tidak cukup baik seperti petugas yang memberi senyuman, petugas yang memberikan salam, dan petugas yang menyapa pasien, perlu ditingkatkan dan dimaksimalkan lagi.Kata kunci : Perilaku, SPO, BPJS Kesehatan 
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Hipertensi Pada Pekerja di Pardic Jaya Chemicals Tangerang Tahun 2017 Devi Angeliana Kusumaningtiar; Ashri Ilmiyati
Indonesian of Health Information Management Journal (INOHIM) Vol 5, No 2 (2017): INOHIM
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.398 KB) | DOI: 10.47007/inohim.v5i2.130

Abstract

AbstractBase on WHO (2008), global cardiovascular disease causes about 17 million deaths per year, 1/3 of the total. The proportion of deaths based on the highest cause of death of PTM at all age between the Stroke 15.4%, hypertension 6.8%, 6.5% Injury, Diabetes Mellitus 5.7%, Malignant Tumor 5.5% and Heart Disease 4.6% (Riskesdas, 2007 in Kemenkes, 2013). Data from PT Pardic Jaya Chemicals clinic shows that workers with hypertension have increased from 2015 to 2016. The purpose of this study is to analyze factors related to hypertension in PT Pardic Jaya Chemicals. The research method used is quantitative with desai cross sectional approach. The samples were 73 workers with sampling sampling technique. Data analysis used was univariate and bivariate using chi square test. Result of research of hypertension respondent percentage equal to 21 person (28,8%) and percentage of respondent who is not hypertension equal to 52 people (71,2%). Gender and smoking habit (p> 0.05) which means that there is no significant relationship between sex and smoking habit with hypertension. While age and nutritional status with (p <0.05) which means that there is a significant relationship between age and nutritional status with hypertension. Suggestion of this research is need to do socialization about balanced nutrition, health checks related to hypertension and other promotive efforts such as provision of information facilities related to hypertension.Keywords: worker hypertension, nutrition status, ageAbstrakMenurut WHO (2008), Penyakit kardiovaskuler secara global menyebabkan sekitar 17 juta kematian per tahun, 1/3 dari total. Proporsi kematian berdasarkan penyebab kematian tertinggi PTM pada semua umur antara yaitu Stroke 15,4%, hipertensi 6,8%, Cedera 6,5%, Diabetes Melitus 5,7%, Tumor Ganas 5,5% dan Penyakit Jantung 4,6% (Riskesdas, 2007 dalam Kemenkes, 2013). Data dari klinik PT Pardic Jaya Chemicals menunjukkan bahwa pekerja yang mempunyai hipertensi mengalami peningkatan dari tahun 2015 hingga tahun 2016. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis factor-faktor yang berhubungan dengan hipertensi di PT Pardic Jaya Chemicals. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan desai cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 73 pekerja dengan teknik pengambilan sampel totali sampling. Analisis data yang digunakan adalah univariat dan bivariate menggunakan uji chi square. Hasil penelitian persentase responden yang hipertensi sebesar 21 orang (28,8%) dan persentase responden yang tidak hipertensi sebesar 52 orang (71,2%). Jenis kelamin dan kebiasaan merokok dengan (p>0,05) yang berarti bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dan kebiasaan merokok dengan hipertensi. Sedangkan umur dan status gizi dengan (p<0,05) yang berarti bahwa ada hubungan yang signifikan antara umur dan status gizi dengan hipertensi. Saran penelitian ini adalah perlu dilakukannya sosialisasi mengenai gizi seimbang, pemeriksaan kesehatan terkait dengan hipertensi dan upaya promotif lainnya seperti penyediaan sarana informasi terkait hipertensi.Kata kunci : hipertensi pekerja, status gizi, umur
Tinjauan Pengembalian Rekam Medis Rawat Jalan Dan Kecepatan Pendistribusian Rekam Medis Ke Poliklinik di Rumah Sakit An-Nisa Tangerang Raysha Dheamalia Muchtar; Noor Yulia
Indonesian of Health Information Management Journal (INOHIM) Vol 5, No 2 (2017): INOHIM
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.597 KB) | DOI: 10.47007/inohim.v5i2.135

Abstract

 AbstractTo get the performance of medical record installation of quality the in the implementation of medical record must be done properly and accurately, including on return and distribution of medical record. The return of medical records at An-Nisa Hospital is ≤1x24 hours and the distribution of medical records is ≤ 10 minutes. Delay in the return of medical records and on the distribution of medical records will be disruptive in the medical services that will be given to patients with repeated control. The purpose of this research is to get a description of the return of medical records outpatient and the speed of distribution of medical record to polyclinics at An-Nisa Hospital Tangerang. The research method used is descriptive method. The results of the research on the return of medical records on time 83% and the not on time by 17%. For the average distribution of medical records to the nurse station is 13 minutes. Based on the result of the research, it is known that the return of outpatient medical records and the distribution of medical records has not gone well. The delay in medical record returns is due to no checks on medical records borrowed by those returned by polyclinic nurses and casemix officers. Delays on the distribution of medical records due to >1x24 hour medical record returns. In order for the medical record to run properly, it is necessary to supervise and control the return of medical records.Keywords: Medical Record, Return, Distribution, Outpatient AbstrakUntuk mendapatkan kinerja instalasi rekam medis yang berkualitas maka dalam penyelenggaraan rekam medis harus dilakukan dengan benar dan tepat, termasuk pada pengembalian dan pendistribusian rekam medis. Standar pengembalian rekam medis di Rumah Sakit An-Nisa adalah ≤1x24 jam dan pendistribusian rekam medis adalah ≤10 menit. Keterlambatan dalam pengembalian rekam medis dan pada pendistribusian rekam medis akan mengganggu pelayanan medis yang akan diberikan kepada pasien saat kontrol ulang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran mengenai pengembalian rekam medis rawat jalan dan kecepatan pendistribusian rekam medis ke poliklinik di Rumah Sakit An-Nisa Tangerang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif. Hasil penelitian pada pengembalian rekam medis yang tepat waktu sebesar 83% dan yang tidak tepat waktu sebesar 17%. Rata – rata pendistribusian rekam medis ke nurse station adalah 13 menit. Berdasarkan hasil penelitian tersebut diketahui bahwa pengembalian rekam medis rawat jalan dan pendistribusian rekam medis belum berjalan dengan baik. Keterlambatan pada pengembalian rekam medis dikarenakan tidak ada pengecekan terhadap rekam medis yang dipinjam dengan yang dikembalikan oleh perawat poliklinik dan petugas casemix. Keterlambatan pada pendistribusian rekam medis karena pengembalian rekam medis yang >1x24 jam. Agar pada proses rekam medis bisa berjalan dengan baik maka disarankan adanya pengawasan serta pengontrolan terhadap pengembalian rekam medis.Kata Kunci : Rekam Medis, Pengembalian, Pendistribusian, Rawat Jalan

Page 1 of 2 | Total Record : 13