cover
Contact Name
Idhoofiyatul Fatin
Contact Email
idhofatin.pbsi@fkip.um-surabaya.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
stilistika@um-surabaya.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra
ISSN : 19788800     EISSN : 26141327     DOI : -
Core Subject : Education,
Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra merupakan jurnal yang diterbitkan oleh Prodi S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Surabaya. Jurnal ini menfokuskan pada publikasi hasil penelitian berupa artikel ilmiah tentang bahasa, sastra dan pengajaran Bahasa Indonesia. Jurnal ini terbit setiap Januari dan Juli dengan nomor P-ISSN 1978-8800 dan E-ISSN 2614-3127.
Arjuna Subject : -
Articles 28 Documents
Search results for , issue "Vol 16 No 1 (2023)" : 28 Documents clear
Penerapan Media Gambar Kartun pada Pembelajaran Keterampilan Berbicara BIPA Tingkat A1 Septi Karina; Arif Budi Wurianto; Arti Prihatini
Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 16 No 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/st.v16i1.15512

Abstract

Application of Cartoon Image Media in Learning BIPA Speaking Skills Level A1 ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan media gambar kartun untuk pembelajaran keterampilan berbicara BIPA tingkat A1 di UPT BIPA Universitas Muhammadiyah Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Hasil dari penelitian media gambar kartun dapat diterapkan untuk pembelajaran keterampilan berbicara BIPA. Tahapan yang dilakukan perencanaan pembelajaran keterampilan berbicara BIPA mengacu pada lesson plan yang telah disusun. Mengemukakan langkah-langkah pembelajaran keterampilan berbicara BIPA menggunakan media gambar kartun. Aspek keterampilan berbicara yang diperoleh menggunakan media gambar kartun. 1) Aspek ketepatan kosakata yaitu menyebutkan kata dengan lingkup makna yang sama, 2) Aspek ketepatan kalimat yaitu membuat kalimat tunggal yang memenuhi syarat fungsi sintaksis dan 3) Aspek ketepatan pelafalan yaitu mahasiswa BIPA masih salah melafalkan huruf dalam bahasa Indonesia. Manfaat penggunaan media gambar kartun pada pembelajaran keterampilan berbicara BIPA menjadi salah satu alternatif baru dalam pembelajaran BIPA, membuat pembelajaran menarik, mahasiswa BIPA lebih aktif serta memberikan respon positif selama pembelajaran.Kata kunci: BIPA, Media, Keterampilan Berbicara ABSTRACTThis study aims to describe the application of cartoon image media to learn BIPA speaking skills at A1 level at Technical Implementation Unit (UPT) BIPA, University of Muhammadiyah Malang. This research used a qualitative approach with descriptive methods. The results of the cartoon image media research can be applied to learn BIPA speaking skills. The stages carried out by lesson plan of BIPA speaking skills which have been compiled. Explaining steps for learning BIPA speaking skills using cartoon image media. Aspects of speaking skills are obtained by using cartoon images as media. 1) Aspects of accuracy of vocabulary, namely mentioning words with the same scope of meaning, 2) Aspects of accuracy of sentences, namely making single sentences that meet the requirements of the syntactic function and 3) Aspects of accuracy of pronunciation, namely BIPA students still mispronounce letters in Indonesian. The benefits of using cartoon media in learning BIPA speaking skills are a new alternative in BIPA learning, making learning interesting, BIPA students more active and giving positive responses during learning.Keyword: BIPA, Media, Speaking Skill
Kumpulan Lagu Daerah OKU: Sebuah Kajian Gaya Bahasa dan Implikasinya dalam Pembelajaran Sastra di SMA Darningwati Darningwati; Erwanto Erwanto; Yepi Okmita
Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 16 No 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/st.v16i1.15665

