cover
Contact Name
Aziz Alfarisy
Contact Email
medicahospitalia@rskariadi.co.id
Phone
-
Journal Mail Official
medicahospitalia@rskariadi.co.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Medica Hospitalia
ISSN : 23014369     EISSN : 26857898     DOI : https://doi.org/10.36408/mhjcm
Core Subject : Health,
Medica Hospitalia: Journal of Clinical Medicine adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan RSUP Dr. Kariadi dan menerima artikel ilmiah dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang diharapkan dapat menjadi media untuk menyampaikan temuan dan inovasi ilmiah dibidang kedokteran atau kesehatan kepada para praktisi dan akedemisi di bidang kesehatan dan kedokteran.
Arjuna Subject : -
Articles 584 Documents
Persepsi Pengetahuan Gizi dan Peran Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) Terhadap Pemenuhan Kecukupan Gizi ODHA (Studi Kasus di BPM Semarang) Aminarista Aminarista
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 3 No. 3 (2016): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.298 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v3i3.235

Abstract

Latar belakang : Orang Dengan HIV AIDS (ODHA) berisiko mengalami malnutrisi akibat penyakit HIV AIDS dan meningkatnya kebutuhan gizi. Pengetahuan berproses dalam persepsi ancaman, manfaat, hambatan, dan kepercayaan diri ODHA, berperan terhadap upaya pemenuhan kecukupan gizi. Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) dibentuk untuk memberikan dukungan psikososial bagi ODHA dan bertujuan meningkatkan mutu hidup ODHA. Tujuan penelitian ini adalah membuktikan persepsi pengetahuan gizi dan peran KDS terhadap upaya pemenuhan kecukupan gizi ODHA. Metode : Desain penelitian observasional, dengan populasi ODHA yang aktif di KDS. Data kuantitatif dikumpulkan untuk menjaring Indeks Massa Tubuh dari 42 responden. Data kualitatif dikumpulkan dari 6 informan utama (2 orang kurus, 4 orang normal) dan 3 informan triangulasi. Pengumpulan data kualitatif melalui observasi, Focus Group Discussion, indepth interview. Pengumpulan data kuantitatif dengan pengukuran berat badan, tinggi badan, wawancara menggunakan kuesioner, recall 2x24 jam. Hasil : Pengetahuan berproses dalam persepsi ancaman, manfaat, hambatan, kepercayaan diri ODHA, berperan terhadap upaya pemenuhan kecukupan gizi. Informan kategori kurus mempunyai usaha lebih kuat dalam memenuhi kecukupan gizi. Melalui KDS informan utama mendapat informasi gizi dari dari petugas kesehatan maupun sebaya, yang berdampak pada upaya pemenuhan gizi ODHA. Akan tetapi, upaya tersebut belum optimal karena kurangnya keterlibatan ahli gizi, baik dalam penyuluhan, konseling, maupun penilaian status gizi. Simpulan : Persepsi ancaman, manfaat, hambatan, kepercayaan diri ODHA dan KDS berperan dalam pemenuhan kecukupan gizi informan utama.
Penatalaksanaan Gizi pada Pasien Stroke dengan Disfagia Hagnyonowati Hagnyonowati
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 3 No. 3 (2016): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.605 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v3i3.236

Abstract

Latar belakang : Disfagia atau kesulitan menelan cairan dan atau makanan sering terjadi pada pasien stroke. Disfagia sangat berhubungan dengan terjadinya malnutrisi, infeksi saluran pernapasan, dehidrasi, bertambahnya jumlah hari rawat, dan bahkan kematian. Oleh karena itu, diagnosis dan penanganan dini sangat dibutuhkan dalam penatalaksanaan disfagia. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan diet (makanan) sesuai kebutuhan gizi pada pasien stroke dengan disfagia. Metode: Metode yang digunakan adalah studi kasus. Hasil: Asuhan gizi pasien stroke dengan disfagia dimulai dengan pengkajian gizi, penegakan diagnosa gizi, intervensi dan monitoring evaluasi. Pemberian diet dengan selama 6 hari dengan bentuk blender ekstra formula isokalori bisa menaikkan berat badan pasien 0,6 kg. Pemberian diet diberikan bertahap sesuai kondisi dan daya terima pasien. Edukasi dan konseling gizi diberikan kepada pasien dan keluarga pasien. Koordinasi dengan tenaga kesehatan lain seperti rehabilitasi medik sangat diperlukan untuk menunjang keberhasilan asuhan gizi. Simpulan: Diagnosis dan penanganan dini sangat dibutuhkan dalam penatalaksanaan disfagia pada stroke meliputi asuhan gizi, pemberian edukasi dan konseling gizi, kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain.
Modifikasi Tekstur Makanan dan Minuman Pasien Disfagia Niken Puruhita
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 3 No. 3 (2016): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (604.484 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v3i3.237