Abstract

OKU Regional Song Collection: A Study of Language Style and Its Implications in Learning Literature in Senior High SchoolABSTRAKLagu daerah OKU bercerita tentang daerah OKU yang kaya budaya dan adat istiadat masyarakatnya. Lagu ini merupakan kekayaan daerah dan lambang Lagu daerah OKU ini menggunakan bahasa daerah yang sederhana dan syarat makna. Lagu ini diciptakan menggunakan gaya bahasa yang menarik.  Tujuan penelitian ini mendeskripsikan gaya bahasa yang terkandung pada kumpulan lagu daerah OKU dan implikasinya dalaam pembelajaran sastra di SMA. Jenis Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan stilistika. Sumber data adalah tujuh lirik lagu yang berjudul Gue Putri, Cindenye Gadis OKU, Nasib Badan, Baturaja, Sepatu Balam, Aiyakh Ugan, Kinaklah OKU Pengumpulan data menggunakan teknik simak dan teknik catat. Teknik analisis menggunakan analisis isi. Berdasarkan hasil analisis diperoleh data bahwa gaya bahasa dalam kumpulan lagu Daerah OKU meliputi gaya bahasa aliterasi, asonansi, anastrof, asidenton, dan simile, litotes, dan afopasis. Hasil penelitian dapat diimplikasikan dalam pembelajaran sastra di SMA pada semester X.  Kata kunci: Gayabahasa,lagu daerah,pembelajaran sastraABSTRACTThe OKU regional song talks about the OKU area, which is rich in the culture and customs of its people. This song is a regional treasure and a symbol. This OKU regional song uses simple regional language and terms of meaning. This song was created using an interesting language style. The purpose of this study is to describe the style of language contained in the collection of OKU folk songs and its implications for learning literature in high school. This study employed a qualitative research design with a descriptive method. The approach used is a stylistic approach. The data sources are seven song lyrics entitled Gue Putri, Cindenye Gadis OKU, Nasib Badan, Baturaja, Sepatu Balam, Aiyakh Ugan, and Kinaklah OKU. The data was collected  using listening and note-taking techniques and analyzed using content analysis techniques. Based on the results of the study, it can be concluded that the style of language in the collection of OKU Regional songs includes alliteration, assonance, anastrophe, asidenton, simile, litotes, and apopasis. The results of the study can be implied in learning literature in high school in semester X.Keyword: Language style, folk songs, learning Indonesian literature
Cerpen Sesaat Sebelum Berangkat Karya Puthut E.A: Kajian Resepsi Sastra Intan Zuhrotun Nafi'ah; Maman Suryaman
Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 16 No 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/st.v16i1.13670

Abstract

Short Story Sesaat Sebelum Berangkat  By Puthut E.A: Reader Response Studies   ABSTRAKPenelitian ini berfokus untuk mendeskripsikan tanggapan para pembaca mengenai sebuah cerpen yang berjudul Sesaat Sebelum Berangkat karya Puthut E.A. Sesuai dengan tujuan penelitian ini, maka jenis penelitian ini ialah penelitian kualitatif deskriptif. Teori yang digunakan dalam penelitian ialah teori resepsi sastra. Data ini diperoleh menggunakan wawancara dengan 20 responden dari berbagai latar belakang yang berbeda. Adapun perbedaan yang dimaksudkan ialah perbedaan usia, perbedaan profesi, serta perbedaan latar belakang pendidikan. Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis hingga dapat menghasilkan sebuah kesimpulan. Berdasarkan respon pembaca dengan berbagai perbedaan yang telah dikelompokkan oleh peneliti, cerpen ini menggambarkan konflik orang tua dengan anak yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Cerpen ini merupakan bentuk intropeksi diri bagi anak dan juga orang tua dalam hal komunikasi, dan cerpen ini juga mengajak pembaca untuk bisa lebih pandai dalam mengontrol ego dan emosi.Kata kunci: cerpen, teori resepsi sastra, tanggapan pembacaABSTRACTThis research focuses on describing readers' responses to a short story entitled Just Before Leaving by Puthut E.A. In accordance with the purpose of this study, this type of research is descriptive qualitative research. The theory used in research is the theory of literary reception. This data was obtained using interviews with 20 respondents from a variety of different backgrounds. The intended differences are differences in age, differences in professions, and differences in educational background. The collected data is then analyzed until it can produce a conclusion. Based on the responses of readers with various differences that have been grouped by researchers, this short story describes the conflicts of parents with children that often occur in everyday life. This short story is a form of self-introspection for children and parents in terms of communication, and this short story also invites readers to be better at controlling ego and emotions.Keyword:  short stories, literary reception theory, reader responses
Implementasi Profil Pelajar Pancasila dalam Pembelajaran Teks Anekdot di Kelas X DKV SMK Negeri 3 Balikpapan Ari Musdolifah; Nurliani Maulida; Yosef Nober Yankiapoli
Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 16 No 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/st.v16i1.15700

Abstract

ABSTRAKProfil  Pelajar  Pancasila  adalah  cara  untuk  menguatkan  nilai  karakter khususnya peserta didik dari pengaruh pergeseran budaya. Tujuan penelitian ini  adalah  (1)  mendeskripsikan  implementasi  mendeskripsikan implementasi Profil Pelajar Pancasila dalam pelajaran bahasa Indonesia di Kelas  X  DKV  SMK  Negeri  3  Balikpapan  (2)  mendeskripsikan  metode  untuk menguatkan karakter Profil Pelajar Pancasila dalam pelajaran bahasa Indonesia di kelas X DKV SMK Negeri 3 Balikpapan. Penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian ini adalah 36 peserta didik kelas X DKV SMK Negeri 3 Balikpapan. Teknik pengumpulan data penelitian ini adalah  wawancara,  observasi,  dan  dokumentasi.  Teknik  analisis  data penelitian  ini  dilakukan  dengan  reduksi  data,  penyajian  data,  dan kesimpulan. Hasil  dalam penelitian ini adalah implementasi Profil Pelajar Pancasila telah diterapkan dengan baik oleh peserta didik karena guru kelas selalu mengingatkan dan memberi nasihat kepada peserta didik. Hal tersebut tampak pada pembelajaran bahasa Indonesia materi teks aknekdot. Metode yang dilakukan sebagai penguatan Profil Pelajar Pancasila sudah diterapkan ke dalam pembelajaran dan akan terus dikembangkan melalui RPP.Kata Kunci: Teks anekdot, Profil Pelajar Pancasila.ABSTRACTPancasila Student Profile is a way to strengthen character values, especially students from the influence of cultural shifts. The objectives of this study are (1) describing the implementation of the Pancasila Student Profile in Indonesian language lesson in Class X DKV SMK Negeri 3 Balikpapan (2) Describing methods to strengthen the character of the Pancasila student profile in Indonesian language lessons in class X DKV SMK Negeri 3 Balikpapan. This type of research is descriptive qualitative. The source of this research data is 36 students of class X DKV SMK Negeri 3 Balikpapan. The data collection techniques of this study are interviews, observations, and documentation.  Data analysis techniques of this study were carried out by reducing data, presenting data, and conclusions. Results in this research is the implementation of profile students pancasila has been applied in advance by student because class teachers always remind and provides advice to the students. This can be seen in the learning Indonesian language of the anecdote text material. The method carried out as a strengthening of the Pancasila Student Profile has been applied to learning and will continue to be developed through lesson plan.Keywords: anecdote text, Pancasila Student Profile.
Penggunaan Konjungsi “Kecuali” dan “Selain” dalam Bahasa Buku Kesatu Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek Voor Indonesie) Aruna Asista; Rafiqa Sari
Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 16 No 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/st.v16i1.16211