Abstract

Disfagia adalah terhambatnya proses perpindahan makanan dan cairan dari mulut ke lambung. Komplikasi disfagia antara lain malnutrisi, dehidrasi, pneumonia aspirasi dan bahkan kematian. Pasien disfagia biasanya mengalami kesulitan mengkonsumsi makanan reguler dengan konsistensi bervariasi. Perubahan tekstur makanan yang sesuai dapat menurunkan risiko pneumonia aspirasi, meningkatkan asupan dan status gizi pasien disfagia. Modifikasi tekstur makanan secara bertahap disesuaikan dengan perkembangan kondisi pasien. Kemampuan menelan pasien diuji berkala sebelum diberikan makanan yang lebih padat konsistensinya. Modifikasi tekstur makanan hendaknya dilakukan tanpa mengubah warna dan cita rasa untuk meningkatkan selera makan pasien. Bentuk dan tekstur makanan yang tersedia di RSUP Dr. Kariadi meliputi makanan biasa, makanan lunak, makanan saring, dan makanan blenderized. Minuman encer berisiko menyebabkan aspirasi pada pasien disfagia. Modifikasi minuman dengan menambahkan pengental akan lebih mudah ditoleransi. Pengental minuman ini belum tersedia di Indonesia, sehingga RSUP Dr Kariadi menggunakan jeli sebagai pengental. Metode yang banyak dipakai untuk mengukur kosistensi makanan untuk pasien disfagia antara lain adalah line spread test dan fork test.
"Disorder of Sex Development" : Problem yang Dihadapi Di Indonesia Asri Purwanti
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 4 No. 1 (2016): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.987 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v4i1.238

Abstract

-
Hubungan Lama Sakit dengan Tipe Pneumatisasi Mastoid Penderita Otitis Media Supurative Kronik Atik Masdarinah
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 4 No. 1 (2016): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.939 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v4i1.239

Abstract

Latar belakang : Pneumatisasi didefinisikan sebagai suatu proses infiltrasi epitel perkembangan tulang dan membentuk rongga epitel berlapis sel-sel udara. Perkembangan tipe pneumatisasi mastoid berlainan pada setiap individu dan dipengaruhi beberapa faktor antara lain usia, genetik dan lingkungan. Sejumlah penelitian telah melaporkan berbagai tipe pneumatisasi menggunakan Computed Tomography (CT). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan lama sakit penderita  OMSK dengan tipe pneumatisasi mastoid berdasarkan klasifikasi Han. Metode : Studi penelitian ini merupakan studi penelitian deskriptif retrospektif terhadap penderita Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) melalui data rekam medik dan gambaran hasil CT Scan mastoid di RSUP Dr. Kariadi Semarang, periode 01 Januari – 31 Desember 2014. Hasil : Didapatkan 34 penderita. OMSK kanan sebanyak 14 (41,2%)  penderita dan OMSK kiri sebanyak  20 (58,8%) penderita. Jenis kelamin penderita laki-laki 20 (58,8%) dan perempuan 14 (41,2%).  Rata-rata usia OMSK adalah 29 tahun dengan usia terendah adalah 4 tahun dan tertinggi adalah  69 tahun. Rata-rata lama sakit adalah 8 tahun. Keseluruhan tipe pneumatisasi yang terbanyak ditemukan pada penderita OMSK telinga kanan dan kiri secara berurutan adalah hipo pneumatisasi, diikuti moderate pneumatisasi, good pneumatisasi dan hiper pneumatisasi. Hasil analisis didapatkan p=0,189 pada OMSK telinga kanan dan p=0,490 pada OMSK telinga kiri. Simpulan : Tidak terdapat hubungan yang bermakna secara statistik lama sakit OMSK terhadap tipe pneumatisasi
Kejadian Otitis Media Supuratif Kronik dengan Kolesteatoma di RSUP Dr. Kariadi Semarang Shinta Aguslia
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 4 No. 1 (2016): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.654 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v4i1.240

Abstract

Latar belakang : Otitis media supuratif kronik (OMSK) dengan kolesteatoma adalah radang kronis telinga tengah dengan perforasi membran timpani ditandai sekret kental berbau lebih dari 2 bulan terus menerus atau hilang timbul serta terdapat suatu massa amorf, konsistensi seperti mentega berwarna putih terdiri dari lapisan epitel skuamosa yang bersifat osteolitik dapat mendestruksi tulang, jaringan lunak dan mengancam terjadinya komplikasi yang berat. Kejadian OMSK Di RSUP Dr. Kariadi Semarang didapatkan 21% dari semua kunjungan di klinik otologi selama tahun 2010 namun kejadian OMSK dengan kolesteatoma di RSUP Dr. Kariadi Semarang belum pernah dilaporkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kejadian OMSK dengan kolesteatoma tahun 2011-2013 di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Metode : Studi deskriptif retrospektif di bagian rawat inap THT-KL RSUP Dr. Kariadi Semarang berdasarkan rekam medis 91 penderita OMSK dengan kolesteatoma yang dilakukan pembedahan dari Januari 2011 sampai Desember 2013. Hasil : Jumlah kasus OMSK 190 kasus, terdiri OMSK tipe benigna 89 kasus, OMSK tipe maligna (kolesteatoma) 91 kasus, rekuren 5 kasus, OMSK dupleks 10 kasus, rentang usia terbanyak 21-40 tahun adalah 57,2%. OMSK dengan komplikasi 26 (28,6%) dari 91 kasus. Tindakan pembedahan yang dilakukan adalah mastoidektomi radikal dengan penemuan intraoperatif terbanyak tersisa basis stapes dan menunjukkan perluasan kolesteatoma 10% lebih luas dari perluasan kolesteatoma yang ditunjukkan hasil MSCT Scan mastoid non kontras. Simpulan : Terdapat penurunan jumlah kasus OMSK dengan kolesteatoma dari tahun 2011 hingga 2013. Intraoperatif ditemukan kolesteatoma yang mendestruksi jaringan serta tulang lebih luas dari gambaran hasil MSCT Scan dan tidak terdapat OMSK rekuren setelah tindakan mastoidektomi radikal
Hubungan Antropometri Sefalofasial dengan Jenis Kelamin dan Tinggi Badan Raja Iswara
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 4 No. 1 (2016): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.906 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v4i1.241