Abstract

The Use Of The Conjunction "Except" And "Besides" In The Language Of The First Book Of The Civil Code (Burgerlijk Wetboek Voor Indonesie)ABSTRAKHukum dan bahasa adalah dua entitas yang terpisah, tetapi sangat erat hubungannya. Hukum bergantung pada bahasa, dan tanpa bahasa hukum tidak dapat memanifestasikan bentuknya sehingga dapat dipahami oleh mereka yang kepadanya hukum itu disampaikan. Penulisan yang dilakukan untuk memaknai konjungsi “kecuali” dan “selain” yang terdapat dalam buku kesatu Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata) bersumber pada Burgerlijk Wetboek peninggalan kolonial Belanda yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diresmikan melalui Staatsblad Nomor 23 Tahun 1847, BAB IV tentang Perkawinan. Pendekatan yang digunakan dalam penulisan ini adalah pendekatan kualitatif deskriptif. Jenis penelitian yang digunakan oleh penulis adalah jenis analisis deskriptif. Hasil penulisan ini menunjukan bahwa penggunaan konjungsi “kecuali” dan “selain” dalam buku kesatu Kitab Undang-Undang Hukum Perdata bersumber pada Burgerlijk Wetboek, sudah sesuai dengan penempatannya, yaitu pasal 31 ayat 1, pasal 33, 34, 39, 45, 57, 69, 70 aline pertama, 99 dan 100. Sedangkan, satu pasal yang terdapat konjungsi “selain”, yaitu pasal 36.Kata kunci: undang-undang, bahasa, konjungsiABSTRACTLaw and language are two separate entities, but they are very closely related. The law depends on language, and without language the law cannot manifest its form so that it can be understood by those to whom it is delivered. The writing carried out to interpret the conjunction "except" and "besides" contained in the first book of the Civil Code (Civil Code) is sourced from Burgerlijk Wetboek of Dutch colonial heritage which was translated into Indonesian and inaugurated through the Staatsblad No. 23 of 1847, CHAPTER IV on Marriage. The approach used in this writing is a descriptive qualitative approach.  The type of research used by theauthor is a type of descriptive analysis.   The results of this paper show that the use of the conjunction "except" and "besides" in the first book of the Civil Code sourced from Burgerlijk Wetboek, is in accordance with its placement, namely article 31 paragraph 1, articles 33, 34, 39, 45, 57, 69, 70 first inline, 99 and 100. Meanwhile, one article that has a conjunction "besides", namely article 36.Keyword: legislation, language, and conjunctions
Kohesi Gramatikal dan Leksikal dalam Novel Cinta dalam Kardus Karya Raditya Dika & Salman Aristo Fadhila Dwi Juliyanti; Atiqa Sabardila
Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 16 No 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/st.v16i1.13951

Abstract

Gramatical Cohesion and Lexical The Novel Cinta dalam Kardus By Raditya Dika & Salman AristoABSTRAKArtikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk  kohesi gramatikal dan leksikal pada kalimat yang terdapat dalam  novel Cinta dalam Kardus karya Raditya Dika dan Salma Aristo. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan  metode deskriptif kualitatif. Dengan metode tersebut peneliti mencoba memaparkan analisis tentang kohesi gramatikal dan leksikal   pada sebuah novel yang berjudul Cinta dalam Kardus  karya Raditya Dika dan Salman aristo. Metode deskriptif yamg digunakan  pada penelitian ini dengan  menganalisis dan mendeskripsikan kohesi gramatikal dan leksikal pada novel Cinta dalam Kardus.  Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data dokumen. Hasil penelitian ini yakni terdapat  adanya unsur-unsur suatu kohesi gramatikal dan leksikal. Unsur-unsur kohesi gramatikal meliputi referensi, perangkaian, subtitusi dan pelepasan. Unsur-unsur kohesi leksikal meliputi referensi, hiponimi, antonimi, repetisi dan ekuivalensi.Kata kunci: Novel, Kohesi gramatikal, Kohesi leksikalABSTRACTThis article aims to describe the forms of grammatical and lexical cohesion in sentences contained in the novel Cinta dalam Kardus by Raditya Dika and Salma Aristo. The method used in this research is using descriptive qualitative method. Through this method the researcher tries to explain the analysis of grammatical and lexical cohesion in a novel entitled Cinta dalam Kardus by Raditya Dika and Salman Aristo. The descriptive method used in this research is to analyze and describe the grammatical and lexical cohesion in the novel Cinta dalam Kardus. The data collection technique used in this research is document data analysis. The results of this research show that there are elements of grammatical and lexical cohesion. The elements of grammatical cohesion include reference, concatenation, substitution and detachment. The elements of lexical cohesion include reference, hyponymy, antonym, repetition and equivalence.Keyword:  Novel, Grammatical cohesion, Lexical cohesion 
Nilai Tuturan dalam Tahapan Perkawinan Adat Masyarakat Desa Suelain Kecamatan Lobalain Kabupaten Rote Ndao Yessy Mervilen Fanggidae; Sanhedri Boimau
Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 16 No 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/st.v16i1.16294