Abstract

Latar belakang : Pada jenazah yang tidak utuh (termutilasi), pengukuran bagian tertentu dari tubuh dapat dilakukan dalam identifikasi jenazah tersebut. Antropometri sefalofasial merupakan salah satu parameter penting yang dapat digunakan dalam identifikasi jenis kelamin, tinggi badan, maupun ras. Di Indonesia belum ada penelitian terkait hubungan antropometri sefalofasial dengan jenis kelamin dan tinggi badan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antropometri sefalofasial dengan jenis kelamin dan tinggi badan. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Subyek penelitian ini terdiri adalah mahasiswa kepaniteraan klinik di RSUP Dr. Kariadi Semarang periode Januari-Juli 2016, terdiri atas 200 orang laki-laki dan 200 orang perempuan yang memenuhi kriteria inklusi yaitu usia 21-26 tahun, ras mongoloid, dan tidak masuk dalam kriteria eksklusi. Antropometeri sefalofasial meliputi pengukuran panjang kepala, lebar kepala, lingkar kepala horizontal, diameter bigonial dan panjang wajah. Uji normalitas dengan Kolmogorov Smirnov yang dilanjutkan dengan uji korelasi Spearman untuk variabel jenis kelamin dan uji korelasi Pearson untuk variabel tinggi badan. Selanjutnya dilakuan uji regresi linear untuk menentukan rumus yang dapat digunakan dalam menentukan tinggi badan. Data dianalisis menggunakan SPSS 22. Hasil : Uji korelasi Spearman pada semua pengukuran antropometri sefalofasial dengan jenis kelamin adalah signifikan dengan nilai p < 0,05. Uji korelasi Pearson pada semua pengukuran antropometri sefalofasial dengan tinggi badan adalah signifikan dengan nilai p < 0.05. Simpulan : Terdapat hubungan signifikan antara semua pengukuran antropometri sefalofasial dengan jenis kelamin. Terdapat hubungan signifikan antara semua pengukuran antropometri sefalofasial dengan tinggi badan pada kedua jenis kelamin
Perbandingan Tinggi Badan dan Rentang Tangan Pada Anak Balita Usia 1-5 Tahun Ong Sugianto
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 4 No. 1 (2016): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.068 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v4i1.242

Abstract

Latar belakang : Pengukuran tinggi badan (TB) sangat penting pada anak balita.Adanya deformitas atau kelainan tertentu pada balita dapat menyebabkan anak tersebut tidak dapat diukur tinggi badannya. Rentang tangan (RT) adalah salah satu parameter antropometri yang dapat menggantikan pengukuran tinggi badan. Perbandingan tinggi badan dan rentang tangan bervariasi menurut ras, usia, dan jenis kelamin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan antara tinggi badan dan rentang tangan pada anak balita. Metode : Rancangan penelitian adalah cross-sectional dengan observasional analitik.Penelitian dilakukan pada Maret-Mei 2015. Subyek penelitian adalah anak balita usia 1-5 tahun. Data tinggi badan dan rentang tangan didapatkan dengan mengukur subyek secara langsung. Uji statistik yang digunakan adalah uji regresi linier. Hasil : Subyek penelitian berjumlah 197 anak balita usia 1-5 tahun. Hasil uji regresi linier menunjukkan perbandingan untuk balita laki-laki usia 13-24 bulan adalah TB=27,793+0,685RT, usia 25-36 bulan adalah TB=21,364+0,771RT, usia 37-48 bulan adalah TB=32,157+0,686RT, usia 49-60 bulan adalah TB=54,681+0,461RT. Perbandingan untuk balita perempuan usia 13-24 bulan adalah TB=49,398+0,367RT, usia 25-36 bulan adalah TB=20,185+0,796RT, usia 37-48 bulan adalah TB=32+0,674RT, dan usia 49-60 bulan adalah TB=13,861+0,884RT. Simpulan : Rerata tinggi badan balita laki-laki yang berusia 1-5 tahun adalah 91,4±10 cm, sedangkan rerata tinggi badan balita perempuan yang berusia 1-5 tahun adalah 89,2±10,4 cm. Rerata rentang tangan balita laki-laki yang berusia 1-5 tahun adalah 89,6±11,6 cm, sedangkan rerata rentang tangan balita perempuan yang berusia 1-5 tahun adalah 87,2±11,2 cm. Rumus penghitungan tinggi badan berdasarkan rentang tangan menurut usia lebih menggambarkan tinggi badan sesungguhnya dibandingkan perbandingan usia 1-5 tahun secara umum
Perbandingan Tinggi Badan dan Rentang Tangan Pada Anak Usia Sekolah Dasar Jessica Wongsodjaja
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 4 No. 1 (2016): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.911 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v4i1.243