Abstract

Speech Value in The Stage of Marriage Custom of The Suelain Village Community, Lobalain Districts Rote Ndao Regency ABSTRAKPerkawinan merupakan suatu ikatan sosial/perjanjian hukum, baik secara adat maupun Agama bagi seorang laki-laki dan seorang perempuan untuk hidup berumah tangga. Tujuan penelitian ini adalah memaparkan dan mendeskripsikan nilai budaya yang tergurat dalam tuturan adat perkawinan masyarakat Desa Suelain Kecamatan Lobalain Kabupaten Rote-Ndao. Penelitian ini menggunakan teori Linguistik Antropologi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah  metode deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah Tokoh-tokoh adat masyarakat Suelain Kecamatan Lobalain Kabupaten Rote Ndao. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik (1) observasi; (2) wawancara; (3) perekaman dan pencatatan. Sementara pengolahan datanya dilakukan melalui (a) pengaksaran, (b) terjemahan, (c) analisis, dan (d) simpulan. Hasil penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa perkawinan adat masyarakat Desa Suelain Kecamatan Lobalain Kabupaten Rote-Ndao terdiri atas 7 tahap yaitu : (1) Tahap peminangan disebut Hengga Mbotik; (2) Tahap perundingan belis; (3) Tahap pengumpulan belis (Tu’u belis); (4) Tahap penyerahan belis; (5) Tahap terang kampung disebut Nggani Eik’; (6)Tahap pengukuhan adat disebut Natudu sasao; dan (7) Tahap pengantaran mempelai perempuan diantara ke rumah mempelai laki-laki disebut Dode. Dari ketujuh tahap tuturan adat perkawinan ini, memiliki (1) Nilai Religius; (2)  Nilai kebersamaan; dan (3) Nilai Etika.Kata kunci: Masyarakat, Perkawinan, Tuturan,  Nilai ABSTRACTMarriage is a social bond/legal agreement, both according to custom and religion for a man and a woman to live as a household. The purpose of this research is to explain and describe the cultural values that are inscribed in the custom marriage speech of the people of Suelain Village, Lobalain District, Rote-Ndao Regency. This study uses the theory of Anthropological Linguistics. The method used in this research is descriptive qualitative method. The data sources in this study were from traditional leaders of the Suelain community, Lobalain District, Rote Ndao Regency. Collecting data in this study used techniques (1) Observation; (2) Interview; (3) Recording and recording. While processing the data is done through (a) Recognizing, (b) Translation, (c) Analysis, and (d) Conclusion. The results of the research and discussion show that the custom marriage of the people of Suelain Village, Lobalain District, Rote-Ndao Regency consists of 7 stages, namely: (1) The proposal stage is called Hengga Mbotik; (2) Purchase negotiation stage; (3) Belis collection stage (Tu'u belis); (4) Purchase submission stage; (5) The bright stage of the village is called Nggani Eik'; (6) The customary confirmation stage is called Natudu sasao; and (7) The stage of delivering the bride to the groom's house is called Dode. Of the seven stages of traditional marriage speech, it has (1) religious values; (2) Togetherness values; and (3) Ethical Values. Keyword: Society, Marriage, Speech Values
Analisis Makna Konotatif pada Leksem “Kampret” dalam Grup Telegram Diskusi Skincare Isnaini Qodriyatul Jannah
Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 16 No 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/st.v16i1.13499