Abstract

Latar belakang : Rentang tangan (RT) adalah parameter tubuh terbaik yang dapat dijadikan sebagai prediktor tinggi badan (TB), khususnya bagi anak dengan disabilitas atau deformitas ekstremitas bawah dan anak-anak yang dirawat di rumah sakit. Usia, jenis kelamin, dan suku bangsa adalah faktor yang berpengaruh terhadap tinggi badan, sehingga diperlukan suatu rumus perhitungan tinggi badan berdasarkan rentang tangan khusus untuk penduduk Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan tinggi badan dan rentang tangan anak usia sekolah dasar. Metode : Rancangan penelitian adalah cross-sectional dengan observasional analitik. Penelitian ini dilakukan pada bulan April-Mei 2015. Besar subyek minimal adalah 29 subyek dan total responden penelitian adalah 335 responden. Pengukuran tinggi badan dan rentang tangan dilakukan dengan menggunakan stadiometer dan penggaris panjang yang terkalibrasi. Uji statistik menggunakan uji korelasi Pearson dan Spearman, kemudian dilakukan analisis regresi linier untuk mengetahui rumus perhitungan tinggi badan. Hasil : Persamaan umum estimasi tinggi badan laki-laki adalah 2TB = 15,615 + 0,879 RT (r = 0,956, R = 91,7%) dan perempuan 2adalah TB = 17,108 + 0,869 RT (r = 0,972, R = 94,9%). Rumus khusus estimasi tinggi badan untuk anak laki-laki usia 7 tahun adalah TB = 30,547 + 0,750 RT, sedangkan anak perempuan adalah TB = 29,476 + 0,764 RT. Rumus khusus untuk anak laki-laki usia 8 tahun adalah TB = 24,119 + 0,801 RT, sedangkan anak perempuan adalah TB = 28,660 + 0,771 RT. Rumus khusus untuk anak laki-laki usia 9 tahun adalah TB = 26,190 + 0,801 RT, sedangkan anak perempuan adalah TB = 16,356 + 0,869 RT. Rumus khusus untuk anak laki-laki usia 10 tahun adalah TB = 12,218 + 0,906 RT, sedangkan anak perempuan adalah TB = 11,347 + 0,918 RT. Rumus khusus untuk anak laki-laki usia 11 tahun adalah TB = 26,117 + 0,801 RT, sedangkan anak perempuan adalah TB = 22,269 + 0,833 RT. Rumus khusus untuk anak laki-laki 12 tahun adalah TB = 31,881 + 0,773 RT, sedangkan anak perempuan TB = 50,476 + 0,648 RT. Simpulan : Rentang tangan berkorelasi sangat kuat dengan tinggi badan, sehingga estimasi tinggi badan anak dapat dihitung dengan menggunakan rumus khusus per usia dan jenis kelamin yang lebih bermakna secara klinis
Correlation between serum level of cortisol, interleukin-10 and degree of adhesion after laparotomy and laparoscopy in rabbit with abrasion model Ridwan Mataram
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 4 No. 1 (2016): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.946 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v4i1.244

Abstract

Background : Intraperitoneal adhesions after abdominal and pelvic surgery procedures occurred almost in 95% of cases. This research will prove the relationship between serum levels of cortisol in response to stress with increased levels of IL-10 and the degree of adhesion after laparotomy and laparoscopy Methods : This study is an experimental laboratory, with a posttest design approach using 12 New Zealand rabbits after adaptation for 1 week were divided into 2 groups. The first group ( K1) was performed laparotomy with abration the ilium , group-2 ( K2) was performed laparoscopy with abration the ilium too. All groups taken its blood sample before and 6 hours after operation to be assessed levels of cortisol with ELISA kit. 6 days after operation (day of 7th) , all group determinate and performed laparotomy, than assessed the degree of adhesion and the level of IL-10 from its peritoneal fluid. Statistical tests were used to assess defferences in the level of cortisol, IL-10 and degree do adhesion between laparotomy and laparoscopy. Data analysis was done using SPSS. Results : There was significant difference in the level of cortisol, IL-10 and degree of adhesion among groups ( p = 0.021, p < 0.001, p = 0.002 ). There were negatif correlation ( high ) between the level of blood cortisol with IL-10 ( r = - 0.805, p = 0.0 ) and significant negative correlation between the level of IL-10 with the degree of adhesion ( r = -0,833, p = 0.001 ). Conclusion : Laparoscopic surgery can minimize the effects of systemic stress and immune response, so as to lower the incidence of adhesion