Abstract

 Analysis of Conotative Meaning on “Kampret” Lexeme in Skincare Discussion Telegram GroupABSTRAKPenelitian ini dilatarbelakangi oleh leksem kampret sering digunakan sebagai makna makian, keburukan, sehingga leksem ini dikatakan makna konotasi negatif. Leksem kampret sering muncul di berbagai macam media sosial, salah satunya telegram. Peneliti ingin membahas makna konotatif pada leksem kampret dalam grup telegram diskusi skincare. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui makna konotatif pada leksem kampret dalam grup telegram diskusi skincare. Berdasarkan hasil dan pembahasan dalam penelitian ini menemukan 32 data leksem kampret dalam grup telegram diskusi skincare, tetapi makna konotatifnya terdapat 42 makna konotatif negatif, di antaranya leksem kampret  pada makna konotatif negatif (tidak pantas) terdapat 11 data, makna konotatif negatif (keras) terdapat 17 data, dan makna konotatif negatif (kasar) terdapat 14 data, total keseluruhan terdapat 42 makna konotatif negatif. Dalam pembahasan tersebut, makna konotatif negatif pada leksem kampret dalam grup telegram diskusi skincare yang paling dominan muncul ialah makna konotatif negatif (keras) terdapat 17 data karena pemilik akun-akun telegram tersebut tidak dapat mengontrol diri dalam melakukan segala hal, jadi ia menggunakan leksem kampret yang bersifat mengeraskan makna.Kata kunci: Semantik, makna konotatif, leksem kampret, grup telegram diskusi skincareABSTRACTThe background of this research is the lexeme kampret is often used as a meaning of swearing, badness. Therefore, this lexeme is said to have a negative connotation. Lexeme Kampret often appears on various social media, one of which is telegram. Researchers want to discuss the connotative meaning of lexeme kampret in the skincare discussion telegram group. The method used in this research is descriptive qualitative method. The purpose of this study was to find out the connotative meaning of lexeme kampret in the skincare discussion telegram group. Based on the results and discussion in this study, it found 32 data on the skin care telegram discussion group, but there were 42 negative connotative meanings on the connotative meaning, including 11 data on the negative connotative meaning (inappropriate) and the negative (hard) connotative meaning. 17 data, and negative connotative meaning (rude) there are 14 data, in total there are 42 negative connotative meanings. In this discussion, the negative connotative meaning of lexeme in the skincare telegram discussion group that most dominantly appears is the negative connotative meaning (hard) there are 17 data because the owner of these telegram accounts cannot control himself in doing everything, so he uses lexeme kampret which is meaningful.Keyword: Semantic, connotative meaning, kampret lexeme, skincare discussion telegram group
Pengaruh Mitos Terhadap Sikap Masyarakat pada Penyandang Disabilitas dalam Cerpen Pelangi dalam Kenangan Indah Fadhilla; Dinniaty Dinniaty; Rachmayanti Rachmayanti; Anwar Ilham; Zikri Ibnu Zar
Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 16 No 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/st.v16i1.15735

Abstract

The Influence of Myth on Society Attitude to Disability People  in The Short Stories  Pelangi dalam Kenangan ABSTRAK                        Cerpen Pelangi dalam Kenangan memberikan gambaran mental dan fisik penyandang disabilitas yang dilihat melalui kutipan cerpen kemudian dimaknai secara denotasi dan konotasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat makna denotasi dan makna konotasi dari beberapa simbol yang hadir di dalam cerpen ini sebagai respon atau sikap masyarakat terhadap tokoh penyandang disabilitas. Sikap atau respon yang ditunjukkan masyarakat dipengaruhi oleh mitos-mitos yang berkembang di masyarakat terkait para penyandang disabilitas. Penelitian ini menggunakan teori semiotika Roland Barthes dengan metode deskriptif analisis. Sumber data penelitian adalah cerpen Pelangi dalam Kenangan. Teknik pengumpulan data adalah teknik baca, simak, dan catat. Berdasarkan hasil penelitian terdapat tiga simbol yang menggambarkan fisik dan mental penyandang disabilitas dalam cerpen yaitu simbol “Nyiur”, “Mata Kopong/juling”, dan “Keistimewaan”. Di dalam teks juga digambarkan sikap atau respon masyarakat terhadap tokoh penyandang disabilitas yang dominan memberikan respon negatif. Hanya tokoh Aku yang memberikan respon positif. Suara tokoh Aku mengajak pembaca untuk meningkatkan empati kepada penyandang disabilitas.Kata kunci: Denotasi, Konotasi, Mitos, Respon, DisabilitasABSTRACTThe short story Pelangi in Memories provides a mental and physical picture of persons with disabilities which is seen through the short story quotations which are then interpreted in terms of denotations and connotations. The purpose of this research is to look at the denotative meanings and connotative meanings of several symbols that are present in this short story as a response or attitude of society towards figures with disabilities. The attitude or response shown by the community is influenced by the myths that develop in society regarding persons with disabilities. This research uses Roland Barthes' semiotic theory with a descriptive analysis method. The source of the research data is the short story Pelangi in Memories. Data collection techniques are reading, observing, and note-taking techniques. Based on the results of the study, there are three symbols that describe the physical and mental abilities of persons with disabilities in short stories, namely the symbols "Nyiur", "Eyes Kopong/squint", and "Specialties". The text also describes the attitude or response of the community towards figures with disabilities who predominantly give negative responses. Only my character gave a positive response. Character's voice I invite readers to increase empathy for disability people.Keyword:  Denotation, Connotation, Myth, Response, Disability
Posisi Aktor dalam Novel Lusi Lindri Karya Y.B. Mangunwijaya Andi Anugrah Batari Fatimah
Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 16 No 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/st.v16i1.16049

Abstract

Actor's Position in The Novel Lusi LindriBy. Y.B. Mangunwijaya ABSTRAKNovel sebagai sebuah wacana dapat merepresentasikan fenomena dan posisi aktor dalam ceritanya. Novel Lusi Lindri memuat permasalahan gender, yakni sikap diskriminatif dan subordinasi patriarki terhadap posisi aktor perempuan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan posisi aktor sebagai subjek maupun objek yang mengalami bentuk ketidakadilan gender, berdasarkan pandangan analisis wacana kritis Sara Mills, digunakan sebagai media literasi sastra berbasis gender di perguruan tinggi. Penelitian ini memanfaatkan metode kualitatif-linguistik kritis bersifat deskriptif. Data penelitian berupa kata, frasa, klausa, kalimat yang bersumber pada novel Lusi Lindri karya Y.B. Mangunwijaya. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumentasi, baca simak, dan pencatatan. Peneliti sebagai instrumen kunci penelitian. Teknik analisis data melalui prosedur mengidentifikasi, mengklasifikasi, menganalisis, dan membuat kesimpulan. Hasil penelitian ditemukan posisi aktor sebagai subjek terdominasi dan objek terodominasi yang mengalami (a) marginalisasi (b) subordinasi (c) stereotip (d) kekerasan verbal, fisik, dan psikis (e) beban ganda perempuan.Kata kunci:Analisis Wacana Kritis, Posisi Aktor, Ketidakdilan gender, Novel, Pembelajaran Literasi SastraABSTRACTThe novel as a discourse can represent the phenomena and positions of the actors in the story. Lusi Lindri's novel contains gender issues, namely discriminatory attitudes and patriarchal subordination to the position of female actors. This study aims to describe the position of actors as subjects and objects who experience forms of gender inequality, based on the views of Sara Mills' critical discourse analysis, used as a medium for gender-based literary literacy in tertiary institutions. This research utilizes a descriptive qualitative-critical linguistic method. The research data are in the form of words, phrases, clauses, sentences that originate from the novel Lusi Lindri by Y.B. Mangunwijaya. Data collection techniques were carried out using documentation, reading and recording techniques. Researchers as key research instruments. Data analysis techniques through identifying procedures, classifying, analyzing, and making conclusions. The results of the study found that the position of actors as dominated subjects and dominated objects experienced (a) marginalization (b) subordination (c) stereotypes (d) verbal, physical and psychological violence (e) the double burden of womenKeyword: Critical Discourse Analysis, Actor's Position, Gender Inequality, Novels, Literary Literacy Learning. 

Page 1 of 3 | Total Record : 28